[Antagonist]
NCT belongs to themselves
"Antagonist" belongs to Lexa Alexander
Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa
Main Pair: TaeTen
Other Pair: JaeDo, JohnIl
Jika kalian mengira selama satu minggu yang tenang itu Taeyong hanya berdiam diri dan menikmati waktu santainya tanpa perlu mengurus Joker, maka kalian salah.
Sore pukul empat lewat lima belas menit, bel peringatan akan berbunyi—tanda bahwa setiap murid yang ada di sekolah diharuskan untuk pulang karena sekolah akan ditutup dalam lima belas menit. Hingga bel itu berbunyi, Taeyong masih betah duduk di bangkunya, memainkan ponsel sembari menunggu si pemeran utama pertunjukan hari ini.
"Kau benar-benar ... tidak terduga."
Taeyong melirik Johnny yang berdiri tidak jauh darinya, bersandar pada salah satu meja dengan kedua tangan yang terlipat di depan dadanya. Taeyong hanya mendengus geli, terbiasa mendengar kata-kata itu terucap dari mulut orang-orang.
Selama satu minggu, Taeyong mengamati Park Serim.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, gadis itu akan segera keluar dari kelas dan menuju ke perpustakaan sekolah yang ada di lantai empat dan akan kembali pada pukul empat lebih lima belas sore untuk pulang rumah. Memanfaatkan kebiasaan baru Serim tersebut, saat ini Taeyong masih berada di kelasnya yang terletak di lantai tiga dengan seluruh teman sekelasnya dan Johnny—yang datang karena 'undangan' darinya. Setelah tadi siang mereka berpura-pura akan pulang seperti biasa dan Park Serim akan pergi ke perpustakaan seperti hari-hari sebelumnya, mereka semua menunggu di kelas hingga Serim kembali.
Sejak lima menit yang lalu, para middle class, lower class, dan outcast sudah keluar kelas dan menyiapkan apa yang mereka ingin lakukan pada Joker, menghadangnya di lantai tiga dan memblokir tangga menuju lantai dua sehingga target mereka tidak akan bisa melarikan diri. Taeyong memberi mereka kebebasan untuk melakukan apa yang mereka mau.
Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga yang kemudian langkah itu melambat dan berhenti. Park Serim sudah kembali dan saat ini gadis itu sedang kebingungan karena melihat teman-teman sekelasnya sedang mengepungnya. Tangga menuju lantai dua dihalangi oleh Mingyu dan Bobby, membuat Serim tidak bisa lari.
"Apa yang kalian lakukan?" Serim bertanya, namun tidak ada satu pun dari teman-teman sekelasnya yang menjawab. Melihat tatapan tajam di mata mereka, Serim merasa bahwa akan ada sesuatu yang buruk yang terjadi padanya dan berniat untuk kembali ke lantai empat, namun ketika berbalik, di belakangnya sudah ada Taehyung dan Chan. Perlahan kaki Serim melangkah ke belakang hingga punggungnya menyentuh jendela. "King membebaskanku hingga hari ujian! Minggir!"
Mendengar itu, Irene tertawa sinis. "Memang. Tapi hanya King yang membebaskanmu, bukan kami." Irene memutar rekaman dari ponselnya dan Serim dapat mendengar lagi apa yang dikatakan Taeyong padanya.
[Jika kau setuju, aku tidak akan mengganggumu mulai saat ini hingga ujian dimulai bulan depan.]
[... aku tidak akan mengganggumu ...]
[... aku ...]
"Aku."
Serim bisa merasakan Taeyong mengatakannya dengan sebuah seringai kejam terlukis di bibirnya, membuat tubuhnya menggigil. Menyadari bahwa dirinya telah masuk ke perangkap Taeyong, Serim merasakan harapan yang baru dia dapatkan selama satu minggu direbut secara paksa oleh sang pemberi harapan itu sendiri. Dalam sepersekian detik yang sangat singkat, Serim merasakan dirinya hampa.
Guyuran air yang terasa dingin, aroma amis telur, coretan pada seragam, dan apapun itu yang teman-temannya lakukan padanya tidak Serim rasakan. Dirinya bagai boneka yang kosong, tidak merespon apapun yang orang lain lakukan padanya. Suara tawa yang menyebalkan itu hanya masuk melalui telinga kanannya dan langsung keluar dari telinga kirinya. Serim menyadari dirinya sudah masuk dalam perangkap Taeyong, dan kini dirasakannya semua harapan itu sirna.
Karena sejak awal pun, harapan itu tidak pernah ada padanya. Selama satu minggu ini, semua itu hanyalah halusinasinya semata.
Fokus Serim sedikit kembali ketika dia mendengar langkah kaki dan suara tepukan tangan. Seseorang dengan seragam hijau berdiri di hadapannya, memperhatikan keadaannya yang terlihat sangat menyedihkan. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa kasihan—kecuali orang-orang ini yang memang sudah gila karena mereka senang dengan keadaannya yang begitu mengenaskan.
Orang gila. Park Serim masih tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka. Bagaimana bisa melihat seseorang menderita dapat membuat mereka bahagia?
Johnny Seo kini berdiri di hadapannya dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celana, memandangnya dengan pandangan geli dan puas, merasa terhibur. "Tidak ingin melawan lagi, Park Serim?" tanyanya, menyindir Serim yang sebelumnya memang seringkali melawan penindasan yang dilakukan padanya.
Dengan suaranya yang hampir tidak bisa didengar, Serim membalas, "Kau tidak berhak ikut campur."
Peraturannya adalah, tidak ada seorang pun dari kelas lain yang berhak ikut campur masalah kelas lain. Jadi, seharusnya Johnny Seo dari kelas Clover tidak berhak mencampuri urusan kelas Spade.
Johnny tertawa, benar-benar tertawa karena geli. "Ya, memang itu peraturannya," katanya, "tapi, sayang sekali, King of Spade mengundangku kali ini."
Tidak ada yang boleh ikut campur urusan kelas lain kecuali jika orang itu mendapat izin dari King kelas tersebut.
Serim tidak dapat menyembunyikan raut terkejutnya, membuat Johnny terkekeh geli. "Menyenangkan melihat keadaanmu yang seperti ini." Johnny berjongkok, menyejajarkan tubuhnya dengan Serim yang saat ini terkulai lemah di lantai dengan seluruh tubuhnya yang kotor, "Apakah kau tidak pernah bertanya-tanya mengapa kau bisa ditindas hingga seperti ini?" tanyanya.
Pertanyaan Johnny membuat Serim menyipitkan matanya. Tidak dia pungkiri bahwa pertanyaan seperti itu sering memenuhi kepalanya. Tidak tahu di mana letak kesalahannya, tidak mengerti apa yang membuat orang-orang menindasnya dengan sungguhan dan bukan tuntutan peran semata.
"Apakah kau selalu berpikir bahwa tidak ada seorang pun yang tahu apa yang kau lakukan selama ini?"
Serim belum sempat terpikirkan oleh apapun ketika Johnny berdiri dan mengangkat dagunya dengan ujung sepatunya, membuat wajahnya menghadap ke arah King of Clover tersebut. Tatapan sengit yang diberikan Serim kepadanya membuat Johnny terkekeh—menggelikan, menurutnya. Tidak ada yang dapat Joker perjuangkan untuk mengenyahkan sesuatu yang memang sudah menjadi perannya.
Joker. Siapapun yang mendapat peran itu harus menghibur semua orang—menjadi bahan tertawaan semuanya.
Cukup memperhatikan ekspresi Joker, Johnny menyingkirkan kakinya. Kemudian seember air dingin kembali mengguyur tubuh Serim. "Sepertinya air kolam kemarin belum membuatmu sadar, ya?" tanya Johnny, "Kudengar Taeyong dan Ten menenggelamkanmu ke dalam kolam renang juga, tapi kurasa itu belum cukup." Johnny terdiam, memikirkan beberapa cara yang dapat digunakannya untuk menyadarkan Serim. "Aku ingin menghanyutkanmu ke sungai atau melemparmu ke tengah lautan, tapi kalau kau mati dengan cepat, aku tidak bisa menyiksamu lagi."
Mereka benar-benar sekumpulan orang gila. Membiarkannya hidup agar bisa menyiksanya? Jika alasan untuk membiarkannya hidup adalah karena takut akan hukum, maka itu normal. Tapi alasan Johnny sama sekali tidak masuk akal.
Saat itu juga Park Serim yakin bahwa Johnny Seo tidak ada bedanya dengan Lee Taeyong. Keduanya sama-sama licik dan memiliki jalan pikiran yang tidak bisa ditebak—keduanya adalah iblis.
Tanpa sadar, Serim menatap Johnny dengan matanya yang berkilat tajam penuh kebencian. Johnny yang mendapat tatapan itu mengerutkan dahinya kesal, "Apa-apaan tatapanmu itu?" tanyanya. Tidak repot menunggu jawaban dari Serim, Johnny meletakkan telapak kakinya pada sisi wajah Serim, menginjaknya. "Kau pikir kau siapa, Joker?"
Tekanan yang Johnny berikan tidak main-main. Jika keesokan harinya Serim menemukan pipi kirinya memar, dia tidak akan terkejut—karena saat ini Johnny menginjaknya seperti dia menginjak serangga.
"Kulihat kau bersenang-senang, John."
Suara yang tidak asing menyapa indera pendengaran Serim. Mengangkat sedikit kelopak matanya, samar-samar Serim bisa melihat sosok Taeyong yang berdiri di hadapannya dengan Ten, Jaehyun, Taeil, dan Doyoung yang selalu mengikuti kemanapun sosok King of Spade itu pergi.
Johnny mengangkat kakinya, memberi sedikit kebebasan pada Serim kemudian berbalik menghadap Taeyong, "Sedikit."
Masih dengan senyumnya, Taeyong menatap Serim sekilas. Serim bisa melihat Taeyong menatapnya dengan pandangan puas yang bercampur dengan geli—mengejek dan merendahkannya habis-habisan. "Sayang sekali aku tidak bisa ikut bersenang-senang bersamamu."
Kalimat Taeyong seolah menyulut sumbu kemarahan dalam hati Serim. Sebuah percikan api kecil yang membakar sebuah sumbu dengan cepat dan membuat sesuatu di dalamnya meledak.
Dalam sepersekian detik yang sangat singkat, Serim kembali teringat dengan apa yang telah Taeyong lakukan padanya. Bagaimana orang itu menindasnya, saat orang itu memberinya sebuah harapan dengan perjanjian dan bagaimana harapan itu lenyap dengan cepat seolah harapan itu tidak pernah ada.
Bukankah dulu kita adalah teman?
Serim ingat semuanya. Taeyong yang murah senyum, Taeyong yang ramah, juga Taeyong yang sangat baik kepadanya. Semua kebaikan Taeyong, apa yang laki-laki itu berikan, semuanya, Serim tidak lupa. Taeyong begitu baik kepadanya, sehingga cukup sulit bagi Serim untuk percaya bagaimana Taeyong menindasnya setelah mereka berada di tahun ketiga.
Kesalahan apa yang telah aku perbuat padamu, Lee Taeyong?
Ucapan Johnny dan Jaehyun yang seolah memberinya petunjuk besar tentang dirinya yang telah mengusik tiga orang itu memenuhi kepala Serim, membuatnya semakin yakin bahwa dirinya memang memiliki sebuah kesalahan besar kepada mereka bertiga. Namun, bahkan setelah Serim pikir berkali-kali, dia tidak menemukan jawabannya. Serim yakin dirinya tidak pernah mengusik ketiganya, namun setelah mendengar apa yang Johnny dan Jaehyun katakan, Serim menjadi ragu.
Apa salahku hingga kau tega melakukan ini padaku?
Dibandingkan dengan perlakuan kejam yang tidak memiliki dasar yang jelas seperti ini, Serim ingin Taeyong memberitahunya secara langsung dimana letak kesalahannya. Itu jauh lebih baik daripada mendiamkannya dan terus menyiksanya. Jika itu hanya sebuah kesalahpahaman, mungkin Serim dapat menjelaskannya sehingga tidak ada lagi salah paham di antara keduanya.
Apakah itu sebuah kesalahan yang besar sehingga dia menerima semua ini?
Serim tidak tahu, namun dia ingin tahu. Seberapa besar salahnya dan apa yang dia perbuat, Serim ingin Taeyong menjelaskan semua itu kepadanya.
Setelah menindasnya dengan sangat tidak manusiawi, Taeyong memberikan harapan kepadanya, membuatnya bernafas lega selama satu minggu dengan sebuah harapan dalam genggamannya. Namun setelah itu, harapan yang dia kira telah dia genggam hilang begitu saja. Serim benar-benar berharap Taeyong menepati janjinya untuk tidak mengganggunya, termasuk tanpa menyuruh orang lain untuk mengganggunya di bawah perintahnya. Bagi Serim, ini sama saja seperti Taeyong ikut menindasnya karena semuanya bergerak di bawah kendali Taeyong.
Park Serim merasa dibohongi.
Park Serim merasa ditipu.
Park Serim merasa dikhianati.
"LEE TAEYONG, KAU PEMBOHONG!"
Baik Ten, Johnny, Jaehyun, Taeil, maupun Doyoung yang berada di sisi Taeyong bahkan tidak bisa menahannya ketika Serim dengan cepat berdiri dan mendorong Taeyong sekuat tenaganya. Semuanya terkejut—bahkan ketika tubuh Taeyong terjatuh begitu saja dari atas tangga lantai 3, membentur anak tangga untuk beberapa kali sebelum tubuh itu terkulai lemas di lantai dengan darah yang mengalir dari kepalanya, secara perlahan membentuk genangan cairan merah di sana.
Pikiran Ten seketika kosong. Sekelebat ingatan tentang rumah sakit, darah, dan pakaian hitam kembali teringat olehnya. Kemudian Taeyong—segala hal yang dia ingat tentang sahabatnya. Ten tidak dapat memikirkan hal lain. Secara refleks tubuhnya bergerak, dengan tergesa menuruni tangga dan menyentuh tubuh Taeyong dengan hati-hati.
"Taeyong hyung ..." Ten menatap telapak tangannya yang kini kotor dengan cairan kental berwarna merah. Kepanikan di sekitarnya; Johnny yang memanggil ambulans dengan segera, guru-guru yang datang dengan wajah pucat dan panik, kerumunan orang yang masih berada di sekolah, semuanya tidak Ten perhatikan. Pikiran Ten tidak ada di sana, pikirannya ada pada Taeyong, keselamatan Taeyong, apa yang perlu dia lakukan untuk menyelamatkan Taeyong, apa yang akan terjadi pada Taeyong—perlahan pikiran-pikiran yang ada dalam kepalanya membentuk suatu pola rumit yang pada akhirnya membuat kepalanya berdenyut nyeri. Tatapan Ten berubah kosong dengan air mata yang mengalir dari kedua matanya, membasahi pipinya.
Ketakutan akan kehilangan sosok yang paling berharga dalam hidupnya kembali menyelimuti Ten, membuat tubuhnya gemetar.
Lalu matanya menangkap sosok Serim yang ketakutan, berdiri di barisan paling belakang, di balik kerumunan teman-teman sekelasnya, dengan wajah pucat dan tubuh gemetarnya terdiam melihat pemandangan tidak terduga di hadapannya. Amarah Ten meledak, dengan seluruh tenaganya Ten menyingkirkan orang-orang yang berdiri di depannya dan menghalanginya untuk maju menuju Park Serim. Lalu ketika dia telah berdiri di hadapan gadis itu, Ten benar-benar mengeluarkan seluruh amarahnya.
"PARK SERIM, BAJINGAN!"
Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Serim sebelum Ten merasakan tubuhnya ditahan dan sebuah pukulan di tengkuknya membuat semuanya menjadi gelap. []
... protes dipersilahkan.
.
thanks to Saryeong for your review~
hnn, ada penyelamatnya bagus juga. tapi kalo jahat semua kayaknya lebih asik. wkwkwkw. yup, makasih juga buat reviewnya. u too, stay healthy~
.
makasih banyak juga buat yang udah baca. stay safe, stay healthy~
