Author : Wpamls

Cast : Yesung x Ryeowook (Super Junior) and more

Genre : Friendship, Romance

Rate : T (Semi-M)

Warning : Yaoi, Typo(s), tidak sesuai EYD, alur gak jelas.

Disclamer : cast bukan milik siapapun, cerita ini fiksi. Enjoy!

Chapter : 20

-wpamls-

Previous chapter

"baik.."

"…"

"aku tak akan meninggalkan keluargaku.. begitu pula dengan dirimu, aku tak akan melepaskanmu."

"hentikan keras kepalamu itu hyung! aku lelah!"

"kalau aku sekarat bukankah kalian berdua akan sama-sama memberikan yang ku mau? Mungkin mencoba di perbatasan hidup dan matiku adalah jawabannya."

"YESUNG HYUNG!"

Hiks hiks

"kau egois hyung, hiks"

"…"

"hiks .. ka-kau pikir hanya kau yang menderita karena perpisahan ini? aku juga sakit hyung.. aku juga menderita.. kau hiks tak tau be- betapa menderitanya aku berpura-pura tegar didepanmu."

"…"

"berhenti menyakitiku dengan caramu ini hyung hiks .. tak bisakah kau biarkan aku tenang? biarkan kita berpisah dengan mudah Hiks ka-kau egois yesung hyung, kau egois.."

"…"

Ryeowook memukul dada yesung, berharap yesung paham sesak yang dirasakannya selama ini. yesung yang bodoh yang hanya menganggap semua akan semudah yang ia harapkan

"K-kau jahat hyung! hiks kau benar-benar keterlaluan hiks"

"…"

"kenapa kau lakukan ini padaku hyung! hiks"

"…"

"... uljima"

Hiks hiks

"arrasso..."

"…"

"aku akan menanggung semua rasa sakit ini asal itu bisa membuatmu tenang, asal itu membuatmu bahagia. Jika memang ini yang benar-benar kau inginkan, aku lakukan ryeowook. aku lakukan."

Hiks hiks

"uljima.." kali ini yesung merangkul ryeowook. mengusap punggung namja manis itu, berharap bisa meredakan tangis.

Ryeowook masih menangis dibahu yesung, terlalu rapuh, dia tak sanggup berpura-pura lagi

"maafkan aku selalu membuatmu menangis.. bahkan cintaku dapat menyakitimu."

"…"

"aku bersumpah atas diriku sendiri. aku benar-benar tak akan mengusik dirimu lagi karena cintaku. Aku bersumpah ryeowook, maafkan aku.."

"…"

"hanya hingga esok tiba, tetaplah didekatku seperti ini."

"hyungh-" ryeowook ingin melihat wajah dari hyungnya itu. Tapi tak sempat, yesung keburu menahan punggung ryeowook

"sebentar saja. Biarkan aku memelukmu seperti ini ,untuk terakhir kalinya. Biarkan aku membuat kenangan terakhir bahwa aku pernah sangat beruntung bisa hidup sebagai orang yang pernah kau cintai"

-wpamls-

Yesung dan ryeowook sudah kembali ke tempat penginapan mereka. Tak perlu menunggu yang lainnya.

"hyung.."

"hm?"

"aku ingin mengambil minum"

"baik, ayo ke dapur bersama.."

Ryeowook tetap memenuhi privillage yesung sebagai pemenang game ToD kemarin.. toh bagaimanapun ini terakhir kalinya dia bisa sedekat ini dengan orang yang ia cintai.

"sudah?"

"sudah.."

Yesung mengelus kepala ryeowook seperti yang dulu ia biasa lakukan, tanpa suara, hanya terus menatap dan mengelus surai hitam itu

"hyung.."

"hm?"

"sampai kapan kau akan terus megelus rambutku?"

"ah.. mian, kau sudah mengantuk?"

"he em.. tapi aku ingin mandi terlebih dahulu.."

"mandi? A-ah kalau begitu mandilah, aku juga akan mandi, di kamarku. Setelah selesai, kau ke kamarku, kau tidur bersama ku.. oke?"

"jadi kita tak mandi bersama?" ucap ryeowook polos

jujur ryeowook terkejut, ia kira yesung tak akan membiarkannya barang sebentar saja jauh dari jangkauan yesung.. tapi ia cukup lega yesung tidak se gila itu

"eh- kau menginginkannya?" ucap yesung juga kaget dengan pertanyaan ryeowook

"a- ani- bukan itu maksudku.. aku kira kau- ah.. baiklah aku mandi dulu, hyung.."

"nde."

Yesung POV

Huh.. jantungku tidak berhenti berdebar hanya karena merindukan kim ryeowook. namja yang sebentar lagi hanya tinggal kenangan bagiku.

Ku rebahkan diriku dikasur setelah membersihkan diri. Merenungi apa yang akan kulakukan setelah benar-benar harus merelakan cintaku.

Aku membuka pesan di handphoneku

Oh jongjin? Tumben sekali ia mengirimiku pesan

"hyung, mwohe?"

"wae?"

"bogoshipo…"

"hmmm.. cepat katakan, masalah apalagi yang kau perbuat kali ini?"

"kenapa kau jahat sekali :("

"kau hanya mengirimku pesan jika sedang terlibat suatu masalah."

"anii aku tidak sedang terlibat masalah…"

"lalu apa yang kau inginkan?"

"hehehe.."

"-_-"

"hyung.. eomma bilang, ia akan membiarkanku liburan ke Canada bulan depan bersama teman-temanku"

"lalu?"

dengan satu syarat.."

"dan syarat itu?"

"hmm.."

"cepatlah disini sudah malam, aku mengantuk"

eomma berjanji akan membiarkanku pergi belibur asalkan…. asalkan hyung mau dikenalkan dengan anak teman appa.."

1 menit

2 menit

3 menit

"hyung… kau masih disana?"

"hyung.."

"mwo?"

"kumohon :("

"kau menukar hyungmu hanya agar kau bisa berlibur?"

"hanya berkenalan di pertemuan makan malam saja.."

"kau tau itu bukan hanya sekedar makan malam biasa jongjin.."

"tak ada salahnya mencoba terlebih dahulu kan hyung? :("

.

.

.

"sudah malam, aku mau tidur."

"hyung bantu aku :("

Klik.

Tok tok tok

"yesung hyung? kau sudah tidur?"

"ani, masuk saja ryeowook-ah"

..

..

"Ja! Kemari"

Dia menghampiriku dengan canggung

"kau belum tidur hyung?" ucapnya berusaha mencairkan suasana

"aku belum mengantuk.. sini, berbaring disampingku.." aku menggeser tubuhku agar ryeowook bisa berbaring di kasur

Ia patuh dan, walaupun dapat kulihat sedikit enggan, tapi pada akhirnya ia tetap menuruti permintaanku

Hening

"Ryeowook/hyung"

"hyung dulu.." ucapnya cepat

"ah.. itu, sebenarnya aku penasaran…"

Ryeowook hanya diam menatap, menunggu kelanjutan kalimatku

"apa … apa hyungsik orang yang baik?"

"ne?"

"ah- namja di bar tadi, namanya hyungsik kan?"

"…"

"aku bukan ingin mencampuri kehidupan pribadimu, hanya saja.. menurutku.. aku tidak mau kau terlalu cepat menilai orang lain, aku hanya khawatir… itu saja."

"aah.. hyungsik.."

"…"

"hmm.. dia tampan, humoris…-

-Dan juga pembicaraan kami berjalan dengan mulus. Mungkin karena pengaruh alcohol atau juga hal yang lainnya, saat itu yang terlintas di kepalaku adalah pikiran 'tak ada salahnya mencoba one night stand dengan pria ini' "

"…"

Aku tak bisa menyembunyikan raut terkejutku, Jujur aku ingin menyanggah perkataan ryeowook barusan. Apa dia bilang? One night stand? dengan pria asing?

"… ka- kau .. hah kim ryeowook.."

"wae?"

"…"

"…"

"ah- kukira kau hanya menyukai ku.." tanyaku retoris pada ryeowook, menghindari perdebatan tak berujung

"… walau aku menyukai mu seorang, bukan berarti aku tak bisa melakukannya kan hyung?"

"…"

"kalau kau bisa melakukannya, lalu kenapa aku tidak."

"mwo?" ucapku bingung dengan pernyataannya

"aku melihatnya..

aku melihatmu dan teuk hyung di lantai atas bersama dua orang wanita.."

"…"

"saat itu, aku berpikir, ah.. harusnya aku juga bisa mencari kesenanganku sendiri.."

"kau cemburu?" ucapku sambil menoleh menatap matanya

"…" ryeowook diam menatap lurus kedepan

"… kau mencintaiku. tentu saja. kau pasti cemburu." aku menjawab sendiri pertanyaan yang kulontarkan

"…"

"ah, iya.. tadi kau ingin bicara apa?" kali ini aku berusaha mengalihkan topik

"… itu..

Bagaimana kabar eomma-mu?"

"sejak kapan kau menanyakan kabar eommaku?.. untungnya dia baik."

"ah… syukurlah"

"wae?"

"tidak ada.. hanya saja, heechul hyung berkata bahwa eommonim memiliki penyakit jantung, kami sempat sedikit membahas mengenai keinginannya untuk segera melihatmu menikah.."

"heechul berkata seperti itu?"

"hmmm.."

"hmm.. eomma ku memang ingin aku segera menikah.. ya, aku rasa ia takut tak sempat melihatku menikah, hahaha… padahal penyakitnya tidak separah itu hingga harus membuatnya ketakutan berlebihan.."

"bagaimanapun dia tetap orang tua mu, kau harus memahaminya"

"hmm tentu saja aku memahaminya…"

"…"

"…"

"ryeowook-ah.."

"ne?"

"eomma memintaku berkenalan dengan seseorang…

Bagaimana menurutmu?

..

..

".. menurutku itu hal bagus hyung, apa yang khawatirkan?" ucap ryeowook menatapku

"benarkah?

Kau sungguh… kau sungguh tak apa?"

"…"

"…"

"bagaimanapun aku harus rela, agar pada akhirnya aku juga terbiasa.."

"…"

"…"

"baiklah jika memang itu keputusanmu.."

"hyung, aku sudah mengantuk.."

"hmm.. mendekatlah, biarkan aku memelukmu."

Aku memeluknya dari belakang. Merapatkan tubuh kami, merasakan aroma shampoonya yang mungkin tak akan pernah lagi akan mampir di indra penciumanku, selamanya.

"aku selalu menyukai aroma lavender dari rambutmu setiap kali kau selesai keramas.."

"hmm aku tau, kau selalu mengatakan hal itu.."

"aku juga menyukaimu saat kau begitu kecil di pelukanku seperti saat ini .."

"… hmm.."

"aku juga mencintaimu kim ryeowook"

"…"

"selamat malam"

"aku juga mencintaimu hyung, selamat malam." Guman ryeowook begitu lirih tanpa bisa didengar oleh yesung

-wpamls-

Author POV

Mereka sekarang telah berada Kyoto, berjalan-jalan menikmati alam dan peninggalan sejarah jepang. Mengunjungi tempat-tempat unik.

Ya semua berjalan sebagaimana mestinya. Setidaknya, menurut yesung dan ryeowook.

Setelah mereka bermeditasi dan menenangkan jiwa dengan keindaah alam disana, mereka melanjutkan perjalanan ke Osaka, namun belum sempat berwisata di kota indah itu

berita buruk menimpa salah satu dari mereka

"ne.. aku kesana sekarang.."

"ada apa ryeowook-ah.."

" aku harus pergi sekarang hyung.."

"ya, ryeowook-ah apa yang terjadi, hey, tenanglah." Ucap heechul yang melihat kepanikan ryeowook

"aku- aku.. tidak- ah mian hyung nanti aku jelaskan, aku harus pergi sekarang,.."

Ryeowook terlihat tergesa-gesa mengambil barang-barangnya yang seperti orang panik umumnya

"ryeowook-"

"aku harus cepat, aku-"

"ryeowook. tenanglah dulu, katakan kau mau kemana? biar hyung antar." Yesung mencegah ryeowook dengan mengenggam kedua bahunya

"bandara.. aku harus ke bandara, sekarang."

"baik. kyuhyun, bantu ryeowook dengan barangnya."

"nde hyung" kyuhyun pergi begitu saja patuh menuruti yesung

"oke, sekarang katakan tujuanmu mau kemana?"

"london.. "

Yesung tidak bertanya lebih jauh mengapa ryeowook harus tiba-tiba kesana, yang ia tau ia harus berada di sisi ryeowook saat ini.

"heechul-ah tolong belikan penerbangan tecepat dari sini ke London, 2 tiket, juga penjemput serta akomodasi kami saat tiba disana"

Heechu diam tak banyak bicara namun dengan sigap segera membuka handphonenya

"ani, hyung-"

"ssssttt, sekarang kita ke mobil dan berangkat ke bandara. Ah teuk-ah aku minta tolong antarkan kami berdua ke bandara.

"oke."

.

.

.

Semua begitu gelap di otak ryeowook. ia tak bisa berpikir jernih saat ini. yang ia tau saat ini ia telah berada di pesawat menuju ke kota keberadaan orang tuanya

".. ryeowook.."

….

Yesung menyentuh bahu ryeowook berusaha menyadarkan ryeowook dari lamunannya

".. n- nde hyung?"

"hey… gwenchana, semua akan baik-baik saja.."

"…"

".. aku bersama mu,.. tenanglah.." yesung merangkul pundak ryeowook berharap dapat menyalurkan kenyamanan pada namja mungil itu

"gomawo hyung.."

"hmm.. kau butuh sesuatu? Apa kau lapar?"

"ani.. keundae hyung… kenapa- kenapa kau ikut bersamaku.."

"mana mungkin aku membiarkanmu sendiri berpergian dengan kondisi kacau seperti tadi. kau bahkan hampir pergi dengan meninggalkan handphonemu di sofa tadi, benar-benar panik, kau tau itu?"

"…"

"…"

"gomawo, hyung. maaf merepotkanmu.."

"kau benar-benar tidak memahamiku ternyata, aku tak pernah direpotkan jika itu menyangkut dirimu ryeowook.."

ryeowook menatap lugu pada yesung, sejujurnya perasaannya sedang campur aduk sekarang. Beban hati dan pikirannya benar-benar bukan main

"mengapa hyung tidak bertanya?"

"hm?"

"hyung tidak bertanya mengapa aku tiba-tiba harus pergi dan bersikap seperti ini.."

"karena hyung tau kau sedang dalam kondisi kalut, dan yang kau perlukan bukan pertanyaan yang malah akan membuatmu terbebani tapi bantuan agar kau merasa tak sendiri.."

"kau tak perlu menjelaskan apapun, hyung akan terus berada disampingmu.. jadi-"

"tadi bibiku yang menelpon…"

"…"

"dia berkata, sepertinya aku perlu membantu mengurus kekacauan perusahaan akibat.."

"…"

"akibat- perpecahan saham, dan- itu.. itu karena.."

Yesung terdiam memperhatikan ryeowook

"eomma, appa.. mereka-, mereka akan bercerai…" ryeowook menundukkan kepalanya, menahan tangis yang daritadi ia simpan

"…"

"aku tak tau, ini semua begitu tiba-tiba tapi- "

Isakan tak ayal dapat ditahan disituasi ini.

"hey, ryeowook.. semua akan baik-baik saja, jangan berpikir terlalu berat"

Dan dengan begitu ryeowook menumpahkan segala cerita dan tangisnya di dekapan yesung

-wpamls-

Yesung POV

Kami telah sampai kota metropolitan, London. Suasana disini begitu berbeda dengan di jepang ataupun korea. Aroma udara yang asing dan orang-orang yang terlihat lebih besar dari ukuran orang asia.

"ryeowook, tunggu disini.. heechul bilang akan ada yang menjemput kita, kau lapar?"

"ani hyung."

"tapi kau belum makan dari tadi, mau kubelikan sesuatu?"

"tidak perlu, nanti, nanti saja.."

"permisi? Benarkan ini tuan kim jongwoon?"

"ya benar.."

"Perkenalkan Saya Ben dari Cinderella travel, tuan muda kim heechul telah melakukan reservasi untuk kalian mari saya antar ke mobil."

Akhirnya kami berdua mengikuti Ben dan masuk ke dalam mobil

"permisi tuan, saya ingin menanyakan tujuan saat ini akan langsung ke penginapan yang telah direservasi atau ada ketempat lain terlebih dahulu?"

Belum sempat aku menjawab, ryeowook sudah dengan cepat mengatakan sesuatu

"ah.. tolong antar aku ke alamat ini." ryeowook menyerahkan handphonenya pada ben

"ah Koori Company, baik tuan saya antarkan anda kesana."

"kau yakin tak ingin berbenah dulu, kita melewati perjalanan lebih dari 16 jam dan kau mau langsung menghampiri keluargamu?"

"pikiranku tak bisa tenang jika aku tak segera bertemu orang tua ku hyung"

"aku mengerti, tapi tidakkah lebih baik kau menemui dalam kondisi yang lebih pantas?"

"jangan ikut campur urusan keluargaku hyung. jika kau lelah, sehabis dari sana kau bisa langsung menuju hotel. Tak perlu mengkhawatirkanku."

Author POV

Yesung tak ingin adu mulut menghadapi ryeowook di saat seperti ini

"baiklah jika itu keinginanmu, tapi sebelum kesana kau harus makan dulu, tak ada penolakan. Ben, kita ke drive thru fast food terdekat. sekarang."

"siap tuan."

" tapi Hyung-"

"diam atau kucium bibirmu itu." Ucap yesung tegas dalam setiap kata yang dia ucapkan

Tak lama mereka telah menyantap makanan yang telah dipesan. Mobil dihentikan disuatu tempat yang menyajikan pemandangan London brige didepan mereka.

Ryeowook terlihat malas dan tak berselera

"aku sudah kenyang, Ben segera antarkan aku ke tempat yang kutunjukkan tadi."

"ani, kita tidak akan pergi sebelum kau menghabiskan makananmu."

"hyung-"

"aku bahkan belum melihat kau membuka bungkus makananmu kim ryeowook!"

Dengan begitu ryeowook makan secara tepaksa agar ia bisa dengan cepat sampai ke tujuannya, Koori company, perusahaan keluarganya.

"sudah."

Yesung menghela, melihat tingkah ryeowook saat ini benar-benar melatih kesabaran yesung.

Ryeowook hanya makan separuh kentang dengan burger yang masih terbungkus rapi, ah dan juga secangkir teh yang hanya berkurang sedikit.

"kim ryeowook. aku tak main-main dengan ucapanku, makan atau aku sendiri yang akan memasukkan makanan itu kedalam mulutmu dari mulutku."

"Hyung-"

cup

"…"

"…"

"hy- hyung! kenapa kau melakukan itu!" Ryeowook terkejut

"sudah kubilang aku tak main-main dengan ucapanku, jadi sekarang cepat kau makan." Ucap yesung dengan wajah datar

"kau tak perlu menciumku. Sudah kubilang berapa kali kita ini sudah bukan-"

"aku tau. Aku melakukannya untuk menunjukkan aku tak bermain-main dengan apa yang kukatakan.. ini tak ada hubungannya dengan perasaanku sama sekali."

"bagaimana bisa kau mencium orang seenakmu..."

"cepat makan. Kau memang ingin 'kusuapi' ya ?"

"hyung!"

Akhirnya ryeowook mau tak mau menghabiskan makanannya.

.

.

Ryeowook POV

"terimakasih sudah mengantarku sampai sini hyung, kau bisa kembali ke korea, kau tak perlu mengkhawatirkanku lagi."

Aku beranjak membuka mobil, namun kurasakan sebuah tangan mencekal pergelangan tanganku

"aku akan disini selama beberapa waktu. Kau- ryeowook-.. aku akan selalu ada disaat kau membutuhkan seseorang, kuharap kau paham itu."

"aku akan baik-baik saja. Kau ten-"

"aku yang tidak baik-baik saja. Jadi kumohon, Setidaknya biarkan aku tahu kabarmu setelah bertemu mereka.. aku masih sahabatmu, benarkan kim ryeowook?"

Aku melihat tatapan yesung hyung yang penuh dengan kekhawatiran. Dia benar-benar orang yang tulus, seseorang yang sangat aku syukuri pernah hadir dalam hidupku

"hmm.. aku pergi."

Dengan begitu aku memantapkan langkah menuju perusahaan keluargaku. Menata hati dan pikiran akan semua yang akan kuhadapi sehabis ini.

Aku mengambil handphone di saku celanaku.

"halo imo, aku sudah di lobby.. ah ne.. aku kesana sekarang."

.

.

*CEO Room*

"Ryeowook-ah! Kau gila! Jika kau menjual sahammu maka dalam garis keluarga kim akan kehilangan kedudukan sebagai ketua direksi!"

"kalau begitu kenapa tidak appa saja yang tetap menjadi ketua direksi! Kenapa harus merenggut masa depanku dengan menjadikanku sebagai ketua direksi?!"

"lalu bagaimana dengan eomma? Kau membiarkan eommamu bekerja pada seseorang brengsek seperti dia? Ryeowook… kau sudah tak menyayangi eommamu?"

"Eomma- tapi aku benar-benar tak menginginkan ini, aku-"

"ryeowook. kami bercerai bukan berarti kami akan dengan mudah membiarkan usaha yang kami rintis dari 0 akan dengan mudah diambil orang lain! Benar yang dikatakan ayahmu, kami sudah bersepakat saham atas nama eomma dan appa akan sepenuhnya dilimpahkan padamu yang pada akhirnya kau akan menjadi pemegang saham absolut di perusahaan ini."

Aku tau kalau hari ini tak akan mudah, tapi aku benar-benar sudah tak sanggup lagi. mereka tak memikirkan perasaanku sama sekali. Yang mereka pikirkan hanya uang dan masa depan perusahaan, alih-alih khawatir denganku, mereka lebih khawatir dengan perusahaan ini. perceraian kedua orang tuaku, saham perusahaan, perebutan jabatan ketua direksi, mimpiku yang akan pupus sebagai penyanyi, dan meninggalkan orang-orang yang akan sangat aku rindukan.

"apa .. apa kalian sedikit saja terlintas- bagaimana perasaanku sekarang.. eomma,.. appa.. aku sudah tidak perduli kalian jadi akan bercerai atau tidak, aku bahkan sudah tidak penasaran dengan alasannya… tapi.. menjadi ketua direksi bukan hal yang aku inginkan.. kalian tau sedari dulu mimpiku menjadi penyanyi, berdiri di atas panggung. Kenapa aku harus membawa barang berharga milik kalian sedangkan hal yang berharga untukku harus kulepaskan?!"

"tapi ini juga demi kebaikanmu kim ryeowook! apa yang akan kau dapatkan dari menyanyi di atas panggung? apakah sepadan dengan apa yang perusahaan ini hasilkan? Kau pikir darimana kenyamananmu selama ini? selama hidupmu?! Semua kemewahan dan kenikmatan yang kau dapatkan adalah hasil jerih payah kami! Kau hidup dengan mudah hingga dengan santainya berkata seperti ini!"

"yak! Hentikan! Jangan berteriak pada anakku seperti itu!"

"inilah sebabnya jika kau tidak dapat mendidikan anakmu! Lihat, berani-beraninya dia menaikkan nada bicara pada orang yang lebih tua! Terutama aku, appanya!

"kau-.. kau pikir mengapa selama ini aku tak bisa bersama anakku hah! Kau tidak kutinggal saja bisa-bisa nya bermain dibelakangku!"

"harus berapa kali ku katakan! Kau-"

"sudah hentikan.. baik. Aku akan turuti semua kemauan kalian. Tapi kumohon setelah ini biarkan aku hidup dengan tenang tanpa perlu mendengar pertikaian kalian lagi."

Dengan begitu aku keluar dari ruangan itu

Didalam benar-benar menyesakkan dada. Walau ruangan sangat besar namun rasanya seolah-olah semua menghimpit diriku hingga aku tak bisa berkutik sama sekali

Hidupku saat ini benar-benar dalam kekacauan. Semua berjalan tanpa pernah aku duga. Keluarga yang aku kira harmonis nyatanya benar-benar rusak dan saat ini telah hancur. Mimpi yang aku kira sudah didepan mata, nyatanya hanyalah sebuah mimpi belaka yang harus kukubur dalam-dalam. Orang-orang yang kusanyangi perlahan-lahan seperti semakin jauh dari jangkauanku. Apalagi yang bisa lebih buruk dari ini? haha hidupku benar-benar berantakan.

21.40

Sudah tengah malam. Di Negara orang yang benar-benar asing bagiku. Sejujurnya tubuhku lelah, tapi pikiranku jauh lebih keruh dari kelelahan yang kurasakan, aku memilih berjalan menyusui jalanan kota untuk sedikit melupakan kejadian di sana tadi.

Aku mengecek handphone ku, beberapa miss call dan pesan masuk dari orang yang sama

Ah yesung hyung.. aku belum memberinya kabar.

Seketika aku teringat orang itu. Seseorang yang selalu mengklaim dirinya akan selalu ada untukku. Aku sebenarnya ingin sekali menghubunginya, hanya sekedar memberi tahu aku 'masih' baik-baik saja.

Tapi kuurungkan karena aku takut aku akan terlalu menumpahkan perasaanku padanya. Aku takut aku semakin tidak bisa melepaskannya karena aku begitu membutuhkan dirinya dalam hidupku saat ini.

Aku merindukanmu yesung hyung

Aku benar-benar berharap kau ada disini memelukku, menenangkanku, dan seperti biasa bekata semua akan baik-baik saja.

Aku membiarkan kakiku menuntun kemanapun ia mau. Aku sudah tak perduli lagi akan kemana, yang jelas aku hanya ingin sejenak melupakan beban hidupku

*pesan masuk*

yesung

"hey anak ayam? Kau sudah selesai? Kau dimana sekarang?"

Aku melihat pesan itu dengan tersenyum. Apa dia tau aku baru saja memikirkannya?

Aku tidak berniat membalas pesan itu. Sedari awal aku memang tak berniat memberikan kabar apapun padanya, ya walau dengan tittle 'sebagai seorang sahabat' sekalipun

*pesan masuk*

yesung

"balas pesanku jika kau sudah membacanya. Kau sudah makan malam?"

Ah benar. Seharian ini aku baru makan 1x saja. Tapi aku tak merasakan lapar sama sekali, mungkin karena pikiran yang telalu banyak. Eh, tapi aku belum menukar uangku dengan mata uang disini! ah bodohnya aku, kalau begini sama saja aku tak bisa membeli makan ataupun menyewa kamar untuk tidur. Aku harus mencari tempat penukaran mata uang.

*Telepon masuk*

Yesung hyung

(ryeowook – little prince)

Neoui maltu tto neoui pyojeong al su eobsjanh-a

Sesang-eseo gajang eolyeoun il ne mam-eul eodneun il

Haruskah kujawab? Tapi jika tidak kujawab bukankah akan sangat kelihatan jika aku menghindarinya? Baiklah sudah kuputuskan,

kujawab saja.

setidaknya aku tidak ingin ia tak bisa tidur karena menghawatirkanku

"oh hyung.."

"kim ryeowook.. kenapa tak membalas pesanku?"

"eh, mian hyung, aku belum sempat mengecek handphoneku sedari tadi hyung." ucapku beralasan

"hah.." dia mengela lega "kau dimana sekarang?" lanjutnya

"aku? ahh.. aku masih di kantor.." mian hyung, aku hanya tak ingin membuatmu semakin khawatir

Hening. Apakah sambungannya terputus?

"hyung?"

"… kau sudah makan?"

"ah.. itu kau tenang saja, di kantor tadi disediakan tea time dan dinner jadi kau tak perlu khawatir, aku sudah makan." Lagi-lagi aku mengatakan kebohongan dari mulutku

"kau akan tidur dimana? di rumah orang tua mu?" tanyanya lagi dengan nada yang lebih datar

Jujur untuk pertanyaan yang satu itu aku cukup bingung bagaimana harus menjawabnya

"ryeowook. kau masih disana?"

"itu… hyung, kau tenang saja, aku sudah memesan hotel. hyung, kau sedang dimana sekarang?" tanyaku mengalihkan topik

"aku di hotel. wae?"

"aniya, kapan kau akan kembali ke korea?"

Sejujurnya aku tak ingin menanyakan hal itu, tapi aku tak ingin ia menghabiskan waktunya disini hanya karena diriku

"kau mengusirku? Memangnya Negara ini milikmu kim ryeowook?" ucapnya dengan nada sarkatis

"aniyaa.. tapi pasti kau sudah ditunggu oleh keluargamu kan hyung? aku benarkan? Ah iya, dan lagi.. bukankah kau kemarin cerita akan bertemu dengan anak teman appamu? Kau tidak boleh membuatnya menunggu hyung!"

Hening

"hyung?"

"…"

"yesung hyung? kau disana?" apakah jaringan disini benar-benar buruk?

"kau benar sudah tidak apa-apa?." Kali ini ada sahutan darinya, memastikan kembali

"kau tenang saja, aku ini namja yang kuat.. hahaha." Ucapku meyakinkan dan terdengar ceria

"baiklah kalau begitu, kurasa kau memang sudah tidak memerlukanku lagi."

"hyung, kumohon jangan salah paham. Maksudku-."

"aniya, aku mengerti.. besok aku akan kembali ke seoul. Kuharap kau tetap baik-baik saja."

"o-oh- go- gomawo.. hati-hati hyung.. "

"selamat malam kim ryeowook."

"malam hyung."

Klik

Oh god. Rasanya sakit sekali.

Aku membutuhkannya saat ini, namun

Entah mengapa setiap kata yang kukeluarkan seperti mengiris hatiku lebih dalam.

Pabboya kim ryeowook

Kau berusaha kuat padahal saat ini.. rasanya bernapas seperti biasapun sangat sulit.

Ah sadarlah kim ryeowook. kau harus segera menemukan tempat penukaran uang dan mencari hotel.

Aku menelusuri internet berusaha mencari money changer terdekat, tapi belum selesai aku melakukan pencarian, hujan deras datang dengan tiba-tiba.

Apa lagi yang bisa lebih sial dari hariku saat ini?

aku berlari mencari tempat berteduh. Berteduh di pinggir kafe bersama beberapa orang lainnya.

5 menit

10 menit

15 menit

Hujan terus mendera tak kelihatan akan mereda.

Beberapa orang yang berteduh bersamaku sudah masuk ke kafe dan ada pula yang telah dijemput.

Aku kedinginan. Bodohnya aku hanya menggunakan jaket tipis dan tak punya uang sama sekali. Seluruh kartu kredit ataupun debitku tak berlaku disini.

Apa aku kembali saja ke kantor ya? Meminjam uang pada appa dan eomma untuk menyewa hotel. tapi bukankah itu terdengar bodoh? Aku benar-benar dilemma.

Yesung hyung? apa aku harus menghubunginya?

Ah tidak. Tidak. Aku akan ketahuan berbohong jika menghubunginya

Udara semakin dingin. Bibirku bahkan sudah gemetar kali ini. tinggal aku sendirian yang berteduh.

kuputuskan untuk kembali ke kantor saja dan meminjam uang dari imo. Ah sialan. Memalukan sekali hidupku.

Aku menerjang hujan deras.

belum ada satu menit, seluruh tubuhku sudah basah kuyup. Aku berlari setengah menunduk, namun tiba-tiba ada tubuh seseorang didepanku yang menghalangi jalan.

Seseorang dengan payung ditangannya.

Yesung hyung.

"ye- yesung hyung.."

"kau benar-benar.. keras kepala. Kepala batu."

"hyung- baga- bagaimana bisa-"

Dia tak mengindahkan perkataanku dan begitu saja menarikku menuju mobil.

"Ben. Kita kembali ke hotel sekarang."

"baik tuan."

.

.

.

*hotel room*

"makanlah."

"go- gomawo hyung."

kami telah sampai hotel, yesung hyung sama sekali tak mau berbicara padaku. akupun begitu takut dan bingung memulai percakapan dengannya. Dia hanya mengatakan 2 kalimat sejak tadi. 'cepat mandi' dan kalimat barusan 'makanlah'

Kulihat yesung masuk ke dalam kamar mandi. Rasa laparku muncul setelah melihat orang-orang di dalam kafe tempatku berteduh tadi menyantap makanan di tengah hujan deras. Tubuh yang kedinginan juga menambah nafsu makanku.

Tak tahan, mulai kusantap segala hidangan yang telah dipesankan yesung hyung.

.

.

"yesung hyung.."

"ya?"

"gomawo.."

"sama-sama."

Kulihat yesung hyung tampak acuh dan sedari tadi menghindari tatapanku, maka dari itu kucoba memulai pembicaraan mencairkan suasana

"hyung.."

"hmm?" ucapnya tanpa mengalihkan tatapan dari handphonenya sejak tadi

"hyung, nega mianhae…"

"… untuk apa?"

Kali ini yesung hyung menatap mataku, namun malah aku yang tak kuat ditatap onyx kelam miliknya

"a-ah… itu karena.."

"…"

"hyung.."

"tidurlah, aku pergi dulu."

Aku begitu kebingungan mengadapi sikapnya yang seperti ini. masih dalam keadaan otakku yang tak berfungsi, yesung hyung menaruh beberapa poundsterling dan secarik kertas di atas meja.

"setidaknya jangan berkeliaran tanpa membawa uang. Itu nomer Ben, hubungi dia jika kau perlu sesuatu."

Dan setelahnya yesung hyung pergi begitu saja.

Apa yang baru saja terjadi. Mengapa aku hanya bisa duduk terdiam saja seperti orang bodoh.

Aku pasti benar-benar sudah membuat yesung hyung khawatir karena sikap kekanak-kanakanku.

Aku keluar kamar mencari yesung hyung. sudah tak kudapati sosoknya. Dengan cepat aku memasuki kamar mengambil handphone dan menghubungi yesung hyung

"ya?"

"yesung hyung.. kau dimana?"

"….. ada apa?"

"…"

"ryeowook?"

"….. hyung aku benar-benar minta maaf…"

"…."

"hyung-"

"arraso."

"…"

"sudahkah? Ada lagi yang ingin kau katakan?" ucapnya dingin dari sebrang sana

"hyung- ak-aku.. hanya tak ingin kau mengkhawatirkanku.. aku tak ingin merepotkanmu hyung.. aku hanya merasa aku terlalu menjadi beban untukmu selama ini.. maafkan aku karena tidak bisa menjaga diriku sendiri.."

"…"

"..."

"arrasso. Sudah malam. Tidurlah."

Klik

Yesung hyung mematikan panggilan kami. Mengapa dia begitu berbeda kali ini. apa aku benar-benar kelewatan batas? Aku lebih memilih di marahi habis-habisan oleh yesung hyung ketimbang diabaikan seperti sekarang, rasanya jauh lebih buruk.

Aku menunggu yesung hyung kembali. Dia tidak membawa kunci kamar, jadi bagaimana jika aku tertidur saat ia datang.

2.34

Dia masih belum kembali juga. Kemana yesung hyung selarut ini? rasa kantuk telah menyerangku sedari tadi, namun aku berusaha bertahan.

.

.

.

07.00

Aku terbangun dari tidurku. Ah sudah pagi rupanya. Aku melihat sekeliling, yesung hyung belum kembali? Kemana dia semalaman?

Sebenarnya aku ingin menghubunginya kemarin, namun kuurungkan karena kurasa lebih baik bicara langsung dan meminta maaf dengan benar. Tapi mengapa sampai sekarang ia belum juga terlihat.

Kuputuskan menghubungi Ben, mungkin ia tau dimana yesung berada

"halo, Ben?"

"tuan ryeowook? ada yang bisa saya bantu?"

"kau tau dimana yesung hyung?"

"ah tuan yesung, kemarin malam tuan yesung meminta diantarkan ke hotel lain."

"hotel lain? Mengapa?"

"ah.. hotel tempat anda menginap saat ini kamarnya sudah full, tuan ryeowook. Kemarin tuan yesung mencari kamar kosong, tapi dikarenakan diwaktu liburan seperti ini, kebanyakan hotel telah penuh dan sulit untuk melakukan reservasi sebelum booking terlebih dahulu, akhirnya beliau memutuskan mencari kamar di lain hotel"

What? Kenapa dia berpikir untuk mencari kamar lain? Apakah yesung hyung menghindariku?

"tuan ryeowook? apa ada yang bisa saya bantu lagi?"

"Ben.. lalu malam kemarin, mengapa yesung hyung bisa tau keberadaanku?"

"e-e.. tuan aku tidak tau apakah aku boleh mengatakan alasannya-"

"ben! Just say it! Aku tidak dalam kondisi baik untuk bernegosiasi!" ucapku entah mengapa dengan emosi yang meningkat

"baiklah tuan ryeowook, akan kukatakan. sebenarnya tak lama setelah tuan yesung berada di hotel, beliau memintaku untuk mengantarnya kembali ke Koori Company. Tuan yesung, menunggu di dalam mobil selama anda berada di dalam sana, tuan. Setelahnya lama menunggu, akhirnya anda keluar dan aku tak tau mengapa tuan yesung tidak langsung menghampiri anda saat itu juga, tuan yesung terus meyuruhku untuk mengikutimu saat itu.. aku hanya mengikuti saja apa yang diperintahkannya padaku."

Oh god! Crap!

Dengan segera aku menghubungi yesung hyung.

Nomor yang anda hubungi sedang sibuk, mohon-

Aku mengirim pesan padanya

"hyung, bisakah kita bertemu? Ada yang ingin kukatan."

Berkali-kali ku hubungi nomor yesung hyung, namun panggilanku selalu dialihkan.

Akhirnya kuminta Ben menjemput diriku dan mengantarkan ke tempat yesung hyung berada saat ini.

.

.

knock knock knock

"yesung hyung!"

Aku terus mengetuk dan melepon yesung hyung disaat yang bersamaan

Yesung POV

"yesung hyung!"

Oh? Suara ryeowook? untuk apa dia kemari?

Aku segera bangun dari tidurku, membuka pintu yang sepertinya telah daritadi diketuk

"ryeowook? se-"

Belum sempat aku sadar dari fase bangun tidur, dia sudah dengan segera memelukku

"hyung mianhae, jinjja mianhae..."

.

.

Kami duduk di sofa

Dia terlihat sangat gelisah dan kebingungan, kurasa dia sudah tau bahwa aku tau dia berbohong padaku kemarin malam

Mungkin dia bertanya pada Ben, pikirku.

Aku benar-benar kesal, tapi aku tak mau menampakkan emosiku. Aku tak mau menambah beban untuknya lagi. walau tak kupungkiri, aku kecewa dengan sikapnya.

"hyung aku benar-benar minta maaf. Aku berbohong padamu.. aku benar-benar minta maaf.."

"…"

"aku tak ingin kau khawatir, hyung.."

"…"

"hyung, katakanlah sesuatu. Kau boleh memarahiku, memaki ku, tapi jangan diam seperti ini, jangan mengabaikanku.. aku-"

"kau pikir aku mengkhawatirkanmu hanya karena aku mencintaimu?" ucapku datar

"…"

"kau pikir aku menanyakan kau sudah makan atau belum itu karena aku masih berusaha mengharapkan kau membalas perasaanku? Agar kau merubah pikiranmu agar mau terus bersamaku?"

Kali ini kulihat ryeowook tersentak dengan perkataanku

"kau pikir aku mengikutimu seharian karena aku ingin membuatmu terkesan denganku, begitu?

"hyu-"

"aku melakukan semua karena aku peduli padamu ryeowook, kau masih sabahatku, masih dongsaengku.. bukankah kau sendiri yang bilang jangan ada yang berubah diantara kita? tapi kenapa kau masih tak bisa percaya padaku.."

Ryeowook terdiam, menunduk. Kurasa ia mulai menangkap maksud perkataanku

"bukankah aku sudah berjanji padamu aku akan melupakan perasaanku? Kau kira aku main-main dengan apa yang telah aku janjikan? Apa aku harus memiliki anak dan istri dulu baru kau percaya bahwa yang kulakukan untukmu murni karena aku menyanyangimu? Bahwa aku berharap tetap bisa disampingmu walau bukan sebagai seorang kekasih lagi?"

"benar aku mencintaimu ryeowook, tapi aku tau dimana aku harus berhenti saat orang yang kucintai tak mengharapkan keberadaanku.."

Ryeowook mendongak menatap diriku

"… hyung mianhae, …."

"sudahlah, aku tau aku tak akan mampu membuatmu merasa nyaman mengatakan seluruh masalahmu saat ini.. tapi kuharap kau selalu baik-baik saja. Kau masih memiliki kyuhyun, leeteuk, heechul atau bahkan donghae jika kau mau sekalipun.. jangan merasa kau hanya sendirian."

Kurasa yang kukatakan barusan cukup membuat ryeowook merasakan perasaan bersalah. Seharusnya aku bisa lebih mengontrol perkataanku, tapi biarlah kali ini.. aku hanya ingin bersikap egois sekali saja. Aku ingin melihat responnya saat aku mengabaikan bersikap acuh pada dirinya.

"aku akan kembali ke seoul nanti malam."

Ryeowook POV

"aku akan kembali ke seoul nanti malam."

Deg.

Setelah tertampar perkataan yesung hyung, entah perasaan apa lagi yang muncul di hatiku. Aku tak ingin ia pergi secepat itu, aku membutuhkannya berada disisiku, melindungiku, menenangkanku, kumohon jangan pergi.. aku tak tau kapan lagi aku bisa melihat hyung, saat sebentar lagi seluruh waktuku akan habis mengurusi Koori company.

"hyu- hyung .. akan kembali ma- malam ini?" tanyaku memastikan

"oh. Bukankah kau juga tak memerlukanku disini?"

"hyung. kau tak memahamiku dengan baik.."

- "aku menjauh darimu, menghindari dirimu, berbohong padamu, memintamu meninggalkanku.. semua itu bukan karena aku berpikir kau akan menarikku kembali ke dekapanmu, bukan karena aku takut kau akan bertindak kelewatan dari seharusnya, tapi semua kulakukan karena aku sendiri ketakutan.. aku takut, aku tak akan pernah mampu melepaskanmu sebagaimana seharusnya..

-seperti saat ini."

"aku melakukannya bukan karena dirimu hyung. tapi untuk diriku sendiri, aku membangun benteng agar hatiku yang lemah tidak terlihat olehmu.. aku berusaha sekuat mungkin seolah-olah aku tak membutuhkanmu.

.. yang mana senyatanya aku semakin sadar aku tak bisa kehilanganmu, yesung hyung."-

Kata-kata yang ingin sekali kuungkapkan, tapi tertahan diujung lidah ini

Sekali lagi yang bisa kulakukan hanyalah menatapnya

Memandangnya dalam diam.

"aku memang tak pernah bisa memahami mu ryeowook.."

Dapat kulihat yesung yang menggeleng lemah. Ia terlihat frustasi

"baiklah.. memang tak semuanya harus bisa dipahami hyung," ucapku dengan berusaha terlihat tenang

"mwo?"

".. kau hati-hatilah, maaf aku tak bisa mengantar ke bandara karena.. aku masih ada urusan yang harus diselesaikan."

Aku berdiri, berniat pergi berpamitan

"terimakasih atas bantuan dan kebaikanmu hyung, maafkan aku yang menyalahartikan sikapmu dan … kekanakkan.. aku pamit hyung"

Aku melangkah menuju pintu

"ryeowook.."

"nde?" aku berbalik dengan senyum dibibirku seolah semua memang baik-baik saja

Yesung POV

"ryeowook.."

"nde?"

Dia tersenyum? Bagaimana bisa dia menganggap semua ini semudah itu. Apa dia pernah sedikit saja memahami bagaimana perasaanku?

"….. dalam waktu dekat ini, aku mungkin akan bertunangan dengan anak teman appaku."

Shit. Apa yang baru saja ku katakan! Kata-kata tadi murni sebuah kebohongan yang kubuat-buat. Untuk apa aku mengatakan itu? Kurasa aku benar-benar sudah gila

Kulihat ekspresinya sedikit berubah. Kaget sekaligus sedikit tersirat kemurungan

"ne? … a-ah... chukae hyung..." namun dengan cepat ia tersenyum kembali

"kau- kau benar-benar menyelamatiku saat ini?"

"..."

"ahh.. matta.. kalau aku bertunangan kau jadi lebih percaya bahwa aku benar-benar peduli padamu kan? Begitu? Baiklah kim ryeowook.. pastikan kau datang saat pesta pertunanganku nanti."

Aku berbalik, berjalan menuju jendela yang memperlihatkan pemandangan kota London, mengabaikan ryeowook.

Dan kudengar suara langkah kaki menjauh dan tak lama, pintu tertutup.

Ia pergi.

Begitu saja.

Sial! Aku menyakiti hatiku sendiri dengan perkataanku.

.

.

.

Author POV

Taukah yang lebih buruk dari pikiran kau tak tau apa-apa? Yaitu pikiran bahwa 'kau tau segalanya'

Ryeowook yang berpikir yesung akan lebih baik dengan takdir jalan hidupnya, dan yesung yang berpikir tentang ryeowook yang baik-baik saja tanpa keberadan dirinya.

Yesung kembali ke seoul, persis seperti yang ia katakan pada ryeowook.

Ia tak mau peduli lagi dengan alasan utamanya pergi ke London, yang berjanji akan selalu disamping ryeowook untuk menenangkan, membuat nyaman. Toh untuk apa dia disana, ada atau tidak keberadaannya tak mempengaruhi ryeowook, pikirnya.

*telepon masuk*

Eomma

"ne eom-"

"KIM JONGWOON"

Yesung harus menjauhkan handphonenya karena suara yang terlalu keras

"eomma, tidak perlu berteriak.. ada apa?"

"kau- …hah kau dimana?"

Hening..

ia lupa mengabari eommanya bahwa ia pergi ke London

"jawab eomma. Kau dimana jongwoon."

"aku di bandara..eomma.."

"bandara mana?"

"aku akan segera kembali ke seoul, sehabis ini penerbanganku-"

"jawab eomma sekarang kau dimana! atau eomma tak akan mau lagi berbicara denganmu jongwoon."

"… aku … aku di London eomma….."

"…"

"…"

"… jadi benar.."

"nde eomma?"

"lupakan. Cepat kemari segera. Kau sudah berjanji untuk mau berkenalan dengan anak teman appamu. Aku tak menerima alasan apapun lagi. besok kau tak disini, maka eomma akan benar-benar kecewa padamu jongwoon."

"eomma-"

Tut tut tut *sambungan panggilan berakhir*