Read My Music By GoodMornaing

.

.

.

Happy Reading

Chapter 36 : Acceptance

.

.

WARNING!!!

DIKSI DAN ALUR YANG MEMBINGUNGKAN SERTA SANGAT RANDOM. POKOKNYA BENAR BENAR RANDOM.

Dan..

p. s : masih author yang sama kok :)

.

.

.

.

"Jika kutawarkan tubuhku sebagai bayaran untuk mendapatkan malam yang indah bersama dirimu, apakah menurutmu negosiasi seperti itu menguntungkan untukmu, CEO Byun?" Chanyeol bertanya dengan berbisik tepat depan bibir Baekhyun, suaranya rendah dan dalam.

Ohh.. ini bukan negosiasi, ini adalah ancaman, pikir Baekhyun sambil tertawa.

Namun apalah daya Baekhyun menolak sebuah penawaran yang menggiurkan lagi menguntungkan.

Baekhyun mengecup bibir Chanyeol yang hanya berjarak beberapa milimeter dari bibirnya.

Dengan suara renyahnya Baekhyun menjawab, "Senang berbisnis dengan anda Mr. Park."

Chanyeol tertawa dengan cerah, kemudian mengangkat tubuh Baekhyun dengan mudahnya. Chanyeol berjalan pelan menuju arah dimana ranjang mewah Baekhyun berada.

Diiringi ciuman panas yang anehnya terasa sangat manis dan luar biasa gurih, bercampur tawa renyah yang membuat candu untuk didengar, serta napas kuat dan memburu yang terus beradu menerpa wajah keduanya. Kedua merpati jatuh cinta ini dengan kompak mulai saling membantu untuk melucuti pakaian yang melekat dari sang lawan bercinta. Mulai merasakan hawa panas dari kulit lawan masing-masing ditengah gulita yang memenuhi ruangan.

"h-hahh.. tunggu sebentar Chan.." Bisik Baekhyun disaat Chanyeol mulai merebahkan tubuh si mungil itu diranjang empuknya.

"Iya cantik? Apa itu?" Chanyeol bertanya sambil mengambil hirupan dalam ceruk leher Baekhyun. Si mungil menengadah dan tanpa sadar mengeluarkan lenguhan dibuatnya.

"Kau yakin akan hal ini?" Tanya Baekhyun memastikan sekali lagi akan tindakan yang akan mereka berdua lakukan sebentar lagi.

DEMI TUHAN MEREKA BARU SAJA RESMI MENJADI SEPASANG KEKASIH BEBERAPA MENIT LALU. BAEKHYUN YANG SUDAH MENUNGGU CHANYEOL SELAMA LEBIH DARI 10 TAHUN PASTINYA MERASA INI SAMA SEKALI TAK TERLALU CEPAT UNTUK MENYERAHKAN TUBUHNYA PADA CHANYEOL SEKARANG.

Namun, beda kasusnya bagi Chanyeol. Baekhyun tak ingin pemuda itu menyesal dikemudian hari.

Seakan menyadarkan dari lamunan singkatnya, Baekhyun merasakan napas Chanyeol berhembus kuat di wajahnya, menyalurkan aroma seperti kayu manis yang memang sudah menjadi ciri khas seorang Park Chanyeol. Hangat.

"Kenapa? Apa kau ragu? Bila kau tak menginginkannya, aku tak keberatan untuk berhenti." Ujar Chanyeol dengan aura gentlemen menguar kuat dari pria yang baru saja memasuki umur 20annya itu.

Namun Baekhyun menggeleng seraya berkata 'tidak', dan kemudian mengatakan, "Kaulah yang harusnya ragu disini, karena... suatu hari mungkin kau akan menyesali hari ini. Karena, selain kesucian tubuhku, tak ada satupun dari diriku yang suci. Jadi, saat kau nanti telah mengetahui bagaimana kotornya hidupku untukmu. Kau akan menyesali malam ini."

Chanyeol tertegun sebentar. Berusaha menatap wajah Baekhyun yang berada dibawahnya sekarang, ditengah gelapnya kamar utama Mansion Byun ini.

"Penuh misteri seperti biasanya. Aku tak paham apa maksudmu dengan 'kotornya' dirimu itu. Namun, semua perkataanmu seolah kau mendorongku menjauh darimu. Lalu kenapa kau menerima tawaranku diawal tadi untuk menjadi kekasihmu, bila kau akhirnya justru berusaha untuk mendorongku pergi seperti ini?" Tanya Chanyeol, yang dengan amat sangat berusaha agar tak terdengar kecewa.

Chanyeol merasa seperti dipermainkan oleh pria mungil yang baru beberapa menit yang lalu resmi menjadi kekasihnya ini.

Baekhyun menghela napas. Sebelum akhirnya membuang wajah ke samping, tak sanggup untuk merasakan lagi napas Chanyeol yang sedari tadi terus menerpa wajahnya.

Dengan suara yang amat kentara menahan malu, Baekhyun menjawab, "Karena aku juga menginginkan dirimu."

GILA SAJA BAEKHYUN BILA DIA MENGATAKAN TAK MENGINGINKAN CHANYEOL. DEMI SELURUH PERUSAHAANNYA, BAEKHYUN TELAH MENUNGGU KEDATANGAN CHANYEOL DALAM WAKTU YANG LAMA.

Chanyeol menyunggingkan senyumnya. Dan Baekhyun menutup matanya rapat, telah dapat menebak akan bagaimana ekspresi Chanyeol sekarang.

"Tapi Chan, aku memikirkan kebaikan dirimu! Kau pasti akan-

Sayangnya, ucapan Baekhyun malam itu, tak pernah tersampaikan dengan lengkap.

"Kau pasti akan membenciku saat semuanya telah terungkap, dan bila kita sungguh melakukan'nya' malam ini, maka malam ini akan menjadi penyesalan untuk kita berdua."

.

.

.

Baekhyun terbangun dari tidurnya dengan rambut acak-acakan, wajah memerah, banjir keringat, serta tak ketinggalan celana yang telah basah dan lengket oleh cairan putih yang kita semua sangat tahu apakah itu.

"Dammit.." Bisik Baekhyun mengumpat pada dirinya sendiri.

Sekali lagi Baekhyun menggerang kesal, namun kali ini sambil beranjak menuju kamar mandi.

"Kau sungguh tercela Byun Baekhyun, bermimpi basah tentang dirimu sendiri dan mantan kekasihmu. Mengulangi lagi malam pertama kalian berdua, selamat Baekhyun, kau telah terlihat 100% menjadi mantan menyedihkan."

Kata hati Baekhyun yang terus menampar dirinya sendiri dengan cibiran kepada si Baekhyun itu sendiri yang sekarang telah basah terguyur air shower.


Xiumin menatap Baekhyun dengan wajah shock. Bagaimana tidak, setelah pertama kalinya dalam sejarah Xiumin mendapati hasil pekerjaan yang Baekhyun kerjakan sangat berantakan. Lalu ditambah lagi sepanjang rapat harian keduanya disepanjang sore ini, Baekhyun sama sekali tak bisa fokus.

Dan sekarang apa?

Baekhyun menghentikan diskusi mereka tiba-tiba dan mengajaknya melakukan apa tadi? Apa Xiumin sungguh tak salah dengar?

"Apa kau bilang tadi?" Tanya sang Sekretaris yang masih setengah tak percaya akan hal yang baru saja dirinya dengar beberapa menit lalu.

"Kataku, temani aku minum.. ayo, kita pilih wine mana yang menjadi teman kita malam ini. Hem... yang 20 tahun bagaimana? Atau vodka saja sekalian, bukannya itu kesukaan Jongdae hyung?"

"KAU GILA ITU TERLALU KERAS UNTUKMU. KITA MINUM BEER SAJA!!"

Dan akhirnya Xiumin tanpa sadar berteriak panik pada sang atasan.

.

.

.

- B A E K H Y U N POV -

Sudah berapa banyak aku minum? ah.. dua botol beer.

Rasanya aku ingin tersenyum terus- menerus. Perasaan apa ini? Semuanya terasa ringan dan berputar.

"Hik!"

Ahh!

Cegukan lucuku mulai datang!! Chen selalu bilang cegukanku saat mabuk itu lucu. Jadi jangan salah paham, aku tak sedang memuji diri sendiri. Namun begitulah kami menamainya disaat aku cegukan setiap mabuk.

Baiklah, lupakan tentang cegukan. Mumpung sedang menghibur diri di karaoke sekarang, aku harus bernyanyi. Humm... lagu apa ya?

UHHH.. uhh pusing. Kepala Baekkie berputar-putar seperti gasing.

OH?! Apa sedang gempa?

Eyy.. tidak mungkin. Ini di Korea, bukan Jepang.

Oh! Jepang.. ada beberapa lagu Jepang yang aku hapal.

Hum... yang mana yaaa Baekkie bingung. Aduh pusing lagi.

Apa Baekkie tanya pada Chen Ahjussi saja? Atau Xiumin Hyung saja?

Eh??!!

HUHUHU KESALLL KENAPA MEREKA JUSTRU BERMESRAAN!! Aku kan sedang sedih. Kenapa mereka justru bermesraan.

Hik!

Ah ya, dulu aku juga seperti itu. Mereka tengah bertengkar, aku justru bermesraan dengan Chanyeol.

oh.. Chanyeol

Aingggggg

Bodoh bodoh bodoh

Kenapa Baekkie ingat Chanyeol lagi.

TAPI TETAP SAJA BAEKKIE KESAL!!

HARUSNYA CHEN DAN UMIN JANGAN MESRA-MESRA DIDEPAN BAEKHYUN SEKARANGGGG..

OH!

Baekkie ada ide!!

BAEKKIE ADA IDE!!

Ahahahaa.. rasakan, kalian berdua. Akan aku buat kalian ikut sedih bersamaku!!

HA!

Kekekeke

Ihihihi

Aku mendengar napas kalian berdua yang sama-sama terkesiap saat lagu Papercut-lah yang aku putar. Lagu ini selalu menjadi lagu sensitif untuk mereka berdua ahahaha.

Baikk... sekarang ayo mulai bernyanyi.

hemm..

hemm..

EH?!!

HEEEE!!!!

KENAPA MEREKA JUSTRU INGIN BERCIUMAN!????

"HEY!! JANGAN BERMESRAAN DIDEPANKU. HIKS.. AKU JUGA INGINN.."

Aku merengut menghadap kearah mereka, dan merasa puas saat aku dengar suara baju keduanya yang bergesekan dengan sofa, seiring mereka berdua menjauh satu sama lain.

Hem.. good.

Baiklah.. Baekkie menyanyi lagi..

Ck. Baekkie benci telinga Baekkie, kenapa tetap bisa dengar suara Chennie dan Uminie walau suara lagunya sudah sangat sangat nyaring?

Oh mereka membicarakanku... selalu begitu!.

OH! MEREKA SUNGGUH BERCIUMANNNN!!

SUDAH BAEKKIE BILANG JANGAN BERMESRAAN DIDEPAN BAEKKIE. BAEKKIE KAN JADI INGIN MESRA- MESRA JUGA!!

Hik!

Ah cegukan lagi.

Hik!

Uhh cegukan sialan!

Oh astagaaaa BAEKKIE MENGUMPAT!! OH ASTAGAA!

Haishh.. nyanyian Baekkie jadi berantakan.

Huhuhu Baekkie sebenarnya tak ingin bernyanyi. Baekkie inginnya Chanyeolie.

OH! BENAR!!

BAEKKIE BISA MESRA-MESRA JUGA!! BERSAMA CHANYEOLIE!!!

Dadah Chennie Ahjussi Dadah Uminie Hyung.

- BAEKHYUN (Brain) POV END -

.

.

..

.

.


Baekhyun and Chanyeol, at Park's House


Jika ada yang menanyakan apakah hal ini salah?

Maka keduanya pasti akan menjawab bahwa mereka tidak tahu.

Dan sebaliknya, bila ada yang menanyakan apakah ini adalah hal yang benar?

Sayangnya walau pertanyaannya berbeda, jawabannya pun tetaplah sama, keduanya juga tak tahu.

Karena kenyataannya Chanyeol dan Baekhyun sungguh tak tahu. Mau bagaimana lagi...

Tak ada satupun dari salah satu diantara dua anak adam ini yang dapat menjelaskan tentang keputusan terimplusif, termendadak, dan tertidak-terduga yang pernah mereka lakukan dalam seumurhidup mereka ini.

OH

Mungkin begini saja...

Mencoba untuk memaklumi bahwa, diumur tanggung mereka. Dimana sudah tak dapat dikatakan sebagai masa anak- anak, namun juga belum dapat dibilang sudah dewasa, kedua pemuda yang berstatus sebagai mantan kekasih tersebut. TIDAK mengambil keputusan yang salah, namun juga TIDAK dapat disebut sebagai sebuah kebenaran.

Namun keduanya, telah mengambil keputusan yang akan menjadi sebuah... Pelajaran.

.

.

Dengan bibir membengkak basah. Napas memburu serta terputus- putus. Disertai wajah yang telah merona merah bagai buah stroberi.

Setelah berpuluh menit yang terasa bagaikan mimpi secepat kilat saja bagi keduanya, Si pria yang lebih mungil, Baekhyun akhirnya melepaskan dirinya dari pria yang lebih tinggi, Chanyeol,

Menyisakan penampilan kacau Baekhyun, hasil dari berbagi emosi serta perasaan hati bersama pria tinggi depannya.

Dilain sisi, Chanyeol juga sama saja kacaunya. Pandangan pria tinggi itu bahkan sampai berkabut air mata, hatinya kewalahan akan semua percampuran emosi yang dirasakannya sekarang. Pria tinggi itu menatap dalam bagaimana wajah-masih-saja-cantik-sempurnanya Baekhyun didepannya sekarang.

Keduanya sekarang telah berada didalam rumah, dengan Baekhyun yang bersandar lemah pada pintu bagian dalam rumah Chanyeol, yang ternyata bahkan ditengah ciuman panas keduanya tadi, pria tinggi itu masih sadar akan tata krama untuk tak 'bercumbu' didepan rumah. Dapat mengundang gunjingan orang- orang yang lewat.

Napas keduanya telah mulai teratur, Baekhyun semakin menyandarkan diri pada pintu kayu dibelakangnya. Sedangkan Chanyeol yang posisinya sekarang tengah memeluk pinggang ramping mantan kekasihnya sambil menempelkan kedua dahi mereka itu, dengan perlahan mulai memindahkan posisi kepalanya, semakin mendekat kepada Baekhyun. Hingga berakhir di bahu mungil dari pria yang memang mungil tersebut. Chanyeol menarik napas dalam, merasakan aroma Baekhyun terus merasuk dalam penciumannya tepat didetik setelah dirinya menyandarkan kepala pada bahu sang mantan kekasih.

Suasana pun menjadi hening.

Hanya detik jam, helaan napas yang telah menjadi teratur cenderung sangat relax, dan detakan jantung keduanya yang bersaut-sautan dengan degupan dan talu gugup yang sangat kentara menghiasi momen diantara dua orang ini.

Keduanya dapat menyimpulkan, bahwa tadi adalah sesi bercumbu yang paling intens yang pernah keduanya rasakan. Bahkan saat keduanya masih menjadi sepasang kekasih, tak pernah keduanya merasakan ciuman seintens itu.

Ah ya... kita hampir saja melupakannya...

Sekarang...

Keduanya adalah sepasang mantan kekasih yang dengan terlarangnya, justru berbagi ciuman panas.

Apakah hal ini masih dapat kita kategorikan sebagai hal yang.. ekhm.. pantas?

Pemikiran itu perlahan menelan hati Baekhyun yang sempat berbunga. Membuat ekspresi Baekhyun secara berangsur berubah, pemuda itu tampak kembali murung. Bahkan lebih murung daripada sebelum-sebelumnya.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya menahan diri sendiri untuk tak menangis.

"Hiks.. Chanyoraa.. aku.. "

Chanyeol tersentak terkejut mendengar isakan yang keluar dari bibir pria mungil didepannya. Dengan cepat pria tinggi itu menegakkan diri, masih dengan memeluk pinggang Baekhyun dengan sebelah tangannya. Namun kali ini, tangan kanan Chanyeol mulai menyeka air mata yang terus berjatuhan dipipi Baekhyun.

"Sssttt... tak apa Kyoongie, aku disini... sstt tak apa.." Tanpa Chanyeol duga, kalimat penenang itu, bukannya membuat isakan Baekhyun berkurang, sebaliknya, justru membuat si mungil semakin menangis, menambah guncangan pada tubuh mungilnya yang menahan isakan hebat.

Mata Chanyeol mulai ikut memerah. Pria Park itu menghela napas berat, Dan keparat akan segalanya, pria Park itu tak sanggup lagi menahan sesak di dada melihat bagaimana kacaunya manusia ciptaan Tuhan yang paling dirinya sayangi ini.

Selanjutnya tangis Baekhyun pecah tak tertolong lagi disaat Chanyeol menarik pria mungil itu masuk ke dalam pelukan tererat yang bisa Chanyeol berikan.

"CHANYEORAAA.. HUAAAA... A-AKU.. AKU MERINDUKANMUUU.. SAKIT!! SEGALANYA SAKIT.. KEPARAT! KAU JAHAT SEKALI!! KENAPA RASANYA SUNGGUH SAKIT. H-HIKS.. CHANYEORAAA... DISINI SANGAT SAKIT.. HATIKU SESAK... hiks.. hatiku sesak Chanyeol. Sakit sekali."

Baekhyun meremat bagian bahu baju Chanyeol. Sambil terus menangis. Menumpahkan seluruh emosi yang ditahannya selama ini. Baekhyun ternyata sudah sampai dibatasnya.

Chanyeol sungguh tak tahu harus mengatakan apa untuk dapat menenangkan Baekhyun yang dalam kondisi benar- benar terguncang ini. Pria tinggi itu tak ada pilihan lain selain semakin mengeratkan pelukannya. Namun sayang, detik selanjutnya Baekhyun justru mendorong tubuh besar Chanyeol menjauh darinya.

"JAHAT!! KAU JAHAT SEKALI!! K-KAU-KARENA K-KAU JUSTRU MEMELUKKU HIKS.. A-AKU AKAN MERINDUKAN RASANYA SAAT KITA SUDAH TERPISAH LAGI... HUEEE.. BERHENTI MEMELUKKU KAU JAHAT!!" Baekhyun berteriak dengan seluruh isakan dan airmata yang entah bagaimana bisa terus keluar tanpa berhenti itu.

Setelah tak ada lagi Chanyeol yang menahan tubuhnya, Baekhyun mulai merasakan bagaimana goyahnya kedua kaki miliknya sekarang. Kontan saja, pria mungil itu terduduk lemah dilantai dingin rumah sang mantan kekasih.

Baekhyun menangis dengan posisi berjongkok didepan mantan kekasihnya. Tak sanggup lagi berdiri.

"Hiks.. a-aku benci menjadi lemah seperti ini, namun mau bagaimana lagi bila kaulah yang merupakan kelemahanku.. oh, kau jugalah kekuatanku. Saat kau pergi, kau juga membawa semua kekuatan itu pergi.. sungguh hebat sekali dirimu. Andaikan kau bukan pria yang aku cintai, mungkin hiks.. mungkin kau sudah tinggal nama sekarang, aku tak bercanda hueee bagaimana bisa kau membuatku ingin membunuhmu dan menyayangimu disaat yang sama.. aku membencimu!!" Chanyeol ikut berjongkok didepan Baekhyun, mulai mengelusi rambut merah muda milik Baekhyun yang masih saja terasa selembut benang sutra ditangan kasar khas seorang gitaris miliknya.

"Baek.. hal itu juga berlaku untukku. Kelemahanku dan kekuatanku adalah dirimu. Aku mencintaimu sampai rasanya sakit. Namun aku juga sakit karena mencintaimu. Aku rasanya sudah setengah gila merindukanmu. Lemah sekali rasanya diriku. Aku merasa sekarat hanya karena sebuah hal sederhana bernama Rindu."

Chanyeol mengatakan semua itu dengan suara lembutnya, seraya mengelusi rambut Baekhyun. Menemani pria mungil didepannya yang sesekali masih saja terisak.

Dengan perlahan Chanyeol mendekat ke arah Baekhyun.

Dan dengan penuh akan rasa sesak yang berangsur- angsur mulai menjadi lapang didada sebab rindunya dengan perlahan mulai tersalurkan, Chanyeol mencium kening Baekhyun, sang pria kesayangannya itu dengan cukup lama.

Dan cukup ampuh untuk menghentikan isakan tangis Baekhyun yang sedang terguncang emosinya ditambah lagi sedang berada dalam pengaruh alkohol sekarang. Amat sangat tak stabil kondisinya.

Baekhyun menutup matanya, begitu juga dengan Chanyeol. Keduanya berusaha menikmati, memahami, serta meresapi detik- detik kebersamaan yang sedang terjadi saat ini. Mereka berdua tahu, keintiman ini mungkin akan menjadi yang terakhir diantara keduanya.

Setelah beberapa saat, Chanyeol melepaskan ciumannya dari kening Baekhyun. Kedua tangannya dengan perlahan merengkuh kedua pipi si mungil, dan sedikit merasakan nyilu didada saat merasa bagaimana pipi mochi kesukaannya itu terasa tipis dan tirus direngkuhannya.

"Baekhyunieku yang cantik, maafkan aku karena telah membuat keputusan akan perpisahan kita. Namun, percayalah... tak pernah sekalipun aku berniat menyikitimu. Justru perpisahan ini adalah salah satu jalan agar setidaknya kita bisa memiliki akhir yang bahagia nanti. Aku tahu ini terasa seperti jalan buntu memusingkan, terasa seperti jalan kerikil terjal yang menyakitkan, terasa seperti jalan menanjak yang melelahkan. Namun kita harus terus berjalan."

Air mata Baekhyun mulai kembali berjatuhan. Terasa hangat ditangan Chanyeol. Dan Chanyeol sama sekali tak menyekanya, membiarkan malaikatnya itu menangis sepuasnya malam ini.

"Iya Baekhyun, aku tahu.. rasanya sangat sakitkan. Aku tahu..., maafkan aku karena kau harus merasakannya juga. Andaikan bisa, aku sangat ingin sakit itu hanya akulah yang merasakannya. Maafkan aku."

Dan Baekhyun menggeleng kecil, menolak akan gagasan Chanyeol yang meminta maaf akan sakit yang Baekhyun rasakan. Karena, tak ada yang salah disini.

Chanyeol tersenyum kecil melihat pria mungil didepannya. Baekhyun dan segala kesempurnaannya, bahkan tetap terasa sempurna disaat pria mungil itu menunjukkan sisi terapuhnya.

Hingga akhirnya ditengah redupnya cahaya lampu malam ruang depan kediaman Park ini. Berjongkok di atas lantai dengan bertelanjang kaki. Chanyeol berbisik dengan suara rendahnya.

"Baekhyun.. kau tampak cantik malam ini."

Menciptakan isakan bercampur tawa renyah dibibir ceri Baekhyun.

Dengan tawa geli namun disertai air mata yang meleleh dipipi, Baekhyun menjawab, "Astaga aku membencimu dan mulut manismu itu hiks. Sayang sekali Tuan Park, anda kembali jatuh hati kepada pria cantik yang bahkan tak tahu bagaimanakah rupa cantik tersebut."

Dan Chanyeol ikut terkekeh. Lalu menjawab dengan nada jenaka..

"Karena seseorang pernah mengatakan padaku cinta seorang pria berasal dari mata bukan hatinya. Dan lihatlah sialan jeniusnya Shakespeare, tentu saja aku akan jatuh cinta dengan mataku dahulu bila objek yang tertangkap mataku ternyata seindah ini."

"Dan juga, karena mataku jugalah matamu. Kau sudah mengorbankan untuk bisa melihat lagi untukku, tentu saja aku harus membalasnya dengan mendedikasikan mata ini hanya untuk memandangmu."

"Meski tetap saja sayangku, aku lebih suka bila kau tak berkorban untukku lagi. Kau sudah melakukan banyak hal untukku. Kau sudah melakukan banyak hal untuk kebahagiaan semua orang. Aku berada dititik hampir memohon kepadamu, agar kau... kali ini, mengutamakan kebahagiaanmu sendiri sebelum orang lain."

Baekhyun merengut.

"Kau membawa bahagiaku itu pergi bersamamu." Ungkap Baekhyun dengan suara merajuk setengah manja.

Chanyeol tertawa dibuatnya.

"Tidak sayang, bukan bahagia bersamaku atau bahagia untukku lagi. Namun, bahagia yang berasal dari dirimu, dan bahagia itu juga untuk dirimu sendiri. Aku ingin, ya Tuhan aku ingin sekali, bahagia itu semuanya untukmu. Jangan kau sisakan untuk orang lain lagi, jangan kau bagi untuk orang lain lagi. Jangan kau utamakan orang lain lagi. Ambil semuanya.. ambil saja semua bahagia itu untukmu. Bagaimana sayang? Kau bisa?"

Baekhyun terdiam.

Baru saja tersadar, bahwa seumur hidupnya didunia ini, Sejak dirinya dilahirkan hingga sekarang. Dirinya tak pernah mengutamakan dirinya sendiri.

Melihat ekspresi Baekhyun yang mulai melemah, Chanyeol tersenyum tipis.

"Apa kau sudah mengerti sekarang? Kenapakah aku ingin kita berpisah? Selama kau bersamaku, maka kau tak akan pernah mengutamakan dirimu sendiri. Menurutmu aku akan bahagia dengan keadaan seperti itu? Tentu tidak. Bukankah begitu juga menurutmu?"

Baekhyun mengangguk pelan, sedikit ragu. Dan Chanyeol menghela napas. Ternyata Baekhyun versi mabuk seperti ini, tampak polos seperti anak kecil yang sama sekali tak paham akan dunia, perlu diajari dengan pelan, untuk hal sesederhana... seperti, sebuah kebahagiaan.

Sungguh berkebalikan dengan bagaimana image seorang CEO Byun saat pria mungil itu tengah dalam keadaan sadar 100%. Yang bahkan dapat menyimpulkan keinginan orang lain walau tanpa orang tersebut ungkapkan. Baekhyun tampak sederhana dan tampak sangat biasa sekarang. Sama sekali tak ada aura kuat seorang pemimpin perusahaan besar, yang berada didepannya ini, hanyalah seorang Byun Baekhyun pria muda berumur 20 tahun yang sekarang tengah merasakan patah hati pertamanya.

"Kyoongie, jika kita tetap bersama. Kau akan kehilangan dirimu sendiri. Saat ini saja kau sudah mengorbankan penglihatanmu. Maka bila dibiarkan, nanti kau akan berkorban apalagi untukku? Tanganmu? Kakimu? Pegawaimu? Hartamu? Dan tahukah kau bagaimana aku merinding memikirkan bila kau mengorbankan nyawamu untukku? Aku... menghancurkanmu Baekhyun."

Baekhyun menampilkan wajah merengut. "Kau juga pasti akan mengorbankan banyak hal untukku Chan. Jadi semuanya impas, itu hal wajar, berkorban untuk orang yang kita cintai."

Chanyeol menggeleng.

"Aku tak akan mengorbankan apapun untukmu."

Mata Baekhyun terbelalak.

"Kau berbohong."

Ekspresi Chanyeol mengeras, "Tidak, aku mengatakan yang sebenarnya."

Dan sekarang Baekhyun memucat mendengar bagaimana mantapnya nada suara Chanyeol. Chanyeol tersenyum miring menanggapi itu.

"Bagaimana? Kau merasa hancur dan kecewa bukan? Lihatlah, betapa mudahnya bagiku untuk menyakitimu. Hanya dengan beberapa kalimat." Chanyeol memindahkan kedua tangannya ke bahu Baekhyun, meremat kedua bahu sempit itu dengan sedikit bertenaga.

"Jadilah kuat Baekhyun. Jadilah kuat meski aku tak lagi disisimu. Bahagialah Baekhyun, kau harus bisa bahagia walau tanpa diriku lagi. Kau adalah Byun Baekhyun, kau pasti bisa. Tak ada yang tak dapat kau lakukan didunia ini. Kalahkan mereka semua, kalahkan ketakutanmu."

"Jangan biarkan kesedihan itu mengacaukanmu. Jangan buat celah sedikitpun kepada Putus Asa untuk datang. Sedetikpun Baekhyun, jangan biarkan sedetikpun kau merasa takut lagi. Kau bisa lakukan itu sayang? Bukan untukku ataupun karenaku, namun untuk, dan, dari dirimu sendiri."

Baekhyun terdiam sebentar.

Selanjutnya pria mungil itu mengangguk beberapa kali, "Aku akan mencobanya." Ujarnya mantap, dan Chanyeol tersenyum puas dibuatnya.

"Aku harap kali ini kau sungguh memahaminya, tak hanya dikepalamu, namun juga dihatimu... Baek, aku sungguh ingin kau bahagia."

Chanyeol mengelus pelan pipi Baekhyun. Kembali merasa nyilu pelan dihatinya, merasakan bagaimana tirusnya pipi mochi kesukaannya itu.

"Bagaimana dengan dirimu Chan. Apa kau sudah bisa melakukannya? Bahagia, dengan dirimu sendiri. Dan untuk dirimu sendiri?" Baekhyun bertanya pelan.

Elusan ibu jari Chanyeol pada pipi Baekhyun menjadi terhenti. Dengan perlahan Chanyeol memindahkan ibu jarinya itu ke atas bibir lembut Baekhyun. Lalu berbisik lembut tepat di depan ibu jari-diatas-bibir Baekhyun tersebut.

"My delight, aku juga sedang berusaha." Dan menutup ucapannya itu dengan memberi kecupan dalam pada ibu jarinya sendiri.

Tepat setelah beberapa menit keduanya berbagi 'ciuman tak langsung' itu. Alkohol akhirnya menarik kesadaran Baekhyun sepenuhnya. Baekhyun tertidur dengan posisi duduk dilantai dan dagu yang bersandar pada bahu Chanyeol.

Chanyeol tersenyum lembut akan situasi yang sedang dialaminya sekarang.

Ah.. beginikah cara keduanya benar- benar mengakhiri ikatan diantara mereka berdua.

Sambil menggendong Baekhyun dengan posisi koala menuju kamar, didalam benaknya Chanyeol bergumam.

"Harusnya dulu aku mengajaknya minum sesekali, meski tak baik untuk kesehatannya, namun aku merasa lega sekali Baekhyun bisa sebebas ini mengekspresikan perasaannya."

.

.

.

Tanpa keduanya sadari;

Senior Park yang menyaksikan keduanya dari lantai dua, telah menyaksikan kejadian tadi, semuanya, dari awal sampai akhir.

Dan sekarang tengah menatap dengan tatapan tak terbaca pada wajah tidur pulas Baekhyun yang tengah digendong oleh putra tunggalnya menuju kamar milik sang Putra.

Tuan Park menghela napas. Seraya bergumam pada diri sendiri.

"Jadi aku tak hanya membuatmu kehilangan Ibumu, namun sekarang aku membuatmu kehilangan kekasihmu."

.

.

.

Dan sekali lagi, tanpa keduanya sadari;

ada Chen dan Xiumin yang sedari awal duduk didepan pintu rumah Keluarga Park, keduanya bersandar pada pintu depan rumah Chanyeol sambil mendengarkan seluruh percakapan Chanyeol dan Baekhyun sedari awal.

"Apakah alasan keduanya tak dapat bahagia sekarang adalah kita?" Tanya Xiumin pada Chanyeol yang berada disebelahnya, bersama duduk dilantai sambil bersandar pada pintu.

"Menurutmu begitu?" Tanya Chen balik.

Xiumin menghela napas, lalu mengangguk.

Chen ikut menghela napas, "Aku rasa iya. Tak sepenuhnya karena kita, namun kita adalah salah satu alasan yang menghambat mereka untuk bersama."

Xiumin menggigit bibirnya yang memang sudah pucat sedari tadi. Lalu dengan suara lirih Xiumin mulai berkata, "Aku merasa semua ini karena aku. Andaikan aku lebih kuat dalam melawan traumaku, ketakutanku, maka semuanya tak akan jadi seperti ini. Aku terus menggila akan semua hal yang berhubungan dengan kecelakaan hari itu. Dan aku terus mencari sesuatu atau seseorang untuk disalahkan akan semua yang terjadi. Bukankah aku sungguh jahat?"

Chen menoleh ke samping, menatap wajah pucat Xiumin dengan tatapan khas seorang Kim Jongdae kepada Kim-Xiao Minseok.

Lalu menggenggam tangan Xiumin, yang tanpa Xiumin sadari, telah gemetaran kuat sekali.

"Xiu, sekarang, detik ini, kau telah berani mendatangi kediaman Keluarga Park demi Tuan Byun. Meski kau sudah sepucat mayat dan gemetar hebat seperti ini, kau tak lari sesentipun, apakah kurang cukup untuk menjelaskan seberapa kau menyayangi dia?"

Xiumin balas menatap wajah Chen dengan mata memerah.

"Kau hebat Xiu. Dengan bagaimana kau melawan seluruh ketakutanmu demi Baekhyun dan datang ke tempat yang paling tak bisa kau datangi ini. Sudah membuktikan seberapa Baekhyun berarti untukmu."

Airmata Xiumin mulai menetes mendengar perkataan Chen.

"Sekarang, kau sudah benar-benar bisa menerima Chanyeol?"

Sambil terisak Xiumin akhirnya mengangguk sebagai jawaban.

"Kau sudah tak merasakan sakit dan menyalahkan keluarga Park dan Byun akan semua yang terjadi?" Tanya Chen lagi.

Kali ini Xiumin menghambur peluk pada Chen, seraya mengangguk disela tangisannya sebagai jawaban akan pertanyaan Chen.

Chen mencium rambut Xiumin, sambil mengelus sayang rambut tunangannya itu.

"Baiklah, kalau begitu sepertinya sekarang kita dapat dengan percaya diri mengatakan pada Baekhyun, bahwa dirinya tak perlu menghukum diri sendiri sebagai permintaan maaf pada kita lagi. Justru kita berdua yang harus minta maaf padanya. Anak malang itu telah menanggung terlalu banyak hal. Setidaknya kita harus menghentikan dendam akan rasa kehilangan ini, berhenti melampiaskan padanya yang sebenarnya tak memiliki salah apapun selama bertahun-tahun ini."

Xiumin sekali lagi hanya dapat mengangguk, sudah tak sanggup untuk bersuara.

Saat ditinggalkan oleh orang- orang tersayang. Terkadang sakit yang di derita oleh orang yang ditinggalkan itu teramat dalam hingga membuat sinting siapapun yang merasakannya. Tak akan ada yang paham bagaimana gilanya sakit itu, kecuali orang- orang yang telah merasakan sebuah kehilangan mendalam.

Berjuta emosi dirasakan, berjuta jenis sakit dirasakan secara bersamaan, serta kekosongan yang mengerikan adalah yang paling dominan. Seperti terlempar ke tempat tanpa udara ataupun cahaya.

Lalu, beralasan ingin tetap hidup, tetap hidup sebagai manusia lebih tepatnya, dan ingin bebas dari ruang hampa tanpa udara yang sungguh menyesakkan itu. Setiap orang memiliki cara masing- masing untuk mengatasinya. Setiap orang memiliki banyak cara untuk berusaha selamat dari sana.

Selama ini, cara yang Xiumin lakukan untuk tetap bisa hidup adalah, menyalahkan semua orang.

Dirinya menyalahkan Chen yang dengan beruntungnya menyelamatkan Xiumin agar tak ikut meninggal bersama orang tuanya, dirinya menyalahkan Orang tua Baekhyun yang mengajak Orang Tua Xiumin untuk satu mobil, menyalahkan Keluarga Park yang dengan cerobohnya membuat kecelakaan itu terjadi, dan yang paling Xiumin sendiri sebenarnya sesali adalah.. menyalahkan Baekhyun yang menjadi salah satu korban yang selamat.

Dan terakhir yang paling irasional, menyalahkan Baekhyun yang jatuh cinta kepada anak dari penabrak mobil orang tua mereka.

Malam ini, tak hanya Chanyeol dan Baekhyun yang dengan perlahan mulai berjalan ke depan. Berusaha menerima perpisahan mereka.

Namun juga Xiumin yang akhirnya setelah sembilan belas tahun kecelakaan na'as 27 November 1992 itu, akhirnya berjalan maju kedepan. Dirinya mulai menerima kenyataan yang telah terjadi tanpa harus menyalahkan siapapun.

Dan Byun Baekhyun, tak perlu berkorban untuk siapapun lagi.

Byun Baekhyun yang terlalu baik hingga tak baik kepada dirinya sendiri itu. Akhirnya tak perlu mengorbankan dirinya sendiri untuk menjadi satu- satunya orang yang menanggung rasa sakit yang semua orang rasakan, tak perlu lagi disalahkan akan kesalahan yang tak ada, tak perlu lagi menjadi tempat pelampiasan sakit hati kehilangan seseorang.

Baekhyun, tak perlu lagi berkorban apapun. Namun harga yang dibayar adalah, Chanyeol yang melepaskan Baekhyun.

Hukum Give and Take yang selamanya menjadi kutukan seorang Byun Baekhyun itu akan terus berjalan.


Baekhyun with the Broken Heart

- Step 5 : Acceptance -

Diawal Musim Gugur Tahun 2011, untuk pertama kalinya, pagi di Mansion Byun tak ramai seperti biasanya.

Sebab sejak pagi buta, seluruh pekerja di Mansion Byun, satu persatu mulai berkumpul di lobi depan. berdiri dengan sabar menunggu Tuan Muda Byun kesayangan mereka yang sekarang tengah berdiri dengan elegannya dibagian tengah tangga spiral menuju lantai atas Mansion Byun. Cukup tinggi untuk membuat semua orang dapat melihat tubuh mungil sang majikan.

Bisik- bisik terus berdesau diantara para pekerja. Mereka sungguh penasaran apakah yang akan diumumkan oleh Baekhyun hingga mereka disuruh berkumpul disini.

Tak lama Xiumin pun ikut menaiki tangga, mendatangi Baekhyun.

"Semuanya telah hadir Tuan Muda." Bisiknya pada Baekhyun, dibalas anggukan singkat oleh Kepala Keluarga Byun tersebut. Selanjutnya Xiumin berdiri disamping kiri Baekhyun, mendampingi sang atasan.

"Selamat pagi semuanya." Baekhyun membuka pagi itu dengan salam, dan seketika suara gemuruh yang tercipta dari bisikan para pekerja tadipun langsung sirna. Menciptakan senyap yang sungguh kontras. Semuanya ingin mendengarkan ucapan Tuan Muda mereka dengan jelas.

"Pertama saya ucapkan terima kasih sudah berkumpul disini. Dan langsung saja, aku tak ingin terlalu banyak basa- basi karena kepalaku sungguh pusing memerlukan sup hangover."

Gelak tawapun menggelegar hingga keseluruh ruangan. Mereka semua tahu pasti akan bagaimana mabuknya Baekhyun malam tadi, dan cukup membuat repot semua orang.

Baekhyun tersenyum lebar mendengar tawa itu, "Aku rasa aku harus meminta maaf karena selalu menyusahkan kalian dengan kebiasaan mabukku yang ajaib." Ujar Baekhyun lagi.

Dan kontan saja terdengar seruan tak terima dari para pekerja, menjawab permintaan maaf Baekhyun dengan kalimat- kalimat yang intinya adalah, "Tak perlu minta maaf Tuan Muda."

Baekhyun kembali tersenyum, mensyukuri akan bagaimana sikap pegawainya yang tak pernah berubah pada dirinya meski Baekhyun sendiri yang sifatnya terus berubah- ubah selama beberapa waktu ini.

"Langsung saja, pagi ini saya ingin memberitahukan pada kalian semua. Bahwa saya Byun Baekhyun, bila telah tiba waktunya yang ditentukan, dan bila telah menerima pasang mata yang cocok, maka saya dengan sangat bersedia, akan menerima donor mata itu. Dan saat itu tiba, akhirnya, kita semua akan dapat melihat satu sama lain secara visual."

Sunyi dan Senyap adalah respon pertama setelah mendengar ucapan Baekhyun.

Namun hanya beberapa detik, hingga akhirnya suasana pecah akan seluruh histeria, tawa, tangis, dan masih banyak lagi. Seluruh maid, butler, supir, bodyguard, tukang kebun , dan koki saling berpelukan dengan bahagia.

Semuanya mengucapkan bahwa mereka bahagia dengan keputusan yang Baekhyun ambil, dan memberikannya ucapan selamat.

Mata Baekhyun menjadi berair, menyaksikan bagaimana semua orang berbahagia seolah merekalah yang menerima donor mata itu sendiri, sungguh membuat Baekhyun terharu.

"Semuanya... terima kasih karena telah selalu ada untuk menolong saya selama ini. Saya akan terus berusaha agar kita semua terus sejahtera dan berbahagia di Mansion Byun ini." Ujar Baekhyun dengan suara lirih.

Para Pekerja Mansion Byun menatap Baekhyun yang terlihat hampir menangis disana dengan senyuman haru. Mereka sungguh menyayangi Tuan Muda mungil itu.

"Tapi saya memiliki satu permintaan Tuan Muda!" Oh itu adalah si Jeno, dan sifat jahilnya yang mulai lagi.

Baekhyun terkekeh, "Apakah itu Jeno?"

"Bisakah anda berhenti berbicara dengan bahasa formal padaku. Tuan Byun lebih tua dariku, rasanya aneh menerima perlakuan terlalu hormat dari yang lebih tua, terlebih lagi Tuan adalah atasanku." Jeno akhirnya dapat mengutarakan keinginan sejak dulu kala itu.

Beberapa pekerja lain terkekeh, namun lebih banyak lagi yang ikut setuju dan menimpali perkataan Jeno. Ternyata banyak dari pekerja Mansion Byun yang merasa kurang nyaman dengan cara bicara Tuan Muda mereka yang terlalu formal itu.

Baekhyun pun sedikit memerah salah tingkah dibuatnya.

"Jadi kalian ingin a-aku.. berbicara santai mulai sekarang?" Semuanya dengan kompak berkata Ya, menanggapi pertanyaan Baekhyun, dan sedikit terkekeh akan bagaimana Baekhyun terdengar canggung menggunakan kalimat informal pada banyak orang untuk pertama kalinya.

"Baiklah, ah maksudku.. Oke!. Oh astaga, sa- aku tak terbiasa. Ya ampun, ternyata ini lebih sulit daripada menentukan siapa pewarisku nanti." Baekhyun menunduk frustasi akan hal tersebut.

Dan seluruh pegawai Mansion Byun tertawa dibuatnya.

Pagi itu, diawal musim gugur, Mansion Byun tak seperti biasanya. Alih- alih mengerjakan pekerjaan mereka. Seluruh Pekerja Mansion Byun justru bergiliran mencoba untuk bercakap- cakap bersama Tuan Muda mereka yang baru saja membiasakan diri untuk berbicara santai pada mereka.

Baekhyun sibuk menjawab satu- satu ucapan pegawainya, tanpa tahu Xiumin yang memandangnya dengan tatapan dalam sedari tadi.

Lalu dengan suara berbisik sepelan desauan angin. Sekretaris Xiao atau Kim itu berbisik,"Terima kasih akan segalanya Baek, kau sahabat terbaik yang ada dihidupku, aku beruntung memilikimu. Aku menyayangimu Baek."

Yang tak Xiumin duga adalah, Baekhyun yang langsung menoleh kearahnya.

Ahh.. sepertinya Sekretaris Kim ini dengan cerobohnya melupakan bagaimana tajamnya pendengaran CEO Byun kita yang terkenal.

Baekhyun tersenyum ke arah Sekretaris sekaligus Sahabatnya itu.

"Aku juga Xiu Hyung. Aku menyayangimu."

Dan itulah dia;

itulah saatnya dimana akhirnya airmata Xiumin mulai terus berjatuhan, lalu selanjutnya pria berwajah kucing itu langsung menarik tubuh mungil sahabatnya ke dalam pelukannya.

"Aku bahagia akhirnya kau akan dapat melihat lagi. Baekhyunku, sayangku, astaga.. aku sangat menyayangimu. Aku mohon berbahagialah."

Baekhyun terkekeh, sambil membalas pelukan Xiumin. Mengelus punggung sahabatnya yang terus terisak itu.

"Iya, aku akan menjadi orang yang paling bahagia didunia ini. Itu adalah mimpiku."

.

.

.

-TBC-

.

.

..

...

...

(TOLONG DIBACA YAAAA)

Author note :

AAAAAAAAAAAA OMEGAT OMEGATTT WOY AKU NULIS APA ITU NULIS APAAAAAAA

(Sorry, authornya terlalu freaking out)

gaisssss, my sugar my honey, AKU KANGENNNNNNN HUEEE

Aku hiatus berapa lama sih T-T

terlalu banyak hal yang terjadi di rl hingga akhirnya gak bisa memantapkan hatiku untuk menulis dengan benar.

(authornya asik pacaran jadi gak bisa bikin cerita sedih, itu alasan gak tahu malunya, sekarang udah bisa, yg artinya si author telah... WAHAHAHA skip!!)

(authornya sibuk sama kerjaan dan keluarga, itu alasan formalnya)

apapun alasannya aku mau minta maaf udah bikin kalian semua menunggu, aku bakalan berusaha membayar dengan apdate secara aktif dan berkala mulai sekarang. Ayo kita berjalan bersama sampai akhir cerita ini.

SEBENERNYA MASIH ADA YG NUNGGU GAK SIH? HUAHHAHAHAHAHA AKU AJA YG MIKIRNYA NIH CERITA MASIH ADA YG MINAT KALI YA WKWK.

Oh ya, bagi yang pernah lihat bocoran chapter di salah satu base chanbaek di twitter. ITU BENAR TULISAN AKU. Tapi, aku gak jadi pake naskah yang itu kekeke. beginilah saya, tulis lalu hapus, tulis lalu hapus lagi :") anggap aja yang terspoiler di base itu sebagai momen tak tertulis ya.

OH YA AKU UPDATE BARENGAN SAMA AUTHOR SNS AU KESAYANGAN AKU!!

Cusss kalian semua meluncur ke akun twitter dia, @lilredbubs , dia jago banget bikin cerita chanbaek fluffy yang manis banget sampe rasanya bikin mo nangis gitu T-T, astagaaaa panutan, mana bisa aku bikin yg begituan huhuhu.

Lalu tak akan pernah lupa, aku akan berterima kasih pada yang telah meripiu di chapter sebelumnya:

fifakna, skyofbbh, baekkiecookie, Ryu Cho, ChanBaek09, Anita Tok, BaekFlo, Kenzoevaa, fauziahfadhilah0707, SehunSapiens, rhycb, yeolcat, Byunie-Kyung614, mie sedaap, aldaoktavia24, owhsehun, Puffy BaekBy, chenderellakim, NianiaByun, yshin, ellangrey614, danactebh, eunhyeshi, Restikadena90, overdsky, helacious b, kayraan, ParkBaeby, mitochondria456, Byunbitchi.

Makasih juga untuk yg udah read, love, follow, dan share cerita ini~

Ada yang nanya apa gak minat untuk pindah ke wattpad?

Jawabannya : Ada. Iya. Pasti nanti aku pindahin ke wattpad, tapi nanti, setelah udah tamat di FFN. Aku suka FFN, dan sedih aja rasanya saat tempat ini sepi. Jadi ya, mau aku ramein aja ihihi. Aku suka disini sebenernya. Kayak udah kenal banget sama kalian semua gitu wkwk.

Spoiler chapter selanjutnya :

Ini mungkin akan menjadi Chapter terakhir dengan latar waktu tahun 2011. Chapter selanjutnya kita akan maju sedikit dimasa depan.

Oh ya, my sugar, drop @ twitter kalian dong di kolom ripiyu. Pengen mutualan :(

(Jangan sih sebenernya bahaya, authornya suka modus Wkwkwkk)

Gue jarang ngelakuin ini, tapi, tolong jangan silent reader ya, untuk chapter yang ini aja aku mohon, soalnya ini aku lagi tes minat baca orang- orang sama ff ini, apakah masih ada yang pengen cerita ini dilanjut atau engga. Jadi yah.. mohon di review mau kalian bagaimana.

Happy Birthday Chennie Hyung 21 September 2020 kemarin.

Happy Birthday Lay Gege 7 Oktober 2020.

Semoga EXO dan EXO-L selalu diberkahi kesehatan dan kebahagiaan. Amin

Thank you semuanya!!

Lets Love Eri /Bow

(Fun Fact : Ini chapter pertama RMM yang ditulis tanpa kopi)