Author Note: Well. Untuk Chapter ini. Balasan Review 5 Chapter kemarin akan dibuat di awal dalam bentuk ringkasan saja.

Ingatan yang diekstrak dari Naruto di Elysium hanya sebagian kecil dan itu beberapa saat sebelum kematiannya. Sudah ada di Chapter 41. Mungkin soal ingatan Naruto sebenarnya agak sedikit rumit.

Untuk Trihexa/666, sudah ada rencana untuk Monster Malapetaka ini sendiri. Tentu saja dia akan menjadi salah satu Last Boss. Itu untuk sekarang. Biarkan cerita mengalir dulu karena ini belum waktunya 666 ambil bagian kecuali disebut-sebut oleh yang pernah berhadapan atau tahu sejarahnya.

Madara dkk tak akan bergabung dalam Fraksi manapun. Justru sebaliknya mungkin. Beberapa fraksi atau golongan yang bergabung di kelompoknya atau setidaknya menjadi sekutu. Disini mereka akan bertindak dan bergerak sesuai keinginan tanpa diperintahkan siapapun. Kalau mereka ingin menyerang Underworld atau tempat lain, langsung serang tanpa menunggu persetujuan pihak-pihak manapun. Bahkan jika itu ditentang oleh sekutu Madara dkk, tak akan menghentikan jika sudah diniatkan apapun resikonya.

Buat Chapter begituan atau Lemon. Tidak akan ada disini. Namun, kedepannya rencana mau bikin dan dipisah dari Cerita utama ini.

Pair. Aah, untuk satu ini jangan terlalu berharap dulu munculnya akan cepat—tepatnya terlihat jelas. Pairnya Harem, 4-5 Heroine. 2 dari 5 sudah muncul dan silahkan ditebak sendiri. Lagipula sudah ada spoiler di Cerita One-Shot kemarin tentang Naruto punya wanita yang dia cintai. Cuma ya, akan lama jadian.

Untuk Maid di Chapter kemarin. Jawabannya ada di sini.

Terakhir Madara. Kemarin ada satu Review yang mengatakan akan bagus dan lebih mudah kalau Buff Madara adalah Rinnegan dengan cara mengambil sel Hashirama. Ya, kalau rencananya seperti itu, sudah dari awal Madara akan dapat Rinnegan. Sayangnya, tidak. Asal usul, perkembangan dan pengaplikasian Chakra di sini berbeda dari Canon Naruto. Sudah jelas dari tak adanya informasi mahluk-mahluk seperti Azazel, Michael ataupun Patheon lain yang sudah lama hidup tentang Chakra keturunan Otsutsuki.

Seandainya asal usul Chakra disini sama seperti di Canon Naruto, susah pasti ada yang pernah melihat di suatu tempat atau setidaknya tahu tentang Pohon Shinjuu yang bisa kelihatan dari jarak belasan sampai puluhan kilometer ataupun merasakan pancaran Chakra darinya yang pasti sangat besar dan kuat, tapi tak ada kan? Jadi, lihat saja nanti bagaimana asal usul Manusia Pengguna Chakra Keturunan Otsutsuki bermula versi AU cerita ini.

Oke, sekian balasan Review dalam bentuk Author Note-nya. Silahkan dinikmati Chapter terbaru ini.


Disclaimer: Semua unsur-unsur Anime, Manga, LN/WN, Film dan Game atau karya fiksi dalam bentuk apapun yang muncul di cerita ini milik penciptanya masing-masing. Sekian!


.

.

.

.

.

[Arc IV]

[Nearest Place From Heaven]

.

.

[Chapter 41]

[Resurrection — A Little Piece from Past II: Lucifer]

.

.

.

.

.

.

.


"Sirzechs, Ajuka, sebaiknya kalian berdua memberi alasan bagus memanggil kami malam-malam begini. Demi celana dalam Gabriel, ini jam sebelas malam waktu Jepang, sialan!"

Maōu Lucifer (Satan Lucifer) hanya menghela nafas kemudian memberi tatapan meminta maaf kepada Azazel yang baru saja berbicara. Sirzechs sebenarnya juga ingin beristirahat, namun situasi yang terjadi karena kejadian kurang dari sejam lalu memaksa dia segera mengadakan pertemuan darurat.

"Pertama-tama, aku meminta maaf kepada kalian semua karena panggilan mendadak ini."

Sekali lagi Sirzechs memasang wajah meminta maaf, namun sekarang tak lagi ke Azazel seorang, melainkan kepada setiap yang hadir di ruangan tersebut.

Mereka adalah Ajuka, Azazel, Odin dan Michael. Lebih tepatnya proyeksi tiga orang selain dua iblis disana. Karena ini merupakan pertemuan mendadak mengakibatkan Azazel, Odin dan Michael tak bisa hadir secara langsung sehingga mereka menggunakan alat bernama [Thought Projection Device].

"Permintaan maaf diterima." Ujar Michael mewakili Azazel dan Odin yang mana keduanya mengangguk.

"Terima kasih." Kata Sirzechs tersenyum sesaat sebelum akhirnya ekspresi serius langsung melekat di wajah.

"Setengah jam lalu ... Serangan kedua menimpa Dunia Bawah."

Dengan kalimat yang sempat diberi jeda tersebut bom dijatuhkan Sirzechs. Michael bersama Odin melebarkan mata, terkejut.

"Serangan—"

"—lain?"

Michael disusul Odin berujar masih terkejut. Walaupun keadaan sekarang memang akan rentang terhadap terjadinya serangan mengingat aliansi telah tercipta tentu saja akan mengundang serangan beberapa pihak yang tak sejalan dengan alasan dibalik terciptanya hal tersebut. Namun, serangan lain dalam waktu singkat—bahkan belum berumur seminggu dari serangan terakhir di kota Liliht tentu saja akan mengejutkan.

Sementara dua pemimpin menunggu jawaban dari pertanyaan yang di lontarkan. Di sisi kiri, hologram Azazel menghela nafas panjang.

"Kali ini daerah mana yang hancur? Dan siapa pelakunya?" tanya mantan Gubernur Grigory dengan suara seperti sudah letih mendengar kabar yang datang sili berganti perihal perseteruan antara mahluk supernatural di dunia.

"Serangan kedua terjadi di Lucifaad. Ibukota sebelumnya dari Underworld." Di samping kanan Sirzechs, pemegang gelar Beelzebub saat ini mengambil alih percakapan dengan menjawab dua pertanyaan Azazel sekaligus memberikan kepastian kepada Michael dan Odin tentang serangan setengah jam lalu.

Ajuka, setelah menelan kekalahan pahit bersama Serafall di tangan Vali yang berakibat kehilangan anggota badan, mata sang Maōu semakin terbuka bahwa dia maju sebagai pemimpin Dunia Bawah bukan hanya karena mengikuti jejak Sirzechs. Sejak serangan Lilith tempo hari, Ajuka semakin bertambah serius menjalankan tugas sebagai pemimpin. Terbukti dari tindakan pasca serangan Lucifaad yang dilakukan Sirzechs adalah perintah dari Ajuka.

Tentang kondisi fisik Ajuka, anggota badan yang direnggut [Half Dimension] Vali sudah beregenerasi kembali berkat bantuan Phoenix Tear dari klan Phenex. Terimakasih pada Lucifer ada klan berkemampuan seperti Phenex.

"Masalah siapa dalang di balik serangan ini, sayang sekali kami, pihak iblis, tak memiliki banyak petunjuk." Ajuka menjawab pertanyaan kedua Azazel sedikit dibumbui kemarahan dan kekhawatiran. "Petunjuk terkuat kami saat ini hanya hasil penyelidikan sekelompok iblis yang kami kirim kesana dan kembali beberapa saat lalu."

"Jejak energi mengindentifikasi bahwa pelaku penyerangan bisa dihitung jari saja, dan mereka menggunakan Yōuki setingkat iblis kelas ultimate ..." Sirzechs melanjutkan dengan mulai membeberkan hasil penyelidikan kelompok yang dia kirim atas saran Ajuka.

" ... Jejak kehancuran di reruntuhan Lucifaad juga memberikan petunjuk serangan mereka datang dengan sangat cepat dan tak terdeteksi sehingga ratusan iblis disana tak sempat mengambil tindakan lain kecuali mempertahankan diri." Dan Ajuka menyelesaikan ringkasan laporan hasil penyelidikan.

Azazel bersama Michael langsung memasang wajah penuh perhitungan selepas mendengar dua iblis di ruangan. Di tengah-tengah, proyeksi Odin menggaruk-garuk jenggot panjang sambil memikirkan satu kelompok yang paling mendekati ciri-ciri tersebut.

"Kelompok Uchiha Madara?" tebak Dewa tertinggi dari Asgard.

Siapa lagi kelompok yang berjumlah tak lebih dari sepuluh, rata-rata anggota setingkat iblis kelas ultimate bahkan kemungkinan bisa lebih, dan terakhir, cukup gila menyerang teritori salah satu golongan terkuat?

Otomatis kelompok Madara yang pertama terlintas di kepala Odin, dan di samping kanan Michael nampak setuju pada tebakan tersebut.

"Kami juga berpikir demikian, namun ..."

"Hae, berhenti sejenak. Ada hal merepotkan yang baru saja ditangkap pikiranku, dan itu sangat mengganggu." Azazel dengan sigap menyela ketika sadar ada yang aneh pada dua Maōu di hadapan mereka. "Simpan kegiatan tebak-menebak pelaku yang aku tanyakan tadi. Serius, aku benar-benar terganggu oleh ekspresi kalian berdua."

Semua pasang mata langsung tertuju pada Azazel pada titik ini. Menomor duakan dalang dan fokus pada hal lain tentu saja cukup untuk menarik perhatian yang lain, apalagi tadi Azazel sendiri yang bertanya siapa dalang dibalik serangan Lucifaad.

"Jika serangan terjadi di wilayah seperti wilayah Gremory, New Lilith, Agares atau wilayah lain aku bisa memahami kekhawatiran kalian yang berlebihan ... Tapi, ini Lucifaad. Sepengetahuanku disana hanya ada reruntuhan bekas kejayaan masa kepemimpinan Lucifer pertama."

Mata mantan Gubernur Grogory inikemudian menajam pada Ajuka dan Sirzechs. "Kecuali ... Disana ada sesuatu yang membuat kalian sekhawatir ini."

Tebakan Azazel tepat sasaran. Memang ada yang dikhawatirkan pihak Iblis atas serangan Lucifaad.

Sirzechs menghela nafas panjang. Dibalik kepribadian menyebalkan Azazel, dia tetaplah seorang veteran perang dan mantan pemimpin salah satu golongan terbesar di dunia supernatural. Sirzechs maupun Ajuka tak akan terkejut lagi bila Azazel mampu membaca situasi hanya dari ekspresi wajah mereka.

Michael dan Odin kemungkinan juga membaca situasi, hanya saja kedua pemimpin ini lebih fokus pada poin menebak pelaku dari petunjuk yang dibeberkan.

"Azazel, Michael ... Katakan pada kami, sebagai yang pernah bertemu, berinteraksi dan bertempur secara langsung melawan Lucifer. Seperti apa sebenarnya Lucifer?" alih-alih memuaskan rasa penasaran Azazel tentang kekhawatirannya bersama Ajuka, Sirzechs justru melempar balik sebuah pertanyaan.

Azazel mengerutkan kening. "Ada apa dengan pertanyaan tiba-tiba tentang Lucifer?"

"Ini merupakan rahasia bangsa kami sejak Great War berakhir. Di Lucifaad, lebih tepatnya dibawah reruntuhan kastil Lucifer, tertimbun sesuatu yang sampai detik ini tak kami ketahui apa itu. Bahkan, iblis tua seperti Zekram Bael tak mengetahuinya dengan jelas sesuatu di balik pintu besar yang dipasangi segel tersebut ... Setidaknya, jika kami mendapatkan sedikit info tentang Lucifer selain dari golongan kami—para iblis, bisa memberikan sedikit petunjuk rahasia apa yang disimpan Lucifer di bawah kastilnya."

"Hmn, baiklah ..."

Azazel bergumam dengan suara aneh selagi menggali ingatan ribuan tahun lalu, tepatnya selama Great War hingga berakhir dengan kabar kematian Lucifer bersama tiga Raja Iblis lain dan juga Tuhan. Hal pertama yang terlintas di pikiran Azazel tentu saja keanehan informasi dari masing-masing pihak yang bersiteru dalam Great War tentang kematian Lucifer dan Tuhan.

Namun, karena bukan itu yang diminta Sirzechs dan Ajuka sehingga dia mengabaikan ingatan tersebut dan lebih fokus ke pandangan pribadi terhadap Lucifer.

"Jika dibandingkan dengan kalian—para iblis yang sekarang, Lucifer adalah gambaran sesungguhnya dari iblis di mata dunia, baik dunia manusia maupun supernatural ... Jahat, keji, brutal, buruk, sampah, salah, kasar dan licik. Lucifer memiliki semuanya dalam satu paket lengkap yang menjadikan dia sebagai tipe salah satu mahluk terburuk yang pernah ada ... Seperti sesama Raja Iblis dan keturunan mereka, Lucifer memiliki kepribadian mendominasi ekstrim. Juga, Lucifer memiliki arogansi tak berujung, bersama tiga Raja Iblis secara tirani ingin menjadi Raja Dunia dengan menghancurkan dunia lalu merevolusinya untuk membuat defenisi mereka sendiri tentang New World of Devils ..."

Selama berbicara, Azazel sama sekali tak kehilangan ekspresi serius di wajah mengingat yang dibahas merupakan pencetus salah satu perang terhebat dalam sejarah supernatural dengan jumlah korban milyaran jiwa dari ketiga pihak, dan individu yang berani mengemukakan tujuan menghancurkan, merevolusi lalu menguasai seluruh dunia dibawah satu bendera. Bendera bangsa Iblis.

Ajuka dan Sirzechs, serta tidak ketinggalan Odin mendengar dengan seksama informasi yang dibeberkan Azazel. Namun, karena apa yang dijelaskan Azazel sudah diketahui Ajuka dan Sirzechs, mereka tidak buka suara mempersilahkan Mantan Gubernur Grigory ataupun Michael jika ingin menambahkan.

Melirik sejenak Michael, Azazel mendapati Malaikat itu belum ada niat berbicara atau masih memikirkan pandangann seperti apa yang diberikan pada Lucifer.

Azazel mengembalikan fokus ke dua Raja Iblis di depannya. "Selanjutnya yang merepotkan dari Lucifer selain sosoknya sebagai iblis sejati, sekaligus membuatku pribadi menghormati Lucifer bukan sebagai sesama mantan Malaikat, namun sebagai mantan musuh dalam Great War adalah; kombinasi semua kemampuan yang dia miliki ... Karena belum sempat satu lawan satu dengan Lucifer, aku tak bisa memastikan seberapa kuat dia. Namun, banyak mimpi buruk yang masih membekas di ingatanku hingga saat ini tentang monster seperti apa Lucifer sebenarnya."

Ketika pembahasan tentang Lucifer oleh Azazel sudah keluar dari masalah kepribadian, disitulah Michael akhirnya memuntahkan unek-unek yang sedari tadi ditahan.

"Hêlēl—maksudku Lucifer (light-bringer), sebelum jatuh dari Surga dan dianggap sebagai iblis, merupakan salah satu malaikat terkuat selain Azriel, Kushiel, Raziel dan beberapa lainnya. Bahkan Kushiel sendiri mengatakan Lucifer adalah pemilik Tangeki (Divine Power) terkuat dan terbesar diantara semua malaikat yang pernah diciptakan Ayah."

Azazel tiba-tiba mengerang. "Untuk seorang Malaikat se-brutal, keras kepala dan memiliki senjata yang mampu meratakan dunia dengan sekali tebasan seperti Kushiel mengakui Lucifer sebelum jatuh dari Surga lebih kuat dari Malaikat lain, aku sepertinya sedang bermimpi." Cela Azazel setengah bercanda tidak habis pikir kenapa Michael berkata demikian. Azazel bukan meragukan kekuatan Lucifer, namun yang lainnya.

"Sayangnya itu adalah sebuah kebenaran karena saat Kushiel mengatakan hal tersebut, aku berada di sana."

"Iya, iya, aku tahu. Tidak usah menatap seperti saja kau ingin membunuhku, Michael." Kata Azazel sambil mengibaskan tangan di depan wajah menyaksikan ekspresi pemimpin Surga yang biasa tenang dan penuh kedamaian berubah drastis. "Lagipula kau salah menangkap sesuatu disana radi."

"Permisi?" Michael mengerutkan kening agak kurang paham pada bagian mana dia salah.

Azazel menyipitkan mata selama beberapa saat sebelum menghela nafas. "Sudahlah, lupakan saja."

Gerutuan Azazel membuat keadaan menjadi terbalik, kini giliran Michael yang menyipitkan mata curiga pada mantan Gubernur Grigory. Michael yakin ada sesuatu yang diketahui Azazel tentang Kushiel dan Lucifer, dan dia tidak tahu tentang itu.

Azazel mengabaikan pandangan curiga Michael lalu menadahkan wajah ke atas untuk menelusuri ingatan lebih jauh tentang subjek mereka. "Aku tidak akan berkomentar tentang Tangeki Lucifer adalah yang terkuat dan terbesar diantara semua Malaikat. Namun, bukan berarti aku tidak setuju."

"Hooo ... " Odin yang sejak pembahasan Lucifer dimulai diam menyimak akhirnya buka suara kemudian menggaruk jenggot panjang miliknya. "Biar kutebak. Yōuki (Demonic Power) Lucifer sama seperti Tangeki miliknya."

Tebakan Odin tepat sasaran dengan sebuah bukti berupa anggukan setuju dari Azazel dan Michael.

Setelah mengangguk, pandangan Azazel langsung tertuju pada iblis yang dikatakan terkuat di masa sekarang. "Bisa dibilang tingkatan Yōuki Lucifer setingkat atau bahkan bisa lebih darimu, Sirzechs ... Salah satu mimpi buruk yang masih membekas di kepalaku, di penghujung Great War, ketika pihak kelima datang mengacaukan peperangan. Disitulah saat-saat terakhir aku melihat Lucifer. Dia melepaskan semua Yōuki miliknya sekaligus dan apa yang ditimbulkan selanjutnya persis sepertimu ketika melakukan hal sama di Perang Sipil Iblis ... Seluruh Dunia Bawah, kemungkinan tingkat lainnya juga, mengalami gempa hebat."

Wajah kedua iblis di ruangan berubah ekspresinya. Sebab mereka berdua merasakan gempa yang dimaksud oleh Azazel, namun baru tahu jika penyebabnya adalah pelapasan seluruh Yōuki Lucifer. Sepertinya masih banyak yang disembunyikan oleh iblis-iblis tua yang selamat dari Great War.

"Setelah ini, pertemuan tetua klan 72 pilar adalah pilihan tepat untuk mencari tahu petunjuk rahasia seperti apa sebenarnya dibawah kastil Lucifaad." Gumam Sirzechs dan Ajuka dalam hati berpikiran sama.

Kecuali informasi tentang kematian Lucifer, Azazel dan Michael tanpa berdiskusi ataupun melempar kode setuju untuk melewati detail yang terjadi setelah pelepasan seluruh Yōuki Lucifer. Belum waktunya untuk Sirzechs dan generasi sekarang tahu tentang apa yang terjadi di penghujung Great War.

Dan sebelum Sirzechs maupun Ajuka bertanya siapa pihak kelima yang mengacaukan peperangan, Azazel segera berbicara,

"Selain Yōuki yang bisa diklasifikasikan setingkat Dewa Penghancur, kekuatan dan ketahanan fisik juga menjadi aspek kenapa Lucifer pantas menyandang predikat salah satu monster sejati yang pernah ada."

"Tunggu!"

Setelah beberapa saat lamanya hanya menyimak dan sesekali memikirkan sesuatu, Ajuka menyela Azazel.

"Sirzechs," dia memanggil sesama Raja Iblis yang langsung menoleh. "Ini hanya aku saja atau kau juga berpikiran sama?"

Sirzechs mengangguk. "Aku tahu, aku tahu."

"Hmmn?" Azazel bergumam pelan tak jelas tidak paham maksud dari kedua iblis disana.

Ajuka menatap serius namun ada ekspresi penolakan disana. "Kau terlalu melebih-lebihkan Lucifer jika pengetahuan dari para tetua kami benar."

Seringai berarti terukir di wajah Azazel. "Itu artinya kalian perlu memastikan pengetahuan tersebut benar atau tidak. Ada kemungkinan kalian telah dibohongi perihal Lucifer." Katanya dengan suara mengejek. Sesuatu kemudian muncul di pikiran Azazel. "Aah, aku sudah tahu sekarang ... Demi menjatuhkan rezimLucifer dan pengikutnya, huh."

"Apa maksudmu?" tanya Ajuka kemudian.

"Yah, kurang lebih seperti yang aku katakan. Demi menjatuhkan rezim Lucifer dan mengambil alih pemerintahannya, para iblis tua yang mengenal Lucifer berbohong kepada generasi kalian dan dibawahnya ... Katakan padaku, apakah kalian tetap akan memulai kudeta terhadap pengikut Lucifer jika tahu dia adalah monster sejati yang bahkan dikeroyok Azriel, Kushiel serta beberapa petinggi Surga dan Grigory belum bisa membunuhnya. Walau sempat dibuat ketakutan oleh Kushiel karena mengeluarkan pedangnya, namun Lucifer tetap maju dan meladeni mereka semua hingga kedua Nitenryūdatang mengacaukan peperangan."

Ajuka dan Sirzehcs langsung tersinggung oleh pertanyaan Azazel. Itu seperti mereka, fraksi anti empat raja iblis terdahulu diremehkan.

Namun, Azazel belumlah selesai. Masih ada yang ingin disampaikan.

"Lagipula ... Tanpa Lucifer, kalian—ras iblis tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Lebih tepatnya tidak akan ada di dunia ini."

Check mate! Oleh statement tersebut, Azazel berhasil membungkam Ajuka dan Sirzechs. Fakatanya memang jika tak ada Lucifer, ras iblis tidak akan menjadi salah satu ras terkuat.

Sirzechs menggeleng internal untuk mengabaikan statement Azazel. Mengabaikan bukan berarti menolak. Sirzechs menerima fakta tersebut, menerima jika bukan karena Lucifer ras iblis tidak akan seperti sekarang. Bahkan jika bukan karena Lucifer, dia tidak mungkin terlahir dari hasil kerja sama Venelana dan Zeoticus di atas ranjang.

"Memang benar jika bukan karena Lucifer, kami tidak akan ada sekarang. Dia adalah leluhur kami ... Melalui tubuh istrinya Lilith, Lucifer menciptakan iblis-iblis dari 72 Pilar keluarga bangsawan kelas atas Dunia Bawah, Extra Devil dan kekuatan militer terdiri dari iblis kelas menengah dan rendah yang tak terhitung jumlahnya di bawah mereka ..." pada jeda yang diciptakan Sirzechs, wajahnya mengeras. " ... Namun itu tidak akan jadi alasan kami tidak akan melakukan kudeta. Seperti yang kau katakan sebelumnya Azazel, Lucifer bersama tiga Raja Iblis lain memiliki kepribadian mendominasi ekstrim. Setelah mereka berempat gugur, keturunan mereka kecuali Rizevim ingin melanjutkan Great War. Itu menjadi awal kudeta yang berubah menjadi perang sipil. Dipimpin oleh keluarga Bael yang mengakui kepemimpinan jatuh ke mereka setelah empat Raja Iblis pertama gugur, sisa-sisa 72 Pilar, bersama-sama kami akhirnya berhasil memenangkan perang dan mengambil alih pemerintahan ras iblis." Jelas Sirzechs serius yang sayangnya tidak membalikkan perkataan Azazel.

Menyadari hal tersebut, diwakili oleh Odin yang pertama berbicara, berniat mengangkat kembali perkataan Azazel beberapa saat lalu.

"Itu tidak menjawab perkataan Bocah Azazel, Lucifer-dono."

"Tentang apakah kami tetap melakukan kudeta apabila Lucifer masih hidup? Ya, kami tetap akan melakukannya." Kata Sirzechs dengan nada final. "Jadi, bisakah kembali ke awal tentang Lucifer?"

Azazel mengerang, lagi. "Oke-oke ..."

Sepertinya cukup sampai disini Azazel engujii kesabaran Sirzechs yang sumbunya sudah mulai memendek gara-gara bangsa dan wilayahnya kurang dari seminggu dua kali kena serang.

Walaupun setuju untuk melupakan topik tersebut, ada bagian dalam diri Azazel dan Michael yang bertanya-tanya apakah pihak Sirzechs akan menang apabila Lucifer masih hidup. Ketiadaan Lucifer dan keturunan dalam perang sipil saja sudah membuat kemenangan pihak Sirzechs tidak mudah, apalagi jika ada. Itupun kemenangan Sirzechs diperoleh berkat informasi Grayfia yang membelot.

Bahkan tanpa menghitung Rizevim dan anaknya, Lucifer sudah lebih dari cukup membuat pihak Sirzechs kalah telak bahkan jika Grayfia ada di pihak mereka sebagai keuntungan.

Ya, setidaknya kejadian tersebut sampai tak jadi kenyataan dan bisa dibilang sebuah keberuntungan untuk dunia. Baik Azazel maupun Michael bersyukur Lucifer sudah tiada dan sekarang ras iblis telah menjadi ras yang lebih baik dibawah kepimpinan Sirzechs dan tiga Raja Iblis yang menginginkan perdamaian memberikan salam kepada dunia.

"Jadi, apa yang selanjutnya kalian ingin tahu perihal bajingan itu?" tanya Azazel kembali ke topik awal mereka tentang Lucifer.

"Kau tadi mengatakan 'kombinasi semua kemampuan yang dimiliki', itu artinya masih ada yang lebih merepotkan selain Yōuki dan kekuatan fisikLucifer."

"Aah, itu." Sahut Azazel ceria melihat ke Ajuka yang mengungkit hal tersebut. Azazel nampaknya cukup menikmati rasa penasaran Sirzechs dan Ajuka pada leluhur mereka. "Lucifer seorang perencana dan ahli strategi yang handal. Walaupun tidak mendekati Maōu Asmodeus sekarang, tetap saja merepotkan."

"Selain itu, hidup lama sebelum Age of Man atau apapun sebutan untuk 'era dimulainya peradaban manusia' membuat Lucifer memiliki pengetahuan yang sangat banyak tentang dunia. Itulah kenapa Lucifer bisa menciptakan iblis-iblis 72 pilar Dunia Bawah dengan berbagai macam kemampuan khusus dalam waktu singkat sebagai persiapan perang." Kata Michael menambahkan.

"Persiapan perang, huh." beo Azazel dengan kening mengkerut. "Aku baru tentang itu. Aku mengira Lucifer menciptakan ras iblis hanya untuk memuaskan hasrat dominasinya yang ekstrim. Yang kemudian mengincar lebih dari itu, merevolusi dunia ini menjadi New World of Devils."

Michael melenguh panjang. "Tak mengejutkan lagi jika Lucifer sampai sejauh itu. Sejak berada di Surga, dia memang salah satu saudaraku yang paling sulit ditebak ... Salah satu tindakan paling mengejutkan dan tak terduga Lucifer adalah; jauh sebelum kejatuhannya, Lucifersempat beradu argumen dengan Ayah, padahal dia adalah yang paling patuh kepada Ayah apapun itu walau caranya agak ekstrim. Aku agak lupa apa penyebab perdebatan tersebut terjadi dan seperti apa hasil akhirnya. Namun apa yang aku dengar, itu tentang perang dan kedamaian dimana Lucifermengatakan satu hal yang sampai sekarang masih membekas di kepalaku yaitu ..."

Oleh kalimat yang sengaja digantungkan Michael, secara alami orang dalam ruangan diam menunggu kelanjutan sehingga menciptakan jeda dengan keheningan yang cukup untuk mengembalikan ketegangan seperti di awal-awal pertemuan terjadi.

.

.

"'... Jika mengharapkan perdamaian, maka bersiaplah untuk peperangan.'"

.

.

.

.

.

.

.


Ini merupakan malam yang sangat panjang. Naruto Lucifer tahu itu akan terjadi ketika kembali ke kediaman lamanya sebelum ditemukan Jiraiya dalam keadaan hilang ingatan dan dibawa ke desa Konoha untuk menetap di sana.

Ingatan tentang kehidupan sebelum ke Konoha mungkin masih sangat jauh untuk dikatakan lengkap. Namun, Naruto tahu pasti bahwa banyak, sangat-sangat banyak hal yang terjadi pada dirinya selama tinggal di mansion tersembunyi yang letaknya beberapa kilometer dari Lucifaad ini.

Itulah tujuan Naruto ke sini. Mencari tahu semua ingatan masa lalunya dalam rangka mencari tahu siapa dirinya sebenarnya, alasan kenapa terlahir/dilahirkan, alasan kenapa sampai berakhir ditemukan Jiraiya, dan yang paling penting adalah memastikan apakah tujuan yang dia usung sekarang bukanlah pilihan salah setelah dibangkitkan kembali dari kematian.

Selain yang berkaitan dengan dirinya, Naruto setidaknya juga harus mengetahui tentang sila-sila keluarga Lucifer yang mengalir dalam nadinya. Kemungkinan, jika mengetahui tentang leluhurnya, satu dari sekian banyak pertanyaan dalam kepalanya bisa terjawab.

Beruntung bagi Naruto, Maid yang menyambut penuh kasih sayang ketika tiba tadi dengan senang hati menceritakan semua tentang Lucifer hampir sejam lamanya.

.

.

" ... Dan itulah saat-saat terakhir aku melihat Tuan Lucifer sebelum dinyatakan tewas bersama Tuhan."

Maid menutup cerita panjangnya dengan helaan nafas menyiratkan banyak kesedihan. Kesedihan tersebut semakin terlihat oleh adanya kerutan di wajah cantiknya.

Ada kemungkinan bahwa sang Maid merasa kehilangan yang sangat besar oleh kematian Lucifer pertama.

"Ada apa, sayang?" tanya Maid itu ketika melihat kening Naruto mengkerut. "Aah, maafkan aku. Aku lupa jika Naruto-kun tumbuh besar menggunakan bahasa Jepang. Jika ingin, saya bisa mengulangi cerita tentang Lucifer-sama menggunakan bahasa yang mudah Naruto-kun pahami." Jelasnya menebak dan tidak lupa mengubah bahasa yang digunakan.

Naruto menggeleng cepat. "Tidak, tidak! Aku mengerti semuanya. Bukankan setiap iblis, murni, setengah dan reinkarnasi pasti memiliki kemampuan [Language] untuk mengerti berbagai macam bahasa." Dia begitu kagum pada kakek buyutnya karena mampu memikirkan kemampuan sederhana namun sangat membantu ini. Belum lagi beberapa kemampuan non-kombat lain yang sangat berguna. Sungguh, sejauh mana sebenarnya pengetahuan kakek buyutnya itu sampai bisa memprogram ratusan atau mungkin ribuan kemampuan unik ketika menciptakan iblis dari tubuh Lilith.

Seandainya Kakek Buyutnya itu masih hidup, Naruto yakin dengan semua kemampuan yang dimiliki kakek buyutnya pasti masuk dalam jajaran mahluk terkuat di alam semesta.

Namun, dari semua yang dia tangkap dari Sang Maid. Ada satu hal yang cukup menganggu di kepala Naruto.

Mengadopsi ekspresi serius, Naruto menatap langsung ke mata biru lawan bicaranya. "Kalau memang Ojii-sama sekuat itu, apa yang membuatnya tewas?" Itulah yang muncul di benak Naruto sehabis mendengarkan cerita panjang tadi. "Sejauh yang aku tahu, dari pihak iblis dan malaikat jatuh mengatakan bahwa Ojii-sama tewas bersama Kami-sama setelah bertarung serius di penghujung perang."

Sang Maid menghela nafas panjang. "Sebenarnya aku pun tak tahu penyebab Lucifer-sama tewas. Aku sudah mengatakan bahwa saat terakhir aku melihat Lucifer-sama ada ketika pihak kelima yaitu Monster Malapetaka datang mengacaukan peperangan. Ada banyak kemungkinan ... Lucifer-sama dibunuh oleh Monster tersebut atau seperti yang dikatakan pihak iblis dan malaikat jatuh, Lucifer-sama mati bersama Kami-sama setelah melakukan pertarungan tiga arah bersama Monster tersebut ... Atau bisa juga Lucifer-sama dibunuh Kami-sama sebelum akhirnya ikut tewas dalam penyegelan kembali Monster tersebut."

Mendesah frustasi tidak mendapatkan apa yang diminta, Naruto kemudian memijit pelan kening, "Jadi, kematian Ojii-sama masih simpang siur." Gumamnya pelan.

"Begitulah, Naruto-kun. Tepat setelah kemunculan Monster Malapetaka atau dunia supernatural mengenalnya sebagai Trihexa, seluruh pasukan tiga fraksi mundur dari medan peperangan menghindari amukan Trihexa sehingga tak ada satupun yang menyaksikan kematian Lucifer-sama dan Kami-sama." Sang Maid berhenti sejenak, menarik nafas panjang sekaligus mempersiapkan apapun yang akan terjadi ketika dia mengatakan salah satu fakta yang saat ini sangat akurat tentang Lucifer.

"Kemudian, tak lama setelah itu, kabar tentang kematian Lucifer-sama dan Kami-sama mulai tersebar di kalangan golongan supernatural, begitupun kabar Trihexa ternyata disegel kembali oleh Kami-sama ikut tersebar. Ini masih menjadi misteri hingga sekarang. Tentang bagaimana akhir sebenarnya dari Great War."

Sebuah spekulasi gila tiba-tiba muncul di benak Naruto. "Atau bagaimana jika Ojii-sama belum tewas? Dan sekarang tengah bersembunyi di suatu tempat menunggu kesempatan untuk muncul kembali? Seperti misalnya Trihexa berhasil lolos dari segel yang menahannya?"

"Itu tidak mungkin terjadi, Naruto-kun." Balas Sang Maid walaupun dia juga berharap demikian, bahwa Lucifer selamat dari peperangan ribuan tahun lalu dan saat ini tengah bersembunyi di suatu tempat yang tidak dapat dilacak. "Karena jika iya, seluruh iblis yang hidup saat ini pasti merasakan keberadaan Lucifer-sama terutama aku dan Lucifuge yang tersisah." Tambahnya dengan nada terdengar sangat putus asa dan kehilangan yang sangat dalam.

Melihat ekspresi Maid di depannya tak ayal membuat Naruto mau tak mau menghentikan pembahasan tentang Lucifer. Memperbaiki posisi duduknya, Naruto berucap pelan penuh harapan. "Sekarang, bagaimana kalau Bibi—"

"Aah, mouu—" Sang Maid tiba-tiba menyela cemberut imut, memonyongkan bibir dan pipi dikembungkan yang membuat dia melawan hukum alam sudah berumur ribuan tahun. "Sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu, Naruto-kun. Panggil aku Mira atau Mira-chan."

Naruto cengo beberapa saat. "Siapapun, pukul aku sekuat tenaga agar terbangun dari mimpi indah ini. Dia ini berumur ribuan tahun tapi tingkah dan imutnya sebelas dua belas Irina."

Sadar kalau Mira tak akan berhenti cemberut sebelum keinginannya dikabulkan, Naruto mau tak mau harus mengalah.

"Baiklah, Mira."

"Yeey, itu baru Naruto-ku." Sorak Mira kegirangan.

"'Naruto-ku?'"

"'Naruto-ku?'"

Naruto dan Kurama—yang sejak tadi hanya diam mendengarkan di dalam sana membatin serentak dengan wajah aneh ditambah setetes keringat besar di belakang kepala masing-masing.

Beberapa saat setelah pulih dari sweatdrop, Kurama mengeluarkan kekehan yang sangat tidak enak di dengar sampai membuat urat kening Naruto menyembul keluar.

"Walah-walah, saingan perempuan laknat bertambah satu. Selamat bocah! Kau mendapatkan pengagum baru, dan yang baru ini lebih ekstrim karena sudah berumur ribuan tahun."

"Diamlah, rubah bangsat!" bentak Naruto dan hanya di balas tawa cetar membahana Kurama dalam tubuhnya. Dia mendecih kesal lalu berpura-pura tidak mendengar tawa tidak mengenakkan Kurama agar bisa kembali fokus di dunia nyata.

"Jadi, apa yang tadi ingin Naruto-kun tanyakan, hmm?"

Bukannya menjawab dengan mulut, justru perut Naruto yang berbunyi keras. Jika diingat-ingat Naruto baru saja melakukan pertempuran satu lawan banyak dan jelas itu memakan sangat banyak energi dan stamina.

Mira terkikik pelan. "Ara ara—Sepertinya bocah besarku sedang kelaparan."

Naruto mengerang malu karena perut brengseknya malah berbunyi di depan seorang yang mengabdikan diri sebagai pelayan pribadi hingga akhir, yang jika sama seperti Grayfia, Naruto percaya apapun alasannya Mira pasti akan memaksa untuk makan terlebih dulu.

Baru saja ingin berbicara, Naruto sudah didahului oleh Mira. "Sekarang, sekarang ... Mari kita ke dapur dan jangan lupa bangunkan teman Naruto-kun di ruang tamu."

"Ta-tapi ... Yang ingin kutanyakan sangat penti—"

"Makan malam lebih penting Naruto-kun. Ditambah besok pagi latihanmu sudah dimulai."

"Justru karena besok latihanku dimulai, sekarang adalah waktu yang tepat menanyakan tentang ibuku. Sesudah makan, aku dan Kerbau Pemalas itu ingin mendiskusikan latihan kami besok. Setelah latihan dimulai, aku ragu akan memiliki banyak waktu kosong." Naruto masih tetap bersikukuh ingin menahan lapar dan menanyakan tentang ibunya. Lagipula dia sudah terbiasa kelaparan karena beberapa kali diberi latihan bertahan hidup di hutan oleh Madara dan Tobirama.

"Ara, jadi yang Naruto-kun tanyakan tentang ibunda Naruto-kun. Sebenarnya aku agak lupa tentang ibunda Naruto-kun dan Vali-chan, terlebih aku sangat jarang berinteraksi dengan beliau karena menghabiskan sebagian besar waktu dalam kamar ... Jadi, berikan waktu untukku mengingat-ingat tentang beliau, ya Naruto-kun?" pinta Mira dengan ekspresi memelas imut dan apa yang dia katakan sebelumnya bukan sepenuhnya kebohongan.

Naruto mengerang lagi. Ekspresi Mira memang imut, namun Naruto sudah terlatih menghadapi kemampuan tingkat SS yang dimiliki hampir semua perempuan. Hanya saja, ekspresi Mira masih kurang dibanding milik Yuki yang menurut Naruto damage-nya nggak ada akhlak sampai Madara saja tak mampu menahan.

"Apapun alasanku, kau tetap akan memaksa makan malam dulu, bukan?"

"Tentu saja, Naruto-kun." Mira membalas ceria. "Itu sudah tugasku sebagai pelayan sekaligus Bibi." Dia menambahkan diakhiri senyum manis, kelewat manis sampai tulang belakang Naruto menggigil.

"Sial! Walaupun lebih ekspresif dari Grayfia, Mira ternyata lebih menyeramkan. Lucifuge memang mengerikan jika menyangkut tugas mereka sebagai pelayan ... Lagi dan lagi Ojii-sama. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu sampai menciptakan iblis pelayan seperti Lucifuge." pikir Naruto yang semakin banyak pengetahuan tentang kakeknya yang dia dapatkan, semakin besar pula kekaguman pada sang kakek buyut.

Hanya saja, itu hanya sebatas kekaguman karena pada akhirnya Naruto tetap akan menjadi Naruto yang sekarang. Yang mana hanya ada satu tujuan atau bisa disebut impian yang ingin dia wujudkan.

Dan sekarang diketahui bahwa Mira adalah seorang Lucifuge seperti Grayfia. Hanya saja berbeda dari Lucifuge yang berambut perak, Mira justru berambut putih bersih bergelombang.

"Ya, mungkin lain kali saja aku menanyakan tentang Haha-uē." Pikir Naruto sambil melirik ke luar jendela ruangan. Langit Dunia Bawah sudah terlihat semakin larut dimana bulan buatan Ajuka sudah berada di puncak.

Berdiri dari sofa, Naruto berjalan menuju pintu keluar. Dia menoleh sesaat ke Mira yang mengekor di belakangnya. "Akan kubangunkan Kerbau Pemalas itu dan tunggu aku di dapur. Kita memasak sama-sama ... Tidak ada penolakan, Mira."

Mira hanya mengangguk singkat kemudian melempar pandangan bersalah pada punggung Naruto yang berada di ambang pintu.

"Maafkan aku, Naruto-kun ... Demi kebaikan Naruto-kun dan Vali-chan. Masih terlalu awal untuk kalian berurusan dengan Rizevim ... Untuk sekarang, biarkan aku yang berurusan dengan keparat yang sudah menodai nama Lucifer."

.

.

.

.

.

.

.


Seisi ruangan langsung diam. Tak tahu harus memberi tanggapan seperti apa untuk penggalan kalimat dari Lucifer yang disampaikan oleh Michael barusan.

Terlebih untuk Azazel. Dia bahkan sempat ingin tertawa dalam ironi. Lucifer, iblis dengan sifat dominasi ekstrim, iblis yang menjadi aktor utama terciptanya Great War menyinggung tentang perdamaian?

Jika mengambil penggalan kalimat tersebut sebagai alasan Lucifer memulai peperangan, apakah itu berarti Lucifer menginginkan perdamaian?

Ha! Benar-benar lucu. Akan tambah lucu lagi seandainya Great War berakhir, perdamaian benar-benar tercipta.

Sebaliknya. Justru keadaan dunia atau alam semesta semakin jauh dari kata damai. Lepas Great War berakhir tanpa ada hasil jelas siapa yang keluar sebagai pemenang, banyak konflik yang terjadi antara banyak golongan supernatural, terutama golongan Dewa.

Banyaknya korban dari ketiga pihak yang terlibat Great War membuat mereka kehilangan banyak kekuatan. Keadaan tersebut langsung dimanfaatkan banyak golongan untuk memantaskan dominasi mereka terhadap dunia manusia dan penghuninya. Seperti contohnya Olympus yang banyak mengambil wilayah kekuasaan di daratan Eropa dan akhirnya memicu konflik dengan Asgard dan beberapa golongan lain yang ternyata juga mengincar daratan Eropa

... Dan masih banyak lagi konflik yang tak terhitung jumlahnya terjadi di hampir seluruh belahan dunia.

Menyaksikan ekspresi Azazel yang berubah-ubah mengundang rasa penasaran Michael.

"Apa apa Azazel-dono? Adakah sesuatu yang sangat serius sampai anda memasang wajah demikian?" tanya Pemimpin Fraksi Malaikat penasaran.

"Tidak ada hal yang serius." Azazel mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah. "Hanya memikirkan perkataan Lucifer tadi dengan tindakannya ... Sekarang, bisakah kita kembali ke awal? Maksudku,"

Sirzechs dan Ajuka dibuat tersentak oleh pandangan menyelidik yang tiba-tiba dilempar Azazel kepada mereka.

"Kalian sudah mendapatkan beberapa pengetahun tentang Lucifer. Aku rasa itu sudah lebih dari cukup sebagai petunjuk menebak apa sebenarnya yang ditimbun Lucifer dibawah tanah Lucifaad."

Sirzechs dan Ajuka tak langsung melakukan apa yang Azazel inginkan. Mereka terlebih dulu memilah-milah pecahan informasi baru tentang Lucifer dari Michael dan Azazel barusan.

Pertama. Lucifer sudah jelas perwujudan dari iblis. Semua sifat negatif diborong Lucifer yang membuatnya menjadi paket lengkap keberadaan terburuk di alam semesta. Singkatnya, Rizevim yang juga memiliki sifat sama adalah versi Beta, sedangkan Lucifer adalah Full-Version.

Kedua. Kepribadian mendominasi ekstrim. Ketika sudah memiliki bangsa dan wilayah sendiri, malah mengincar lebih untuk menciptakan dunia dibawah satu bendera. Bendera bangsa iblis.

Ketiga. Kekuatan dan kemampuan yang tak bisa dianggap remeh. Bahkan seorang Azazel yang biasanya santai dibuat serius hanya dengan membahas Lucifer saja.

Keempat. Lucifer sangat tak terduga menurut Michael. Dikatakan paling loyal kepada Tuhan walaupun caranya agak ekstrim dan kemudian berakhir membangkang Tuhan hingga dibuang ke Dunia Bawah serta kehilangan status dan kesucian sebagai malaikat.

Kelima. Lucifer seorang perencana handal, dan jika digabungkan dengan trait tidak terduga, menjadikan Lucifer salah satu mahluk paling merepotkan untuk diladeni.

Terakhir... Menggurui Fraksi Malaikat hanya dengan penggalan kalimat singkat namun menakutkan karena memang kalimat tersebut adalah kenyataan yang sulit ditolak. Penggalan kalimat yang sampai saat ini dipegang teguh Michael dan mungkin itulah alasan menerima proposal aliansi. Sebagai persiapan perang untuk mencapai kedamaian.

Setelah lama bergulat dan tenggelam dalam lamuan, Sirzechs mulai memikirkan berbagai macam kemungkinan. Dan akhirnya dua kemungkinan terbesar menjadi pilihan Sirzechs.

"Sepertinya kau sudah dapat jawaban, eh Sirzechs?"

Suara Azazel menyadarkan Sang Maōu Lucifer dari pergulatan dalam benaknya. Semua pasang mata di ruangan langsung tertuju pada Sirzechs yang disana menjawab dengan sebuah anggukan lebih dulu.

"Aku belum terlalu yakin." Jawab Sirzechs dengan ekspresi menggambarkan apa yang dia katakan, ragu. "Menurutku, Lucifer menyimpan atau menyegel semacam senjata dibalik pintu tersebut sebagai persiapan perang."

"Hmmn," Azazel menyubit dagu berpikir sejenak. Begitupun Odin yang juga ikut melakukan hal sama.

Sementara dua pemimpin itu berpikir, Michael justru buka suara. "Itu bisa saja bahwa Lucifer menyegel semacam senjata disana. Semua kemampuan iblis yang berada garis depan ketika Great War dan 72 pilar keluarga bangsawan aku lihat hanya sebagian kecil dari seluruh pengetahuan yang Lucifer dapatkan selama hidupnya." Dia setuju apabila mantan saudaranya menyembunyikan semacam senjata disana. Selain dari setuju, Michael tidak melewati batas untuk mengatakan secara detail tentang seberapa banyak pengetahuan Lucifer.

Namun, pertanyaan akan muncul bila tebakan tersebut benar. Jika memang Lucifer menciptakan semacam senjata ... Kenapa tak dipakai ketika Great War berlangsung untuk memastikan kemenangan?

"Ngomong-ngomong. Sejak kapan kalian tahu tentang sesuatu di bawah kastil tersebut?"

Ajuka dan Sirzechs menoleh ke Azazel yang tiba-tiba memecah keheningan tadi.

"Beberapa tahun lalu." Sirzechs menjawab mengingat dia adalah orang pertama yang diberitahu tentang penemuan ini.

"Jadi selama ini, apapun dibawah sana sudah tertimbun ribuan tahun tanpa kalian ketahui, huh?" entah kenapa ada perasaan bersyukur dalam diri Azazel mengetahui bahwa Sirzechs dan pihak iblis belum terlalu lama mengetahui hal tersebut. "Dan biar aku tebak ... Yang menemukannya tidak lain tidak bukan kapten divisi yang kau buat ... Naruto Lucifer."

Sebuah anggukan dari Sirzechs menjadi jawaban untuk tebakan Azazel.

"Peninggalan Lucifer ditemukan oleh keturunannya, ya? Tidak mungkin hanya kebetulan semata." Pikir Azazel sekaligus menjadi kepingan tambahan untuk mengambil asumsi bahwa di bawah kastil tersebut bukanlah senjata, melainkan sesuatu yang lain.

Jika Ajuka, Michael dan Sirzechs, serta kemungkinan Odin juga setuju pada asumsi mengenai dibawah sana merupakan senjata, maka Azazel mengambil asumsi lain. Ada dua kemungkinan yang Azazel pikirkan.

Pertama. Apapun yang ada dibawah sana bukanlah peninggalan Lucifer dari era sebelum dan selama Great War. Azazel berpikir benda tersebut dari era Perang Sipil dan pelakunya adalah pengikut golongan Raja Iblis Lama. Itulah kenapa tak ada dari golongan iblis sebelah yang tahu termasuk Zekram Bael dan beberapa iblis tua peninggalan Great War.

Dan kemungkinan lain adalah bisa saja dibawah sana adalah—

Azazel tiba-tiba menggelengkan kepala. "Itu tidak mungkin, bukan? Namun bagaimana jika dibawah sana memang benar adalah—"

Entah kenapa perasaan Azazel merasa tidak enak terhadap informasi terbaru tentang Ras Iblis ini. Dia juga tak bisa langsung setuju pada asumsi Sirzechs dan yang lain bahwa dibawah sana Lucifer menyimpan semacam senjata pamungkas. Ini tidak sesimpel itu hanya karena tak ada yang bisa memastikan secara pasti ada apa dibawah kastil Lucifer.

Lamuan Azazel buyar tatkala suara berisik seperti beberapa orang datang melapor terdengar dari proyeksi Michael. Azazel bersama yang lain langsung mengarahkan pandangan mereka kepada Pemimpin Malaikat.

"Aku minta maaf! Sepertinya sampai disini dulu aku mengikuti pertemuan. Surga kedatangan tamu tak terduga yang mengharuskan aku hadir."

"Siapa—Oiy, Michael tunggu!" cegah Azazel cukup keras namun Michael nampaknya tak bisa menunggu lama lagi dan seketika memutus komunikasi. "Bedebah! Pergi seenak udel seolah alasannya pergi bukan hal penting."

Melihat Michael yang sangat terburu-buru membuat rasa penasaran muncul di kepala masing-masing orang disana. Siapa gerangan tamu yang dimaksud sampai Michael bertingkah tidak setenang biasanya dalam situasi apapun. Apalagi orang tersebut bertamu di Surga, salah satu tempat paling sulit didatangi oleh ras atau mahluk selain daripada penghuninya sendiri.

Kepergian Michael juga memaksa Ajuka dan Sirzechs harus menahan keinginan mereka untuk tahu lebih lanjut tentang [Dunia Lain] yang beberapa hari lalu disinggung. Mereka ingin tahu apakah tempat tersebut bisa dipakai untuk menyergap kelompok Madara.

"Sigh, sepertinya pertemuan ini cukup sampai disini saja walau masih banyak yang ingin kubahas." Seru Azazel membuyarkan lamuan orang-orang disana yang masih berkutat di pikiran masing-masing. "Selain Michael yang harus pergi, alat komunikasi ini kutakutkan mudah dibajak oleh pihak lain sehingga berpotensi kebocoran informasi penting. Ini saja aku sudah cukup khawatir ada yang menyabotase."

"Aku tahu, aku tahu. Jika memang apa yang kita bahas tadi bocor ke pihak lain, terutama yang menyerang Lucifaad, kami sendiri yang akan mengurusnya."

"Aah." Azazel seperti menyadari maksud tersembunyi dari pernyataan Sirzechs. Dia mengangguk yang dibalas anggukan juga oleh makhluk-makhluk di ruangan. "Saranku tetap sama seperti sebelumnya. Jangan bertindak gegabah mengirim banyak pasukan mencari siapapun pelaku penyerangan Lucifaad. Dari dua serangan ini kita bisa belajar bahwa serangan bisa datang kapanpun."

Sirzechs mengangguk paham pada saran tersebut sebelum akhirnya Azazel dan Odin menyusul Michael memutus koneksi mereka meninggalkan dua iblis di ruangan yang langsung menyusun beberapa agenda penting ke depannya.

Satu dari sekian banyak agenda yang disusun adalah diam-diam mengirim tim khusus untuk mencari, menemukan dan mengakhiri keberadaan dalang dibalik dua serangan Underworld, yang mana salah satunya adalah kelompok Madara.

Sirzechs sudah memiliki tim yang dirasa sangat pantas melakukan tugas tersebut, dan mereka adalah;

—Divisi yang pernah dipimpin oleh Naruto Uzumaki.

.

.

.

.

.

.

.


Ditemani teh hangat untuk mengusir hawa dingin yang mulai menusuk kulit daerah sekitar Lucifaad di Underworld, Mirajane bersama Naruto dan Starrk sudah berada di satu ruangan lantai dua mansion Lucifer.

"Jadi, Starrk. Kenapa tak mulai saja? Hari sudah semakin tua."

"Hmn. Sudah ada banyak hal yang kupikirkan untukmu. Hanya saja, aku tak tahu harus memulai dari mana."

Pada sofa panjang yang berhadapan langsung dengan yang diduduki Starrk, di samping Naruto, Mirajane yang tidak dalam balutan seragam Maid lagi memberikan saran.

"Awal selalu menjadi tempat yang baik untuk memulai."

Starrk menatap kosong Mira selama beberapa saat karena pernyataan yang agak aneh itu. Kemudian, dia teringat bahwa belum mengenal dan memastikan siapa Mira sebenarnya. Dia agak penasaran ada iblis sekelas Sirzechs berkeliaran tanpa disadari oleh dunia, terutama Pihak Iblis, Malaikat dan Malaikat Jatuh.

"Ngomong-ngomong. Kita belum berkenalan secara resmi. Anda sudah tahu namaku dari Naruto, dan hanya itu saja, tanpa nama keluarga atau semacamnya."

Naruto mengerutkan kening. "Tidak biasanya mahluk ini mengajukan perkenalan lebih dulu. Mencurigakan." Pikir Naruto kini menyipitkan mata pada Starrk.

Mira membalas dengan senyuman sebelum memperkenalkan diri. "Mirajane Lucifuge, anda bisa memanggil saya Mira seperti Naruto-kun."

"Sudah kuduga." Gumam Starrk akhirnya tahu siapa sebenarnya Mira setelah mendengar nama lengkapnya. "Sudah kuduga bahwa anda bukan iblis sembarang selain dari Yōuki gila-gilaan setingkat Sirzechs Gremory. Ternyata dugaanku benar anda adalah Iblis Super seperti Sirzechs Gremory, Ajuka Astraoth dan Rizevim Livan Lucifer."

Mirajane, atau Mira diam agak lama sambil mengedipkan mata beberapa kali sebelum mengeluarkan tawa yang sangat indah didengar. Naruto langsung menatap aneh Mira sedangkan Starrk hanya mengerutkan kening bingung kenapa iblis betina itu tiba-tiba tertawa.

"Maaf, maaf. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa." Ujar Mira sambil mengatur nafas.

"Hmn, apa yang lucu?"

"Saya tidak menyangka sistem tersebut masih dipakai sampai sekarang."

"Sistem?" beo Naruto tidak paham maksud Mira.

Menoleh ke Naruto, Mira segera menjelaskan. "Naruto-kun, ketika Lucifer-sama menciptakan iblis dari tubuh Lilith-sama, Lucifer-sama menyama ratakan semua iblis. Tidak ada yang namanya Chōetsu Debiru (Super-Devil), Nanajūni Hashira (72 Pillars), Ekisutora Dēmon (Extra Demon) dan lain sebagainya. Apalagi yang sekarang semakin menjatuhkan iblis semakin dalam yaitu pembagian kelas setelah penciptaan Evil Piece."

"Hmmn, aku baru tahu tentang ini." Gumam Starrk menggaruk dagu malas.

"Sistem tersebut baru dibuat oleh Leviathan, Beelzebub, Asmodius dan kemudian disetujui Nanajūni Hashira. Mereka mengikuti sistem perhitungan tingkat kekuatan Malaikat dari jumlah sayap di Surga." Mira mengalihkan perhatian ke Starrk yang sepertinya tertarik dengan informasi ini, sedangkan Naruto terlihat tidak terlalu peduli lagi setelah bahu alasan Mira tertawa tadi. "Disisi iblis sepertinya mengambil dari urutan penciptaan dan kepemilikan kemampuan spesial. Contohnya Bael dengan Horobi no Chikara."

"Semacam hierarki, kah? Mereka bertiga diikuti oleh Tujuh puluh dua pilar melakukan hal tersebut untuk menentukan kedudukan mereka diantara iblis lain?"

Mira mengangguk oleh pertanyaan Starrk. "Anda benar. Dasar dari terciptanya hierarki ini dilandasi kemampuan spesial yang dimiliki Nanajūni Hashira. Mereka berpikir mereka berbeda dari kebanyakan iblis karena kemampuan khusus pemberian Lucifer-sama. Padahal jika dibandingkan, iblis-iblis yang dikategorikan kelas bawah sampai menengah lebih kuat dari Nanajūni Hashira yang nyatanya memiliki kemampuan spesial masing-masing. Itulah kenapa tiga iblis bodoh itu dan Nanajūni Hashira menempatkan iblis-iblis yang dikategorikan kelas bawah dan menengah di garis depan ketika Great War berlangsung karena memang mereka lebih kuat." Tatapan Mira seketika mengeras karena sesuatu. Kemungkinan besar karena sekarang sistem tersebut semakin menjadi-jadi apalagi setelah Evil Piece diciptakan seperti yang dia singgung beberapa saat lalu.

"Baiklah, baiklah. Bisakah kita kesampingkan dulu tentang sistem atau hal merepotkan dari iblis ini. Malam semakin tua dan aku yakin kau," ujar Naruto tiba-tiba kemudian pandangannya mengarah ke Starrk. "Pasti memulai latihan esok hari sangat pagi."

Delikan sesaat dilempar oleh Starrk. Dia sebenarnya masih ingin mencari tahu lebih lanjut tentang ras iblis, namun karena bocah Lucifer yang esok hari mulai menjadi muridnya sudah mulai tidak sabaran atau entah kenapa tidak ingin mendengar lebih lanjut pembahasan dia dan Mira.

Starrk mengerang dan memandangi Mira yang hanya mengangguk paham. Mengembalikan pandangan ke Naruto, dia melempar pertanyaan yang harus dia pastikan jawabannya sebelum memulai pelatihan.

"Berapapa banyak waktu yang kau punya sebelum bertukar tarian atau kau sebut apalah dengan Uchiha nanti?"

"Dari pesan Madara-teme, dia memberiku waktu seminggu sejak aku membaca pesannya. Itu berarti kita memiliki waktu lima sampai enam hari." Jawab Naruto diakhiri geraman rendah namun kental akan kemarahan pada sesuatu. Bisa saja itu karena waktu yang diberikan Madara sangat singkat, atau hal lain yang berkaitan dengan salah satu mantan gurunya.

Mendengar geraman Naruto membuat Mira tanpa sadar menggertakkan gigi diikuti kedua tangan sudah membentuk kepalan diatas paha. Mira sudah tahu apa yang dilalui Naruto sebulan belakangan ini.

Ya, Mira sudah mengetahui hampir semua perjalanan hidup Naruto selama meninggalkan mansion, termasuk masalah ingatan dan semua hal yang berhubungan dengan sisi iblis Naruto disegel oleh seseorang.

Seandainya Naruto tak menahan Mira setelah tahu apa yang dilakukan Golongan Empat Raja Iblis Baru pada Naruto, dia sudah pasti melakukan sesuatu yang sekali lagi akan mengguncang dunia supernatural. Dan hal yang paling ingin dilakukan Mira adalah;

—Menghancurkan Rias Gremory bahkan jika itu berakibat harus menghadapi amukan Sirzechs Gremory yang kebetulan juga ingin dihancurkan.

Naruto yang merasakan tekanan Yōuki Mira tiba-tiba naik drastis hingga mengakibatkan suhu di ruangan bertambah dingin langsung menenangkan sang Lucifuge. Naruto menepuk pundak kiri Mira. Dia kemudian menggelen pelan ketika memberi pandangan yang sudah diketahui apa arti dibaliknya.

"Sudahlah, Mira. Biarkan itu menjadi masa lalu yang harus kulupakan apapun resikonya. Lagipula, aku takkan kembali ke jalan itu. Sekarang aku sudah memiliki sesuatu yang lebih penting daripada mengurusi mereka." Ucap Naruto dengan nada memohon.

Mira memperhatikan dalam mata biru gelap Naruto. Dia sudah terbiasa dengan nada memohon Naruto-nya sejak masih batita, itulah kenapa dia lebih fokus pada mata dan dia melihat sangat jelas bahwa Naruto serius atas permohonan tersebut untuk melupakan masalah perihal kakak-adik Gremory. "Baiklah Naruto-kun." Ujar Mira lembut menyanggupi. Suhu dingin di ruangan akhirnya menghilang mengikuti helaan nafas yang keluar dari mulut Mira. "Namun, itu untuk sekarang. Di masa depan nanti, suatu saat aku pasti akan membunuh mereka berdua jika ada kesempatan. Mereka menambah luka Naruto-kun yang dari awal sudah terluka sangat parah." Gumam Mira kemudian.

Naruto meringis pelan tahu maksud dari apa yang Mira gumamkan terakhir.

"Ah-hem."

Starrk berdehem cukup keras agar kedua iblis di depannya menyudahi drama singkat keduanya. "Waktunya benar-benar sempit ..." ujar Starrk setelah mendapatkan perhatian, terutama Naruto. "Kalau begitu akan kubuat kau melewati batasmu, melewati lagi dan lagi dalam waktu singkat." Kata Starrk diakhiri seringai mengerikan yang bisa membuat siapapun bisa menggigil ketakutan, termasuk Naruto yang memang untuk dialah seringai tersebut diarahkan.

Mira langsung menyipitkan mata penasaran pada pernyataan Starrk. Sejauh ini, Mira mengerti dimana batasan Naruto, dan dari pernyataan Starrk tersebut dia agak ragu hanya dalam waktu seminggu bisa membantu Naruto melewati batasan yang sekarang.

Dilain sisi, Naruto menjenguk kasar ludah. Dari pernyataan dan seringai tersebut membuat Naruto sadar dibalik tampang tak niat hidup Starrk ternyata tersembunyi sisi sadis. Dia sangat jelas menangkap Starrk ingin melatihnya habis-habisan kurang dari seminggu. Dengan kata lain; menyiksa.

"Pertama-tama aku akan mengevaluasi kemampuanku. Dari sejak pertama kali bertemu di Spanyol sampai beberapa jam lalu di Lucifaad, aku sudah hampir tahu semuanya ... Kau kuat. Aku masih ragu untuk menambah kata 'sangat' mengingat kau memiliki dua darah berbeda mengalir dalam nadimu. Aku sama sekali tak membual, bedebah!" Gerutu Starrk diakhir keluar dari pembahasan karena Naruto mengeluarkan dengusan sebelum bergumam 'omong kosong' dengan suara sangat pelan.

"Kau adalah yang kedua memaksaku menyarungkan Katana dan memakai kemampuan yang sebenarnya lebih tepat kesebut sebagai kutukan. Kau adalah yang kedua memberiku sensasi bertarung habis-habisan dengan nyawa sebagai taruhan setelah sekian lama ..."

Itu hanyalah satu dari sekian pencapaian Naruto selama ini. Jika Starrk ingin menyebutkan semua agar Naruto percaya omongannya bukanlah omong kosong belaka, dia bisa saja menyebutkan semua. Hanya saja dia tak mau membuang banyak tenaga maupun waktu.

Naruto sekali lagi mendengus. "Aku tak tahu harus bangga atau bagaimana dengan semua yang kau katakan."

Mira memilih diam untuk mendengarkan lebih lanjut. Mata biru indahnya semakin menyipit ke arah Starrk. Mulai mengalisis pria gondong yang dibawa Naruto, dia bisa merasakan Spiritual Power milik Starrk bisa dikatakan cukup besar untuk ukuran manusia. Namun, satu hal yang pasti di benak Mira, tingkat Starrk sebagai manusia bukanlah kaleng-kaleng di kalangan mahluk supernatural. Dari cara berbicara dan tidak adanya ekspresi ketakutan di wajah saja Mira sudah bisa menebak.

"Kau hampir memiliki segala yang dibutuhkan untuk keluar sebagai pemenang di setiap pertarungan." Jeda singkat diambil Starrk untuk mengeluarkan buku kecil dan pulpen dari sihir penyimpanan miliknya dengan tangan kanan. Mengubah posisi duduk sedikit dibungkukkan ke depan agar nyaman, Starrk mulai menulis beberapa hal di buku tersebut.

Tak ingin membuang waktu, Starrk melanjutkan penjelasannya tadi yang ditunda tanpa menghentikan gerakan pulpen di tangan kanan. "Fisik gila-gilaan yang paling tidak cukup untuk bertarung tanpa henti sehari-semalam, kemampuan Hand-to-hand—"

"Taijutsu." Koreksi Naruto.

"—mampu berimprovisasi di segala macam situasi termasuk didalamnya ketika memakai senjata apapun—"

"Bukijutsu." Koreksi Naruto sekali lagi sedikit terganggu kenapa Starrk tidak menyingkatnya saja.

"—Terakhir, keberadaan Kurama dalam tubuh sehingga memiliki kekuatan hampir atau mungkin setingkat Dewa kelas Penghancur. Selain dari itu, Yōuki mendekati tak terbatas Kurama juga bisa kau pakai sebagai bahan mentah untuk pemulihan."

Starrk kembali mengambil jeda dan meletakkan pulpennya di atas buku. Karena posisi yang agak menunduk, dia harus mendongakkan kepala agar bisa melihat wajah Naruto yang diyakini akan terkejut sebentar lagi.

"Kau bisa saja menjadi mesin pembunuh sempurna." Tubuh Mira tiba-tiba tersentak mendengar pernyataan ini.

"Hanya saja, satu pertanyaan dariku. Kenapa kau memberi batasan pada dirimu sendiri?"

"Haa?"

"Kenapa kau memberi—mungkin lebih tepat adalah entah sadar atau tidak kau menentukan batasan sendiri?"

Di dalam tubuh Naruto, keberadaan keempat di ruangan, Kurama yang biasanya menghabiskan sebagian waktu berenang di alam mimpi memutuskan untuk menyimak obrolan di luar sana. Ketika mendengar pertanyaan Starrk tadi, dia mengeluarkan raungan rendah kagum pada pria gondrong itu sebagai yang kedua menyadari kesalahan Naruto menggunakan kekuatannya.

"Bajingan kecil ini benar-benar sesuatu sekali!Diantara semua orang yang aku curigai, dia yang pertama menyadari." Pikir Kurama hati-hati agar Naruto tidak mendengar karena link mereka yang hampir sempurna. Sementara yang Kurama curigai ada diantara Madara, Hashirama, Yasaka dan Azazel. Namun, diluar dugaan justru Starrk yang keluar sebagai pemenang.

Sementara Naruro masih tak mengerti juga. Dia tak mengerti pada bagian mana dia menciptakan/menentukan batasan sendiri. Bukannya besar kepala atau apa, Naruto merasa bahwa setelah semua latiahan dan pertarungan yang dilalui, tak pernah sekalipun dia mengalami kebuntuan ketika menciptakan bentuk serangan atau tehnik baru dari semua kemampuan yang dimiliki, dengan kata lain mengetahui batasannya untuk berkembang.

Namun, sekarang Starrk malah memberitahunya fakta bahwa dia sendiri yang menciptakan batasan tersebut sehingga membuatnya tak berkembang dan menjadi 'senjata sempurna' menurut Starrk.

"Kau belum paham juga, huh. Kubuat gampang saja ..." Starrk mendengus pelan. Jari telunjuknya kemudian teracung tepat ke arah wajah Naruto. " ... Kenapa kau hanya bergantung pada kekuatan api yang serupa dengan Horobi no Chikara klan Bael? Ketergantungan yang membuatmu puas tanpa ingin melangkah lebih jauh lagi dalam penggunaan api Kurama?"

Naruto memicingkan mata. "Bergantung dan puas darimana, brengsek? Sampai saat ini aku tak pernah berhenti menciptakan bentuk serangan baru memakai Yōuki Kurama. Jadi, katakan! Darimananya kau bilang bergantung dan puas?" bantah Naruto memberi pertanyaan balasan agar Starrk mau menjelaskan lebih rinci. Dia kukuh dengan pemikirannya tentang pemakaian kekuatan Kurama ini tidak seperti yang Starrk katakan memberi batasan sendiri.

"Disitu masalahnya, walaupun kau memiliki satu mode untuk melewati batasan itu untuk sementara. Garis bawahi, hanya sementara—hanya beberapa menit dan sangat berisiko tentu saja."

Naruto mengerutkan kening semakin bingung. Soal mode itu tentu saja dia tahu. Senpō: Museigen no Furu Pawa Mōdō.

"Berapa lama jeda waktu untukmu berpindah cara memakai Yōuki Kurama?" tanya Starrk santui tapi itu berhasil mengubah ekspresi Naruto.

Seketika Naruto melebarkan mata terkejut. Sekaligus menjadi titik terang maksud dari pertanyaan awal Starrk.

"Ka-kau tahu itu?" tanya Naruto agak terbata.

"Tentu saja, bodoh!" Sembur Starrk sedikit kesal. "Kau kira aku ini Malaikat Jatuh Azazel, atau Iblis bernama Sirzechs Gremory yang dikatakan jenius tapi bego tak menyadari ini?" tanya balik Starrk diakhiri dengusan lagi.

Mira yang sejak drama singkat dengan Naruto memilih diam menyimak akhirnya terkekeh sangat merdu pada komentar Starrk untuk Azazel dan Sirzechs. Sebuah hiburan tersendiri bagi Mira ada manusia yang berani menyebut pencuri gelar dan mantan gubernur Grigory mahluk bego.

Starrk melanjutkan kegiatan menulis sekaligus memaparkan cukup detail kenapa mengatakan Naruto menentukan batasannya sendiri.

"Sejauh ini yang kutahu mau punya dua cara menggunakan api, tidak lebih tepatnya Yōuki Kurama ... Pertama; menciptakan atau menghasilkan api tipe serangan sekali pakai seperti Hōkō, Hibashira, Hiken dan lain sebagainya ... Kedua adalah tingkat lanjut, kau bisa memanipulasi Yōuki Kurama kemudian melancarkan serangan yang mengharuskan adanya campur tangan Senjutsu seperti; Gekitetsu, Hotengeki, Ama no Murakumo, Guren Bakuenjin, Hōken dan beberapa yang kulupa namanya."

Semakin banyak yang Starrk paparkan, semakin terkejut pula Naruto. Apa yang Starrk katakan adalah kebenaran.

"Dibalik dua cara penggunaan tersebut, ada satu kesamaan. Kesamaan adalah ada sesuatu yang sangat jelas ingin kau hindari ... Di perutmu, tempat segel yang mengurung Kurama berfungsi sebagai kran dan filter untuk dipakaimenkonversi Yōuki Kurama ... Jika kau memakai cara pertama, segelnya hanya berfungsi sebagai kran. Kau membukanya kemudian dialirkan dengan kecepatan sangat tinggi ke bagian tubuh tempat kau akan mengeluarkan Yōuki, entah dalam bentuk mentah ataupun api ... Sementara cara kedua, kau menggunakan Senjutsu sebagai penyaring di segelnya agar bisa memanipulasi Yōuki Kurama entah itu di luar ataupun dalam tubuhmu. Hasil dari penyaringan tersebut tentu saja adalah beberapa dari tehnik tersebut mengandung sedikit Senjutsu."

Jeda diambil sejenak Starrk untuk mengambil nafas sejenak. Dia lalu melirik tajam Naruto disertai sebuah seringai.

" ... Apakah kau atau aku yang mengatakan apa yang ingin kau hindari itu?"

"Tch!" Naruto hanya mendecih sebagai balasan.

"Jadi aku ya?" Starrk terkekeh. "Apa yang kau hindari dari keduanya adalah Yōuki Kurama bisa melukai tubuhmu, bukan?"

Naruto langsung membuang muka pertanda Starrk 100% benar. Dilain sisi Mira membulatkan mata mengetahui bahwa selama ini ternyata Naruto memakai kekuatan yang bisa menjadi pisau bermata dua seandainya tidak menemukan kedua cara penggunaan tersebut.

"Kau tahu ... Aku kagum padamu. Kau bisa kukatakan seorang jenius namun nekat melakukan hal yang cukup rumit dan berbahaya ini, bahkan melakukannya dengan sangat cepat pada yang pertama maupun ketika beralih cara pemakaian. Dan kau tahu yang lebih hebatnya lagi? Kau membuatnya sangat sulit untuk dideteksi. Setidaknya butuh sensor setingkat Perquisa Aumetando yang bisa merasakan perubahan aliran ataupun bentuk energi/kekuatan sekecil apapun itu dalam tubuh seseorang."

Wajah Naruto langsung kehilangan cahaya. Dia melenguh panjang pasrah tak bisa lagi membantah penjelasan Starrk. Bahkan, pujian Starrk sama sekali tak dipedulikan oleh Naruto karena rahasia bertarung menggunakan api Kurama sudah terbongkar. Inilah salah satu alasan kenapa dia menciptakan mode mengerikan yang dikatakan Azazel, agar tidak ada yang bisa menyadari cara penggunaan Yōuki Kurama. Dia sangat berterima kasih kepada siapapun yang bernama Might Dai. Dari orang tersebut Naruto mendapatkan pencerahan tentang hal ini.

Untungnya saja Starrk yang menemukan, bukan pihak lain terutama musuh. Jika iya, bisa dipastikan sangat gawat.

"Aku tak menyangka masih ada orang seperti ini di dunia. Biasanya orang-orang hanya fokus pada seberapa besar dan kuat kekuatan lawan ataupun tipe energi yang dipakai, tapi dia ... Dia lebih fokus pada aliran, perubahan dan cara pemakaian. Dengan mengetahui hal tersebut, dia pasti bisa menemukan kelemahan lawan kemudian mencari cara memanfaatkannya untuk menang." pikir Mira dengan mata berkilat kagum sekaligus bersyukur Starrk berada di pihak mereka.

Naruto menghela nafas dalam rangka memulihkan diri dari rasa terkejut. "Jeda untuk beralih sejauh ini adalah lima sampai tujuh detik." Kemudian dia menjawb satu pertanyaan yang diinginkan Starrk.

"Kembali ke awal ... Karena api Kurama yang memiliki sifat penghancur setingkat Horobi no Chikara klan Bael, ditambah kau sudah menemukan cara memakainya agar tidak terluka. Itu membuat kau sudah merasa puas di tingkatmu yang sekarang tanpa ingin melangkah lebih jauh lagi. Sungguh, kau mungkin jenius seperti yang kukatakan sebelumnya, tapi malah tidak bisa menyadari batasanmu sendiri." Starrk berhenti sejenak menulis dan menepuk pelan wajahnya. Dia tidak habis pikir dengan Naruto. Seharusnya, untuk ukuran otak Naruto yang berhasil mengelabui semua orang selama ini tentang cara memakai Yōuki, Naruto pasti sudah bisa menyadari alasan kenapa tak bisa melewati batasannya yang sekarang.

"Lalu, apa yang seharusnya aku lakukan?" bentak Naruto dengan suara sedikit meninggi.

"Kau masih belum sadar juga?"

"Katakan saja, brengsek?!"

"Kontrol."

Jawaban singkat tersebut seketika membuat Naruto melebarkan mata. Serius, masalahnya sesimpel itu? Hanya masalah kontrol?

"Aku sangat yakin kau sudah diajarkan tentang kontrol oleh lima gurumu sebelumnya. Daya hancur mungkin sama, namun kontrol bisa menjadi pembeda. Coba ingat-ingat kembali ketika apimu berada dengan kekuatan lain."

Atas perintah Starrk, Naruto menadahkan wajah ke langit dengan mata tertutup. Dia mulai menelusuri kembali ingatannya. Semua pertarungan yang dilakukan, ketika apinya beradu dengan kekuatan lain.

Penelusuran jalur memori Naruto berlangsung selama beberapa menit sampai akhirnya menyadari bahwa yang dikatakan Starrk seratus persen benar.

"Sialan!" Umpat Naruto penuh kekecewaan.

"Itulah batasan yang kau ciptakan untuk dirimu sendiri." Starrk merespon cepat dengan nada memojokkan. "Karena berpikir tanpa memperdalam kontrolmu terhadap Yōuki Kurama yang bila diubah menjadi api sudah setingkat Horobi no Chikara, kau puas. Karena daya hancur yang dashyat, fokusmu hanya tertuju pada menciptakan berbagai macam bentuk serangan dari dua caramu tanpa memperlihatkan dengan jelas Yōuki Kurama bisa melukai tubuhmu dari dalam ... Dimata orang lain, kau mungkin adalah pengguna elemen api terbaik dan terkuat, namun dimataku. Kau hanya sebelas dua belas Raiser Phenex yang pernah kau hancurkan dengan mudah."

Ingin rasanya Naruto menyanggah ucapan Starrk yang menyamakan dirinya dengan bocah Phenex itu. Tapi yang dikatakan Starrk adalah sebuah kenyataan yang tak mampu dia temukan cara untuk menyanggahnya.

"Percayalah, Uchiha Madara yang memiliki kontrol kekuatannya lebih baik darimu takkan bisa kau kalahkan apalagi Sirzechs Gremory." Starrk mengukir seringai mengejek, itu sontak membuat Naruto terpancing. "Heh, ingin memulai perang pantatmu! Pantas saja kau mati malam itu."

"Woy!"

"Huh, apa?"

"Malam itu aku dikroyok, bajingan."

"Maaf saja. Aku sudah pernah mengalami hal yang sama, bedanya aku melawan ratusan yang setidaknya semua hampir berada di tingkat Sirzechs Gremory."

Naruto dan Mira sama-sama melebarkan mata terkejut. Mereka berusaha mencari tahu apakah pernyataan Starrk hanya omong kosong belaka untuk memancing emosi Naruto. Sayangnya Starrk mengatakan hal tersebut dengan wajah lurus cukup menjadi bukti itu bukanlah kebohongan.

Mira mengukir seringai penuh rasa tertarik. "Entah kenapa aku sangat ingin mencoba melawan anda, Starrk." Katanya mengejutkan Naruto.

"Mira-chan, aku tak tahu kau punya sifat maniak seperti Madara dan Vali."

"Ara ... Nfufufufufu ... Aku hanya ingin membuktikan apa dia sekuat yang dikatakan atau tidak, Naruto-kun."

Starrk menghela nafas pasrah hidupnya kedatangan satu lagi maniak pertarungan yang tak sayang nyawa. Melambaikan tangan di depan wajah, dia merespon malas. "Maaf, maaf. Aku malas bertarung tanpa tujuan jelas dan penting." Katanya disambut desahan kecewa Mirajane.

Mengetahui tak ada lagi yang harus dibahas lebih lanjut, lebih tepatnya Naruto sudah bisa menerima kenyataan perihal batasan yang ditentukan sendiri, Starrk mengambil pulpen dan menuangkan semua isi kepala pada buku.

Sementara Starrk sibuk menulis, Naruto dan Mira mulai menyesap teh hangat di meja depan mereka sambil menunggu.

Sekitar setengah jam kemudian Starrk mengakhiri kegiatan dan menyerahkan buku tadi kepada Naruto. Bersama Mira yang sedikit merapat, Naruto mulai membaca kalimat demi kalimat yang dituangkan Starrk pada buku.

"Bagaimana?" tanya Starrk ketika pandangan Naruto dan Mira tertuju padanya dengan mata sedikit melebar. Seringai kecil tersungging di bibir. "Aku hanya menerima pilihan, bukan pertanyaan. Lanjutkan membaca, bocah!"

Butuh waktu hampir sejam Naruto memilah-milah tulisan Starrk. Mira sempat kembali ke dapur untuk menambah teh. Sementara Starrk, jangan ditanya lagi ... Dia sudah tertidur di menit-menit awal setelah menyuruh Naruto lanjut membaca.

Naruto benar-benar tak tahu harus memilih mana diantara semua hal yang ditulis Starrk. Namun, diantara beberapa pilihan, Naruto tertarik pada yang terakhir.

Apa yang ditulis Starrk merupakan daftar cara Naruto melampaui batasannya sekarang. Atau lebih tepatnya cara baru memakai Yōuki Kurama tanpa harus khawatir itu bisa melukai tubuh. Tentu saja semua pilihan tersebut dasarnya adalah kontrol.

Menambah waktu berpikir sekitar setengah jam. Akhirnya Naruto menentukan pilihannya dan segera membangunkan Starrk.

"Hoooamzzzz—Lama juga kau berpikir. Jadi, yang mana? Sekedar informasi, aku hanya akan membantu satu pilihanmu. Sisanya, kau harus belajar dan berlatih sendiri tanpa bantuanku jika ingin."

Naruto mengambil nafas dalam-dalam seolah apa yang akan terjadi selanjutnya adalah penentuan hidup dan mati. Setelah memantapkan hati dan tentu saja harus siap menerima konsekuensi latihan di bawah asuhan Starrk, pilihan pun diambil.

"Yang terakhir."

"Kau yakin? Ada alasan aku menaruhnya di akhir."

"Aku yakin dan tak akan menyesal."

"Bukan itu maksudku, bego." Starrk mencicit kesal, Naruto tak menangkap dengan baik maksud pertanyaannya. "Apa kau tidak membaca alasanku menaruhnya di akhir?"

Starrk berdecak kemudian Naruto tak merespon apa-apa yang berarti dia tak akan mundur pada pilihannya.

"Dengan waktu kurang dari seminggu. Tak mungkin kau bisa mempelajari, apa lagi menguasainya dengan baik, bocah."

Naruto meletakkan buku tersebut dalam keadaan terbuka dan memperlihatkan halaman yang mereka bahas. Dia memberi satu tatapan panjang ke Starrk dengan mata berkilat penuh tekad. Tak lama setelahnya dia mengukir seringai.

Seringai yang sudah Starrk tahu artinya. Starrk awalnya ingin mendesah pasrah, namun setelah Naruto mengatakan sesuatu, dia akhirnya menerima.

Bahkan, Mira dan Starrk tak bisa menahan diri untuk mengukir seringai seperti Naruto. Seringai Mira bisa dikatakan dia sangat percaya pada Naruto, sedangkan Starrk menangkap itu sebagai tantangan.

.

.

.

"Sepertinya kau melupakan satu hal tentangku, brengsek ..."

"Hmn?"

" ... Aku ini bajingan bodoh yang sudah terbiasa dengan Ketidakmungkinan yang selalu disemogakan."

.

.

.

.

.

.

.


Oke, done!

Tahan-tahan! Apapun yang ingin kalian lakukan seperti nge-flame, ngata-ngatain, ngutuk dan lain sebagainya karena terlalu lama update, tahan dulu!

Setidaknya baca dulu Author Note dibawah sebelum lampiasin semuanya gegara lama Update :v


Author Note:

Maid yang memanggil Naruto 'Sayang' itu Mirajane Lucifuge. Aslinya Mirajane Strauss dari Fairy Tail. Berbeda dari Lucifuge seperti Grayfia dan Euclid, dia berambut putih alami. Ya, nggak ada penjelasan sih apakah semua Lucifuge berambut perak atau hanya Euclid dan Grayfia di DxD Universe. Jadi, anggap disini rambut perak sudah menjadi ciri khas Lucifuge karena kedekatan mereka dengan Lucifer yang juga berambut perak, Cuma agak gelap.

Kekuatannya? Well, sudah dijelaskan oleh Starrk. Levelnya sama seperti Sirzechs, mungkin lebih kuat dilihat dari cara dia meremehkan dan ingin menghancurkan Sirzecsh. Masih kurang jelas? Dia salah satu yang berdiri di belakang Lucifer di Great War dan selamat. Secara sistem iblis Mirajane masuk dalam kategori SuperDevil. Apakah sudah jelas?

Selanjutnya perihal Lucifer. Seperti yang pernah disinggung di Author Note (lupa di Chapter berapa), setting cerita ini adalah Alternatif Universe, Timeline dan Reality. Jadi jangan heran kalau banyak yang berbeda. Nah, salah satunya sudah muncul di Chapter ini perihal Lucifer dan Great War. Aah, selebihnya pasti akan terungkap.

Untuk Naruto kenapa bisa terluka jika tidak memakai dua caranya menggunakan Youki Kurama. Samakan saja itu dengan Canon Naruto ketika memakai chakra Kurama di Mode Ekor Empat pas melawan Orochimaru.

Mungkin itu saja. Selebihnya tunggu saja di Chapter selanjutnya—


Saya mau tidur cantik bersama Dedek Wendy dan Dedek Scheherazade setelah bermain-main sebentar dengan Dedek Dedek Loli di Azur Lolilane.

Salam Lolicon dari Author Pinggiran pengidap Lolicon tingkat akut stadium akhir kadar tinggi tak tertolong ini.

BUKAN PEDO, BGSD!

Ciao~