Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
Fic ini mengandung unsur yang tidak begitu di terima oleh publik, harap memikirkan segala aspek tanpa fokus hanya pada satu bagian saja.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
.
.
[Blossom In The Winter ]
( Chapter 47 )
.
.
.
.
[ Sasuke Pov.]
Bukan hanya Sakura yang merasa ini seperti mimpi. Aku juga tidak tahu apa yang sudah aku lakukan. Di pikiranku, aku ingin membawa Sakura pergi jauh agar bisa hidup bersamanya. mempersiapkan segalanya jauh hari dan meminta Sakura kembali padaku. Ini sungguh di luar dugaan, rencanaku berhasil dengan sempurna.
Sekarang, di sampingku, terbaring seorang wanita yang telah menjadi istriku. Aku sudah mempersiapkannya sejak dulu. Semuanya menjadi kenyataan, wanita yang akan hidup bersamaku.
Setelah tiba di rumah yang akan kami tempati, yang di pikirkan hanya tidur. Sakura tertidur dengan sangat nyenyak. Menariknya dalam pelukanku. Dia bahkan mengancamku untuk tidak boleh menyentuhnya jika dia tidak mengijinkannya. Dia memang wanita yang di takdirkan untukku, tidak pernah berubah dan semakin membuatku sayang padanya. Mengecup perlahan puncuk kepalanya. Kegiatanku membangunkannya.
"Kau tidak melakukan hal aneh padaku 'kan?" Ucapan yang keluar di mulutnya saat membuka matanya.
"Tidak. Aku takut di hajar olehmu."
Pelukannya mengerat.
"Aku masih tidak percaya jika Sasuke menjadi suamiku. Aku tidak akan berbohong lagi. Aku sangat mencintainya."
"Hn. Aku juga sangat mencintaimu, Sakura."
"Aku sangat lapar. Apa yang bisa kita makan hari ini?"
"Cuci muka dan ganti pakaianmu. Aku tahu tempat makan yang enak. Sebelumnya aku pernah mengecek sekitar area ini."
Sakura bergegas bangun, dia pasti sangat kelaparan, kami memilih tidur dari pada mencari makan di tengah malam. Rasa kantuk lebih mendominasi dari pada rasa lapar kami.
Sakura sudah bersiap. Aku menaruh beberapa pakaian di lemari untuk persiapan jika rencanaku berhasil membawanya kabur. Aku pikir dia akan menolakku atau tetap keras kepala tidak ingin menikah denganku.
"Cepatlah, cepatlah, aku sudah lapar." Ucapnya, bersemangat.
Mengecup lembut bibirnya yang tidak bisa berhenti menyuruhku bergegas.
"Apa yang kau lakukan! Aku menyuruhmu cepat." Ucapnya dan malah memukulku. Wajahnya terlihat sangat merona.
"Iya-iya."
Saat keluar dari rumah, matanya terfokus pada danau yang tidak jauh dari rumah ini. Area disini juga sangat luas dengan hamparan ramput pendek sejauh mata memandang.
"Ada perahu di sana, kita bisa gunakan untuk ke danau."
"Ayo kita lakukan nanti." Ucapnya lagi dengan penuh semangat.
Pusat kota hanya bisa di tempuh dengan kendaraan, memarkirnya di tempat yang sudah di sediakan. Disini tidak begitu ketinggalan jaman, ada banyak restoran dan kafe yang bisa di pilh di sepanjang jalanan. Pejalan kaki dan pesepeda mendomanasi, orang-orang harus memarkir kendaraan mereka di tempat lain.
"Bagaimana dengan makan daging dan roti lapis hari ini? Aku sangat ingin makan seperti itu." Ucapnya.
"Kau tidak mengontrol makananmu lagi?"
"Kali ini saja. Rasanya aku seperti ingin makan bergunung-gunung." Ucapnya dan tertawa.
"Baiklah. Kali ini saja."
Kami menemukan restoran yang memiliki menu sesuai keinginan Sakura. Dia memesan cukup banyak.
"Aku bahkan belum mencicipi makanan di pesta Niichan." Ucapnya.
"Makanlah dan jangan banyak bicara."
"Tidak, ada yang ingin aku katakan padamu."
"Apa?"
"Kau tahu, sebelum aku ke Konoha, aku berbicara dengan temanku yang bernama Sasori. Apa kau lupa lagi padanya?"
"Tidak."
"Dia mengatakan cara ekstrim dengan membawa kabur pacarku. Aku menceritakan apa yang akan terjadi padaku. Pacarku akan menikah dan aku tidak senang melihatnya." Ucapnya. Sakura menceritakan sebuah kejujuran lain darinya.
"Aku tidak mungkin membawa kabur pacarku. Dia itu pria dewasa dan sangat besar dariku." Ucapnya dan tertawa hingga tersedak.
"Aku sudah memperingatimu untuk tidak bicara saat makan." Ucapku, memberinya segelas air.
"Sekarang apa yang terjadi? Dia yang membawa aku kabur." Ucapnya.
"Oh, jadi kau masih menganggapku sebagai pacarmu dan curhat pada temanmu itu?"
"Aku hanya memberi contoh saja. Lagi pula di saat itu kita sudah putus."
"Aku sudah memulai hubungan baru dengannya." Ucapku. Menggenggam tangannya.
"Jangan membuatku malu." Ucapnya pelan. Bahkan tidak menatapku.
Menyelesaikan sarapan kami. Berjalan menuju sebuah supermarket untuk membeli beberapa kebutuan pokok kami. Aku mempercayakan padanya.
"Apa sekarang kau masih melarangku menggunakan dapur?" Ucapnya, mengingatkanku saat aku marah besar padanya yang sedang memasak.
"Sekarang kau sudah bukan anak-anak lagi. Aku tidak akan melarangmu."
"Kau terlalu berlebihan saat itu. Aku tidak suka saat kau marah." Tegurnya.
"Aku tidak akan melakukannya lagi. Hey, kau jadi rajin protes padaku. Apa karena kau sudah dewasa?"
"Tentu saja. Aku sudah mulai berhak berbicara dan mengemukakan pendapatku, tuan Sasuke."
"Baiklah. Maafkan sikap buruku yang dulu. Buatkan aku masakan yang bahkan kakak dan kak Izuna tidak pernah mencobanya."
"Aku butuh bayaran."
"Apa?"
"Ajak aku ke danau."
"Sore hari akan terlihat indah."
"Kau yang terbaik Sasuke."
Siang hari, kami kembali, Sakura mulai sibuk menata bahan-bahan masakannya di kulkas, dia sangat menyukai rumah ini. Aku tidak salah membelinya dengan harga cukup mahal. Aku memindahkan uang tabunganku secara diam-diam agar ayah dan ibu tidak bisa melacakku. Aku bahkan meminta bantuan kakak untuk menutupi setiap pembayaranku agar tidak ketahuan. Aku harus bertahan hingga mereka bisa menemukan kami. Aku tahu, ayah itu tidak mungkin tinggal diam. Dia akan mudah menemukan kami, tapi sebelum itu.
"Aku punya sedikit permintaan." Ucapku pada Sakura.
"Apa? Katakan saja."
"Bagaimana jika kita punya anak?" Tanyaku, ragu. Apa dia sudah siap?
Hening.
Sakura tidak mengucapkan apa-apa dan hanya menatapku. Wajah itu perlahan-lahan merona.
"A-apa! Anak! Anak maksudnya anak kita! Kau ingin segera punya anak?" Paniknya.
"Tenanglah."
"Aku tidak tahu bagaimana itu terjadi. Aku mengerti cara pembuatannya, tapi selama ini, aku tidak tahu jika kau ingin segera punya anak. Apa yang harus aku persiapkan?" Paniknya semakin parah.
"Sakura. Tenanglah." Ucapku. Menahan kedua bahunya. "Aku tidak menginginkannya sekarang. Aku bertanya padamu. Apa kau bisa? Jika kau belum siap. Kita tidak akan lakukan." Ucapku. Aku pikir ini akan mudah, tapi melihat sikapnya yang kebingungan dan panik. Aku rasa ini akan sedikit sulit.
"Se-selama ini kita tidur bersama. Bahkan saat aku masih kecil, tapi aku memikirkan bagaimana jika kita melakukannya. Aku tidak bisa membayangkannya." Ucapnya dan terlihat sangat malu.
Dia sungguh membuatku tidak tahan, wajah terlihat bingungnya itu sangat menggemaskan. Memeluknya erat.
"Maaf. Aku akan menunggumu hingga kau siap saja. Aku mengerti Sakura."
"A-aku tidak masalah jika kau ingin sekarang."
"Tidak-tidak. Nanti saja. Sekarang istirahat. Aku pikir kau ingin ke danau."
"Uhm. Nanti saja. Aku ingin menenangkan pikiranku dulu. Lagi pula kita bisa melakukannya kapan saja." Ucapnya dan membalas pelukanku.
"Aku ingin anak perempuan yang menggemeskan, melihat anak kak Izuna, mereka berdua seperti dua bocah iblis yang menakutkan. Mereka sangat sulit di atur dan seperti akan menghancurkan apa saja." Ucap Sakura. Meskipun panik dan malu dia masih ingin membahasnya.
"Hn. Kita akan berusaha mendapatkan anak perempuan."
.
.
.
.
.
[ Sakura pov]
Terhitung sudah seminggu kami kabur. Tidak ada tanda-tanda ayah dan ibu menemukan kami. Selama ini kami hidup sangat bahagia. Aku tidak pernah menyangka akan berakhir seperti ini. Menikah dengan Sasuke. Menatap cincin di jari manisku ini. Aku sendiri yang memilihnya, memang akan sangat indah jika di jariku. Kami tengah duduk santai di sofa dan suara tv mendominasi ruangan ini. Menonton sebuah film action bersama.
"Bagaimana dengan pacarmu itu? Aku yakin dia akan mengamuk pada ibu. Lagi pula dia artis terkenal. Apa yang tidak akan sulit di lakukannya?" Tanyaku. Aku masih tetap saja mengkhawatirkan segalanya.
"Pertama ibu tidak suka wanita yang mengamuk di hadapannya. Dia akan berurusan dengan ibu. Kedua, dia belum pernah mengumumkan pasangannya. Selama ini dia terus menutupi karena tuntutan dari agensi perusahaan tempatnya bekerja. Jika dia membuat masalah, dia yang akan di tuntut."
"Dia pasti sangat sedih sekali. Kau tiba-tiba pergi dan mengatakan apa yang sudah kalian rencanakan."
"Kenapa kau harus membahas orang lain di saat kita menghabiskan waktu bersama?"
"Aku selalu mengingatnya setiap menatap cincin ini. Aku terus memikirkan jika bagaimana saat dia mengenakan cincin ini?"
"Aku hanya mengatakan pilih yang kau suka. Bukan berarti aku ingin membelikan untuknya."
"Seharusnya aku curiga saat itu."
"Aku rasa rencanaku sangat sempurna."
"Dasar pembohong."
"Berhenti membicarakan orang lain. Hanya ada kau yang aku harapkan untuk menjadi pendampingku." Ucapnya.
Sebuah kecupan ringan pada bibirku. Meskipun sering melakukannya, tetap saja masih membuatku malu. Aku juga memikirkan bagaimana jika kami segera membuat anak. Selama ini, walaupun tidur bersama, Sasuke tidak pernah melakukannya. Dia hanya memelukku dan memberiku ciuman. Apa sudah saatnya? Aku bahkan tidak pernah mengatakan untuk melakukannya saja.
Duduk di atas pangkuannya. Pria di hadapanku ini sedikit terkejut, merangkul leher dan mengecup bibirnya. Kali ini aku lebih dulu melakukannya.
"A-aku rasa aku siap jika kau ingin melakukannya." Ucapku. Malu.
"Sungguh? Kau tidak keberatan?"
Mengangguk pelan.
"Jangan tarik kata-katamu."
"Aku siap!" Tegasku.
"Kau takut?"
"Sedikit." Ucapku dan menundukkan wajahku.
Apa benar akan terasa sakit? Ini yang pertama untukku. Kami bahkan belum melakukan malam pertama setelah menikah. Sasuke selalu mengatakan akan menunggu keputusanku.
"Aku akan mengajarimu dan memberi arahan, jadi katakan jika kau tidak bisa melakukannya, kita bisa pelan-pelan saja." Ucapnya.
Di saat seperti ini dia masih sangat pengertian. Memeluknya. Aku semakin jatuh cinta padanya.
"Aku tidak akan mundur lagi!"
.
.
TBC
.
.
author menyelesaikan fic ini.
next
