Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

Fic ini mengandung unsur yang tidak begitu di terima oleh publik, harap memikirkan segala aspek tanpa fokus hanya pada satu bagian saja.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

.

.

[Blossom In The Winter ]

( Chapter 48 )

.

.

.

.

[Sakura pov.]

pagi harinya. Aku lebih dulu bangun, uhk, area di bawah sana cukup sakit dan pinggangku terasa sangat pegal. Semalam, rasanya wajahku sedikit memanas, jadi itu yang namanya malam pertama? Melirik Sasuke. Dia masih tertidur, bahkan selimut itu hanya menutupi bagian pinggangnya ke bawah. Melihat ke dalam selimutku. Aku juga masih tanpa busana. Aku seperti mendapat pelajaran tentang tata cara melakukan hubungan intim suami-istri. Sasuke menjelaskan sambil mempraktekannya. Bukannya aku senang, tapi aku sangat malu. Aku seperti anak kecil yang baru saja belajar, padahal aku sudah cukup dewasa.

Apa jika melakukannya sekali akan segera mendapat anak? Mungkin saja, di saat seperti ini, tidak ada yang memberiku penjelasan, Sasuke tidak bisa. Jika di rumah ada kak Izumi dan kak Naori, mereka akan mudah memberiku penjelasan, tapi Sasuke mengatakan jika kami tidak akan kembali jika ayah dan ibu belum menemukan kami. Sejujurnya aku sangat berharap jika keadaan ini terus seperti ini saja. Hidup bahagia yang aku harapkan.

"Sudah bangun?"

Terkejut, berbaring ke samping. Sasuke baru saja bangun.

"Uhm."

"Apa masih sakit?" Tanyanya.

"Sedikit. Apa ini akan masalah?"

"Tidak. Kau akan baik-baik saja. Karena masih awal, jadi seperti itu. Aku sudah mencari informasinya."

"Kau ini bahkan mencari informasi tentang itu?"

"Aku ingin kau tidak ketakutan. Bagaimana jika kita sama-sama tidak tahu apa-apa. Akan ada dua orang bodoh yang datang ke rumah sakit karena malam pertama mereka."

"I-itu tidak lucu." Ucapku. Malu.

"Tidurlah lebih lama. Aku yakin kau masih lelah."

"Tidak apa-apa. Aku tidak bisa tidur lagi, mungkin hanya berbaring saja."

"Hn."

Sasuke menarikku perlahan, memelukku erat. Aku merasakan usapan lembut pada punggungku.

"Terima kasih kau sudah percaya padaku." Ucapnya.

Aku mengingat kejadian semalam lagi. Aku menangis karena mengatakan sakit pada Sasuke, dia memintaku percaya dan semuanya akan baik-baik saja.

"Disini hanya ada kau, aku tidak bisa percaya pada orang lain lagi."

Kata Sasuke ini tidak akan langsung terjadi, harus menunggu beberapa minggu dan jika bisa kami akan harus melakukannya lagi. Aku sangat malu, tapi aku senang melihat wajah Sasuke dan suara yang terdengar sangat seksi itu. Tidak-tidak! Jangan pikirkan itu sekarang.

Pagi ini, memulai membuat sarapan. Aku harus terbiasa dengan perubahan hubungan yang semakin harmonis ini. Sasuke akan selalu di rumah, apa dia tidak punya hal yang akan di lakukannya?

"Kau akan di rumah terus?" Tanyaku.

"Aku sedang liburan. Aku tidak akan melakukan pekerjaan apapun."

"Sampai kapan kau akan libur?"

"Uhm, mungkin sampai istriku hamil." Ucapnya dan sebuah senyum mengambang di wajahnya.

"Ja-jangan menggodaku!" Ucapku, malu.

Semakin tua, semakin saja pandai menggoda.

"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Ucapnya. Sasuke terlihat serius.

"Apa? Katakan saja."

"Bagaimana jika memiliki anak ini adalah rencana dariku. Aku berniat melakukannya karena ini satu-satunya jalan terakhir kita. Jika saja kita berhasil sebelum di temukan. Ayah dan ibu tidak bisa berbuat apa-apa lagi."

Aku tidak tahu jika ini adalah alasan Sasuke terburu-buru untuk memiliki anak. Aku pikir dia senang jika aku cepat hamil atau dia sudah tidak sabar ingin menggendong anaknya sendiri.

Ini adalah rencana Sasuke yang masih berlanjut, selain membawaku kabur, dia harap dengan hal ini semua akan selesai, tidak ada yang akan memisahkan kami lagi.

"Aku akan mengikuti rencanamu." Ucapku. Setidaknya dia jujur padaku.

"Jika ini memberatkanmu, kau bisa menolaknya. Aku sadar, sejak dulu, aku terus memaksa keinginanku, bahkan hingga seperti ini. Aku lagi-lagi egois."

Aku tidak memikirkan lagi masa lalu kami. Aku tahu, kau itu orang yang sangat-sangat egois dulunya. Aku bahkan di larang begitu banyak hal hingga membuatku muak sendiri.

"Tidak. Aku akan mendengarkanmu, karena sekarang kau adalah suamiku." Ucapku. Memberi senyuman terbaikku.

"Terima kasih, Sakura." Ucapnya.

Tatapan macam apa itu? Dia terlihat sangat bersalah, untuk apa menunjukkannya lagi. Aku sendiri sudah terlanjur mencintaimu. Aku tidak memikirkan hal lain lagi.

.

.

.

.

.

.

5 bulan berlalu.

Tes ini menunjukkan dua garis. Aku hamil. Hari ini aku sudah akan menjadi calon ibu. Ini akan menjadi kabar yang sangat menggembirakan bagi Sasuke. Dia sedang keluar, aku akan membuatkan hadiah khusus untuknya. Belum sempat membungkus testpack itu, bunyi bel di depan pintu. Cepat sekali dia kembali. Aku tidak jadi memberinya kejutan.

Berjalan lebih cepat, aku ingin segera memperlihatkannya pada Sasuke, wajah bahagiaku memudar.

"Apa kabar, nona Sakura?"

Haku datang, dia datang sendirian, akhirnya kami ditemukan. Apa dia mendapat perintah untuk mencariku?

"Ma-mau apa kau kesini?" Gugupku. Sasuke belum kembali. Aku tidak ingin dipaksa pulang sendirian.

"Kau pasti sudah tahu jika aku menemukanmu." Ucapnya.

"Aku tetap tidak akan pulang!" Tegasku. Aku juga tidak bisa lari dari sini.

"Aku akan mengajakmu dengan mudah, nona."

"Bahkan jika kau memukulku. Aku tidak peduli. Aku tidak akan pulang!"

Haku terdiam, dia sibuk menatap ponselnya.

"Baguslah. Aku jadi tidak repot memaksamu." Ucapnya dan sekarang menatap ke arahku. "Tuan Sasuke sudah di temukan dan sekarang dia ada bersama orang-orang yang aku bawa. Jadi bagaimana nona? Kau ingin pergi bersamaku? Atau membiarkan tuan Sasuke kembali sendirian."

Aku tidak ingin melihat Sasuke di pukul ayah. Aku tidak punya pilihan lagi. Mengikuti Haku dengan tenang. Sejenak menatap rumah kebahagian kami. Akhirnya kami akan meninggalkannya.

"Kita akan kemana?" Tanyaku, aku sangat takut bertemu ayah dan ibu.

"Tuan besar dan nyonya besar menunggu di rumah utama di Konoha."

Jika ayah berani memukul Sasuke lagi. Aku harus melindunginya. Aku tidak bisa membiarkannya di pukul lagi. Mungkin lebih buruk. Ayah akan membunuh Sasuke.

.

.

.

.

.

[Sasuke Pov.]

Aku keluar untuk mencari beberapa perlengkapan yang tidak ada di rumah.

"Tuan Sasuke, tolong ikut kami pulang." Ucap seorang pria. Wajah-wajah yang tak asing. Dia datang dengan beberapa pria lainnya. Mereka adalah orang-orang milik ayah.

"Apa ayah yang menyuruh kalian?" Tanyaku.

Sial! Mereka sangat cepat menemukan kami.

"Iya. Kami terpaksa tuan, harap ikut kami dengan tenang, nona Sakura sekarang sedang bersama Haku menuju Konoha."

Aku tidak punya pilihan.

"Baik. Aku akan ikut kalian."

Aku harap Sakura bisa lebih tenang. Aku tidak bersamanya ketika kami sudah di temukan.

Selama perjalanan, aku memikirkannya yang mungkin sedang ketakutan.

Setibanya di Konoha dengan perjalanan yang begitu jauh. Aku sangat lelah, tapi tidak ada waktu istirahat jika ayah, ibu, para kakakku dan istrinya sedang menungguku di ruang keluarga. Tatapan itu, tentu saja ayah sangat marah.

Aku melihat kak Izumi yang sedang hamil. Kedua bocah milik kak Izuna sudah lebih besar.

"Izumi, Naori. Sebaiknya kalian ke kamar dan bawa anak-anak." Ucap kak Itachi.

Aku ingin berterima kasih pada kakak. Karena dia, aku sudah berhasil sejauh ini. Aku memikirkan jika mungkin kami tidak akan ketahuan hingga setahun, tapi ini hanya beberapa bulan saja.

"Ada apa? Ingin memukulku lagi? Atau sekalian bunuh saja aku." Ucapku.

"Jaga cara bicara Sasuke!" Ayah terlihat murka. Terasa seperti de'javu saat itu.

"Ayah, tenanglah." Ucap kakak.

Bagaimana ayah bisa berteriak sekeras itu? Sementara dirumah ini ada anak-anak dan seorang wanita yang tengah hamil.

"Apa kau sudah tidak waras Sasuke?" Ucap ibu.

"Ya. Ibu benar. Aku sudah tidak waras hingga berani membawa kabur Sakura." Ucapku.

Aku tidak melihat Sakura. Apa dia sudah tiba atau dia sedang di sembunyikan.

"Dimana Sakura?" Tanyaku.

"Itu bukan urusanmu." Ucap ayah.

"Itu sudah menjadi urusanku ayah, Sakura dan aku sudah menjadi suami-istri." Tegasku.

Tentu saja ayah tidak bisa tenang lagi, berjalan ke arahku dan memukul wajahku dengan kuat. Bahkan dia yang sudah setua ini masih sangat kuat untuk memukul anaknya.

"Ayah jangan pukul Sasuke!"

Suara ini. Aku melihatnya baru saja tiba, dia bersama Haku. Sakura berlari hingga menghalangi ayah yang mungkin saja akan kembali memukulku.

Ini sama seperti saat acara pernikahan kak Izuna dan aku membuat masalah, namun aku tidak akan di pukul ayah lagi. Dulunya Sakura hanya menangis dan melihatku, sekarang dia melindungiku.

"Sakura. Apa kau baik-baik saja? Apa kau tidak ketakutan? Kami sangat mengkhawatirkanmu." Ucap ayah. Ayah menjauhkan Sakura dariku.

"Aku baik-baik saja ayah."

"Apa Sasuke mengancammu hingga dia bisa membawamu pergi?" Tanya ibu.

Mereka terlihat sangat mengkhawatirkan Sakura. Sebenarnya anak kalian dia atau aku? Apa mereka pikir aku seorang penjahat yang membawa kabur putri mereka?

"Tenang saja, ayah, ibu. Aku ingin jujur pada kalian. Aku mencintai Sasuke. Aku tidak bisa hidup tanpanya, kami telah menikah dan sekarang-" Sakura menjedah kalimatnya, menatap ke arahku sejenak. "-Aku sedang hamil."

Hamil?

Sakura akhirnya hamil!

Ini adalah rencana yang sudah lama aku persiapkan.

Ayah, ibu, kak Izuna, terlihat syok. Kecuali kak Itachi, dia tetap tenang.

"Jika ayah memukul Sasuke. Aku tidak bisa tinggal diam. Sekarang dia adalah suamiku dan calon ayah anakku." Ucap Sakura. Dia semakin dewasa saja. Aku bangga membesarkanmu, Sakura.

Aku sangat ingin memeluknya sekarang, aku sangat senang mendengarnya hamil, walaupun ini juga termasuk rencana kami, tapi aku sungguh senang mendengarnya.

Ayah dan ibu tidak mengatakan apa-apa lagi, keduanya terlihat bingung untuk memisahkan kami. kak Izuna yang biasanya banyak protes juga tidak berani angkat suara. Apa yang akan kau katakan sekarang? Kau tidak bisa mengolokku lagi kak Izuna. Sakura adalah istriku.

"Kau tidak apa-apa Sasuke? Aku sangat mencemaskanmu." Ucap Sakura, membantuku berdiri. Dia bahkan tak membiarkanku menjauh darinya, dia terus menempel padaku. Aku yakin dia hanya takut jika ayah memukulku. Dia melihat segalanya saat itu.

"Aku senang dengan kabar ini." Ucapku.

"Aku ingin memberi kejutan, tapi kita di tangkap." Ucapnya dan membuatku ingin tertawa, tapi aku tidak bisa tertawa dengan atmosfir yang tidak nyaman ini.

Ayah dan ibu menatap sangat-sangat kecewa padaku.

"Aku tidak melakukan kesalahan. Aku tidak bisa membiarkan Sakura bersama pria lain. Maaf atas sikapku, ayah dan ibu. Aku tidak begitu mendengar ucapan kalian." Ucapku. Setidaknya aku tidak ingin bertengkar dengan mereka lagi. Apa yang aku harapkan, hari ini sudah tercapai semuanya.

Mereka tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Ayah dan ibu memilih keluar dari rumah ini dan tinggal di hotel mereka. Sekarang kami harus kembali, mereka sudah tidak memandang kami sebagai keluarga maupun saudara.

"Setidaknya menginaplah di rumah sebelum kembali." Ucap kakak. Dia akan terus tenang, walaupun aku sadar, kakak senang melihat keadaan kami baik-baik saja. Aku memegang janjiku untuk menjaga Sakura.

"Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi." Ucap kak Izuna.

"Kakak tenang saja, aku sangat bahagia." Ucap Sakura.

"Aku hanya khawatir Sasuke membuatmu kesulitan." Ucap kak Izuna.

"Aku tidak akan membuat Sakura dalam kesulitan, aku ini sangat menyayanginya." Ucapku.

"Aku tidak peduli padamu! Dasar adik durhaka!" Kesalnya. Masih tidak berubah, dasar bapak-bapak yang tidak sadar diri. Mau sampai kapan kau melindungi Sakura? Dia memang adikmu, tapi dia adalah pasanganku.

Kak Izumi dan kak Naori bersama dua bocahnya akhirnya turun ke lantai satu setelah mendengar suara mobil pergi. Awalnya mereka sedikit takut, tentu saja mereka takut, ayah adalah pria yang paling keras kepala dan tegas di dalam keluarga ini.

Aku melihat Sakura menghampiri mereka. Aku yakin dia juga sangat merindukan mereka, dia bisa berbicara lebih banyak pada kak Naori atau kak Izumi tentang kehamilannya.

.

.

TBC

.

.