Chanyeol X Baekhyun

Fantasy, (Minor) Romance

(Semi) Soulmate!AU

.

.

Banyak hal yang kabur dalam ingatan Baekhyun. Ia bahkan tak ingat caranya berekspresi. Sampai sosok pesulap berjubah hitam itu muncul di hadapannya. Membawanya berkeliling, merasa, tersenyum, hingga tertawa.

.

.

Recommended Song:

Baekhyun - Amusement Park

.

.

Warning: Hints of sexual abuse, traumatic events, and suicide attempts.

.

.

Notes: I really recommed u to play Amusement Park (on repeat!) while reading this fict, hehe. Happy reading.

.

.

oOo

.

Malam yang cerah. Bintang gemintang berkerlip cemerlang. Langit tampak seperti kubah hitam bertabur confetti perak. Bulan bersinar penuh, terang pula seperti lelampuan di daratan yang disinarinya. Belum pernah langit kota terlihat secerah ini. Magis, seperti mimpi musim panas menyenangkan memanja khayal yang tak pernah bisa terwujud oleh kenyataan.

Sayangnya tidak ada satu pun keajaiban pemandangan malam itu dapat dinikmati remaja limabelas tahun yang mendekam tertunduk dalam di kamar gelapnya. Atau, seberapa pun indahnya, memang tak pernah menjadi menarik bagi remaja itu. Jendela yang ia biarkan terbuka membiaskan cahaya bulan. Terangnya menyorot kamar menampakkan lantai dan ujung tempat tidur reyot yang kusam.

Remaja itu semakin membenamkan kepala di antara kedua lututnya. Semakin erat pula kedua tangannya memeluk lutut sendiri.

Kedua kakinya penuh lebam. Tulang kering, lutut. Kesemuanya mengintip dari beberapa robekan di sekujur kain celana panjang longgarnya.

Lengannya tak berbeda. Di balik kaus putih lusuh yang ia kenakan, masih tersembunyi sekian memar dan bekas luka. Baru maupun lama.

Namanya Baekhyun. Setidaknya ia masih mengenali satu kata itu sebagai namanya. Setelah semua hal yang dia alami, tidak ada lagi hal yang terasa penting bahkan nyawanya sendiri. Sedikit heran mengapa Tuhan tidak juga membuatnya mati. Ia kesakitan, sangat. Tapi belum satu pun dari semua sakit yang amat sangat itu mampu mengambil nyawanya.

Mungkin malam ini, Baekhyun akan mencoba salah satu dari beberapa hal yang ia ketahui sebagai cara mengakhiri hidupnya sendiri.

Ia mengangkat kepalanya. Wajah tanpa ekspresi tampak. Sudut bibir yang lebam masih dihiasi merah dari darah yang belum mengering. Ulah sang ayah yang menamparnya keras berkali-kali, karena penolakannya atas upaya pria itu menyetubuhinya. Sebelah tulang pipi, pelipis, keduanya pun sama—berhias lebam yang masih segar. Mungkin menimpa lebam yang lama.

Seharusnya ia meringis nyeri. Kesakitan. Sakit itu memang nyata hadir. Ia tahu tubuhnya sakit. Hanya saja, ia terlalu akrab dengan semua rasa itu. Lagipula tidak ada gunanya lagi mengeluhkan sakit di tubuhnya yang kotor ini.

Baekhyun bangkit dari duduknya. Mengabaikan sakit, nyeri, dan perih luar biasa di area bokongnya. Ia berputar, berhenti tepat di mulut jendela yang terbuka lebar. Sepi. Tidak ada yang melintas selain serangga-serangga malam.

Menoleh ke belakang, Baekhyun hanya dapat melihat ranjang dengan kain seprai lusuhnya. Juga sebuah lemari rusak yang berisi hanya beberapa potong pakaian.

Ia tak punya benda tajam di kamarnya. Tidak ada tali. Ia benar-benar hanya memiliki sebuah ranjang dan lemari. Sayang sekali. Ia tidak mau pergi ke ruangan lain di rumah itu selain kamarnya sendiri. Meski ia tahu banyak pecahan botol minuman keras yang dapat ia gunakan di sana.

Baekhyun kembali menatap keluar jendela. Menimbang dalam diam. Mengamati heningnya malam.

Tak lama, dari jendela dengan kusen yang juga telah banyak dimakan rayap seperti halnya ranjang di dalam kamar itu, Baekhyun melompat keluar. Bertelanjang kaki menapak di atas pijakan semen berpasir.

Bulan penuh di atas langit sana sempat mencuri perhatian Baekhyun. Terang sekali. Kombinasinya dengan beberapa titik cahaya dari lampu di rumah-rumah sekitar membuat suasana begitu benderang. Baekhyun melangkah perlahan, keluar dari rumah, menyusuri jalanan menurun beraspal.

Malam seharusnya dingin. Terlalu dingin bagi seorang remaja yang keluar hunian hanya dengan sepotong kaus tipis dan celana panjang dengan sobekan di mana-mana. Tetapi Baekhyun tidak merasakan apapun. Mungkin, hanya indera penglihatan yang sepenuhnya ia rasa berfungsi dengan baik. Perasanya kebas. Heningnya malam lebih sering disusupi kelebat-kelebat suara teriakan, geraman, bentakan, yang tak ia ketahui dari mana asalnya. Isi kepalanya dipenuhi kilasan peristiwa acak yang tak pernah sekalipun berhenti tiap detiknya.

Baekhyun melangkah semakin jauh. Jembatan yang ia tuju masih jauh pula. Ia masih harus menghabisi jalanan perumahan kumuh ini sebelum sampai di jalan yang lebih besar, dan melanjutkan ke tempat yang ia ingat memiliki jembatan di atas sebuah sungai raksasa.

Langkah kecil Baekhyun terhenti. Ia melihat sesuatu. Kelebat hitam di salah satu gang, mengintip lantas menghilang.

Baekhyun mengerjap. Ia penasaran.

Dalam kilasan yang amat singkat itu, Baekhyun tanpa sadar mengubah haluan. Mengikuti sosok itu memasuki jalan sempit. Berbelok, menjauhi rute yang seharusnya ia ambil menuju jembatan.

Dapat!

Baekhyun kembali berhenti begitu sosok itu dapat terlihat jelas olehnya. Sosok pria tinggi dengan jubah hitam berekor, juga topi tinggi dan tongkat sewarna jubahnya.

Baekhyun tahu. Itu pakaian para pesulap. Ia pernah melihatnya di televisi dulu.

Pria itu memutar sebelah tangannya yang tak memegang tongkat ke udara, mengayunkannya, sebelum membungkuk memberi hormat pada Baekhyun. Selama detik-detik yang singkat, Baekhyun dapat menangkap beberapa hal tentang pria itu. Mata bulat. Senyum dengan lesung pipi. Telinga peri. Kaki-kaki yang panjang. Setelah satu kerling mata pria itu berikan pada Baekhyun, ia kembali berbelok. Menuju jalan sempit lainnya.

Baekhyun nyaris tersandung saat berusaha kembali mengejar. Begitu berhasil menyeimbangkan langkah, setengah berlari ia mengejar dengan kaki-kaki telanjangnya.

Sosok berjubah hitam itu hilang timbul. Topi tingginya begitu mencolok, namun gerak gesit itu menyulitkan Baekhyun untuk menyama langkah.

Ketika hampir Baekhyun menyerah, ia justru menemukan pria itu di sebuah gang buntu. Lagi-lagi mengerling padanya, dengan sebelah tangan menggenggam kenop pintu yang terletak di dinding.

Kenop diputar. Pintu didorong. Sosok berjubah hitam itu masuk, menyisakan daun pintu yang terbuka, dan menutup perlahan-lahan.

Baekhyun sempat termangu di tempat. Menimbang. Tetapi gerak daun pintu yang berangsur menutup membawa langkahnya mendekat, berjalan pelan, semakin cepat, hingga berlari menghampiri pintu dan menyusul sang pria berjubah hitam.

Blam.

Pintu tertutup di belakang punggung.

Awalnya hanya gelap menyambut mata. Namun hanya selang dua langkah, lorong sempit nan gelap berakhir. Digantikan ruang teramat luas hingga tak tampak ujung serta langit-langitnya. Penuh wahana. Hiruk pikuk. Lampu-lampu.

Terperangah. Baekhyun menganga dengan kedua bola mata yang berbinar, persis seperti gemerlap lampu-lampu di seluruh taman bermain itu. Komidi putar. Kincir ria. Kapal bajak laut. Banyak sekali. Semuanya berkerlip. Bergerak, berputar, mengayun. Hidup. Anak-anak, muda-mudi, banyak orang di sana.

Baekhyun tidak tahu ada tempat ini di balik gang sempit dekat tempat tinggalnya.

Sesederhana kerlip lampu-lampu, sudut bibir Baekhyun dibuat tertarik samar, mengulas senyum teramat tipis. Sesuatu menakjubkan yang tidak pernah dilihatnya ini cukup membuat dadanya terasa penuh.

Baru saja ia ingin menggerakkan kaki untuk mengambil langkah maju, seorang pria tinggi muncul tiga langkah di depannya. Melangkah tegap. Mengambil tempat tepat di hadapannya dan memberi salam penghormatan dengan bungkuk badan dan lepas topi sulapnya.

Pria itu!

Itu pria yang ia kejar tadi!

Mata Baekhyun melebar penuh antisipasi. Tidak salah lagi, pria ini orang yang sama. Jubah berekornya, tongkat sulapnya, mata bulat dan senyum berlesung pipinya yang sempat Baekhyun lihat melalui singkatnya waktu mereka bertemu tatap tadi.

Pria itu asing. Baekhyun tidak mengenalnya. Tapi matanya, senyumnya, terasa akrab. Tidak membuatnya takut selayaknya waktu lain di mana ia menemui orang asing di kali pertama.

Topi hitam dikenakan kembali. Pria itu mengayunkan tongkatnya. Ke atas, ke bawah, sebelum melepas kembali topinya dan mengetuknya dengan tongkat sulapnya. Tuk, tuk.

Diam. Baekhyun menunggu. Pria itu mengintip ke dalam topinya yang ditengadahkan ke atas, lantas mendekat dan menyodorkannya pada Baekhyun, menyisakan beberapa jarak hingga Baekhyun harus melangkah maju demi melihat isinya.

Baru selangkah Baekhyun ambil, sesuatu putih nan berbulu melompat keluar dari topi, membuatnya menjerit tanpa bisa dikendalikan. Ia terjerembab ke belakang. Jatuh di atas bokongnya. Jantung berdegup kencang. Terkejut amat sangat.

Tetapi, setelah satu-dua napas ia ambil, sebuah tawa kecil lolos dari bibir tipisnya. Kecil sekali, singkat sekali. Tak ada pula yang akan menyadarinya sebagai sebuah tawa selain fakta itu sendiri.

Seekor kelinci kecil. Binatang kecil berbulu halus itu bergerak-gerak di atas pangkuan Baekhyun, berputar-putar kebingungan.

Baekhyun masih asyik mengamati kelinci di pangkuannya kala sebuah tangan terulur tepat di depan wajahnya. Mengangkat pandang, ia menemukan pria berjubah hitam itu sudah berdiri tepat di depannya, tersenyum lembut menawarkan bantuan padanya untuk berdiri. Baekhyun sempat tak menangkap sinyal itu, tetapi senyum lembut dan anggukan meyakinkan yang diberikan padanya mengundang Baekhyun untuk meraih telapak tangan lebar itu perlahan.

Tangannya digenggam lembut, sama lembut pula dengan cara pria itu menariknya berdiri.

Pria itu menggandengnya. Mengajaknya menyusuri tepian taman bermain, melintasi tenda-tenda kecil yang juga gemerlapan dengan berbagai sajian makanan di dalamnya. Beberapa mengepulkan uap panas, sisanya menguarkan aroma manis camilan ke segala penjuru.

Di depan salah satu tenda, Baekhyun menghentikan langkah. Sang pria berjubah hitam turut berhenti saat tangannya tertarik oleh yang lebih kecil.

Baekhyun menatap seorang anak yang baru saja mendapatkan es krimnya dari tenda itu. Lamat. Es krim itu terlihat enak.

Tangannya ditarik kembali. Kini sang pria berjubah membawanya ke tenda itu.

Satu es krim berpindah tangan dari sang penjual ke pria tinggi di samping Baekhyun. Pria itu berlutut, tersenyum dan menyodorkan makanan dingin berwarna merah muda itu padanya. Tetapi saat Baekhyun ingin mengambilnya, pria itu menarik tangannya. Membawanya ke belakang punggung, dan kembali dengan tangan kosong. Es krimnya menghilang.

Itu mencipta kerut di dahi Baekhyun. Sebuah ekspresi bingung sekaligus kesal meski tak signifikan. Tapi lagi-lagi itulah yang menjadi satu dari hal baru yang belum pernah tampak di raut wajahnya.

Sang pria berjubah tertawa kecil. Ia membawa tangannya ke belakang tengkuk Baekhyun, dan dari sanalah es krim itu kembali muncul. Kali ini, ia benar-benar membiarkan Baekhyun mengambilnya. Melalui tatap mata dan gestur tangannya pria itu meyakinkan Baekhyun untuk segera mencobanya. Dan segeralah sensasi dingin dengan rasa manis es krim menyapa indra perasa Baekhyun. Lagi, terasa asing dalam artian luar biasa. Manis yang sempurna. Dingin dan lembut yang sempurna.

Baekhyun merasakan dadanya kembali penuh oleh antusias. Menjilati es krimnya lagi dan lagi. Sementara ia melakukan itu, matanya mulai berkelana lagi. Menikmati rasa lezat dari es krim di tangannya, sekaligus memanjakan mata dengan pemandangan gemerlap taman bermain yang serasa tak akan pernah bosan ia lihat. Hal itu dijadikan petunjuk bagi sang pria jubah hitam untuk kembali menggandeng sebelah tangan Baekhyun yang kosong, melanjutkan perjalanan mereka menjelajah tempat itu.

Jeritan kencang tiba-tiba terdengar. Disusul jeritan-jeritan lain yang bersahutan. Jeritan ketakutan. Kontras dari riuhnya teriakan para penunggang wahana. Baekhyun mulai mengernyit. Matanya mulai bergerak tak tentu arah. Ujung-ujung jemarinya mulai gemetar. Lebih dari semua jeritan itu, pendengaran Baekhyun mulai dipenuhi suara-suara lain dari dalam kepalanya.

Teriakan. Geraman. Bentakan disusul pukul dan tampar.

Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Baekhyun. Satu-dua sebesar biji jagung turut muncul di pelipisnya. Kilas kejadian acak memenuhi kepala. Entah dari garis waktu yang mana.

Baekhyun menjatuhkan es krimnya, tanpa sadar mengeratkan genggaman pada tangan sang pria berjubah hingga membuatnya menoleh.

Tepuk lembut Baekhyun rasakan pada punggung tangan. Pria itu merunduk ke arahnya, melempar senyum menenangkan seolah membujuk untuk melanjutkan langkah. Ketika akhirnya ia mendapati bahwa pusat perhatian dari kerumunan itu ialah sebuah pertunjukan sirkus kecil bersama seekor singa besar sebagai bintang utama. Singa yang melompati gelang api, berlarian ke sana ke mari seolah akan menyerang pengunjung hingga jeritan takut bersahutan, namun kembali lagi ke arena dengan gesit. Membuat para pengunjung mengulas senyum lega, menyadari ketakutan mereka tidaklah perlu.

Persis seperti ketakutan Baekhyun yang perlahan sirna.

Singa itu mengitari pinggiran arena. Gelang api lain dipersiapkan sekian meter di depan sana. Baekhyun berdiri di tempatnya, mengamati. Sang pria berjubah berhasil membawanya ke baris terdepan.

Setelah sebuah aba-aba, singa itu berlari. Kecepatannya mencengangkan. Kaki-kakinya tampak kuat. Baekhyun berdegup. Singa itu berlari ke arahnya. Cepat. Jarak tersisa semakin terkikis. Saat singa itu seperti akan menerjangnya, Baekhyun terpejam erat. Menjerit. Tapi tak ada apapun terasa menghantamnya. Ia disadarkan oleh riuh tepuk tangan, dan saat membuka mata, singa tersebut telah kembali tenang. Selesai melakukan tugasnya. Kembali mengitari arena.

Singa itu kembali ke arahnya. Kali ini dengan perlahan. Baekhyun sempat memundur, namun pria berjubah hitam di sampingnya telah lebih dulu berlutut, mengajaknya mengulurkan tangan. Baekhyun tidak lantas menurut. Ia menarik tangannya, tidak setuju. Tapi sekali lagi, senyum menenangkan dari pria itu membuatnya berubah pikiran.

Saat akhirnya tangan mungil Baekhyun terulur ragu, singa besar yang telah sempurna berada di hadapannya merunduk, memberikan jilatan di telapak tangannya.

Baekhyun menoleh pada pria di sampingnya, yang masih berlutut, sama-sama berhadapan dengan si hewan sirkus. Baekhyun melihat pria itu membelai rambut lebat singa di depan mereka. Mengamati, pelan-pelan turut dibuat penasaran. Hingga akhirnya, Baekhyun mengulurkan tangan. Mengikuti apa yang pria itu lakukan. Tangan kecilnya tampak kontras dengan besar tubuh singa itu, tetapi kedua sudut bibirnya tertarik samar kala melihat betapa sukanya singa itu bereaksi terhadap sentuhannya.

Setelah beberapa saat pria di sampingnya bangkit. Memberi isyarat untuk pergi.

Baekhyun mengerjap. Tarikan di sudut bibirnya luntur. Kecewa. Tapi toh ia kembali mengikuti ke mana pria itu membawanya.

Mereka memotong jalan. Menghabiskan beberapa waktu, sebelum kembali ke tempat di mana komidi putar gemerlapan itu berada, tepat di pinggir pagar pembatas. Wahana baru saja berhenti. Para pengunjung berhamburan turun. Waktunya untuk bergantian dengan antrean berikutnya.

Mata kecil Baekhyun kembali berkilat antusias. Lebih-lebih dari kali pertama ia melihat wahana itu saat baru saja ia sampai di tempat ini.

Ia ingin mencobanya.

Sayangnya, matanya menangkap bagaimana antrean panjang terbentuk di depan pintu masuk wahana. Berseberangan dengan tempat ia berdiri sekarang. Itu membuat sinar matanya meredup begitu saja. Ia tahu itu berarti dirinya tidak bisa langsung menaiki kuda-kuda itu. Dia harus mengantre.

Bunyi kerontang besi membuat Baekhyun menoleh. Tepat di depannya, pagar pembatas memiliki sebuah pintu masuk khusus yang dibatasi tali beledu merah. Sang pria berjubah telah membuka tali tersebut, tersenyum, dan membungkuk pada Baekhyun mempersilahkannya melangkah masuk.

Baekhyun merasa sesuatu melompat-lompat di dalam dadanya. Senang. Ia segera melintasi celah itu tanpa lama berpikir, berlari menaiki piringan tempat kuda-kuda carousel bertempat. Diikuti sang pria berjubah di belakangnya.

Dudukan lain sudah penuh. Tidak ada kuda tersisa untuknya, selain dua terakhir yang terlalu tinggi untuk ia dapat naiki. Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Bingung. Mungkin ia harus turun saja. Ia tidak bisa naik ke atas tunggangan setinggi itu.

Dua kali tepukan Baekhyun peroleh di bahu kanannya. Saat menoleh, ia mendapati si pria berjubah hitam melempar senyum padanya, menunjuk ke arah kuda tiruan yang terlalu tinggi itu. Baekhyun tidak tahu apa maksudnya, tapi tubuhnya telah lebih dulu diangkat dengan mudah hingga ia menjerit tertahan. Begitu saja, dan ia telah berpindah duduk di atas kuda wahana itu. Sang pria berjubah menyusul, menempati satu lainnya yang berada tepat bersisian dengan Baekhyun.

Wahana itu mulai bergerak. Diawali dengan kecepatan teramat pelan. Bersamaan dengan perputarannya, lampu-lampu semakin semarak berkerlip. Bergantian, nyala-mati-berpindah, sesuai irama lagu yang dimainkan. Baekhyun tak dapat melepaskan matanya dari lampu-lampu itu. Kerlap-kerlip, berlatarkan lampu-lampu lainnya yang lebih banyak lagi dari wahana lain di sana.

Bunyi dua kali denting membuat Baekhyun menoleh. Sumber suaranya lagi-lagi si pria berjubah. Pria itu baru saja mengetukkan tongkatnya ke tiang penyangga dari kuda gagah tiruan yang ditungganginya.

Baekhyun menunggu. Apa yang akan dilakukannya kali ini?

Pria itu mengedipkan sebelah mata bulatnya, tersenyum jenaka pada Baekhyun. Tongkat sulap diputarnya sekali, sebelum menghadapkannya kepada Baekhyun dan beberapa kali mengerakkan jarinya menyusuri panjang tongkat, dari ujung ke ujung.

Satu kibasan cepat dengan tongkat. Bersama itu menyembul sekian tangkai bunga dari ujungnya. Tongkat sulap hitam-putih itu tahu-tahu saja telah berubah menjadi tangkai dari bunga berwarna-warni di ujungnya.

Alis Baekhyun terangkat. Bingung. Bagaimana bisa?

Saat bunga itu diulurkan padanya, Baekhyun menerima. Menilik, dan mendapati bunga itu sungguhan. Harum, segar. Semakin dalam ia hirup aroma menyenangkan itu, semakin ingin sudut-sudut bibirnya tertarik. Maka, sebuah senyum yang lebih lebar terulas di bibirnya. Meski memar dan noda darah itu masih ada, wajahnya tampak jauh lebih manis dengan hadirnya senyum itu.

Sang pria berjubah turut tersenyum, kali ini, sama seperti bagaimana Baekhyun memperoleh kehangatan dari senyumnya, ia pula merasa hatinya menghangat ketika akhirnya sebuah senyum yang lebih lepas dapat menghiasi wajah penuh luka dari si remaja manis.

Baekhyun menikmatinya. Harum mewangi bunga di tangannya, denting musik pengiring wahana, ornamen-ornamen malaikat kecil yang dikelilingi kerlip lampu, aroma manis gulali dan es krim yang sesekali melintas di indera penciuman. Semuanya membuat jantungnya berdegup dengan cara yang berbeda. Sensasi asing yang amat ia sukai.

Lagi, senyumnya kian lebar. Kini sesekali diselingi kekeh kecil semakin matanya ia bawa berkeliling, bersama dengan gerak kuda poni yang dinaikinya.

Detik-detik berikutnya, Baekhyun keheranan. Putaran wahana melambat. Naik-turun kuda tunggangannya berangsur berubah pelan. Ia menoleh, mencari-cari si pria tinggi berjubah hitam. Pria itu tersenyum, menghibur. Lewat tatap matanya ia meminta maaf karena sudah waktunya kuda-kuda mereka berhenti berputar. Ketika tiba waktunya komidi sempurna berhenti, senyum Baekhyun luntur. Luruh, berganti melengkung ke bawah. Kecewa.

Sang pria berjubah turun lebih dulu dengan kaki-kaki panjangnya. Mengambil posisi tepat menghadap si remaja lelaki yang masih enggan turun.

Tangan kembali terulur. Senyum hangat dan tatap dari dua mata bulat itu kembali terarah pada Baekhyun. Setelah berpikir dengan bibir yang masih saja melengkung ke bawah, Baekhyun merangkak turun dari kuda tingginya. Sedikit ia tergelincir hingga bunga di genggamannya jatuh. Tapi segera ia dapat berdiri di atas kedua kakinya, mengambil bunga itu dengan cepat dan meraih tangan sang pria berjubah hitam. Ia lantas melompat turun dari piringan wahana.

Pria itu membawanya menjauhi komidi putar. Menjauhi gemerlap taman bermain, terus menjauh hingga ke sudut temaram tempat ia pertama kali datang.

Sebuah pintu bercat merah bertanda 'keluar' membuat Baekhyun terhenti. Ia meremat kuat telapak tangan besar yang menggenggam tangannya. Memaksa berhenti.

Pria berjubah hitam menoleh padanya. Merunduk. Tersenyum dengan alis terangkat penuh tanya. Baekhyun menjawabnya dengan sebuah gelengan.

Ia tidak ingin pergi dari sini.

Sang pria tinggi menghela napas. Tersenyum maklum. Pria itu kembali menyejajarkan diri dengan Baekhyun yang sempat terhenti selangkah di belakang. Ia berlutut di atas kaki panjangnya. Mendongak, menatap kepada sang remaja manis di hadapan.

Sebelah tangan yang tidak pria itu gunakan untuk menggenggam tangan Baekhyun ia angkat menuju kepala anak itu. Mengusak lembut, merapikan anak-anak rambut yang tampak berantakan. Terus demikian hingga sorot ketakutan Baekhyun yang muncul akibat prasangka bahwa pria itu akan memulangkannya, hilang. Melembut mengikuti dua mata bulat milik sang pria berjubah, selembut senyum yang terus ditujukan padanya.

Pulanglah, dan percayalah padaku.

Dahi Baekhyun berkerut samar. Tidak mengerti.

Percaya?

Tangan besar yang membelai rambutnya berpindah. Berganti mengusap sudut bibirnya. Noda darah mengering disingkirkan. Meski tidak sepenuhnya hilang.

Tatap lembuat pria itu terus menyuarakan hal yang sama kepada Baekhyun. Membuatnya mau tak mau menyingkirkan keegoisannya untuk terus merasakan kegembiraan yang ia peroleh dari tempat ini, dan perlahan mengangguk mengerti.

Baiklah, aku percaya.

Dengan itu, Baekhyun membiarkan pria itu mengantarnya ke pintu keluar. Bertukar tatap untuk terakhir kalinya, sebelum ia melangkah sendirian melintasi pintu.

Kembali ke ruang gelap tanpa barang secercah cahaya.

.

oOo

.

Sedikit demi sedikit, berkas cahaya tertangkap penglihatan. Bayang samar sekitar mulai terbentuk beriringan dengan membukanya kelopak mata.

Baekhyun mengerjap, berusaha menyesuaikan dengan cahaya yang ada setelah gelap. Saat cukup jelas matanya dapat melihat, sebuah kamar sederhana lah yang ia dapati.

Ia terbaring di atas ranjang yang tak seberapa empuk namun begitu nyaman.

"Oh? Kau sudah sadar?"

Baekhyun tersentak. Ia menoleh dan mendapati seorang pria tinggi dengan jaket denim berdiri membelakanginya, sibuk menyelesaikan entah apa di meja seberang sana dengan terburu. Mengernyit, Baekhyun perlahan bangkit dari baringnya.

Pria itu..

Rasanya, Baekhyun mengenal siluet itu.

Begitu pria itu berbalik sempurna, baru lah Baekhyun memperoleh kembali ingatan yang sempat kabur semenjak sadarnya.

"Kau baik? Aku sedang membuatkanmu makanan. Mungkin sebentar lagi matang." kata pria itu, sambil sedikit kikuk mengusap tengkuknya.

Baekhyun tidak begitu memperhatikan kata-kata itu. Ia justru bangkit dari tempat tidur, tanpa sekalipun matanya terlepas dari sosok itu.

Mata bulat. Senyum dengan lesung pipi. Tubuh yang luar biasa tinggi.

Melangkah pelan, Baekhyun beranjak mendekati pria itu.

Tidak ada jubah berekor. Tidak ada topi dan tongkat sulap. Meski dengan penampilan yang sama sekali berbeda, Baekhyun mengenali senyum dan mata itu.

"Namaku Chanyeol. Aku melihatmu pingsan di tengah jalan. Jadi.. yeah, aku—"

Kata terhenti oleh terjangan dari yang lebih mungil. Dalam sekejap, Baekhyun telah sampai di hadapan pria itu dengan langkah kecilnya. Menerjang memeluk erat tubuh tinggi itu, erat sekali.

Kedua lengan Baekhyun melingkar erat pada tubuh Chanyeol. Seerat yang ia bisa lakukan.

Lama, keduanya hanya terdiam. Si mungil tidak berucap, dan yang lebih tinggi tidak pula melanjutkan perkataannya. Semakin erat Baekhyun memeluk, saat itu pula dua lengan yang lain terangkat. Memeluk balik, merengkuh lembut tubuh ringkih remaja itu.

Baekhyun mengusakkan kepalanya di dada Chanyeol. Mengeratkan pelukan, menyamankan diri walau hadirnya pria ini telah menyediakan kenyamanan itu sendiri. Tak ada ekspresi apapun di wajahnya. Namun, hatinya benar terasa ringan. Hangat. Lega luar biasa. Atau, satu kata yang tidak pernah bisa ia gunakan untuk menggambarkan hidupnya,

Ia sangat bahagia.

Setetes air mata mengaliri pipi putih Baekhyun yang berhias lebam. Turun, mengalir pula hingga sudut bibirnya yang sama terluka.

Mengeratkan rengkuhannya, Chanyeol menghela napas. Panjang. Ia lega teramat sangat. Sebelah telapak tangannya terangkat, membelai sayang surai kecokelatan remaja yang akhirnya berada dalam pelukannya.

"Aku menemukanmu."

.

fin.

.

.

Seperti biasa, semua hal (yang mungkin) membingungkan di sini bebas dispekulasikan sendiri! Im looking forward to know your own interpretation about this fict, hehe. Suggestions are always welcomed!

Thank you veryveryveryveryvery much for reading! /xx/