Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
Fic ini mengandung unsur yang tidak begitu di terima oleh publik, harap memikirkan segala aspek tanpa fokus hanya pada satu bagian saja.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
.
.
[Blossom In The Winter ]
( Epiloq )
.
.
.
.
[Sakura pov]
Pagi harinya, aku lupa jika kami sudah kembali ke rumah di Konoha, kak Itachi meminta kami menginap sebelum kembali. Aku menyempatkan diri untuk berbicara dengannya. Aku berterima kasih, kakak masih peduli pada perasaan kami, tidak ada niatnya untuk menentang rencana Sasuke.
Menatap wajah tidur Sasuke, pipinya sedikit lebam akibat pukulan ayah. Aku sungguh takut jika ayah akan melakukan hal yang sama pada Sasuke. Aku tidak berbicara dengan baik pada mereka, mereka sangat mengkhawatirkan keadaanku. Seharusnya aku berbicara lebih baik agar semua jelas, aku hanya mengatakan bagaimana perasaan terhadap Sasuke.
Memegang perutku. Sekarang aku sedang hamil, aku ingin membuat kejutan walaupun berakhir dengan menjadi kejutan untuk seluruh keluarga.
Akhirnya aku bertemu kembali dengan kak Izumi, dia tengah hamil 7 bulan. Perutnya terlihat cukup besar, aku juga mungkin akan memiliki perut sebesar itu. Lalu kedua anak kak Izuna, mereka jauh lebih tenang dari pada pertemuan kami sebelumnya.
Memeluk Sasuke. Aku tidak bisa memikirkan apa-apa lagi saat Haku membawaku pergi bersamanya, aku sangat tidak ingin hal yang dulunya terjadi lagi.
"Hn? Kau sudah bangun? Tidur saja lagi, aku yakin kau lelah, kemarin kau berbicara dengan kak Naori dan kak Izumi tanpa melihat waktu." Ucap Sasuke, suaranya terdengar serak.
"Aku tidak bisa tidur lagi." Ucapku.
Sasuke mendekapku erat.
Ini bukan lagi sebuah mimpi, kami benar-benar hidup bersama dan aku merasa sangat bahagia karenanya.
Kami menginap di kamar yang dulunya milik Sasuke, kamarnya sekarang milik Yuuto, tapi dia masih sulit tidur sendirian dan masih satu kamar dengan Ren. Mereka jadi semakin mirip kak Izuna saja.
"Aku jadi mengingat saat kita tidur bersama." Ucapku.
"Aku tidak ingin mengingat saat tidur bersama bocah." Ucap Sasuke. Ini sungguh membuatku malu.
"Aku hanya ketakutan dan kau adalah penyelamat bagiku." Ucapku. Dia sendiri yang melarang aku masuk di kamar kak Itachi atau kak Izuna.
"Aku berusaha selalu ada untukmu."
Kau benar Sasuke, kau selalu berusaha ada untukku. Tak lupa dengan keras kepalamu melarangku banyak hal.
"Terima kasih." Ucapnya.
"Untuk apa berterima kasih?" Tanyaku, bingung.
"Jika kau datang terlambat, ayah mungkin sudah membunuhku." Ucapnya.
"Aku sudah memikirkannya sejak perjalanan kembali, hal itu membuatku ketakutan. Sekarang, ayo temui ayah dan ibu lagi."
"Untuk apa? Mau melihat mereka menghabisiku?"
"Tidak. Kita harus meminta maaf baik-baik dan meminta restu, tolong lakukan ini demi kebahagiaan kita juga. Aku masih merasa ini seperti sebuah beban." Ucapku. Aku masih ingin berbakti pada mereka yang merupakan orang tuaku sekarang.
"Hn, kita akan menemui mereka lagi."
Meninggalkan Sasuke di kamar, aku ingin menyiapkan sarapan di pagi hari, saat turun ke dapur, aku bisa melihat kak Izumi dan kak Naori sedang sibuk.
"Aku ingin membantu." Ucapku.
Aku senang saat mereka menyapaku dan membiarkanku membantu mereka. Rumah ini menjadi sangat ramai dari pada sebelumnya. Meja makan sudah di ganti, jauh lebih besar. Kak Naori meminta tolong padaku untuk membangunkan Ren dan Yuuto, mereka harus sekolah pagi.
Keduanya terlihat masih mengantuk dan menggemaskan, mungkin sebelumnya mereka hanya masih sulit di kontrol. Mereka berdua cukup rajin setelah bangun, Ren bahkan membantu adiknya. Aku jadi tidak perlu melakukan apapun lagi. Kembali membantu kak Naori dan kak Izumi.
"Apa akan baik-baik saja?" Tanyaku, masih penasaran tentang kehamilan.
"Kau akan baik-baik saja, Sakura. Mungkin hanya perlu terbiasa karena sedikit membawa beban lebih di tubuh." Jelas kak Izumi.
"Kau akan terbiasa." Ucap kak Naori. Dia jauh lebih berpengalaman, apalagi kak Naori sampai memiliki dua orang anak.
"Aku sedikit takut." Ucapku.
"Aku juga awalnya seperti itu. tapi jangan terlalu di pikirkan, ini akan membuatmu stress dan tidak baik untuk janinmu." Saran kak Naori.
"Uhm. Aku mengerti kak Naori."
Pagi ini aku mendapat lagi sedikit saran dari kakak-kakak perempuanku ini, aku beruntung memiliki keluarga seperti mereka. Mereka tidak membenciku. Mereka seakan tidak mengganggap apa yang sudah aku lakukan dengan Sasuke.
"Kenapa kalian tidak kecewa sama seperti ibu dan ayah?" Tanyaku, ragu.
Mereka saling bertatapan dan membuatku bingung.
"Uhm, mungkin karena aku sudah tahu dari dulu, Sasuke sangat menyukaimu." Ucap kak Naori.
"Saat itu aku masih bocah."
"Ya, dulunya aku pikir Sasuke memang sudah gila, apalagi dia bersama anak gadis yang masih di bawah umur, tapi dia bersabar menunggumu hingga menjadi dewasa, usahanya tidak sia-sia." Ucap kak Naori. Aku sedikit malu mendengarnya.
"Aku mendengarnya dari Itachi. Jadi aku pikir ini tidak ada salahnya Sakura. Kau bisa mencintainya." Ucap kak Izumi. Aku jadi semakin malu mendengar jawaban mereka.
Setelahnya.
Meja makan mulai ramai, Sasuke lebih dulu turun, kak Itachi dan kak Izuna juga sudah terlihat rapi, mereka akan sibuk bekerja. Ren dan Yuuto juga sudah siap akan pergi ke sekolah.
Suasana ini, aku sangat merindukannya, meja makan yang penuh dengan orang-orang, mereka adalah keluargaku.
"Kau makan yang banyak, apa Sasuke memperhatikan makanmu? Dia itu sangat sulit mendengarkan orang." Ucap kak Izuna.
"Apa katamu? Aku sangat memperhatikan istriku." Tegas Sasuke.
Aku jadi malu mendengar ucapan Sasuke.
"Jangan bertengkar saat di meja makan." Tegur kak Itachi.
Mereka tidak pernah berubah hingga sekarang, masih selalu bertengkar saat di meja makan dan kak Itachi yang akan melerai keduanya.
"Oh. Paman Itachi sangat hebat, bahkan membuat ayah dan paman Sasuke terdiam." Ucap Ren.
"Aku ingin seperti paman Itachi." Ucap Yuuto.
"Kalian membuat anak-anak jadi salah paham. Ren, Yuuto, cepat habiskan sarapan kalian. kau juga, anak-anak terlambat." Tegur kak Naori.
"Aku mengerti." Ucap kak Izuna. Dia jadi sangat patuh pada kak Naori.
"Apa kalian akan segera pulang? Bagaimana jika tinggal beberapa hari lagi." Ucap kak Itachi pada kami.
"Kami harus ke suatu tempat terlebih dahulu." Ucap Sasuke.
.
.
.
.
.
Kami mendapat informasi dari Haku jika ayah dan ibu menginap di hotel ini. Walaupun mengganggu ketenangan mereka. Aku dan Sasuke harus menemui mereka.
"Kami meminta maaf." Ucapku dan Sasuke. Kami bahkan berlutut di hadapan mereka. Mau bagaimana lagi? Ini adalah permintaanku dan Sasuke tidak boleh egois lagi.
Aku hanya tidak ingin ketika anak ini lahir, dia akan mendapat sebuah masalah dari hubunganku dan Sasuke.
Ibu sempat menyinggung tentang calon tunangan Sasuke. Hotaru, wanita itu sempat berbicara pada ibu, tapi ibu tidak memperdulikannya, ibu seperti lebih peduli padaku dan mengatakan jika mungkin dia dan Sasuke tidak akan bisa bersama. Wanita itu sulit untuk mengatakan apapun. Dia sedang berhadapan dengan keluarga Uchiha dan juga dia tidak akan baik-baik saja jika membuat masalah dengan agen perusahaannya.
Sejujurnya ini sedikit membuatku sedikit bersalah, tapi yang mengajakku kabur adalah Sasuke, jadi kesalahannya juga ada pada Sasuke. Sekarang aku harus fokus pada kedua orang tuaku ini.
"Kami sudah mempertimbangkannya baik-baik." Ucap ibu. Ayah masih tidak ingin berbicara.
"Mau di apakan lagi? Kalian sudah menikah. Sakura sedang hamil, kami tidak bisa memisahkan kalian." Ucap ibu, walaupun raut kecewa masih ada disana.
"Aku minta maaf tidak bisa menjadi anak angkat yang baik untuk kalian." Ucapku, sedih.
"Tidak Sakura. Ini bukan salahmu. Kami yang kurang mengawasi kalian." Ucap ibu.
Ibu menyalahkan atas dirinya yang sibuk dan tidak memperhatikanku sebagai anak angkatnya. Ibu membiarkan Sasuke merawatku hingga terjadi hal seperti ini.
"Ini untukmu. Ayah tidak bisa memberikan banyak hal untukmu, tapi ayah memberikan apa yang sudah menjadi milikmu, tolong kembali bersama ibu dan lanjutkan kuliahmu. Selesaikan apa yang kau mulai disana. Dan kau, Sasuke, kembali bekerja. Wakilmu tidak bisa bekerja sendiri terus menerus, berhentilah untuk kabur." Akhirnya ayah berbicara pada kami.
Ayah memberi sebuah map coklat, isinya adalah surat rumah dan tanah milik mendiang kedua orang tuaku. Kunci rumah itu masih ada padaku, lalu surat wasiat dari ayahku.
"Setelah kau lulus, jalankan kembali perusahaan ayahmu. Jika kau butuh bantuan, katakan pada ayah." Ucapnya.
Sejenak. Aku mengingat kembali apa yang harus aku lakukan saat berpisah dengan Sasuke, rencana awalku. Aku akan mengambil alih perusahaan Haruno, tanpa aku meminta, ayah telah mengembalikannya.
"Ibu juga akan memberimu bantuan jika kesulitan."
Aku tidak bisa berhenti untuk meneteskan air mata ini, berjalan ke arah mereka dan memeluk keduanya, mereka masih begitu menyayangimu walaupun sekarang aku seperti membuat mereka sangat-sangat kecewa. Meminta maaf pun tidak bisa mengembalikan apa yang sudah mereka berikan padaku.
Setelah pembicaraan itu.
Aku berpisah dengan Sasuke. Kata ibu sebelum aku hamil lebih besar, lebih baik menyelesaikan kuliahku. Aku dan Sasuke harus berpisah lagi. Aku meminta tolong pada ibu untuk mencarikan orang-orang yang bisa mengurus rumah lamaku sebelum aku kembali. Aku memikirkan untuk membuat rumah itu menjadi tempat tinggalku dan Sasuke kelak. Rumah yang berada di dekat danau mungkin bisa menjadi tempat liburan saja. Disana terlalu jauh jika menjadi tempat tinggal kami.
Aku bertemu dengan Sasori setelah masa cuti yang di buatkan Sasuke untukku berakhir. Dia melihat sedikit perubahan dariku, aku tidak mengatakan saat itu aku sedang hamil, tapi bulan demi bulan, perut ini tidak bisa tertutupi lagi.
Sasuke kadang kabur dari tempatnya bekerja, dia meminta pada ayah untuk di pindahkan, tapi dia membuat ayah kembali marah dan tidak di pindahkan juga dari sana hingga sekarang. Anggap saja itu sebagai hukuman untuknya. Aku tidak ingin memohon pada ayah lagi. Aku rasa, kami memang perlu mendapat hukuman.
"Jangan lupa minum vitamin, jaga diri saat di kampus, hati-hati saat berjalan. Haku juga akan menemanimu selama di kampus. Ibu tidak mau terjadi sesuatu padamu saat sedang hamil dan malah sibuk kuliah." Tegur ibu.
Aku rasa ibu jadi berkali-kali lipat lebih khawatir.
"Cuti lagi. Ibu tidak ingin melihatmu kelelahan." Ucapnya.
"Aku masih sanggup kuliah, bu." Ucapku.
Ibu jadi sulit di bantah saat ini. Dia jadi sangat rajin memperhatikanku.
Aku sudah melihat jenis kelaminnya, tapi ini akan menjadi kejutan lain untuk Sasuke jika kami bertemu. Aku sudah tidak sabar akan bertemu dengannya lagi. LDR-an itu sangat menyusahkan. Aku jadi sangat-sangat merindukan Sasuke.
.
.
.
.
.
[Normal Pov.]
Beberapa tahun kemudian.
Sebuah pintu di buka begitu saja, kebiasan para pemuda ini jika datang ke rumah yang terlihat besar ini, halamannya saja sangat luas dan semuanya mulai terawat.
"Nona Sarada sudah menunggu di taman. Silahkan tuan-tuan." Ucap seorang pelayan.
"Sarada kami datang!" Ucap seorang pemuda.
Mereka bertiga jadi sibuk mencari dimana gadis itu, Sarada sedang sudah sibuk membuat pesta kecil untuknya.
"Kalian terlambat!" Protesnya. Gadis bernama Uchiha Sarada ini, meskipun umurnya masih 5 tahun, pemikirannya seperti orang yang lebih dewasa.
"Maaf, kak Ren sangat lama menentukan hadiahnya." Ucap Yuuto.
"Kenapa menyalahkanku? Bukannya kau sendiri yang begitu plin-plan." Ucap Yuuto.
"Kalian yang begitu lama bedebat hanya karena pilihan hadiah." Ucap Haru. Anak dari Izumi dan Itachi.
"Kenapa kau menyalahkan kami!" Protes Yuuto dan Ren.
"Kalian ingin merayakan ulang tahunku atau bertengkar?" Ucap Sarada. Menatap malas ke arah mereka.
"Tentu saja merayakannya." Ucap mereka kompak.
Mereka menjadi akur dan heboh untuk merayakan ulang tahun Uchiha Sarada, anak dari Uchiha Sasuke dan Uchiha Sakura. Semua orang tua mereka masih sibuk.
"Selamat ulang tahun Sarada." Ucap Izumi. Dia juga datang bersama Naori. Kedua anak mereka lebih sibuk bergegas dan meninggalkan para ibunya.
"Terima kasih, bibi Naori, bibi Izumi." Ucap Sarada senang.
"Kau jadi terlihat seperti ayahmu." Ucap Naori.
"Sungguh? Aku seperti ayah?" Ucap Sarada, dia terlihat senang. Dia begitu menyayangi ayahnya.
"Bagaimana dengan mereka? Apa masih sibuk bahkan di hari ulang tahunmu?" Tanya Izumi.
"Aku tidak tahu." Sarada terlihat murung.
Naori dan Izumi saling bertatapan. Kedua orang tuanya sangat sibuk, apalagi Sakura menjalankan perusahan Haruno.
"Ibu tidak bisa melihat situasinya." Tegur Haru. Anak laki-laki Izumi menyadari akan sikap Sarada dan ucapan ibunya.
"I-ibu tidak bermaksud seperti itu." Ucap Izumi, sedikit merasa bersalah. Meminta maaf pada Sarada, tapi gadis itu berusaha ceria agar mereka tidak salah paham.
"Maaf kami telat." Ucap sebuah suara.
Sarada menoleh dan melihat kedua orang tuanya, kedua pamannya dan juga kakek dan neneknya. Mereka rela meninggalkan pekerjaan mereka untuk seorang putri kecil di keluarga ini.
"Ayah harus menjemput kakek dan nenek." Ucap Sasuke.
"Selamat ulang tahun, sayang." Ucap Sakura, memeluk sayang anak semata wayangnya itu.
"Selamat ulang tahun putri kecilku." Ucap Izuna, sejak Sarada masih bayi, Izuna menganggap Sarada sebagai putrinya.
"Selamat ulang tahun, Sarada." Ucap Itachi.
"Terima kasih paman Izuna, paman Itachi." Ucap Sarada.
Gadis ini berlari ke arah satu-satunya pria tua yang cukup di takuti Ren, Haru dan Yuuto, tapi tidak bagi Sarada. Gadis kecil itu bahkan di gendong begitu saja oleh Uchiha Fugaku.
"Selamat ulang tahun, Sarada." Ucap Fugaku.
"Aku senang kakek dan nenek juga datang." Ucap Sarada, semangat.
Suasana di halaman belakang rumah ini menjadi cukup ramai dengan pesta outdoor. Beberapa pelayan mulai menghindangkan kue dan makanan, hari ini mereka mengadakan ulang tahun Sarada yang ke lima tahunnya. Walaupun keluarga terpandang, Sarada hanya menginginkan acaranya di buat untuk di hadiri hanya keluarga besarnya saja. Sarada begitu banyak mendapat cinta dari keluarga besarnya. Masa lalu kedua orang tuanya sudah menjadi masalah yang tidak pernah ungkit lagi oleh siapapun di keluarga ini. Fugaku dan Mikoto tidak ingin membahasnya lagi dan membiarkan kebahagiaan ini untuk Sakura.
Sarada terlihat sangat senang. Di rumahnya semua berkumpul, para paman dan bibinya, para kakak sepupunya dan semuanya adalah anak laki-laki, di keluarga ini, dia bagaikan seorang putri jika bersama para kakak sepupuhnya. Mereka menyayangi Sarada karena hanya dia seorang anak perempuan di antara mereka.
"Buatlah adik untuk Sarada." Tegur Naori.
Semuanya kompak menatap Sasuke dan Sakura. Wanita berambut softpink itu hanya bisa tersenyum malu, memperlihatkan sesuatu pada mereka.
"Kata dokter ini sudah 3 minggu." Ucap Sakura. "Apa Sarada akan menyayanginya?" Tanya Sakura pada putrinya itu.
"Iya! Aku akan menyayanginya!" Tegas Sarada. Dia sangat senang, di hari bahagianya, dia akan mendapatkan seorang adik.
"Kenapa kalian tidak membuat anak perempuan saja." Kali ini Sasuke yang menegur para kakak-kakaknya.
"Ya! Kami juga ingin adik perempuan yang menggemaskan seperti Sarada." Kompak Yuuto, Ren dan Haru.
"Pass." Ucap Itachi. Tidak ada komentar. Izumi hanya menahan tawa mendengar ucapan suaminya.
"Kalian sudah mendapat adik seperti Sarada, tidak perlu ada adik lagi. Tunggu saja dari bibi Sakura kalian." Ucap Izuna. Ingat akan kerepotan dirinya yang sudah memiliki dua anak dan dulunya sulit di hadapi.
"Hentikan. Apa yang kalian bicarakan di depan anak-anak?" Tegur kepala keluarga di keluarga ini, Fugaku. Semuanya menjadi tenang. "Sekarang fokus untuk ulang tahun Sarada." Lanjutnya.
Sasuke menatap seluruhnya, merasa usahanya selama ini tidak sia-sia, dia mendapatkan apa yang di inginkannya, sekarang dengan putri kecilnya dan keluarga besarnya kembali bersatu dengannya. Masa lalu itu akan menjadi sebuah kenangan bagi Sasuke.
.
.
TAMAT
.
.
akhirnya fic penuh drama sinetron ini selesai. author harap kalian (reader) puas sama endingnya maupun isi yang emang jadi mirip sinetron. maaf author author yang nge-bleng akhir-akhir ini =_= author malah fokus kerja ONESHOOT, habisnya author dapat ide ONESHOOT terus =_= akhir-akhir ini juga sebenarnya author di berikan copyan anime dari teman, jadi author nonton anime sampe begang dan melupakan fic, tapi ide ONESHOOT tidak bisa terlewatkan, jadi pas dapat ide author malah kerja oneshoot.
fic ini rencananya hanya sekitar 20an chapter, ini malah jadi panjang jadi mirip sinetron. maaf kalau typo bertebaran. author tahu banyak typo, setiap edit semuanya pasti ada terlewatkan lagi.
terima kasih telah membahas Oneshoot author yang baru-baru ini dan dua yang sebelumnya. lagi-lagi maaf dengan typo.. =_=
jangan minta sequel. author pusing mikir lagi. jangan minta sequel oneshoot juga. author pusing juga mikirnya. author masih ada dua oneshoot baru, ah tidak sepertinya akan bertambah ini =_= kenapa ide ini muncul terus sampe sakit kepala dan author jadi kepikiran pas mau molor *lebay*
Tolong baca ini
author punya sedikit permintaan. kira-kira jika author buat oneshoot yang sepertinya akan menuju 21 plus-plus. apa kalian tetap membacanya? maksudnya gimana ya. kisah ini keluar dari zona nyaman author setiap mau buat fic dengan standar lemon yang santai dan tidak panas. gimana sih jelasinnya. author tidak suka ide semacam ini malah dapat ide cerita semacam itu! =_= bantu author dengan pendapat kalian.
sekali lagi, terima kasih.
kritikan dan saran yang membangun, bukan yang menjatuhkan yaa. author terima semuanya.
kalian pada reader yang terbaik. *kasih jempol*
dan selamat datang untuk reader yang baru saja mengunjungi lapak author Sasuke fans.
[sasukefans_ama]
