[Antagonist]

NCT belongs to themselves

"Antagonist" belongs to Lexa Alexander

Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa

Main Pair: TaeTen

Other Pair: JaeDo, JohnIl


Taeyong memang belum pernah menjalin hubungan seperti itu—pacaran, orang menyebutnya begitu. Taeyong lebih sering menjadi pengamat, memperhatikan bagaimana hubungan romantis orang lain itu berjalan. Dari pengamatannya—termasuk dari novel dan drama—, Taeyong dapat menyimpulkan bahwa hubungan seperti itu adalah suatu hal yang merepotkan. Hubungan Ten dengan Yeonmin semakin membuatnya yakin.

Taeyong tidak habis pikir mengapa orang-orang senang menjalin sebuah hubungan yang nantinya akan berakhir dan mereka tidak mendapat apa-apa kecuali kenangan pahit dan luka di hati. Maksudnya adalah, tidak semua kisah asmara itu berakhir dengan keduanya yang saling mengikat janji suci di altar—hanya sebagian kecil yang berakhir seperti itu. Jadi, untuk apa mereka membuang waktunya untuk orang yang nantinya tidak akan berakhir bersama dengan mereka? Oh, tidak hanya membuang waktu. Uang juga.

Terlebih orang-orang yang telah merasakan kisah asmaranya berakhir di tengah jalan namun masih tetap mengulangi hal yang sama—dan mungkin tidak hanya mengulang satu atau dua kali—entah itu dengan orang yang sama atau dengan orang yang berbeda. Balikan, dalam kasus 'menjalin hubungan kembali dengan orang yang sebelumnya'. Apakah mereka tidak belajar dari pengalaman? Jika setelah patah hati untuk yang kesekian kali mereka tetap melakukannya, bisakah Taeyong menyebut mereka, uhm, sedikit bodoh?

Jika itu Taeyong, dia tidak akan melakukannya. Dan ya, dia memang tidak melakukannya. Taeyong tidak akan membuang waktunya untuk hal yang sia-sia karena masih ada banyak hal yang lebih berguna yang dapat dia lakukan.

"Kau dewasa sekali."

Itu adalah komentar Doyoung dan Taeil ketika Taeyong menjelaskan panjang lebar tentang alasan mengapa dia selalu menolak pernyataan cinta yang datang kepadanya. Sedangkan Ten hanya tertawa keras dan Jaehyun menghela nafas. Johnny tidak peduli karena dia sudah tahu sejak lama.

Taeyong tidak menganggap itu sebagai sebuah pemikiran yang dewasa. Dia sendiri menganggap bahwa pendapatnya cenderung negatif, meskipun Johnny bilang alasan Taeyong sangat logis.

"Aku belajar dari pengalaman," kata Ten sembari mengeluarkan alat tulisnya untuk mengerjakan soal, "aku tidak akan mengulanginya. Aku juga sudah muak dengan orang itu."

Ten menemukan log panggilan pagi ini di ponselnya dan Taeyong menceritakan apa yang dia lakukan untuk 'mengusir' Yeonmin, membuat Ten tertawa terbahak hingga air matanya menetes dan perutnya sakit. Brilliant, komentar Ten.

Meskipun Ten berkata bahwa dia telah belajar dari pengalamannya dengan Yeonmin, Taeyong tidak akan menurunkan kewaspadaannya. Siapa tahu Ten akan goyah dan kembali pada Yeonmin? Tidak terlalu menjadi masalah jika itu orang yang berbeda karena bisa jadi orang itu adalah orang yang dapat lolos dari 'seleksi' Taeyong, namun jika Ten kembali pada Yeonmin, Taeyong akan memikirkan segala cara untuk mengakhiri hubungan mereka.

Yeonmin sudah masuk ke dalam daftar hitam Taeyong.

Apalagi orang itu hampir memukul Ten. Taeyong teringat ketika dia berhasil menarik tubuh Ten tepat sebelum tangan Yeonmin mengenainya.

Tidak mendapat respon dari Taeyong, Ten bertanya, "Kenapa? Kau cemburu?"

Cemburu padamu dan orang itu? Taeyong memasang wajah jijik, "Najis."

Ten kembali tertawa, senang karena berhasil menggoda Taeyong.

Namun, apapun itu keputusan Ten, Taeyong akan selalu berada di sampingnya. Jika Ten mengambil langkah yang salah, Taeyong akan memperbaikinya. Yang perlu Taeyong lakukan hanyalah selalu berada di sisi Ten, menemaninya, melindunginya, memberikan apa yang terbaik untuknya.

Taeyong menyadari bahwa mereka adalah tokoh antagonis dalam hidup Park Serim, dimana setiap tokoh antagonis akan selalu berakhir dengan mengenaskan, mendapat karma dari apa yang mereka lakukan pada sang tokoh utama. Namun seperti apa yang pernah Ten katakan padanya, mereka berdua tidak akan membiarkan hal itu terjadi pada hidup mereka. Apapun itu caranya, Taeyong tidak akan membiarkan hidup mereka berakhir dengan menyedihkan.

Setidaknya untuk Ten.

"Kau banyak melamun sejak pagi ini."

Ucapan Ten menyadarkan Taeyong.

"Lihat?" Ten menumpu dagunya dengan sebelah tangannya, kemudian tangan lainnya dia gunakan untuk menunjuk buku Taeyong, tepatnya pada salah satu soal yang sedang Taeyong kerjakan. "Kau salah menulis ini. That's 'youth' not 'south'. Kau menceritakan kisah hidupmu atau tentang arah selatan?"

Tertawa, Taeyong segera mencoret kata yang salah dan menggantinya.

Pelajaran masih berlangsung dan sekarang mereka sedang mengerjakan post-test dari materi mereka hari ini. Sebentar lagi jam istirahat, kemudian setelah itu mereka masih memiliki satu kelas sebelum mereka bisa pulang dan menikmati libur akhir minggu mereka.

Pandangan Taeyong beralih pada Park Serim yang masih fokus mengerjakan post-test. Wajah gadis itu terlihat lebih cerah dibandingkan hari-hari sebelumnya, membuat Taeyong mendengus geli. Serim sungguh berpikir bahwa Taeyong akan membebaskannya dari penindasan—setidaknya sampai ujian akhir.

"Biarkan dia menikmati harinya, Ten," Taeyong tertawa geli saat matanya menangkap gerakan tangan Ten yang menunjukkan bahwa dirinya tidak sabar untuk menjalankan rencana mereka, membuat Ten berdecak kesal, "setelah kita membuatnya terbang, kita akan menghempaskannya kembali ke bumi dengan keras."

Ten memutar matanya malas saat mendengar ucapan Taeyong, "Kuharap dia mati karena benturan keras itu."

"Tidak, tidak," Taeyong menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri untuk beberapa kali, "dia tidak akan mati karena hal seperti itu. Dia protagonisnya, ingat? Tokoh protagonis tidak akan mati atau ceritanya akan berakhir."

Ten melirik sinis ke arah Serim, namun setelah beberapa saat dia kembali fokus ke post-test-nya dan menahan diri agar tidak lepas kendali dan menindas Serim saat itu juga. Jika dia lepas kendali saat ini, maka rencana yang mereka susun akan hancur berantakan.

Menahan diri selama satu minggu untuk tidak menindas Serim benar-benar membuat Ten gemas.

Ten tidak munafik. Dia mengakui bahwa dia tidak menyukai raut bahagia dan lega di wajah Serim. Ten ingin melihat Serim yang putus asa, ingin melihat kilat amarah di mata gadis itu saat memandang dirinya dari bawah—sebuah perasaan ingin memberontak dan melawan namun tidak memiliki kuasa untuk melakukannya. Ten benci melihat Serim bahagia dan tidak ingin Serim merasakan kebahagiaan itu lagi.

"Satu minggu yang tenang," komentar Doyoung satu minggu kemudian, ketika dirinya dan Taeil menunggu Taeyong dan Jaehyun di dekat gerbang sekolah bersama Ten. Matanya melirik ke arah Ten yang sekarang sedang berdiri dengan gelisah—kakinya mengetuk-ngetuk tanah beberapa kali, tidak sabar menunggu Taeyong dan membicarakan tentang rencana mereka yang sebentar lagi akan dimulai.

Di samping Doyoung, Taeil menghela nafas, "Ini seperti keheningan sebelum badai," katanya. Matanya menangkap beberapa siswa dengan seragam berwarna hijau, mengingatkannya akan Johnny. Selama beberapa hari terakhir, King of Clover itu sedang sibuk memikirkan sesuatu dan Taeil curiga bahwa kesibukan Johnny ada kaitannya dengan rencana Taeyong. Yah, tapi apapun itu, Taeil tidak masalah selama rencana Taeyong berjalan dengan baik. Taeyong selalu memberi pertunjukan yang menarik dan Taeil sangat terhibur dengan hal itu.

"Yang Mulia Ratu, tolong tenang sedikit." Doyoung menekankan tiga kata pertamanya, kesal karena Ten tidak bisa berdiri dengan tenang di sampingnya. Tangannya gatal ingin memukul Ten dan mulutnya gatal ingin berteriak padanya, namun sekarang ini mereka sudah menginjak area sekolah dan peraturan tentang kasta sudah berlaku. Doyoung tidak ingin mendapat hukuman.

Namun Ten masih gelisah. "Aku sudah satu minggu ini menahan diri untuk tidak menindas Joker, dan sekarang aku masih perlu menunggu hingga sepulang sekolah?" setelahnya Ten menghela nafas kasar, "Aku heran bagaimana bisa kalian berdua begitu tenang."

Taeil dan Doyoung bertukar pandangan sebelum menjawab, "King selalu memberi pertunjukan yang luar biasa, bukan begitu?"

Jawaban itu membuat Ten terdiam.

Ten mengetahui hampir seluruh rencana Taeyong, tentu saja karena dia juga ikut menyusun rencananya. Kegelisahannya yang memuncak di pagi hari ini sebenarnya tidak berarti sama sekali; tidak ada yang perlu Ten khawatirkan karena Taeyong selalu memberi sebuah pertunjukan yang sempurna. Ucapannya tentang dirinya yang sudah tidak tahan untuk menindas Serim lagi itu hanya alasan. Ten memang tidak sabar untuk menindas Serim lagi, namun penyebab dari kegelisahannya pagi ini sebenarnya bukan itu.

Entah mengapa dia merasa tidak tenang tanpa alasan yang jelas.

Ten ingin menindas Serim habis-habisan hari ini. Ingin membuat gadis itu ingat untuk tidak mencari masalah dengan mereka lagi.

"Ya," Ten mengangguk, menarik nafas panjang, "tapi aku tetap akan menindasnya habis-habisan hari ini; secara fisik maupun psikis." Ketika Ten mengucapkannya dengan tenang, baik Taeil maupun Doyoung dapat melihat kilat dingin pada mata Ten—tanda bahwa Ten serius dengan ucapannya.

Ten hanya merasa bahwa dia perlu menghabisi Park Serim sebelum gadis itu melakukan hal lain yang dapat membuatnya naik darah. []


Lexa lupa mau up ini pagi tadi :") srry ..

big thanks to Mint .Berry1220 and Saryeong for your reviews~!

Mint .Berry1220 sabar ya nunggu si Yeonmin ilang. wkwkwkw. yups, makasih juga buat reviewnya~

Saryeong siaap! tunggu chapter berikutnya yak. wkwkw. makasih udah review~

and thanks to you all yang udah baca 'Antagonist'~