[Antagonist]

NCT belongs to themselves

"Antagonist" belongs to Lexa Alexander

Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa

Main Pair: TaeTen

Other Pair: JaeDo, JohnIl


Matahari telah bersinar terang dan suhu di luar jauh lebih hangat ketika Ten beranjak dari ruang rawat Taeyong untuk mencari sarapan. Jaehyun tetap berada di kamar rawat Taeyong, menelpon pelayan di kediaman Lee untuk membawa beberapa pakaian ke rumah sakit—termasuk pakaian Ten yang ada di sana. Sering menginap di kediaman Lee, Ten memiliki satu lemari yang berisi pakaian-pakaiannya sendiri.

Karena Jaehyun bilang dia ingin roti untuk sarapannya, sepertinya Ten akan sarapan dengan roti juga. Sebelumnya Ten ingin sarapan dengan nasi, tapi karena akan repot jika dia harus mencari kedai yang berbeda untuk mencari roti pesanan Jaehyun, Ten memilih untuk sarapan dengan roti. Sekalian.

Memilih satu kedai yang tidak begitu jauh dari rumah sakit, Ten memesan americano dan dua potong roti isi dengan isian berbeda untuk dirinya sendiri lalu americano, dua potong roti isi, dan dua roti manis untuk Jaehyun. Ten membawa nampan berisi pesanannya ke meja yang kosong kemudian menikmati americanonya yang masih panas, meniupnya beberapa kali sebelum menyesap sedikit kopi pahit tersebut.

Ten baru saja menggigit rotinya ketika ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk.

Itu ibunya.

"Halo, Ibu."

[Ten. Semalam ibu mengunjungi apartemenmu tapi kau tidak di sana.]

Teringat akan kunjungan rutin ibunya yang kali ini dia lupakan, seketika Ten merasa bersalah. "Oh, maaf," katanya. Dia benar-benar lupa jika kemarin adalah jadwal kunjungan rutin ibunya untuk ke apartemennya. Pada akhir minggu setiap minggu ke-tiga tiap bulannya, ibunya akan datang untuk menginap di apartemennya, menghabiskan akhir minggu bersama Ten sebelum pagi harinya kembali dengan kegiatannya yang padat. "Aku sedang bersama Taeyong hyung, maaf karena aku lupa mengabari ibu."

[Ah, begitu. Ibu langsung kembali karena kau tidak ada. Ibu akan mengunjungimu lagi bulan depan seperti biasanya, tidak apa-apa, kan?]

Ten mengangguk, melupakan bahwa saat ini dia sedang berbicara dengan ibunya lewat telepon. "Okay."

[Bagaimana kabar Taeyong?]

"Uh ..." Ten mengetukkan jemarinya di atas meja dengan gelisah sebelum menjawab, "Taeyong hyung baik-baik saja. Ada sedikit kecelakaan kecil di sekolah, tapi saat ini dia sudah mendapat perawatan."

[Astaga. Semoga dia cepat sembuh. Maaf karena ibu tidak bisa menjenguknya sekarang.]

"Tidak apa-apa. Taeyong hyung baik-baik saja sekarang." Tanpa dirinya sadari, bibirnya membentuk seulas senyum ketika dia teringat akan Tuan dan Nyonya Lee semalam.

Benar. Taeyong akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu Ten khawatirkan.

[Ngomong-ngomong, bagaimana dengan tawaran ibu?]

Pertanyaan ibunya kali ini membuat Ten melunturkan senyumnya—teringat bahwa sebentar lagi dia akan menghadapi ujian akhir dan setelahnya dia akan sibuk dengan segala persiapan masuk universitas, termasuk menentukan pilihannya. Tidak ada banyak waktu yang tersisa untuk menentukan program studi yang akan dia ambil dan universitas tujuannya.

"Aku—" hela nafas keluar dari mulutnya, tangannya yang menggenggam cup bergerak gelisah, "—kurasa aku tidak jadi mengambil Psikologi. Aku akan ambil Kedokteran."

Ada sebuah jeda di seberang sana.

[Kedokteran, ya ...?]

"Mn, dengan Program Pendidikan Dokter Spesialis."

[Bagaimana dengan universitasnya? Kau akan tetap di sini atau ikut ibu ke Inggris?]

Kali ini, Ten tidak bisa menjawab.

Di satu sisi, Ten jelas tidak ingin meninggalkan Taeyong. Ten tahu Taeyong membutuhkannya, dan Ten khawatir jika terjadi sesuatu pada Taeyong saat Ten tidak berada di sisinya. Ten tidak ingin berpisah jauh dari Taeyong.

Namun di sisi lain, Ten tahu, di Inggris, ada beberapa universitas yang masuk ke dalam jajaran universitas terbaik di dunia. Jika Ten tidak salah ingat, Fakultas Kedokteran terbaik dunia ada di salah satu universitasnya. Tidak mudah, memang, untuk menjadi salah satu mahasiswa di sana. Tapi jika Ten memiliki kesempatan untuk belajar di tempat yang terbaik, maka Ten akan melakukannya. Meskipun untuk masuk ke sana sangat sulit, meskipun perlu waktu lama bagi Ten untuk menuntut ilmunya, meskipun—

meskipun itu berarti harus meninggalkan Taeyong?

Nafas Ten tercekat. Tidak. Untuk yang satu ini, Ten belum siap.

"Ibu."

[Ya?]

Untuk sesaat, Ten merasa ragu. "Aku ingin belajar di tempat yang terbaik demi seseorang ... tapi aku tidak ingin meninggalkannya di sini."

Tanpa perlu Ten menjelaskan apa maksud ucapannya, Nyonya Lee mengerti apa yang ingin ditanyakannya.

[Ten ...] suara lembut ibunya membuat Ten sedikit tenang. [Kau tahu, you can't make an omelette without breaking the eggs—segala sesuatunya memerlukan pengorbanan.]

"Bagaimana—bagaimana jika dia membenciku?" Membayangkan Taeyong yang membencinya, seketika Ten diliputi rasa takut. Itu adalah hal terburuk yang tidak diinginkannya untuk terjadi.

[Kau melakukan yang terbaik untuknya. Dia pasti mengerti.]

Itu belum tentu terjadi. Dia belum tentu bisa mengerti. Pada satu sudut dalam hatinya Ten meragukan ucapan ibunya.

Tidak—lebih tepatnya, Ten takut akan keputusannya untuk mengiyakan tawaran ibunya. Saat Ten memberitahu Taeyong tentang keputusannya, Taeyong pasti akan berkata, "Baguslah," dan menyuruh Ten untuk pergi melanjutkan studinya. Tetapi, Ten-lah tidak ingin meninggalkan Taeyong. Ten khawatir, memikirkan apa yang akan terjadi pada Taeyong seandainya dia meninggalkan sahabatnya.

Bayangan Taeyong tiga tahun lalu masih menghantuinya, membuatnya takut mengambil keputusan dimana keputusan itu akan membuatnya menjauh dari Taeyong, sangat jauh hingga Ten tidak dapat melihat sosok sahabatnya dengan matanya, atau meraihnya dengan kedua tangannya.

Bagaimana jika kejadian itu terulang kembali?

Ten takut.

Takut jika kejadian itu terulang untuk kali kedua, keadaan Taeyong akan bertambah parah. Takut jika dia berada di tempat yang jauh sehingga tidak dapat melakukan sesuatu untuk membantunya. Seandainya hal itu terulang, Ten tidak tahu cara apa lagi yang bisa dia lakukan untuk membuat Taeyong bertahan.

Jika Ten harus memilih antara studinya dan Taeyong, maka Ten jelas akan memilih Taeyong.

Tapi

Keputusan Ten untuk studinya, kali ini adalah demi Taeyong.

Karena Taeyong, untuk Taeyong. Ten akan melakukan apapun untuk sahabatnya, Ten akan melakukan yang terbaik untuknya. Termasuk pilihannya kali ini.

Benar. Semuanya demi Taeyong.

Jika seperti itu, maka untuk kali ini, Ten akan merelakan dirinya dibenci Taeyong. Tidak masalah, karena Ten melakukan semua ini untuk Taeyong. Ten akan membiarkan Taeyong membencinya saat ini, demi dirinya yang dapat mendampingi Taeyong dan menjaganya dengan lebih baik di masa depan.

Lamunan Ten terhenti ketika ponselnya kembali berdering. Kali ini dari Jaehyun.

"Apa?"

[Mana sarapanku?]

Ten melirik ke arah etalase kedai yang penuh dengan berbagai macam roti, "Di sini," jawabnya.

[Sekadar informasi, pakaianmu sudah datang—]

"Hn," Ten menggigit rotinya yang kedua, langsung menggigitnya dengan sebuah gigitan besar yang memenuhi mulutnya. Daging, telur, keju, dengan butter yang tidak terlalu banyak membuat roti itu tidak terlalu berminyak. Ini adalah selera Ten—dan Taeyong juga. Ingatkan Ten untuk mengajak Taeyong sarapan di kedai ini kapan-kapan. Dia rasa Taeyong akan cukup menyukainya.

[—Doyoung dan Taeil juga datang, bersama Johnny.]

"Oke," Ten bangkit dari duduknya, membawa cup americanonya untuk diminum dalam perjalanan kembali. "Perlu kubawakan roti? Mumpung masih di kedai."

[Aku mau egg sandwich!] terdengar suara Doyoung.

Kemudian suara Jaehyun pada Ten, [Boleh. Terserah kau.]

Ten membeli beberapa roti untuk para tamu sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kedai, berjalan dengan langkah ringan menuju rumah sakit tempat Taeyong dirawat.

Tiap langkahnya, Ten meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Baik itu untuk Taeyong, keputusannya untuk melanjutkan kuliah, maupun hubungannya dengan Taeyong seandainya Ten benar-benar meninggalkan sahabatnya demi studinya. []


... kasih aku satu temen yang kayak Ten (again) :"

.

thanks to Saryeong~

siap~ makasih banyak :"

.

makasih juga buat kalian yang udah baca. stay healthy, semuanya~

dan Happy Chinese New Year bagi yang merayakan!

see you next week!