Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
Fic ini mengandung unsur yang tidak begitu di terima oleh publik, harap memikirkan segala aspek tanpa fokus hanya pada satu bagian saja.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
.
.
[Blossom In The Winter ]
( Chapter 46 )
.
.
.
.
Mobil ini mulai melaju keluar dari gedung hotel, Sasuke akan membawaku kemana?
"Acara Niichan sudah mulai. Kenapa kita harus keluar?" Tanyaku. Sejak tadi Sasuke tidak juga memberi penjelasan apapun.
"Aku akan mengatakannya. Sebentar lagi."
"Kita kembali. Kau ini sangat aneh."
"Tidak. Kita harus pergi cukup jauh dari Konoha."
"Ha? Apa maksudmu? Kenapa kita harus menjauh dari Konoha?"
"Akan aku jelaskan. Sekarang tenanglah."
"Bagaimana aku bisa tenang jika kita pergi tanpa mengatakan pada siapapun? Ayah dan ibu pasti mencariku."
"Biarkan mereka mencarimu."
"Berhenti! Kita kembali!" Kesalku.
"Aku tidak akan berhenti."
"Ada apa denganmu!" Marahku.
Tiba-tiba Sasuke mengerem mendadak. Aku cukup terkejut akan tindakannya. Dia ini sangat aneh. Kemarin begitu tenang sekarang seperti orang yang sedang panik.
"Kita akan pergi jauh dari Konoha, cukup jauh. Aku sudah merencanakannya cukup matang. Ayah dan ibu akan kesulitan mencari kita."
"Kau ini sedang tidak waras? Kembali sekarang juga. Aku tidak mau membuat ayah dan ibu khawatir. Aku baru bisa bertemu keduanya di saat penting ini saja. Aku bahkan ingin melihat Niichan dan kak Izumi menikah."
"Kau bisa melihat mereka lain kali."
"Aku akan pergi sendirian jika kau tidak memutar kendaraan ini."
"Menikahlah denganku."
Ha?
Menatap Sasuke. Dia terlihat sangat serius akan ucapannya itu.
"Apa kau habis minum? Kau sedang mabuk?"
"Tidak. Apa aku terlihat habis minum? Aku ingin kita menikah."
"Omong kosong. Bagaimana kau membuat lelucon selucu ini? Bulan lalu kau mengatakan akan menikahi wanita artis itu, sekarang kenapa mengatakan ingin menikah denganku? Kau sungguh pandai mempermainkan orang."
"Aku tidak punya banyak pilih lagi. Ini sebagai penebus kesalahanku. Aku ingin minta maaf padamu dengan baik dan ingin melanjutkan hubungan ini sesuai dengan apa yang aku rencanakan sejak dulu."
"Apa kau sudah gila? Tiba-tiba mengatakan hal yang bikin sakit hati, tiba-tiba mengatakan hal yang ingin sengaja membuatku senang. Aku tidak akan tertipu lagi."
"Aku minta maaf."
"Itu sudah berlalu Sasuke. Sekarang aku sudah menegaskan padamu jika kita ini hanyalah saudara."
"Kesalahanku mengatakan hal itu padamu. Aku tidak akan melakukannya lagi."
"Aku tidak ingin menikah denganmu. Bagaimana pacarmu?"
"Dia yang menyukaiku. Aku tidak."
"Kau ini tidak pernah memikirkan perasaan orang."
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku tidak ingin melihatmu menderita. Aku mencoba segala yang terbaik agar kau tidak tersakiti, tapi rasanya salah, aku tidak bisa menikah dengan orang lain. Sekarang umurmu sudah termasuk legal untuk menikah. Aku menunggu saat ini."
Seperti badai di siang hari yang tiba-tiba menyerang. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Tunggu, apa ini yang namanya kawin lari? Sasuke berencana melakukannya. Dia ingin aku menjauh dari keluarga yang sudah lama mengadopsiku menjadi anak mereka. Ini bukannya sesuatu yang juga salah?
Sasuke mulai melajukan kembali mobil ini. Aku bingung harus mengatakan apa. Kami akan menikah?
"Ayah dan ibu akan menemukan kita cepat atau lambat." Ucapku.
"Mereka akan kesulitan." Ucap Sasuke penuh percaya diri.
"Kenapa memilih kabur? Kau pria tua yang sudah lebih dewasa."
"Lebih baik kabur dari pada menghadapi ayah dan ibu secara terang-terangan. Apa kau pikir mereka akan merestui kita? Aku sudah mendengar segalanya dari Haku. Dia melapor pada ibu bagaimana perasaanmu padaku."
"Da-dasar tukang lapor!"
Wajahku sontak memerah. Kenapa Haku mengatakan pada Sasuke juga! Kenapa! Aku sampai malu untuk menatap Sasuke.
"Kau benar akan ucapanmu saat di kota Iwa. Ini kesalahanku. Aku yang membuatmu seperti ini. Maka dari itu, sesuai apa yang sudah aku pikir untuk masa depan kita bersama. Aku akan bertanggung jawab dan menikahimu."
"Kenapa kau mengatakan segalanya dengan begitu mudah? Bagaimana dengan posisiku sebagai anak adopsi? Aku seperti tak ada malu melakukan hal ini."
"Jadi kau setuju menikah denganku?"
"Bukan seperti itu!" Protesku.
"Sudah berapa kali aku katakan. Ini bukan kesalahanmu. Aku yang melakukannya. Jadi kau tetap anak yang berbakti pada kedua orang tua angkatmu. Aku rasa itu sudah cukup. Kau sudah dewasa Sakura. Kau berhak memilih masa depanmu sendiri."
"Lagi-lagi mengatakannya dengan sangat mudah."
"Apa kau tidak ingin menikah denganku? Aku sudah memintamu tapi kau tidak ada respon."
"Aku tidak peduli. Kapan aku bilang ingin menikah denganmu! Dasar ge-er!"
"Aku senang kau tetap keras kepala seperti biasanya. Aku harus lebih berusaha untuk membuatmu kembali padaku."
Dalam beberapa detik saja, Sasuke membuatku pusing. Bagaimana ini? Aku memikirkan tanggpan ayah dan ibu, mereka akan sangat-sangat marah, saat pernikahan kak Izuna, Sasuke dengan lantangnya akan menikahiku, dia sampai membuat ayah marah besar. Sekarang, dengan kabur seperti ini, bukannya akan semakin memperburuk keadaan? Lalu kita akan kemana? Aku bahkan hanya menggunakan gaun untuk acara kak Itachi.
"Sasuke, apa ini tidak masalah?" Ucapku. Aku takut.
"Tidak akan ada masalah. Kau harus percaya padaku." Ucapnya. Sebuah genggaman darinya. Menggenggam erat tanganku.
"Apanya harus percaya. Kita hanya seperti ini saja pergi? Aku bahkan hanya punya satu baju melekat di tubuhku."
"Setelah kita menikah. Kita akan tinggal di sebuah rumah, aku sudah mempersiapkan kebutuhanmu di sana."
"Kapan kau merecanakan semua itu?"
"Saat aku merasa bersalah dan memutuskan hubungan kita."
"Kau begitu percaya diri jika aku akan kembali."
"Tentu saja. Karena kau hanya memikirkanku."
Mencubit tangannya. Dia sungguh membuatku malu.
"Bagaimana dengan kuliahku?"
"Kau akan cuti. Aku akan mengurusnya untukmu."
"Kenapa kau selalu saja membuatnya menjadi mudah?"
"Karena aku ingin kita hidup bersama. Aku akan mempersiapkan apapun untukmu."
"Pekerjaanmu?"
"Aku menitipkan pada wakil direktur terpecayaku di sana. Dia akan mengurus selama aku kabur, aku mengatakan padanya jika aku sedang liburan panjang."
"Dasar pembohong."
"Demi siapa aku melakukan semua ini?"
"Apa kau pikir aku mau? Aku sangat takut. Ini hal yang tidak pernah aku pikirkan. Kabur bersamamu."
"Sekarang kita sudah melakukannya."
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jadi selama ini, selama kita berpisah, Sasuke tidak tinggal diam. Dia merencanakan hal besar ini, termasuk kabur dari ayah dan ibu.
Lalu perjalanan ini akan kemana? Jauh dari Konoha itu, kita akan kemana?
Perjalanannya sungguh jauh. Aku sampai tertidur. Saat di bangunkan Sasuke. Kami tiba di sebuah gedung. Aku tidak tahu tempat ini. Di dalam ada seseorang menunggu kami, apa dia seorang pendeta?
Sungguh!
Kami akan menikah?
"Aku sudah mempersiapkan segala berkasnya. Dia adalah calon pengantinku." Ucap Sasuke.
"Baiklah. Asistenku yang akan menjadi saksi kalian. Jadi kalian sudah siap?" Ucap pria ini dan seorang pria berada di sebelahnya.
"Tu-tunggu. Kita akan menikah? Sekarang? Disini?" Tanyaku. Panik.
"Iya. Apalagi yang kau tunggu? Aku sudah menjelaskannya di mobil."
"Ada apa tuan Sasuke? Masih ada kendala?" Tanya pendeta ini.
Aku masih tidak percaya ini.
"Bagaimana Sakura? Jika kau tidak ingin melakukannya. Hari ini juga kita akan kembali dan lupakan semua yang sudah aku katakan padamu."
Mendengarnya saja aku tidak mau. Aku tidak ingin kita kembali, aku tidak ingin melihat ayah memukul Sasuke. Aku tidak ingin melihat wajah kecewa ibu dan semua kakak-kakakku.
"Ki-kita akan melakukannya." Gugupku.
Ini terlalu mendadak untukku.
Pendeta mulai membacakan janji suci yang akan mengikat kami, sebuah cincin di keluarkan Sasuke dari saku bajunya. Memasangkan cincin itu ke arah jari manisku.
Menatapnya. Cincin ini adalah cincin yang aku pilih sendiri saat itu. Kenapa dia berbohong jika cincin ini untuk wanita itu? Lalu Sasuke memberikan sebuah cincin yang harus ku pasangkan untuknya.
"Haruno Sakura. Kau bersedia menjadikan Uchiha Sasuke sebagai suamimu?"
Pendeta ini memanggil nama margaku. Apa Sasuke sengaja mengubah namaku?
"Aku bersedia."
"Kalian sudah resmi menjadi suami-istri tolong tanda tangan di berkas ini."
Acara skaral yang singkat ini sudah selesai. Sekarang aku dan Sasuke resmi menjadi pasangan suami-istri.
Suami-istri?
Memikirkannya saja seperti mimpi. Apa aku sedang bermimpi?
"Ada apa? Kau menyesal menikah denganku?" Tanya Sasuke.
"Aku tidak mengatakan seperti itu." Ucapku. Malu.
"Wajahmu terlihat mengatakannya."
"Aku hanya tidak percaya ini."
Sebuah pelukan erat darinya.
"Kita akan menjalaninya pelan-pelan jadi tetaplah sadar. Sekarang kau adalah istriku. Seperti apa yang aku harapakan selama ini."
Perjalanan ini kembali dimulai. Sasuke masih tidak memberikan jawaban tempat yang kami tuju. Apa masih jauh? Tempat menikahnya pun sangat jauh.
Aku kembali tertidur.
Saat membuka mata. Hari sudah sangat gelap. Penerangan sangat minim. Apa kita akan tinggal di sebuah pedesaan?
"Ini dimana?" Ucapku.
"Ini adalah kota Oto. Cukup jauh dari Konoha, tapi pusat kotanya cukup dekat. Kota ini hanya masih dalam tahap pengembangan jadi masih seperti ini. Masih tak cukup ramai." Jelas Sasuke.
Rumah-rumahnya pun sangat berjarak. Aku sangat lelah, aku ingin segera berbaring di ranjang.
Sejam perjalanan, ini sudah jam 1 malam. Kami tiba di sebuah rumah. Gelap, aku tidak tahu bagaimana bentuk rumah ini. Saat mendekat, rumah ini semacam vila di tengah padang rumput yang luas. Aku yakin jika pagi harinya akan sangat indah. Aku bisa melihat sekitar dengan bantuan bulan yang sangat terang. Disini langitnya terasa dekat.
Sasuke sudah memarkir mobil di garasi yang tersedia, dia membuka kunci rumah ini, menyalakan beberapa saklar lampu. Aku bisa melihat isi rumah ini. Sangat indah. Ini sungguh villa bergaya klasik yang memiliki bangunan dengan bahan kayu kuat yang mendominasi. Ada perapian. Kami seperti tengah liburan.
"Kau suka?" Tanyanya.
"Aku sangat suka." Ucapku. Rasa lelah itu berkurang sejenak. Aku semakin penasaran dan mengelilingi rumah ini.
"Dimana kamarnya? Aku juga ingin segera mandi."
"Kamar utama di sebelah sana. Pagi hari kau bisa melihat danau di sini."
"Sungguh?"
"Hn."
Berlari ke arahnya dan memeluk pria ini. Kenapa dia begitu pandai menenangkan hatiku? Sejak tadi aku ketakutan. Memikirkan segalanya dengan perasaan sulit, sekarang rasa takut dan bingung itu menghilang begitu saja.
"Kau senang?" Tanyanya lagi.
"Uhm. Aku sangat senang."
"Jadi kau sudah menerimaku sebagai suamimu?"
"Tidak. Kita harus kembali pacaran terlebih dahulu." Ucapku. Terkekeh.
Menjauh darinya. Aku penasaran dengan kamar utama. Kamarnya sangat luas. Ranjang empuk seperti milik Sasuke yang ada di rumah utama. Kamar mandi di dalam yang juga luas.
"Dari mana kau mendapat tempat ini? Aku tidak yakin jika ini salah satu properti milik keluarga Uchiha."
"Seorang pria menjualnya padaku. Rumah ini tidak di ketahui oleh ayah maupun ibu, tapi ada satu orang yang mengetahuinya.
"Siapa?"
"Aku sempat mengatakannya pada kak Itachi jika aku akan membawamu pergi jauh."
"Sungguh? Kau bicara pada Niichan? Lalu apa yang di katakannya?"
"Kau harus tahu, kakak sangat peduli padaku. Dia membiarkanku pergi. Dia hanya berpesan untuk menjagamu."
Kak Itachi. Aku jadi sedih setelah mendengarnya. Dialah yang mendukungku selama ini, memberiku nasehat bahkan memintaku untuk tetap kuat saat menghadapi apa yang terjadi padaku.
"Aku ingin berterima kasih pada Niichan."
"Nanti saja. Sekarang mandilah atau kau ingin mandi bersama? Aku juga ingin segera istirahat."
"Tidak boleh! Kau mandi setelah aku!"
.
.
TBC
.
.
updatee...~
sorry kemarin nggak update. banyak pekerjaan rumah kalau minggu. XD
