Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
Fic ini mengandung unsur yang tidak begitu di terima oleh publik, harap memikirkan segala aspek tanpa fokus hanya pada satu bagian saja.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
.
.
[Blossom In The Winter ]
( Chapter 43 )
.
.
.
.
"Apa kabar, Sakura?" Ucap Sasuke.
Aku hanya mematung hingga lif hampir tertutup. Sasuke menahannya dengan tangannya, menarikku untuk keluar dari lif. Aku sungguh tidak percaya ini. Di saat aku mulai mencoba melupakannya, dia muncul di hadapanku secara tiba-tiba.
"Kau tidak ingin menjawab pertanyaanku?" Tatapan dingin seperti biasanya.
"Kau semakin tua saja Sasuke." Ucapku. Aku sedang menyindirnya.
"Dan kau semakin terlihat dewasa."
Aku jadi kesal akan ucapan balasannya.
"Aku baik-baik saja. Untuk apa kau berada disini? Aku tidak percaya makan malam penting ini hanya untuk menemuimu. Lebih baik aku di rumah saja." Ucapku. Malas.
"Aku ingin meminta maaf padamu."
"Aku tidak ingin mendengarkan apapun darimu lagi. Jangan lupa kakak. Kita ini saudara." Ucapku.
Namun tatapan kecewa yang di perlihatkannya. Siapa yang memulai duluan? Kau yang lebih dulu memutuskan hubungan ini.
"Aku sudah disini sejak kemarin, tapi baru bisa menemui ibu dan juga menemuimu."
Jika dia menemui ibu, apa ibu sudah tidak marah lagi? Wah aku tidak percaya ini. Tidak ada yang memberitahukanku jika ibu sudah berdamai dengan Sasuke.
"Aku tidak begitu tersanjung akan ucapanmu. Aku harapan kau tidak muncul lagi di hadapanku."
Sebuah senyum tipis di wajahnya. Apa yang membuatmu tersenyum?
"Masih tidak berubah."
Aku jadi semakin kesal padanya.
"Aku lebih baik pulang. Katakan pada ibu, aku sakit perut setelah melihat wajahmu."
"Kau tidak boleh pulang. Hari ini ada hal yang penting ingin aku sampaikan."
"Katakan sekarang."
"Tidak. Ibu juga harus mendengarnya."
Apa yang ingin Sasuke katakan? Aku harap dia tidak membuat masalah lain lagi. Sama seperti dia mengajakku untuk menikah sebelumnya.
Sebuah genggaman darinya, dia mengajakku masuk, restoran yang bahkan sudah di reservasi khusus. Di sebuah meja, aku melihat ibu. Bagaimana pun dia sibuk, hari ini ibu terlihat sangat cantik dan anggun, lalu seorang wanita yang tengah duduk bersama ibu. Siapa gadis cantik itu?
"Akhirnya kau datang juga Sakura. Perkenalkan dia putriku, Uchiha Sakura." Ucap ibu, memperkenalkanku pada wanita ini.
"Jadi dia anak bungsu ya. Pasti semuanya sangat sayang dan memanjakan Sakura." Ucap wanita itu, seakan merasa sudah akrab. Aku tidak senang akan pertemuan ini, rasanya ada yang aneh.
Sasuke menarikkan kursi untukku dan duduk di sebelahnya. Wanita ini terus saja menatap Sasuke. Kenapa menatap Sasuke terus? Apa ada masalah di wajahnya? Ya dia memang selalu membuat masalah.
"Jadi ada hal apa yang ingin kau bicarakan Sasuke?" Tanya ibu.
Aku juga penasaran, apa yang ingin di sampaikannya sampai repot mengunjungi ibu? Ibu juga terlihat tenang menghadapi Sasuke, tatapan kecewanya saat itu sudah menghilang begitu saja. Lalu bagaimana ayah? Apa ayah juga sudah berdamai dengan Sasuke? Tidak mungkin mereka marah padanya hingga bertahun-tahun.
"Perkenalkan namanya Hotaru. Aku yakin ibu tahu tentangnya." Sasuke mulai berbicara.
"Tentu saja. Dia artis yang cukup terkenal di kota Iwa."
Wanita itu tinggal disini rupanya.
"Maaf jika cukup lama tidak memperkenal diri." Ucapnya, dia terlihat begitu ramah di hadapan ibu. Sesekali menatapku, tapi aku tidak suka padanya.
"Kami memutuskan untuk mengatakannya pada ibu, sekaligus menanyakannya." Ucap Sasuke, menatap wanita di sebelahnya. "Kami akan bertunang terlebih dahulu. Ibu bisa membantu kami menentukan tanggalnya."
Bertunangan?
Sasuke dan wanita yang bernama Hotaru ini?
"Itu kabar yang sangat baik Sasuke, tapi mungkin menunggu acara Itachi selesai lebih dulu."
Kak Itachi dan kak Izumi akhirnya akan menikah. Mereka cukup lama bersama, pernikahannya akan di adakan bulan depan.
Apa ini yang membuat ibu tidak kecewa lagi? Sasuke sudah menetapkan pasangannya dan itu bukan lagi aku.
"Bagaimana saat acara kakak? Aku bisa langsung mengumumankannya." Ucapnya.
Kenapa dia terlihat terburu-buru ingin menikah? Apa karena dia sudah sangat tua? Ya dia memang pria yang sudah tua.
"Kau bisa melakukannya. Itu juga cukup baik."
Mereka terlihat senang akan perencanaan ini, bagaimana denganku? Dadaku terasa sakit, aku sudah mencoba segala cara apapun, namun hari ini melihatnya saja, semua usahaku runtuh begitu saja. Sasuke akhirnya bersama wanita lain.
Aku tidak bisa senang.
Makan malam ini berjalan begitu saja, aku tidak menikmati makananku, sesekali wanita bernama Hotaru itu menanyakan kesibukanku sekarang ini, aku menjawabnya biasa saja. Aku ingin pulang. Gejolakan di dada ini tidak nyaman, aku takut jika kelepasan dan marah-marah di saat ada ibu bersama kami. Ibu sudah tahu bagaimana kebenarannya. Ibu juga tidak menyingung masalah yang telah di buat Sasuke.
"Maaf, apa aku bisa pulang lebih awal? Aku harus bangun cepat untuk presentasi pagi." Bohongku. Aku hanya ingin cepat pulang.
"Baiklah, sayang. Haku sudah menunggumu untuk pulang."
"Aku akan mengantarnya ke bawah." Ucap Sasuke tiba-tiba.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."
"Tidak apa-apa. Hanya mengantar saja."
Menyebalkan.
Pamit pada ibu dan mau tidak mau aku harus memasang wajah tebal di hadapan wanita itu. Aku juga harus menunjukkan sopan santunku, walaupun aku tidak suka.
Berjalan lebih cepat. Aku tidak peduli dengan Sasuke yang akan mengantarku.
"Aku pikir kau akan protes dan mengamuk saat di meja makan. Sekarang kau lebih tenang. Aku cukup se-" ucapannya terputus.
Kenapa?
Aku hanya menatapnya, apa dia melihat mata sedihku ini? Sejujurnya aku menahan diri untuk tidak menangis, tapi akhirnya sulit juga untuk di tahan.
"Aku bisa turun sendirian. Sebaiknya kau kembali." Ucapku.
Aku sudah tidak peduli lagi padanya. Sasuke hanya mematung menatapku. Dia tidak lagi berbicara sok hebat di hadapanku. Sekarang kau bisa lebih bahagia bersama wanita pilihanmu.
.
.
.
.
.
Terbangun di pagi hari. Aku sampai memimpikan Sasuke memiliki tunangan. Bergegas ke kamar mandi, kuliah pagi ini di undur, aku jadi bisa santai. Apa hari ini ibu pulang? Kadang sangat sulit untuk menemuinya. Pulangnya sangat malam dan perginya sangat pagi. Aku jarang bertemu dengannya.
Aku haus. Apa sarapan sudah ada? Aku juga lapar. Makam malam di restoran itu hanya penampilan yang mendominasi. Porsinya tidak mengeyangkan perut.
Mematung, Aku melihat Sasuke di rumah ibu.
"Selamat pagi." Sapanya.
Mengucek kedua mataku. Aku yakin jika semalam itu hanya mimpi, tapi aku ingat dengan makanan di restoran itu. menyentuh wajah Sasuke. Ini sungguh bukan mimpi. Jadi semalam?
"Hn? Ada apa?" Tanyanya, tingkahku pasti sangat aneh sekali.
"A-ada apa ke sini?" Ucapku. Aku bahkan tidak ingin menatapnya.
"Ibu memintaku untuk ke rumah dari pada tidur di hotel. Aku senang ibu sudah tidak marah lagi." Ucapnya.
Sasuke bahkan tak tahu jika ibu sudah tahu akan perasaanku juga. Sekarang ibu memilih melupakan apa yang terjadi di hari itu.
"Mengganggu saja." Ucapku. Melewatinya.
"Apa kau akan kuliah?"
"Aku tidak ingin bicara padamu." Tegasku.
"Nona. Apa hari ini-"
"-Kau juga!" Tegasku pada Haku.
Aku malas berbicara pada mereka berdua. Satunya pembohong besar, yang satunya tipe yang tidak setia.
Berhenti.
Apa yang aku harapkan lagi? Melihat wajah kecewa ibu dan ayah? Apa aku bisa memilih untuk kehidupanku? Aku ingin menikah dengan Sasuke dan hidup bahagia, tapi itu tidak semudah yang di bayangkan.
Rasa sesak itu kembali. Aku mengingat jelas jika Sasuke sudah memilih tunangannya dan mereka akan segera mengumumkannya. Ini sungguh tidak adil bagiku.
Sarapan kali ini sedikit berbeda. Sasuke ada bersamaku di ruang makan. Aku tidak pernah melihat Haku sarapan. Kata pelayan dirumah, Haku akan makan lebih cepat dari waktu sarapan yang normal. Dasar orang aneh. Napsu makanku semakin berkurang karena pria ini. Rasa sayangnya tidak terasa lagi. Dia sudah punya pasangan baru.
"Aku tidak percaya jika ibu masih mempekerjakanmu." Ucapnya pada pelayan yang tengah menuang air untuknya.
"Nyonya masih percaya pada saya, tuan."
"Itu lebih baik. Sangat sulit mencari orang sangat di percaya. Apa adik kecilku ini tidak membuatmu kesulitan? Dia masih sangat labil. Aku yakin sikapnya sulit di kendalikan." Ucap Sasuke.
Apa-apaan itu?
Apa dia tengah menyindirku?
Aku memang sempat membentak pelayan wanita ini.
"Saya juga memiliki kerabat yang umurnya sama dengan nona. jadi saya tidak mengalami kesulitan apapun, tuan, saya senang melayani nona Sakura."
"Dengar. Aku bukan anak kecil, kakak yang sok tahu. Aku juga tidak rajin membuat masalah seperti kau." Balasku.
"Aku senang mendengarnya."
"Aku tidak ingin mendengarkan itu darimu."
"Sepertinya kau lebih berani dari pada dulu."
"Apa pedulimu jika aku berani atau tidak. Kau bukan apa-apa selain kakak bagiku."
Kenapa aku menjadi murung? Jangan bersikap lemah seperti itu Sakura! Kau harus lebih kuat di hadapannya! Tunjukkan jika kau tenang-tenang saja tanpa dia.
Segera menghabiskan sarapanku. Aku muak melihatnya.
"Aku masih akan tinggal beberapa hari di Iwa." Ucap Sasuke.
"Apa?"
Aku tidak mengerti arah pembicaraannya.
"Kau ingin jalan-jalan?"
"Tidak. Aku sibuk kuliah. Ajak saja kekasihmu itu."
"Tidak bisa. Dia orang yang sangat sibuk."
"Apa aku terlihat peduli? Kau bisa mengajak orang lain."
"Sakura."
"Aku sangat sibuk!" Tegasku.
Apa dia sengaja melakukannya? Apa dia ingin aku marah lebih dari ini? Apa yang di rencanakannya lagi? Apa dia tidak puas dengan mengatakan rencana bahagianya itu? Sasuke sungguh berubah. Aku tidak percaya jika dia Sasuke yang selama ini selalu bersamaku. Mengatakan suka padaku, bahkan mencapku sebagai pasangannya.
.
.
TBC
.
.
Author sudah tidak tahu lagi. kenapa semakin ingin di percepat selesai. semakin panjang ceritanya =_=
ini emang malah jadi sinetron yaa.
susah banget nemu titik terang yang pas gitu. ada banyak problema yang tidak semudah itu seperti ada reader yang pernah komen, susah amat bikin cerita kalau ujung-ujungnya sasu saku. author berpikir untuk orang semacam itu tidak perlu baca sih. kalau nggka suka ceritanya berbelit kayak kabel tapi kalau ujung-ujung sasu-saku. namanya juga cerita dengan genre drama. kalau nggak ada alurnya. itu bukan cerita namanya. =_=
