[Antagonist]

NCT belongs to themselves

"Antagonist" belongs to Lexa Alexander

Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa

Main Pair: TaeTen

Other Pair: JaeDo, JohnIl


Samar-samar Ten mendengar suara Jaehyun yang mengucapkan terima kasih dan pintu yang tertutup. Ten merasakan saat ini dia sedang berbaring di atas sofa besar, dan keadaan di sekitarnya terasa begitu hening dengan aroma khas yang sangat Ten benci.

Aroma rumah sakit.

Ketika Ten membuka matanya, yang langsung tertangkap oleh indera pengelihatannya adalah langit-langit tinggi berwarna putih. Mengamati keadaan di sekitarnya, Ten tahu dia sedang berada di kamar rawat seseorang—tepatnya, kamar rawat Taeyong.

Dapat Ten simpulkan bahwa sekarang ini Taeyong telah mendapatkan perawatan. Sepertinya ambulans yang dipanggil Johnny datang tepat waktu dan segera memberikan pertolongan pada Taeyong. Ten tidak tahu bagaimana detail kejadiannya karena seseorang memukulnya hingga pingsan, tapi melihat Taeyong baik-baik saja tanpa alat-alat medis aneh yang menempel pada tubuhnya, Ten cukup lega.

Melihat Ten yang sedang berusaha untuk duduk, Jaehyun menghampirinya dengan langkah cepat. "Pelan-pelan," kata Jaehyun setelah berada di samping Ten dan membantunya untuk duduk. Ucapannya hanya ditanggapi dengan gumaman.

Ten merasakan kepala dan tengkuknya berdenyut nyeri. Pukulan tadi benar-benar keras. Ingatkan dirinya untuk memukul balik siapapun itu yang sudah melakukannya.

"Kepala dan lehermu masih sakit?" Jaehyun bertanya, membuat Ten menatapnya dengan pandangan seolah Jaehyun-lah orang yang tadi sore membuatnya pingsan dengan pukulan di leher belakangnya. Seketika Jaehyun merasa bersalah—meskipun itu tidak terlihat dari wajahnya karena dia tetap memasang wajah tanpa ekspresinya seperti biasa. "Maafkan aku. Tadi tidak ada obat bius, jadi—"

Ucapan Jaehyun terhenti ketika secara tiba-tiba Ten berdiri dan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ranjang yang berada tidak jauh dari sana, menghampiri Taeyong yang terbaring dengan wajahnya yang terlihat jauh lebih pucat dari biasanya.

Melihat itu, Ten merasakan jantungnya berdetak dengan sangat cepat dan tubuhnya berkeringat dingin. Ingatan menyakitkan ketika dia kehilangan salah satu orang yang berharga dalam hidupnya kembali merasuki kepalanya, mengingatkannya kembali akan perasaan kehilangan yang membuatnya ketakutan.

Bagaimana jika itu terulang kembali?

Ten tidak ingin, tentu saja. Namun bagaimana jika itu terjadi? Karena Ten tidak dapat melawan takdir—terlebih, kematian.

Jaehyun menepuk punggung Ten dan memberinya usapan yang menenangkan ketika dia menyadari bahwa Ten mulai tidak dapat mengatur pernafasannya dengan baik. "Ten, kau baik-baik saja?"

Mendengar pertanyaan Jaehyun, Ten menyadari bahwa dia mulai merasakan sesak pada organ pernafasannya dan segera mengambil satu langkah ke belakang untuk mengambil nafas dalam-dalam dan mengontrol kembali nafasnya yang mulai tidak teratur. Perlu beberapa waktu baginya hingga dirinya tenang, dan Jaehyun menunggunya, mengawasinya seandainya terjadi suatu hal yang tidak terduga.

"Dokter bilang, benturan di kepala Tuan Muda cukup keras, tapi Tuan Muda baik-baik saja." Jaehyun berkata setelah mengambil kursi untuk Ten duduk di samping ranjang Taeyong. Mendengarnya, Ten merasa sedikit lega. "Hanya saja, mungkin perlu waktu sedikit lama bagi Tuan Muda untuk sadar," lanjut Jaehyun.

Ten tidak membalas. Tidak masalah. Nyawa Taeyong tidak terancam, itu sudah cukup untuk saat ini.

Jaehyun tetap berdiri satu langkah di belakang Ten, tidak berniat untuk mengambil kursi lain atau mendudukkan dirinya di sofa yang tadi menjadi tempat untuk Ten berbaring. Dia lebih memilih untuk berdiri di dekat Ten dan Taeyong sembari berjaga.

Melihat wajah pucat Taeyong yang sedang terlelap, Jaehyun merasakan sebuah perasaan campur aduk; sedih, marah, dan khawatir yang bercampur menjadi satu. Rasanya mirip seperti saat Jaehyun bertemu dengan Taeyong lagi untuk pertama kalinya setelah tiga tahun Taeyong meninggalkan rumah. Seperti ada yang hilang—seperti akan ada sesuatu yang hilang.

"Tuan dan Nyonya Lee ..."

Tidak sulit bagi Jaehyun untuk mengerti apa yang ingin ditanyakan Ten. Jaehyun menghela nafas sebelum menjawab, "Mungkin tengah malam nanti akan datang; perjalanan dari luar negeri tidak sebentar."

Setelahnya, Ten tidak bertanya apapun. Pikirannya masih dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin akan terjadi pada Taeyong. Meskipun Jaehyun sudah memberitahunya bahwa Taeyong akan baik-baik saja, namun Ten masih saja takut jika sesuatu akan terjadi di luar perkiraan dokter. Tidak ada yang tahu tentang takdir, dan itu yang membuat Ten tidak bisa tenang.

Dia lega Taeyong baik-baik saja, namun di saat yang bersamaan, dia takut jika terjadi suatu hal buruk di luar perkiraannya. Bagian terburuknya adalah, jika dia tidak bisa melakukan sesuatu untuk mencegahnya agar tidak terjadi.

"Kau tidak bertanya tentang apa yang terjadi setelah itu?"

Lagi, yang ditanya tidak memberi respon.

"Setelah kau pingsan—" Jaehyun tahu Ten akan tetap mendengarkan, dan dia memilih untuk memberitahu Ten karena untuk beberapa hari ke depan, Ten akan mengambil alih kelas sebagai Queen, "—kami memutuskan untuk menahan Joker."

Ada hening sebelum Ten bertanya pelan, "Apa maksudmu?"

"Joker terancam di-drop out dari sekolah karena membuat Tuan Muda terluka seperti ini, tapi kami meminta agar mereka—para guru, maksudku—tidak melakukannya."

Mendengar itu, Ten menoleh dan melayangkan tatapan tajam pada Jaehyun, seperti yang sudah Jaehyun perkirakan. Jaehyun tidak bodoh untuk menyadari bahwa Ten marah. Benar-benar marah. "Kenapa kalian membiarkannya tetap berada di sekolah?" Ten menggeram, berusaha untuk tidak berteriak pada Jaehyun.

"Kau sendiri mengerti bagaimana jalan pikiran Tuan Muda, bukan?" Jaehyun bertanya balik dan pertanyaannya membuat Ten terdiam, memahami apa yang Jaehyun tanyakan padanya—tentang apa yang Taeyong biasanya pikirkan jika ada kejadian seperti ini. Namun saat ini Ten tidak bisa memikirkan apapun, sehingga Jaehyun menjelaskan, "Jika aku adalah Tuan Muda, aku akan berpikir bahwa drop out terlalu ringan sebagai hukuman untuk Joker—atau mungkin itu justru akan menguntungkannya karena dia akan terbebas dari segala penindasan yang dialaminya. Kau tahu sendiri, dia belum sepenuhnya terbakar."

Benar. Gadis itu telah bermain api, namun saat ini dia belum sepenuhnya terbakar. Masih ada banyak dosa yang belum ditebusnya, masih ada banyak hukuman yang menantinya. Masih ada banyak hal yang perlu Park Serim jalani sebagai konsekuensi dari apa yang telah dia lakukan. Gadis itu belum merasakan semuanya—ini masih terlalu sedikit, dan semua orang belum puas. Joker belum menuntaskan tugasnya, dia belum menghibur semuanya.

"Yang terakhir," Jaehyun beralih menatap Taeyong untuk sejenak, sebelum kembali kepada Ten yang kini melunakkan raut wajahnya, "Tuan Muda membuat sebuah kesepakatan dengan Joker. Aku tidak tahu keuntungan apa yang akan Tuan Muda dapatkan dari kesepakatan itu, tapi sepertinya itu adalah sesuatu yang penting bagi Tuan Muda meskipun kelihataannya Tuan Muda tidak terlalu diuntungkan. Jika kita membiarkan Joker keluar dari sekolah, Tuan Muda tidak lagi memiliki kesempatan untuk memenangkannya. Itu sama saja seperti menghancurkan rencana besar yang telah Tuan Muda susun dengan baik."

Suatu keputusan luar biasa yang Jaehyun ambil di saat keadaan sangat kacau. Bagaimana bisa dia terpikir oleh semua itu, Ten tidak tahu. Dirinya bahkan sudah kehilangan kendali atas emosinya. Sikap tenang Jaehyun sepertinya bukan hanya sebagai kulit luarnya—berpikir dengan kepala dingin di kala situasi sedang panas adalah hal yang sulit, namun Jaehyun dapat melakukannya bahkan ketika Tuan Mudanya terluka parah seperti itu.

Ten tidak akan berbohong; dia kagum pada Jaehyun.

Menghela nafas, Ten bertanya pada laki-laki bertubuh tinggi yang masih setia berdiri di belakangnya, "Kau yakin Taeyong hyung dapat kembali ke sekolah ... sebelum 10 hari?" Ten melirik Jaehyun yang berdiri di belakangnya, kemudian kembali mengalihkan pandangannya kepada Taeyong, "Ujian dimulai 14 hari lagi. Bagaimana jika Taeyong hyung masih belum sadar?"

Untuk kali ini, Jaehyun tidak bisa menjawab pertanyaan Ten.

Karena yang bisa mereka lakukan saat ini hanyalah berdoa dan menunggu. []


amburadul ga nih tulisannya? belum diedit soalnya, hikd :"

oh iya, minggu depan Lexa udah balik kuliah, jadi entah Lexa bisa up 2-3 hari sekali kayak sekarang atau nanti malah jadi seminggu sekali (aku bahkan ga yakin bisa up rutin seminggu sekali, srry).

dan makasih banyak buat Saryeong atas reviewnya~ Taeyong's okay, and Serim's okay too (maybe, wkwkw). gausah khawatir, ntar ditangani Ten, kok, Serim-nya. whyy~ itu tuntutan peran Serim, hiks. kalo ga dibully ga asik ntar (eh). yups, siap! u too, stay healthy~

makasih banyak juga buat kalian yang udah baca. jaga kesehatan selalu~