MAELSTROM CHRONICLE : THE BURNING MAZE
When the sun shines so bright, the darkness will fade…
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Percy Jackson and The Olympians, The Heroes of Olympus, The Trials of Apollo © Rick Riordan
.
.
Summary : Seorang putra matahari telah tiba di Manhattan, misinya adalah untuk menggantikan tugas ayahnya untuk menyelamatkan ketiga Oracle kuno yang masih berada dalam cengkraman Triumvirate Holdings. Kali ini, ia ditugaskan untuk mencari seorang Penutur teka-teki silang dalam sebuah labirin yang terbakar. Sanggupkah ia untuk menuntaskan misinya?
.
.
XIII
Si Kaisar ganas memiliki nama 'Sepatu Kecil'? Rasa ingin tertawa meningkat drastis
.
.
Aku menahan wajahku untuk membuat raut bingung ketika melihat reaksi yang lainnya.
Apakah kalian mengenal nama Caligula, Pembaca Budiman?
Jika tidak, mungkin anggap diri kalian beruntung.
Di sepenjuru Reservoir, peri-peri kaktus mulai menanggalkan duri mereka. Paruh bawah tubuh Mellie tampak mengabur menjadi kabut, bahkan Bayi Chuck batuk-batuk sehingga memuntahkan cuilan Sterofoam.
"Caligula?" Mata Pak Pelatih Hedge berkedut-kedut, sama seperti ketika Mellie mengancam hendak merampas senjata ninjanya. "Apa kau yakin?"
Kak Shisui terdiam sejenak. Ada rasa tidak enak di dalam hatinya ketika mengumumkan nama panggilan dari Sang Kaisar, aku bisa melihatnya dari pancaran matanya yang menunjukkan rasa bersalah yang mendalam.
Tetapi bukan Kak Shisui yang menjawab, melainkan Sasuke. "Dia benar Pak Pelatih. Sejarah mencatat bahwa nama gelar Kekaisaran milik Caligula adalah Gaius Julius Caesar Augustus Germanicus. Zaman terkelam yang pernah dimiliki oleh bangsa Romawi," katanya.
Well … aku sebenarnya tidak terlalu tahu-menahu tentang sejarah yang dimiliki oleh Bangsa Romawi. Tapi aku pernah membaca bahwa masa dimana Kaisar Gaius Julius Caesar Germanicus atau mungkin bisa kusingkat sebagai Caligula ini memang bukanlah masa yang paling indah, sebaliknya masa kekuasaannya lebih berdarah-darah dan mendirikan bulu roma daripada masa kekuasaan Nero, yang dikatakan tumbuh besar sambil terkagum-kagum akan paman buyutnya yang kejam.
Grover bergidik. "Aku benci nama itu sejak dulu. Apa pula artinya? Pembunuh Satir? Peminum Darah?"
Rambut hijau zaitun Joshua yang gondrong serta-merta berdiri tegak, yang sepertinya malah menarik menurut Meg.
"Sepatu Kecil?" Joshua melemparkan lirikan ke seisi Reservoir, barangkali bertanya-tanya apakah dia kurang tanggap menafsirkan lelucon. Tidak ada yang tertawa.
Kak Shisui hanya mengangguk kecil. "Sayangnya iya," jawabnya. Aku berusaha untuk menahan tawaku. Aku heran kenapa sosiopat yang terkenal sepanjang sejarah memiliki nama imut seperti itu?
"Prajurit-prajurit Germanicus, ayahnya, memberi Caligula nama panggilan itu semasa dia kanak-kanak," kata Sasuke. "Dia mengenakan alas kaki legiunari, caligae, yang berukuran mungil. Menurut mereka itu kocak. Jadi, mereka memanggilnya Caligula—Sepatu Kecil, atau Sepatu Bayi, atau Sandal Mini. Pilih sendiri mau terjemahan yang mana."
Pir Berduri menghunjamkan garpu ke enchilada. "Aku tidak peduli kalaupun laki-laki itu bernama Adik Bayi Imut. Bagaimana cara mengalahkannya supaya kita bisa kembali hidup normal?"
Kaktus-kaktus lain menggerutu dan mengangguk. Aku mulai curiga, jangan-jangan pir berduri adalah agitator alami di dunia kaktus. Kalau mereka sampai berhimpun, bisa-bisa mereka mencetuskan revolusi dan menjungkalkan kerajaan hewan.
"Kita harus hati-hati," Kak Shisui memperingatkan. "Caligula piawai menjebak musuh-musuhnya. Dia sejatinya waras, namun tertutupi oleh gaya amoralnya. Bahkan gayanya itu lebih parah daripada—"
Aku dan Sasuke langsung mengisyaratkan Kak Shisui untuk diam. Aku tahu bahwa ia hendak mengatakan lebih parah daripada Nero, tetapi masa aku membiarkan kata-kata itu keluar di depan Meg, yang seluruh masa kanak-kanaknya telah diracuni oleh Nero dan alter egonya, si Buas?
"Intinya," ujarku, "Caligula itu orang yang pandai, ulet dan paranoid. Kalau Labirin Api memanglah sebuah jebakan, bagian dari sebuah rencana yang lebih besar, maka menutupnya tidak akan mudah. Dan mengalahkan Caligula, bahkan hanya untuk sekadar menemukannya, akan menjadi sebuah tantangan besar." Aku sebenarnya tergoda untuk menambahkan Barangkali kita tidak ingin menemukan Caligula. Barangkali sebaiknya kita kabur saja.
Namun, dryad tidak bisa kabur. Mereka berakar, secara harfiah, ke tanah tempat mereka tumbuh. Menurut salah satu pekemah kabin Empat, dryad pindahan, seperti Reba, relatif jarang. Hanya segelintir roh alam yang sanggup bertahan hidup sementara tumbuhan mereka dipindahkan ke pot dan dibawa ke lingkungan baru. Kalaupun semua dryad di sini mampu melarikan diri dari kebakaran di California Selatan, ribuan lainnya niscaya bertahan dan terbakar.
Terlebih sekarang aku telah terikat ramalan, dan setiap demigod yang telah terikat dengan ramalan, maka takdir hidupnya telah dirajut oleh benang Para Moirae. Kita tidak bisa melawan takdir yang telah dirajut oleh mereka, setidaknya itu yang kuketahui (berterimakasihlah kepada Apollo yang selalu mewanti-wantiku tentang hal itu).
Grover bergidik. "Kalau setengah saja cerita yang kudengar tentang Caligula itu meman benar …."
Sang Satir terdiam, rupanya menyadari bahwa semua orang tengah memperhatikannya, menaksir mesti sepanik apa berdasarkan reaksi Grover. Aku pribadi tidak ingin seruangan dengan kaktus-kaktus panik yang berlarian kesana kemari sambil menjerit-jerit.
Untungnya Grover tetap berkepala dingin.
"Tidak ada yang tak terkalahkan," dia menyatakan. "Entah itu Titan, raksasa, dewa-dewi—apalagi kaisar Romawi bernama Sepatu Kecil. Laki-laki itu telah menyebabkan California Selatan meranggas dan mati. Dialah dalang di balik kekeringan, hawa panas ekstrem, dan kebakaran. Kita harus mencari cara untuk menghentikannya."
Ia melirik ke arah Sasuke. "Sasuke, aku tahu kalau kau memiliki pengetahuan yang sangat baik seperti anak-anak Athena, apakah kau tahu bagaimana Caligula mati untuk pertama kalinya pada zaman dulu kala?" tanyanya.
Sasuke berusaha untuk mengingat-ingat. "Kalau tidak salah, dia dibunuh para pengawalnya sendiri," jawabnya, "dia pasti lebih berhati-hati sekarang. Macro menyebutkan bahwa sang Kaisar terus menggonta-ganti pengawal pribadinya. Pertama-tama automaton menggantikan para serdadu garda praetorian. Kemudian dia mengganti automato dengan tentara bayaran dan strix serta … telinga besar? Aku tidak tahu artinya."
Aku melirik ke arah Kak Shisui, sepertinya dia tahu sesuatu tentang para pengawal Kaisar tapi ia tidak mau menceritakannya kepada kami. Kemudian salah satu dryad tampak mendengus kesal. "Insan bertelinga besar baik-baik tidak akan bekerja untuk penjahat keji macam itu! Apa sang Kaisar punya kelemahan lain? Pasti ada!"
"Iya!" timpal Pak Pelatih Hedge. "Apa dia takut kambing?"
"Apa dia alergi lendir kaktus?" tanya Aloe Vera penuh harap.
"Setahuku tidak," kata Sasuke.
Para dryad kelihatan kecewa.
"Katamu kau mendapat ramalan yang dikatakan oleh Moirae dan ayahmu?" tanya Joshua. "Adakah petunjuk di dalamnya?"
Nada bicaranya terdengar skeptis, yang mungkin bisa aku pahami. Meski ramalan itu diucapkan oleh Sang Pengrajut Takdir itu sendiri, tapi kedengarannya tidak seberwibawa ramalan Delphi.
"Aku harus mendatangi istana barat," kataku. "Artinya pasti markas Caligula."
"Tidak ada yang tahu letaknya," gerutu Pir.
Mungkin aku cuma berkhayal, tetapi Mellie dan Gleeson sepertinya bertukar pandang was-was. Aku menanti mereka berkata-kata, tetapi mereka diam saja.
"Kata ramalan …," lanjutku, "aku harus merampas embusan si penutur teka-teki silang. Menurut perkiraan kami yang telah rapat di Perkemahan Blasteran, artinya aku harus membebaskan Sibyl Erythraea dari penahanannya."
"Apa si Sibyl ini suka teka-teki silang?" tanya Reba. "Aku suka teka-teki silang."
"Menurut Apollo, Oracle ini menyampaikan ramalannya dalam bentuk teka-teki kata," aku menjelaskan. "Seperti teka-teki silang, atau akrostik—tahu, 'kan, sajak yang huruf depan tiap barisnya membentuk akronim? Ramalan itu juga menyebut-nyebut bahwa Grover bersama Sasuke akan membawa kami ke sini dan Perkemahan Jupiter akan tertimpa bencana beberapa hari lagi—"
"Puncak musim panas," gumam Meg. "Sudah dekat"
"Ya." Kucoba untuk mengekang kejengkelanku. Meg sepertinya ingin aku berada di dua tempat sekaligus, yang mungkin adalah perkara enteng untuk para dewa. Untuk seorang demigod yang baru pertama kali menjalankan misi sepertiku, berada di satu tempat saja aku sudah kesusahan.
"Ada larik lain," Grover mengingat-ingat. "Mampu tunjukkan jejak kaki musuh ke sana? Apa jangan-jangan Caligula sendiri sempat berkeliaran di dalam labirin?"
Menurut perkiraanku, sepatu kulit militer Romawi untuk bayi pasti berukuran mungil. Membayangkan harus mencari jejak sekecil itu, mataku mendadak pedih.
"Entah, ya," kataku. "Tapi kalau kita bisa membebaskan Sibyl dari lebirin, aku yakin dia akan membantu kita. Aku tidakingin main terjang untuk menghadapi Caligula secara langsung tanpa pemandu."
"Berarti kembali lagi dari awal," kata Joshua. "Kau harus membebaskan Oracle. Kami mesti memadamkan kebakaran. Untuk itu, kita harus mengarungi labirin, tapi tidak ada yang tahu caranya."
"Oh ya, Naruto," kata Sasuke secara tiba-tiba, "bukannya kau masih memiliki ramalan dari Kebun Dodona? Mungkin ada petunjuk lain di ramalan itu."
Aku menepuk dahiku. "Betul juga," kataku. Aku berusaha mengingat-ingat isi ramalan yang dicetuskan oleh Kebun Dodona.
"Kalau tidak salah, larik pertama mengatakan bahwa aku harus Pergilah ke arah Selatan. Sekarang aku sudah di dataran selatan. Terus, Rusa dan kura-kura telah memberimu penghargaan, itu merujuk ke hadiah dari Artemis dan juga Hermes kepadaku," kataku sambil mengeluarkan pedang dan busurku.
"Lalu, bukankah larik ketiga dan keempat mengatakan bahwa kau harus temui sang petir dan angsa serta redakanlah sang matahari yang murka?" tanya Sasuke.
Gleeson Hedge berdeham. "Mungkin aku tahu maksud dari larik ketiga itu."
Baru kali ini seorang satir dipandangioleh sekian banyak kaktus.
Salah satu dryad bertanya, "Apa artinya itu?"
Hedge menoleh kepada istrinya, seolah hendak mengatakan, Silahkan, Sayang.
Mellie menghabiskan beberapa mikrodetik dengan mengamat-amati langit malam dan barangkali menekuri kehidupan lampaunya sebagai awan lajang.
"Kebanyakan dari kalian sudah tahu kami sempat tinggal dengan keluarga McLean," kata Mellie.
"Ah … keluarga Piper McLean," kata Sasuke, "putri Aphrodite."
Aku ingat dia—salah satu dari tujuh demigod yang berlayar dengan Argo II menuju negeri kuno untuk mengalahkan sang Dewi bumi dan para raksasa. Mungkin dia dan juga pacarnya, Jason Grace, bisa dinobatkan sebagai pasangan demigod paling mumpuni selain Percy dan Annabeth.
Mellie mengangguk. "Aku dulunya adalah asisten pribadi Pak McLean. Gleeson menjadi ayah rumah tangga, dengan piawai mengurus anak dan rumah—"
"Aku memang piawai, ya?" Pak Pelatih setuju, mengulurkan rantai nunchaku-nya untuk digigiti Bayi Chuck.
"Sampai situasi menjadi kocar-kacir," kata Mellie sambil mendesah.
Meg McCaffrey menelengkan kepala. "Apa maksudmu?"
"Ceritanya panjang," kata sang peri awan dengan nada bicara yang menyiratkan Aku bisa memberitahumu, tapi kemudian aku harus berubah menjadi awan badai dan menangis habis-habisan serta menyambarmu dengan petir sehingga kau mati. "Intinya, beberapa bulan yang lalu, Piper bermimpi tentang Labirin Api. Piper mengira dia tahu jalan untuk mencapai pusatnya. Piper lantas pergi menjelajahi labirin bersama … pemuda itu, Jason."
Pemuda itu. Instingku menilai bahwa Mellie tidak menyukai Jason Grace, sang mantan praetor dan juga putra Jupiter.
"Ketika mereka kembali …." Mellie terdiam, paruh bawah tubuhnya berputar-putar seperti awan puting beliung. "Mereka bilang bahwa mereka gagal. Tapi, aku merasa ada yang tidak mereka ceritakan. Piper menyiratkan bahwa mereka menjumpai sesuatu di bawah sana yang … membuat mereka terguncang."
Dinding-dinding batu Reservoir serasa berderit dan bergeser dibelai udara malam yang mendingin, seakan bervibrasi untuk mengutarakan solidaritas terhadap kata terguncang. Aku memikirkan mimpiku mengenai Sibyl yang terbelenggu rantai api, meminta maaf kepada seseorang setelah menyampaikan kabar buruk: Maafkan aku. Aku akan menyelamatkanmu jika bisa. Aku akan menyelamatkan gadis itu.
Apakah dia berbicara kepada Jason, Piper, atau mereka berdua? Jika benar begitu, dan jika mereka memang sempat menjumpai sang Oracle ….
Aku malah berpikiran pada larik terakhir ramalan Kebun Dodona, dan firasatku menjadi semakin buruk.
"Kita harus bicara kepada mereka," ujarku.
"Aku setuju," kata Sasuke. "Lagipula dalam ramalan Kebun Dodona menyebutkan kata petir dan angsa. Petir merupakan lambang sakral milik Raja Olympus, Zeus atau Jupiter, sedangkan angsa merupakan hewan keramat milik Aphrodite."
Mellie menunduk. "Aku tidak bisa mengantar kalian. Kembali ke sana … membayangkannya saja hatiku sakit."
Hedge memindahka Bayi Chuck ke lengannya yang sebelah. "Mungkin aku bisa—"
Mellie meliriknya dengan ekspresi memperingatkan.
"Iya, aku juga tidak bisa," gumam Hedge.
"Akan kuantar kalian berdua," Grover mengajukan diri, sekalipun dia malah kelihatan semakin capek saja. "Aku tahu rumah keluarga McLean. Cuma, anu, mungkin kita bisa menunggu sampai besok pagi?"
Gelombang rasa lega melanda para dryad yang berkumpul. Duri-duri mereka melemas. Wajah mereka yang sempat pucat kembali diwarnai klorofil. Grover mungkin belum memecahkan persoalan mereka, tetapi dia telah memberi mereka harapan—setidaknya, perasaan bahwa kami bisa bertindak.
Kutatap lingkaran langit jingga nan keruh di atas Reservoir. Aku memikirkan kebakaran yang berkobar di barat dan apa yang kiranya terjadi di utara, di Perkemahan Jupiter. Selagi duduk di dasar sumur di Palm Springs, tidak mampu menolong para demigod Romawi atau bahkan mengetahui kabar mereka, aku bisa bersimpati kepada para dryad—tertahan di satu tempat, menyaksikan dengan putus asa sementara alam liar dilalap kebakaran yang kian lama kian mendekat.
Aku tidak mau mengandaskan harapan yang baru saja merekah di hati para dryad, tetapi aku merasa terdorong untuk mengucapkan, "Satu lagi. Suaka kalian sudah tidak aman."
Aku menyampaikan perkataan Incitatus kepada Caligula di telepon. Kalau kalian ingin tahu, tidak, aku tak pernah menyangka akan menguping dan melaporkan pembicaraan antara kuda yang bisa bicara dengan seorang kaisar Romawi yang sudah lama mati.
Aloe Vera gemetaran, menggetarkan sejumlah segitiga berkhasiat obat di rambutnya. "D-dari mana mereka tahu tentang Aeithales? Mereka tidak pernah mengganggu kita di sini!"
Grover berjengit. "Entahlah, Teman-teman. Tapi … si kuda sepertinya menyiratkan bahwa Caligula-lah yang menghancurkan Aeithales bertahun-tahun lalu. Kuda itu bilang Aku tahu kau mengira sudah mengatasinya. Tapi tempat itu masih berbahaya."
Sebenarnya aku juga mencurigai Kak Shisui ketika mengingat kata-kata Incitatus, tapi bisa saja hal itu menambah kepanikan roh-roh yang ada di sini. Jadi aku lebih baik menahannya saja.
Wajah Joshua yang secokelat kulit kayu bertambah gelap. "Tidak masuk akal. Kita saja tidak tahu tempat ini dulunya apa."
"Rumah," kata Meg. "Rumah panggung besar. Reservoir-resevoir ini … berfungsi sebagai pilar penyangga, pendingin geothermal, penyimpanan air."
Duri para dryad lagi-lagi berdiri. Mereka tidak berkata-kata, menanti Meg melanjutkan.
Meg menaikkan kakinya yang basah, alhasil membuatnya semakin mirip tupai gugup yang siap untuk kabur dari tempat ini. Aku teringat betapa Meg ingin angkat kaki dari sini begitu kami tiba, betapa dia mewanti-wanti kami bahwa di sini tidak aman. Aku malah teringat akan salah satu larik ramalan yang belum sempat kami bahas: Putri Demeter mesti temukan akar kunonya.
"Meg," kataku selembut mungkin, "dari mana kau tahu tentang tempat ini?"
Raut wajahnya berubah tegang tetapi menantang, seolah dia tidak yakin apakah mesti menangis atau melawan aku.
"Karena ini dulu rumahku," kata Meg. "Ayahkulah yang membangun Aeithales."
.
Bersambung
.
Hai semuanya, kembali bersama saya, FI. Antonio no Emperor. Akhirnya saya bisa mengupdate fic ini setelah beberapa minggu. Maafkan saya yang baru bisa mengupdatenya, saya masih ada beberapa proyek yang cukup berat di real life sehingga harus menunda kedua ficku.
Lalu, bagi teman-teman yang membaca fic ini, bisa juga mampir ke ficku yang satu lagi yaitu The Two-in-One Detective. Nantinya fic ini dan fic itu yang akan sering saya update, terutama untuk fic TTIOD, saya masih memberikan beberapa riset untuk menambah kesan misterinya.
Mungkin itu saja dari saya, semoga para readers sekalian masih suka dan mengikuti fic ini.
Akhir kata, sampai jumpa di chapter selanjutnya.
