Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
Fic ini mengandung unsur yang tidak begitu di terima oleh publik, harap memikirkan segala aspek tanpa fokus hanya pada satu bagian saja.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
.
.
[Blossom In The Winter ]
( Chapter 45 )
.
.
.
.
Tiba di rumah. Aku harus mengangkatnya. Sakura tidak juga bangun. Pelayan di rumah yang membukakan pintu.
"Ada apa dengan nona, tuan?" Tanyanya khawatir.
"Dia baik-baik saja. Hanya kebanyakan minum. Besok pagi tolong siapkan peredah mabuk untuknya."
"Ba-baik, tuan."
"Apa ibu sudah pulang?"
"Nyonya besar, sepertinya sedang lembur dan akan pulang terlambat."
"Dimana Haku?"
"Tuan Haku sedang bersama nyonya."
"Baiklah. Kau istirahat saja. Kami juga sudah makan malam. Aku yang akan mengurusnya." Ucapku.
Mengantar Sakura ke kamarnya. Belum sempat meletakannya di ranjang, pelukan erat darinya.
"Apa jika aku memiliki pasangan juga kau akan merasakan sakit seperti apa yang aku rasakan?" Ucapnya.
"Apa?"
"Aku tidak lupa apapun. Aku mengingat semuanya, semua kenangan bersama. Tidak, itu bukan kenangan, itu sikapmu yang sengaja membuatku luluh dan akan sulit melihat pemuda lain. Sekarang kau hanya membuatku kecewa."
Menurunkannya perlahan, namun pelukan itu tidak juga melonggar.
"Selama bertahun-tahun aku berusaha menguatkan diri, tapi setelah melihatmu, semua menjadi tidak berguna."
Suaranya mulai terisak. Sakura tengah menangis.
"Rasanya jauh lebih sakit dari pada saat aku sakit. Apa ada sesuatu di dadaku ini? Aku semakin sulit melihatmu. Cinta ini semakin membesar hingga membuatku kesulitan. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin hidup dalam keluarga Uchiha jika kebahagiaanku bersama orang lain."
"Maaf." Ucapku.
Aku juga tidak bisa melakukan apapun. Semuanya di luar kendaliku.
Malam ini, aku mendengar segala keluh kesalnya hingga tertidur, bahkan air mata itu masih menetes di wajahnya. Ini kesalahanku. Sejak awal aku yang membuatnya seperti ini. Sekali lagi, aku hanya bisa meminta maaf.
.
.
.
.
.
[Sakura pov.]
Terbangun di pagi hari dengan sakit kepala yang cukup mengganggu. Aku tidak ingat apa-apa lagi semalam setelah meneguk satu botol minuman. Aku yakin Sasuke akan marah besar pagi ini. Keluar dari kamar, aku cukup haus.
"Nona Sakura. Ini untuk anda." Ucap pelayan ini, dia menawarkan obat peredah mabuk padaku.
"Dimana Sasuke?""
"Tuan Sasuke sudah kembali, nona."
Apa-apaan dia? Katanya akan tinggal beberapa hari lagi di rumah, dasar pembohong. Apa dia sengaja menyuruhku memilih cincin dan pergi setelah itu? Menyebalkan. Seharusnya aku tetap tidak membantunya.
"Sudah merasa lebih baik, nona?" Tanya Haku.
"Dari mana saja kau? Apa kau sengaja menyuruh Sasuke melakukan apapun kemarin?"
"Ini keinginan tuan Sasuke."
"Aku tidak akan percaya padamu lagi."
Aku harap, aku tidak mengatakan yang aneh-aneh saat tidak sadarkan diri. Dimana mukaku nanti saat menemuinya lagi? Aku harus menghindarinya saat di Konoha.
Kegiatan kampus seperti biasanya. Aku harus kuliah dan akan meminta ijin saat acara kak Itachi. Ini sulit jika akan melihat Sasuke mengumumkan pertunangannya dengan wanita artis itu. Semoga saja mereka mendapat masalah dan tidak bisa melakukannya.
"Sekaleng kopi?"
Sasori menemukan di taman kampus. Memberiku sekaleng kopi.
"Terima kasih."
"Ada apa dengan wajahmu? Tugasmu sangat banyak?" Tanyanya.
"Sepertinya aku sedang galau." Ucapku.
"Apa ini tentang pasanganmu? Aku tidak tahu jika kau memiliki pacar."
"Anggap saja. Jadi apa kau masih tertarik padaku?"
"Aku ingin membangun hubungan pertemanan yang baik denganmu."
"Itu jauh lebih baik. Aku jadi tidak perlu sakit kepala bersama orang yang menaruh hati padaku."
"Hahaha. Lalu apa yang terjadi?"
"Jika saja pacarmu akan menikah dengan orang lain. Apa yang akan kau lakukan."
"Aku akan pasrah saja. Akan sulit memaksa jika dia juga menyukai orang itu."
"Kau berbicara tidak seperti seorang laki-laki."
"Kenapa? Apa mau menggunakan cara ekstrim? Seperti menculiknya dan memaksanya untuk menikah denganku? Dia akan menderita, Sakura."
"Itu jawaban yang jauh lebih baik."
"Kau ini ada-ada saja. Tapi jika saja dia masih mencintaimu, kau bisa memperjuangkannya. Kau bisa melakukan lebih baik."
"Kau jadi pandai menasehati orang."
"Aku tidak menasehati. Rasanya pasti akan sulit jika melihat hal itu terjadi di depan matamu. Aku harap, aku tidak pernah mendapat keadaan seperti itu."
"Kau hanya tidak berani."
"Aku mencari jalan aman."
"Mungkin kita tidak akan bertemu beberapa hari kedepan."
"Ada apa? Kau ingin membawa kabur pacarmu itu?"
"Bukan!"
Mana mungkin aku membawa kabur pria dewasa itu? Akan sangat sulit membawanya, dia lebih besar.
"Kakakku akan menikah. Aku akan kembali ke Konoha."
"Wah. Itu kabar yang baik. Aku turut berbahagia mendengarnya."
"Terima kasih, Sasori. Apa kau tidak ada niat kembali ke Konoha?"
"Aku tidak tahu. Aku ikut saja kemana ayahku akan bekerja."
"Aku akan membawakan oleh-oleh untukmu. Jadi tunggu aku kembali."
"Baiklah. Bersenang-senanglah dengan pesta kakakmu itu. Jika kembali kau pasti akan pusing lagi dengan tugas kampus." Ucapnya dan terkekeh.
"Ya kau benar. Aku akan menikmati pestanya."
.
.
.
.
.
[Konoha]
Seperti baru kemarin saja aku meninggalkan Konoha. Sekarang rumah cukup ramai dengan kedua putra dari kak Izuna. Keduanya sangat sulit di atur. Aku ingin melihat bagaimana kak Izuna yang dulunya seorang pria dengan penuh percaya diri, kesulitan mengawasi anak-anaknya.
"Bibi Sakura!" Keduanya berteriak dan berlari ke arahku.
Aku tidak percaya jika mereka masih mengenaliku. Aku hanya sempat menemui mereka saat kak Izuna mengadakan acara ulang tahun keduanya. Seharusnya si kakak jauh lebih tua, mereka hanya beda tiga tahun. Si kakak di beri nama Ren Uchiha dan di adek di beri nama Yuuto Uchiha. Semuanya mewarisi wajah sang ayah.
"Bibi Sakura yang akan bermain denganku!" Ucap Yuuto
"Tidak! Bibi Sakura akan bersamaku!" Ucap Ren.
Aku jadi pusing dengan keras kepala keduanya.
"Aku akan bermain dengan kalian berdua." Ucapku.
Namun itu hanya semakin membuat keduanya berselisih.
"Kalian, apa yang ayah katakan untuk tetap akur di saat bibi Sakura kembali?" Tegur kak Izuna.
Kak Izuna akhirnya membuat keduanya berdamai.
"Aku membawakan kalian hadiah." Ucapku.
Membongkar koperku dan memberi mereka masing-masing satu kotak. Mereka sampai tidak sabaran dan membukanya. Sejujurnya ibu yang menyuruhku untuk memilih hadiah mainan untuk kedua cucunya yang cukup rewel dan sangat aktif itu.
"Terima kasih, bibi Sakura." Ucap keduanya dan memeluk sayang padaku.
"Sebaiknya kau sering-sering di rumah untuk mengawasi keduanya." Ucap kak Izuna padaku.
"Tidak. Aku sibuk kuliah kakak. Kenapa kau melimpahkan anak-anakmu padaku."
"Jangan dengarkan ucapannya. Dia saja yang sulit mengatur mereka." Sindir kak Naori.
"Aku ingin melihat kakak mengurus mereka." Ucapku dan terkekeh.
"Rasanya ingin membelah diri saja." Ucap kak Izuna.
Kak Naori dan aku kompak untuk mentertawakannya. Sementara kak Itachi. Dia baru saja kembali setelah mengecek apapun untuk hari bahagianya. Ibu dan ayah baru akan datang besok. Mereka masih sangat sibuk.
Bagaimana dengan Sasuke?
Mungkin dia akan datang bersama pacarnya itu. Dia juga belum pulang.
"Aku senang melihatmu baik-baik saja." Ucap kak Itachi. Dia semakin terlihat seperti ayah. Pria tua yang berkarisma.
Aku jadi punya waktu untuk berbicara berdua dengannya lagi. Aku tidak mungkin mengganggu kak Izuna dengan keluarga kecilnya. Kak Itachi tidak masalah dengan kak Izuna dan kak Naori yang memilih tinggal bersama. Lagi pula setelah aku pergi dan juga Sasuke. Kamar yang kosong dan tidak ada yang menempatinya. Mereka mengubah kamar itu menjadi milik kedua anak laki-lakinya. itu jauh lebih baik.
"Apa Niichan sudah mendengar dari Sasuke?" Tanyaku.
"Aku hanya mendengar dari ibu."
"Uhm."
"Mungkin ini yang terbaik Sakura. Kau harus bisa mencari pemuda lain."
"Maaf Niichan. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku juga mendukung keputusan Sasuke. Lagi pula semua itu sudah berlalu. Aku juga sudah menjadi orang dewasa. Aku tidak akan bersikap kekanak-kanakan lagi."
"Bagaimana jika menemaniku jalan-jalan. Ini hari terakhir aku menjadi pria lajang." Ucapnya.
"Aku akan menemani Niichan kemana pun juga." Ucapku.
Kesenanganku bersama Niichan hanya sebentar saja.
Esoknya.
Aku ingin menghindarinya, tapi kami bertemu secara tiba-tiba. Aku ingin melihat kak Izumi, kenapa bertemu Sasuke?
"Gaun yang indah." Ucapnya padaku.
Aku tidak suka mendengar pujiannya.
"Dimana pacarmu?" Tanyaku.
"Dia masih ada kesibukan. Sepertinya dia tidak bisa datang."
Sejenak ini membuatku senang. Apa yang kau pikirkan Sakura! Sebentar lagi dia akan mengumumkan jika akan segera bertunangan.
"Aku ingin ke kamar kak Izumi." Ucapku.
"Apa kita bisa bertemu? Aku ingin menemuimu di taman gedung ini."
"Untuk apa? Buang-buang waktu saja."
"Kau pasti akan penasaran."
Apanya yang penasaran? Bikin susah saja. Sasuke pergi dengan hanya mengatakan hal itu. Aku tidak mau keluar dari gedung ini. Ayah dan ibu pasti mencariku. Mereka akan selalu bersamaku.
Sebentar lagi acara akan di mulai. Aku berhasil menemui kak Izumi. Kami belum sempat bertemu saat aku kembali ke Konoha. Pelukan erat darinya. Dia sangat senang melihatku.
"Akhirnya aku mendapat kakak perempuan lagi." Ucapku.
"Maaf tidak menemuimu sebelumnya."
"Aku tahu kak Izumi sangat sibuk. Lagi pula kita akan sering bertemu." Ucapku.
"Pengantin wanita, harap untuk bersiap." Ucap sebuah suara diri depan pintu.
"Aku sangat gugup." Ucap kak Izumi.
"Aku tidak pernah merasakan seperti ini, tapi aku yakin semuanya akan berjalan lancar. Kak Izumi harus lebih tenang."
"Terima kasih, Sakura."
"Sampai bertemu di aula."
Keluar dari kamar kak Izumi. Aku juga harus kembali ke tempatku. Ini adalah gedung hotel yang berbeda, tidak sama dengan acara kak Izuna sebelumnya. Lalu dimana tamannya? Dasar Sasuke. Kenapa harus menenmuinya? Abaikan. Aku harus cepat kembali ke aula utama.
Belum sempat menuju aula. Seseorang menahanku, genggaman erat dari tangannya. Dia ini seperti hantu, selalu muncul tiba-tiba.
"Sasuke?"
"Tidak ada waktu."
"Apanya yang tidak ada waktu?" Ucapku, bingung.
"Ini waktu yang tempat. Di saat semua orang fokus untuk acara sakral kakak. Aku juga sudah mengatakan padanya. Jika hari ini aku akan berbuat nekat."
"Apa maksudmu? Tunggu! Ruangan aula di sebelah sana. Bukan ke arah sana."
Sasuke tidak mendengarkan ucapanku. Dia terus menarikku keluar dari gedung hotel ini, genggamannya sangat kuat hingga sulit aku lepaskan. Apa akan menuju ke taman? Tapi untuk apa? Acara kak Itachi akan segera dimulai.
Ini bukan taman seperti yang di katakan Sasuke. Untuk apa ke basement?
"Kita harus lebih cepat." Ucapnya.
"Kemana?" Aku semakin bingung.
"Aku akan menjelaskannya padamu."
"Kenapa jika sekarang?"
"Tidak bisa. Aku akan menjelaskannya di luar."
Aku sungguh tidak memahami apapun sekarang. Sasuke mengajakku masuk ke sebuah mobil. Kita akan kemana? Bagaimana dengan acara kak Itachi?
.
.
TBC
.
.
di chapter sebelumnya banyak typo. =_= sorry jadinya bikin tak nyaman untuk di baca.
author mencantumkan dua karakter OC sebagai anak Izuna. Ren dan Yuuto.
hari ini kak itachi nikah. selamat...~
lalu apa yang akan sasuke lakukan?
see you next chapter!
Author bakalan konsisten untuk menyelesaikan ini. Author udah punya cerita baru di kepala, tapi harus menyelesaikan yang lainnya dulu =_="
