Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

Fic ini mengandung unsur yang tidak begitu di terima oleh publik, harap memikirkan segala aspek tanpa fokus hanya pada satu bagian saja.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

.

.

[Blossom In The Winter ]

( Chapter 42 )

.

.

.

.

"Apa selama ini Sasuke mengancammu? Memaksamu untuk memiliki hubungan?" Tanya ibu.

"Ti-tidak, bu."

Aku tidak tahu jika ibu berpikiran Sasuke mengancamku dan memaksaku untuk menyukainya. Dia melakukannya dengan perlahan-lahan. Aku bahkan tidak sadar sampai rasa cinta ini tumbuh dengan sendirinya. Aku sangat menyukai Sasuke. Di awal aku hanya kagum karena dia berusaha mengurus anak perempuan sepertiku. Akhirnya perasaan itu menjadi lebih dari sekedar kagum padanya.

"Bahkan Itachi dan Izuna tidak mengatakan apa-apa pada kami." Ucap ibu.

Aku selalu kepikiran akan sikap kak Izuna yang selalu menentang Sasuke. Dia juga tidak pernah mengadu pada ayah dan ibu. Berbeda dengan kak Itachi, dia mengetahuinya, tapi tetap di diamkan, sekarang kak Itachi tidak perlu menyembunyikan apa-apa lagi. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada ibu. Aku pasrah saja jika mendapat hukuman darinya. Ayah Fugaku mungkin masih marah pada Sasuke.

"Ma-maafkan kak Sasuke, bu. Ini juga salahku." Ucapku.

"Tidak Sakura. Ini bukan salahmu. Tidak mungkin ini menjadi kesalahanmu jika Sasuke merawatmu dengan benar. Ibu sungguh tidak percaya akan hal ini."

Awas kau Haku!

Aku akan memukulmu setelah hanya ada kami berdua!

"Jika ibu tidak setuju, aku akan berubah, bu. Asal itu tidak membuat ibu kecewa." Aku harus tetap berbakti pada mereka. Ibu Mikoto yang sudah menjadi orang tua bagiku.

"Kembalilah ke rumah dengan Haku. Ibu perlu menenangkan diri terlebih dahulu." Ucap ibu.

"Haku. Jangan lupa urus segala keperluan Sakura."

"Baik. Nyonya."

Tatapan ibu sama persis saat menatap Sasuke yang dengan lantangnya mengajakku menikah.

Kami akhirnya turun ke parkiran basement. Mencoba memukul Haku. Itu tidak semudah yang di bayangkan. Haku menahan pukulanku.

"Kau berbohong padaku!" Marahku.

"Maaf, nona." Ucapnya. Bahkan tanpa wajah bersalah itu.

Seharusnya aku mendengarkan Sasuke. Dia tidak bisa di percaya. Kedekatan kami selama ini hanya palsu. Dia sengaja agar bisa mendapat informasi apapun untuk di sampaikan pada ibu Mikoto.

"Aku tidak percaya padamu lagi! Kita bukan teman atau apapun! Jangan bicara apapun lagi padaku!" Aku sangat-sangat marah padanya.

Naik ke mobil dan duduk di belakang. Kita tidak akan menjadi apapun lagi. Hubungan pertemanan ini hilang di saat dia membeberkan segalanya pada ibu.

Aku sangat malu di hadapan ibu Mikoto. Bagaimana aku bisa berkata semuanya pada Haku dengan begitu mudah? Aku sungguh bodoh dan mau saja mempercayainya.

Sebuah apartemen, ibu tinggal di apartemen yang terlihat cukup mewah ini. Ada seorang pelayan di dalam. Aku sedang kesal dan tidak ingin menjadi nona yang baik untuk mereka.

"Dimana kamarku?" Ucapku. Masih dengan nada suara yang kesal.

Pelayan itu menatapku bingung dan takut. Tentu saja. Aku datang dan sudah menyambutnya dengan amarah.

"Di-di sebelah sana, nona." Gugupnya.

"Terima kasih."

Bergegas dan tidak pedulikan Haku lagi. Aku benci padanya.

"Nona, jika kau butuh sesuatu, kau bisa katakan padaku." Ucap Haku.

Melemparkan tatapan marah padanya. Aku juga tidak mau bicara lagi. Meninggalkan mereka menuju kamarku.

Kamar yang cukup luas. Membuang diri di ranjang. Aku lelah. Kakiku terasa lemas hanya di hadapan ibu. Rasa malu ini juga sulit untuk di hilangkan. Aku sampai tidak ada muka lagi di hadapan ibu. Bagaimana jika ayah Fugaku juga tahu? Aku jadi merasa bersalah. Anak yang tidak tahu diri. Sudah sangat baik ada yang mau mengadopsiku sebagai anak mereka. Aku malah memakan salah satu saudaraku sendiri.

Kehidupan baruku ini tidak berjalan mulus. Aku jadi merindukan ayah dan ibu. Aku ingin mengunjungi makam mereka, tapi ini bukan Konoha. Lalu kabar Sasuke bagaimana? Aku masih tidak pernah membalas pesannya yang sudah beberapa tahun itu.

Apa sekarang dia sudah memiliki pacar baru? Hari itu kami sudah putus. Kami secara sah tidak ada hubungan, yang tertinggal hanya hubungan saudara saja.

Mungkin jika saat masuk perkuliahan. Aku bisa menemukan pacar yang baru. Aku harus bisa melupakan Sasuke dan segala perasaan ini. Jangan sampai ibu Mikoto kecewa lagi. Mungkin jika aku memperkenalkan pacarku. Ibu akan lebih tenang.

Bicara itu sangat mudah, kenyataannya.

Aku berusaha lulus di universitas Iwa. Mengambil jurusan bisnis. Aku tidak tertarik dengan jurusan lain. Aku ingin belajar bisnis dan mengambil hak yang seharusnya menjadi milikku. Aku harus fokus akan tujuanku kembali. Rasanya memulai sebuah awal di dalam lingkungan ini. Akibat berpindah-pindah setiap jenjang pendidikan. Aku tidak menemukan siapapun yang di kenal disini. Sekali lagi memulai semua dengan keadaan baru.

.

.

.

.

.

Hari kuliah di ruangan B. Aku sangat sibuk dengan masa kuliah. Aku menikmatinya, sekaligus bisa melupakan masalah yang sudah mulai perlahan-lahan di lupakan.

"Sakura." Panggil seseorang.

Aku tidak begitu bergaul di kampus. Aku sedang malas untuk mencari teman baru, namun seseorang mengetahui namaku. Biasanya mereka akan memanggil margaku, Uchiha. Siapa yang memanggilku seperti itu?

Aku melihat seorang pemuda berambut ikal merah. Aku tidak ingat punya teman sekelas seperti dia.

"Aku pikir akan salah orang." Ucapnya dan tersenyum malu.

Siapa?

Menatapnya cukup lama. Aku tidak mengingat siapapun kecuali teman-teman dekat. Aku kadang merindukan Ino dan Tenten. Ino sampai terkejut dengan tujuanku yang tidak kembali ke Konoha. Pikirnya kami mungkin bisa sama-sama dia universitas Konoha.

"Ini sudah cukup lama, mungkin kau sudah melupakanku juga. Saat itu aku tak cukup berani untuk berbicara, bahkan setelah mendapat ancama dan kakakmu."

Dia mengetahui kakak-kakakku? Yang mana?

"Kau masih tidak ingat padaku?" Tanyanya.

Menggelengkan kepalaku.

"Aku tidak ingat."

"Kita teman satu SMP. Aku sempat mencoba menyatakan perasaanku, tapi kakakmu sangat galak."

Oh. Akhirnya aku ingat. Pemuda yang berani berbicara pada Sasuke, dia sampai membuat Sasuke marah, dia juga mendengarkanku untuk meminta ijin pada Sasuke. Tentu saja itu tidak akan mudah.

"Bagaimana kau bisa ada disini?"

"Aku mengikuti ayahku yang pindah kerja hingga ke kota ini. Aku tidak percaya akan bertemu teman satu SMPku."

Aku masih menemukan orang yang mengenalku disini.

"Aku juga mendengar beberapa masalah yang terjadi padamu. Semenjak ucapan kakakmu, aku tidak berana lagi mendekatimu."

Pengaruh Sasuke begitu kuat untuknya.

"Lalu bagaimana kau bisa berada di sini?" Tanyanya.

"Di kota ini ibuku bekerja. Aku tinggal bersamanya. Sementara di Konoha hanya ada para kakakku."

"Jadi kakakmu yang waktu itu tidak berada disini?"

"Tidak. Dia berada di kota lain juga, sedang mengurus perusahaan."

"Begitu ya." Ucapnya dan tatapannya terlihat berbeda. Dia terlihat senang. "Aku juga berada di fakultas bisnis. Aku harap kita bisa berteman seperti dulu." Lanjutnya.

Aku bahkan tidak menganggapnya teman saat itu, tapi aku tidak bisa mengabaikannya disini.

"Namamu Sasori 'kan?" Tanyaku. Memastikan jika aku tidak salah ingat nama yang dulunya masih seorang murid laki-laki ini.

"Aku senang kau masih mengingat namaku."

"Kita bisa berteman lagi." Ucapku.

"Terima kasih. Kau jadi banyak berubah Sakura, termasuk kau semakin cantik."

"Kau berani juga memberiku pujian. Apa aku perlu lapor pada kakakku?"

"Ma-maaf. Aku tidak bermaksud. Sudah dulu ya, aku sedang ada kelas." Ucapnya dan bergegas.

Sasuke membuatnya trauma. Aku jadi mengingat Sasuke lagi, mau bagaimana pun aku melupakannya. Pasti ada hari dimana kami akan bertemu.

Sepulang dari kampus, selama disini pun Haku akan terus menemanimu. Aku tidak pernah berbicara hal pribadi lagi dengannya. Aku sudah tidak percaya padanya.

"Malam ini ada acara makan bersama nyonya besar. Gaunnya sudah aku siapkan, nona." Ucapnya.

"Apa ini penting? Aku mau tidur saja." Ucapku.

"Nyonya memintamu agar datang."

"Aku sedang malas, bisa katakan pada ibu?"

"Tidak, nona."

Menatap malas ke arahnya. Dia sudah memperlihatkan sikap aslinya padaku. Dia itu hanya mendengarkan ibu.

Memangnya ada hal penting apa sampai aku harus ikut makan malam bersama ibu? Biasanya dia akan makan malam dengan rekan bisnisnya. Aku tidak ingin bertemu dengan bapak-bapak tua. Rata-rata teman ibu pria yang sudah tua, gemuk, besar, dengan tatapan menyebalkan.

Gaun ini ibu sendiri yang pesan. Aku suka akan desainnya. Haku bahkan tidak mengantarku masuk, dia memintaku masuk sendiri. Katanya penting, sejak tadi terus mengatakan makan malam penting. Apa yang penting? Seharusnya dia bisa jelaskan lebih detail.

Memasuki lift, restoran dengan memiliki bangunan yang cukup tinggi, di lantai atas, sengaja dibuat untuk memperlihatkan kota Iwa yang indah di malam hari.

Pintu lif terbuka. Aku cukup terkejut dengan orang yang sedang berdiri menunggu di depan lif.

"Apa kabar, Sakura?"

.

.

TBC

.

.


update...~ maaf lama update. =_=" author benar-benar buntu dalam beberapa hari ini. malah update oneshoot terus, =_=" idenya ngalir di sana.

fic ini nggak lama jadi drama yang kalah-kalahin sinetron :D :D =_=" sudah panjang begini, sampe pasang surut ini perasaan, drama yang nggak berhenti berhenti, tanpa terasa Sakura udah dewasa,