Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

Fic ini mengandung unsur yang tidak begitu di terima oleh publik, harap memikirkan segala aspek tanpa fokus hanya pada satu bagian saja.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

.

.

[Blossom In The Winter ]

( Chapter 44 )

.

.

.

.

Hari ini abaikan saja apapun. Aku harus kuliah dan fokus agar tidak mengulang mata kuliah yang dosennya sangat galak. Dimana Haku? Apa dia tidak mengantarku? Atau aku harus pergi sendirian? Ibu melarangku naik kendaraan umum, Haku akan terus menjaga dan mengawasiku.

"Aku tidak melihat Haku." Ucapku.

Mau bagaimana lagi. Hanya ada pria ini yang berdiri di dekat pintu.

"Hari ini aku yang mengantarmu." Ucap Sasuke.

"Untuk apa? Apa sekarang pekerjaan Haku di gantikan olehmu? Jangan membuatmu repot. Kembali ke kota tempatmu bekerja. Aku bisa melakukannya sendirian." Ucapku.

Dimana Haku? Apa dia sengaja bersembunyi agar Sasuke mengantarku? Aku tidak sudi di antarnya.

"Bukannya aku sering mengantarmu dulu?" Ucapnya.

Menatap pria yang pandai sekali berbicara ini. Apa maksudnya menyinggung yang sudah lewat. Aku sudah dewasa. Aku bukan lagi anak kecil bodoh yang mau saja di atur olehnya.

"Aku tidak ingat jika pernah di antar olehmu." Cuekku.

"Aku memaksa kali ini. Kau akan terlambat." Ucapnya, menarikku begitu saja.

"Kenapa sangat memaksa? Kau pikir aku senang?" Kesalku.

"Aku hanya ingin mengantarmu sebagai kakak yang baik."

Cih, masih seolah-olah menjadi seorang kakak. Apa dia lupa, siapa yang membuatku begitu berharap akan hubungan ini? Aku terus memikirkan jika kelak kami akan menjadi pasangan yang sempurna.

Semua kenangan itu jadi terdengar seperti dongeng saja. Semuanya tidak nyata, Sasuke yang berusaha membuatku terus bermimpi untuk menjadi pasangan sempurnanya.

Aku ingin duduk di belakang. Lagi-lagi dia maksaku untuk tetap duduk di depan di sebelahnya.

"Cepatlah pergi. Aku malas melihatmu disini." Ucapku. Hanya mengomel padanya sepanjang perjalanan kami.

"Aku akan segera pergi jadi tenang saja. Lagi pula kita akan bertemu bulan depan di Konoha."

Tidak menanggapi ucapan Sasuke. Saat di Konoha, aku akan berusaha menghindarinya. Kalau perlu aku tidak ingin menemuinya dan pasangannya ketika mereka mengumumkan pertunangan mereka.

"Setelah kuliah. Apa kau sibuk?"

"Aku sangat sibuk. Aku akan pulang tengah malam." Bohongku.

"Aku ingin kau membantuku mencari sebuah cincin."

"Apa kau lihat aku akan membantumu? Jangan harap. Kenapa tidak mengajak kekasihmu itu? Bikin kesal saja."

"Aku sudah mengatakan padamu sebelumnya. Dia sangat sibuk. Lagi pula selera laki-laki dan wanita itu berbeda."

"Kenapa aku harus membantumu?"

"Kau seseorang yang paling berharga untukku. Kau juga dari keluarga kami. Aku akan sangat senang jika adikku sendiri yang memilihnya. Kenapa kau begitu peduli pada kakak dan kak Izuna? Sedangkan aku, kau terus mengabaikanku."

Bodoh.

Kenapa mengatakan seperti itu?

Jelas-jelas karena kau memberi kasih sayang yang berbeda dengan mereka. Aku masih sakit hati akan ucapannya saat itu. lagi-lagi aku lupa apa yang harus aku lakukan jika bersama Sasuke. Anggap sebagai hubungan saudara. Hubungan pasangan itu sudah berakhir beberapa tahun yang lalu.

"Maaf atas sikapku. Aku akan membantumu, kak Sasuke." Ucapku.

Tenanglah Sakura. Semakin aku marah dan kesal padanya, semakin aku sendiri yang merasakan sakit.

"Katakan jam berapa kau akan selesai. Aku akan menjemputmu."

"Aku akan mengirim pesan."

"Oh, akhirnya kau akan mengirim pesan padaku. Padahal aku menunggu pesan yang beberapa tahun lalu dan tidak di balas."

"Aku tidak ingat itu." Ucapku. Aku mengabaikan pesan itu.

Setibanya di kampus. Aku menanggkap sosok yang familiar.

"Disini saja." Ucapku.

Melepaskan sabuk pengaman dan gerakanku terhenti. Apa yang sedang aku lakukan! Aku hampir saja mengecup pipi Sasuke. Ini hanya refleks. Kebiasan yang seperti sudah tertancap di kepalaku. Kenapa kebiasaan itu tidak juga menghilang!

"Ma-maaf. Aku tidak sengaja." Panikku. Menjauh darinya. Jantungku sampai berdebar-debar akibat tindakanku.

"Masih tidak bisa melupakan apapun?" Sindirnya.

Apa dia sedang menggodaku? Aku hanya tidak sadar.

"Aku tidak mengerti akan ucapanmu. Aku sudah minta maaf."

Segera keluar, berlari menghampiri pemuda yang sudah mulai aku anggap sebagai teman.

"Sasori!" Panggilku.

Dia segera menoleh.

"Sakura. Kau ada kelas hari ini?"

"Iya. Hari ini kelas paginya di undur." Ucapku.

Setidaknya suasana kembali tenang, menoleh ke belakang. Segera berbalik. Kenapa mobil Sasuke masih berada di sana?

"Ada apa?" Tanya Sasori.

"Tidak ada."

.

.

.

.

.

[Sasuke pov.]

Tanpa terasa, dia semakin dewasa. Sudah cukup lama kami tidak bertemu, aku terkesan akan perubahan sikapnya, walaupun lebih galak dari sebelumnya.

Aku tidak sadar jika dia akan melakukannya, aku rasa seperti kembali di masa lalu, wajahnya sangat merona, dia hampir melakukan hal yang sering di lakukannya dulu padaku.

Tapi,

Aku melihatnya berjalan bersama seorang pemuda. Mereka terlihat akrab, pemuda itu juga terlihat senang saat Sakura memanggil namanya.

Apa hubungan mereka?

Apa Sakura melakukan seperti apa yang aku ucapkan padanya. Dia bebas mencari pemuda yang dia inginkan dan menjalin hubungan.

Anehnya, Sakura terlihat marah padaku. Cara bicara yang tidak bisa terkontrol, marah setiap detiknya padaku, alis berkerut dan sudut bibir yang tertarik ke bawah akan terus di perlihatkannya padaku. Dia kecewa, aku juga tidak bisa melakukan hal lain selain memiliki hubungan dengan wanita lain. Aku pikir ini akan berjalan lancar. Aku hanya ingin menenangkan pikiran ibu.

"Aku sudah lapor pada nyonya besar akan perasaan nona Sakura pada tuan." Ucap Haku saat kami bertemu.

Aku sudah tahu ini. Aku sempat mengatakan pada Sakura untuk hati-hati berbicara dengan Haku. Dia bukan tipe yang setia pada banyak majikan. Dia hanya setia pada ibu, walaupun aku dan kakakku adalah anak dari majikannya. Haku tidak akan mendengarkan kami. Ini sumpahnya selama bekerja pada ibu.

Ibu bahkan terlihat kurusan, aku yakin dia terus memikirkan kesalahan yang sudah aku buat.

Menjelang sore hari. Akhirnya Sakura mengirim pesan. Dia bahkan tidak membalas pesan yang terlihat sudah bertahun-tahun itu.

Hari ini dia ingin membantuku memilih cincin pernikahan. Aku butuh bantuannya.

Menepih di tempat yang di mintainya untuk menunggu. Aku melihatnya kembali dengan pemuda berambut ikal merah itu. Wajah Sakura terlihat senang. Setelah mereka berpisah. Wajah masam itu kembali di pasangnya. Dia sungguh marah padaku.

"Cepatlah. Aku tidak punya banyak waktu. Aku ada tugas kuliah." Ucapnya.

"Baik nona." Candaku dan di balas dengan tatapan kesal darinya.

"Siapa pemuda yang terlihat bersamamu?" Tanyaku.

"Kau tidak mengingatnya?"

Mengingatnya? Apa aku kenal pemuda itu.

"Kau pasti tidak akan percaya. Dia pemuda yang kau bentak saat masih SMP dulu." Jelasnya.

"Aku tidak ingat." Ucapku.

"Dia menyatakan perasaannya padaku dan berani meminta ijin darimu. Hahah saat itu dia takut dan lari begitu saja. Sekarang kau harus bertanggung jawab, dia jadi trauma karena ulahmu."

"Lalu hubungan kalian apa?"

Sakura terdiam.

"Ini privasi."

"Sejak kapan kau punya privasi? Aku tahu segalanya tentangmu, Sakura."

"Apa yang kau ketahui? Sudah beberapa tahun ini kita tidak bertemu."

"Aku bisa menebak jika kalian tidak ada hubungan."

"Jangan sok tahu kakak. Jika aku katakan kami ini pacaran. Apa kau masih ingin mengatakan aku bohong? Kau bahkan tidak tahu kabarku dalam waktu yang lama."

"Itu kabar yang baik. Akhirnya kau memilih pasangan lain." Ucapku.

Tapi ucapanku itu membuatnya terlihat sangat kesal.

Apa aku salah?

Beberapa menit terlewatkan dengan Sakura yang terdiam. Dia tidak ingin bicara denganku lagi. Memarkirkan mobil setelah tiba di sebuah toko perhiasan yang cukup terkenal, desain yang mereka miliki juga sangat indah dan beragam.

"Pilihlah salah satu yang kau suka." Ucapku.

"Aku tidak tahu selera pacarmu seperti apa. Kenapa aku harus memilih yang aku suka?"

"Biasanya para wanita memiliki selera yang sama."

"Aku tidak jamin, pacarmu itu lebih modis dari pada aku."

"Tidak apa-apa. Aku percaya akan pilihanmu."

"Apa sih. Bikin orang susah saja." Gerutunya.

Memperhatikannya melihat beberapa cincin, walaupun terlihat marah, dia pasti akan memilihnya dengan sungguh-sungguh.

"Apa tuan mencari cincin untuk pertunangan atau pernikahan?" Tanya seorang pegawai padaku.

"Aku ingin cincin untuk pernikahan. Kau bisa memperlihatkannya pada gadis itu, dia yang akan memilih." Ucapku menunjuk Sakura yang sibuk melihat segal jenis desain cincin.

"Baik, tuan."

Apa itu? Dia jadi terlihat antusias. Aku hanya ingin melihatnya memilih saja.

"Sasuke. Cepat ke sini!" Panggilnya.

"Apa sudah selesai?" Tanyaku.

"Aku menemukan beberapa yang bagus. Ini akan sangat cocok untuknya." Ucapnya.

Dimana sikap kesalnya tadi? Dia jadi bersemangat untuk memilih cincinnya.

"Bagaimana dengan ini? Ini menggunakan batu yang langka." Ucapnya.

Dia tidak salah memilih, cincin yang indah. Mengambil cincin itu dan memasangkan pada jari manisnya, cincin itu sesuai untuknya, bahkan terlihat lebih indah berkali lipat setelah di pakainya.

"Ke-kenapa di pasangakan padaku!" Protesnya.

"Jari kalian sama." Ucapku.

Tatapannya berubah murung. Aku terlalu membuatnya kesal.

"Aku ingin yang ini, tolong di bungkus dengan rapi." Ucapku. Melepaskan cincin itu darinya.

"Apa kau tidak ingin sesuatu? Aku akan membelikannya untukmu sebagai hadiah."

"Tidak. Apa kita bisa ke tempat makan saja? Aku lapar." Ucapnya. Sikapnya tiba-tiba berubah.

Buruknya.

"Siapa yang mengajarimu minum?" Tanyaku. Aku tidak bisa tenang melihat tingkahnya seperti ini.

"Siapa? Apa kau tidak pernah kuliah? Senior bahkan akan memakimu jika tidak mengambil minuman dari mereka." Ucapnya. Kesadarannya mulai menurun.

Aku tidak bisa menahannya, bukannya memesan makanan, dia memesan minuman beberapa botol.

"Kita pulang." Ucapku.

"Aku sudah dewasa, kenapa kau masih memerintahku?"

Dia mulai tidak terkendali.

"Sebaiknya kita pulang dan istirahat."

"Tidak. Satu botol lagi."

"Berhenti kataku!" Aku sampai harus memarahinya.

"Kau terlalu kolot dan tua!" Balasnya. Dia jauh lebih marah.

Aku sudah tidak peduli lagi. Segera membayar dan mengangkatnya dari sana.

Hari sudah gelap. Dia tidak banyak bicara selama perjalanan, lebih tepatnya, Sakura tertidur.

.

.

TBC

.

.


author update tiap hari kalau udah kelar ngetik. ini kalau di tinggal lama, semakin author lupa konsepnya. (kayak pernah ngomong begini ya, berasa dejavu) akhirnya ada titik terang untuk menyelesaikan fic ini, walaupun cukup ekstrim nantinya. =_= *lebay* hehehe.

ya author cukup sibuk karena sudah tak WFH, kerja full, pas pulang kerja, nggak bisa ngetik, nge-bleng di depan laptop saja, malamnya ngantuk, pagi lagi kerja. bingung, ini lanjutannya kemana yaa. sampe pengen bongkar otak =_= *lebay part 2*

tapi author berterima kasih jika kalian masih rajin membacanya walaupun ceritanya semakin berbelit kek benang kusut.

kalian terbaik lah. author hanya nulis tapi tidak ada artinya apa-apa jika tak di baca oleh kalian (para reader).

baca juga oneshoot terbaru author yang judulnya "littler cat" dan "Toxic"

okey, thanks...~