"Gak kangen?" Tanya seorang pemuda yang tampilannya seperti orang yang sangat lelah.
"Ya kangen.." jawab seorang gadis cantik yang berdiri di depannya. Gadis itu perlu mendongak agar dapat menatap pemuda yang tingginya 177 cm itu.
"Kenapa gak chat?"
"Kan kamu sibuk," jawab gadis itu lagi sambil cemberut.
"Ya gapapa chat aja, sayang."
"Emang kalau chat bakal dibales?"
"Kubales kalau senggang."
Ughh...
Naruto by Masashi Kishimoto
Kangen, Bawel, dan Self Control by Yui Kazu
Rate: T+
Warning: Pendek, bahasa gak baku, typo, gaje, dan sedikit gimana gitu, jangan muntah ye :'v
.
.
Happy reading~
.
.
Setelah hampir lima menit hanya berdiri saling menatap dan menampilkan ekspresi cemberut, akhirnya 2 remaja ini memutuskan untuk kembali bersuara. Cahaya senja yang memenuhi kamar yang cukup luas itu membuat mereka lupa bahwa mereka dari tadi berdiri di depan pintu. Rasa rindu setelah beberapa minggu tidak bertemu, komunikasi yang seadanya, pekerjaan dan tugas kuliah yang tidak sedikit, dan perubahan sikap pacarnya membuat emosi pemuda itu lumayan memuncak.
Dia yang sekarang sudah semester 4 dan juga harus membagi waktu untuk mulai belajar mengurus perusahaan keluarganya, membuat pemuda itu tak lagi sebebas dulu. Kalau dulu bertemu setiap hari karena satu sekolah dengan gadis di depannya ini. Sekarang, bertemu sebulan sekali saja rasanya sudah seperti pengen sujud syukur.
"Sini peluk," ucap pemuda itu seraya tangannya menarik lengan sang gadis. Membawa gadis itu ke masuk dan menutup pintu di belakangnya. Dipeluknya gadis itu erat-erat seakan takut terlepas.
"Mmmh," gumaman penuh kerinduan keluar dari mulutnya saat mengendus wangi rambut sang gadis.
"Gimana persiapan ujiannya?"
"Lancar," ucap gadis itu akhirnya.
Wajah cemberut masih saja ia tampakkan, sepertinya ngambek karena berminggu-minggu dicuekin pacarnya padahal ia sedang butuh suntikan semangat untuk menghadapi ujian kelulusan.
Hinata masih kelas 3 SMA saat ini. Usianya terpaut 2 tahun dari Naruto, sang pacar. Dulu mereka pacaran sejak bertemu di Konoha High School saat Hinata kelas 1 dan Naruto kelas 3.
"Kapan sih kamu lulusnya?" tanya Naruto dengan pelukan yang semakin mengerat.
"Kenapa memangnya?" Tanya Hinata penasaran.
"Pengen nikahin kamu."
"Eh? A-Apa?" Hinata terkejut dengan jawaban spontan pacarnya. pelukan itu secara tiba-tiba.
"Pengen nikahin kamu." Jawab sang pacar agak sedikit keras.
"K-Kamu ngelamar aku?" tanya Hinata lagi dengan mata semakin membulat, masih terkejut.
"Iya. Kenapa sih?" Naruto pun heran dengan reaksi gadis di depannya ini. Memang pertanyaannya itu aneh ya?
"Segampang itu?"
"Memang harus sesulit apa?" Tanyanya menaikkan alis, tidak mengerti.
"M-maksudku... "gadis itu kehilangan kata-kata. Semburat rona merah muncul di pipinya yang chubby.
"Ugh kenapa gak romantis banget sih cara ngelamarnya?" protes gadis itu sambil memanyunkan bibir.
"Memang melamar yang romantis itu kayak gimana?" Naruto balik bertanya sembari tersenyum melihat gadisnya semakin ngambek.
"Ugh ya biasanya kan pake bunga, cincin, dinner, atau apa gitu," jawab gadis itu dengan bibir makin manyun.
"Kelamaan," Naruto menjawab sekenanya. Otaknya berusaha menghilangkan pikiran yang baru saja terlintas dan berusaha tetap fokus pada mata amethyst di depannya.
"Kok kelamaan?!" Hinata masih saja membeo membuatnya tak lagi fokus.
"Iyalah, keburu pengen." Matanya tergelincir ke bawah.
"Tetep aja ngelamarnya harus romantis. Aku kan suka hal-hal romantis."
"Yaudah sini." Naruto membawa gadis itu menuju sofa di dekat tempat tidur. Seperti telah mengunjungi kamar ini berkali-kali. Tiga tahun pacaran membuatnya memang sering masuk ke kamar Hinata. Mengantar Hinata pulang dan sekalian numpang istirahat sebentar.
"Ugh apa?" protes Hinata saat tangannya ditarik untuk duduk di atas pangkuan sang pacar.
"Bisa diem gak?"
"Ih kenapa sih?"
"Kamu bawel dari tadi." Orang kangen, lama tidak bertemu, bukannya disambut mesra malah dibawelin.
"Emang aku bawel, kenapa?!"
"Diem, sayang."
"Gak mau Naruto-kun...
Orang aku punya mulut."
Gadis ini masih saja tidak bisa menghentikan ocehannya.
"Yaudah mulutmu bisa diem sebentar, sayang?"
"Gak bisa."
"Astaga, Hinata. Siapa yang ngajarin kamu begini sih?!" Naruto mulai hilang kesabaran menghadapi bawelnya Hinata saat ini. Tatapannya hilang fokus, dan berkali-kali tertuju pada bibir gadis itu. Seberapa pun dia berusaha keras untuk tidak menatap ke arah yang begitu ia rindukan rasanya, ia tetap gagal. Tiga minggu lebih ia belum lagi mencium bibir Hinata. Dan sekarang Hinata terus saja mengoceh, membuatnya tergoda untuk melihat bagaimana bibir itu bergerak.
"Gak ada. Masa bawel aja pake belajar."
"Yaudah, bawelnya ntar aja ya, sayang. Sekarang diem dulu."
'nanti aku khilaf'
"Gak mau."
"Diem atau ku sumpel mulutmu."
"Ih kejam banget sama pa-"
'Oh shit!'
Ocehan gadis itu terhenti.
Jika sejak tadi bibir itu bergerak lincah untuk mengoceh. Kini bibir itu bergerak pasrah mengikuti komando dari bibir Naruto yang berada di atasnya. Kecupan, kuluman, emutan, bahkan gigitan. Rindu, gemas, kesal, tak tahan, tergambar jelas dalam ciuman yang Naruto berikan pada gadis bawel itu. Hanya self control yang mampu menghentikan gerakan bibirnya yang semakin bergerak ke bawah. Biarlah. Ia yakin masih bisa mengendalikannya. Ia rindu sensasi berdebar yang begitu memicu hormon adrenalinnya ini. Ia rindu napas terengah gadisnya. Ia ingin menikmatinya sedikit lebih lama. Lebih dalam.
.
.
~Kangen, Bawel, dan Self Control~
.
.
"C-curang."
Protes itu kembali terdengar. Naruto merasa sangat beruntung mempunyai kontrol diri yang bagus.
"Mau ku sumpel lagi?"
Karena jika tidak, mungkin mereka akan berakhir di tempat tidur dengan semua pakaian telah tanggal dari tubuh. Tapi nyatanya di sinilah mereka sekarang. Tetap di sofa. Namun dengan posisi yang berbeda.
"Ugh dasar m-mesum," oceh sang gadis semakin menenggelamkan wajahnya di dada pemuda itu.
"Kamu."
"Ih kok aku?!" Hinata mengangkat wajahnya tidak terima.
"Kamu penyebabnya."
"Mana ada," protes Hinata.
"Bawel lagi?" Naruto bersiap mendorong kepala Hinata mendekat ke arahnya.
"Ugh."
Akhirnya gadis itu menenggelamkan kepalanya ke leher Naruto. Punggungnya merasakan lengan Naruto semakin erat. Deru nafasnya membuat Naruto mati-matian harus kembali meningkatkan kontrol diri.
Ingatannya kembali pada beberapa menit yang lalu. Saat bibir Naruto bergerak di atas miliknya. Mengecup, mengulum, menggigit. Semuanya seperti masih terasa di bibirnya yang basah. Bukan ciuman kasar, tapi ciuman yang sangat menuntut. Ciuman yang membuat lututnya melemas. Ciuman yang membuat mulutnya mengeluarkan suara aneh tapi anehnya pemuda itu suka. Ia rindu pemuda itu. Ia rindu semua sentuhannya. Perlakuan manis darinya. Penjagaan yang ia peroleh sejak mereka awal pacaran. Dan sekarang, 7 bulan lebih mereka LDR, jarang bertemu membuat rasa rindunya semakin menyesakkan.
Berkirim kabar lewat chat, melepas rindu dengan telfon maupun videocall telah mereka lakukan. Tapi rindu sentuhan, bertemu tetaplah obatnya.
.
"Kangen."
Cicit gadis itu setelah cukup lama tenggelam dalam lamunannya liarnya.
"Iya, sayang. Aku dari tadi disini." Jawab Naruto sedikit tersenyum. Tangannya membelai rambut gadis yang selalu membuatnya rindu ini.
"Kemana aja sih?"
"Sibuk, sayangku."
"Sibuk terus, sampe lupa punya pacar."
Mereka kembali adu argumen. Dan Hinata lah yang selalu memulai. Apa dia lagi PMS? Atau emang semua cewek kalau lagi kangen jadi bawel dan rese? Naruto tidak paham.
"Kalau sudah jadi istri gak bakal lupa."
Sebenarnya Naruto bukan melupakan Hinata. Ia tidak mau menjadi laki-laki lembek hanya karena menuruti rasa rindunya. Mana ada pacar yang tidak rindu sama pacarnya kan? Apalagi pacarnya cantik seperti Hinata. Kalau bisa sih 24 jam ingin sama-sama terus. Di kasur :'v
"Gitu ya?"
"Iyalah." Jawab Naruto setelah mengecup rambut sang gadis.
"Hmmm." Dan gadis itu hanya mampu bergumam.
"So, kapan mau jadi istriku?"
"Eh?" Hinata melongo. Naruto kembali melamarnya. Dan tetap seperti tadi. Tidak romantis.
"Kapan?"
"Ih kok buru-buru banget sih, aku kan masih sekolah Naruto-kun." Pipi Hinata kembali memerah.
"Gak mau ya?" Tanya Naruto pura-pura kecewa.
"Ugh bukan gak mau. Tapi kok buru-buru banget." Hinata langsung memperjelas ucapannya, khawatir Naruto mengira ia tidak mau.
"Udah pengen," balas Naruto.
"Ish dasar."
"Emang kamu gak pengen?"
"Ya pengen. Tapi kan menikah itu butuh persiapan banyak."
"Yang kumaksud bukan pengen nikah."
"Terus pengen apa?" Hinata bingung.
"Ya pengen…..
…..giniin kamu tiap hari." Jawab pemuda itu dengan semakin mempererat pelukannya. Kakinya pun ikut andil memenjarakan tubuh Hinata di atasnya. Ia tertawa kecil.
"M-mesum dasar!" Sebuah pukulan mendarat di dada Naruto.
"Ini bukan mesum." Naruto menahan tangan Hinata yang siap memukulnya lagi.
"Mesum!"
"Hinata. Kalau aku mesum, kamu sudah hamil dari dulu." Kini tangan dan kaki Hinata tak bisa lagi bergerak.
"Ih apa sih kok ngomongnya sembarangan gitu? Jahat!" Hinata berusaha berontak dengan tubuhnya. Membuat kedua tubuh itu sedikit bergesekan. Kaki Naruto menahan tubuh gadis itu agar tidak bergerak lagi.
"Diem bisa, sayang?" Suara Naruto memberat terdengar seperti menahan sesuatu selain tubuh Hinata.
"Gak! Naruto-kun jahat!" Hinata terus saja berusaha melepaskan tangan dan kakinya.
"Apanya yang jahat?"
"Masa Naruto-kun tega ngehamilin aku sebelum nikah?!"
"Ya kalau kamu bawel, aku tega-tega aja." Jawab Naruto berusaha menjaga dirinya tetap fokus. Meskipun di antara kakinya sudah ada alarm peringatan. Berdenyut minta dilepaskan. Self control-nya hanya tersisa 10%.
"Makanya diem. Jangan bawel."
"Gak mau! Dasar tega!"
Hinata tetap tidak mau mendengarkan ancaman Naruto.
"Sayang. Diem."
"Gak!"
"Sayang."
"Naruto-kun tega!"
Itu menjadi kalimat terakhir Hinata sebelum tubuhnya berada di bawah tindihan tubuh Naruto.
"Ya. Memang. Mau bukti?"
Tantang Naruto sambil menekankan 'bukti' yang sejak tadi mengeras pada gadis bawel di bawahnya.
Hohoho... Kira-kira Hinata bakal bawel lagi gak ya?
**********FIN*********
,
,,
,,,
,
Maafkan akuuuuuu…. :'v
Ini cerita apa sih aku juga gak ngerti :'v
Tolong jangan muntah ya abis baca ini #plakk :"v
Tulis aja di review apa yg ingin kalian sampaikan :"v asal jangan pedes2 nanti aku nangis :"v
Dah byee...
Salam gaje
Yui Kazu
