Title : Tears in the Thorn
Author : Elle Riyuu
Main Cast : Chanbaek
Genre : Romance, hurt/comfort
Rate : M
Summary : Dia selalu sendirian lalu mereka mengambilnya untuk memanfaatkan dan menyakitinya, ia tidak lebih dari sebuah boneka. Hingga cinta datang dan ia terlalu canggung untuk menghadapinya. Karena pria yang berada dalam lingkaran cintanya tidak jauh berbeda dari mereka.
.
.
[CHAPTER 40]
.
.
.
Hari telah menjelang pagi dan orang-orang di sana panik sedari tadi. Tidak ada waktu mengantuk apalagi sekedar menyipi dunia mimpi. Mereka terlalu sibuk cemas pada nasib keselamatan seseorang yang tengah berada di tengan tenaga medis.
Chanyeol tengah berada di ruang operasi. Tenaga medis tengah melakukan operasi kecil untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuhnya. Tapi operasi itu berjalan lama karena kondisi Chanyeol yang tidak stabil. Ia kehilangan banyak darah, sehingga penanganannya harus sangat hati-hati.
"Baekhyun, aku tahu kau cemas. Tapi aku mohon duduklah sebentar, kau sudah berdiri terlalu lama. Aku tidak mau kau pingsan saat nanti Jiwon harus kau susui." Itu Taeyong yang berbicara. Ia cerewet hari ini karena melihat Baekhyun yang terlalu ceroboh untuk dirinya sendiri. Sebenarnya ia lebih cerewet sebelumnya saat ia menyuruh Baekhyun mengganti baju dengan baju yang Minseok bawa. Ia memang sengaja meminta Minseok untuk segera menyusul ke rumah sakit dengan bantuan Sehun dan membawa setelan baju yang seukuran dengan tubuh kurus Baekhyun. Ia hanya khawatir saat melihat tubuh Baekhyun berbalut darah. Ia juga seseorang yang rela untuk sangat direpotkan saat membantu Baekhyun untuk menghapus noda-noda darah di kulitnya.
Baekhyun menghela napasnya lalu segera menurut. Ia akui ia tidak memikirkan masalah itu sebelumnya. Namun berkat kepedulian Taeyong pada keluarganya, ia diberitahu. Sedikit banyak Baekhyun merasa bersyukur bahwa ia memiliki orang seperti Taeyong di dekatnya. Di saat ia tengah panik dan menderita seperti ini, ia bersyukur kalau ia memiliki orang-orang yang mendukung dan menenangkannya. Karena jika ia sendirian, ia mungkin menjadi lebih kacau.
"Kenapa penanganannya lama sekali?" Itu Luhan yang berbicara, salah satu dari orang yang ingin ikut terlibat cemas untuk Baekhyun dan keluarganya. Ia rela saja ikut tidak tidur saat Sehun pergi lalu menjemput Minseok bersama Jeno untuk menemani Baekhyun di rumah sakit.
"Kupikir mungkin karena itu lebih rumit dari apa yang kita pikirkan. Chanyeol terluka cukup serius karena peluru itu tertanam di tubuhnya, terlebih ia juga telah kehilangan banyak darah. Tenaga medis pasti kewalahan menanganinya." Taeyong yang menyahut, mengimbangi percakapan kecil yang Luhan buat. Ia cukup tahu karena ini bukan kisah baru. Chanyeol sudah seperti ini sejak dulu ia menjadi kekasih Chanyeol, sehingga Taeyong telah terbiasa meski ia tetap cemas.
"Kau benar. Aku tidak ada di sana saat ia tertembak, jadi aku tidak tahu kalau akan separah itu. Jika itu yang terjadi, maka cukup wajar jika memakan waktu sampai selama ini." Luhan menghela napas setelahnya. Ia masih cemas, namun ia jadi dapat lebih mampu menunggu dengan lebih tenang.
Kemudian hanya sunyi yang mengisi udara mereka. Tidak ada yang memulai percakapan karena mereka tahu mereka semua sedang tidak ingin berbicara. Terlebih mereka menjaga perasaan Baekhyun yang pasti sangat gundah. Ia telah berpisah cukup lama dengan suaminya dan kemudian bertemu untuk menghadapi situasi seperti ini. Baekhyun pasti sedang menahan luka lain yang tercipta lagi di hatinya. Luka itu dibuat di atas luka lain yang masih basah. Kali ini adalah luka yang semata muncul karena keadaan dan perasaan meyalahkan diri sendiri. Karena, jika saja ia tahu. Chanyeol mungkin baik-baik saja, ia akan tetap mengisi hari Baekhyun dengan senyuman seperti biasanya.
Semua orang berdiri karena reflek saat lampu indikator ruang operasi padam. Mereka menunggu dengan cemas dan menjadi lebih cemas saat petugas medis belum mengabari mereka apapun. Namun saat mereka melihat pintu ruangan terbuka, mereka tidak menahan diri untuk berjalan mendekat.
"Bagaimana, Dokter?" Baekhyun langsung bertanya. Rasa khawatir telah menumpuk di dalam dirinya.
"Kami telah berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang dalam tubuh Tuan Park. Namun Tuan Park belum dapat dikatakan stabil karena kehilangan banyak darah. Kami baru saja akan mencari pendonor yang tepat. Sementara ini Tuan Park akan kami pindahkan ke ruangannya dan diberikan tranfusi darah dari satu kantong yang merupakan kantong terakhir yang rumah sakit kami miliki." Dokter itu menjelaskan dengan tenang.
"Siapapun yang memiliki golongan darah yang sama dengan Chanyeol, aku meminta bantuan kalian. Aku mohon, tolong bantu Chanyeol." Baekhyun memohon dengan putus asa, ia tidak ingin kehilangan Chanyeol.
"Chanyeol bergolongan darah B. Kita membutuhkan pendonor dengan golongan darah B." Kali ini Yifan yang berujar, berupaya membantu Baekhyun yang nampak kacau.
"Aku bergolongan darah B. Sepertinya aku dapat membantu." Minseok mengajukan diri. Ia tidak perlu ragu melakukan itu sejak Chanyeol sudah banyak membantu kehidupannya.
"Aku yang akan mendonorkan darahku." Suara seorang wanita itu menghentikan langkah Minseok, Yifan dan Baekhyun yang akan segera pergi. Mereka menoleh karena reflek dan menemukan wanita setengah baya yang sangat cantik. Itu Ibu Chanyeol yang masih dapat tersenyum dengan sangat manis meski putranya tengah berbaring tak berdaya.
Baekhyun segera menunduk saat Ibu Chanyeol menatapnya dan berjalan mendekatinya. Ia kembali pada dirinya yang rendah diri. Ia kembali menyalahkan dirinya atas apapun yang menimpa suaminya. Sekarang Chanyeol kembali terluka dan itu karena kebodohannya. Ia seorang istri yang bahkan hanya akan selalu merepotkan suaminya. Kali ini ia meletakkan suaminya dalam bahaya hanya karena kecerobohannya yang lebih mementingkan ego daripada pemikiran logis. Jika saja ia tidak termakan emosi sesaat, mungkin semuanya akan baik-baik saja. Sekarang ibu dari suaminya telah berdiri di depan wajahnya. Bagaimana ia mempertanggungjawabkan semua ini? Ia sudah tidak lagi memiliki muka untuk berhadapan dengan mertuanya. Karena ia yang membuat Chanyeol terluka dan hampir kehilangan harga diri.
"Maafkan aku." Baekhyun berujar dengan suara yang hampir terdengar seperti hembusan angin. Ia takut dan telah siap jika saja Ibu Chanyeol berteriak memakinya.
"Untuk apa? Apa yang telah kau perbuat? Hingga kau meminta maaf seperti ini padaku." Wanita itu berbicara dengan nada kebingungan. Jawaban itu membuat Baekhyun semakin ketakutan. Ia tidak tahu pertanyaan itu muncul semata karena kebaikan hati atau memang karena Ibu Chanyeol masih berlum mengetahui dengan lengkap apa yang telah terjadi.
"Karena telah menjadi istri yang gagal. Aku telah gagal menjaga dan mendampingi suamiku seperti yang Ibu harapkan." Suara Baekhyun masih terdengar sangat lembut, tapi ia sedikit bersyukur karena tidak terbata. Setidaknya ia terlihat siap untuk menerima apapun yang akan wanita itu lakukan padanya.
"Baekhyun, melindungi dan mendampingi adalah tugas yang harus dilakukan satu sama lain. Kau mungkin merasa kau istri yang gagal. Tapi kau juga harus ingat, kau juga seorang manusia. Tidak semua hal dapat kau lakukan dengan sempurna. Sebagai seorang manusia dan istri, kau telah melakukan tugasmu dengan cukup baik. Kau menyelamatkannya di saat tervital, setidaknya kau tidak kehilangan ia sepenuhnya." Ibu Chanyeol berujar dengan senyum lembut di wajahnya.
"Tapi, Chanyeol…" Baekhyun terbata, ia tidak menyangka kalau Ibu Chanyeol akan memaafkannya semudah ini. Ia mulai berpikir kalau ibu Chanyeol adalah seorang malaikat.
"Ia masih bersama kita, kita tidak kehilangan Chanyeol. Tenanglah, Baekhyun, aku tidak menyalahkanmu." Wanita itu maju lalu menenggelamkannya dalam peluk. Awalnya Baekhyun tidak menyangka kalau ia akan mendapatkan sebuah pelukan tapi kemudian ia membalasnya dengan gerak yang perlahan. Pelukan yang sangat hangat, pelukan dari seorang ibu.
"Maaf jika aku mengganggu. Tapi lebih baik kita segera pergi sekarang, Chanyeol sangat membutuhkan darah." Hati Yifan sebenarnya menghangat melihat momen itu, namun Chanyeol yang masih belum sadarkan diri masih membuat ia merasa gundah.
"Baiklah, ayo pergi." Ibu Chanyeol melepaskan pelukannya pada Baekhyun yang sudah mulai tenang. Ia tersenyum sebentar pada Yifan lalu menggandeng tangan Baekhyun untuk pergi bersamanya.
Sebenarnya wanita itu bukannya bebas dari rasa resah. Ia resah setengah mati apalagi saat mengetahui Chanyeol sampai harus mengalami operasi ringan. Ia tidak menyalahkan Baekhyun karena ia tahu derita apa yang harus dialami istri dari seseorang seperti Chanyeol. Memang ia menerima Baekhyun karena ia menyukai sifat Baekhyun yang tidak akan mungkin menghancurkan putranya. Tapi ia juga tidak ingin menghancurkan seorang submisif yang menempuh kehidupan dan takdir yang sama dengannya.
.
.
.
"Aku tidak bangun untuk melihatmu menangis, Baekhyun." Suara pria dominan yang masih terdengar lemah itu berisi dengan rasa khawatir. Ia baru saja terbangun setelah kira-kira 1 jam tidak sadar lalu menemukan Baekhyun yang langsung menangis.
Sedangkan Baekhyun malah menangis semakin keras karena Chanyeol yang berupaya menenangkannya. Rasa lega yang menerjangnya terasa terlalu keras hingga ia sendiri kelimpungan menanggapinya. Ia hanya terlalu lega hingga kini membuat Chanyeol yang berubah khawatir padanya.
"Baekhyun hanya khawatir padamu, Chanyeol. Itu hal yang wajar untuk seorang istri khawatir pada suaminya." Ibu Chanyeol menjelaskan, tidak habis pikir dengan tingkah putranya. Tapi ia menjelaskan dengan sabar karena mengingat apa yang telah terjadi pada putranya.
"Apa yang harus dikhawatirkan? Lihatlah! Aku baik-baik saja." Jawaban Chanyeol membuat ibunya menghela napas jengah.
"Kau kehilangan banyak darah dan membuat kondisimu tidak stabil saat operasi dilakukan. Kau pikir itu tidak cukup untuk membuat Baekhyun khawatir? Biar bagaimanapun, orang-orang yang mencintaimu akan dibuat khawatir." Ibu Chanyeol menjelaskan, mencoba bersabar.
"Ahhh. Begitu rupanya. Aku luput lagi dari kematian." Tapi Chanyeol malah terkekeh kecil, membuat ibunya sendiri heran dengan eksistensi manusia sejenis ini di dunia.
"Kau membuatku khawatir, Chanyeol. Kau kehilangan kesadaran di depan wajahku. Saat tenaga medis berusaha menyelamatkanmu, kau dalam kondisi tidak stabil karena kekurangan darah. Sedangkan di rumah sakit ini hanya tersisa satu kantong darah untukmu dan itu tidak banyak membantu. Aku panik sekali." Kini Baekhyun yang berbicara, nada suaranya terdengar sedikit kesal. Nada suara itu jarang ia tunjukan dan Chanyeol tahu kalau ia benar-benar merasa kesal.
Chanyeol terkekeh hingga tubuhnya terguncang kecil, mengabaikan Baekhyun yang masih menangis. Ia bahkan bangun perlahan dari posisinya berbaring seakan ia lupa kalau ia memiliki luka di tubunya. Tapi sebenarnya ia mengabaikan rasa sakit yang muncul karena ia terlalu terbiasa dengan rasa sakit.
"Sepertinya kau benar-benar kesal. Kemarilah, mari berikan satu sama lain sebuah pelukan." Chanyeol membuka tangannya dan mengarahkannya pada Baekhyun yang memang berada sedikit jauh darinya.
"Sepertinya aku hanya akan dijadikan sebagai seorang penonton. Jika seperti itu, aku akan keluar. Jadi kalian selesaikan dulu apa yang harus kalian selesaikan. Mengerti?" Ibu Chanyeol berbicara di sela tawanya.
"Mengerti. Aku akan menghabiskan sedikit waktu dengan Baekhyun. Tapi Eomma jangan pulang, karena aku memiliki beberapa rencana dan aku membutuhkan bantuan Eomma." Chanyeol yang menyahut sedangkan Baekhyun hanya sibuk tersipu-sipu seraya menghapus air matanya.
"Baiklah, aku akan menunggu." Ibu Chanyeol terlihat langsung menyetujui apa yang putranya katakan. Ia seakan mengetahui pemikiran apa yang ada di kepala putranya.
Chanyeol menatap ibunya yang berjalan mendekati pintu dan ketika tubuh ibunya telah menghilang, ia segera mengalihkan perhatiannya pada Baekhyun. Baekhyun terlihat berantakan dan sedikit pucat. Sepertinya ia benar-benar tidak tidur semalam penuh. Chanyeol sedikit merasa menyesal karena itu, seharusnya ia dapat menjadi lebih baik lagi agar Baekhyun tidak kelelahan seperti ini. Seharusnya ia tidak tertembak sehingga Baekhyun akan memiliki waktu tidur yang cukup. Chanyeol tahu menjaga Jiwon sudah cukup melelahkan dan sekarang ia malah terluka, Baekhyun pasti merasa luar biasa lelah.
"Kemari, Baekhyun." Chanyeol membuka tangannya, membiarkan Baekhyun yang mendekat secara perlahan padanya. Meskipun lukanya terasa sakit saat ia menggerakkan tangan, ia rela menunggu Baekhyun datang dengan sendirinya ke dalam pelukannya.
Baekhyun mendekat dengan perlahan karena rasa malu mulai mengisinya lagi. Ia seharusnya tersenyum saat suaminya membuka mata. Tapi ia malah menyambutnya dengan wajah yang sembab. Kembali ia tatap wajah Chanyeol yang kini menjadi lebih dekat. Wajah suaminya terlihat tampan meski ia berantakan. Wajah itu, yang sebenarnya selalu ia rindukan hingga ia segera membiarkan tubuhnya terperangkap dalam pelukan terhangat.
"Aku telah membuatmu khawatir. Maafkan aku. Aku telah berbuat ceroboh hingga melukai diriku sendiri." Chanyeol memeluk Baekhyun dengan erat menggunakan tangannya yang tidak terluka. Ia menumpukan wajahnya di bahu sempit istrinya, mencium harum tubuh yang telah lama ia rindukan.
"Tidak apa-apa, selama kau selalu berada di sisiku. Aku tidak apa-apa jika harus khawatir dan tersakiti berkali-kali." Baekhyun membalas pelukan Chanyeol tak kalah erat. Ia merindukan pria ini, apapun tentang dirinya. Sehingga disambut dengan pelukan seperti ini benar-benar membuatnya merasa bahagia.
"Aku akan selalu di sisimu. Kau hanya perlu menjaga dirimu sendiri dan menemani Jiwon di saat aku harus pergi untuk sementara. Jika kalian baik-baik saja, maka aku juga." Pria dominan itu menenangkan istrinya. Baekhyun mulai melisankan kata-kata yang tidak masuk akal hingga Chanyeol pikir ia mungkin saja masih terpengaruh oleh perasaannya sebelumnya.
Baekhyun mengangguk dalam diam, bersumpah dalam hati bahwa ia akan melakukan apa yang Chanyeol minta. Jika apa yang pria itu katakan dapat membuat mereka bersama, maka ia bersedia untuk menurutinya. Apapun untuk keluarga mereka. Untuk cinta mereka, ia pikir ia dapat melakukan segalanya.
"Untuk sekarang, kuminta kau mengikuti apa yang aku katakan. Aku memiliki sesuatu yang harus segera aku lakukan. Bagaimana, Baekhyun?" Pria dominan itu berbicara dengan serius.
"Sekarang? Bukankah kau baru saja terbangun?" Baekhyun mulai menjadi keras kepala. Tapi Chanyeol telah terbiasa pada kekeraskepalaan Baekhyun yang sebenarnya adalah bentuk lain dari rasa khawatir.
"Harus sekarang. Jika aku tidak melakukannya sekarang, aku tidak tahu lagi kapan mereka menjadi tidak waspada. Mereka dapat dipukul mundur sekarang karena mereka masih terkejut dengan apa yang terjadi, aku pikir akan lebih efektif aku lakukan sekarang." Chanyeol menjelaskan dengan sabar, mengusap lembut punggung istrinya untuk meminta pengertian.
Baekhyun menghela napas dengan berat. Ia menarik tubuhnya menjauh setelah memejamkan mata untuk berpikir sebentar. Ditatapnya wajah suaminya dalam lalu meneguk ludahnya perlahan.
"Baiklah. Aku akan mengikuti apa yang kau katakan. Asal kau baik-baik saja, kau boleh pergi."
"Aku tidak meminta banyak. Kau dan Jiwon pergilah bersama Eomma ke rumah Eomma dan Appa. Kau dapat melakukan apapun, asalkan kau tidak menyusulku. Apapun yang terjadi, jangan menyusulku. Jangan pergi meski itu adalah kabar buruk tentangku. Tunggu aku sendiri atau orang-orangku yang datang menemuimu." Chanyeol menjelaskan dengan rinci, memastikan ia menyampaikannya dengan jelas.
"Aku mengerti, Chanyeol. Kami akan pergi dengan Ibu dan kau harus baik-baik saja. Aku harap kau jaga dirimu dan aku ingin kau mengabulkan satu permintaanku." Baekhyun menjawab dengan yakin. Ia adalah pasangan dari seseorang yang kuat, maka ia juga harus kuat meski ia sebenarnya kembali merasa khawatir.
"Katakan, Baekhyun. Aku akan menurutinya." Chanyeol menyahut dengan nada seyakin istrinya.
"Jangan membunuh siapapun. Apapun yang terjadi, cobalah untuk tidak merenggut nyawa siapapun." Kata-kata yang Baekhyun lontarkan berhasil membuat Chanyeol terkejut. Chanyeol berusaha membuat samar tentang apa yang ingin ia lakukan. Tapi Baekhyun sepertinya tahu kalau ia ingin membalas perilaku menjijikan Jongin dan Kyungsoo.
"Baekhyun, kau tahu?" Chanyeol berbicara dengan gagu. Tidak tahu kata apa lagi yang dapat ia sampaikan.
"Aku istrimu, Chanyeol. Kurang lebih aku tahu apa yang coba kau lakukan. Jadi, jawabanmu?" Baekhyun menuntut, berupaya mencegah Chanyeol untuk membunuh siapapun.
"Baiklah. Aku akan berusaha untuk tidak membunuh siapapun." Chanyeol menyahut setelah menghela napas panjang.
Sebenarnya perjanjian itu cukup bertolak belakang dengan Phoenix. Tidak membunuh siapapun saat beraksi sama sekali bukan Phoenix. Phoenix sangat kejam dan permintaan Baekhyun mungkin saja mengurangi citra kejam Phoenix. Tapi Chanyeol tidak dapat melakukan apapun jika dengan melalukan itu dapat membuat Baekhyun tinggal. Intinya ia rela untuk bahkan menghancurkan dirinya sendiri agar Baekhyun dan Jiwon baik-baik saja.
.
.
.
Orang-orang itu memasuki sebuah ruangan dengan tenang, mengabaikan wajah terkejut pria-pria di sana. Mereka adalah tamu yang tidak disangka akan datang. Mereka adalah Phoenix dan Kris. Mereka orang-orang terkejam yang sanggup membunuh untuk menunjukkan eksistensi dan kekuatan mereka. Terlebih, mereka datang setelah musibah yang menghampiri Phoenix dan terlihat sama sekali tidak terpengaruh oleh itu.
"Ini wilayahku dan kalian masuk tanpa persetujuanku. Apa yang kalian lakukan di sini?" Suara Jongin yang geram menyambut keduanya.
"Bukankah kau juga melakukan hal yang sama? Aku hanya melakukan apa yang kau lakukan sebelumnya. Hanya saja aku lebih bermoral karena tidak memasuki wilayahmu dengan menyelundup." Chanyeol menyahut dengan tenang sementara matanya berpendar mencari seseorang lagi pembuat masalah. Hingga ia menemukannya, Kyungsoo yang mendekati Jongin setelah keluar dari sebuah ruangan,
"Sialan. Apa yang ingin kau lakukan?" Jongin tidak menyangkal, hanya terlihat kesal. Apa yang Chanyeol katakan memang benar dan ia merasa terbodohi karena itu.
"Setelah semua yang kau perbuat, kau pikir apa yang akan aku lakukan? Hanya diam sangat bukan Phoenix. Kau tahu, aku tidak suka jika aku menahan perasaan kesalku. Aku lebih suka menunjukkannya." Chanyeol menyeringai, disambut hembusan napas bosan Yifan yang berdiri di sebelahnya. Ia yang sekarang adalah Kris dan Kris tidak menyukai basa-basi.
"Sudah kusangka, sangat Phoenix. Yang membuatmu tidak terduga adalah kau yang berdiri di depanku secepat ini. Kukira seseorang yang lemah sepertimu akan membutuhkan waktu lebih lama untuk bangun." Jongin balas menyeringai, merendahkan Chanyeol yang sebelumnya tampak lemah.
"Jangan main-main denganku. Jangan meremehkanku atau kau yang akan merasakan kerugian lebih banyak dariku." Udara menjadi lebih dingin setelahnya, bersi kemarahan yang seharusnya tidak boleh disulut.
KRAK!
Semua senjata api terangkat ke arah satu sama lain setelah hening beberapa detik. Beberapa pengawal di sana dengan cepat melakukan yang sama setelah melihat hal itu terjadi. Hal yang telah disangka dari Phoenix, Kris dan Kai, mereka selalu dapat merasakan dendam dan kemarahan satu sama lain. Mereka telah terlalu sering berselisih hingga bentuk ekspresi dari amarah dan keangkuhan mereka ditunjukan dengan cara yang hanya mereka yang tahu. Mereka menodongkan senjata dan itu adalah cara mereka menunjukkan eksistensi mereka untuk satu sama lain.
"Lebih baik serahkan diri kalian dengan sukarela sebelum aku melukai kalian. Tidak ada gunanya meletakkan diri kalian di posisi yang tinggi jika nanti aku tetap akan mengalahkan kalian. Setidaknya kalian akan mendapatkan sedikit pengampunan." Chanyeol sedikit mengangkat satu sisi bibirnya, ini terasa sangat menarik.
"Kalian masuk ke wilayahku dengan membawa sedikit penjagaan. Kau pikir aku akan takut?" Jongin menyahut dengan keangkuhan yang menjulang sedangkan Kyungsoo hanya mengerlingkan matanya dengan malas.
"Pernah mendengar sejarah aku dikalahkan karena sedikit penjagaan? Tubuhku adalah perisai, jadi kau tidak akan dapat membunuhku dengan pedang dan tembakan. Aku tidak pernah direnggut maut seberapa kalipun musuh mencoba membunuhku." Sahutan Chanyeol disambut siulan Yifan, semakin lama Chanyeol semakin pandai berbicara.
"Tapi kau hampir terbunuh karena perasaan. Musuh memang tidak dapat membunuhmu dengan menyerang fisik. Tapi dengan menyerang hatimu, bahkan hanya dengan ancaman kau akan melemah. Kau pikir kami tidak menyadari kelemahanmu?" Kali ini Kyungsoo yang berbicara, tampak puas.
"Jika kau sebut itu sebagai kelemahan. Apakah perlu aku katakan hal yang sebenarnya mempermalukan kalian? Kalian memasuki wilayahku secara diam-diam, bertindak seperti pengecut. Kalian juga menggunakan obat-obatan, lagi-lagi seperti pengecut. Kalian menggunakan tipu muslihat tanpa menunjukkan langsung tantangan kalian terhadapku, itu juga perbuatan pengecut. Kalian bahkan lebih memilih mundur daripada melawan, hal itu hanya dilakukan oleh pengecut. Jadi, kalian sebenarnya adalah pengecut. Bukankah seperti itu?" Kata-kata yang Chanyeol lontarkan membuat Yifan terpingkal. Itu lucu sekali sampai Yifan merasa itu seperti hal terlucu yang pernah Chanyeol katakan di seumur hidupnya.
"Sialan!" Kyungsoo hanya mampu mendesis dalam rasa kesal. Wajah cantiknya terlihat memerah dan tangannya mengaeal erat.
DOR!
Chanyeol bahkan tidak terlihat berjengit karena peluru yang melewati sisi kepalanya. Ia hanya berkedip singkat sebagai respon alami tubuhnya. Ia benar-benar tidak terlihat gentar dan takut.
"Hentikan omong kosongmu itu!" Jongin berteriak marah. Ia tidak terima dikatakan sebagai seorang pengecut oleh seseorang yang telah menjadi musuhnya sejak sekian lama.
"Kau yang penuh omong kosong, Sialan! Setelah apa yang kau lakukan, kau masih berani meneriakku? Kau pria pendosa!"
Dor!
Chanyeol melepaskan pelurunya saat orang-orang di sana terpaku mendengar raungan marahnya. Phoenix tidak seekspresif ini sebelumnya hingga ini sedikit mengejutkan. Ia melepaskan peluru di tempat yang sama di mana Jongin menembaknya. Terlihat jelas bagaimana ia ingin membalaskan dendam.
"Kris!" Chanyeol mendesis kecil memanggil Yifan. Sedangkan Yifan hanya mengangguk samar dan segera berbalik.
Ia segera melepaskan pelurunya pada orang-orang Jongin di belakangnya, berputar dengan gerakan cepat. Sedangkan Chanyeol melakukannya pada orang-orang di depannya. Mengabaikan raungan kesakitan Jongin dan wajah Kyungsoo yang mulai panik.
"Turunkan senjata kalian atau aku akan melakukan hal-hal yang lebih dari yang kalian bayangkan." Chanyeol memerintah dengan suara yang datar. Tapi orang-orang disana segera menurutinya.
"Kau tidak perlu ketakutan, Kai. Kau beruntung karena janji yang telah aku buat dengan Baekhyun. Jika saja aku tidak berjanji untuk tidak membunuh seseorang, kau mungkin telah tanpa nyawa. Tapi jika kau melawan, aku tidak segan-segan untuk membunuhmu. Aku membiarkanmu lepas kali ini. Kuharap kau tidak mengulangi perbuatan yang sama atau kau akan aku habisi." Chanyeol mengeluarkan suara meremeh, mencemooh Jongin yang terlihat marah namun tidak berdaya. Setidaknya ia tidak ingin mati hari ini.
"Sedangkan untuk kau, Kyungsoo. Kau juga salah satu orang yang bertujuan untuk menghancurkan kami. Tapi aku tidak akan menyakitimu dengan parah. Aku hanya akan melukaimu sedikit sebagai pembalasanku karena apapun yang kau lakukan untuk menyakiti keluargaku dan Baekhyun. Kau tidak akan memiliki luka yang fatal dan tidak akan meninggalkan banyak bekas. Aku berjanji itu tidak akan menghalangimu mendapatkan seorang dominan." Chanyeol terlihat mempersiapkan senjatanya.
Sedangkan hati Kyungsoo terasa nyeri. Kalimat terakhir Chanyeol yang terdengar seperti menganggapnya seorang pelacur membuatnya merasa hancur. Orang yang dicintainya mengabaikan ia sepenuhnya, dirinya dan perasaannya.
"Jangan bergerak sedikitpun atau peluruku akan meleset. Aku hanya akan melukai sedikit lenganmu karena berani menyentuhku untuk menyakiti kami. Jika meleset, aku mungkin saja melubangi kepalamu. Meski aku ingin, aku tidak bisa melakukannya karena janjiku dengan Baekhyun." Pria dominan itu mengingatkan, sengaja menegaskan janjinya bersama Baekhyun untuk menyakiti Kyungsoo. Saat ia melihat sebutir air mata jatuh bersama mata Kyungsoo yang tertutup, ia tersenyum senang. Tidak lama kemudian, sebuah peluru ia lepaskan dan memunculkan luka di tubuh dan hati Kyungsoo. Orang yang Kyungsoo cintai berakhir membunuh perasaanya.
.
.
.
Baekhyun hampir menangis karena air susunya tidak cukup untuk menyusui Jiwon. Untung saja ibu mertuanya ikut ke rumah Ten dan mengambil air susunya di lemari pendingin. Ia sempat memerah air susunya sesaat sebelum ia berangkat untuk menyelamatkan Chanyeol.
"Sudah, tidak apa-apa. Kau harus lebih tenang agar produksi susumu baik untuk menyusui Jiwon selanjutnya. Air susu perah ini hanya cukup untuk menyusuinya sekali ini saja." Ibu Chanyeol yang menggendong Jiwon dan membantunya meminum susunya, membiarkan Baekhyun menenangkan dirinya sendiri.
"Baik, Ibu. Aku mengerti." Baekhyun menyahut setelah menghela napas panjang untuk sedikit menenangkan dirinya. Sebenarnya ia tidak bisa tenang saat Chanyeol harus menghadapi bahaya seperti sekarang. Tapi ia akan berusaha karena bahkan Ibu Chanyeol sekalipun menunjukkan sikap tubuh penuh ketenangan.
"Bagus. Kau harus tenang, Baekhyun. Sebenarnya bukan hanya untuk Jiwon tapi juga dirimu sendiri. Kalau kau terlalu stress dan kelelahan kau bisa saja sakit. Lalu siapa lagi orang yang dapat diharapkan untuk menjaga anak dan cucuku?" Kata-kata itu disampaikan dengan nada candaan, tapi Baekhyun tahu kalau Ibu Chanyeol menyampaikan sebuah fakta.
"Ibu benar, aku harus terus sehat di saat keluarga kecilku benar-benar membutuhkan kehadiranku. Kalau begitu aku akan beristirahat di sini saja sembari menunggu kepulangan Chanyeol. Kemari, Ibu. Aku akan menggendong Jiwon. Ibu juga harus beristirahat." Baehyun yang duduk di sofa kemudian mengangkat tangannya, meminta Jiwon yang sedang berada dalam gendongan ibu mertuanya.
"Tidak, aku yang akan menggendong Jiwon. Sudah lama aku tidak bertemu cucuku, aku merindukannya. Kau tidak keberatan, bukan?" Ibu mertuanya berkata dengan senyum teduh seraya menatap wajah putranya.
"Tentu, Ibu. Aku tidak keberatan." Swdangkan Baekhyun merasa terharu dengan pemandangan yang ada di depannya.
Baekhyun terkekeh kecil beberapa kali saat mendengar tawa riang Jiwon. Ia tidak menyadari kalau salah satu obat kegundahan hatinya adalah bunyi tawa putranya sendiri. Putranya yang berharga.
"Aku kembali. Kalian mungkin tidak menyangka kalau aku akan kembali secepat ini." Suara seseorang yang familiar mengejutkan sepasang ibu mertua dan menantunya. Mereka dengan segera menolehkan wajahnya pada seseorang itu dengan ekspresi keterkejutan yang sama.
"Astaga! Bagaimana mungkin kau kembali secepat ini? Kau tidak menambah luka baru, bukan?" Ibu Chanyeol mendekati putranya setelah menyerahkan Jiwon dalam rengkuhan Baekhyun. Ia terlalu terkejut dengan kembalinya putranya.
Ibu Chanyeol menangkup wajah putranya dan menatapnya dengan mata yang meneliti. Sedangkan Chanyeol menahan senyumnya. Ibunya sangat jarang menunjukkan sikap khawatir dan Chanyeol memutuskan untuk menikmatinya sebentar.
"Aku tidak apa-apa. Tidak ada hal yang perlu Eomma khawatirkan." Chanyeol akhirnya mengatakan yang sebenarnya. Merasa tidak tega membiarkan ibunya terus merasa khawatir.
"Tapi kau kembali dengan cepat. Kau tidak pernah kembali secepat ini sebelumnya." Ibunya tahu Chanyeol senang bermain-main hingga ia berpikir Chanyeol kembali dengan cepat karena ia memiliki luka baru.
"Aku telah menyelesaikan semuanya. Aku hanya cepat kembali karena urusan yang harus segera aku selesaikan. Eomma tahu aku harus membawa seseorang untuk kembali kepadaku." Chanyeol menjelaskan maksudnya dengan sedikit bisikan. Menatap Baekhyun di belakang ibunya yang juga tengah menatapnya.
Ibu Chanyeol tersenyum mendengar perkataan putranya. Ia tahu tanpa perlu perkataan lebih karena ia juga ingin melihat orang itu kembali ke pelukan putranya lalu hidup bahagia bersama. Ia menatap putranya dengan pandangan penuh arti lalu mundur perlahan. Memilih untuk menaiki tangga dan pergi ke kamarnya, mengabaikan menantunya yang langsung tampak bingung dengan perbuatannya.
"Baekhyun." Chanyeol menepuk perlahan bahu Baekhyun untuk menyadarkan Baekhyun yang kebingungan. Ia menepuk dengan lembut, mencegah Baekhyun yang sedang menggendong Jiwon untuk terlalu terkejut.
"Ya? Apa kau baik-baik saja? Kau kembali begitu cepat." Sekarang Baekhyun yang mengkhawatirkannya, membuat ia tersenyum.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya cepat kembali karena aku ingin segera bertemu denganmu. Kau tahu, aku sangat merindukanmu." Chanyeol tersenyum semakin lebar saat mendapatkan tawa malu-malu. Sudah lama sekali rasanya sejak terkahir kali melihat tingkah Baekhyun yang menggemaskan.
"Aku tidak berbohong. Aku benar-benar merindukanmu." Chanyeol mengatakannya lagi setelah Baehyun tidak mengatakan apapun.
"A-aku juga merindukanmu." Baekhyun kembali dengan gagapnya. Tapi kali ini bukan karena perasaan takut atau tertekan, ia hanya sedang tersipu.
"Kalau begitu, ayo kembali bersama!" Chanyeol mengatakannya secara spontan. Sedangkan Baekhyun terkejut dengan ajakan yang terdengar sedikit ceroboh. Tidakkah Chanyeol bisa mengatakannya dengan cara yang lebih baik?
"Oh, maaf. Aku mungkin terdengar ceroboh. Tapi aku memang ingin mengajakmu untuk kembali bersama. Aku ingin kau dan aku untuk kembali menjadi kita. Bersama Jiwon, kita sandang kembali peran sepasang orang tua. Kita berdua menjadi utuh lagi. Apakah kau bersedia, Baekhyun? Untuk kembali bersamaku yang penuh cacat ini? Memenuhi janji kita pada semesta hingga waktu yang memisahkan. Hingga kita menemukan kata tamat dari kisah kita." Kali ini Chanyeol meminta dengan cara yang lebih indah. Ia berubah menjadi sosok Chanyeol yang romantis dan membuat Baekhyun selalu berdebar.
"Aku ingin, jika kau juga bersedia menerima aku yang penuh kurang. Aku pribadi yang penuh sisi dan perasaan negatif, Chanyeol. Mencintaiku sama dengan menurunkan standarmu karena aku sangat jauh dibandingkan kau yang sempurna dan kuat. Kau adalah berkat terbesar di hidupku, bersama Jiwon. Jika bukan karena dirimu, aku tidak tahu bagaimana mencintai dan seperti apa rasanya dicintai. Kalau kau juga bersedia untuk bersama membagi peran dalam rumah tangga dan bersama membimbing serta merawat Jiwon, aku akan lebih dari sekedar bersedia. Aku akan menyerahkan seluruh diriku padamu, termasuk nyawaku." Baekhyun menyahut dalam haru. Ia menangis karena menyampaikan mimpinya pada rumah tangga ideal yang ia inginkan.
"Aku bersedia untuk terus mencintaimu meski kelak kau akan menua. Aku bersedia untuk selalu mencintaimu dalam apapun keadaanmu, bersedia untuk selalu memberimu cinta yang membuatmu ingin bertahan hidup untukku. Aku sangat bersedia untuk membesarkan Jiwon bersamamu dalam rumah tangga yang kau impikan. Aku bersedia untuk membesarkan putra kita dalam cinta dan harapan bersamamu. Apapun yang kau inginkan, aku akan melakukannya karena aku mencintaimu sebesar kau mencintaiku. Jadi apa kau juga bersedia untuk berbagi kisah bersamaku? Menjadi tempat pulangku hingga senja?" Mata Chanyeol berkaca-kaca, tersentuh akan keindahan mimpi istrinya di sisa hidup mereka.
"Aku bersedia, Chanyeol. Aku sangat bersedia karena aku juga mencintaimu." Baekhyun meletakkan wajahnya di dada Chanyeol. Ia tidak bisa memeluk suaminya karena Jiwon yang tertidur di gendongannya. Tapi Chanyeol yang memerangkap tubuhnya dengan tangannya yang kekar sudah lebih dari cukup.
Chanyeol merasa kebahagiaan seakan ini adalah hal paling membahagiakan di hidupnya. Ia mengelus punggung Baekhyun perlahan untuk menenangkan tangisnya. Namun ia menarik dagu Baekhyun setelahnya, mengajak istrinya bercumbu dalam ciuman yang dalam. Mereka mengabaikan keadaan dan kehadiran pengawal-pengawal ayahnya di sana. Bercumbu dan bercumbu dalam percintaan yang tiada akhir. Karena angan akan janji yang mereka berdua rajut dengan penuh cinta terasa lebih menyenangkan saat mereka bayangkan dalam sentuhan untuk kelak mereka ubah menjadi nyata.
.
~END~
Ya, inilah akhir dari cerita ini. Ini akhir yang aku tujukan untuk kalian, pembaca-pembacaku yang luar biasa. Aku perlu waktu cukup lama untuk menyiapkan mentalku sendiri untuk menulis kata tamat di ujung cerita ini karena aku yang tiba-tiba diserang oleh rasa sedih. Aku sudah terbiasa memikirkan ide untuk cerita ini. Aku sudah terbiasa tidur larut untuk mengetik cerita ini meski progress yang aku tunjukkan gak secepat yang kuharapkan. Perlu waktu lebih dari 4 tahun bagiku untuk menyelesaikan cerita ini dari tahun 2016 sampai 2020 seperti sekarang. Memang terlihat seperti dimulai 2017, tapi penulisan dengan pemeran lain sebenarnya sudah sejak 2016. Aku cukup sedih sekarang, tapi cerita ini memang harus berhenti di sini. Gak ada cerita tanpa tamat, kan?
Okay, karena cerita ini sudah tamat, boleh aku meminta untuk yang belum pernah review supaya review? Hehe :D Biar sempet gitu meninggalkan jejak di cerita yang mulai lumutan ini. Ayo sampaikan pesan dan kesan kalian terhadap cerita ini, aku gak mau nangis sendirian soalnya. Setelah cerita ini, aku gak tahu akan balik lagi atau gak untuk menuliskan karyaku di dunia biru ini, tapi aku berterimakasih dengan cinta dan kesetian kalian yang selalu menunggu cerita ini untuk update. Oh iya, bagi yang mau DM aku, yuk, DM aja. Kalian boleh kok ngobrol sama aku. Cuma jangan nyesel ya, aku orangnya cukup pendiam dan agak lama baru balas DM orang, hehe :D
.
Last for big thanks for the previous chapter:
tiffanydmittrius10 l Nitha Gaemgyu l Prisna Jeon l beenthrough l ByunB04 l chanchanb l Dandelion (Guest) l sehuniewife l Agustusan (Guest II) l Park LouisYeol l Light. Byun l Lusiii61
Terima kasih banyak sudah mau membaca Chapter 39. Terlebih sudah mendoakan dan mengharapkan kebaikan untukku. Aku selalu berhasil dibuat tersentuh dan bersyukur karena kalian. Kita gak saling kenal tapi kalian masih mau menuliskan hal-hal baik untukku. Terima kasih banyak. Review kalian sudah lebih dari cukup untuk jadi healing buatku. Thank you so much and love you too. Jangan lupa review juga di Chapter terakhir ini ya. Aku harap kalian juga gak lupa untuk memberikan kesan dan pesan di kolom review~ ILY~
.
Last, you reviewing and I writing~
