The King Of Heroes

Disclaimer :

Naruto : Masashi Kishimoto

Fate/Stay Night : Datto Nishiwaki

High School Dxd : Ichiei Ishibumi

Rate : -?-

Pair : -?-

Genre : Action, Fantasi, Supranatural,?

Warning : Typo, HumanNaru!, OOC, Author Newbie, Isekai, and Etc.

Summary

Uzumaki Naruto! Seorang pahlawan perang yang mati karena menyegel Juubididalam tubuhnya, saat ia berpikir akan pergi ke alam kematian, dia malah bereinkarnasi menjadi anak dari Dewi sihir dan seorang Raja agung. Mungkinkah ini akan menjadi kehidupannya yang baru? Hmm... Mungkin tidak.

Chapter 3

Dunia baru yang penuh warna.


"Ha~ah..." Naruto tak yakin sudah berapa banyak ia menghela nafasnya. Sambil duduk dibawah pohon rindang, ia mengurut kepalanya yang terasa semakin berdenyut setelah menerima informasi yang ia dapatkan.

Melihat sekeliling, Naruto melihat banyak pohon rindang dan besar, matanya dimanjakan dengan banyak bunga yang sangat indah serta sebuah sungai yang sangat jernih yang memantulkan cahaya matahari bagaikan sebuah kaca.

Mengingat kembali percakapannya dengan Kami-sama, Naruto sama sekali tak dapat mempercayai pengelihatan serta pendengarannya.

"Hmm..."

Flashback

"... Apa kau yakin tak pernah mendengar namaku? Kami-sama?" Tanya Naruto setelah sudah bisa meredam kekagetannya, ia tetap terduduk di tempatnya muncul tadi,Kami-samayang mendengar pertanyaan dari Naruto menjawab dengan tenang.

"Tentu saja... Aku sangat yakin, karena Raja terakhir dinasti Uruk adalah Lugalbanda, setelah kematiannya kerajaan Babilonia mulai runtuh." JawabKami-samapelan, ia sangat yakin jika didunianya tak ada raja yang bernama Gilgamesh.

Naruto yang mendengar jawaban Kami-sama membelalakkan matanya.

'A-apa?! Bagaimana mungkin?! Aku! Tak 'ada' di dunia ini?!' Batin Naruto kaget, ia tak percaya jika ia tak pernah 'terlahir' di dunia ini.

'jika begitu... Ayahanda Lugalbanda dan ibunda Rimat-Ninsun tak pernah menikah?!' Lanjut Naruto di hatinya, entah kenapa pandangan matanya kehilangan sinarnya, dengan kepalanya yang menunduk menghadap tanah.

Kami-sama yang melihat perubahan derastis dari orang di depannya ini, bertanya dengan nada sedikit khawatir.

"Gil-"

"Naruto... Panggil saja aku Naruto." Ucap Naruto memotongKami-samadengan pelan.

'Karena... Aku tak yakin dengan namaku yang lain akan dikenal di sini...' Batin Naruto lemah.

"... Apa kau baik-baik saja? Keadaan mu buruk sekali." TanyaKami-samasambil terus melihat Naruto yang tertunduk.

"Aku baik-baik saja... Jadi. Bagaimana dan kenapa aku bisa berada di sini?Kami-sama?" Tanya Naruto yang mulai menenangkan dirinya. Memandang Kami-samayang, ia sangat yakin jika masih terus tersenyum dari tadi.

"Aku menciptakan lingkaran pemanggil untuk meminta bantuan dari para pahlawan masa lampau... Tapi, sepertinya aku membuat kesalahan saat menciptakannya... Aku malah memanggil dirimu, seseorang yang seharusnya keberadaannya tak pernah ada di dunia milikku." JawabKami-samasambil mendekati Naruto, lalu duduk di dekatnya.

'Dunia lain ya... Heh~ ... Kurasa... Membangun kembali legendaku akan menyenangkan.' Batin Naruto dengan sedikit tersenyum miring, matanya lalu menatapKami-samayang berada di sampingnya.

"Lalu... Mengapa kau membutuhkan bantuan... Bukankah ini dunia ciptaan mu? Jadi... Kau bisa mengatasinya sendiri bukan?" Tanya Naruto penasaran dengan alasan Kami-sama yang notabenenya adalahMakhlukyangMenciptakanalam semesta, membutuhkan sebuah bantuan? Itu terdengar tak masuk akal baginya.

"Aku tahu... Ini terdengar tak masuk akal bagimu... Tapi percayalah. Masalah ini bukanlah sesuatu yang bisa, Aku, yangMaha Kuasalakukan sendiri."Kami-samaberubah menjadi serius, itu terasa dari tekanan udara disekitarnya yang berubah. Naruto mulai penasaran dengan 'masalah' yang dibicarakan.

"Masalah apa yang kau bicarakan disini,Kami-sama?" Tanya Naruto, tatapan matanya penuh dengan rasa penasaran.

"Ini tentang perang yang terjadi antaraAkuma, Dai-tenshi,dan ,Tenshi. Perang yang disebutGreat war,perang ini sudah berlangsung selama ribuan tahun." JelasKami-samapadanya, dan hal itu bukannya membuat Naruto mengerti, malah semakin membuat banyak pertanyaan-pertanyaan baru muncul di kepalanya.

'Ribuan tahun? Tapi, mengapa dan bagaimana perang ini bisa terjadi? Dan siapa yang memulainya?' Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepalanya, karena rasa penasarannya yang tak bisa dibendung lagi, Naruto bertanya kembali.

"Mengapa perang ini bisa terjadi? Kenapa dan bagaimana? Dan siapa yang memulainya?" Tanyanya tak sabaran, Naruto ingin tahu akar permasalahan dari perang ini.

"Sebelum aku menjawab pertanyaan dari mu, izinkan aku untuk menceritakan bagaimana ku menciptakan malaikat pertama, anakku yang paling kusayangi."

"Baiklah... Silahkan."

Setelahnya, sisa dari percakapan mereka diisi denganKami-samamenceritakan tentang dirinya yang menciptakan malaikat pertama, Lucifer. Tak lama setelahnya ia menciptakan kembali sebuah mahkluk yang bernamamanusia, manusia pertama itu bernamaAdam, laluKami-samamemerintahkan seluruh malaikat-malaikatnya untuk bersujud kepadaAdam, semuanya melakukannya, kecuali Lucifer.

Murka akan tingkah laku Lucifer yang angkuh,Kami-samamengutuknya dan mengusirnya dari surga, menjadikan Lucifer dari seorang malaikat termulia menjadi iblis terkutuk dan tinggal di Underworldatau Neraka, tak lama kemudian banyak malaikat yang menjadi pengikut Lucifer, mereka juga berubah sama seperti dirinya. Lalu juga banyak malaikat yang jatuh, tapi tak berubah menjadi iblis, melainkan menjadimalaikat jatuhdengan sayap putih merpati mereka yang berubah menjadi sayap hitam sekelam malam dan berbentuk seperti sayap gagak, itu karena mereka telah berbuat suatu dosa yang tak seharusnya dilakukan oleh seorang malaikat, mereka juga tinggal di Underworld, berseberangan dengan wilayah milik para iblis, mereka menamainya Grigori.

Dan tak lama setelahnya, Underworld yang dipimpin oleh Lucifer, mendeklarasikan perang terhadap para malaikat jatuh, karena mereka merasa para malaikat jatuh telah 'mengambil' wilayah milik mereka, para iblis.

Dan perang pun terjadi, perang yang amat dahsyat, yang memakan korban tak hanya dari ras iblis dan malaikat jatuh saja, tapi juga berimbas kepada para manusia, karena kasihan terhadap mahkluknya yang paling sempurna juga yang paling di sayangi oleh-Nya, Kami-sama akhirnya mengutus para malaikatnya untuk melerai dan mengakhiri perang yang dimulai oleh kedua ras yang sedang berseteru itu.

Tapi, bukannya mereda. Perang malah semakin membara karena kedatangan para malaikat yang dianggap sebagai ancaman oleh ras iblis maupun malaikat jatuh. Akhirnya perang itu pun berlangsung selama ribuan tahun, dan masih berlangsung sampai sekarang.

Setelah mendengarkan penjelasan dari Kami-sama, Naruto meminta izin pergi kepadanya untuk 'mengistirahatkan' kepalanya yang sakit akibat menerima terlalu banyak informasi.

Flashback end

"Berfikir bahwa seorang malaikat yang suci berubah menjadi makhluk lain karena kehendak-Nya, h~aah... Kekuatan yang sungguh mengerikan, hanya dengan kehendak saja, bisa mengubah sesuatu yang mustahil menjadi mungkin. Kurasa, aku perlu istirahat sebentar, untuk meringankan pikiranku yang sedang kacau." Memandang langit yang biru Naruto teringat sesuatu, sebuah teman lama yang ia miliki sebelum pertemanannya dengan Enkidu.

'Ah... Kurama, sedang apa kau di sana, heh~ rubah tua. Aku merindukan mu disini. Kuharap kau bahagia disana, kawan lama.' Naruto sedikit tersenyum saat mengingat sesuatu tentang rubah merah besar pemalas yang menjadi temannya itu, ya... Walaupun dalam waktu yang tak lama, tapi itu tetap bisa disebut sebagai pertemanan, bukan?

Naruto pun menutup matanya untuk beristirahat sejenak dibawah naungan pohon yang rindang, dengan angin sepoi-sepoi yang membelai wajah serta rambutnya dengan lembut.

Rambut pirang halusnya menari pelan akibat hembusan angin, tak lama kemudian, mulai terdengar suara dengkuran darinya.

"Zzzz~..."

Meanwhile

At Gabriel

Pada pagi yang cerah, terlihat Gabriel sang Seraphim kedua surga sedang berjalan di taman surga. Pagi ini, ia berencana untuk menemui kakaknya, Michael, tapi saat masuk keruang kerja milik kakaknya, ia harus pergi karena sang kakak dan 'Ayah' yang sedang mendiskusikan sesuatu yang tak boleh diketahui olehnya, dengan berat hati, Gabriel pun pergi dari tempat itu, ia lalu pergi kemana pun langkah kakinya membawa dirinya, selama perjalanan banyak para malaikat yang menyapa dirinya.

"Pagi, Gabriel-sama"

"Gabriel-san, apa kabar?"

"Gabriel-sama, selamat pagi!"

Kira-kira itulah ucapan dan sapaan yang diterimanya. Merasa bosan, Gabriel lalu pergi kearah sungai yang jaraknya paling dekat dengan taman dimana ia berada sekarang.

" Lebih baik aku menghabiskan waktu ku disungai saja." Ucapnya, melangkah pergi meninggalkan taman tersebut. Tak lama kemudian, ia sampai di tujuannya, saat ingin mendekati sungai, ia melihat seseorang yang baru pertama kali dilihat olehnya.

"Eh? Siapa dia?" Tanya Gabriel penasaran sambil sedikit memiringkan kepalanya kesamping dengan wajah imut miliknya.

Meanwhile

Di sebuah ruangan yang serba putih dengan banyak banyak rak-rak buku dan lembaran-lembaran kertas bertumpuk dimana-mana, tampaklah ada dua orang yang sedang berbincang mengenai sesuatu sambil melihat sebuah bola permata yang menampilkan sebuah gambar seorang pemuda yang sedang tidur dengan lelapnya.

"Ayah... Apa kau yakin meminta bantuan dari lelaki ini?" Tanya Michael kepada orang dihadapannya, sambil melihat bola permata dihadapannya dengan seksama.

"Tentu saja, Michael. Aku sangat yakin akan hal itu. Dan percayalah padaku, ia mempunyai kekuatan yang bahkan bisa membuatLonginus, bahkanTrueLonginussekalipun, akan menjadi mainan anak kecil dihadapannya."

Michael yang mendengar hal itu, tentu saja kaget dan tak percaya dengan yang diucapkan oleh sang 'Ayah'.

"A-apa? Bagaimana mungkin, ayah? Bagaimana caranya seorang manusia bisa melampaui kekuatan senjata-senjata yang engkau ciptakan itu?" Tanya Michael sambil berdiri dari tempat duduknya.

"Michael, anakku, tenanglah. Tentang hal itu, aku memang bisa merasakannya, tapi kekuatan macam apa itu, aku sendiri, Yang Maha Mengetahui, tak tahu kekuatan apa itu, mungkin... Itu karena ia adalah makhluk dari dunia lain yang seharusnya tak pernah ada di sini. Tapi... Biarkan itu menjadi sebuah rahasia, sampai pemiliknya sendiri yang menunjukkannya." Kata-kata bijak dari sangat 'Ayah' menghentikan semua pertanyaan yang ingin dilontarkan olehnya, melihat kembali bola permata yang tergeletak manis di meja kerjanya. Michael masih tak dapat mempercayainya.

'Tapi... Tetap saja, sebuah kekuatan yang bahkan melampaui kekuatan sebuah True Longinus. Itu tak bisa dipercaya, sama sekali.' Barunya sambil terus melihat bola permata itu dengan intens.

At Naruto

"Gilgamesh..."Naruto membelalakkan matanya saat mendengar sebuah bisikan, mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari sumber suara tersebut, tapi yang ia dapatkan hanyalah Padang gurun yang gersang dan luas sejauh mata memandang.

"S-siapa itu? Dimana kau? Jawab aku!" Ucap Naruto sedikit berteriak, sambil terus mengedarkan pandangannya dan meningkatkan kewaspadaannya. Ia tidak tahu dimana dirinya berada sekarang, tapi ia yakin harus tetap berjaga-jaga jika ada musuh yang menyerangnya dari segala sisi.

"Gilgamesh..."Kali ini suara itu terdengar lebih jelas dari sebelumnya.

'I-ini... Suara ini... Enkidu!' Naruto mengenali suara ini, ini suara sahabatnya. Ia mengedarkan kembali pandangannya, berharap yang didengarnya tadi adalah suara milik sahabat karibnya.

"Enkidu! Dimana kau? Jika kau mendengarkan ku maka, Jawablah aku!" Teriaknya dengan keras barharap sang sahabat bisa mendengar dan membalasnya.

"Gilgamesh... Temanku, aku... Disini."Kali ini suara itu berasal dari arah belakangnya, dengan cepat Naruto membalikkan tubuhnya. Dan pandangannya langsung terkunci pada sosok didepannya, seseorang yang amat sangat dikenalnya, seseorang yang menjadi satu-satunya teman baginya, yang masih berpenampilan sama saat pertama kali bertemu sampai saat-saat perpisahan mereka.

"E... Enkidu..." Ucap Naruto terbata, matanya mulai berair, raut wajahnya terlihat sangat senang walaupun ia berusaha sekuat tenaga agar air matanya tak jatuh dan membasahi pipinya.

"Apa kabar, wahai temanku, dan rajaku... Gilgamesh, bagaimana kabarmu sekarang wahai temanku?" Tanya Enkidu sambil tersenyum.

"A-aku baik-baik saja, bagaimana dengan dirimu, Enkidu?" Naruto berucap dengan senyum lebarnya, membiarkan air matanya yang jatuh dari pelupuk matanya dan membasahi pipinya.

"Kabarku sama baiknya dengan dirimu, wahai temanku. Tapi, ada sesuatu yang ingin ku sampaikan pada mu. Jadi kumohon padamu, dengarkanlah ini baik-baik."

"Baiklah... Apa itu? Katakan saja padaku." Ucap Naruto dengan senyuman yang masih menempel di bibirnya.

"Haha... Sungguh, Ribuan tahun tak berjumpa. Sifatmu yang ceria yang ku kenal itu tak pernah berubah, dan aku sangat senang dan sangat bersyukur karena kau masih seperti itu." Enkidu menghentikan sejenak ucapannya, melihat temannya dengan senyumnya yang mengembang di wajah putihnya.

"Dan hal yang ingin ku sampaikan adalah, nikmatilah hidupmu sekarang, temanku. Dan jangan lagi kau berusaha untuk memenuhi sumpahmu dan janjimu padaku dahulu, kau tahu... Melihat dirimu masih ceria dan masih bisa tersenyum seperti dahulu saat kita bersama, itu sudah membuatku sangat, sangatlah bahagia. Jadi kau tak perlu lagi berusaha untuk menghidupkan ku kembali, karena... Aku selalu mengawasi mu setiap waktu, jadi, mulai sekarang hiduplah dengan kehendakmu sendiri." Jelas Enkidu panjang. Mendengar hal itu Naruto tak dapat menahan dirinya untuk tertawa pelan atas pernyataan dari temannya itu.

"H-hahahaha, kau memang tahu bagaimana diriku ini, Enkidu. Dan apa kau yakin jika aku menghapuskan janji dan sumpahku padamu?" Tanya Naruto sambil mengusap air matanya dengan lengannya.

"Tentu saja, aku tak keberatan sama sekali, lagipula melihat dirimu bertingkah sombong seperti itu, aku kurang menyukainya, tapi saat aku tahu mengapa kau bertingkah seperti itu hanya untuk menghidupkan ku kembali, sungguh, aku sangat menghargainya." Enkidu berjalan mendekati Naruto yang matanya membengkak karena banyaknya air matanya yang dikeluarkannya.

"Hanya itu yang bisa ku sampaikan, sampai jumpa, temanku. Dan... Sepertinya ada orang yang menunggumu untuk bangun." Ucap Enkidu dengan senyum tipisnya.

"H-huh?"

"Dan dari yang ku lihat, dia gadis yang manis dan juga cantik, cocok untuk menjadi ratumu suatu hari nanti." Tambah Enkidu.

"Huh? Apa maksudmu? Enkidu?" Tanya Naruto yang semakin keheranan.

"Haha... Kau akan segera tahu jika kau bangun nanti, rajaku. Selamat tinggal." Perlahan, sedikit demi sedikit, tubuh Enkidu mulai memudar bagaikan pasir yang ditiup oleh angin.

"Selamat tinggal juga untuk mu wahai temanku..." Naruto menjawab ucapan dari Enkidu, saat temannya memudar dan menghilang, tak lama kemudian ia merasakan kesadarannya mulai menghilang.

Saat kesadarannya sudah terkumpul, Naruto merasakan sebuah tangan halus yang mengelus pipi mulusnya, dan tentu, Naruto langsung membuka matanya. Dan pandangannya langsung bertemu dengan sepasang mata biru yang sangat indah, serta wajah yang amat cantik berada tepat di depan wajahnya.

"Huh?" gumamnya bodoh.

10 menit yang lalu.

At Gabriel

Gabriel yang mulai penasaran, mendekati seorang pemuda yang sedang tertidur pulas itu. Saat berada disampingnya, Gabriel memandangi orang tersebut dari ujung kepala sampai ujung kakinya, masih penasaran. Gabriel pun duduk di samping kiri pemuda itu, melihat wajah yang tampan dan menawan dari pemuda tersebut, perlahan-lahan Gabriel mulai merasakan pipinya agak memanas.

Bluushh~

"U-uhh... K-kenapa aku tiba-tiba merasa aneh? P-perasaan h-hangat apa ini?..." Ucap Gabriel kebingungan dengan keadaan sendiri. Entah mengapa saat ia melihat wajah dari pemuda didepannya, ia merasakan kalau jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Melihat sekali lagi wajah rupawan pemuda didepannya, entah dorongan dari mana, Gabriel mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi putih dan mulus pemuda itu menggunakan jari telunjuknya.

Poke~

"H-halus... Seperti kain sutra, apa ini benar-benar makhluk hidup?" Tanya Gabriel takjub, bahan kain sutra terhalus disurga pun tak sehalus pipi pemuda itu. Terlalu mengagumi dan menyentuh pipi pemuda itu terus-terusan, Gabriel tidak menyadari jika alis dari pemuda yang sedang tidur tersebut berkedut, menandakan bahwa ia akan segera bangun.

Pemuda itupun lalu membuka matanya, Gabriel yang belum menyadarinya masih terus menyentuh pipi pemuda itu.

"Huh?"

Sebelum sebuah suara, membuyarkan perhatiannya. Melihat wajah pemuda itu yang mengangkat sebelah alisnya heran, Gabriel yang tertangkap basah pun mulai panik.

"U-uuhh... E-ettoo, a-aku... A-ahh... Maaf!" Gabriel yang panik, langsung saja bersujud kepada pemuda itu, karena telah menyentuh pipinya yang tanpa izin. Sedangkan sang pemuda yang tidak mengerti apa maksud dari Gabriel pun semakin heran.

"...Huh? Nona? Apa yang sedang kau lakukan." Tanyanya.

"E-eh?"

At Naruto

Setelah bangun dari tidur.

Melihat seorang perempuan cantik sedang menyentuh dan mengelus pipinya dengan penuh kekaguman, membuat Naruto heran dengan perempuan itu.

'Dia ini... Siapa? Dan darimana datangnya, dan kenapa ia terus menyentuh pipiku?' Pikir Naruto heran, menaikkan sebelah alisnya sambil terus melihat perempuan cantik itu. Jika boleh jujur, sebenarnya Naruto sangat menikmati sentuhan dari tangan lembut perempuan tersebut.

"U-uuhh... E-ettoo, a-aku... A-ahh... Maaf!" Akhirnya perempuan itu pun sadar dengan situasi yang sudah terjadi, mambuat Naruto senang sekaligus merasa sedikit kecewa karena tidak dapat merasakan sentuhan halus darinya lagi.

Menaikkan sebelah alisnya heran, saat sang lawan jenisnya bersujud di sebelah tubuhnya, tak mengerti dengan apa yang dimaksud olehnya, Naruto pun bertanya dengan wajah santainya.

"...Huh? Nona? Apa yang sedang kau lakukan." Tanya Naruto sambil berusaha menghilangkan kantuk dari tidurnya.

"E-eh?" Gumam perempuan itu tak mengerti, sambil sedikit memiringkan sedikit kepalanya. Naruto yang melihat keimutan dari perempuan dihadapannya langsung berkeringat dingin.

'U-uggh... S-sial, aku tak tahan dengan benda-benda yang imut dan manis. A-akhh! K-kawaii desu~.' Batin Naruto sambil menggenggam dada kirinya yang terasa seperti habis terkena serangan jantung.

'U-uggh, k-kurasa aku akan terkena diabetes.' Batinnya tak jelas.

Melihat Naruto yang memegangi dada kirinya, Gabriel pun menanyakan keadaan sang pemuda.

"Pemuda-san, apa anda baik-baik saja?" Gabriel terus melihat Naruto dengan wajah imutnya.

"A-aku baik-baik saja, tak usah khawatirkan aku." Naruto berusaha untuk tersenyum, walaupun sangat sulit ketika melihat wajah lawan bicaranya.

'Tak mungkin kan, aku berlutut lalu mengatakan "Aku jatuh cinta padamu! Gadis-san! Menikahlah denganku! Dan jadilah ratuku!" disini bukan? Itu... Tak etis.' Batin Naruto menahan dirinya agar tidak melakukan sesuatu yang bisa merusak harga dirinya dihadapan gadis ini.

"T-tapi, kenapa kau memegangi dada kirimu?" Tanya Gabriel lagi dengan wajah penasaran dan imutnya yang semakin meningkat.

'Akhh! Aku tak tahan lagi!'

"Aku baik-baik saja, dan... Nona? Siapa namamu? Perkenalkan namaku Naruto." Tanya Naruto dengan wajah datarnya, tapi jika dilihat lebih teliti lagi, maka maka akan terlihat ada sebuah keringat yang mengalir deras dari keningnya. Badannya yang sedikit bergetar karena menahannya agar tidak melakukan sesuatu hal yang bodoh.

"Ah! G-gomen! Namaku Gabriel, s-salam kenal." Ucap Gabriel terbata-bata karena ditatap mata merah delima milik Naruto yang entah kenapa, terlihat sangat indah baginya.

"Gabriel? Nama yang sangat cantik dan indah sama seperti pemiliknya." Naruto memuji gadis didepannya sambil sedikit menunjukkan senyum miringnya.

"U-uuhhh, t-terima kasih, Naruto-san." Ucap Gabriel terbata-bata sambil memainkan kedua jarinya. Dan itu mengingatkan Naruto dengan seorang gadis pemalu yang amat sangat dikenalnya.

'Entah mengapa... Dia sangat mengingatkan ku dengan dirimu, Hinata.' Batin Naruto saat mengingat kesamaan antara gadis dihadapannya ini dengan seorang gadis pemalu dan berambut indigo di dunianya dahulu. Mengingat hal itu membuat Naruto tersenyum saat ingat betapa lucunya Hinata saat malu.

"Naruto-san?" sebuah suara membuyarkan lamunannya. Naruto kembali memberikan perhatiannya pada Gabriel.

"Ya? Ada apa, Gabriel-san?"

"A-anda k-kenapa? Apa anda sakit?" Tanya Gabriel sedikit khawatir.

"H~ahh, bukankah sudah kubilang untuk tidak menghawatirkan ku? Aku tidak apa-apa, hanya sedikit mengingat seorang temanku yang sifatnya agak mirip dengan mu." Jelas Naruto

"B-benarkah?" Gabriel bertanya dengan wajah penasaran, Gabriel sendiri heran kenapa ia bertingkah seperti itu.

"Ya begitulah, kalian sama-sama manis dan imut." Ucap Naruto santai, tak mengetahui konsekuensi dari kata-kata yang keluar dari mulutnya.

'Dan juga sama-sama cantik dan seksi... MANA MUNGKIN AKU MENGATAKAN HAL MESUM DAN BODOH SEPERTI ITU! Pertapa tua mesum! Kusalahkan semua ini padamu!' Pikiran Naruto mulai kacau saat dirinya tak 'sengaja' melihat gudukan 'gunung kembar' milik gadis didepannya.

Blush

"A-auuhh...uuhh, t-terima kasih, N-naruto-san." Gagap Gabriel saat mendengar pujian dari Naruto, wajahnya memerah bagaikan tomat ranum.

Naruto yang melihat hal itu menaikkan sebelah alisnya, entah tak paham atau memang masih tak peka dengan tingkah gadis didepannya, Naruto akui memang, jika gadis didepannya ini sangat, sangatlah cantik. Naruto tahu karena ia sudah pernah bertarung dengan seorang Dewi dan juga pernah dilamar oleh salah satunya... Hei, jika kau menjalani sebuah kehidupan seperti miliknya, maka kau akan mengerti bagaimana perasaannya sekarang.

"Sama-sama, Gabriel-san. Jadi... Kenapa kau ada disini?" Naruto mengingat kembali pertanyaan yang ingin ia tanyakan.

"A-ah i-itu... Aku sedang menghabiskan waktuku disini saat kakakku, Michael-onii-sama menyuruhku untuk tidak menggangu percakapannya dengan ayah." Ucap Gabriel dengan nada sedih. Naruto tiba-tiba merasa bersalah karena telah membuat gadis didepannya menjadi sedih.

"Maaf... Jika aku membuatmu menjadi sedih... Bagaimana jika kau mengajakku keliling surga? Err... Kau tahu kan kalau aku baru datang disini. Kau mau bukan?" Naruto berusaha untuk menghibur gadis didepannya dengan mengajaknya jalan-jalan... Err, sebenarnya ia yang meminta sang gadis untuk mengajaknya berkeliling agar mengetahui lebih banyak tentang surga.

"Ah! Ide bagus, Naruto-san! Baiklah ayo kita pergi!" Tanpa peringatan, Gabriel langsung menggenggam tangan Naruto dan menariknya untuk pergi bersamanya.

'Gadis ini... Kuat juga untuk ukuran perempuan manis sepertinya... Akhh, Naruto! Jangan berpikiran yang aneh-aneh!' Batinnya berteriak tak jelas.

'Mungkin... Kurasa aku harus mulai menikmati kehidupan ku ini.' Lanjutnya dengan sedikit tersenyum.

Timeskip

Di taman surga pada sore hari, terlihatlah ada dua insan yang saling bercengkrama di sebuah bangku yang terbuat dari perak. Mereka saling berbicara satu sama lain dan sesekali tertawa bersama.

"Hihihi~... Cerita mu tentang seorang pria yang selalu tertangkap basah saat ingin mengintip wanita mandi, itu lucu sekali Naruto-san." Kekeh Gabriel saat mendengar sebuah cerita dari Naruto, Naruto menceritakan tentang gurunya yang mesum yang selalu dipukuli tetapi tak pernah kapok sama sekali. Tentu saja Naruto tidak menceritakan tentang dirinya yang pernah menjadi murid dari pria tua mesum itu, bisa hancur harga dirinya.

"Hahaha... Ya, dan kau tahu ia tak pernah kapok walaupun dihajar sampai babak belur sekalipun, dan lucunya ia selalu bisa bertahan hidup seusai di hajar habis-habisan." Balas Naruto sambil terkekeh pelan mengingat pertapa mesum berambut putih panjang yang menjadi gurunya tersebut.

"hihihi~" Gabriel tak menjawab, ia hanya terkekeh geli dengan pernyataan dari Naruto.

Melihat langit yang mulai menjadi jingga, Naruto menyadari jika hari mulai malam.

"Ano... Gabriel-san, lebih baik kau pulang, lihatlah. Hari sudah mulai malam. Pastinya kakak mu akan mencari mu nanti." Ucap Naruto mengingatkan Gabriel.

"Ahh... Kau benar, tapi... Aku masih ingin bersama mu sebentar lagi, bisakah?" Tanya Gabriel memelas dengan matanya yang bulat dan indah, tentu Naruto tak bisa menolaknya.

"Baiklah... Bagaimana jika aku mengantarkan mu ke kakakmu? Bagaimana menurutmu?" Tanya Naruto, sebenarnya ia juga tidak tega membiarkan seorang gadis pergi sendiri, ya.. walaupun ia tahu mereka berada di surga yang pastinya sangat aman. Tapi bagaimana pun juga, hati kecil Naruto berteriak dan menyuruhnya untuk jadi pria yang baik dan mengantarkan seorang gadis manis untuk kembali kerumahnya.

"A-ah... Terima kasih Naruto-san!" Ucap Gabriel senang. Selama perjalanan mereka, sedikit demi sedikit Gabriel mulai merasa nyaman berada di dekat Naruto, ia tak tahu apa itu. Tapi yang pasti, ia akan menanyakannya nanti pada kakaknya atau 'Ayah'-nya saat ia bertemu dengan mereka.

"Baiklah, kalau begitu. Mari kita pergi." Ucap Naruto sambil mengulurkan tangannya kearah Gabriel. Dengan malu-malu, Gabriel menerima uluran tangan dari Naruto.

"U-umm, baik. Ayo kita pergi, Naruto-san." Ucap Gabriel sedikit tergagap saat merasakan tangan halus dan kekar milik Naruto, ia dapat merasakan jika jantungnya kembali berdetak kencang, meletakkannya tangan kirinya pada dada kirinya untuk menenangkan detak jantungnya yang tak terkontrol.

'Perasaan ini lagi... P-perasaan apa ini?... M-mungkin aku bisa menanyakannya pada Ayah...' Tanya Gabriel pada dirinya sendiri, mengalihkan pandangannya pada Naruto yang berjalan didepannya sambil menggenggam tangannya, Gabriel bisa merasakan jika pipinya kembali memanas.

Mereka berdua pun berjalan menjauh dari tempat itu, dengan background sinar matahari yang indah, mereka berdua terlihat layaknya sepasang kekasih yang baru menjalin tali kasih.

Timeskip

"Inikah tempatnya?" Tanya Naruto saat melihat tempat tinggal milik Gabriel, sebuah rumah berwarna putih bertingkat dua dengan atap mengkilap, dan berukuran besar, sangat besar untuk ditinggali hanya oleh dua orang saja.

"Benar ini tempatnya, Naruto-san, terima kasih telah mengantarkan ku kemari. Terima kasih banyak." Ucap Gabriel sambil sedikit membungkuk badannya.

"Ah, tak perlu segan seperti itu, Gabriel-san, sama-sama, aku juga berterima kasih karena kau telah menemani ku hari ini." Balas Naruto yang juga membungkukkan tubuhnya kearah Gabriel.

"Kalau begitu, aku pamit undur diri, Gabriel-san. Selamat malam."

"Selamat malam Naruto-san, sampai bertemu esok hari." Jawab Gabriel sambil tersenyum di bibir merahnya, mengingat percakapan mereka sepanjang perjalanan tadi.

Hanya menganggukkan kepalanya sedikit, Naruto membalikan badannya berniat untuk pergi sebelum sebuah suara menghentikan niatnya.

"Maaf... Apa kau... Orang yang bernama Gilgamesh?"

Merasa terpanggil, Naruto membalikkan sedikit badannya untuk melihat siapa yang memanggil dirinya. Sampai pandangannya terkunci pada seorang pria yang sangat mirip dengan Gabriel hanya saja dalam versi laki-laki, seorang laki-laki yang memiliki wajah feminim... Jika ia boleh menambahkan.

"Ya itu aku, apa aku mengenal mu?" Tanya balik Naruto saat ia melihat lebih jelas pria tersebut, Gabriel yang masih setia berdiri ditempatnya semula, mulai bingung dengan apa yang terjadi.

'Gilgamesh? Bukankah namanya Naruto?' Pikir Gabriel heran, kenapa ada seseorang yang memiliki dua nama? Apa itu sebuah nama samaran?

"Kurasa tidak, tapi izinkan aku untuk memperkenalkan diriku, nama ku adalah Michael, Seraphim pertama dan juga kakak dari Gabriel, salam kenal." Ucap Michael dengan sopan, bagaimana pun juga, makhluk didepannya ini sangat, sangatlah kuat. Salah berucap walaupun hanya satu kata saja, itu akan sangat beresiko.

"Baiklah, dan kau bisa memanggilku dengan Naruto, Gilgamesh adalah nama lainku." Jelas Naruto, apapun yang terjadi, ia tetap menghargai kedua nama yang di berikan olehnya.

"Benarkah? Kalau begitu baiklah, aku ingin mengucapkan terima kasih karena telah menemani dan mengantarkan adikku kembali."

"Seperti kata ku sebelumnya, tak perlu segan padaku. Dan terlebih lagi, aku juga berterima kasih karena adikmu telah banyak membantu ku untuk mengenal sekitar." Ucap Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya, entah kenapa ia sedikit merasa gugup saat ini.

Sedangkan Gabriel yang mendengar percakapan mereka dari awal, pipinya merona saat Naruto kembali menggungkit kebaikan yang telah ia lakukan.

"Aku mengerti. Dan... Naruto-dono, bisakah anda datang ke gedung pertemuan esok hari?" Tanya Michael tersenyum simpul saat mendengar perkataan Naruto, ia merasa bangga kepada adiknya karena selalu menolong orang lain yang membutuhkan.

"Hmm... Gedung pertemuan... Baiklah, aku akan datang, lagi pula tak ada hal yang bisa ku lakukan saat ini." Jawab Naruto santai sambil mengangkat bahunya tak peduli.

'Lagipula memangnya apa yang bisa ku lakukan saat ini?' Sambungnya dalam hati.

"Terima kasih banyak, Naruto-dono. Dan juga... Apa anda tidak menginap di sini malam ini?" Michael kembali.

"Ahh... Kalau itu tidak per-" Belum selesai berbicara, sebuah suara menginterupsinya.

Kruuyukk~

Karena belum makan seharian, maka perut Naruto berbunyi meminta jatahnya. Pipi Naruto memerah karena rasa malunya.

'P-pengkhianat... K-kenapa kau malah berbunyi di saat seperti ini...' Batin Naruto menangis ala anime.

"Ah... I-itu..." Naruto berusaha mencari sebuah alasan agar ia tidak terlihat memalukan, dan usahanya seratus persen gagal karena tingkahnya yang konyol.

"Hihihi~ Naruto-san... Lebih baik kau makan malam bersama kami, dan menginap disini saja malam ini." Kali ini Gabriel yang mengangkat suaranya, terdengar kekehan pelan darinya saat mendengar suara 'sakral' dari perut Naruto.

"Adikku benar, Naruto-dono... Lebih baik kau menginap saja disini saja malam ini." Tambah Michael sambil tersenyum melihat tingkah lucu Naruto.

"A-ah... T-terima kasih banyak, Michael-san... Gabriel-san." Gagap Naruto sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kalau begitu masuklah, Naruto-san, mari." Ajak Michael mempersilahkan Naruto untuk masuk kerumahnya.

"Ayo Naruto-san, jangan malu-malu, anggap saja rumah sendiri." Ucap Gabriel senang.

"B-baik." Naruto pun langsung masuk ke rumah Michael, saat kedua pemiliknya sudah masuk lebih dulu.

'Kurasa... Sekarang hidupku akan menjadi lebih menarik.'

Timeskip

Saat sang Surya mulai menampakkan sinarnya, terlihatlah Naruto yang masih memakai baju putihnya, serta kalung dan gelang emasnya. Rambut pirang halusnya bergerak pelan karena tiupan manja dari sang angin. Mengedarkan pandangannya kearah sebuah pintu besar yang berada di hadapannya, saat ini Naruto sedang menunggu seseorang.

"Dimana dia? Bukankah dia mengatakan kalau aku harus datang di pagi hari?" Gumam Naruto tak sabaran, ia sedang menunggu Michael yang dari tadi belum menampakkan diri.

"Ah... Naruto-dono, maaf aku terlambat, tadi ada urusan penting yang harus aku selesaikan terlebih dahulu. Sekali lagi maaf." Sebuah suara yang dikenalnya membuatnya bernafas lega, ternyata orang yang ditunggu-tunggu kehadirannya datang juga.

'Panjang umur, baru dibicarakan sudah muncul saja.'

"Jadi... Apa yang kita tunggu disini? Apa kita tak langsung masuk?" Tanya Naruto, jujur saja ia sudah merasa kesemutan karena berdiri terlalu lama.

"Ahh... Baik, kalau begitu, mari kita masuk." Dengan ucapan dari Michael, pintu didepan mereka terbuka dengan sendirinya.

Krieett~

Tak mau menunggu lama lagi, Naruto berserta Michael langsung masuk ke dalam ruangan tersebut, dan Naruto dapat melihat ini adalah sebuah ruang pertemuan yang sangat besar. Mengalihkan pandangannya kearah lain, pandangan Naruto terkunci pada sekumpulan orang yang duduk pada sebuah meja panjang dengan di ujungnya, terlihat Kami-sama yang duduk dengan tenang. Dan Naruto sangat yakin kalau semua malaikat yang hadir adalah malaikat-malaikat yang sangat penting. Tapi Naruto melihat ada sebuah kursi dengan ukiran angka 2 yang kosong, entah milik siapa, ia tak peduli.

Michael pun mengangkat suaranya yang mendapat perhatian dari semua orang yang berkumpul, termasuk Kami-sama.

"Baiklah, karena semua orang sudah berkumpul di sini, lebih baik kita mulai saja pertemuannya." Ujar Michael sambil menuju ke tempat duduknya yang memiliki ukiran angka 1.

"Tapi sebelum itu, apa kau bisa menjelaskan kenapa kau datang terlambat Michael? Dan... Siapa orang yang bersama mu itu?" tanya seorang malaikat yang duduk tak jauh dari posisi Michael.

"Ah... Kalau soal itu, maaf tadi ada sebuah urusan kecil yang harus segara aku selesaikan, Raphael, dan orang yang bersama ku ini akan mengikuti pertemuan kita." Jawab Michael kepada seorang malaikat yang bernama Raphael tadi.

"Baiklah, lain kali jangan kau ulangi lagi perbuatan mu itu, dan bisakah kau memperkenalkan dirinya." Ucap Raphael sang Seraphim ke empat, sambil menunjuk ke arah Naruto.

"Dia adalah orang yang ayah panggil beberapa hari yang lalu." Jelas Michael sambil tersenyum simpul, tak lama setelah mengatakan hal itu seluruh orang yang berada di dalam ruangan itu kaget, kecuali Kami-sama.

"A-apa?!"

"B-benarkah itu?!"

"Dia orangnya!?"

Begitulah kira-kira tanggapan yang diberikan oleh beberapa malaikat yang hadir. Melihat keributan itu, Kami-sama akhirnya mengangkat suaranya untuk menenangkan mereka semua.

"Kalian semua, tenanglah. Ia memang orang yang ku panggil untuk membantu kita dalam perang ini." Jelas Kami-sama menengahi. Dalam sekejap semua malaikat itu kembali tenang dan duduk ditempat mereka masing-masing.

Melihat situasi yang mulai tenang, akhirnya Naruto mulai bertanya.

"Jadi... Ada apa aku dipanggil kemari?" Tanya Naruto dengan santainya sambil memasukkan kedua tangannya ke kantung celananya. Semua perhatian tertuju padanya, dan Naruto mengangkat satu alisnya heran.

'Kenapa reaksi mereka seperti itu?' pikirnya heran.

"Naruto-san, apa anda ingat perbincangan kita sehari yang lalu?" Tanya Kami-sama padanya.

"Tentu saja aku mengingatnya... Memangnya ada apa?" Tanya Naruto sedikit penasaran.

Sedikit mengangguk saat Naruto mengerti apa maksudnya, Kami-sama melanjutkan ucapannya.

"Alasan dari aku memanggil dirimu adalah agar membantu kami semua untuk menghentikan perang yang sudah berlangsung ribuan tahun ini." Jelas Kami-sama kepada Naruto.

Mendengar penjelasan dari Kami-sama, Naruto tampak berfikir sejenak, entah dari mana sebuah ide aneh muncul di otak cerdasnya, lalu dengan nada angkuh ia berkata.

"Kau tahu bukan, aku melakukan sesuatu secara tidak 'gratis', jadi... Apa yang bisa kau berikan padaku? Emas? Permata? Maaf semua itu sudah kumiliki. Jadi... Jika kau bisa memberikan sesuatu yang tidak aku miliki, baru aku akan membantumu." Ucap Naruto dengan seringai angkuhnya, ia tak melakukan ini tanpa sebab. Ia hanya mengetes saja apa mereka semua benar-benar serius atau tidak.

"Apa-apaan kata-katamu itu!"

"Sombong sekali dirimu!"

"Ayah! Ia sangat sombong!"

Michael dan Kami-sama juga sedikit terkejut dengan kata-kata dari Naruto. Tapi Kami-sama yang mengetahui maksud dari Naruto, mengangkat tangannya untuk menenangkan kembali para malaikat yang merasa terhina karena ucapan dari Naruto.

"Jika memang emas dan permata tak bisa memuaskan mu. Kurasa aku tak bisa memberikan sesuatu padamu."

Mendengar ucapan dari Kami-sama, Naruto merasa sedikit kecewa.

"Baiklah kalau begitu... Kurasa aku hanya perlu pergi dari surga dan pergi ke bumi... Kurasa di sana akan ada hal yang bisa menarik minat ku." Ucap Naruto datar sambil membalikan badannya kearah pintu, berniat untuk pergi dari ruangan tersebut.

"Tapi... Kurasa aku bisa memberikan hal lain padamu." Suara dari Kami-sama menghentikan langkah kakinya.

"Dan... Apa itu?" Tanya Naruto tanpa membalikkan tubuhnya.

"Holy Grail dan Ramuan keabadian." Ucap Kami-sama dengan tenang.

Deg!

Naruto tersentak, dengan matanya yang sedikit melebar. Naruto dengan cepat membalikkan tubuhnya menghadap Kami-sama.

"Bagaimana kau tahu tentang hal itu?!" Tanya Naruto sedikit memerintah. Ia tak habis pikir, bagaimana rahasianya yang paling dalam bisa diketahui.

'Seharusnya Sha Nagba Imuru menolak segala macam jenis pembacaan pikiran.' Lanjutnya.

"Aku hanya mengetahuinya, saat kau sedang pingsan. Aku sedikit membaca pikiran mu, ya... Sedikit, karena ada sesuatu yang menahan diriku untuk mengetahui lebih banyak tentangmu." Jelas Kami-sama sambil tersenyum saat dirinya berhasil mengambil perhatian dari Naruto. Naruto bernafas lega saat mendengar kata-kata itu.

'Syukurlah... Sha Nagba Imuru ternyata masih berfungsi dengan baik.' Batin Naruto lega.

"Lalu... Apa yang perlu ku lakukan?" Balas Naruto terdengar malas.

"Yang perlu kau lakukan hanyalah, bertarung dengan para pasukan iblis dan para malaikat jatuh agar tidak menggangu diriku saat melawan Three Apocalyptic Beast."

Naruto mengangkat sebelah alisnya.

"Three Apocalyptic Beast? Apalagi itu?" Tanya Naruto heran, selama di dunia ini, ia banyak mendengar julukan-julukan seperti Akuma, Dai-tenshi, dan Tenshi. Tapi ini... Ia baru mendengarnya julukan seperti itu.

"Mereka adalah makhluk-makhluk ciptaan ku, mereka amat kuat. Ophis sang perwujudan dari kekuatan tak terhingga, Great Red sang perwujudan dari impian, dan TriHexa sang perwujudan dari Malapetaka. Saat perang berlangsung, mereka turun dan mengacaukan segalanya, diikuti juga oleh dua Naga Surgawi, Ddraig dan Albion. Jadi, saat aku ingin menghentikan para Akuma dan Dai-tenshi, Ddraig dan Albion malah membuat rusuh medan perang, mengundang TriHexa karena tekanan kekuatan yang dikeluarkan oleh mereka berdua, tak lama Great Red dan Ophis juga ikut andil dalam perang karena rival mereka ada di sana. Maka dari itu aku membutuhkan bantuan dari mu untuk mengurus para Akuma dan Dai-tenshi, agar aku bisa menyegel TriHexa dan mengalahkan sisanya." Jelas Kami-sama panjang, Naruto mendengar sesuatu hal yang ganjil dari penjelasan Kami-sama.

"Kenapa kau hanya menyegel TriHexa saja? Kenapa kau tidak menyegel Ophis dan Great Red juga? Bukankah mereka sangat berbahaya? Lalu bagaimana dengan kedua naga surgawi itu?" Tanya Naruto, ia sedikit bingung saat Kami-sama berencana untuk menyegel TriHexa, tapi meninggalkan Great Red dan Ophis serta kedua naga surgawi tetap bebas.

"Alasan ku adalah, Great Red dan Ophis adalah penjaga gerbang dimensi, jika tak ada yang menjaganya walaupun salah satu dari mereka. Dimensi ini akan kacau. Sedangkan Ddraig dan Albion, akan kuambil jiwa mereka dan kuubah menjadiSacred Gear." Kami-sama menjelaskan dengan perlahan, Michael dan malaikat lainnya juga mendengar dengan seksama, kecuali Naruto yang ingin tahu apa itu Sacred Gear, tapi mengesampingkannya.

"Baiklah... Akan ku lakukan, jika. Begitu kita punya kesepakatan?" Tanya Naruto sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Kami-sama, yang mengerti akan maksud Naruto pun, berjabat tangan dengannya.

"Ya... Kita punya kesepakatan." Balas Kami-sama, Michael dan para malaikat lainnya tersenyum senang, akhirnya perang yang berlangsung ribuan tahun akan segera berakhir.

"Kalau begitu, pertemuan ini kita akhiri. Silahkan kalian boleh pergi." Ucap Michael.

"Baik!" Semua malaikat menjawab serentak sambil bangkit dan pergi dari tempat itu, menyisakan hanya Naruto, Michael, dan Kami-sama saja.

"Naruto-dono... Terima kasih banyak atas bantuan dari mu, kami sangat menghargainya." Suara dari Michael membuat Naruto memandangnya, dan tersenyum kecil saat melihat Michael yang sedikit membungkukkan badannya.

"Bukankah sudah kukatakan padamu, untuk tidak segan padaku? Michael?" Ucap Naruto dengan sedikit kekehan kecil yang keluar dari mulutnya.

"Tapi tetap saja... Sebuah bantuan dari mu sangat berharga bagi kami." Sanggah Michael yang masih membungkuk badannya.

"Sudahlah, Michael, berdirilah." Ucap Kami-sama, mengalihkan pandangannya kepada Naruto yang terlihat ingin mengatakan sesuatu, Kami-sama melanjutkan ucapannya. "Sepertinya ada yang ingin kau tanyakan, wahai Raja Uruk." Kami-sama sedikit bertele-tele, membuat Naruto sedikit terkekeh.

"Kau tak perlu memanggil ku seperti itu, Kami-sama. Kau bisa memanggilku dengan namaku saja."

"Nama yang mana yang harus aku gunakan untuk memanggil dirimu, hai Raja Uruk? Naruto atau Gilgamesh?" Canda Kami-sama dengan senyumnya yang terhalang oleh cahayanya sendiri.

"Hahaha... Bukankah sudah kubilang padamu jika kau bisa memanggilku dengan Naruto? Aku lebih suka dipanggil dengan nama itu." Naruto tertawa kecil mendengar candaan dariKami-samayang menurutnya lucu itu.

"Baiklah, Naruto-san. Apa yang ingin kau tanyakan pada ku?" Tanya Kami-sama dengan nada yang berubah serius, melihat perbedaan suasana, Naruto pun juga menjadi serius.

"Ini soal Holy Grail... Jika aku boleh bertanya padamu, apa yang bisa dilakukannya?" Tanya Naruto sedikit penasaran, karena Holy Grail di dunianya hanya bisa mengabulkan permintaan saja.

'Mungkinkah jika konsep Holy Grail di dunia ini sama dengan di dunia ku?' Tanyanya pada dirinya sendiri.

"Holy Grail ciptaan ku, dapat meregenerasi segala macam penyakit serta luka. Besar, kecil, serta yang fatal sekalipun. Juga bisa menyembuhkan seseorang atau menghidupkan kembali orang yang sudah mati, tapi jika orang tersebut tidak mati dalam waktu yang tak lama. Serta mengabulkan permintaan, dengan syarat permintaan itu tak bertujuan untuk menghancurkan dunia." Ucap Kami-sama tanpa beban, Naruto yang mendengar hal itu membelalakkan matanya.

'S-sekuat itu kah? Menyembuhkan segala macam penyakit serta luka fatal, menghidupkan kembali orang yang telah mati, bahkan juga bisa mengabulkan segala macam permintaan... I-ini... Sangat jauh berbeda dari apa yang aku bayangkan.' Batin Naruto terkejut saat mengetahui bahwa Holy Grail di dunia ini lebih kuat daripada di dunianya dahulu. Karena penasaran, Naruto pun kembali bertanya.

"Sekuat itu kah? Lalu... Mengapa kau dengan sangat mudah memberikannya pada ku?"

"Untuk sebuah bantuan yang sangat berharga dari mu... Kurasa itu sepadan." Ujar Kami-sama enteng.

...

...

...

Sweatdrop...

...

...

...

'Jika semudah itu kau mempercayai orang lain... Aku tak yakin kerajaan surga mu ini bisa bertahan lama, Kami-sama...' Batin Naruto dengan sebuah keringat sebesar biji jagung di dahinya. Menatap sang Kami-sama, seakan-akan sang Kami-sama tiba-tiba memiliki dua kepala.

"Kenapa kau melihat ku seperti itu?" Tanya Kami-sama saat dirinya terus dipandang oleh Naruto, sedikit merasa risih lebih tepatnya.

"... Tak apa-apa... Hanya... Ah sudahlah, lupa kan saja... Jadii... Kapan kita berperang?" Tanya Naruto yang masih sweatdrop.

"Esok hari, jika kau tak keberatan."

Menganggukkan kepalanya, Naruto bangkit dan beranjak pergi.

"Baiklah, kalau begitu aku mohon pamit, aku ingin beristirahat untuk besok."

"Tunggu sebentar Naruto-san. Biarkan aku memberikan mu Holy Grail dan Ramuan keabadian terlebih dahulu." Suara sang Kami-sama, menghentikan langkah kaki Naruto lagi.

"Huh? Bukankah seharusnya kau memberikan ku kedua benda itu saat perang sudah usai?"

Menggeleng pelan, Kami-sama mengutarakan alasannya. "Aku tahu... Tapi, entah kenapa. Aku merasa harus memberikannya kepada mu sekarang juga, aku bisa merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi esok hari."

Naruto mengangkat bahunya tak peduli, "Itu terserah padamu, jika kau memang mau memberikannya sekarang juga atau tidak... Semua itu terserah padamu." Ucap Naruto malas.

"Baiklah kalau begitu." Tak lama kemudian. Kami-sama menyatukan kedua tangannya, seketika keluar sebuah cahaya yang amat terang, sangat terang hingga seluruh inci ruangan itu tersinari.

Sriingg~

'S-silau sekali.' Batin Naruto dan Michael bersamaan, mereka berdua berusaha menutup mata mereka agar cahaya yang terang itu tidak merusak penglihatan mata mereka.

Saat cahaya itu mulai meredup, tampaklah di tangan kanan Kami-sama, ada sebuah cangkir yang terbuat dari emas yang mengkilap, dihiasi dengan permata serta manik-manik, sebuah mahakarya yang sangat indah yang tak bisa Naruto pungkiri, di sekeliling Holy Grail, tampak pendar putih keemasan yang bersinar dengan tenang.

'Ini... Tak salah lagi... Ini Holy Grail. Ha~hahaha tak peduli walaupun berbeda dunia, aku tetap mengenal perasaan tenang dan damai ini.' Pikir Naruto tersenyum senang saat melihat Cawan Suci itu.

Mengalihkan pandangannya dari tangan kanan Kami-sama, Naruto melihat sebuah botol berada di genggaman tangan kirinya, sebuah botol kecil seukuran genggaman tangan yang berisi cairan berwarna merah.

'Dan... Itu pasti Ramuan keabadian, agak berbeda dari yang kutahu.' Pikirnya lagi sambil melihat botol kaca tersebut dengan seksama. Tak lama kemudian suara dari Kami-sama membuyarkan lamunannya.

"Ini adalah Holy Grail dan Ramuannya. Kuberikan ini padamu sebagai tanda terima kasih ku." Ucap Kami-sama sambil menyodorkan kedua benda itu kepada Naruto.

"Sebelum aku menerimanya... Aku... Ingin bertanya sesuatu... Bagaimana kau bisa menciptakan ramuan keabadian dengan begitu mudah?" Tanya Naruto saat mengetahui ada yang ganjil dari munculnya ramuan itu.

"Kalau hal itu... Aku menciptakannya dari seluruh tanaman herbal yang ada di surga... Tentu saja dengan bahan dan komposisi yang sama dengan ramuan yang dulu kau miliki." Jelas Kami-sama santai, itu memang benar karena surga punya banyak jenis-jenis tanaman yang tidak ada di bumi.

"Ah... Baikla-" Saat ingin mengambil kedua benda itu. Holy Grail tiba-tiba berubah menjadi cahaya dan dengan cepat masuk ke tubuhnya.

"H-huh?" Naruto melongo. Melihat tangan kanan Kami-sama yang sekarang kosong lalu kearah badannya, tangan-badan-tangan-badan, seterusnya sampai akhirnya ia bertanya.

"A-apa yang terjadi?" Tanya Naruto dengan wajah bodohnya. Michael yang melihat tingkah Naruto, tak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa.

"Hahaha... Naruto-dono tenang lah, biarkan ayah yang menjelaskan apa yang terjadi padamu." Ucap Michael sambil sedikit tertawa.

"Itu benar, Naruto-san. Holy Grail telah menerima diri mu sebagai tuannya, jadi jangan bingung karena Holy Grail memasuki tubuhmu, sekarang... Apa kau merasakan sesuatu yang berbeda dengan dirimu?" Naruto yang mulai merasakan sesuatu yang berbeda dengan dirinya, menganggukkan kepalanya.

"Baguslah kalau begitu, dan ini... Ramuan keabadian milikmu, ambillah." Tanpa perlu di katakan dua kali Naruto langsung menerimanya, merasa belum membutuhkan ramuannya, Naruto pun berniat menyimpannya di tempat penyimpanan harta miliknya.

Sringg~

Seketika di belakangnya ada sebuah lubang berwarna putih keemasan berdiameter 50 centimeter. Melihat sedikit pertunjukan kekuatan miliknya, Kami-sama dan Michael menunjukkan ketertarikan mereka.

'Inikah... Kekuatan miliknya itu? Luar biasa.' Batin Michael dan Kami-sama kagum. Lalu dengan santai, Naruto melemparkan botol kaca yang dipegangnya ke arah lubang itu, seketika itu pula lubang tersebut menutup.

"Eh? Naruto-san kenapa kau membuangnya?" Tanya Michael heran saat Naruto melemparkan botol kaca tersebut dengan entengnya.

"Hmm? Ah... Tidak, aku tidak membuangnya... Aku menyimpannya di tempat penyimpanan milikku, jadi... Apa masih ada yang ingin kita bicarakan disini?" Naruto bertanya dengan wajah datarnya, melihat kedua orang didepannya tidak menjawabnya, Naruto menyimpulkan kalau tak ada lagi yang perlu di bahas.

"Baiklah... Kalau begitu, aku mohon pamit." Naruto langsung pergi dari tempat itu, meninggalkan kedua orang yang masih terdiam di tempat mereka

"Jadi... Bagaimana menurutmu, Michael?" Tanya Kami-sama, mengalihkan perhatiannya kepada Michael saat Naruto sudah keluar dari ruangan itu.

"Jujur saja, Ayah... Aku amat kagum akan kekuatan yang dimilikinya... Aku dapat merasakannya... Aura itu... Sebuah kekuatan yang begitu indah, megah, dan begitu agung, tapi... Juga sangat amat berbahaya dan mematikan di saat yang bersamaan." Jawab Michael yang masih tetap memandang pintu yang baru saja di lewati oleh Naruto.

Senang akan tanggapan dari 'Anak'-nya, Kami-sama pun tersenyum senang.

"Aku pun berpikiran hal yang sama denganmu." Mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang di lihat Michael.

'Kurasa... Dunia akan menjadi lebih menarik dengan hadirnya Naruto.'

At Naruto.

"Hmm~... Hmm~... hmm~... Sekarang... Apa yang harus kulakukan?" Naruto bersenandung sambil berjalan santai di jalan setapak, ia berhenti sejenak memikirkan seorang gadis manis yang kemarin menjadi temannya.

"Hmm... Apa aku menemui Gabriel saja ya? Ah... Tidak, tidak... Mungkin sekarang dia sedang sibuk, jadi lebih baik aku tak mengganggunya sekarang. Jadi... Apa yang bisa ku lakukan?" Tanya Naruto pada dirinya sendiri. Mengangkat bahunya saat tak menemukan jawaban dari pertanyaannya. Naruto pun melanjutkan perjalanannya.

"Mungkin aku menunggu di rumah mereka saja, hmm... Memasak sesuatu untuk menghabiskan waktu luang ku mungkin tak masalah untukku." Ucap Naruto sambil tersenyum lebar ketika ada sebuah ide cemerlang muncul di otaknya.

Timeskip

Esok harinya...

Terlihat banyak malaikat berkumpul ditengah lapangan yang sangat luas, bahkan saking luasnya, malaikat yang jumlahnya jutaan itu ketika dikumpulkan disana, lapangan itu masih amat sangat luas ukurannya.

Para malaikat yang berkumpul itu memakai pakaian perang yang mengeluarkan aura suci, sambil membawa senjata-senjata tajam mulai dari pedang, tombak, kapak, mace, trisula, panah, dan lain-lain, juga ada yang membawa senjata tumpul seperti palu, gada, dan sebagainya.

Tak jauh dari para malaikat itu, terlihat Naruto, Michael, dan Kami-sama yang berdiri di atas podium. Naruto memakai sebuah zirah emas yang menutupi seluruh bagian tubuhnya kecuali bagian kepalanya, dan zirah yang dikenakannya mengeluarkan aura yang membuat para malaikat bahkan Michael, bersusah payah menahan diri mereka agar tidak bertekuk lutut dihadapannya. (Bayangkan saja zirah emasnya Gilgamesh.)

"Hooaamm~... Y-ya ampun... Kenapa kita harus berkumpul pagi-pagi buta?" Tanya Naruto yang masih dalam keadaan mengantuk. Memang, hari masih sangat pagi... Untuknya...

"Maaf soal itu, Naruto-dono. Tapi kita memang harus pergi ke medan perang secepat yang kita bisa, karena para Akuma dan Dai-tenshi pasti sudah memulai peperangan mereka." Ucap Michael tersenyum simpul saat melihat keadaan Naruto.

"Kalian juga ikut berperang?" Tanya Naruto sambil mengangkat sebelah alisnya, ia mengira hanya dirinya dan Kami-sama saja yang berperang.

"Tentu saja, Naruto-dono. Memangnya ada apa anda bertanya seperti itu?" Tanya balik Michael saat ia mendengar sebuah pertanyaan yang menurutnya aneh itu.

"Tak apa-apa, hanya saja. Aku mengira hanya diriku dan Kami-sama saja yang pergi berperang." Jelas Naruto santai sambil menguap, dari tadi ia berusaha untuk menghilangkan kantuknya.

"Ah... Aku mengerti apa maksudmu, tapi... Bukankah lebih baik menerima bantuan sebanyak mungkin?" Michael kini mulai mengerti apa maksud Naruto.

"Ya sudahlah kalau itu yang kau mau. Apa kita bisa pergi sekarang?"

Michael sedikit mengangguk sebagai jawaban, membalikkan badannya menghadap jutaan malaikat yang sudah siap tempur di depannya. Michael mulai berbicara dengan suara lantang.

"Wahai saudaraku! Hari ini kita semua barkumpul disini untuk menghentikan sebuah perang yang sudah berlangsung lama, dan banyak merenggut nyawa orang-orang yang tidak bersalah. Maka dari itu! Mari berperang bersama! Untuk menghentikan ulah dari para saudara kita yang telah tersesat." Ucapan lantang Michael yang penuh dengan aura kepemimpinan, membuat Naruto kagum dengan sikap Michael yang langsung berubah 180 derajat ketika dibutuhkan.

"Uoohh!"

"Ayoo!"

"Dengan sepenuh hati, kami akan melakukannya, Michael-sama!"

Begitulah seruan-seruan yang berasal dari para prajurit malaikat itu, dengan semangat yang berkobar-kobar, mereka semua mengembangkan sayap mereka lebar-lebar, menunggu perintah lain dari sang komandan perang mereka.

"Kalau begitu tunggu apa lagi? Mari turun ke bumi!" Teriak lantang Michael membuat para prajurit malaikat mulai mengibas-ibaskan sayap mereka, tak lama kemudian mereka terbang ke langit dan menuju ke arah pintu gerbang raksasa surga yang terbuka lebar.

"Jadi... Apa kita bisa pergi sekarang?" Tanya Naruto sambil melipat tangannya di dadanya, penampilannya sekarang sangat berbeda selain memakai zirah emasnya. Rambut pirang halusnya kini terlihat berdiri tegak dan terarah kebelakang, serta memakai sepasang anting emas di kedua telinganya, selain itu, tak ada hal lain yang berbeda darinya.

"Baiklah, mari... Kita pergi." Kini Kami-sama bersuara setelah lama terdiam. Dengan cekatan, Michael langsung membuat sebuah lingkaran sihir berwarna putih yang berpola aksara rumit.

Sring~~

Lingkaran itu bersinar terang sesaat sebelum akhirnya meredup, saat sinar itu padam, Naruto dan yang lain tak dapat ditemukan lagi, meninggalkan tempat itu menjadi sunyi.

Di medan perang.

Ditengah medan perang, tampaklah dua kubu yang sedang berseteru satu sama lain, mereka saling melemparkan serangan demi serangan yang berkekuatan penghancur skala tinggi ke arah lawannya.

Ditempat lain yang agak jauh dari medan perang, terlihat ada dua makhluk yang saling memandang satu sama lain, yang satunya memiliki 12 sayap hitam legam di belakang tubuhnya, berambut hitam pendek, dan memegang sebuah tombak cahaya di tangan kanannya, dan yang lainnya memiliki rambut hitam, bermata merah dan membawa sebuah pedang besar dan sebuah tombak hitam. Pandangannya mereka terus bertemu, sampai ada salah satu dari mereka yang berbicara.

"Lucifer... Tak bisakah kau menghentikan perang ini? Lihatlah... Ras mu dan ras ku sama-sama merasakan penderitaan disini... Kenapa?" Tanya sang malaikat jatuh dengan pelan kepada orang di depannya, Lucifer, yang hanya mendengus saat mendengar ucapan malaikat jatuh ini, lalu dengan lantang Lucifer membalasnya.

"Kau tahu Bellial! Semua itu salah kalian! Para malaikat terbuang yang mengotori tempat tinggal kami, Underworld, yang seharusnya menjadi milik kami sendiri!" Ucap Lucifer lantang, seketika muncul dua sayap kelelawar besar berwarna hitam kelam yang muncul di punggungnya.

"Jadi... Kau lah yang seharusnya menyerah dari awal! Bellial!" Teriak Lucifer sambil menerjang kedepan, Bellial yang melihat Lucifer berniat menyerangnya hanya sedikit menghela nafas lelah, sebelum melemparkan tombak cahaya yang ada di genggamannya dengan kencang ke arah Lucifer.

Syutt!

Lucifer dengan cepat menghindar kesamping, ia tak mau menerima serangan Bellial secara langsung. Lucifer tahu kalau serangan Bellial tak bisa diremehkan.

Sring-

Dhuarr!

Sebuah ledakan langsung tercipta ketika tombak cahaya tersebut menyentuh tanah, diiringi dengan sebuah cahaya terang dan sebuah gumpalan asap yang membumbung tinggi, Lucifer melirik sebentar kejadian itu, sebelum perhatiannya teralih kepada Bellial yang sudah menyiapkan puluhan tombak cahaya di sekelilingnya, Lucifer sedikit menyeringai saat Bellial mulai terlihat serius.

"Bagus! Bellial! Seharusnya kau bersikap seperti itu dari tadi!Mokushiroku : Shi no Koro! (Apocalypse : Maw of The Death!)" Setelah selesai bicara, Lucifer langsung menciptakan lingkaran sihir berwarna hitam di telapak tangannya, seketika lingkaran sihir itu membesar dan mengeluarkan asap hitam yang berjumlah puluhan. Asap hitam tersebut langsung membuka 'mulutnya', terlihatlah deretan gigi-gigi dan taring tajam yang dapat menembus daging dengan mudah.

Asap hitam itu terus meluncur ke arah Bellial, berusaha untuk mencabik-cabik tubuhnya. Bellial langsung melemparkan tombak-tombaknya kearah puluhan asap hitam itu agar tidak sampai menyentuh dirinya.

Syuutt

Jrasshh

Jrasshh

Jrasshh

Asap-asap hitam yang terkena lemparan tombak Belial langsung menjadi kumpulan asap tipis sebelum akhirnya memudar, tapi ada beberapa asap hitam yang lolos dan langsung mengigit beberapa bagian tubuh Bellial.

"Ughh! S-sial..." Bellial sedikit meringis saat tangan dan kakinya terkena gigitan dari asap hitam tersebut, meninggalkan bekas gigitan yang mengeluarkan aura hitam. Bellial langsung saja menggunakan sihir penyembuh pada dirinya sendiri, tak berapa lama, semua lukanya sembuh dan tak meninggalkan bekas apapun.

"Hahahaha! Bellial! Tak ku sangka kau begitu lemah untuk ukuran seorang gubernur malaikat jatuh!" Lucifer tertawa keras sambil memperlihatkan senyum sadisnya.

"Jangan senang dulu Lucifer, aku belum kalah." Ucap Bellial yang mengeraskan wajahnya. Tanpa aba-aba, Bellial dengan cepat menciptakan sebuah tombak cahaya raksasa dan melemparkannya ke arah Lucifer, Lucifer yang tak mau menerima serangan tombak milik Bellial begitu saja, mengepakkan sayapnya dan terbang menuju Bellial yang melemparkan tombak cahayanya padanya.

Swoosshh!

Sringg!

Lucifer sedikit bermanuver di udara saat tombak Bellial hampir mengenai tubuhnya, Lucifer menahan gesekan tombak cahaya tersebut dengan kedua senjata yang di bawanya, setelah tombak tersebut melewatinya, Lucifer semakin mempercepat gerakannya. Belial yang melihat Lucifer semakin mendekat kearahnya, dengan cepat menciptakan dua buah pedang cahaya.

Tringg!

Senjata Lucifer dan Bellial menciptakan sebuah hempasan angin yang kencang saat senjata mereka beradu, mereka saling menatap tajam satu sama lain. Lucifer menyeringai sebelum berucap dengan angkuh kepada Bellial.

"Boleh juga seranganmu, Bellial! Tapi itu bel-"

Sringg~

Belum sempai Lucifer menyelesaikan ucapannya, sebuah sinar terang berwarna putih keemasan muncul dan menggangunya.

"Huh?/Huh?" Lucifer dan Bellial menggumamkan kata yang sama saat mereka melihat asal cahaya terang tersebut, tak lama kemudian muncul sebuah siluet seseorang yang berdiri tegak di udara kosong.

'Apa itu?' Batin heran Lucifer dan Bellial bersamaan, sambil terus melihat cayaha terang tersebut, melupakan bahwa fakta jika mereka berdua sekarang sedang berperang.

At Naruto

Beberapa saat yang lalu

Saat Naruto membuka matanya, bukan lapangan yang sangat luas yang menyapa pengelihatannya, tapi sebuah medan perang yang sangat mengerikan, semuanya bertarung, malaikat, malaikat jatuh, dan iblis menyerang satu sama lain. Naruto menyadari jika Michael ataupun Kami-sama tidak bersama dirinya, Naruto mendengus geli sambil ujung bibirnya sedikit terangkat ke atas.

'He~h... Memisahkan ku dengan dirinya, agar aku tidak menggangu pertarungannya, heh~ licik sekali.' Batin Naruto sambil menyeringai saat mengetahui jika dirinya di pindahkan di tempat yang tak seharusnya.

Melihat kembali medan perang yang ada di depannya, matanya melihat hal lain, banyak senjata-senjata mulai dari yang beraura suci sampai yang terkutuk bertebaran dimana-mana. Mengedarkan pandangannya kearah lain, pandangannya terkunci saat ia melihat dua orang yang juga melihat dirinya, Naruto dapat merasakan jika dua orang di depannya ini adalah dua makhluk supranatural.

'Jadi... inikah aura yang dikeluarkan oleh malaikat jatuh dan juga iblis? Aura mereka terasa sama tapi... Juga berbeda di saat yang bersamaan... Gelap dan kelam...' Pikir Naruto saat merasakan aura dari dua orang di bawahnya, ya... Di bawah, karena saat ini Naruto sedang melayang dengan sedikit mengalirkan Prana-nya agar tidak terjatuh karena teleportasi dadakan tadi.

"Hei... Manusia! Apa yang kau lakukan disini?" Tanya salah satu makhluk di bawahnya dengan sombong, Naruto hanya sedikit melirikkan matanya kearah iblis yang berdiri di dekat sang malaikat jatuh yang tadi bertarung dengannya, sedangkan sang malaikat jatuh diam dan memandang tajam Naruto yang terbang di atas mereka. Naruto hanya sedikit menyeringai sebelum menjawab dengan wajah mengejeknya.

"Memangnya kau punya hak apa untuk bertanya padaku? Zasshu! (Anjing kampung!)" Ejek Naruto dengan wajahnya yang tak kalah sombong.

"Kau! Beraninya kau menghinaku seperti itu, manusia!" Sang iblis pun marah sambil mengeluarkan tekanan kekuatannya yang membuat tanah pijakannya bergetar, malaikat jatuh yang berada disampingnya tatap diam, tapi gerak-gerik tubuhnya berada di posisi siap menyerang.

"Kau tak tahu siapa diriku?!" Teriak iblis tersebut dengan murkanya.

"Aku tak tahu dan tak mau tahu tentang dirimu, anjing kampung." Naruto terus menghina iblis di depannya, matanya lalu berpindah kepada malaikat jatuh di samping iblis tersebut yang masih terdiam, Naruto merasakan jika dua orang didepannya ini belum mengeluarkan seluruh kekuatan yang mereka miliki.

'Heh... Ini akan menarik...' Batin Naruto sambil menyeringai.

"Kurang ajar! Berani sekali kau manusia! Aku Lucifer! Iblis pertama dan rajanya para iblis, jadi takutlah padaku!" Ucap Lucifer marah sambil sedikit mengeluarkan kekuatannya yang membuat tanah disekitarnya melayang, melawan hukum gravitasi karena tekanan kekuatan darinya. Naruto masih berdiri tegap di udara kosong, sama sekali tidak terpengaruh dengan tekanan yang di berikan oleh Lucifer.

"Lalu? Kau tahu, kau tak pantas untuk memerintah seorang raja agung sepertiku, jadi... Sadarilah tempatmu, iblis kecil." Naruto terus menghina Lucifer, seringainya semakin melebar saat melihat wajah Lucifer yang semakin terlihat marah karena terpancing hinaannya.

"Kau!-" Lucifer belum sempat menyelesaikan ucapannya karena ada seseorang yang memanggilnya.

"Lucifer..." Akhirnya sang malaikat jatuh mengangkat suaranya, Lucifer yang merasa terpanggil mengalihkan perhatiannya kepada malaikat jatuh yang berada di sampingnya.

"Ada apa Bellial? Apa kau tidak melihatku berurusan dengan manusia disana?!" Ucap Lucifer sambil menunjuk Naruto dengan pedang besar hitamnya, wajahnya terlihat sangat marah.

"Tenangkan dirimu dahulu Lucifer... Apa kau tak sadar jika ia hanya memancing amarahmu... Lagipula, aku merasakan jika dia bukan manusia biasa... Jadi kusarankan agar kau berhati-hati." Bellial tidak gentar dengan bentakan dari Lucifer, matanya terus memandang tajam Naruto sambil mengeratkan genggamannya pada kedua pedang cahayanya. Lucifer memandangi Bellial sebentar, sebelum pandangannya kembali ke arah Naruto.

"Kheh... Aku tak peduli jika dia bukan manusia biasa, bagaimanapun juga dia tak akan bisa mengalah-"

Sringgg-

Jlebbh!

"?!"

Lucifer terpaksa harus menjauh dari tempatnya berdiri tadi, karena sebuah pedang bergagang emas berusaha untuk menusuk tubuhnya. Tak hanya dirinya, Bellial pun juga terkejut dengan pedang tersebut yang muncul secara tiba-tiba. Bellial dan Lucifer langsung mengedarkan pandangan mereka kepada manusia yang tetap terbang dengan tenang diatas mereka, dengan tangan kanannya terulur kedepan.

"Kau... Apa kau yang melakukannya?" Tanya Bellial yang mulai mengibaskan pelan keduabelas sayap hitamnya. Naruto hanya menutup matanya dan sedikit mendengus, sebelum kembali membuka mata merahnya dan memandang tajam kedua makhluk didepannya.

"Jika memang aku melakukannya... Memangnya apa yang akan kau lakukan? Gagak kotor?" Ucap Naruto yang memunculkan kembali sebuah pedang di tangan kanannya, Naruto kembali menunjukkan seringainya.

"Kau tak akan pernah bisa mengalahkan raja seperti diriku! Jadi... Menyerahlah dan biarkan aku membunuh kalian berdua!"

Dasshh-

"!"

Trankkk!

Bellial terkejut saat musuhnya muncul di hadapannya dalam sekejap mata, Bellial dengan cepat langsung memblokir tebasan yang mengarah pada lehernya dengan pedang di tangan kirinya. Ia dengan cepat menebaskan pedang di tangan kanannya untuk membalas serangan tersebut.

Sreett-

Singg!

Trankk!

Tapi usahanya sia-sia ketika sebuah perisai berbentuk bundar dan berwarna emas melayang dan menghalangi arah serangannya.

"Cih!" Bellial mendecih tak suka saat serangannya gagal, ia terbang menjauh dan mendarat di dekat Lucifer, Lucifer yang melihat Bellial mundur malah mengejeknya.

"Apa yang kau lakukan Bellial? Dia hanya manusia! Tak ada apa-apanya, kenapa kau malah mundur, apa kau takut padanya?" Ucap Lucifer sedikit menghina Bellial, Bellial yang dihina tak menggubrisnya sama sekali.

"Kau tahu Lucifer... Dia kuat. Apapun kekuatan yang ia miliki, itu benar-benar berbahaya. Ia bisa menciptakan senjata-senjata dari udara kosong." Ucap Bellial pelan, matanya terus melihat Naruto yang tetap berdiri tegak dengan sebilah pedang tajam di tangan kanannya dan sebuah perisai bundar yang terus melayang dan berputar-putar di dekatnya.

"Sepertinya... Kita harus berkerja sama untuk mengalahkannya. Aku tak yakin jika kita melawannya tanpa berkerja sama akan berhasil dengan mudah." Lanjut Bellial, pandangannya lalu terarah ke Lucifer yang malah mendengus kesal.

"Kenapa aku harus berkerja sama denganmu? Aku tak sudi! Lagipula aku tak akan kalah dengan mahkluk rendahan sepertinya, kau itu hanya terlalu lemah dan pengecut untuk mengalahkannya Bellial! Jadi kau tak perlu membuat-buat alasan jika manusia itu sangat kuat! Itu tak akan pernah terjadi!" Lucifer berucap dengan lantang, kedua senjata yang dapat genggamannya semakin mengeluarkan aura hitam pekat.

"Lucifer! Kali ini dengarkan diriku! Ia sangat kuat! Aku bisa merasakannya, ia bahkan menahan kekuatannya dari tadi!" Bellial mulai kehabisan kesabarannya, matanya menatap tajam Lucifer yang tetap menyeringai dan menatapnya dengan pandangan merendahkan.

"Kau kira aku akan mendengarkan ucapanmu Bellial? Jangan bermimpi!" Lucifer menjeda ucapannya sebelum melanjutkannya dengan berteriak kencang.

"Akan ku bunuh manusia rendahan itu!" Ucapnya lantang sambil mengibaskan dan mengembangkan sayapnya dan terbang kearah musuhnya.

Naruto yang melihat datangnya Lucifer hanya menyeringai dan tertawa kecil, ia lalu menghilangkan perisai dan pedang yang ada di tangan kanannya menjadi serpihan debu berwarna emas. Naruto yang melihat jarak Lucifer mulai mendekat, hanya mengangkat tangan kanannya.

"Wake up...Ea." Ucap Naruto pelan.

Tak lama muncul sebuah lingkaran emas di samping kanannya yang mengeluarkan sebuah gagang berwarna emas.

Naruto mengulurkan tangannya dan menggenggam gagang tersebut, lalu menariknya keluar. Setelah seluruh bagian benda itu keluar, tampaklah sebuah pedang yang berbentuk silinder berwarna hitam dengan garis-garis merah yang menghiasi tiap bagiannya, dan dengan sebuah pelindung tangan emas berlapis tiga. Naruto sedikit mengayunkan pedangnya ke kanan dan kiri, lalu dengan santai menebaskan pedangnya ke depan.

Trankkk!

Naruto dengan santai memblokir tebasan dari Lucifer, Naruto akui Lucifer memiliki tenaga yang besar, itu terbukti dari tanah yang menjadi pijakan Naruto retak dan menciptakan bentuk jaring laba-laba. Lucifer sedikit terkejut saat serangan di tahan dengan mudah oleh manusia di hadapannya. Naruto yang melihat wajah terkejut Lucifer semakin melebarkan seringainya, sebelum pandangannya bertemu dengan pedang yang berada di genggaman tangan Lucifer.

"Hmm... Heh~... Kau tahu... Iblis kecil, aku punya pedang yang sama seperti yang kau genggam sekarang, tapi... Kurasa menjelaskannya padamu hanya akan menghabiskan waktuku, jadi..."

Trink-!

Swoosshh!

Naruto mendorong pedang Lucifer, membuat sang pemilik sedikit oleng karena sedikit kehilangan keseimbangan, sebelum menyerang Lucifer dengan menusuknya.

Lucifer terpaksa terbang menjauh untuk menghindari tusukan dari Naruto, Naruto yang mengetahui jika lawannya akan menghindari serangannya, langsung mengubah jalur serangannya dan menebaskan pedangnya ke udara kosong, seketika tercipta sebuah gelombang horizontal berwarna merah yang bergerak cepat kearah Lucifer.

Wosshh!

"Cih! Kurang ajar!" Lucifer kembali mendecih, ia lansung menancapkan pedangnya ketanah lalu dengan kuat menariknya dan menebaskannya kearah gelombang merah yang terus bergerak kearahnya.

Voomm!

Sringgg-

Dhuarrr!

Sebuah gelombang vertikal berwarna hijau kehitaman tercipta, tak lama kemudian kedua gelombang energi penghancur tersebut beradu satu sama lain, dan menciptakan sebuah ledakan besar.

Lucifer masih berdiri kokoh di tempatnya, pandangannya terhalangi oleh asap debu yang tercipta setelah ledakan terjadi. Matanya terus melihat ke segala arah, mencari keberadaan sang lawan.

Swoosshh!

"!" Lucifer terkejut saat sebuah pedang silinder tiba-tiba keluar dari kepulan debu dan menerjang kearahnya.

Trinkkk!

Lucifer langsung menahan serangan tiba-tiba yang mengarah langsung ke tubuhnya, pandangannya bertemu dengan mata yang berwarna sama seperti miliknya.

"Heh~ bagus... Bagus sekali, iblis kecil... Kau masih bisa bertahan sampai sekarang." Ucap Naruto yang melihat serangannya gagal. Seringai angkuhnya semakin melebar sebelum melanjutkan ucapannya.

"Tapi... Waktu bermain sudah sele-"

Syuut!

Jlebbh!

Naruto langsung melompat mundur ketika sebuah tombak cahaya sepanjang dua meter berusaha menusuk kepalanya, matanya langsung terkunci kepada malaikat jatuh dengan dua belas sayap hitam, yang mendarat di dekat Lucifer.

"Lucifer, bukankah sudah kukatakan... Kita harus berkerja sama... Dia kuat." Ucap Bellial pelan, yang kembali menciptakan sebuah tombak cahayanya. Lucifer yang mendengar perkataan dari Bellial mendecih tak suka.

"Cih! Baiklah... Tapi ingat! Kita berkerja sama hanya kali ini saja! Setelah manusia ini musnah, kita menjadi musuh kembali." Ucap Lucifer sambil menggeram marah, matanya kembali terarah kepada manusia dihadapannya.

"Heh~... Jadi... Kalian ingin berkerja sama untuk mengalahkanku?... Hmm boleh juga..." Ucap Naruto yang membuat kedua makhluk didepannya terkejut, bukan karena apa, jarak mereka dari Naruto cukup jauh.

"Bagaimana bisa ia tahu rencana kita?" tanya Bellial terkejut, Lucifer yang ditanyai seperti itu membalas dengan sarkas.

"Jika aku tahu, aku tak akan terkejut seperti mu Bellial!" Jawab Lucifer kasar.

'Sha Nagba Imuru... Heh... Kau memang sangat berguna sekali.' Batin Naruto sambil terus melihat kedua makhluk di depannya yang terlihat terkejut.

"Kheh~... Apa kalian terkejut? Apapun yang kalian rencanakan, tak akan berguna padaku!" Ucap Naruto lantang. Tanpa aba-aba, Naruto langsung menerjang kearah Lucifer yang tersentak melihat kecepatan lawannya yang jauh berbeda dari tadi, Bellial langsung terbang menjauh saat Naruto mendekat kearah mereka.

Dashhh

Trankk

Trinkkk!

Sringgg!

Lucifer dan Naruto pun beradu pedang, walaupun berhasil menahan semua serangan yang dilancarkan oleh Naruto, Lucifer tampak kewalahan dengan kecepatan yang dimiliki oleh lawannya. Bellial yang melihat Lucifer kesulitan langsung membantunya.

Syuutt

"Hmm?" Naruto bergumam heran saat ujung matanya melihat datangnya sang malaikat jatuh, yang membawa sebuah tombak cahaya sepanjang dua meter, berniat untuk menusuknya.

'Oh... Jadi dia ingin menusukku dari belakang? Curang sekali...' Naruto mendorong Lucifer dengan mudah, menyebabkan sang iblis sedikit terdorong kebelakang. Setelah mendorong Lucifer, Naruto dengan cepat menciptakan sebuah tombak dengan ujung perak dan melemparkannya kepada Bellial.

Syuuutttt-!

Bellial melebarkan matanya saat melihat kecepatan dari tombak perak yang mengatakan kepadanya, ia tak punya waktu untuk menghindar atau pun menciptakan sebuah lingkaran pelindung. Dengan gerakan lambat ia bisa melihat tombak tersebut meluncur deras kearah pundak kanannya.

Jlebbhhh!

"Urkkhh!" Bellial menggeram menahan rasa sakit, tubuhnya yang terbang di udara harus rela terbanting ketanah saat keseimbangannya menghilang, karena tombak perak yang mengenainya, menembus pundaknya dan juga tulang-tulangnya. Bellial langsung menggenggam erat bagian pundaknya yang terasa amat sakit. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menarik tombak tersebut dari pundaknya walaupun terasa amat menyakitkan baginya.

"Urghhh! G-gahh!" Bellial berteriak keras saat tombak perak tersebut berhasil tercabut dari pundaknya. Setelah tombak itu tercabut, tampaklah sebuah lubang bekas tusukan dari tombak tersebut yang menembus daging dan tulangnya, Bellial langsung merapalkan sihir penyembuh kearah lukanya.

Naruto yang melihat keadaan Bellial dari kejauhan melebarkan seringainya, matanya kembali terarah ketempat dimana Lucifer berdiri, tapi pengelihatan tak menemukan sang iblis. Saat mengedarkan pandangannya kearah lain, sebuah kepalan tangan yang berselimut aura hitam bergerak cepat ke bagian perutnya.

Buakkhh!

Lucifer dengan kuat memukul perut Naruto dengan dengan kepalan tangannya yang sudah berselimut sihir penghancur skala tinggi yang dipadatkan, ia berniat untuk memusnahkan lawannya dengan satu serangan mematikannya.

Syutt~ Blar! Blar! Blarr! Bummm!

"Ugh!" Naruto tersentak dengan matanya yang sedikit melebar saat menerima pukulan penghancur dari Lucifer sebelum ia terlempar jauh ratusan meter dan membentur tanah dan akhirnya berhenti saat tubuhnya menabrak tanah dengan keras, menciptakan sebuah asap tebal dan retakan yang cukup lebar.

Lucifer yang melihat hasil dari serangannya tersenyum senang, tak hanya dirinya. Bellial yang melihat kejadian itu sedikit menyunggingkan senyum tipis. Tapi kesenangan mereka memudar saat melihat sebuah siluet seseorang yang keluar dari kepulan asap tebal tersebut. Lawan mereka keluar dari asap tebal tersebut dengan santai dan dengan malas mengelus zirah yang di bagian perut, seakan-akan membersihkan debu yang menempel di zirahnya

"Apa!?" Teriak Lucifer tak percaya saat serangan mematikannya tak berdampak apapun kepada makhluk dihadapan mereka.

Bellial tak berkata apa-apa, tapi wajahnya menunjukkan kekagetannya yang sama seperti Lucifer rasakan.

Tap~

Tap~

Ta-

Swoosshh!

"!"

Lucifer dan Bellial melebarkan mata mereka ketika melihat musuh mereka menghilang dari pandangan mereka, Lucifer dengan panik melihat kesegala arah, berusaha mencari keberadaan sang lawan.

"Kau melihat kemana?... Aku disini..." Sebelum sebuah suara seseorang yang berada di sampingnya mengagetkannya, Lucifer dengan cepat membalikkan tubuhnya menghadap ke arah lawannya, tapi yang di dapatkannya adalah telapak tangan yang terbuka lebar dan menggenggam wajahnya dengan erat.

Dash!

Brakh! Brakh! Dhuasss! Bummm!

Lucifer merasakan jika tubuhnya didorong dan diseret dengan kuat oleh tangan yang menggenggam wajahnya, tubuhnya terbanting ke tanah dan terus terseret dan akhirnya berhenti saat menabrak sebuah batu besar yang berada tepat di belakangnya.

"Ohok!" Lucifer langsung memuntahkan darah segar dari mulutnya.

"Lucifer!" Bellial yang sudah pulih, melihat keadaan Lucifer. Ia bangkit untuk menolongnya sebelum sebuah bilah pedang tajam menyapa pengelihatannya.

Jrasshh!

"A-arrrkkhhh!" Bellial kembali terjatuh ketanah ketika tangan kirinya tertebas oleh pedang tersebut, tak hanya tangan kirinya saja yang tertebas, dua sayap kirinya juga ikut terpotong. Menyisakan sepuluh sayap hitam, enam di bagian kanan dan empat di bagian kiri tubuhnya.

Naruto yang memotong tangan kiri serta dua sayap hitam Bellial hanya menatap datar keadaan sang malaikat jatuh tersebut. Naruto menghilangkan pedang perak yang berada di genggaman tangan kirinya, tangan kanannya masih setia menggenggam erat Ea, mengangkat tangan kirinya, Naruto menatapnya lekat-lekat.

'Jadi... Inikah kekuatan Holy Grail?... Sangat berguna sekali.' Sebenarnya Naruto juga tak memerlukan Holy Grail, karena darah dewanya juga terus menyembuhkan semua luka yang diterima tubuhnya, matanya kembali melihat kedua makhluk yang menjadi lawannya. Entah kenapa Naruto sedikit merasa kecewa.

"Huh... Jadi... Inikah kekuatan dari para makhluk supernatural? Mengecewakan sekali..." Ucap Naruto merendahkan, wajahnya yang awalnya menunjukkan sikap sombong kini menunjukkan raut datar. Lucifer yang merasa terhina, menggeram marah dan memaksakan tubuhnya bangkit walaupun sekujur tubuhnya merasa sakit.

"Jangan pernah rendahkan diriku manusia! Aku tak selemah yang kau pikiran!" Lucifer langsung bangkit dan berlari kearah Naruto, ia tak melihat jika lawannya sedikit menyeringai. Ucapan Naruto selanjutnya membuatnya menghentikan langkahnya.

"Jadi... Kau masih bisa berdiri? Baiklah... Kurasa ini sudah saatnya untuk menunjukkan kepadamu betapa jauhnya perbedaan kekuatan kita berdua... Iblis kotor...AlterMundo:Tesoro Del Rey ,Babylonia! (Alter World : The King's Treasury, Babylon!)"Ucap Naruto lantang sambil melangkahkan kakinya, seketika seluruh medan perang berubah menjadi sebuah padang pasir yang terbuat dari emas.

Lucifer dan Bellial kembali dibuat terkejut oleh kejadian dihadapan mereka, mereka berdua mengedarkan pengelihatan mereka ke segala arah, tapi yang mereka lihat hanyalah padang pasir emas, jutaan senjata yang tertancap tepat di atas pasir emas, tumpukan emas dan permata yang menggunung, dan juga Piramida emas yang menjunjung tinggi ke langit yang seluruhnya terbuat dari balok-balok emas murni.

Mereka mengedarkan pengelihatan mereka kearah langit yang juga berubah, memperlihatkan sebuah istana terbang yang seluruh bagiannya terbuat dari emas,permata, dan juga berlian, yang dikelilingi oleh bulatan-bulatan berukuran raksasa yang semuanya juga terbuat dari gumpalan emas yang mengintarinya. Sederhananya, mereka sekarang merasa sedang berada di dunia lain.

"Indah bukan... Ini... Adalah tempat penyimpananku... Tempat harta-harta milikku, harta yang tak akan habis! Walaupun kugunakan untuk membeli dunia yang kalian kotori itu, ribuan kali. Harta-harta ku tak akan berkurang sedikitpun."

Lucifer kembali memasang posisi siaga, begitupula yang dilakukan Bellial, walaupun kehilangan satu tangan, ia masih berusaha berdiri dan menciptakan sebuah tombak cahaya yang saat ini berada di genggaman tangan kanannya.

"Ada apa? Kalian terkejut? Ini adalah kekuatan dari seorang raja seperti ku... Jadi kalian tak perlu terkejut seperti itu." Ucap Naruto yang mendekati Lucifer dan Bellial, Naruto masih memegang erat Ea di genggaman tangan kanannya, dan menentengnya di bahunya dengan santainya. Matanya melihat kearah Lucifer dan Bellial yang terlihat kebingungan.

'Sepertinya 5 menit sudah cukup untuk mengalahkan mereka berdua... Aku benci berlama-lama, jadi... Sebaiknya ku selesaikan saja dengan cepat.' Batin Naruto yang mengatur waktu dunia miliknya.

"Dimana ini?" Tanya Lucifer yang semakin bersiaga, keadaanya saat ini sangat memperhatikan, tubuh mulai merasa lemah sedikit demi sedikit.

'Apa ini? Kenapa aku merasa semakin lemah?' Batin Lucifer yang heran dengan keadaanya, ia melirik Bellial yang menganggukkan kepalanya seakan mengetahui arah pikiran Lucifer.

"Bukankah sudah kubilang... Ini dunia ciptaanku, tempat penyimpanan harta milikku, dan juga..." Naruto menjeda ucapannya, ia sedikit membungkuk badannya, dan mengarahkan pedangnya ke depan. Lalu, dengan tiba-tiba menerjang kearah Lucifer dan Bellial berada.

"Tempat yang akan menjadi kuburan kalian." Lanjut Naruto yang mengangkat tinggi-tinggi Ea untuk menusukkannya kepada Bellial, yang langsung menciptakan berlapis-lapis perisai cahaya untuk melindunginya.

Trankk!

Trankk!

Trankk!

Tapi perisai cahaya yang diciptakannya ditembus dengan mudah oleh senjata musuhnya itu, membuatnya harus menjauh dari tempatnya berdiri agar tak terkena serangan musuhnya secara langsung. Setelah mendarat cukup jauh, Bellial langsung melemparkan tombak yang digenggamnya dengan kuat.

Wussshh!

Tringg!

"Jangan terus menghindar makhluk kotor, datang dan hadapi aku!" Teriak Naruto saat ia menghindari tombak cahaya Bellial. Lucifer yang melihat Bellial menjadi sasaran empuk, berusaha untuk menolongnya.

Deg!

"Ukhh! A-apa ini? Dan kenapa aku tak bisa mengeluarkan sihir ku?" Tanya Lucifer ketika ia ingin mengeluarkan teknik sihirnya, entah kenapa selalu gagal, dan ia merasakan jika tubuhnya semakin memberat. Matanya langsung melihat kearah kakinya, matanya membulat ketika ia melihat jika kedua kakinya seperti terjerembab ke dalam tanah dan sangat berat untuk diangkat.

"Urrgghhh!"

Mengalihkan perhatiannya kearah asalnya teriakan, Lucifer melihat Bellial yang tubuhnya diikat dan diangkat dengan rantai-rantai emas yang muncul dari sebuah lingkaran emas, Lucifer melebarkan matanya saat tahu apa yang akan dilakukan lawannya.

"Bellial! Kurang ajar kau manusia!Shi no Yari!" Teriak Lucifer marah, ia melemparkan tombak hitam di genggamannya kearah Naruto yang bersiap untuk menusuk Bellial.

Wushhh!

"Hmm?" Naruto yang berniat untuk menusuk tubuh Bellial setelah berhasil menangkapnya, merasakan datangnya sebuah serangan. Ia hanya melirikkan matanya kearah tombak hitam yang meluncur dengan cepat kearahnya.

'Padahal waktunya sudah hampir habis... Cih! Dasar pengganggu.' Batin Naruto yang tetap berdiri di tempatnya, saat tombak itu mulai dekat dengannya Naruto hanya memiringkan kepalanya, membiarkan tombak hitam itu melewatinya, surai pirangnya bergerak pelan karena tertiup angin.

Blarrr!

Sebuah ledakan besar terjadi setelah tombak hitam itu melewatinya, Naruto memutar sedikit kepalanya untuk melihat dampak serangan itu. Naruto mendengus ketika melihat hanya kepulan debu emas yang membumbung tinggi akibat serangan itu.

"Menyedihkan..." Ucap Naruto datar, matanya kembali melihat Bellial yang sangat kesulitan untuk melepaskan dirinya dari jeratan rantai emasnya. Tanpa rasa bersalah Naruto membanting tubuh Bellial dengan keras ke permukaan pasir.

Sringgg-

Bummm!

"Akkhhh!" Bellial berteriak kencang saat tubuh lemahnya dibanting dengan kuat, pandangannya mulai memburam. Dengan susah payah, Bellial berusaha untuk bangkit, dan ia harus kembali terjerembab karena rantai-rantai yang mengikatnya menariknya untuk tetap tergeletak di atas pasir.

"Uggh..." Dengan pandangan memburam, Bellial melihat musuhnya yang berjalan dengan santai kearah Lucifer.

"T-tidak... J-jangan... J-jangan l-lawan dia... Lucifer... L-larilah..." Ucapnya lirih, walaupun pandangannya memburam, ia dapat melihat dengan jelas jika Lucifer diserang habis-habisan.

.

.

.

.

Tringg!

Trankk!

Sringg!

Buakh!

Bamm!

Jual beli serangan pun tak bisa dihindari, Lucifer dengan susah payah harus menahan dan menghindari setiap serangan yang dilancarkan oleh lawannya, ia kesulitan dengan kecepatan lawannya yang menurutnya tak masuk akal.

Dash!

Swusshh!

Trankk!

Dan ia kembali menahan sebuah tebasan yang mengarah ke lehernya, Lucifer melihat kesegala arah, ia tak dapat menemukan Naruto yang bergerak begitu cepat.

'Jika di teruskan seperti ini... Aku akan berakhir di sini... Jadi pilihan yang tersisa hanyalah kabur dari tempat ini... Tapi bagaimana caranya?' Batin Lucifer yang terus melihat ke sekelilingnya.

Swushh!

'Atas!' Batinnya berteriak, Lucifer cepat-cepat mengangkat pedangnya dan menahan serangan yang datang dari atas tubuhnya, lalu dengan cepat kembali melapisi tangannya dengan sihir penghancur. Tanpa pikir panjang, Lucifer langsung memukul Naruto yang belum sempat untuk menghindar.

Buakh!

Syutt-Blarrrh!

'Lagi-lagi?' Batin Naruto saat perutnya kembali menerima mentah-mentah pukulan penghancur milik Lucifer, tubuhnya langsung terlempar jauh dan membentur tumpukan pasir emas yang menggunung. Setelah Naruto menerima serangan Lucifer, dunia yang tadinya penuh dengan emas kini kembali seperti semula. Lucifer yang melihat semuanya kembali seperti semula, menyeringai senang.

'Beguitukah caranya? Jadi ia harus benar-benar berkonsentrasi. Jika konsentrasinya hilang maka semuanya akan kembali seperti semula. Hahahaha! Mudah sekali!' Batin Lucifer berteriak kesenangan berfikir jika ia sudah menang, ia lalu memanggil tombak hitam miliknya, seketika muncul sebuah tombak hitam di tangan kirinya. Lucifer terus tersenyum senang.

"Kau kira aku akan kalah dengan begitu saja! Jangan bercanda!" sebelum sebuah teriakan membuat kesenangannya langsung lenyap begitu saja, matanya menatap kearah lawannya yang kini sudah bangkit kembali dan tanpa luka apapun di tubuhnya. Jauh berbeda dengan keadaan dirinya, tubuhnya penuh dengan luka gores dan tebasan akibat serangan yang tak bisa ia tahan.

'Cih! Sudah kuduga serangan milikku tak akan berdampak apapun padanya. Aku harus cepat-cepat pergi dari tempat ini!' Lucifer langsung membalikkan tubuhnya dan terbang menjauh dari tempat itu dengan cepat. Naruto yang melihat musuhnya ingin melarikan diri tak membiarkannya begitu saja.

"Enkidu! Tangkap dia!" Sepuluh lingkaran emas langsung tercipta di belakang tubuhnya, lalu menembakkan rantai-rantai dengan ujung tajam berwarna emas, rantai-rantai itu meliuk-liuk di udara dan mengejar Lucifer yang terus menghindari setiap rantai yang berusaha untuk menangkapnya. Rantai-rantai itu berhenti bergerak ketika targetnya sudah jauh dari area jangkauannya. Naruto yang melihat Lucifer ingin memanggil hartanya yang lain, sebelum sesuatu menghentikan niatnya.

"Ah... Malaikat jatuh tadi... Aku hampir melupakannya." Ucap Naruto sambil mencari keberadaan sang malaikat jatuh, matanya dengan cepat terkunci pada sang malaikat jatuh yang kini sedang tergeletak tak berdaya di atas tanah dengan tubuhnya yang masih terikat oleh rantai-rantainya. Naruto lalu memerintahkan rantainya untuk mengangkat tubuh sang malaikat jatuh tinggi-tinggi, dan-

Syuu-

Bumm!

Bumm!

Bumm!

Membanting tubuh lemah sang malaikat jatuh ketanah berkali-kali, sang malaikat jatuh yang di perlakukan seperti itu hanya berteriak lemah.

"Akkhh..." Bellial menggeram lemah saat tubuhnya diangkat dengan kasar, tubuhnya kini diselimuti oleh darahnya sendiri, seluruh tulang yang berada di dalam tubuhnya remuk saat ia dibanting tadi. Ia kesakitan, sungguh, rasa sakit yang saat ini diderita olehnya membuatnya lebih memilih kematian.

Naruto yang melihat Bellial mulai pasrah, menciptakan dua buah lingkaran emas di hadapannya, kedua lingkaran emas itu mengeluarkan dua buah benda yang mirip seperti dua buah pedang kembar emas, Naruto mengulurkan tangannya kanannya yang sudah tak lagi menggenggam Ea, karena sudah terselip di punggungnya.

"Enki!" ucap Naruto setengah berteriak.

Sringg-

Tak!

Kedua bilah pedang emas itu langsung menyatu, menciptakan sebuah busur emas. Naruto lalu menciptakan sebuah anak panah yang lebih mirip pedang yang berbentuk seperti bor panjang, dari udara kosong. Naruto lalu meletakkan pedang aneh itu di tali busurnya dan menariknya dengan pelan.

"Let me show you the true rainbow is! Caladbolg!" Teriak Naruto sambil menembakkan pedang spiralnya yang kearah Bellial.

Syutthhh!

Pedang itu meluncur deras kearah Bellial, meninggalkan jejak distorsi angin yang berputar dan berwarna-warni.

Jlebbhhh!

Pedang itu dengan mulus menancap dan menembus tubuh Bellial, Bellial membelalakkan matanya saat tubuhnya tertembus pedang itu, dengan lidah yang mulai kelu, Bellial mengucapkan dua buah kata.

"A-azazel... S-shemhazai."

Booommm!

Itu kata-kata terakhir dari sang malaikat jatuh, sebelum tubuhnya hancur karena ledakan besar yang berasal dari pedang yang tertancap di tubuhnya, menghempaskan segalanya, tanah di sekitarnya terbang kesegala arah, gunung tinggi yang berada di belakang tubuhnya hancur dan rata dengan tanah, serta rantai-rantai yang mengikat tubuhnya kini menghilang, menyisakan kehancuran sejauh mata memandang. Naruto yang melihat Bellial sudah musnah, menghilangkan busurnya dan membalikkan tubuhnya, lalu berjalan menjauh.

"Vimana!" Ucap Naruto pelan. Seetika dari udara kosong, muncul sebuah bahtera atau tahta terbang yang terbuat dari emas dan zamrud. Naruto lalu menaikinya dan duduk dengan tenang di singgasana emasnya.

"Kejar dia! Cepat!" Perintah Naruto kepada bahtera terbangnya sambil sedikit mengelus perutnya yang terasa sedikit berdenyut. Tanpa diperintah dua kali oleh tuannya, Vimana terbang dan mengejar Lucifer.

'Cih! Aku lengah. Jika aku lebih cepat tadi, tentu aku bisa dengan mudah membunuh kedua makhluk kotor itu... Aku terlalu meremehkan mereka berdua, sekarang... perutku terasa nyeri.' Batin Naruto yang menahan nyeri di bagian perutnya yang dipukul dua kali. Matanya terus menatap tajam kearah perginya Lucifer.

"Kau kira bisa melarikan diri dariku begitu saja? Iblis kecil? Mari kita lihat..."

Vommmm!

Dalam sekejap mata, Naruto dan bahtera terbangnya tak dapat dilihat lagi, selain blur berwarna emas dan hijau yang bergerak sangat cepat.

At Azazel and Shemhazai

Beberapa menit yang lalu...

Ditempat yang sangat jauh dari tempat pertarungan Naruto, Bellial, dan Lucifer, terlihat banyak malaikat, malaikat jatuh, dan iblis yang saling bertarung satu sama lain dengan sangat sengit, tapi diantara mereka semua ada seorang malaikat jatuh yang dengan santainya terbang dengan kedua belas sayap hitam kelamnya yang mengepak dengan pelan. Penglihatannya terus melihat ke sekitarnya, dan dengan cepat ia menciptakan sebuah tombak cahaya.

Jrashhh!

"Arrghhh!" Seekor iblis terkena serangan dari tombak cahaya yang ia ciptakan, sebuah tombak cahaya yang ukurannya dua kali panjang tubuh sang iblis. Ia melihat sang iblis yang menderita karena terkena tombaknya, sebelum berubah menjadi kepulan debu hitam. Merasakan ada yang ingin menyerangnya dari belakang, Sang malaikat jatuh kembali menciptakan sebuah tombak cahaya dan melemparkannya ke belakang tanpa memutarkan tubuhnya.

Jlebbhh!

"Grukkhh!" Satu ekor iblis kembali terkena tombaknya, tepat mengenai dan menembus leher sang iblis. Iblis tersebut berusaha untuk mencabut tombak yang menusuk tenggorokannya, sebelum akhirnya ikut berubah menjadi kepulan debu hitam seperti iblis sebelumnya.

"Huh... Membosankan... Apa tak ada seseorang yang kuat?" Ucap sang malaikat jatuh tersebut dengan malas, ia memiliki perawakan seorang pria yang memiliki rambut hitam yang anehnya memiliki poni pirang.

"Azazel!" Merasa terpanggil, Azazel membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang memanggil dirinya, pandangannya langsung terkunci kepada seorang malaikat jatuh yang memiliki sepuluh sayap hitam, berambut perak, dan mata violet. Ia tahu betul siapa malaikat jatuh tersebut, malaikat jatuh itu adalah salah satu teman seperjuangannya, Shemhazai.

"Shemhazai? Ada apa? Kenapa kau terlihat sangat terburu-buru seperti itu?" Tanya Azazel heran saat melihat temannya yang terengah-engah, terlihat dari nafasnya yang memburu dan keringat yang mengalir deras dari pelipisnya.

"Hah... Kau... Hah... Apa kau merasakan tekanan kekuatan dari Lucifer dan Bellial, dan sebuah energi asing yang muncul ditengah pertarungan mereka? Tanya Shemhazai terbata-bata sambil berusaha untuk menstabilkan nafasnya.

"Ya... Aku merasakannya. Memangnya ada apa?" Tanya balik Azazel yang masih belum mengerti apa maksud dari Shemhazai.

"Aku... Merasakannya... Mereka bertarung sengit... Tapi, Lucifer ataupun Bellial tak sanggup untuk mengalahkannya. Lalu, dalam sekejap aku merasakan jika pancaran energi Lucifer, Bellial, maupun orang yang bertarung dengan mereka hilang dalam sekejap, lalu muncul kembali... Tapi... Bagian terburuknya adalah... Aku merasakan energi kehidupan Bellial sedikit demi sedikit mulai menghilang..." Ucap Shemhazai panjang lebar yang lama-kelamaan mulai mengecil di bagian akhir.

Tapi tentu saja Azazel dapat mendengarnya dengan jelas, seketika matanya melebar mendengar kabar yang dibawa oleh Shemhazai.

"Apa? Kalau begitu ayo kita bantu Bellial!" Teriak Azazel lantang, saat ia bersiap untuk terbang kearah lokasi Bellial, ucapan Shemhazai menghentikannya.

"Jangan Azazel! Jangan pergi ke sana! Makhluk yang di hadapi oleh Bellial dan Lucifer jauh lebih kuat daripada mereka berdua! Jika kau pergi ke sana itu sama saja dengan bunuh diri!" Shemhazai berusaha memperingatkan sahabatnya agar tidak pergi kearah Bellial berada.

"Tapi bagaimana mungkin aku membiarkan sahabat ku yang sedang dalam bahaya begitu saja! Shemha-"

Booommm!

Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, sebuah ledakan besar yang memekakkan telinga menginterupsinya. Dengan cepat Azazel dan Shemhazai melihat kearah ledakan, tak hanya mereka saja, seluruh malaikat, malaikat jatuh, dan iblis menghentikan pertarungan mereka untuk melihat kearah terjadinya ledakan tersebut.

"A-apa itu..." Seekor iblis mengangkat suaranya, ia menggenggam erat senjatanya walaupun seluruh tubuhnya bergetar setelah merasakan pancaran energi yang sangat besar dari ledakan tersebut.

"D-demi Ayah... Kekuatan macam apa ini, b-besar sekali..." Kali ini seorang malaikat yang berbicara, seluruh tubuhnya menegang, matanya bergetar saat melihat dampak dari ledakan tersebut, sebuah gunung yang menjulang tinggi tiba-tiba lenyap tak bersisa.

Walaupun jarak ledakan tersebut sangat, sangatlah jauh dari tempat mereka bertempur sekarang, tapi mereka tetap bisa merasakan hempasan dari ledakan tersebut.

"S-shemhazai..." Azazel berujar pelan dan bergetar, lehernya terasa kering dan sulit untuk berbicara.

"Ya... A-ada apa Azazel?" Tanya Shemhazai yang juga terbata-bata, seluruh tubuhnya bergetar dan berkeringat dingin.

"Apa kau merasakannya? Bellial... Energinya... Lenyap..." Ucap Azazel terbata-bata, ia berusaha untuk merasakan energi kehidupan dari sahabat karibnya, Bellial, yang lenyap begitu saja setelah terjadinya ledakan.

"... Ya... Azazel... Bellial... Dia gugur..." Shemhazai berucap pelan, tubuhnya bergetar, tangannya mengepal erat sampai tangannya memutih. Air mata perlahan-lahan mulai turun dari matanya.

Azazel terdiam, tangannya terkepal kuat, raut wajahnya menggeras, lalu pandangannya beralih ke arah Shemhazai.

"Shemhazai! Tegarkan dirimu! Ini peperangan, maka hal seperti ini adalah hal yang wajar, jadi hapus air mata yang mengalir dari matamu itu." Ucap Azazel lantang, tubuh Shemhazai menegang sesaat, Sebelum akhirnya Shemhazai menegakkan tubuhnya kembali, air mata yang sebelumnya mengalir dari matanya kini menghilang.

"Baiklah... Aku paham... Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Tanya Shemhazai kedapatan Azazel, Azazel terlihat berfikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan sebuah pilihan yang menurutnya lebih baik.

"Kita mundur dahulu... Aku tak yakin jika makhluk yang melawan Lucifer itu akan berhenti." Ucap Azazel dengan bijaksana, Shemhazai yang mendengar kata-kata dari Azazel menganggukkan kepalanya menyetujui pilihan yang diajukan Azazel.

"Baiklah, aku mengerti!" Shemhazai dengan cepat membalikkan tubuhnya, membuat para malaikat jatuh mengalihkan perhatian mereka padanya.

"Semuanya! Kita mundur! Sekarang ju-" Belum sempat Shemhazai menyelesaikan ucapannya, sesuatu yang terbang dengan cepat menggangunya.

Swusshh!

"Huh?" Azazel dan Shemhazai seketika bergumam bersama, mereka melihat Lucifer, sang raja iblis terbang kearah mereka dengan cepat, keadaannya sangat buruk, luka gores dan sabetan senjata tajam ada di sekujur tubuhnya.

"Itu Lucifer! Serang dia!" Teriak seorang malaikat jatuh lantang dengan melemparkan tombak cahayanya kearah Lucifer dan di ikuti oleh semua malaikat jatuh disana.

Lucifer yang melihat ada senjata yang datang ke arah, tentu saja dengan mudah menghindarinya.

"Kenapa dia datang kemari?" Gumam Azazel dan Shemhazai bersamaan, mereka semakin heran saat melihat Lucifer yang terburu-buru, beberapa saat kemudian barulah mereka mengerti apa yang terjadi.

'Lucifer sedang dikejar!' Batin mereka berdua panik, saat mereka mengalihkan perhatian mereka ke arah datangnya Lucifer, mereka melihat sebuah blur berwarna emas dan hijau yang bergerak sangat cepat dengan seseorang yang duduk di atasnya. Mereka seketika berkeringat dingin saat merasakan tekanan kekuatan dari orang yang menaiki benda tersebut.

'Sial!' Batin mereka berdua berteriak keras.

At Somewhere ini Underworld

Disebuah ruangan gelap yang hanya di terangkan oleh beberapa lilin saja, terlihat dua sosok lelaki yang sedang duduk saling berhadapan dengan meja sebagai pembatas mereka. Mereka duduk diam tanpa melakukan apapun sampai sebuah suara mengagetkan mereka berdua.

Brakkhh!

"Asmodeus! Beelzebub!" Teriak seorang iblis wanita berambut ungu panjang sedikit kehitam-hitaman dengan warna mata violet yang mendobrak pintu ruangan tersebut, dan memanggil seorang iblis lelaki berambut coklat dengan mata biru kehitaman dan iblis lelaki berambut hijau tua panjang sepundak dengan mata biru pucat dengan kencang.

"Ada apa Leviathan? Kenapa kau berteriak keras seperti itu?" Tanya Asmodeus kepada rekannya, Leviathan.

"Benar, lebih baik kau tenang dan ceritakan pada kami apa yang terjadi." Ujar Beelzebub untuk menenangkan teman perempuannya.

"Bagaimana aku bisa tenang?! Jika Lord Lucifer sedang diserang?!" Teriak Leviathan tiba-tiba, Asmodeus dan Beelzebub tersentak kaget dengan teriakan dari Leviathan.

"Di serang? Apa maksudmu?" Tanya Asmodeus heran, Beelzebub hanya menganggukkan kepalanya menyetujui pertanyaan dari Asmodeus. Mereka tidak pergi ke medan perang, karena Lucifer menyuruh mereka untuk menjauhi medan perang agar tidak menggangu 'kesenangannya'.

"Apa kalian tidak merasakannya? Lord Lucifer sekarang hampir mengeluarkan seluruh kekuatan penuhnya! Sekarang Lord Lucifer dalam bahaya! " Ucap Leviathan keras, Asmodeus dan Beelzebub yang mendengarnya, langsung melebarkan mata mereka.

"Apa?!"

"Bagaimana mungkin?!"

Mereka berdua berteriak, tuan dan raja mereka, serta iblis pertama sekarang sedang dalam bahaya.

Brakk!

"Kalau begitu kita segera pergi ke medan perang! Sekarang!" Ujar Asmodeus sambil menggebrak meja didepannya dengan kuat. Beelzebub hanya menganggukkan kepalanya dan langsung berdiri.

"Baik! Aku akan langsung mempersiapkan lingkaran sihir perpindahannya." Leviathan dengan cepat langsung menciptakan lingkaran besar berwarna biru cerah dengan aksara-aksara sihir kuno yang sangat untuk sulit dibaca.

Sringg!

Dan tak lama kemudian, ruangan tersebut menjadi kosong dan hening.

At Michael

Michael yang dari tadi mencari-cari Naruto yang terpisah dari tempat seharusnya, terdiam karena merasakan sebuah energi sihir yang beberapa hari ini dirasakannya. Mengalihkan pandangannya ke area medan perang lain yang jaraknya amat jauh dari tempatnya berada sekarang. Di tempatnya berada sekarang tak terjadi pertempuran karena mereka memang mencari tempat yang aman dari para iblis dan malaikat jatuh.

"..." Michael terdiam melihat para pasukan malaikat kembali dari pertarungan mereka. Setelah agak lama memandangi pasukan-pasukannya, Michael lalu mengangkat suaranya.

"Jadi... Bagaimana keadaan di sana?" Tanya Michael dengan wajahnya yang terlihat serius.

"Sesuai yang anda dan Ayah yang beritahukan kepada kami, Michael-sama. Naruto-dono datang dan sekarang sedang melawan para malaikat jatuh dan iblis." Jawab seorang malaikat yang memakai armor perak di sekujur tubuhnya bahkan sampai menutupi wajahnya, menundukkan tubuhnya dan diikuti oleh seluruh rekan-rekannya.

"Begitukah?... Naruto-dono... Kau terlalu bersemangat ya?" Ucap Michael sambil tersenyum, sebenarnya ia tidak memisahkan Naruto dengan dirinya dan Kami-sama saat ingin pergi ke medan perang, tetapi sang Kami-sama sendiri yang melakukannya.

'Kurasa ini saatnya untuk kami membantu Ayah.' Batin Michael mengingat jika 'Ayah'nya sedang bertarung sendiri dengan tiga makhluk penghancur dan dua naga surgawi.

"Baiklah! Ini saat kita pergi untuk membantu ayah yang sedang bertarung sendirian." Michael langsung mengepakkan dua belas sayap merpatinya, berbeda dengan para malaikat yang bersayap putih bersih, Michael memilikinya dua belas sayap yang berwarna emas terang.

"Mari! Kita pergi dan bantu ayah!"

"Ha'i!" Jawab seluruh malaikat serentak, Michael lalu terbang dan diikuti oleh para malaikat yang dipimpinnya.

Michael sedikit melihat kearah dimana para iblis dan malaikat jatuh berada, ia sedikit khawatir dengan keadaan Naruto yang melawan jutaan iblis dan malaikat jatuh sendirian, ia ingin membantunya tapi mengingat kembali apa yang di katakan oleh Kami-sama, Michael mengurungkan niatnya.

'Naruto-dono... Semoga kau baik-baik saja.'

At Lucifer

Dengan kecepatan tinggi, Lucifer terbang dan melewati dan menghindari serangan tombak cahaya dari malaikat dan malaikat jatuh. Ia berniat untuk mendapatkan bantuan dari jenderal-jenderal perangnya dengan telekinesis, tapi dengan para malaikat dan malaikat jatuh yang menyerangnya terus-terusan ia tak bisa melakukannya.

"Cih! Sialan! Kenapa mereka terus menyerang ku!?" Lucifer menggeram marah, ia terus menghindar dengan kedua sayap hitam besarnya.

'Sial! Dimana mereka?! Seharusnya mereka sudah ada disini karena tekanan kekuatanku yang sudah aku keluarkan dari tadi!" Batin Lucifer sedikit panik saat ia mulai merasakan lawannya mulai mendekat, dengan sangat cepat.

"Iblis! Jangan lari kau!" Lucifer membelalakkan matanya, ia melihat ke belakang mendapati musuhnya yang sedang mengejarnya dengan menaiki sebuah benda terbang aneh.

'Apa?! Cepat sekali!' Tak hanya dirinya saja yang mendengar teriakan Naruto, seluruh malaikat dan malaikat jatuh yang menyerang Lucifer berhenti untuk melihat siapa yang berteriak. Lucifer berhenti dan bersiap untuk melemparkan tombaknya.

"Matilah kau manusia!Spear of the death!" Ucap Lucifer lantang, lalu melemparkan tombaknya kearah Naruto, tombaknya mengeluarkan aura hitam serta kehijauan.

Wushh-

Grepp!

Lucifer melebarkan matanya, melihat serangannya tak hanya gagal tapi tombaknya yang digenggam dengan mudahnya oleh lawannya dengan tangan kanannya, bahkan musuhnya terlihat malas untuk menangkapnya.

"... Bukankah sudah kubilang, Iblis? Kau tak akan pernah bisa mengalahkan diriku, jadi menyerahlah dan biarkan aku membunuhmu!" Ucap Naruto datar yang menangkap tombak hitam dengan tangan kanannya, menarik tangannya yang mengenggam tombak milik Lucifer, lalu dengan kuat melemparkan tombak tersebut ke arah pemiliknya, dua kali lebih cepat.

Wusshh!

Tombak hitam itu meninggalkan jejak garis hitam di jalur yang dilewatinya, dengan mengeluarkan aura yang lebih besar dari saat Lucifer melemparnya. Lucifer yang melihat hal itu hanya bisa pasrah saat tombak tersebut mendekat ke arahnya, banyak pasukan iblis yang ingin membantunya tapi sebelum mereka membantunya, iblis-iblis itu sudah terlebih dahulu di serang oleh para malaikat jatuh, para malaikat tidak menyerang, mereka mundur karena jumlah pasukan mereka mulai menyusut.

Sringg!

"Lord Lucifer!" Lucifer dengan cepat langsung melihat asal teriakan, mendapati jika teman-teman dan jendral perangnya datang tepat waktu.

Wuss-

Grepph!

Sretthh!-brakh!-brakh!-brakh!

Lucifer menangkap tombak yang hampir menusuknya, dan dengan sekuat tenaga menahannya dengan kedua tangannya, Lucifer terseret jauh kebelakang karena menahan laju tombaknya sendiri, tanah yang menjadi pijakan kakinya tak bisa menahan tubuhnya yang terseret.

"Haah... Haah... Haah, k-kalian terlambat." Ucap Lucifer disela-sela nafasnya, melihat tiga temannya. Asmodeus, Beelzebub, dan Leviathan, yang berlari kearahnya.

"Maafkan kami, Lord Lucifer, kami datang terlambat karena kami tak menerima telepati dari Anda, dan kami kira anda tak mau diganggu saat melawan para malaikat dan malaikat jatuh." Ucap Beelzebub sambil membungkuk badannya, berharap jika Lucifer tidak memusnahkan dirinya disini.

"My lord, izinkan aku menyembuhkan mu." Ucap Leviathan sedikit panik saat melihat keadaan Lucifer.

"Silahkan, tapi usahakan kau melakukannya dengan cepat." Ujar Lucifer yang terduduk lemas di atas tanah, matanya tetap memandang tajam musuhnya yang jauh di hadapannya. Asmodeus yang melihat Lucifer memandang tajam, mengalihkan arah penglihatannya ke musuh tuannya.

'Jadi... Dia orang yang melawan Lord Lucifer? Dia... Sangat berbahaya.' Batin Asmodeus. Asmodeus adalah ahli strategi jadi ia terus memperhatikan lawannya untuk mencari celah.

Sringg

Asmodeus dengan cepat merapalkan mantra dan membuat lingkaran sihir kacil di telapak tangan kanannya, lingkaran sihir itu bersinar hijau redup sebelum menembakkan sebuah energi hijau tua sebesar kelereng kearah Naruto, lebih taptnya kearah kepalanya.

"Noroi no Kyu : Bakuhatsu (Curse Orb : Explosion)." Ucap Asmodeus pelan.

Syuut~

"Hmm?" Naruto sedikit menaikkan alisnya ketika melihat sebuah benda hijau kecil meluncur deras ke arahnya, Naruto menganggap remeh benda kecil itu, sebelum benda itu mengenai kepalanya, Naruto merasakan tekanan sihir yang dipadatkan, Naruto yakin jika ia menerimanya begitu saja, mungkin kepalanya yang akan hancur. Naruto hanya sedikit memiringkan kepalanya untuk menghindari 'serangan' tersebut.

Tink!

Sringg-

Dhuuaarrr!

Tepat sesudah menghantam tanah, benda hijau itu bersinar terang sebelum akhirnya membuat ledakan besar. Naruto hanya memandang malas kejadian itu, melihat kembali ke arah Lucifer yang sudah siap untuk bertarung kembali dengannya dan dibantu oleh ketiga temannya.

'Huh... Menarik... Tapi kurasa aku harus cepat menyelesaikan tugasku sebelum semuanya semakin sulit dan semakin la-'

"Zero Sesshi : Burizādo! (Zero Celcius : Blizzard!)

Srink!

Syuut!

Jrasshh!

Naruto dipaksa untuk menghentikan pikirannya ketika ada sebuah bongkahan es berukuran raksasa dan tajam yang datang ke arahnya, dengan perintah batin tuannya, Vimana langsung bermanuver untuk menghindarinya.

'Sangat lama.' Batin Naruto malas sambil melihat kearah iblis wanita yang menyerangnya.

'Ku akui... Dia memang cantik... Tapi sayang... Dia iblis.' Tambah Naruto saat ia melihat sepasang sayap kelelawar besar di punggung wanita itu. Melihat kearah lain, Naruto mendapati seorang iblis lelaki berambut hijau tua yang bersiap menyerang dengan lingkaran sihirnya.

"Tenki Sosa-Shiki : Sandaboruto! (Weather Manipulation Formula : Thunderbolt!)"

Awan bergemuruh sesudah Beelzebub menyelesaikan mantranya, Awan hitam kelam berkumpul di atas Naruto, Naruto memandang tertarik hal itu.

Dhuuaarrr!

Sebelum akhirnya ia harus melompat dari Vimana saat ada sebuah kilat besar yang ingin menyambarnya, Vimana yang tersambar hanya sedikit bergetar sebelum memudar menjadi cahaya emas. Lucifer yang melihat Naruto yang terus menghindar dari serangan teman-temannya, mulai merapal dan membuat lingkaran sihir berwarna hitam di tangannya.

"Mokushiroku : Shi no Nigiri! (Apocalypse : Grips of Death!)" Ucap Lucifer lantang yang menghantamkan tangannya ke tanah dengan kuat, seketika muncul retakan-retakan besar yang terus menjalar sampai ke tempat Naruto berada, Naruto yang merasa ada sesuatu yang datang dengan cepat melompat menjauh dari retakan tersebut.

Tak lama setelah ia melompat muncul puluhan tangan besar berwarna hitam dari retakan tersebut, yang terus bergerak mengejarnya untuk menangkapnya. Naruto yang tak ingin tertangkap langsung mengarahkan pedangnya ke arah tangan-tangan tersebut.

"Cih! Ea! Musnahkan mereka!" Sebuah pusaran berwarna merah muncul dan menyelimuti seluruh bagian dari Ea yang mulai berputar kencang dan menciptakan suara bising.

Wurrrrr!

"Heaa!" Naruto langsung menusukkan pedangnya ke depan, kearah puluhan tangan yang terus bergerak kearahnya.

Blarr!

Puluhan tangan yang mengejarnya musnah seketika, Naruto dengan sigap langsung melihat ke sekelilingnya untuk mencari lawan-lawannya yang tiba-tiba menghilang. Naruto terus mencari sebelum sebuah suara keras mengalihkan perhatiannya.

"Mokushiroku : Tamashi to Jinsei no Nusumi! (Apocalypse : Orb of Soul and Life Steal!)"

Naruto melihat Lucifer yang terbang di udara dan melemparkan sebuah bola energi berwarna merah, hitam, dan hijau yang berputar kencang kearahnya. Naruto mempersiapkan kembali pedangnya untuk membalikkan serangan tersebut, sebelum tiga suara lain mengganggu dirinya yang berasal di atasnya.

"Kumiawase Gijutsu : Shumatsu-Ron! (Combination Technique : Doomsday!)" Tiga suara yang berteriak bersamaan itu adalah Leviathan, Beelzebub, dan Asmodeus kencang yang menggabungkan kekuatan penghancur mereka menjadi satu bola energi raksasa. Mereka melakukan ini karena Lucifer memberi tahu mereka jika orang yang sedang mereka lawan sekarang bukan manusia biasa. Dengan sekuat tenaga, mereka bertiga melemparkan bola raksasa itu.

Gruuuuhhh!

Bola energi raksasa itu bergetar hebat sebelum akhirnya meluncur kearah Naruto. Naruto mendecih saat ia tahu tak punya kesempatan untuk menghindar.

"Cih! Excalibur! Avalon! Datanglah!" Teriak Naruto lantang, sebelum ia ditelan dua serangan penghancur tingkat tinggi.

Sringg-

Dhhuuuarr!

Sebuah ledakan yang sangat besar, membuat langit malam bersinar terang bagaikan langit siang, tempat dimana Naruto berada sebelumnya kini telah menjadi kawah raksasa dengan asap hitam yang menjulang tinggi ke langit. Lucifer dan teman-temannya yang melihat ledakan tersebut menghela nafas lega, sekarang... Musuh mereka telah lenyap. Lucifer sedikit menyeringai senang, sekarang ia hanya harus mengalahkan Kami-sama dan menjatuhkan surga.

"Kha-hahahaha... Akhirnya pengganggu sudah lenyap! Sekarang saatnya untuk membunuh Ayah dan menjatuhkan sur-"

Sringg!

Sebuah sinar yang amat terang, lebih terang daripada sinar dari ledakan tadi membuat Lucifer menghentikan ucapannya.

"Huh? Apa itu?" Tanya Lucifer heran saat melihat arah datangnya sinar terang itu, ia merasakan aura suci yang amat kental datang dari tempat di mana musuhnya di musnahkan. Merasa ada yang janggal, Lucifer langsung membelalakkan matanya saat menyadari sesuatu.

"I-ini... Tak mungkin! Bagaimana ia masih bisa hidup?!" Teriak Lucifer saat melihat sebuah siluet seseorang yang berdiri tegap di tengah kawah raksasa yang masih berasal tebal. Leviathan dan dua temannya yang lain juga tak kalah terkejut, serangan kombinasi mereka yang bisa menghancurkan satu negara dengan sekejap mata, tak bisa untuk memusnahkan musuh mereka.

"Apa?!" Teriak mereka serentak, tiba-tiba dari tempat musuh mereka berada muncul ribuan persegi sebesar pintu dengan warna emas bertebaran sepanjang area pertarungan. Mereka mendengar sebuah kalimat sebelum seluruh persegi terbang tersebut menembaki mereka dengan berbagai macam senjata.

" Puerta de Babylonia! (Gate of Babylon!)"

Tak hanya Lucifer dan teman-temannya saja yang kaget dengan jutaan senjata yang tiba-tiba menghujani mereka, jutaan pasukan iblis dan malaikat jatuh, serta Azazel dan Shemhazai yang terus melihat pertarungan mereka dari jauhpun tak kalah terkejutnya.

"Cepat menghindar dan buat sihir pelindung!" Perintah Lucifer kepada para bawahannya, mereka semua berusaha untuk menghindari serangan mendadak tersebut dengan bermanuver di udara dengan sayap mereka, ada juga yang membuat barrier pertahanan dan ada juga yang mencoba menangkis senjata-senjata yang datang kearah mereka, tapi masih banyak para iblis dan malaikat jatuh yang terkena serangan itu.

"Cih! Sia-!"

Syuuutttt!

Lucifer terpaksa harus menghentikan ucapannya ketika ia melihat sebuah tombak panjang berwarna merah darah meluncur ke arahnya, menargetkan jantungnya sebagai sasaran, Lucifer menyiapkan pedangnya untuk menghalau tombak tersebut.

Tinggg!

Sret-

Lucifer melebarkan matanya saat tombak tersebut mengubah arah lajunya, menggagalkan upaya Lucifer untuk menghalaunya.

"T-tak mungk-"

Jleebbb!

"Ohok!" Lucifer langsung memuntahkan darah segar dari mulutnya saat tombak merah tersebut berhasil mengenai titik vitalnya, jantungnya. Lucifer bersimpuh sambil memegangi tombak yang mengenai jantungnya untuk mencabutnya.

"Grrkkh!" Lucifer menggeram kesakitan saat ujung tajam tombak tersebut bergesekan dengan dagingnya.

Trink!

"Akkhhh!"

Tombak itu jatuh dan tergeletak begitu saja di atas tanah, sebelum akhirnya memudar dan menghilang menjadi partikel-partikel emas. Lucifer memegangi dadanya yang terluka. Entah mengapa, luka tersebut tak mau menutup padahal ia sudah menggunakan seluruh sihir penyembuh yang diketahuinya.

'K-kenapa? Kenapa lukaku tak mau menutup? Apa... Ini kutukan?' Batin Lucifer yang masih menahan rasa sakitnya. Ia melihat sekelilingnya, banyak iblis bawahannya yang mati mengenaskan karena dihujani senjata suci. Perlahan-lahan wajahnya mengeras, Lucifer mulai bangkit walaupun tubuhnya sedikit bergetar.

"Grrrhh! Manusia! Beraninya kau!" Teriak Lucifer marah, perlahan wujudnya berubah, di dahinya muncul dua tanduk hitam panjang, dan di belakang tubuhnya muncul sebuah ekor dengan ujung bagaikan bilah pedang tajam, sayap berubah menjadi tulang tetapi terbungkus oleh api hitam kemerah-merahan, matanya berubah hitam dengan pupilnya yang tetap berwarna merah, Lucifer merenggangkan tangannya dan membuka kedua telapak tangannya.

"Gram! Shi no Yari! Musnahkan!"Tak hanya wujudnya saja yang berubah, suaranya berubah menjadi berat dan menakutkan, seketika kedua senjatanya yang tadinya tergeletak jauh darinya muncul di genggamannya.

"Lord Lucifer!/Lucifer-sama!" Lucifer membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang memanggilnya, ia melihat ketiga temannya yang juga merubah wujud mereka, Leviathan berubah drastis dengan kulit putihnya berubah menjadi ungu, telinganya menjadi runcing dan mata violetnya menjadi tajam dengan pupilnya menjadi vertikal bak mata kucing, gigi taringnya menjadi semakin tajam, kuku-kuku jarinya pun semakin memanjang dan meruncing, di atas telinganya tumbuh dua tanduk yang membengkok ke atas, sayapnya tak berubah hanya warna hitamnya yang semakin terlihat jelas, di belakang tubuhnya muncul sebuah ekor dengan bentuk ujung mata anak panah yang terlihat mengeluarkan cairan berwarna ungu.

Beelzebub merubah wujudnya, di atas kedua matanya muncul dua mata lainnya, diatas dan samping kepalanya tumbuh tiga tanduk yang terarah kebelakang mengikuti rambutnya yang memanjang sampai pinggangnya, dan di alis matanya masing-masing muncul tiga tonjolan tajam bagaikan tanduk kecil, sayapnya pun juga membesar dengan sebuah ekor panjang berwarna hijau tua kehitam-hitaman, dibelakang tubuhnya muncul ekor berwarna sama seperti sayapnya dengan ujung berbentuk seperti mata kail yang tajam.

Wujud Asmodeus berubah, rambut coklatnya sedikit memanjang dengan ujung-ujungnya terdapat warna hitam, di pundak dan lututnya keluar tulang berwarna hitam yang mencuat keatas bagaikan bilah pedang, di dagunya terdapat tiga buah tonjolan tajam, semua giginya meruncing, telinganya meruncing seperti milik Leviathan, sayap berubah menjadi aura kehijauan yang memiliki bentuk sayap kelelawar.

Mereka bertiga sedari tadi terus menghindar, akhirnya mulai tenang saat mereka tak dihujani lagi oleh jutaan senjata-senjata suci dan terkutuk. Leviathan yang diikuti kedua temannya turun dan mendekati Lucifer.

"Lord Lucifer, apa anda baik baik saja?" Tanya Leviathan dengan nada khawatir saat melihat tubuh tuannya yang sedikit bergetar.

"A-aku... Tak apa-apa... Tak usah khawatirkan diriku." Ujar Lucifer sedikit meringis saat lukanya berdenyut, ia dengan cepat menegakkan kembali tubuhnya agar ketiga temannya tidak panik.

"Lebih baik kita bersiap-siap, aku merasakan ia mulai datang." Ucap Lucifer sedikit terengah-engah, ia merasakan lawannya mendekat dengan aura suci yang baru saja ia rasakan tadi. Lucifer semakin mengeraskan wajahnya seketika saat sebuah siluet keluar dari kepulan asap tebal.

'Aku... Tak yakin jika aku bisa hidup, jika aku terus melawan manusia ini.'

At Naruto

Beberapa menit yang lalu...

"Uggghh... Sial, Jika saja aku tidak memanggil Excalibur dan Avalon, mungkin saja tadi aku sudah hancur lebur. Iblis itu... Benar-benar menjengkelkan." Ucap Naruto yang saat ini sedang bersimpuh, sekujur tubuhnya tampak banyak luka gores dan bakar, tapi tidak membahayakan, karena Holy Grail yang ada di dalam tubuhnya terus menyembuhkan luka-lukanya.

Di pinggangnya tersemat sebuah pedang bertipe Longsword lengkap dengan sarungnya yang indah berwarna emas dengan garis-garis bernuansa biru. Dari sarung pedang itu keluar cahaya putih yang terlihat ikut menyembuhkan Naruto, tak lama kemudian ia berdiri kembali, pulih tanpa luka gores kecil sekalipun.

"Ha~ah... Excalibur, Avalon, terima kasih karena kalian telah membantu ku." Ucap Naruto sambil menggenggam Sarung pedang Excalibur, Avalon.

"Tentu saja tuanGilgamesh./Itu sudah menjadi kewajiban kami, Master." Dua buah suara yang nyaring dan indah berucap secara bersamaan, Naruto sedikit menyunggingkan senyum saat mendapat jawaban dari Excalibur dan Avalon.

"Baiklah... Sekarang waktu bermain sudah selesai, Puerta de Babylonia!" Naruto mengeraskan wajahnya, seketika muncul ribuan persegi terbang sebesar pintu yang di belakangnya.

'Deteksi musuh, Iblis dan malaikat jatuh, Hujani mereka semua.' Dengan perintah batin, ribuan persegi tersebut mengeluarkan dan menembakkan jutaan senjata setiap detiknya.

"Arghh!"

"Akhh!"

"Tolong!"

"Ahh!"

Naruto mendengar banyak teriakan dari para pasukan iblis dan malaikat jatuh yang terkena senjata-senjata miliknya, hanya menjinjing Ea di pundaknya. Naruto berusaha mencari dimana Lucifer berada, saat sudah merasakan keberadaannya, sebuah lingkaran muncul di samping Naruto.

"Your heart! It's mine! Give it to me! Gáe Bolg!" Ucap Naruto lantang, mengangkat tangan kirinya lalu menurunkannya dengan pelan. Saat tangannya turun kebawah, muncul sebuah tombak panjang berwarna merah darah dan meluncur kencang dari lingkaran tersebut.

Tak lama kemudian Naruto merasakan Lucifer terkena serangannya, sedikit demi sedikit energi kehidupannya mulai meredup karena terkena kutukan dari Gáe Bolg, sebuah tombak terkutuk yang diciptakan dari sisa tengkorak monster laut Curruid, yang selalu bisa menargetkan dan menusuk jantung musuhnya, walaupun sang lawan lari sekalipun.

"Huh... Ternyata dia masih bisa bertahan... Luar biasa." Ucap Naruto malas sambil menonaktifkan Ruang penyimpanannya, dengan pelan ia mulai melangkah ke tempat Lucifer, sedikit demi sedikit asap tebal yang mengelilinginya mulai menipis, menampakkan medan perang yang sekarang sudah di penuhi oleh jutaan harta karun miliknya. Naruto hanya terus melangkah, tak memperdulikan sekelilingnya yang sudah seperti pemakaman senjata, ekor matanya melihat enam makhluk yang masih bertahan, dua malaikat jatuh dan empat ekor iblis.

Wajah Naruto kembali menyeringai, menunjuk ke arah enam makhluk supernatural tersebut dengan tangan kirinya, lalu mengangkat suaranya.

"Wah... Wah... Wah... Luar biasa, iblis kecil. Luar biasa, kau memang sangat hebat bisa menghindari serangan mendadak dari ku, dan kalian berdua juga Dai-tenshi." Ujar Naruto mengejek, ia tetap berjalan santai kearah mereka tak memperdulikan jika para musuhnya sudah mempersiapkan serangan masing-masing.

Naruto memandang satu-satunya wanita yang ada disana, wajahnya berubah menjadi datar.

...

'Kutarik kembali kata-kata ku tadi, dia ternyata tidak cantik sama sekali... Jadi... Inikah wujud iblis sebenarnya?' Batin Naruto penasaran, ia sedikit tertarik dengan ras iblis, bagaimana tidak? Sebuah makhluk yang dulunya suci berubah menjadi terkutuk.

'Ya... Itu bukan urusanku juga.' Naruto mengangkat bahunya tak peduli, melihat kembali ke arah empat musuhnya, karena ia tak menganggap dua lainnya sebagai lawannya. Naruto menggeser jari telunjuknya, menunjuk kearah Azazel dan Shemhazai yang terlihat menegang ketika mata merahnya melihat mereka berdua.

"Kalian... Pergilah... Kalian tak pantas menjadi lawanku. Pergilah, makhluk kotor, kali ini sang raja sedang berbaik hati untuk mengampuni kalian berdua, cepat pergi sebelum aku berubah pikiran." Ucap Naruto datar, ia tak memperdulikan dua makhluk hina yang sekarang berada di belakang empat iblis incarannya. Matanya terus menatap tajam ke empat iblis itu.

"Kau... Apa yang kau lakukan kepada Bellial?!" Sebuah teriakan lantang membuat Naruto mengalihkan perhatiannya kepada seorang malaikat jatuh dengan sepuluh sayap hitam dan rambut silver. Naruto tak menjawabnya, dia malah bertanya balik.

"Memangnya kenapa? Gagak kotor itu menggangguku, jadi dia kupanah saja agar tidak menggangguku lagi." Ucap Naruto santai, matanya menatap sang malaikat jatuh yang tubuhnya menegang setelah ia berbicara.

"K-kau! Beraninya kau!" Teriak sang malaikat jatuh itu dengan marah, ia menciptakan sebuah tombak cahaya besar yang siap ia lemparkan, sebelum sebuah suara menghentikannya.

"Shemhazai! Hentikan itu sekarang juga! Lebih baik kita mundur dari medan perang ini!" Ucap Azazel sambil berteriak keras, membuat Shemhazai tersentak kaget, sebelum dirinya juga membalas teriakan dari Azazel.

"Tapi dia yang membunuh Bellial! Jadi aku ha-!"

"Cukup! Lebih baik kita pergi sekarang juga! Dia terlalu kuat untuk kita lawan!" Azazel kembali berteriak, kali ini dengan nada membentak, membuat Shemhazai menghilangkan tombak cahaya miliknya, lalu terbang menjauh dari tempat itu mendahului Azazel. Azazel hanya melihat Shemhazai yang pergi dengan pandangan sedih, sebelum mengeras. Azazel melirikkan matanya kepada orang yang memusnahkan sahabat karibnya.

'Shemhazai... Jika saja kau tahu, aku sebenarnya juga ingin membalaskan kematian Bellial... Tapi... Orang itu... Ia terlalu kuat untuk kita lawan...'Batin Azazel, sebelum dirinya ikut terbang menjauh dari medan tempur, diikuti ratusan malaikat jatuh yang selamat. Naruto menatap kepergian para malaikat jatuh itu dengan pandangan malas, sebelum perhatiannya kembali terarah ke para iblis di depannya.

"Sekarang hanya tersisa kalian dan diriku saja, jadi... Bisa kita mulai saja sekarang?" Tanya Naruto dengan datar sambil menarik pedang Excalibur dari Avalon.

Sringg!

Sebuah bunyi nyaring dan yang diikuti oleh sebuah cahaya terang, saat cahaya meredup tampak sebuah pedang Longsword berwarna putih keemasan dengan ukiran-ukiran indah pada gagang pedangnya. Excalibur, sebuah Divine Construct, puncak segala pedang suci, pedang yang ditempa dari kristalisasi seluruh harapan seluruh umat manusia untuk menang.

Naruto sedikit mengedipkan mata setelah menerima sedikit informasi tersebut, ia sudah terbiasa, karena setiap menggenggam senjata selain Ea di genggamannya, ia akan menerima informasi kecil mengenai sejarah senjata tersebut.

'Walaupun sudah lama aku mengenal kalian, tapi... Tetap saja, aku belum mengetahui semua hal tentang kalian.' Naruto sedikit menghela nafas, ia tahu tentang kekuatan dari tempat penyimpanannya bisa mengambil versi asli dari senjata-senjata para pahlawan di dunianya dahulu. Menghela nafasnya sekali lagi sebelum, memfokuskan perhatiannya kepada Lucifer dan ke tiga temannya.

Mereka saling memandang satu sama lain untuk beberapa saat, bagaikan sebuah perjanjian bisu, mereka langsung menerjang satu sama lain, Leviathan dan yang lainnya, mempersiapkan lingkaran sihir mereka untuk membantu Lucifer.

Dashhh!

Srin-

Trangg!

Dhuasss!

Kedua senjata milik Naruto beradu dengan senjata milik Lucifer, hempasan angin kencang langsung tercipta, Naruto yang masih beradu dengan Lucifer, tak melihat kearah musuhnya yang lain.

(Zero Celsius : Thorned Frezzing Field!)" Leviathan berteriak, puluhan balok es besar nan tajam langsung tercipta diatas tubuh Naruto dan menargetkannya. Naruto hanya sedikit melirik kearahnya, sebelum senyum tipis tercipta di bibibirnya.

'Mari... Kita lihat kejutan apa yang kalian miliki, nee~ Iblis?' Batinnya. Naruto lalu menghempaskan Lucifer dengan mendorongnya kuat, mambuat Lucifer terbang menjauh dan jatuh ke tanah.

"Lucifer-sama! Cih! Serang dia! Asmodeus! Beelzebub!" Leviathan berteriak memerintahkan kedua temannya.

"Baik!/Ha'i!" Jawab Asmodeus dan Beelzebub bersamaan, mereka berdua langsung merapal sesuatu.

(Curse Orb : Eternal Imprisonment!)" Setelah Asmodeus meneriakkan nama tekniknya, di sekeliling Naruto muncul lingkaran aksara berwarna hijau besar, lalu menyelubungi tubuh Naruto, mengikatnya.

"Hmm?" Naruto menaikkan sebelah alisnya, ia berusaha menggerakkan tubuhnya, tapi tak berhasil. 'Begitukah? Baguslah... Aku suka sedikit tantangan.' Batin Naruto menyeringai senang, lalu pandangannya melihat kearah iblis berambut hijau.

'Jadi dia sudah selesai kah? Hehehe~.' Naruto langsung menggenggam erat senjatanya.

"Tuan Gilgamesh, kenapa anda terus bermain-main? Bukankah Anda bisa langsung mengalahkan mereka semua?" Tanya Excalibur pada Naruto yang masih menggenggamnya, Naruto yang mendengar pertanyaan dari Excalibur hanya tersenyum tipis, sebelum senyumnya berubah menjadi seringai.

"Kau tahu... Sebenarnya aku hanya ingin mengetes seberapa kuat para makhluk yang diciptakan oleh Kami-sama... Heh~ aku sedikit kecewa, ternyata mereka semua sama saja, lemah." Ucap Naruto yang masih terus melihat Beelzebub yang terus merapal tekniknya, tak lama kemudian Beelzebub langsung meneriakkan nama tekniknya.

(Weather Manipulation Formula : Poisonous Cyclone!)"

Tak lama setelah Beelzebub meneriakkan nama tekniknya, muncul pusaran angin raksasa yang berputar kencang dengan Naruto menjadi pusatnya, balok-balok es tajam ciptaan Leviathan terlihat lebih tertarik sebelum akhirnya menyatu dengan pusaran besar berwarna hijau itu.

"Avalon bisakah kau?" Tanya Naruto ambigu pada sarung pedang yang ada di pinggangnya, sebenarnya ia tidak perlu bantuan dari avalon, karena darah dewanya dan Holy Grail sudah cukup untuk menolak efek dari racun yang diciptakan oleh Beelzebub, tapi... Tentu saja, ia akan sedikit sesak nafas.

"Tentu saja Master. Selama aku berada di sampingmu, tak akan ada satupun racun dunia ini yang akan meracuni tubuhmu." Ucap Avalon halus, Avalon sedikit bercahaya redup, lalu cahaya tersebut menyelubungi tubuh Naruto sebelum akhirnya menghilang.

"Terima kasih nee~ Ava-chan." Ucap Naruto sedikit menggoda Avalon, bagaimanapun juga Avalon adalah benda sentient, yang artinya memiliki jiwa dan kesadaran masing-masing.

"A-ah... Naruto-sama... T-tolong, jangan menggoda saya." Ucap Avalon tergagap.

"Hehehehe... Baik-baik, maaf ya Avalon." Naruto sedikit tertawa renyah, sebelum wajahnya kembali menjadi serius.

'Jadi... Jurus kombo lagi eh? Baiklah... Mari~ kita lihat apa yang bisa kalian tunjukkan padaku.' Ucapnya dalam hati, Naruto tetap diam di tempatnya. Ia bisa saja melepaskan diri dari perangkap buatan Asmodeus, tapi ia lebih memilih untuk 'sedikit' bermain-main dahulu.

"Rasakan ini!Konbo Tekunikku : Shimo Piasu Doku Saikuron! (Combo Technique : Frost Piercing Poisonous Cyclone!)" Teriak Beelzebub dan Leviathan bersamaan, seketika pusaran angin itu mengecil dan membawa balok es tajam yang sudah berubah warna menjadi ungu, untuk semakin dekat kearah Naruto.

Naruto malah semakin senang ketika melihat hal itu, menurutnya para iblis punya banyak kejutan karena mereka punya banyak teknik.

'Jadi... Mereka berusaha untuk menusukku dan mencabik-cabik tubuhku ya? Hebat~.' Naruto merentangkan tangannya yang masih menggenggam Ea dan Excalibur.

"Datanglah padaku!" Ujar Naruto lantang dengan senyum maniaknya.

Whusssss!

Trankk! Trankk! Trankk!

At Lucifer

'Ugghh, S-sial... K-kenapa tubuhku terasa semakin lemah? Kenapa kutukannya tak mau menghilang juga?' Batin Lucifer bertanya-tanya, Lucifer masih berada di kawah bekas tempat 'landasannya'. Tangan kanannya menggenggam dada kirinya yang terasa semakin berdenyut, itu terasa menyakitkan untuknya. Lucifer yakin... Jika dia tidak memakai mode True Form-nya, ia pasti sudah mati dari tadi.

Matanya melihat kearah ketiga temannya yang melakukan gabungan serangan, Lucifer sedikit menyeringai saat melihat Naruto terperangkap jebakan buatan Asmodeus.

"Ha-hahaha tak akan mungkin dia akan selamat dari serangan gabungan milik Leviathan dan Beelzebub." Lucifer sangat yakin jika lawannya akan musnah, karena ia sendiri sangat sulit untuk melepaskan dirinya jika sudah terkena jebakan milik Asmodeus.

Whusssss!

Trankk! Trankk! Trankk!

"Kheh~ hahahahah- Ohok! Ohok! C-cih! S-sial... Rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Bila tidak cepat-cepat... Aku akan mati." Lucifer terbatuk-batuk, ia berusaha untuk bangkit dengan bantuan kedua senjatanya, tubuhnya bergetar menahan sakit yang diterimanya.

"Kurasa aku harus mundur terlebih dahulu untuk menyembuhkan lukaku, sebelum menyer-"

Boom!

Matanya kembali melotot saat pusaran hijau yang mengurung lawannya menghilang terkena hempasan berwarna putih yang tiba-tiba muncul. Keringat dingin kembali muncul di pelipisnya.

"B-bagaimana b-bisa?... Bagaimana caranya kami mengalahkannya?..." Ucap Lucifer yang merasa marah dan putus asa semakin mengeratkan genggamannya pada kedua senjatanya, ketika melihat ketiga temannya di kalahkan dengan mudah.

"Grrrrrhhhh! Manusiaaaa! Kau tak akan pernah ku ampuni!" Lucifer langsung mengambil ancang-ancang untuk kembali menyerang, mengabaikan dada kirinya yang semakin terasa menyakitkan.

"Raaaaahhh!"

Dashhh!

Lucifer kembali menerjang kearah Naruto, berusaha untuk menyelamatkan teman-temannya walaupun ia tak yakin jika usahanya akan berhasil.

'Levi, Asmo, Beel, Bertahanlah! Aku datang!'

At Naruto

Beberapa detik yang lalu

Naruto yang masih berada di tengah pusaran tetap santai tak bergeming, semua balok es tajam yang ingin menusuknya tak mampu menembus zirah emasnya. Karena mulai merasa bosan dan sedikit sesak nafas, Naruto menebaskan Excalibur ke depan dengan pelan.

Boom!

"H~ahh membosankan." Naruto sedikit menguap, ia melihat ketiga musuhnya yang terkejut dengan malas.

"Kalian tahu... Aku mulai merasa bosan dengan hiburan kalian yang begitu-begitu saja... Jadi..." Naruto menjeda ucapannya, tanpa peringatan ia langsung menerjang ke atas, tempat di mana Leviathan, Asmodeus, dan Beelzebub berada.

"Selamat tinggal, Anjing kampung." Ucapnya datar. Naruto menebaskan Excalibur secara horizontal ke tubuh Asmodeus yang tak bisa menghindari serangan tiba-tiba miliknya.

Slasshh!

"Asmo!" Teriak Leviathan ketika melihat rekannya terbelah menjadi dua, dan langsung berubah menjadi abu hitam dan hilang tertiup angin.

"Kurang ajar!" Leviathan kembali merapal mantra, sebelum ada rantai emas yang muncul entah dari mana, mengikat dan melilit lehernya dengan kencang.

Sringg!

Grepp! Syutt~

Brakk!

"Ukh!?" Leviathan mengeluh kesakitan ketika tubuhnya di dilempar dan dihantamkan ke tanah dengan kuat, ia langsung menyentuh dan berusaha untuk melepaskan rantai yang melilit di lehernya. Beelzebub langsung panik ketika Leviathan di lempar ke tanah dengan kuat dari tempat yang tinggi.

"Leviathan! Sialan!Kish-"

Jlebb!

Ucapan Beelzebub terpotong saat ada sebuah belati tajam yang merupakan ujung tombak menusuk kepalanya. Leviathan yang melihat kedua temannya mati di depan matanya, mulai panik. Dengan sekuat tenaga Leviathan berusaha melepaskan rantai yang mengikatnya, tapi semakin ia berusaha melepaskan, rantai itu malah semakin mengetat dan semakin membuatnya tak bisa bernafas.

Tep

Tep

Tep

Leviathan langsung melihat kearah musuhnya yang dengan santai berjalan kearahnya sambil membawa sebuah tubuh yang sangat di kenalinya. Matanya melebar ketakutan saat Naruto semakin mendekatinya.

"T-tak... M-mungk-kin..."

.

.

.

.

Naruto berjalan kearah Leviathan sambil membawa mayat temannya yang tak memudar karena ujung Enkidu masih tertancap di kepalanya, Ea tersemat di punggungnya dengan Excalibur yang berada di tangan kanannya.

Tep~

Naruto menghentikan langkahnya saat Leviathan yang masih menggenggam erat rantai di lehernya, sebuah senyum merendahkan muncul di wajah Naruto. Lalu dengan seenaknya melemparkan mayat Beelzebub ke hadapan Leviathan.

Brukk!

Senyumannya semakin melebar ketika melihat tubuh Leviathan yang bergetar hebat karena ketakutan.

"Kau pasti ingin tahu kenapa temanmu tak berubah menjadi abu hitam, bukan? Jawabannya ada di keningnya, itu adalah ujung dari rantai emas yang mengikatmu sekarang. Enkidu, rantai surgawi, sebuah rantai yang tak akan pernah hancur sekuat apapun kau mencobanya, kenapa? Karena rantai tersebut menghisap energi dari targetnya untuk memperkuat dirinya sendiri. Hebat bukan?" Ucap Naruto angkuh, lalu mendekati tubuh kaku Beelzebub dengan seenaknya menginjakkan kakinya di mayat Beelzebub dan mencabut ujung tajam Enkidu, tak lama kemudian tubuh Beelzebub memudar seperti Asmodeus. Leviathan yang ketakutan, memundurkan tubuhnya menjauh dari Naruto tapi rantai tersebut malah menariknya mendekati Naruto.

"Sebenarnya... aku tak ingin menggunakan harta terpercayaku untuk melawan kalian, karena itu akan menurunkan derajatku yang agung ini." Naruto sedikit menjeda ucapannya, sebelum melanjutkan ucapannya ketika Leviathan sudah dekat dengannya.

"Kalian... Para tikus-tikus kotor sangat susah untuk di musnahkan. Sayang... Ku akui kau cantik... Tapi... Kau iblis... Jadi... Ya mau bagaimana lagi." Ucap Naruto sambil mengangkat kedua bahunya. Dengan pelan, Naruto menusukkan Excalibur kearah jantung Leviathan.

Sringg

Jlebb!

"Ukh! Akh!" Leviathan melebarkan matanya, aura dari Excalibur langsung meracuni tubuhnya. Leviathan menggeliat seperti cacing saat tubuhnya terasa seperti terbakar.

"Agh! Akhh! Khh! Aggg...gg...g.." Leviathan menggeram kesakitan dan memberontak sebelum melemah dan akhirnya berhenti. Naruto hanya memandang malas tubuh kaku Leviathan, Naruto mencabut pedangnya dari tubuh Leviathan.

Brusshh!

Tak lama, tubuh Leviathan memudar sama seperti kedua temannya, meninggalkan sebuah rantai emas dengan ujung berilah tajam yang juga berwarna emas, yang mulai memudar menjadi cahaya-cahaya emas.

"... Baiklah... Sekarang... Mana iblis yang satu lagi?" Naruto bertanya pada dirinya sendiri. Matanya memandang sekeliling, mencari Lucifer yang tadi terlempar tak jauh dari tempatnya berada sekarang.

'Dimana dia-' Batin Naruto terpotong saat ada sebuah teriakan menggangu pikirannya.

"Raaaaahhh!"

"Hmm?" Naruto mengangkat alisnya ketika melihat Lucifer terbang kearahnya dengan cepat, sebuah seringai kembali muncul di wajahnya.

"Baguslah... Kurasa aku tak perlu susah payah untuk mencari mu... Iblis..." Ucap Naruto yang tetap berdiri tegap di tempatnya, tak bergeming sedikitpun saat Lucifer sudah sangat dekat dengan dirinya.

"Matilah!" Lucifer mengangkat pedangnya tinggi-tinggi untuk membelah Naruto menjadi dua.

Trankk!

Duashh!

Tapi usahanya sia-sia, karena Naruto dengan mudah menghalau serangannya.

"Heh~... Kau tahu... Seharusnya kau menyerah saja dari awal karena kau... Tak punya harapan untuk mengalahkan ku." Ucap Naruto mengejek untuk memancing emosi dari Lucifer.

"Tutup mulutmu! Manusia!" Lucifer menjauh dari Naruto, mempersiakan kembali serangannya.

Deggh!

"Ohok?!" Lucifer langsung berlutut dan memegangi dadanya yang semakin sakit, ia memuntahkan darah segar dari mulutnya, membasahi tanah di bawah kakinya.

'K-kenapa ini t-terasa semakin s-sakit saat aku berusaha u-untuk menyembuhkannya? Batin Lucifer bertanya-tanya sambil menggenggam erat dada kirinya dengan kedua tangannya, Naruto yang melihat keadaan Lucifer malah semakin melebarkan seringainya.

"Ada apa nee~ iblis kecil? Apa kau merasa kesakitan? Dan... Apa kau ingin tahu kenapa sihir penyembuh milikmu tak bisa menyembuhkan lukamu? Kau tahu... Jawabannya adalah tombak ini..." Naruto menjeda ucapannya, ia sedikit mengulurkan tangan kirinya, seketika muncul tombak berwarna merah yang tadi menusuk Lucifer tepat di jantungnya.

"Gáe Bolg, sebuah tombak terkutuk yang apabila menusuk seseorang walaupun itu bukanlah jantungnya, orang tersebut tak akan langsung mati... Tetapi orang itu terkena kutukan dan luka yang diterima tak akan pernah bisa menutup, walaupun kau menggunakan ramuan penyembuh paling ampuh sekalipun... Dan... Rasa sakit yang di terima akan semakin meningkat saat kau berusaha untuk menyembuhkan luka tersebut... Benar-benar sebuah senjata yang menakutkan bukan? Tapi... Jujur saja... Aku tak menggunakan kekuatan penuh dari tombak ku ini untuk melukai mu... Kenapa? Karena itu akan mengotori hartaku ini dengan darah menjijikkan mu." Ucap Naruto yang membanggakan senjatanya sambil sedikit mengayunkan tombak tersebut kekanan dan kekiri. Merasa sudah cukup, Naruto mengembalikan senjatanya ke tempat penyimpanannya, matanya kembali melihat Lucifer yang meringkuk kesakitan.

"Enkidu... Tangkap dia." Ucap Naruto pelan. Seketika di sekeliling Lucifer muncul puluhan lingkaran-lingkaran kecil yang mengeluarkan rantai emas, lalu mengikat dan melilit sekujur tubuhnya, Lucifer yang sudah tak berdaya tak bisa menghindar. (Bayangkan saja posisi Lucifer sekarang seperti Herakles saat Gilgamesh melawannya dan Illyasivel.)

"Urkhh!" Lucifer menggeram antara kesakitan dan rasa marahnya. Ia tak bisa menggerakkan tubuhnya karena tangan dan kakinya terikat oleh rantai tersebut.

Tep

Tep

Tep

Naruto berjalan pelan kearah Lucifer yang terikat, lalu berhenti saat ia sudah depan dengannya. Naruto memandang Lucifer dengan pandangan merendahkan, lalu beberapa lingkaran emas muncul dan menembakkan sebuah bilah tajam berwarna emas diikuti dengan beberapa pedang kearah Lucifer.

Jlebbh!

Jlebbh!

Jlebbh!

Jlebbh!

Bilah emas itu sukses mengenai dan menusuk jantung Lucifer, sedangkan pedang-pedang yang yang ikut di tembakkan, mengenai lengan dan kaki Lucifer dan menembusnya, membuat Lucifer semakin tersiksa.

"Ohok!" Lucifer kembali memuntahkan darah saat jantungnya kembali tertusuk, rasa sakitnya semakin bertambah saat ada pedang-pedang yang menembus kaki dan lengannya, belum lagi aura suci bilah tajam emas dan pedang-pedang itu yang mulai meracuni tubuhnya.

"Sekarang... Apa kata-kata terakhir mu? Anjing kampung? Katakan padaku." Ucap Naruto datar sambil terus memandang Lucifer yang meringkuk. Lucifer sekarang sudah menyadari bahwa dari awal ia tak punya harapan untuk bisa mengalahkan makhluk di hadapannya ini, dengan wajah yang berubah menjadi masam. Lucifer berkata dengan pasrah.

"W-wahai engkau... P-pembunuh d-dewa... K-kumohon padamu...Ohok!... Ughhh... I-izinkan aku meminta satu hal padamu..." Ucap Lucifer memelas, Naruto menaikkan alisnya saat melihat perubahan drastis dari Lucifer, tapi tetap membalasnya.

"Kalau begitu... Apa itu?" Tanya Naruto sambil menurunkan kembali Excalibur. Ia heran, bagaimana iblis di depannya ini bisa berubah kepribadian dengan amat cepat.

"A-aku ingin pengampunan dari Ayah... T-tapi... Akhh... K-kurasa aku tak akan bisa melakukannya... Kumohon p-padamu... Bisakah kau melakukannya untukku jika kau bertemu dengan A-ayah?... I-ini permintaan ku..." Ucap Lucifer terbata-bata, wujudnya kembali seperti semula, taring, cakar, ekor, tanduk, dan ekornya menghilang, meninggalkan Lucifer dalam bentuk 'normal'-nya.

"... Huh... Sebenarnya aku tak akan melakukannya pada anjing kampung sepertimu, tapi harga diriku sebagai seorang raja juga kesatria membuatku harus melakukannya... Jadi baiklah, akan ku lakukan itu sebagai penghormatan terakhirmu." Jawab Naruto enteng, ia sebenarnya tak peduli, tapi ia sudah terlanjur berjanji, dan baginya sebuah janji harus dipenuhi, tak peduli itu dari kawan ataupun lawan, karena itu jalan yang sudah ia pilih.

"T-terima kasih... S-sekarang... Bisakah kau mengakhiri penderitaan ku?" Pinta Lucifer yang sudah tak tahan dengan rasa sakitnya.

"Baiklah..." Naruto menggenggam kembal Ea, lalu bersiap untuk menusuk Lucifer.

"Enuma..."

Whiirrllll!

'S-sekarang aku tahu, kalau kau memang benar dari awal...A-yah... J-jika kau mendengarkan ku... K-kumohon... Ampuni anakmu yang durhaka dan berdosa ini... Walaupun aku tahu jika aku tak akan pernah bisa dimaafkan.' Batin Lucifer miris sambil menutup matanya, sebuah air mata turun dari pelupuk matanya lalu terus turun ke pipinya dan akhirnya jatuh ke tanah tandus di bawah kakinya.

"Eli-"

Brukkh!

Kata-kata Naruto terpotong saat tubuh Lucifer ambruk ke tanah, rantai-rantai yang mengikatnya membiarkan tubuhnya jatuh begitu saja seakan kehilangan kekuatannya untuk mengikat Lucifer, tak lama rantai-rantai tersebut memudar meninggalkan ujung tajam yang masih setia melekat di dada Lucifer.

"..." Naruto terdiam, ia memandangi tubuh kaku Lucifer yang ambruk ketanah, Naruto sedikit melangkah dan mendekati tubuh Lucifer. Raut wajahnya yang tadi penuh kesombongan, berubah menjadi sendu.

'... Aku benci saat aku menjadi sombong seperti tadi... Sungguh aku benci sekali... Tapi, darah dewaku mempengaruhi ku.' Batinnya sedih, dengan pelan Naruto membalikkan tubuh Lucifer, lalu mencabut ujung tajam Enkidu dari dadanya.

Brushh

Tubuh Lucifer memudar... Tapi tak seperti dua temannya, tubuhnya berubah menjadi kumpulan cahaya yang meredup dan terlihat kusam, lalu dengan cepat hilang dan terhapuskan oleh tiupan angin.

"Jadi... Dia... Belum sepenuhnya terkutuk kah?... Itu berarti... Ia masih memiliki sisi baiknya..." Dengan sendu, Naruto memandang langit yang hitam tanpa ada bulan ataupun bintang-bintang yang menyinarinya.

'Beristirahatlah dengan tenang di alam sana...Wahai kau... Sang putra fajar...' Batin Naruto sambil menutup kedua matanya sebentar, lalu membukanya kembali. Naruto melihat sekelilingnya, senjata-senjata miliknya masih berserakan di seluruh penjuru medan perang. Dengan perintah batin, semua senjata tersebut memudar dan kembali masuk ke tempatnya semula, termasuk Ea yang ikut memudar menjadi partikel-partikel emas. Matanya terus memandang sekitar sebelum matanya melihat sebuah pedang hitam besar milik Lucifer, Naruto pun mendekatinya dan mengangkat pedang hitam tersebut dengan tangan kanannya.

Grep-

"Hmm?" Naruto sedikit menaikkan alisnya saat pedang hitam tersebut terlihat menolaknya, pedang tersebut melawan dan berusaha untuk membuat Naruto melepaskannya dengan membuat aura hitam di sekitarnya. Naruto hanya memandang datar hal itu, sebelum akhirnya melemparkan pedang itu kesamping layaknya sampah tak bernilai. Naruto melihat sekitarnya sekali lagi, mencari keberadaan tombak milik Lucifer, tapi ia tak mendapati apapun.

"Huh... Jadi pedang itu menolakku? Ya sudahlah... Aku tak peduli, lagi pula aku sudah memiliki yang asli dari dunia ku... Dan sepertinya tombak milik Lucifer sepertinya ikut lenyap bersama tuannya... Sayang sekali, padahal itu tombak yang bagus..." Naruto menjeda ucapannya, menghela nafasnya sejenak lalu melanjutkan ucapannya lagi.

"Baiklah... Kurasa... Tugasku di sini sudah selesai, tapi... Apa Kami-sama sekarang juga sudah selesai dengan urusannya?" Tanyanya pada dirinya sendiri, ia memfokuskan semua inderanya untuk mencari keberadaan Kami-sama.

Sringg-!

Booom!

Sebuah sinar terang dan ledakan besar mengganggunya, Naruto langsung melihat kearah ledakan tersebut, seketika pandangannya menajam, entah kenapa ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

"Aku...merasakan ada sesuatu yang tidak beres... Vimana!"

Vooommm!

Naruto memanggil kembali bahtera terbangnya, dan dengan cepat langsung menaikinya.

"Ayo! Vimana! Cepat!" Naruto memerintahkan Vimana untuk terbang, seketika Vimana mengembangkan kembali sayapnya, lalu terbang kearah asal ledakan tersebut.

'Apapun itu... Semoga saja itu bukanlah hal buruk seperti yang aku bayangkan...' Batin Naruto panik, sebuah keringat mengalir dari pelipisnya.

"Cih! Vimana! Lebih cepat!"

Vooooommm!

At Michael

Beberapa menit yang lalu

"Trihexa! Kali ini tindakanmu sudah kelewatan! Hentikan sekarang juga!" Kami-sama berteriak lantang kepada makhluk raksasa yang memiliki 6 kepala hewan yang berbeda-beda, tubuhnya hitam sekelam malam.

"Hahahaha! Memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku menolaknya? Aku tak selemah Ophis dan Great Red, serta dua naga surgawi bodoh yang kau kalahkan dengan mudah... Lagipula, aku yakin kau pasti sudah lelah dengan pertarungan mu dengan kedua rival ku, bukan?"Ucap Trihexa, suaranya membahana dan menakutkan, para malaikat dan Michael yang berada jauh di belakang Kami-sama bergetar, mereka tak bisa membantu Kami-sama lagi karena tenaga mereka sudah terkuras habis saat melawan kedua naga surgawi, serta Ophis dan Great Red. Jumlah mereka yang awalnya berjumlah jutaan, kini hanya tersisa ribuan saja.

"... Kalau begitu, aku akan menyegel dirimu." Ucap Kami-sama pelan, pandangannya melihat kearah para malaikat-malaikatnya yang masih bertahan.

"Hahahahaha! Baguslah! Mari kita lihat apa kau bisa menyegel ku? Kami-sama?"Trihexa sedikit mengeluarkan asap panas dari setiap mulut yang ada di semua kepalanya. Trihexa sedikit mengambil ancang-ancang, sebelum menerjang kearah Kami-sama.

"Graaaahh!"Trihexa meraung keras, lalu mengangkat kaki depannya yang bercakar tajam tinggi-tinggi. Kami-sama dengan mudah menghindarinya, lalu dengan cepat langsung menggumamkan sesuatu.

"Jika aku tak bisa mengalahkanmu, bukan berarti aku menyerah begitu saja!" Kami-sama langsung mengulurkan tangannya kearah Trihexa, lalu sebuah cahaya terang muncul dari telapak tangannya dan menyelubungi tubuh bagian depan Trihexa.

"VII Stratum Caelum Magia : Aeternitas Cárcerem! ( 7 Layer Heaven Magic : Eternity Prisoning! ), Akan kusegel kau selamanya, walaupun nyawaku bayarannya!" Kami-sama terus mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk menahan tubuh Trihexa, tapi Trihexa masih terus melawan.

"Raaaahh! Lepaskan aku!"Trihexa meraing dengan keras, ia mencoba menggerakkan seluruh tubuhnya untuk lepas, tapi usahanya tetaplah sia-sia.

Michael yang melihat ayahnya kesulitan, mulai bangkit walaupun tubuhnya terasa nyeri, pakaian perang emasnya hancur, menyisakan hanya pakaian putih yang terlihat kusam.

"Saudara-saudaraku! Ayah kita sedang kesulitan. Mari kita bantu ayah kita!" Ucap Michael sambil menciptakan sebuah tombak cahaya sebesar truk, tindakannya pun langsung diikuti oleh malaikat-malaikat lainnya.

"Baik!" Ucap serentak para pasukan malaikat yang tersisa, dengan sisa-sisa tenaga yang mereka miliki, mereka semua bersama-sama menciptakan ribuan tombak cahaya, lalu melemparkannya kearah Trihexa.

Syuuutt

Dumm!

Boom!

Dhuar!

"Raagghh"Trihexa meraung kesakitan saat semua kepalanya di hujani tombak cahaya, setelah pulih dari serangan tersebut, Trihexa semakin merengsek maju ia tak peduli jika ia akan tersegel, ia hanya ingin Kami-sama musnah di tangannya.

"Jika memang aku akan tersegel! Segel ini tak akan pernah bisa membunuhku! Aku hanya akan tertidur, sebelum akhirnya kembali bangun dan menghancurkan dunia ini!"Trihexa berteriak saat tubuhnya mulai dari tertelan teknik penyegelan dari Kami-sama.

"Ingatlah ini! Kami-sama!"Trihexa meraung untuk yang terakhir kalinya, sebelum tubuhnya menghilang.

Brukk

Kami-sama langsung bersimpuh di atas tanah, seluruh kekuatannya sudah terkuras habis untuk menyegel Trihexa, perlahan-lahan cahaya di tubuhnya meredup. Michael dan malaikat lain langsung bergegas menuju tempat ayah mereka berada.

"Ayah! Apa yang terjadi padamu?!" Tanya Michael sedikit berteriak karena panik, ia merengkuh tubuh lemah sang ayah.

"K-kurasa... Aku tak akan bisa lagi membimbing kalian lagi..." Jawab Kami-sama pelan, Michael semakin panik saat mengetahui apa maksud dari ayahnya.

"T-tak mungkin... I-ini tak mungkin... Ayah! Apa tak ada yang bisa ku lakukan untuk membantumu?" Michael kembali bertanya kali ini dengan intonasi yang lebih tinggi.

"Y-ya... Kau bisa membantuku dengan memimpin para saudara dan saudari mu di surga..." Ucap Kami-sama dengan senyum lemahnya. Michael berniat menjawab kata-kata dari ayahnya, sebelum ada sebuah suara bising yang mengalihkan perhatiannya.

Vooommm!

Wuusshh!

Tep!

Seluruh malaikat yang ada bisa melihat jika ada benda emas dan hijau melayang dengan cepat diatas mereka, lalu dari benda yang masih terbang itu, seseorang langsung terjun bebas ke tanah dan mendarat dengan mulus. Mereka semua bisa melihat siapa orang yang barusan turun.

"N-naruto-dono? Apa itu kau?" Tanya Michael yang melihat Naruto berjalan kearahnya. Keadaannya masih sangat baik, Michael dapat melihatnya, bahkan baju zirahnya saja tak tergores sedikitpun, jauh berbeda dengan dirinya. Naruto tak menjawab, ia hanya sedikit menganggukkan kepalanya, pandangannya terkunci pada Kami-sama yang sedang tergeletak tak berdaya. Naruto dengan cepat mendekati Kami-sama dan berlutut di hadapannya. Wajah Naruto terlihat datar, tapi pandangannya menyendu.

"Ada apa... Wahai Pahlawan? Kenapa kau bersikap seperti ini?" Tanya Kami-sama saat tubuhnya mulai meredup, Naruto masih terdiam, matanya terus melihat sekujur tubuh Kami-sama.

"Ada apa? Apa ada yang mengganjal di hati mu? Wahai sang raja?" Tanya Kami-sama sekali lagi, Kami-sama yang melihat Naruto terus melihat sekujur tubuhnya merasa heran dengan tingkah raja di hadapannya ini.

Naruto yang ditanya dua kali, akhirnya berhenti dan menggeleng pelan, lalu pandangan matanya bertemu dengan Kami-sama.

'Tubuh ini... Kekuatannya sangat jauh berbeda dari yang kurasakan sebelum perang... Apa ini? Kekuatannya sangat kecil... Kami-sama... Apa kau berusaha untuk menipuku?' Batin Naruto saat ia sudah selesai memeriksa seluruh tubuh Kami-sama menggunakan Sha Nagba Imuru. Naruto merasa janggal dengan kejadian didepannya.

'lagipula... Jika ia benar-benar 'mati'... Bukankah seharusnya seluruh alam semesta ini juga akan ikut musnah?' Lanjutnya dalam hati, Naruto langsung menjawab pertanyaan dari Kami-sama dengan cepat agar Kami-sama tidak curiga terhadapnya.

"Tidak ada... Hanya saja... Aku tak percaya jika kau akan... Tiada..." Ucap Naruto pelan agar hanya Michael dan Kami-sama saja yang mendengarnya.

'... Tentu saja... Aku tak percaya... Ini terlalu mustahil..." Batin Naruto lagi saat matanya melihat kaki sang Kami-sama yang perlahan-lahan mulai memudar.

"Begitukah?... Tapi sepertinya ada hal lain yang ingin kau katakan padaku... Apa itu?" Tanya Kami-sama yang masih dalam rengkuhan Michael, Naruto kembali menjawabnya dengan cepat.

"Anakmu... Lucifer, dia memohon ampunan dari mu... Atas semua dosa yang sudah ia lakukan padamu..."

"... Begitukah? Bahkan... Sebelum ia meminta pengampunan dariku... Aku sudah mengampuni dirinya... Aku terlalu termakan amarahku, sehingga aku tak melihat maksud dari sikap Lucifer yang sebenarnya iri karena merasa tergantikan oleh kehadiran Adam..." Ucap Kami-sama yang tersenyum tipis, Michael yang dari tadi diam, melihat tubuh sang 'Ayah' semakin memudar membuatnya panik.

"A-ayah..." Panggil Michael panik, Kami-sama yang mendengar panggilan dari Michael mengalihkan perhatiannya kepada Michael.

"Ya... Michael... Ada apa, anakku?" Ucap Kami-sama yang suaranya semakin pelan, ucapannya semakin terbata-bata, saat bagian tubuhnya memudar.

"A-apa yang bisa kami lakukan tanpa mu?" Tanya Michael terbata-bata, air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya, tak hanya Michael, seluruh malaikat yang ada disana mulai menangis.

"Seperti yang ku katakan padamu... Pimpin dan bimbing seluruh saudara dan saudarimu, seperti aku membimbing dirimu... Sepertinya... Hanya itu yang aku minta darimu... Selamat tinggal... Anak-anakku..."

Srinnggg

Tubuh Kami-sama bercahaya terang sebelum berubah menjadi cahaya-cahaya putih kecil yang berbentuk seperti kunang-kunang, sebelum terbang ke langit.

"Ayah!"

"Kenapa?!"

"Jangan tinggalkan kami Ayah!"

Ribuan malaikat langsung berteriak sekencang-kencangnya berharap jika ayah mereka kembali, Michael terdiam, ia terus memandangi kepergian sang ayah dengan sedih. Naruto yang dari tadi melihat kepergian sang Kami-sama dengan pandangan datar, sebelum matanya teralih kepada Michael yang terlarut dengan kesedihannya, mendekati Michael lalu menepuk pundaknya pelan.

"Kau tahu... Tak baik terlalu berlarut-larut dalam kesedihan mu seperti ini... Tegar lah dan relakan ia pergi... Michael..." Ucap Naruto yang berusaha untuk menghibur Michael yang seperti putus asa, Michael hanya menatap Naruto sendu.

"Tapi bagaimana caranya aku bisa melakukannya, Naruto-dono? Ayah adalah satu-satunya cahaya penuntut bagi kami... Tanpanya kami bagaikan orang buta yang tersesat... Tak tahu arah jalan pulang..." Ucap Michael pelan, tak lama setelah mengucapkan kata-katanya, lingkaran emas diatas kepalanya mulai berkedip-kedip, diikuti sayapnya yang mulai mengusam. Tak hanya Michael, seluruh malaikat yang ada disana juga mengalami hal yang sama, sayap mereka mulai mengusam. Mendengar jawaban dari Michael, wajah Naruto seketika mengeras.

" Kau dengar permintaannya bukan? Hidup, jangan berputus asa, dan bimbinglah semua malaikat yang tersisa... Bimbing mereka sebagai mana Ayahmu membimbing dirimu dahulu. Jangan menghinanya dengan bersikap seperti ini Michael!" Ucap Naruto tegas, suaranya meninggi. Membuat Michael tersentak kaget, lingkaran halo di atas kepalanya kembali bersinar terang.

"I-itu... Ah... Aku paham sekarang... Naruto-dono... Terima kasih sudah mengingatkan ku..." Michael tersenyum tipis, ia sadar jika sekarang ia punya tugas berat yang harus di embannya. Michael bangkit, lalu menghadap seluruh malaikat yang ada.

"Saudara-saudara ku! Bangkitlah! Jangan biarkan pengorbanan ayah kita menjadi sia-sia karena kita tidak bisa merelakan dirinya pergi. Bangunlah, jangan berputus asa!" Ucap Michael tegas kepada para malaikat yang hampir kehilangan kepercayaan mereka terhadap Kami-sama. Perlahan-lahan satu persatu malaikat mulai bangkit, sayap mereka kembali menjadi putih dan lingkaran yang ada di atas kepala mereka bercahaya lagi. Mereka mengembangkan sayap mereka lebar-lebar.

"Mari kita pulang ke surga... Wahai saudaraku." Ucap Michael sambil mengembangkan kedua belas sayap emasnya lebar, lalu terbang ke atas langit malam terlebih dahulu, lalu diikuti oleh para malaikat lainnya, di langit malam yang gelap terlihat pilar-pilar cahaya putih yang di ciptakan oleh para malaikat yang terbang ke langit. Melupakan seseorang yang masih berdiri di medan perang.

Wushhh~

"... Mereka meninggalkan ku..." Ucap Naruto datar saat dirinya malah ditinggal begitu saja. Naruto lalu melihat ke langit malam.

" Kami-sama... Mungkin kau bisa menipu mereka semua dengan kematian palsumu... Tapi tidak dengan diriku... Jika kau memang tak ingin mencampuri urusan dunia lagi... Dan membiarkannya berkerja tanpa bantuan dari mu... Maka akan ku hargai kehendak mu itu... Kami-sama..." Ucap Naruto pelan, ia memanggil Vimana untuk pergi menyusul Michael ke surga

At Heaven

Dua minggu kemudian.

Sudah dua minggu setelah peperangan berakhir, seluruh malaikat yang tersisa mulai merelakan kepergian ayah mereka walaupun itu sangat berat, bahkan banyak malaikat yang jatuh karena mereka kehilangan kepercayaan mereka pada Kami-sama. Michael mengambil tahta surga dan menggantikan posisi ayahnya, dan Gabriel, adiknya, juga merasa kaget dan terpukul saat mendengar kabar bahwa ayahnya yang tersayang telah tiada. Selama seminggu lebih, ia mengurung dirinya sendiri dan tak mau keluar. Dalam beberapa hari kemudian dan mulai menerima hal yang sudah terjadi.

Kini terlihat Naruto yang sedang berdiri di depan sungai yang dulu dekat dengan tempatnya tertidur dan bertemu dengan Gabriel. Pandangannya datar, Naruto memakai kembali baju putih panjangnya, dengan kalung dan gelang emasnya yang terpasang manis di leher dan pergelangan tangannya. Ia sedang menunggu seseorang di tempat itu.

"... Dimana dia?... Kenapa lama sekali?" Gumam Naruto sambil mengedarkan matanya keseluruhannya penjuru. Ia sudah menunggu lumayan lama, tapi orang yang ditunggu-tunggu belum juga muncul.

"Naruto-san! Gomen, aku terlambat." Sebuah teriakan yang berasal dari belakang tubuhnya membuat Naruto sedikit menghela nafas lega.

"Akhirnya... Kau datang juga... Gabriel-san..." Naruto tersenyum senang saat orang yang ditunggu akhirnya muncul juga.

"M-maaf... T-tadi aku membantu Michael-onii-sama dengan perkerjaannya... Naruto-san... Gomen!" Ucap Gabriel gugup sambil memainkan kedua jari telunjuknya malu-malu, Naruto yang melihatnya sedikit mendengus geli sebelum wajahnya berubah serius.

"Aku ingin membicarakan sesuatu padamu, Gabriel-san..." Naruto menatap intens Gabriel yang masih malu-malu, Gabriel yang terus dilihat malah semakin terlihat gugup.

"A-ah... A-apa itu... Naruto-san?" Ucap Gabriel terbata-bata, pipinya sedikit merona ketika dipandang lekat-lekat oleh Naruto.

"Aku ingin mengatakan jika aku akan meninggalkan surga." Naruto langsung mengutarakan maksudnya, Gabriel yang mendengar ucapan Naruto kaget, wajahnya yang semula malu-malu berubah menjadi raut kaget.

"A-apa? T-tapi kenapa? Kenapa kau harus pergi Naruto-san?" Tanya Gabriel dengan suaranya yang meninggi, membuat Naruto sedikit mundur kebelakang saat Gabriel tiba-tiba berteriak padanya, Naruto kembali menghela nafasnya.

"kau tahu bukan... Jika surga adalah tempatnya para manusia baik yang sudah mati, lagipula tugasku disini sudah selesai... Jadi kurasa aku harus pergi..." Jelas Naruto kepada Gabriel untuk menenangkan sang gadis yang terlihat akan menangis.

'... Kalau aku mati... Lagipula aku tak yakin jika aku bisa mati..." Lanjut Naruto dalam hati.

Gabriel yang mendengar jawaban dari Naruto sedikit mengganguku, sebelum ia kembali bertanya dengan matanya yang mulai berair.

"T-tapi... Kemana kau akan pergi? Apa kau sudah membicarakan ini dengan Michael-onii-sama?" Tanya Gabriel, kali ini senyum simpul kembali muncul di wajah Naruto.

"Tentu saja... Aku sudah membicarakan hal ini dengannya... Dan tentang kemana aku akan pergi... Entahlah... Aku tak tahu..." Naruto sedikit mengangkat bahunya, ia juga tak tahu kemana tujuannya pergi. Naruto lalu melanjutkan ucapannya.

"Tapi... tak masalah bukan jika aku sedikit berpetualang? Itu akan menyenangkan dan menghibur untuk seorang raja sepertiku." Ucap Naruto sedikit membanggakan dirinya, membuat Gabriel yang melihat tingkahnya terkekeh geli dengan sebuah air mata yang turun dari pipinya, sebelum raut wajahnya menyendu.

"T-tapi... Jika kau pergi... Siapa yang akan menemaniku dan mengajakku bercanda lagi? Naruto-san?" Gabriel menundukkan kepalanya, ia memainkan kedua kakinya. Entah kenapa, ia tak bisa merelakan pemuda di depannya ini untuk pergi meninggalkan surga.

Naruto menaikkan alisnya heran melihat tingkah Gabriel yang tiba-tiba berubah menjadi sedih. Ia tak paham kenapa Gabriel bertingkah seperti itu, ia mendekat kearah Gabriel lalu menggenggam satu tangannya. Gabriel yang diperlakukan seperti itu, wajahnya yang semula sedih kembali merona hebat.

"Bukankah kau masih punya kakakmu? Juga teman-teman mu yang lain? Kau bisa mengajak mereka untuk menemani dirimu bukan?" Tanya Naruto balik, mata merahnya memandang lekat-lekat mata biru lawan bicaranya yang terlihat begitu indah baginya.

"T-tapi..." Gabriel belum sempat menyelesaikan ucapannya karena Naruto langsung memotongnya.

"Tak ada tapi-tapian... Begini saja... Ini... " Ucap Naruto sambil mengeluarkan sebuah kalung yang indah dengan berbagai permata sebagai penghiasnya dari tampat penyimpanannya, lalu memberikannya kepada Gabriel.

"Jaga benda ini baik-baik... Karena suatu hari nanti... Aku akan kembali untuk mengambilnya." Lanjutnya.

Gabriel melihat kalung tersebut dengan seksama, kalung tersebut indah, sangat indah untuknya, lalu pandangannya kembali tertuju pada Naruto.

"L-lalu... Sampai kapan aku bisa bertemu dengan mu lagi?" Tanya Gabriel dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata birunya. Naruto mengulurkan tangan kanannya, dan mengusap pelan pipi mulus Gabriel untuk menghapus air mata bening milik Gabriel.

"Kalau itu... Biarlah sang waktu yang menjawabnya... Dan kau tahu... Air mata seorang gadis secantik dirimu... Tak pantas jatuh... Itu terlalu berharga... Dan jika itu jatuh... Itu hanya akan mengurangi kecantikanmu..." Ucap Naruto yang tersenyum simpul sambil menenangkan Gabriel yang hampir menangis, seketika Gabriel berhenti sedih dan wajahnya merona kembali.

"A-aauuhhh..." Gabriel langsung memegangi kedua pipinya yang terasa memanas, Naruto hanya tertawa kecil melihat kelakuan gadis didepannya ini yang terlihat begitu lucu baginya.

"Baiklah... Sepertinya aku harus pergi sekarang... Sampai jumpa... Gabriel-san... Ingatlah... Ini bukanlah suatu perpisahan..." Naruto sedikit memundurkan tubuhnya, lalu memanggil Vimana, Gabriel menganggukkan kepalanya lalu sebuah senyuman yang amat manis muncul di bibir merahnya.

"Sampai jumpa... Naruto... Kun..." Ucap Gabriel pelan pada bagian terakhir agar tak terdengar oleh Naruto. Naruto mendekati Vimana, sebelum menaikinya Naruto sedikit membalikkan tubuhnya, pandangannya bertemu dengan Gabriel.

'Sebenarnya... Aku ingin memberitahumu jika Ayahmu masih hidup, Gabriel-san... Tapi... Jika aku memberitahumu, kurasa itu akan membuatnya kecewa... Lagipula, aku tak tahu di mana keberadaannya sekarang... Jadi, maaf...' Batinnya sebelum akhirnya menaiki Vimana dan terbang menjauh.

Voommm!

"Naruto-kun..." Ucap Gabriel pelan sambil terus menggenggam erat kalung yang berada di tangannya. Ia terus melihat arah dimana Naruto pergi, setelah beberapa saat kemudian, ia pun pergi dari tempat itu.

"S-sepertinya... Aku perlu membicarakan hal ini dengan Onii-sama, ya harus..." Gabriel membalikkan tubuhnya untuk melihat kembali tempat dimana ia bertemu dengan pemuda yang membuatnya selalu salah tingkah. Perlahan sebuah senyum manisnya semakin merekah di wajah cantiknya.

"Semoga... Semoga jika kita bertemu kembali... Kau juga merasakan apa yang kurasakan... Naruto-kun."

. Bersambung

sepertinya tak ada yang harus di katakan sekarang. Oh iya, Karena ini Reinkarnasi, Naruto menggunakan tubuh baru dan wujudnya menyerupai Gilgamesh sendiri.

jadi karena tubuh baru, Juubi tak akan ada di sini.

mampir juga ke Fanfic saya yang lain

The Admiral (Naruto x Azur Lane)

The Steel Fox (Naruto x Girls und panzer)