Title : Tears in the Thorn

Author : Elle Riyuu

Main Cast : Chanbaek

Genre : Romance, hurt/comfort

Rate : M

Summary : Dia selalu sendirian lalu mereka mengambilnya untuk memanfaatkan dan menyakitinya, ia tidak lebih dari sebuah boneka. Hingga cinta datang dan ia terlalu canggung untuk menghadapinya. Karena pria yang berada dalam lingkaran cintanya tidak jauh berbeda dari mereka.

.

.

[CHAPTER 41-BONUS CHAPTER]

.

.

.

Baekhyun bergerak ke dalam pelukan suaminya. Kulit mereka yang sama polosnya menyentuh satu sama lain. Ini adalah malam hari jadi pernikahan tahun kelima mereka. Minseok dan Jongdae membawa Jiwon untuk menginap di rumah Yifan untuk bermain bersama putra submisif Yifan dan Joonmyeon, Wu Minsu. Mereka bermaksud memberikan waktu berdua pada Chanyeol dan Baekhyun untuk menikmati waktu mereka. Hingga mereka sekarang berada di atas tempat tidur, memutuskan untuk mengakhiri hari jadi pernikahan mereka untuk saling menghangatkan.

"Ah." Baehyun meloloskan desahan pertamanya. Desahan yang lain tersangkut di tenggorokannya karena cumbuan bibir Chanyeol yang terasa nikmat.

Chanyeol tersenyum karena desahan itu. Baekhyun sangat jarang menjadi vokal di malam-malam panas mereka sebelumnya. Ia tahu Baekhyun khawatir kalau saja Jiwon mendengar. Jadi ia sangat senang saat Baekhyun menjadi lebih terbuka dan menikmati sentuhannya.

"Ah, C-Chanyeol! Ja-jangan hisap terlalu kuat! Ah!" Baekhyun mendesah lagi. Ia merasa sedikit kelimpungan saat Chanyeol menghisap dadanya dengan keras. Aeoral Baekhyun membesar dan dadanya sedikit berisi karena efek menyusui, ia menjadi lebih sensitif kalau Chanyeol memainkannya.

Chanyeol hanya menyahut dengan gumaman. Baekhyun masih sama mungilnya seperti dulu. Tapi bagian dadanya berubah menjadi lebih berisi, strechmark dan bekas jahitan di perutnya juga masih terlihat. Namun perubahan-perubahan itu tidak membuat Chanyeol berhenti mencintainya. Justru ia merasa jatuh semakin dalam karena Baekhyun tampak semakin sempurna di matanya.

"Nikmati malam ini, Baekhyun. Kita akan melebur bersama pada kenikmatan, kau dan aku. Aku menjanjikan surga dunia padamu." Chanyeol berbicara dengan lembut. Tangannya bergerak naik turun menggoda Baekhyun untuk jatuh padanya.

Baekhyun tersenyum samar lalu perlahan menangkup wajah suaminya. Chanyeol terlihat tampan meski keringat mulai membasahi wajahnya. Menatap Chanyeol seperti ini perlahan membuat Baekhyun mengingat lagi tentang masa lalu mereka. Ia kembali mengingat bagaimana Chanyeol saat dulu pertama kali menyentuhnya. Ia juga kembali mengingat bagaimana raut wajah yang ia tunjukkan. Dahulu wajah tampan itu terisi dengan belas kasihan dan sedikit rasa peduli. Tapi sekarang wajah itu menunjukkan cinta dan kebahagiaan. Jika dulu Chanyeol menyentuhnya hanya karena kebaikan hati. Sekarang Chanyeol telah menyentuhnya karena perasaan cinta yang tanpa akhir.

"Ah!" Baekhyun mendesah dan sedikit terkejut karena sentuhan Chanyeol pada tubuh bagian bawahnya. Ia menatap wajah suaminya dan tanpa mengatakan apapun, Baekhyun tahu Chanyeol tengah memintanya untuk fokus menikmati malam panjang keduanya.

"Kemana pikiranmu mengelana, Baekhyun? Fokuslah pada malam panas kita. Bukankan aku sudah menjanjikan kenikmatan padamu?" Suara berat itu mengalun dengan bisikan. Gerakan tangannya yang menggerayangi paha dalam Baekhyun membuat Baekhyun bergidik hingga gemetar dengan mata setengah terpejam.

"Ti-tidak kemanapun!" Baekhyun menjawab dengan kewalahan. Chanyeol bergerak semakin turun dan Baekhyun khawatir kalau ia tidak dapat merespon perlakuan Chanyeol dengan baik.

"Hm?" Chanyeol hanya menggumam tapi Baekhyun menyahutnya dengan teriakan. Chanyeol sudah berada di bawah tubuhnya. Lidah panas suaminya tengah menjilati dan menghisap lubangnya.

"Ah! Chanyeol! He-hentikan! Itu kotor!" Tangan Baekhyun bergerak panik meraih kepala Chanyeol. Ia tidak bisa membiarkan Chanyeol melakukan hal itu.

Tapi Baekhyun malah merasa Chanyeol malah menjilatinya semakin ganas. Kaki Baekhyun bergerak tidak tenang saat merasakan Chanyeol mendorong beberapa air ludahnya untuk melumasi lubang Baekhyun. Napas Baekhyun terdengar memendek tapi tubuhnya belum mengejang, ini masih belum cukup untuk membuatnya datang.

"Tidak apa-apa, Baekhyun. Jika itu kau, maka tidak apa-apa. Kau tidak kotor." Chanyeol menyahut setelah lama berselang. Suaranya terdengar lembut, berbanding terbalik dengan matanya yang berisi nafsu.

Baekhyun tersenyum lembut. Chanyeol semakin menunjukkan cinta padanya hingga perkataannya menjadi terdengar semakin manis. Tapi tidak lama setelahnya Baekhyun berteriak lagi saat merasa Chanyeol mulai memasukinya dengan jari.

"Itu satu jari. Ah… Kau masih saja sempit. Apa karena kita tidak sering bercinta? Kalau begini, aku harus benar-benar menyiapkanmu agar kau tidak terlalu kesakitan." Chanyeol menggerutu kecil.

Baekhyun mendesah keras saat merasakan jari Chanyeol mengorek lubangnya. Ia tidak benar-benar kesakitan, tapi pergerakan itu membuatnya terkejut. Sepertinya Chanyeol benar-benar tengah bernafsu.

"Dua jari. Ini belum juga melembut." Chanyeol memaksa memasukkan jarinya yang kedua.

Baekhyun hampir merangkak menjauh saat jari Chanyeol mengagetkannya tapi Chanyeol menahan pinggangnya. Kaki Baekhyun menendang-nendang udara dan wajahnya memerah saat Chanyeol mempercepat pergerakkannya. Ia tahu bibir rektumnya mulai lecet tapi rasa lain muncul perlahan. Baekhyun mulai merasakan nikmat di tengah rasa perihnya. Ia bernapas putus-putus dan tubuhnya mulai mengejang. Mulutnya membuka lebar dan matanya terlihat hilang dalam nafsu. Lalu tepat saat Chanyeol menumbuk titik nikmatnya dengan keras, ia banjir karena cairannya sendiri.

"Sudah, berhenti menggunakan jarimu." Baekhyun berbisik di sela napasnya yang terengah. Chanyeol memberikannya waktu istirahat meski jarinya masih berada di lubang Baekhyun.

"Apakah sekarang aku boleh melakukannya? Maksudku, aku ingin memasukimu, Baekhyun." Chanyeol meminta persetujuannya dengan tatapan yang berkabut. Tapi ia yang sekarang adalah pria yang berbeda. Ia adalah pria penuh cinta hingga kenikmatan sepihak saat berhubungan dengan istrinya adalah hal yang ia haramkan.

"Tentu, kau boleh melakukannya. Ambil hakmu, Chanyeol. Aku tidak apa-apa." Senyum Baekhyun di bawah lampu temaram dan sinar bulan yang masuk melalui jendela membuatnya tampak cantik. Gemerlap lampu kota yang terlihat seperti bintang-bintang paling terang bahkan tidak dapat menyainginya.

Chanyeol mengecup keningnya lembut sebagai ucapan terima kasih lalu tersenyum lembut sebentar. Senyum itu kemudian perlahan sirna karena ia yang berkonsentrasi memasuki miliknya pada lubang Baekhyun. Tapi kemudian ia merasa bersalah setelahnya, Baekhyun berteriak sangat keras dari atas paru-parunya dan ia tahu kalau Baekhyun benar-benar kesakitan. Oh Tuhan, bahkan ia belum memasukkan setengahnya.

"Maafkan aku, Baekhyun. Apa rasanya sesakit itu? Apa kau ingin aku berhenti? Katakan jika itu sangat sakit, aku akan berhenti." Chanyeol menenangkan Baekhyun. Tangannya bergerak di pipi Baekhyun untuk menghapus keringatnya yang telah bercampur dengan air mata. Ia tidak sanggup melihat Baekhyun kesakitan hingga menahan diri terasa lebih baik meski itu menyakitinya.

Baekhyun menggeleng-geleng kecil. Ia terlihat meneguk sebentar ludahnya sebelum meraup napas panjang. Ia tersenyum manis dengan sedikit dipaksakan.

"Tidak apa-apa. Lakukan saja, aku tidak mau kau berhenti. Aku akan merasa buruk jika kau melakukannya. Hanya lakukan perlahan, selembut mungkin seperti biasa."

Chanyeol tersenyum lembut setelahnya lalu mengangguk. Baekhyun yang sangat cantik, ia cantik sekali saat tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Baekhyun selalu membuatnya terpesona hingga tidak tahu sudah berapa kali kata cantik ia gunakan untuk menggambarkan keindahan istrinya.

Chanyeol lalu bergerak perlahan hingga memakan lebih banyak waktu. Sekali dua kali ia melihat perubahan ekspersi di wajah Baekhyun. Setiap kali ai melihat Baekhyun mengangguk, ai bergerak perlahan. Hingga saat miliknya masuk sempurna, ia mendesah dalam kelegaan.

"Lakukan, Chanyeol. Bergeraklah." Baekhyun mengatakannya sebelum Chanyeol sempat bertanya padanya. Chanyeol sangat lembut hingga Baekhyun hapal dengan tingkahnya yang selalu bertanya setiap saat mereka bercinta.

Chanyeol bergerak perlahan tapi itu sudah cukup untuk membuat Baekhyun mendesah dalam kenikmatan. Pergerakan Chanyeol memang pelan, namun ia menumbuk titik paling sensitif Baekhyun. Lagi-lagi napas Baekhyun memendek dan ia benar-benar datang karena gerakan yang perlahan itu.

"Ah… Kau menyempitkan lubangmu, Baekhyun. Astaga! Kau membuatku dekat." Chanyeol mendesah frustasi. Ia mempercepat gerakannya dan meraup udara dengan ganas. Di detik setelahnya ia semakin menggila saat Baekhyun kembali menyempit. Ia menekan perut Baekhyun dengan tangannya dan Baekhyun menyempit seperti ini.

"Chan-Chanyeol! Jangan tekan perutku! I-itu membuatku merasa penuh! Ah!" Baekhyun melarangnya tapi Chanyeol malah semakin menggila dengan menyesap dadanya. Pucuk dadanya terasa terlalu sensitif terlebih Chanyeol memainkannya dengan lidah dan giginya.

Tangisan dan desahan Baekhyun semakin keras saat ia merasa hilang dalam kenikmatan. Tubuhnya panas dan kepalanya pening. Ia tidak bisa memikirkan apapun selain mengeluarkan sesuatu yang terasa membakarnya.

"Ah! Ah!" Punggung Baekhyun melengkung dan kulitnya meremang. Jari-jari tangan dan kakinya saling meremat sementara Chanyeol bergerak semakin kasar. Desahan keduanya bersahutan hingga pada akhirnya mereka berteriak keras. Mereka datang di saat bersamaan.

Chanyeol merasakan kepalanya kosong tapi ai tetap berusaha untuk tidak menindih Baekhyun yang berada di bawahnya. Chanyeol merasa lelah sekarang dan berencana untuk tidur. Tapi ia dapat mendengar bunyi napas Baekhyun yang terlalu berisik. Saat ia menoleh, ia dapat melihat Baekhyun yang tidak bergerak sedikitpun dari posisinya sebelumnya. Istrinya terlalu kelelahan.

"Kau kelelahan, Baekhyun? Sepertinya aku terlalu bersemangat, maafkan aku." Chanyeol bangun perlahan untuk memperbaiki posisi berbaring Baekhyun.

"Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan." Baekhyun menyahut dengan suara serak. Sedangkan Chanyeol mengerutkan keningnya dengan tangan yang meraih kotak tissue.

"Tapi kau menjadi sangat kelelahan. Kau berkeringat banyak dan suaramu menjadi serak. Aku pasti menyakitimu karena tidak dapat mengendalikan diriku. Maafkan aku. Sepertinya aku yang menyakitimu seperti dulu mengambil alih diriku." Chanyeol menyeka tubuh Baekhyun dengan tissue, suaranya penuh sesal. Cairan keduanya mengotori Baekhyun dan ia tidak mau istrinya tidur dengan tidak nyaman karena ini. Sudah cukup ketidakterkendaliannya yang menyakiti Baekhyun.

"Tidak, kau yang dulu tidak akan pernah kembali. Chanyeol yang dulu adalah Chanyeol yang dingin dan tidak akan mungkin membersihkan tubuhku setelah bercinta. Kau yang dulu hanya akan pergi dan tidak lagi kembali ke rumah." Chanyeol tertawa karena perkataan Baekhyun itu. Istrinya selalu hebat dalam urusan menghiburnya. Ia merasa lebih baik meski perasaan sesal itu masih nampak di wajahnya.

Baekhyun tersenyum menatap suaminya yang seperti itu. Chanyeol telah benar-benar berubah menjadi lebih baik. Selama 5 tahun pernikahan mereka, tidak pernah sekalipun Chanyeol menyakitinya dengan sengaja.

"Kemari, peluk aku." Baekhyun membuka tangannya dan perbuatannya itu mendapat sebuah senyuman. Chanyeol segera membersihkan tissue kotor di dekat mereka baru kemudian memeluk Baekhyun dengan hati-hati. Tubuh Baekhyun tentu masih kesakitan dan ia tidak ingin memperburuk itu.

Suasana kemudian terisi sunyi. Suara nafas mereka saling bersahutan dan irama detak jantung keduanya menjadi lagu pengiring tanpa melodi yang pasti. Chanyeol tahu, di saat-saat seperti ini Baekhyun pasti tenggelam dalam pikirannya sendiri.

"Apa yang ada di kepala cantikmu, Sayang?" Chanyeol mengintrupsi kesunyian saat Baekhyun mengeratkan pelukannya. Ia ingin Baekhyun berbagi jika memang ia memiliki pikiran buruk.

"Aku hanya berpikir jika waktu berhenti sekarang, jika aku mati. Aku akan baik-baik saja jika aku mati sekarang." Baekhyun menyahut dengan bisikan tapi itu mengejutkan Chanyeol.

"Apa maksudmu? Hei, Baekhyun! Jangan mengatakan sesuatu yang mengerikan!" Chanyeol terkejut setengah mati sampai ia hampir melepaskan pelukannya.

"Aku hanya ingin aku mati di saat paling bahagiaku. Aku sangat bahagia sekarang." Tapi sahutan Baekhyun selanjutnya membuat Chanyeol tertawa lega.

"Jika seperti itu, berarti sekarang masih belum saat yang tepat. Karena aku berjanji, aku akan membuatmu lebih dan lebih bahagia di masa depan." Chanyeol kembali memeluk Baekhyun erat.

"Terima kasih, Chanyeol. Kau tahu? Kau membuatku mulai berpikir untuk bersyukur mengenai kelahiranku. Aku adalah jiwa yang selalu hidup dalam rasa sakit. Aku tidak beruntung dan menjadi tempat bersinggah duka. Tapi kau meraihku, memelukku untuk kemudian mencintaiku. Aku hanya batu penuh lumpur, bunga layu yang tidak pernah mekar. Tapi kau membuatku merasa kalau aku pantas untuk hidup. Terima kasih." Baekhyun mulai menangis, merasa terharu karena keluarbiasaan hati Chanyeol yang menerima segala kurangnya.

"Harusnya aku yang mengatakan itu padamu. Aku yang seharusnya berterimakasih padamu. Kau bukan orang yang tidak berarti. Bukan juga jiwa yang penuh kegagalan. Kau tahu kenapa aku selalu memberikan bunga daisy padamu dalam 5 tahun pernikahan kita?" Chanyeol bertanya lembut dan ia mendapatkan sebuah gelengan lemah.

"Itu karena kau adalah cermin dari bunga daisy. Jiwamu penuh dengan daisy putih yang bermekaran. Jiwamu adalah jiwa yang polos dan penuh kesetiaan. Jika kau merasa kau beruntung karena aku memilihmu. Maka sebenarnya aku yang beruntung karena kau menerimaku. Aku lah yang penuh kurang. Jiwa yang berisi kekejaman dan tanpa belas kasih. Tapi kau dengan tangan mungilmu menyentuh hatiku. Meski aku menolak dan merusakmu, kau masih kembali padaku. Kau berani mencintaiku dan mengubahku menjadi seseorang yang kembali mengambil lagi hati manusia yang telah lama kubuang. Kau adalah alasanku untuk terus berani bermimpi tentang masa depan bersamamu, untuk terus bertahan hidup. Oleh karena itu, aku berjanji untuk selalu melindungimu dan cinta kita selamanya." Chanyeol mengatakan kalimat-kalimat itu dengan penuh kasih. Ia menatap teduh wajah cantik istrinya yang tengah menangis.

"Sungguh, Chanyeol. Jika memang mencintai bagi kita seperti menikmati kecantikan mawar meski tertusuk duri, aku bisa melaluinya asal bersamamu. Karena jika itu bersama kau, aku tidak takut untuk kembali terlahir dan melewati masa-masa itu lagi bersamamu. Karena kau adalah jalanku untuk untuk pulang. Kau adalah tempatku kembali di masa senja. Kau penyembuh dari segala duri di kehidupanku. Karena aku tidak bisa mencintai jiwa lain selain jiwamu." Baekhyun juga menyahut dengan teduh, matanya yang berlinang air mata masih menatap lekat wajah lelakinya. Sampai kemudian mata itu kembali meloloskan bulir ketika tertutup untuk menikmati ciuman manis dari bibir pria yang dicintainya.

Cinta yang datang pada keduanya adalah cinta yang pahit. Cinta yang seperti mustahil untuk dipertahankan. Satu jiwa terlalu takut untuk menerima serpihan-serpihan hati yang ditujukan padanya. Sedangkan satu jiwa yang lain terlalu takut untuk menyerahkan serpihan-serpihan hatinya yang telah terlalu hancur. Tapi kemudian kekuatan semesta yang menyatukan tidak memberikan jalan untuk kembali. Waktu mengikat jari kelingking mereka pada benang takdir berwarna merah, hingga semesta selalu menemukan keduanya untuk saling bersama. Saling mengikat sampai keabadian.

.

.

-END-

Aku akhirnya memutuskan untuk menulis bonus chap. Oh iya, bagi yang punya storial, bisa mampir ke akunku yuk! Bagi yang gak punya bisa bantu promote~ hehe XD Namanya tetap Elle Riyuu dan di situ judulnya pake bahasa Indonesia dan ini versi straight, jadi bisa dipromote ke temen-temen non fujoshi dan non kpopers ;) aku mau melebarkan sayapku untuk membuat ini menjadi novel.

Oh iya, makasih juga buat doa-doa kalian. Sekarang aku sudah bener-bener lulu dan wisuda di akhir bulan November 2020 lalu. Makasih banyak sudah menemani hari-hari kuliahku. ILY~

.

The last big thanks goes to:

beenthrough l haliucitynite l cheni l someflufi l yeonwookimoh sabeth l ByunBaeChiecy l Nitha Gaemgyu l ByunB04 l Light. Byun l ulalachanbaek l ChanBaek09 l Agustusan (Guest) l fathwakp l chanchanb l Park LouisYeol

Ada yang bilang kangen, aku juga kangen. Makanya aku nulis bonus chap ini. Makasih banyak atas semua dukungan kalian. Aku nangis astaga! Terima kasih sudah mencintai FF ini. Aku merasa beruntung sekali FF ini menerima banyak cinta dan perhatian. Aku minta maaf kalau selama ini aku membuat banyak salah atau membuat kalian tersinggung. Makasih banyak dan sayang kalian banyak banyak! *