It took longer than i expected to post this chapter. I change the plot here and there for future chapter. so it took longer to build up the story Sorry for the late update (lagi-lagi) bear with me guys. I really am thinking to finish this story sebelum aku bergelut dengan skripshit. Dan I really am thinking the whole new story of Dramione, hehe. enjoy! :)
Hermione dirawat sekitar 4 hari dan hebatnya Draco selalu meluangkan waktu untuk menghabiskan waktunya menemani Hermione di rumah sakit tanpa absen satu hari pun meskipun Hermione tahu Draco sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan segala sesuatu terkait pembukaan 'The Penthouse' hotel griya tawangnya dengan Ben di Los Angeles, secara mengejutkan ternyata ia alergi parah dan membuatnya hampir kehilangannya, benar kata Draco. Sekarang Hermione merasa sudah sangat normal.
"Apa aku boleh pulang sekarang?" tanya Hermione pada dokter.
"Ya, yang paling penting adalah kau harus minum air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan airmu." kata Dokter.
"Kau dengar itu, Granger? Bagaimana cara memaksa orang untuk mau minum, dok? Granger ini tidak suka air putih." komentar Draco sambil melipat tangannya di dada.
Dokter itu hanya tersenyum, "Yah, itu akan menjadi tugasmu Mr. Malfoy sebagai suaminya."
"Kau tahu? Menjadi suami Granger sangat merepotkan." komen Draco yang hanya dibalas tawa oleh Hermione. Tapi pernyataan Draco barusan membuatnya bertanya-tanya bagaimana Draco bisa tahu ia tidak suka air putih.
"Aku baru teringat, kau harus ke Los Angeles besok, bukan?" tanya Hermione.
"M-mm. Sepertinya aku tidak hadir."
" Itu adalah acara penting, pembukaan kerja sama hotel dengan sahabatmu yang seorang Muggle, Ben, bukan?"
"Ya,"
"Lalu kenapa kau tidak datang?"
"Karena kau baru keluar dari rumah sakit."
"Kau bercanda? Aku sudah sangat sehat, kalau kau belum percaya aku bisa melempar barang padamu,"
Sontak Draco langsung memasang mode 'berlindung' dengan kedua tangannya.
"Aku sudah menyiapkan dress untuk acaramu. Itu adalah debutku di media bersamamu untuk pertama kalinya."
"Dokter bilang-"
"Ya, aku harus meminum air putih untuk mencegah dehidrasi. Dengar, aku bisa mengatasi itu, lagi pula, tujuan kita menikah juga untuk ini bukan? Membawa keuntungan bagi perusahaan kita masing-masing. Draco, aku akan ikut dan mendampingimu. Kita harus mendukung satu sama lain."
Draco melihat Hermione beberapa saat, kemudian memutuskan, "Baiklah, tetapi aku tidak setuju kalau kau pingsan saat di acara," komen Draco. Hermione tersenyum, "Okay,"
Los Angeles.
Ben adalah sosok muggle paling ramah yang pernah Hermione temui, tidak heran Draco sangat mempercayainya.
"Draco! Sudah lama sekali." sapa Ben memeluk Draco hangat dan disambut oleh Draco sama hangatnya. "Terimakasih, Ben, atas sambutannya, perkenalkan ini istriku, Hermione Granger-Malfoy."
Ben menyambut tangan Hermione dan menjabatnya ramah, dengan senyumannya yang tak kalah ramah. "The famous Hermione Granger." sapanya, "Kau pasti adalah Ben, Draco banyak bercerita tentangmu."
"Aku tersanjung, sekaligus ikut senang Draco akhirnya memiliki seseorang, silahkan, hotel kerja samaku dengan Draco ini sudah siap sejak tahun lalu, tetapi peresmiannya adalah malam ini, aku sudah menyiapkan kamar terbaik dengan view dari lantai 85 untuk kalian." katanya sambil mendahului keduanya dan mengeluarkan kartu kamar lantai 85.
"Aku dan Draco sepakat menamai hotel ini dengan nama 'The Penthouse' sebuah griya tawang yang mewah yang dapat dinikmati hanya oleh orang-orang tertentu," katanya,
Mereka sampai di depan pintu, "Kamar ini di desain langsung olehku dengan selera Draco, untuk kalian, hadiah kecil untuk pengantin baru. Ku harap kalian menyukainya," katanya membuka pintu untuk Draco dan Hermione.
Nuansa kamar hotel super mewah dan luas disajikan di kamar paling atas di lantai 85, berlatar belakang hijau tua - sangat Slytherin - sangat Draco - dengan sentuhan futuristik, dengan furniture kelas atas, dengan jendela besar menghadap langsung gemerlap kota tak tidur Los Angeles membuat Hermione terpukau.
Televisi jaman sekarang yang sebesar dinding, sofa yang begitu cantik, dengan bar serta wine dan vodka berjejer, serta tempat tidur besar menjadi ikon kamar itu.
Oh. Tempat tidurnya. Hanya satu.
Draco sepertinya juga menangkat hal yang sama dengan Hermione karena begitu ia melihat tempat tidurnya, Draco langsung menoleh pada Hermione dan memberinya tatapan yang Hermione sulit jelaskan.
"Hanya ada satu tempat tidur," sontak protes Hermione tanpa pikir panjang. Ben menoleh padanya, dengan ekspresi Ben yang keheranan. "Uh…ya?" tanya Ben tak yakin harus menjawab apa.
"Perfect. Kami sangat menyukainya."
"Uh… apakah kalian butuh sesuatu?" tanya Ben.
"Bisakah aku meminta extra bed-" Hermione tidak bisa meneruskan kalimatnya karena Draco langsung memotongnya, "Kami akan bersiap, kapan acaranya dimulai?"
"Jam 9, di The Hall, acaranya akan dimulai saat kalian telah siap. Silahkan beristirahat." jawab Ben undur diri, setelah Ben benar-benar masuk lift, Hermione meninju keras lengan atas Draco tanpa basa basi lagi.
"Aw!" Draco merenyit kesakitan dan memelototi Hermione sambil memegang bekas pukulan Hermione.
"Kau- mesum! Bagaimana bisa tempat tidurnya hanya satu?"
Draco makin memelototinya sebal, "Kau berharap apa dariku? Kau juga dengar dia sendiri yang mendesain kamar ini."
"Ya, dan kau juga dengar dia mendesain sesuai dengan selera mu. Kau pasti merencanakan ini," sinis Hermione.
"Oh, Tuhan. Katakan siapa yang bersikeras untuk hadir di acara ini." cibir Draco dan masuk ke kamar mereka.
"Aku akan tinggal di kamar lain."
"Great. Lakukan itu, silahkan tunjukan pada penghuni hotel bahwa aku suami yang buruk membiarkan istrinya tidur di kamar terpisah."
"Kau mesum-" sahut Hermione sebal. "Kau ambil sofa, dan aku tempat tidur." lanjut Hermione lagi.
Draco memberinya tatapan tidak percaya, "Kau bercanda, ini kamarku, kau di sofa!"
Hermione memberinya senyum ejek, "Yang menjadi milikmu, adalah milik ku juga."
"Brilian, aku tidur di kasur." kata Draco dengan nada yang jelas Draco tidak menginginkan argumen lebih lanjut.
Draco tidak menggubris rentetan omelan Hermione dan segera masuk ke kamar mandi mewah untuk mempersiapkan diri, tak menghiraukan Hermione yang meneriakinya "Hei berani-beraninya kau menggunakan kamar mandi lebih dahulu."
"Apakah kau tidak bisa lebih lama lagi?" gerutu Draco, ia sudah rapi mengenakan tuksedo hijau tua-nyaris hitamnya untuk menuju acara pembukaan hotel di aula lantai dasar hotel tersebut. Tetapi, ini sudah nyaris 2 jam, Hermione belum juga selesai mempersiapkan dirinya di kamar mandi.
"Salah sendiri kau menggunakan kamar mandi terlebih dahulu, kau tahu wanita lama dalam mempersiapkan diri." sahut Hermione dari dalam kamar mandi.
Draco mengetuk-ngetukan jarinya ke meja tidak sabar, "Apakah aku boleh duluan? Temui aku di The Hall." tanya Draco, "Okay, aku akan selesai sebentar lagi, pergilah duluan." sahut Hermione.
Tak lama Draco pun pergi duluan, Hermione masih memasang anting-antingnya dan memakai lipstik merahnya. Ia sudah mempersiapkan tampilannya sejak minggu lalu untuk acara ini agar ia terlihat sempurna karena ini merupakan kali pertama keduanya tampil di publik sebagai pasangan.
Hermione mendesain sendiri gaun panjang semata kaki berwarna merah - mencerminkan jati dirinya yang pemberani - Gryffindor yang melilit membentuk sempurna lekukan tubuhnya, dengan potongan dada yang kelewat sedikit rendah, dadanya yang bulat menyembul setengah dari gaunnya itu.
Hermione mengelus kalung rubi hijau tua pemberian Narcissa - sebuah benda yang diturunkan turun-temurun kepada anak perempuan atau menantu Malfoy. Rambutnya terurai ikal dengan indahnya, tak lupa Hermione menyemprotkan parfum favoritnya.
Hermione sangat mempersiapkan penampilannya. Ia harus tampil sempurna dan percaya diri. Karena ia tidak lagi takut, ini adalah kali pertamanya muncul di publik sebagai Hermione Granger-Malfoy sebagai CEO H&G brand dan istri dari pemilik Malfoy Corps, Draco Malfoy - Draco, akan membantunya, Hermione tidak akan bersembunyi lagi.
Sesampainya Hermione di The Hall, begitu banyak orang - petinggi-petinggi kelas atas, maupun selebritas dan pebisnis yang hadir di acara itu. Malfoy Corps memang perusahaan raksasa yang memiliki sektor usaha dimacam-macam bidang, tak heran banyak orang penting hadir di acara ini. The Hall sangat luas dan mewah dipenuhi 1000 tamu undangan dengan desain sangat futuristik, pelayan-pelayan berseragam berseliweran membawakan wine dan makanan, dengan panggung di salah satu sisi ruangan, The Hall dipenuhi riuh nya bincangan orang-orang berkelas tampil menawan dengan lantunan piano klasik di tengah ruangan.
Hermione segera mencari sosok Draco, ia berkeliling ruangan sambil tersenyum kepada orang yang menyapanya, Hermione membelah kerumunan mencari rambut kelewat pirang Draco yang mudah dikenali itu, ia juga bisa mendengar orang-orang saling berbisik dan berdecak kagum, saling berbisik seperti:
"Itu Hermione Granger, dia secantik yang di rumorkan,"
"Dia cantik sekali,"
"Aku nyaris mengiranya dia adalah seorang selebriti."
"Kau lihat Hermione itu? Dia sangat cantik dan sexy, Mr. Malfoy sangat beruntung."
"Bukankah Hermione yang beruntung mendapatkan lelaki sempurna super tampan seperti Draco Malfoy?"
"Mereka pasangan yang sepadan."
"Wow.."
Draco awalnya tidak menyadari kehadirannya di The Hall karena ia sedang berbincang dengan pebisnis lain, begitu kerumunan berbisik dan mengarah pada sesosok orang, Draco menoleh ke arah Hermione yang berjalan di kejauhan mendekat ke arahnya dengan anggunnya. Itu seperti sihir waktu diantara mereka berdua, saling mengunci pandangan seolah kerumunan yang saling berbisik itu tidak bisa menginterupsi keduanya yang berjalan saling mendekat.
Hermione bisa merasakan tatapan Draco yang begitu lekat padanya begitu keduanya bertemu, tatapan Draco sangat lekat - dan memabukan seolah tatapan itu bisa menelanjanginya saat itu juga. Draco menatapnya dari atas kebawah, kemudian ke matanya lagi.
Hermione harus bersusah payah menahan degupan jantungnya yang mulai berdebar saat Draco melingkarkan satu tangannya ke pinggang Hermione dan menariknya kepelukan pria itu. Tanpa melepas tatapannya, Draco tersenyum - begitu tulus sampai Hermione hampir yakin jantungnya sempat berhenti untuk sekian detik. Ia mungkin sudah siap tampil di publik untuk kali pertama, tetapi ia tidak terpikir untuk mengantisipasi dan menemukan cara bagaimana mengendalikan jantungnya yang berdebar tak terkendali.
"Tidak heran kau memerlukan waktu 2 jam," seringai Draco, "Kau tampak memukau," bisik Draco tepat di telinga kanan Hermione membuat menahan nafasnya karena pria ini begitu dekat, Hermione bisa mencium aroma Draco yang selalu maskulin itu. Keduanya seolah mendadak tuli akan banyak mata yang memperhatikan adegan sexual tension diantara keduanya.
"You're the star, Hermione." bisik Draco lagi, memberi sebuah kecupan di pipinya.
Hermione tersenyum percaya diri, "I am."
Draco mengulurkan tangannya untuk diapit oleh Hermione, "Shall we?" tanya Draco.
Keduanya menuju panggung dan secara resmi memperkenalkan diri sebagai pasangan di publik ditambah dengan pembukaan The Penthouse Los Angeles dan sambutan Ben. Hermione nyaris lupa adrenalin kepercayaan diri seperti ini akan ia rasakan lagi, ia tidak ingat kapan terakhir kali. Seluruh kerumunan bertepuk riuh saat keduanya selesai memberi sambutan. Hermione tersenyum lebar begitu juga Draco.
Berita keduanya langsung menjadi headlines berita-berita di internet, dengan judul menada "Powerfull couple bisnis raksasa Draco Malfoy dari Malfoy Coprs dan Hermione Granger-Malfyo dari H&G Brand memperkenalkan diri mereka sebagai pasangan secara resmi ke publik untuk pertama kalinya", karena banyak wartawan di undang juga di acara ini.
Draco sepanjang malam menggandeng tangan Hermione, dengan bangganya memperkenalkan Hermione pada seluruh kolega kerja Draco, "Perkenalkan, istriku, Hermione Granger-Malfoy."
Hermione tidak pernah merasa di perlakukan dan dibanggakan sampai seperti ini dalam hidupnya, ia menjadi dirinya sendiri dan itu membuatnya senang, diperkenalkan dengan bangga oleh Draco sebagai istrinya, itu terdengar tepat baginya. Dan yang lebih membuat Hermione tersentuh adalah bagaimana Draco memperlakukannya bukan hanya sebagai istrinya, tapi juga melibatkannya dalam perbincangan bisnis yang mana membuat Hermione merasa Draco menghargainya tidak hanya dirinya sebagai sososk pendamping tapi juga sebagai sosok yang pintar dan setara sebagai pebisnis sama seperti Draco. Draco tidak merasa keberatan saat kolega kerjanya berbincang dengan Hermione, atau saat Hermione mendominasi percakapan. Draco tidak pernah egois dalam menjadi sosok pendamping malam itu. Ia memperlakukan Hermione setara dengan dirinya.
Ia mendadak teringat akan memorinya saat Hermione masih bersama Ron. Bagaimana pria itu selalu bersikap rendah diri saat Hermione mulai mendominasi pembicaraan dengan argumennya. Dan bagaimana Ron selalu mencibirnya dengan dalih 'Ya, kau kan memang pintar, kau saja yang urus,' Hermione selalu berpikir Ron merupakan pria baik sebelum mengenal , tetapi tidak sepadan dirinya, ia tidak pernah menganggap Ron bodoh - tetapi bagaimana Ron selalu menyalahkan dirinya membuatnya tidak ingin kembali ke masa itu. Baru sekarang, ia sadar betapa toxicnya hubungannya dengan Ron.
Hermione bahagia dengan dirinya sekarang, semua ini terasa tepat. Malam ini, begitu indah.
"Kau tampil hebat," kata Draco menyambar segelas wine dan menyerahkannya pada Hermione, Hermione menerimanya dan menyesap wine itu. Keduanya melipir ke sudut ruangan karena sudah terlalu lama - atau bosan berbincang
"Aku bangga padamu," lanjut Draco ikut menyesap winenya sendiri, "…pada kita." lanjut Draco menatapnya lekat.
Kita.
Apakah kita sudah menjadi konteks bagi mereka?
Perlahan pasangan-pasangan mulai bergabung ke tengah ruangan untuk berdansa. Hermione memperhatikan pasangan-pasangan berbahagia itu dengan intim berdansa begitu dekatnya membuatnya bertanya-tanya apa ia juga akan sebahagia itu.
"Berdansalah dengan ku, Granger." kata Draco mengulurkan tangannya. Hermione menatap uluran tangan itu, ia sempat berpikir sesaat apakah ia akan sanggup menghadapi Draco - yang begitu dekat nanti saat ia berdansa. Tetapi, Hermione tetap menyambut uluran tangan itu dan keduanya berjalan ke tengah ruangan.
Begitu Draco membawanya dalam pelukannya untuk berdansa, Hermione menahan nafasnya. Mungkin menerima tawaran dansa ini adalah ide buruk. Lagi-lagi Hermione tidak bisa mengendalikan jantungnya.
Hermione memberanikan dirinya mendongak menatap wajah Draco yang hanya berjarak 5cm dari wajahnya, hembusan nafas lelaki itu menerpa wajahnya lembut, tangannya yang kekar melingkari tubuhnya dan dadanya yang bidang terasa begitu tepat baginya. Ia bisa merasakan jantung Draco yang berdetak seirama dengannya.
Manik hijau keabuan Draco menatapnya lekat. Sejak kapan Draco semenawan ini? Tidak, Draco memang selalu menawan dari awal pertama Hermione bertemu dengannya di Hogwarts. Seorang Malfoy memang memiliki pesona kuat. Sorot matanya Draco begitu tenang dan lembut seperti lautan tak beriak, seolah Hermione bisa menyelami mata itu berjam-jam.
"Kau menggunakan parfum yang berbeda." komentar Draco, "Kau tahu parfumku?"
"M-mm. Parfum sehari-harimu yang beraroma vanilla selalu terasa lembut. Tetapi yang kau gunakan sekarang, begitu memikatku. Apa kau berusaha untuk memikatku, Granger?" kata Draco tenang.
Hermione sendiri tidak tahu jawabannya. Atau lebih tepatnya, ia tidak mau menjawabnya. Draco memutarnya begitu anggun, seirama dengan denting piano, keduanya berdansa dengan elegan dan intim, semuanya terasa tepat. Hingga lagu selesai, Draco mengecup punggung tangan Hermione sambil menatapnya.
"Ada yang perlu kubicarakan tentang perjanjian pernikahan kita, Granger." kata Draco.
Hermione tidak mengerti. "Ada apa?"
"Ayo kita ke kamar. Ini sudah terlampau malam dan kau sudah berdiri terlalu lama. Aku khawatir kau bisa pingsan." kata Draco mengulurkan tangannya dan segera diapit oleh Hermione, "Baiklah."
Sesampainya di kamar, Draco melepas jasnya dan benar saja Hermione ternyata sedikit kelelahan, "Tentang perjanjian pernikahan kita." mulai Draco tanpa memberinya jeda.
"Aku berpikir untuk mengharapkan keturunan dari pernikahan ini," lanjut Draco, ia terdengar serius.
"Apa?" Hermione tidak mengerti.
"Aku benar-benar memikirkan ini, untuk memiliki seseorang sebagai penerus Malfoy Corps." lanjut Draco. Hermione tertegun ia berusaha tidak mempedulikan jantungnya yang mulai berdebar.
"Kau…"
"Aku serius." kata Draco, mata hijau keabuannya menatapnya langsung, seolah menembus jiwa Hermione begitu kuatnya. Semua yang di katakan orang-orang benar, seorang Malfoy memiliki daya tarik yang sangat kuat, mereka menawan dan… tampan. Mereka mudah membuat seseorang jatuh cinta.
Ini gawat.
"Aku berniat untuk menikah sekali seumur hidup." kata Draco berjalan mendekati Hermione selangkah, semakin dekat Draco berjalan, semakin kencang rasanya jantungnya berdebar memukul-mukul tulang rusuknya. Hermione seolah kesulitan bernapas, tapi dalam artian baik yang tidak memekakan dadanya.
"Keluargaku menentang perceraian, dari awal aku menawarimu untuk menikah dengan ku, aku telah memikirkannya dengan matang karena aku hanya bisa menikah sekali seumur hidupku. Kalau kau bertanya suatu saat nanti untuk berpisah denganku, dan aku tidak berniat untuk berpisah denganmu entah sekarang atau nanti. Kau akan menjadi istriku selamanya," kata Draco serius, kini Draco benar-benar di hadapan Hermione, terlalu dekat… Hermione ingin segera pergi dari situ, karena ia tidak tahu ia akan bertahan seberapa lama untuk melawan keinginannya memeluk Draco dan membawanya dalam ciuman.
Tanpa sadar, entah apa yang Hermione rasakan saat ini… Hermione tidak bisa mengatakannya.
"...kau berkata kita tidak boleh saling jatuh cinta, dan-" kata Hermione pelan.
"Apakah kau mencintaiku?" tanya Draco lagi, begitu entengnya sampai Hermione berpikir jiwanya mencelos saat itu juga.
"Apa? A-aku…" Hermione terbata-bata.
"Aku tidak akan melarangmu. Bagiku, yang terpenting adalah membuat bagaimana pernikahan ini berhasil." katanya, Hermione terus berpikir bahwa ini adalah lelucon payah Draco yang berusaha serius dan akhirnya lelaki kelewat pirang itu akan menertawainya nanti karena ia berhasil mengerjainya. Tapi, mata itu… mengatakan kejujuran dan keseriusan. Suatu pertanyaan muncul dalam benak Hermione.
"...apa kau menikahiku hanya untuk memberikanmu anak?"
Draco merenyit, "Kau membuatku seperti orang jahat. Kita sama-sama membutuhkan satu sama lain dan diuntungkan dalam pernikahan ini. Dari awal, kau menikahiku karena ingin menyakiti Ron, bukan? Dan aku ingin menyakiti ayahku dan membahagiakan ibuku. Kalau kau memberiku keturunan, bukankah orang tuamu juga ikut bahagia, Hermioine? Apa yang salah dengan sepasang suami istri memiliki anak?"
"KITA! Kita salah, Draco! Dari awal kau tahu ini tidak benar. Kau jangan berani-beraninya membawa konteks anak dalam hubungan kita."
"Kalau kau masih menganggap pembicaraan ini adalah candaan ku, maka kau telah kehilangan akal sehatmu, lihat mataku dan kau tahu betul aku serius."
"Draco… seorang anak harus tumbuh dari kasih sayang kedua orang tuanya yang…saling mencintai. Kau juga tahu itu."
"Aku akan menyayangi nya, dan kau butuh aku untuk mencintaimu? Kalau kau membutuhkanku untuk seperti itu, maka aku akan bersikap demikian. Apakah sikapku belakangan ini masih belum mencerminkan hal itu?" tanya Draco, matanya dengan tajam menatap Hermione.
Hermione menghela nafasnya, "Aku seorang muggleborn."
"Kau bercanda kalau kau berpikiran aku masih menganut paham pureblood." kata Draco, suaranya terdengar kesal.
"Kau tahu keturunanku bisa seorang… Muggle."
"Lalu?"
"Keturunan Malfoy bisa seorang muggle."
"Aku tidak peduli. Dari awal aku menikahimu, aku telah menerimamu, menerima seluruh dirimu dan masa lalumu."
Draco maju dan memegang kedua pundak Hermione, "Dengar, aku bukannya memaksamu untuk memberiku keturunan sekarang. Aku hanya berharap, pernikahan ini berhasil dan aku akan mengusahakan itu pasti berhasil. Kalau kau berpikiran pernikahan harus dilandaskan kedua orang yang saling mencintai, maka aku akan bersikap demikian,"
"Draco…"
"Aku akan bersikap seperti aku mencintaimu."
"Aku-"
"Dan aku akan memastikan kau jatuh cinta padaku, jika itu maumu."
review memberiku semangat nulis, dan itu beneran. Tiap kali ada notice di email ku ada review aku jadi terpikir untuk segera melanjutkan story ini dan melawan mood swing nulisku karena ternyata masih ada orang yang menghargai tulisanku. hihi
im open to all review and critics, ya.
xoxo. 6.17.21
