Disclaimer: cuma aku pinjam.

Warning: Banyak typo,bahasa kurang jelas, ooc, mainstream, Doujutsu Naru, Devil Naru! OverPower Naru!,dll.

Genre :Adventure. Supranatural. Family. Romace.(kurasa)

Chapter 17.

Sweatdrop? Yah itulah yang Vali rasakan saat pertama sampai dirumah Sensei nya. Bagaimana tidak, dia melihat kini para Iblis muda Sitri terkapar di halaman belakang rumah Naruto.

"Err? Sensei? Mereka kenapa?" Tanya Vali menatap Naruto.

Naruto yang mendengar nya terkekeh kecil. Lalu dia melambaikan tangannya.

"Yah, aku hanya memberikan mereka pemanasan" Ujarnya masih dengan senyum lebar.

Sweatdrop yang ada di kepala Vali bertambah saat mendengar nya. Dia tau pemanasan yang dimaksud Naruto pasti penyiksaan untuk mereka, sama seperti saat pertama kali dia latihan.

Lalu pandangan Vali beralih pada Sarada yang kini terlihat duduk terdiam di atas batu. Jika diperhatikan keringat bercucuran deras didahi gadis itu.

"Apa yang dia lakukan Sensei?" Tanya Vali menujuk Sarada.

"Oh.. Aku menyuruh dia bertarung dengan Kurama dan yang lainnya" Ucap Naruto.

Vali yang mendengar nya menatap gadis itu intens. Dia jadi penasaran bagaimana pertarungan gadis itu dengan partner sensei nya.

"N-Naru-nii? Apa hari ini cukup ini saja?"

Naruto mengalihkan pandangannya pada Sona, terlihat kini gadis itu telah berdiri didepannya.

"Hum? Yah, kurasa cukup sampai disini saja.. Kalian pergilah masuk kedalam dan istirahat" Balas Naruto.

Mereka yang masih berbaring di rumput langsung bangkit dengan semangat. Inilah yang mereka inginkan dari tadi.

"Terimakasih Sensei"

Naruto terkekeh kecil, saat melihat Peerage Sona langsung lari kedalam rumahnya. Sona yang melihat kelakuan keluarganya memerah malu.

"Maaf ya Naru-nii.. Padahal kami yang minta dilatih, tapi kami yang mengeluh" Ucapnya meminta maaf.

"Hahaha.. Kau tidak perlu sungkan Sona-chan.. Bahkan sebelum kalian, ada yang telah lebih dulu mengeluh atas cara latihan ku" Ujarnya melirik Vali yang kini membuang muka.

"Baiklah Naru-nii, aku ingin mandi terlebih dulu" Naruto mengangguk mengerti. Setelah itu Sona langsung menyusul Peerage nya.

Setelah kepergian Sona dan yang lainnya, terjadi keheningan disana. Namun itu tidak lama, sebelum akhirnya Naruto buka suara.

"Ada yang ingin kau sampaikan?" Tanya Naruto melirik Vali.

Pemuda itu terlihat menggaruk tengkuknya. Dia sedikit merasa tidak enak mengutarakan yang ingin dia katakan.

"Umm... Sebenarnya, ada kenalan ku ingin bertemu dengan sensei. Apa Sensei tidak keberatan?" Tanyanya.

Naruto tersenyum lebar, lalu merangkul pemuda itu. Tentu saja, Vali sedikit kaget akan hal tersebut.

"Apa yang membuat mu kaku seperti itu? Bukannya biasanya kau seenaknya saja? Humm" Ujar Naruto terkekeh kecil.

Vali yang mendengar nya tersenyum kaku. Tidak mungkin dia mengatakan alasan yang sesungguhnya, bisa-bisa Naruto menolak.

"Umm.. Ya, bukan seperti itu. Takutnya Sensei sibuk, jadi merasa terganggu" Ucapnya beralasan.

"Haha... Jika itu teman mu, berati dia bagian dari kita. Jadi kau tidak perlu sungkan" Ujar Naruto melepaskan rangkulannya dari Vali.

"Eh? Ah, baiklah Sensei.. Aku pergi mengabari dia dulu"

Naruto mengangguk paham. Tanpa menunggu waktu lama, Vali langsung hilang dalam lingkaran sihir miliknya.

Setelah melihat Vali pergi, Naruto menatap Sarada yang kini keringat bercucuran deras di dahinya.

Mainscape On.

Duar! Duar! Boom! Duarr!

Ditempat yang terlihat luas, terjadi ledakan dimana-mana. Kawah kecil sampai besar sudah tidak terhitung banyaknya.

Dan disalah satu kawah, terlihat seorang gadis dengan pakaian compang camping terbaring disana. Wajahnya benar-benar kusut akibat debu yang menempel diwajahnya.

"Kau memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.. Ojou-chan"

Gadis itu berusaha menoleh kearah suara tersebut. Dia dapat melihat Kurama di luar kawah, rubah itu langsung membantu gadis itu keluar dari sana menggunakan ekornya.

"Uhuk..Uhuk.. Tapi, kekuatan Kurama-san jauh lebih kuat, bahkan perfek Susano'o milik ku dapat dikalahkan" Balas gadis itu, yang kini telah berdiri didepan Kurama.

Terlihat tubuhnya mulai diselimuti chakra oranye milik Kurama. Dia sedikit tersentak saat merasakan tenaga maupun chakra miliknya terasa hampir pulih.

"Ya ini juga berkat Naruto.. Karena latihan yang Naruto lakukan sangat gila, membuat kekuatan ku juga meningkat" Balas rubah itu jujur.

Sarada mengangguk paham. Dia juga pernah merasakan kekuatan langsung dari Nanadaime, walaupun belum pertarungan hidup dan mati, tapi tetap saja.

Sarada dapat merasakan perbedaan level mereka terlalu jauh. Belum lagi, Otoutsuki yang membuat mereka sekarat dapat dikalahkan oleh Naruto.

"Ano, Kurama-san.. Kapan mereka akan sadar?" Tanya Sarada menatap para Bijuu lainnya yang kini tertidur.

"Hahh~ Mungkin satu Minggu lagi. Untungnya Naruto waktu itu cepat sadar, kalau tidak aku tidak tau apa yang akan menimpa mereka" Ujarnya.

Benar, akibat chakra mereka yang terserap secara paksa, membuat mereka harus tidur untuk mengumpulkan chakra mereka kembali.

"Oh iya Ojou-chan.. Apa kau mau membantu ku mengawasi Naruto?" Tanya Rubah itu.

"Hum? Mengawasi?"

"Hah~ Kau tau, sudah sejak lama Naruto tidak pernah semarah saat bertarung dengan Otoutsuki kemarin"

"Aku takut nya, saat dia bertemu dengan Otoutsuki lainnya dia hilang kendali lagi. Dan tidak bisa mendengar kan kami, pada saat itu aku ingin kau menyadarkannya" Jelaskan Kurama.

"Ano.. Kurama-san, ke-kenapa harus aku? Bukanya Boruto atau Himawari yang cocok untuk itu?" Tanya Sarada.

Rubah itu menggeleng, tentu saja itu membuat Sarada bingung. Bukanya yang dia katakan benar.

"Kau tau.. Bagi Naruto. Sasuke adalah saudara, Rival dan juga teman sejati untuk nya. Dan kau adalah anak dari sosok yang penting tersebut"

"Aku yakin, Naruto dapat mendengar jika kau yang menyadarkan nya" Jelaskan Kurama.

Sarada yang mendengar nya terdiam. Apa sosok ayahnya sebegitu pentingnya untuk Nanadaime? Walaupun dia dulu sering mendengar Nanadaime dan ayahnya sangat dekat, tapi dia tidak menyangka sampai seperti itu.

"B-baiklah, aku akan berusaha"

Kurama yang mendengar nya menyeringai. Dia tau sosok gadis didepannya ini akan menjadi orang yang penting di masa depan.

"Baiklah Ojou.. Kurasa kau sudah boleh keluar"

Gadis itu mengangguk, lalu melambaikan tangan nya. Tidak beberapa lama tubuhnya mulai lenyap dari depan Kurama.

"Uchiha.. Klan yang penuh kasih sayang" Gumam rubah itu setelah Sarada pergi.

.

.

Sarada mengedipkan mata nya beberapa kali, setelah pandangan nya mulai normal dia dapat melihat Naruto berdiri tidak jauh depannya.

"Yo" Sapa pria itu.

"Eh? Anda menunggu saya, Nanadaime-sama?"

Naruto terasa sakit saat mendengar panggilan tersebut. Padahal dia sudah menyuruh untuk tidak perlu memanggil nya seperti itu.

"Hum ya, aku juga baru selesai melatih Sona dan yang lainnya... Dan tolong berhentilah memanggil seperti itu" Jawab dan pinta Naruto.

"Ah! Maaf aku Oji-san" Naruto hanya tersenyum lebar melihat reaksi gadis itu.

"Ya sudah, sana masuk bersihkan diri mu dan istirahat lah" Ucap pria itu.

Sarada mengangguk mengerti. Dia langsung melompat turun dari batu itu, lalu melangkah memasuki rumah Naruto.

"Hahh~ Sebaiknya aku juga masuk" Gumamnya pada dirinya sendiri.

.

.

Malam Hari.

Kini dikediaman Uzumaki sungguh benar-benar hidup. Bagaimana tidak kini rumah besar itu sangat meriah, para gadis kini sibuk membantu Hinata memasak dan menyiapkan meja makan.

Sedangkan Naruto kini dipaksa oleh mereka untuk diam tanpa membantu, sedangkan Saji dia terlihat sibuk membantu para singa-singa itu.

Kadang terdengar tawa dari mereka saat ada yang menurut mereka lucu.

"Hei? Apa aku tidak bisa membantu, kasihan Saji" Ucap Naruto, dia benar-benar kasihan melihat pemuda itu kerepotan.

"Tidak Naru-nii.. Kami yang akan menghidangkan makanan kali ini" Ujar Sona, diberi anggukan kepala dari pada gadis lainnya.

"O-ok"

"Hihi.." Hinata hanya dapat tertawa kecil melihat suaminya itu.

"Ano.. Hinata-sama. Apa makanan yang paling disukai Naruto-sama?" Tanya Ravel.

Mendengar pertanyaan itu, terlihat semua gadis disana bahkan Sarada menajamkan pendengaran mereka.

"Humm.. Dari dulu Naruto-kun itu suka ramen.. Bahkan dulu jika tidak makan ramen 1 hari saja, dia bisa-bisa prustasi" Jawab Hinata.

Naruto yang mendengar nya tersenyum paksa. Jawaban Hinata seakan-akan dia mengatakan bahwa dirinya adalah paling maniak Ramen.

Padahal jika istrinya itu ikut, dia yang makan paling banyak. Bahkan mengalahkan dirinya si pecinta Ramen.

"Hum.. Jadi Ramen ya, pantas Ramen buatan Naru-nii sangat enak.. Ternyata maniak Ramen" Gumam Sona melirik Naruto, diikuti gadis lainnya.

Sedangkan yang dilirik kini hanya menggaruk tengkuknya, sembari mengalihkan pandangan nya.

"Sudah-sudah, ayo kita lanjutkan masak nya" Ajak Hinata.

Para gadis iblis itu mengangguk paham, lalu mereka melanjutkan acara memasak mereka.

Ting! Tong!

"Hum? Minna.. Aku membuka pintu dulu ya" Ucap Naruto bangkit dari duduknya saat mendengar suara bel pintu.

Ting! Tong!

"Ha'i-Ha'i.. Aku datang"

"..??"

Naruto dibuat bingung saat kini didepannya berdiri Himawari dan juga para anggota klub penelitian gaib, dan satu orang gereja semalam.

"Malam Naruto/San/Nii/Sensei" Sapa para gadis itu.

"Maaf Papa, aku mengundang Bocho dan yang lainnya" Ucap Himawari.

Naruto yang mendengar nya menggeleng tidak masalah.

"Ayo silahkan masuk"

"Permisi" Ucap mereka.

"Kyaa.. Haha.. Hentikan Ruruko-chan"

"Hehe.. Rasakan ini Yura-senpai"

"Hei kalian berdua"

Rias dan yang lainnya terlihat bingung saat barus sampai di ruang tamu, mereka mendengar banyak suara.

"Itu Sona dan yang lainnya, mereka lagi memasak" Ujar Naruto tiba-tiba.

"Sona ada disini Papa?" Tanya Himawari kurang yakin.

"Ha'i.. Dia beserta Peerage nya ada disini. Mereka lagi sibuk memasak bersama ibumu" Balas Naruto.

"Siapa yang datang Anata?"

Mereka langsung mengalihkan pandangan saat mendengar suara, terlihat Hinata datang dari dapur mereka dengan celemek dan sudip di tangannya.

"Rias dan yang lainnya" Jawab Naruto.

"Wah kebetulan sekali, ayo kita ke ruang makan.. Kami memasak banyak malam ini" Ujar Hinata.

"Eh? T-tidak perlu repot-rep-"

"Tidak apa-apa Bocho, ayo kita kesana"

Himawari langsung menarik tangan Rias menuju ruang makan. Hinata dan yang lainnya mengikuti mereka dibelakang.

Rias dan Anggota Peerage nya terdiam, saat kini disana sudah duduk Sona dan Anggota Peerage nya. Bukan hanya itu, mereka juga melihat Ravel, Siria, Mira dan sikembar Ile dan Nell.

Bahkan gadis surai hitam sebahu, yang saat menyerang Naruto juga ada di sana. Kini mereka menatap mereka semua.

"Rias?" Kaget Sona dan Ravel.

Mereka cukup kaget akan kedatangan gadis itu, sebab baru kali ini dia bertamu ke rumah Naruto.

"Oh, Sona, Ravel. Dan yang lainnya juga ada disini" Ujar gadis itu gugup.

Sona yang melihat kelakuan Rias menaikkan alisnya, tidak biasanya gadis itu gugup.

"Yosh, nanti saja bicara nya. Ayo kita makan dulu, aku sudah lapar.. Kalian juga Rias" Ujar Naruto.

Rias mengangguk, lalu mereka ikut duduk untuk makan malam disana. Beruntung nya meja makan Naruto sangat panjang.

Hanya ada denting sendok dan piring disana. Sungguh Naruto merasa makan bangsawan sungguh berbeda.

Dan selama makan, ada yang aneh menurut Naruto. Entah kenapa Koneko terlihat gelisah dan sesekali meliriknya.

Setelah selesai makan, Siris, Mira dan sikembar Ile, Nell membantu Hinata mencuci piring yang kotor.

Sebenarnya anggota Osis ingin membantu, tapi Hinata melarang hal tersebut. Karena dia tau mereka juga lelah akibat latihan dengan Naruto.

"Jadi? Ada keperluan apa kalian datang?" Tanya Naruto membuka suara.

"U-um.. Sebenarnya, aku memiliki permohonan" Ujar gadis surai merah itu.

"Permohonan?"

Sona yang sudah menangkap arah pembicaraan, terlihat saling tatap dengan Ravel.

"Ha'i.. Maukah anda melatih Issei-kun" Ujar gadis itu menatap langsung Naruto.

Naruto yang mendengar permohonan gadis Gremory itu, terlihat melirik Issei yang kini menatapnya penuh harap.

"Kau tidak perlu memohon pun, aku memang akan melatihnya Rias-chan" Balas Naruto tersenyum.

"Dan lagi, aku memang sudah ada niatan untuk melatih kalian semua" Lanjut nya

"Lihat Bocho, apa aku katakan. Papa pasti setuju" Ujar Himawari bangga.

Rias yang mendengar nya terlihat senang, dia tidak menyangka Naruto mau melatih mereka semua.

Begitu juga Issei, dia juga terlihat senang. Tapi dia menunduk saat mengingat dulu dia sering meremehkan Naruto, bahkan sampai ingin membunuhnya.

"T-tapi Naruto-san, apa kau tidak membenci ku?" Tanya pemuda itu lirih.

Naruto yang mendengar nya tersenyum lima jari.

"Haha... Jika perbuatan mu yang tidak seberapa itu membuat ku membenci mu, bisa-bisa dari dulu aku sudah membenci semua orang didesa ku" Ujarnya tertawa kecil.

Mereka yang mendengar nya terlihat bingung, kecuali Sarada. Karena dia tau bagaimana dahulu perlakukan warga desa pada Nanadaime tersebut.

"A-no.. Sebenarnya bukan hanya itu yang ingin aku katakan Naruto-san" Naruto menatap gadis itu supaya melanjutkan kata-katanya.

"Tiga hari lagi akan diadakan pertemuan para petinggi Iblis, Malaikat dan juga Malaikat hatuh.. Nii-sama berpesan agar Anda datang" Jelaskan Rias atas kedatangan nya.

Naruto yang mendengar nya mengangguk, Azazel juga berpesan beberapa hari lalu.

"Baiklah, aku akan datang dipertemuan nanti" Setujuinya.

Dia lalu mengalihkan pandangan pada gadis surai biru, dengan hijau sedikit diponi nya.

"Bukannya kau utusan Gereja itu?" Tanya Naruto.

Sebenarnya dia dari tadi memperhatikan gadis itu, karena dia melihat gadis itu terasa enggan melihatnya.

Gadis yang tidak lain adalah Xenovia tersebut, terlihat menegang. Rias terlihat menepuk kecil pundak gadis itu.

"Katakanlah" Ujarnya lembut.

Mendengar apa yang Rias katakan, gadis itu bangkit dari tempat duduknya. Lalu dia langsung membungkuk.

"Gomen, atas sikap ku beberapa hari lalu. Karena sikap egois ku teman ku hampir terbunuh, untung ada anda dan yang lainnya membantu.. Aku benar-benar minta maaf" Ucap gadis itu masih membungkuk.

Naruto tersenyum kecil melihat ketulusan gadis itu, dia tau Xenovia adalah orang yang baik tapi karena kekerasan kepala miliknya membuat dia tidak berpikir tenang.

"Hehe.. Kau tidak perlu meminta maaf, yang lalu biarlah berlalu" Balas pria itu.

Xenovia menatap pria itu tidak percaya, apa dia sama sekali tidak ada rasa benci atas sikap nya beberapa hari yang lalu.

"Xenovia-san, Nanadaime adalah orang berhati lembut, jadi tidak perlu heran, bahkan Papa ku yang berniat membunuhnya masih di maafkan" Celetuk Sarada.

"Hahaha.. Waktu itu kami hanya Sparing" Ujar Naruto tertawa besar.

Mereka yang mendengar tawa Naruto sweatdrop, begitu juga Sarada. Padahal Papanya dan Nanadaime sampai kehilangan tangan, bisa-bisa di bilang itu Sparing.

"Um, kurasa sudah saatnya kami pamit Naruto-san" Ujar Rias berdiri diikuti Peerage nya kecuali Himawari dan Koneko.

"Eh? Apa kalian tidak menginap?"

"Maaf, aku ada beberapa hal yang harus dibicarakan dengan Nii-sama, jadi mungkin lain kali"

Naruto mengangguk mengerti, dia juga tidak bisa memaksa mereka jika ada keperluan.

"B-Bochou.. Apa aku b-boleh tinggal disini?" Rias mengalihkan pandangan pada gadis loli surai putih itu.

"Um, jika Naruto-san mengijinkan nya"

Mendengar hal tersebut, Koneko langsung menatap Naruto berkaca. Sedangkan yang ditatap terlihat menggaruk tengkuknya.

"Ah.. Ya, kalau Koneko-chan ingin menginap tidak apa-apa" Balasnya.

"Baiklah, Koneko jangan nakal ya.. Kami undur diri dulu, Jaa Naruto-san.. Minna"

Dengan itu mereka langsung hilang ditelan sihir teleportasi khas Gremory.

Terjadi keheningan disana setelah kepergian Rias dan yang lainnya.

"Ano, Naru-nii.. Apa kami boleh istirahat.. Tubuh kami masih lelah"

Naruto yang tadinya sedikit melamun, mengalihkan pandangan pada Sona dan yang lainnya. Dia dapat melihat tercetak jelas lelah diwajah anggota Osis.

"Hehe.. Maaf ya, jika latihan ku berat.. Baiklah sana tidurlah besok kita akan latihan lagi"

Mereka yang mendengar nya mengangguk, setelah itu mereka langsung menuju kamar masing-masing.

"Oyasumi, Naru-nii" Ucap Sona sebelum melangkah.

"Ah, Oyasumi"

Kini disana hanya ada Koneko, Sarada, Ravel dan Himawari. Dan yang perhatian dari tadi adalah, Koneko terlihat aneh dia sangat gelisah dengan wajah memerah.

"Koneko? Apa kau sakit, wajah mu memerah?" Tanya Naruto.

"E-eh, t-tidak kok"

"Hahh~ Sudah sana kalian istirahat, besok banyak hal yang harus dikerjakan"

Mereka mengangguk mengerti, setelah itu mereka langsung naik ke lantai dua.

"Eh? Pada kemana semua?"

Naruto mengalihkan pandangannya kearah suara tersebut, terlihat Hinata, Siris, Mira dan sikembar Nel dan Ile mendekati nya.

"Rias dan yang lainnya telah pulang, sedangkan Himawari dan yang lainnya sudah pergi ke kamar mereka"

Hinata mengangguk mengerti, dia lalu berbalik menatap empat gadis yang kini menjadi pegawai mereka.

"Kalian juga pergilah istirahat"

"Ha'i Hinata-sama"

Dengan itu mereka berempat menuju kamar mereka masing-masing.

"Hah~ Tenyata memiliki banyak penghuni dirumah ini keputusan yang tepat ya" Ujar Hinata mengambil posisi duduk disamping Naruto.

"Hum.. Ya kau benar, ini sangat berbeda dengan kehidupan ku dulu.. Sendiri tanpa tau siapa orang tua ku" Timpal Naruto tersenyum miring.

"Sudahlah Anata, kini kita telah hidup dengan keluarga lengkap.. Bahkan dirumah ini aku berasa memiliki banyak anak" Ucap Hinata memegang tangan Naruto.

"Ah~ Kau benar" Setujuinya.

"Baiklah, ayo kita juga tidur.. Besok bukannya Anata akan melatih Sona dan yang lainnya"

Naruto mengangguk, dia berdiri Hinata terpekik kecil saat Naruto menggendong nya ala pengantin.

"A-anata" Gumamnya dengan wajah bersemu.

"Hehe... Sesekali tidak apa-apa kan" Ujarnya berjalan kearah kamar mereka, sedangkan Hinata hanya dapat menyadarkan kepalanya didada Naruto.

.

01.58 Am

.

"Grrrr.. Gurrr.."

"Ugh.."

Naruto perlahan membuka matanya, saat merasakan ada yang menjilati tubuhnya.

"..!!"

Dia membulat kan matanya saat melihat gadis surai putih bertelinga kucing, lengkap dengan ekor kini tengah menjilati dadanya dengan kondisi telanjang bulat.

"K-k-koneko-chan?!" Kagetnya kecil.

Tidak mungkin dia berteriak, karena kini disampingnya ada Hinata yang tidur membelakangi nya.

"S-sensei~" Gumam gadis itu mendesah, jangan lupakan wajahnya yang memerah.

"A-apa yang kau l-lakukan!?" Naruto berusaha menjauhkan Koneko dengan mendorong nya ke atas.

Namun, kelihatan Koneko tidak mau kalah. Dia malah memeluk Naruto dan melanjutkan kegiatannya.

"Khu.. G-geli Koneko-chan" Naruto berusaha mati-matian untuk mengendalikan diri nya.

"S-shensei~ Tholonh aku.. Sangat panas disini"

Mata Naruto membola sempurna saat Koneko mengarahkan tangan Naruto ke kewanitaan nya.

Dia dengan cepat menarik tangan nya, lalu mengambil posisi duduk membuat Koneko terjengkang.

Wajah Naruto langsung memerah sempurna, bagaimana tidak dia dapat melihat jelas tubuh gadis itu. Belum lagi dia memposisikan tubuhnya seperti kucing yang ingin bermain.

Dengan cepat Naruto menutupi seluruh tubuh Koneko dengan selimut nya. Walaupun terlihat gadis itu melawan.

"K-koneko, kenapa kau seperti ini?"

"Gerr... Sensei.. I-ini adalah musim kawin bagi kami.. Gerr" Jawabannya menggosok wajahnya ke dada bidang Naruto.

"M-musim kawin?" Kaget Naruto tidak percaya.

"Ha'i.. Jadi tolong sensei, malam ini saja.. Kau harus membantu ku untuk tenang"

Dia langsung menerjang Naruto membuat pria itu terlentang. Tanpa aba-aba dia langsung melumat bibir Naruto.

"Umm.. Push!"

"K-koneko!"

Naruto benar habis kata-kata, dia tidak menyangka Koneko sangat beda jauh dengan sikap datar nya.

"Gerr.."

Koneko kembali melumat bibir Naruto, sedangkan pria itu hanya diam. Dia laku mengarahkan tangannya ke tengkuk Koneko.

Tuk!

Gadis itu langsung pingsan, saat Naruto menotok salah satu titik Koneko. Dia laku membaringkan gadis itu ditengah mereka.

"Hahh~ Kau tidak tidur kan.. Hinata"

Terlihat tubuh wanita itu sedikit menegang, sebelum dia berbalik dan menghadap Naruto yang duduk bersandar.

"Um.." Balas Wanita itu ikut duduk bersandar.

"Kenapa kau tidak menghentikan nya?" Tanya Naruto bingung.

Hinata yang mendengar pertanyaan itu, mengalihkan pandangan pada wajah damai Koneko.

"Entahlah, insiting wanita mungkin" Balasnya mengelus surai Koneko.

"Hah?" Naruto yang mendengar jawaban itu terlihat bingung, bukanya Hinata seakan membiarkan Naruto selingkuh.

"Jika Anata ingin memiliki istri lagi, aku tidak masalah kok" Balasnya menatap Naruto tersenyum.

Naruto yang mendengar nya menghela nafas, dia lalu turun dari kasur berjalan ke arah pintu.

"Jangan berpikiran aneh Hinata, sampai saat ini aku tidak pernah berpikir seperti itu" Ujarnya sebelum keluar dari kamar tersebut.

Hinata yang mendengar nya tersenyum, sebenarnya dia tidak melarang tadi bukan karena apa. Koneko telah minta izin padanya, dia memasuki musim kawin dan itu menyiksanya.

Dia mengatakan tidak akan sampai berhubungan intim dengan Naruto, jadi menurut nya tidak masalah lagian dia tau bagaimana tersiksa nya menahan hal tersebut.

.

Skip

.

Pagi hari telah menjelang Sona, Rias, Ravel beserta keluarga mereka telah berbaris rapi didepan Naruto.

Hari ini dia memutuskan untuk menutup restoran nya. Sedangkan Hinata dan Sarada mereka merawat Boruto didalam.

Terlihat sesekali Naruto menguap, setelah kejadian tadi malam dia tidak tidur lagi.

"Naru-nii, apa kau tidak tidur tadi malam?" Tanya Sona melihat Naruto yang terus menguap.

"Eh? Ah, ya ada beberapa hal yang aku kerjakan tadi malam" Balasnya.

Sedangkan gadis surai putih, yang tidak lain adalah Koneko terlihat enggan menatap pria itu.

"Jadi Naruto-dan, kita akan latihan apa hari ini?" Naruto mengalihkan pandangan pada gadis surai merah itu.

"Um, seperti yang Sona lakukan kemarin.. Yang pertama itu pasti melati pisik kalian dengan berlari seratus putaran disini untuk laki-laki dan perempuan lima puluh" Balas nya.

Rias dan keluarga nya tersenyum senang, mereka kira latihan nya akan lebih berat lagi. Berbeda dengan Rias, Sona dan keluarga nya terlihat berkeringat dingin.

"N-Naruto-Sensei.. Apa tidak bisa dikurangi?" Tawar Saji.

"Oi Saji? Apa kau selemah itu sampai menawarkan hal mudah seperti itu?" Ejek pria surai coklat itu.

"B-Baka! Kau tidak tau apa yang akan terjadi sebentar lagi" Balas Saji.

"Asia.. Kemari" Gadis itu mengangguk, lalu dia melangkah mendekati Naruto. Pria itu lalu memegang tangan nya.

"Eh?" Kagetnya dengan wajah memerah.

Naruto lalu membuat Handseal dengan tangannya sebelah lagi.

Deg!

Brukh.. Brukh.. Brukh..

Rias dan yang lain nya langsung berlutut, sedangkan Sona dan keluarga nya berusaha melawan gaya gravitasi yang Naruto buat dengan energi iblis mereka.

"Ugh.. A-apa-apan ini? Kenapa tubuhku menjadi sangat berat?" Bingun Rias, saat dia melihat Sona dia dapat melihat gadis masih berdiri walaupun dengan wajah berkeringat.

"I-itulah yang kami katakan tadi, Naruto-sensei membuat gaya gravitasi disini berkali lipat" Jelaskan Saji.

"Ba-bagaimana mungkin?" Batin mereka.

"Sa.. Ayo kalian larilah.."

"B-bagiamana mungkin? Bahkan berdiri saja kami susah!" Terlihat Issei bersusah berdiri dengan kesusahan.

"Ugh.. Papa, biasanya tidak pernah melatih ku seperti ini" Batin Himawari setelah berhasil berdiri.

Sedangkan Asia yang masih digandeng Naruto, terlihat kebingungan melihat mereka.

"Hah~ Ayo Asia, mulai lah berlari.. Tunjukkan pada Iblis-Iblis lemah ini kekuatan mu.. Hahaha.."

Mereka langsung sweatdrop saat melihat tawa Iblis Naruto keluar. Mereka harus memasukkan kedalam catatan bahwa Naruto sangat mengerikan jika jadi pelatih.

"Baiklah Sensei" Ujar Asia mulai berlari tanpa masalah.

Tentu saja mereka kaget akan hal tersebut, bagaimana mungkin Asia yang lemah akan stamina bisa-bisa berlari tanpa kesusahan seperti itu.

"Ayo-ayo.. Jangan jadi pemalas, bahkan Asia saja dapat melakukan nya!" Terlihat Naruto membuat para muridnya itu bersemangat.

Anggota Osis langsung mengikuti Asia dari belakang. Melihat rival nya Saji mulai berlari, Issei dengan tekad yang kuat mulai mengikuti mereka.

"Oooraaa..."

"Ugh.. Ini sungguh sulit"

Rias dan yang lainnya akhirnya bisa berdiri, setelah itu mereka langsung berlari mengikuti Issei dari belakang.

"Hum.. Semangat yang mengagumkan" Batinya tersenyum.

BERSAMBUNG.

vvvvvvvvvvvvvv

vvvvvvvvvv

vvvvvvv

vvvv.

Piuh~ Kelar juga akhirnya.. Walaupun lumayan lama Hahaha...

Woke untuk pertama tidak bisa aku berterimakasih kepada kalian yang masih nunggu ni update, jujur itu membuat uwe senang.

Oh iya aku juga berterima kasih buat kalian yang udh bagi tau kekuatan anggota Osis yang aku pinta kemarin, walaupun belum terlalu jelas karena gk liat langsung.

Oh iya, apa kekuatan anggota Osis ditunjukkan di anime nya gk? Atau cuma di manga? Kalau ditunjukkan aku mau nonton anime nya biar ada gambaran gitu:)

Woke la, sampai sini saja dulu.. Bye~ Bye~ Dattebayou Heheh...