The King Of Heroes
Disclaimer :
Naruto : Masashi Kishimoto
Fate/Stay Night : Datto Nishiwaki
High School Dxd : Ichiei Ishibumi
Rate : -?-
Pair : -?-
Genre : Action, Fantasi, Supranatural,?
Warning : Typo, HumanNaru!, OOC, Author Newbie, Isekai, and Etc.
Summary
Uzumaki Naruto! Seorang pahlawan perang yang mati karena menyegel Juubididalam tubuhnya, saat ia berpikir akan pergi ke alam kematian, dia malah bereinkarnasi menjadi anak dari Dewi sihir dan seorang Raja agung. Mungkinkah ini akan menjadi kehidupannya yang baru? Hmm... Mungkin tidak.
Chapter 05
Start Story
Naruto melihat pada jam tangannya yang sekarang telah menunjukkan pukul 4 pagi. Dia sekarang ini tengah berdiri seorang diri di tanah lapang luas yang cukup jauh dari rumah miliknya, "Hmm, setelah sekian lama sejak terakhir aku melakukannya," ujarnya.
Di tangannya ia memegang Holy Grail yang telah terisi penuh. Jelas sekali sekarang ini ia ingin melakukan pemanggilan sekali lagi setelah puluhan tahun. Entah karena alasan apa, padahal servant miliknya sudah lumayan banyak, mungkin dia iseng-iseng saja.
Tanpa menunggu lagi, Naruto langsung menuangkan seluruh isi dari Holy Grail ke tanah dan secara teratur cairan itu terus menyebar, lalu membentuk sebuah lingkaran pemanggilan yang cukup besar. Tangan kirinya mulai menyentuh titik pusat lingkaran itu dan mulai melantunkan sebuah mantra. Di saat yang bersamaan, lingkaran pemanggilan tersebut mulai bersinar terang.
"O stone foundation and the Archduke's contract.
O ancestors, and my teacher, Schweinorg.
Closing the Gate of the Cardinal Directions.
Coming from the top, and following the fork in the road to the Kingdom.
Fill, fill, fill, fill, fill.
two five times.
If each is met, then destroy.
Set.
Listen to my words.
I will create your body, and your sword to create my destiny.
If you hear the call of this Grail, then obey my will and reason, Answer me.
I hereby swear… That I will do all the good in this world.
That I will defeat and wipe out evil on this earth.
Your Seven Heavens, clad in the power of three speeches, come out of this circle of restraint, Protective Scales!"
Seperti 30 tahun yang lalu, muncul 12 lingkaran kecil di dalamnya seolah membentuk pola sebuah jam. Sontak! Semua lingkaran itu mulai bersinar amat terang sehingga sulit untuk melihat. Akhirnya, cahaya terang itu berangsur-angsur memudar dan menunjukkan 12 sosok berbeda pada Naruto. Mereka semua berlutut ke arahnya.
"Huh, mungkin aku harus memuji diriku sendiri. Kali ini pun aku berhasil memanggil jumlah yang sama," gumamnya dengan sebuah seringai. Dengan ini, Servant nya secara keseluruhan berjumlah 24 orang.
" Your call has been answered. I am your Servant, My destiny is to walk with you. From now on, my sword is your sword" semua Servant itu berucap secara bersamaan seraya masih berlutut. Naruto memperhatikan mereka semua dengan saksama, dan jelas sekali beberapa di antara mereka memiliki aura kehormatan yang bisa dirasakan dengan jelas bahkan untuk beberapa Servant yang terindikasi sebagai Berserker. Sepertinya kali ini dia banyak memanggil dari kalangan Kesatria.
"Oi oi, bisa jelaskan situasi ini padaku? Apa-apaan ini, Seorang Master bisa memanggil 12 Servant sekaligus!? Jangan bercanda!!" ujar seseorang yang mengenakan pakaian full Armor. Sulit mengindikasikan dia pria atau wanita karena helm yang dia gunakan membuat suaranya juga tersamar, "Perang cawan macam apa ini?!" ia telah melihat perang cawan 7 lawan 7, tapi apakah ini seperti perang cawan Rumania tapi dengan skala yang lebih besar?
Naruto melebarkan seringainya. Entah mengapa dia merasakan Deja Vu dengan ini, benar-benar mengingatkan dirinya dengan kejadian di malam itu. Kira-kira, akan seperti apa reaksi mereka jika diberi tahu kalau pemanggilan ini bukan untuk perang cawan suci.
"Yah, aku tak begitu peduli. Bawa saja musuhnya dan akan kuhancurkan!" ujar seorang gadis yang cukup percaya diri. Ia mengenakan seragam militer yang cukup tua dengan sebuah mantel merah. Bagi orang lain, mungkin sulit mengindikasikannya sebagai Archer atau Saber, mengingat dia membawa senapan lontak bersama dengan pedang.
"Master, bisakah Anda menjelaskan semuanya pada kami?" suara lembut seorang wanita memanggilnya. Ia berbalik dan melihat siapa itu. Rupanya, seorang gadis pirang dengan kecantikan yang hampir tak terasa nyata untuk manusia. Dia mengenakan sebuah gaun perang dengan warna ungu gelap yang ditambahkan beberapa baju besi. Di kepalanya, ada semacam hiasan rambut berbentuk mirip 'M'
Naruto merasa sedikit tertarik dengan gadis ini karena informasi yang diberikan Sha Naqba Imuru padanya. Ia tak menyangka kalau dia bisa memanggil seorang Servant yang bukan dari 7 kelas utama, melainkan Servant dari Extra Class seperti Ruler yang notabenenya hanya bisa dipanggil dalam kondisi tertentu, "Aku mengerti kebingunganmu, Ruler. Tapi akan ada saat penjelasannya nanti," jawab Naruto membuatnya sedikit terkejut. Sepertinya dia sedikit terkejut karena Naruto mengetahui kelasnya.
"Oi, tunggu! Kau belum menjawab pertanyaanku!!" si pengguna Zirah tadi kembali menyolot. Sepertinya dia tak puas dengan ucapan Naruto barusan dan menuntut penjelasan sekarang. Dari belakangnya, dua orang pria berambut merah dan pirang maju melangkah kepadanya dan segera berlutut layaknya seorang kesatria.
"Master, mohon maafkan atas sikapnya. Saya akan menegurnya nanti," ujar si pria berambut merah panjang itu. Dia mengenakan Zirah dengan jubah putih, dan tampak sangat jelas kalau dia ini seorang Archer.
"Sir Mordred, sikapmu ini sangat buruk untuk seorang Kesatria meja bundar ... Tapi sepertinya hal itu tak mengherankan untuk penghianat sepertimu," ucap pria pirang pucat itu dengan sarkas. Naruto dapat merasakan dengan jelas kalau setiap kata-katanya terkandung kebencian pada si Zirah ini.
Helm dari Zirah itu terlepas menjadi beberapa bagian dan menunjukkan wajah seorang gadis. Nampak sekali kalau wajahnya terlihat sangat marah. Di tangannya, telah muncul sebuah pedang ornamen berwarna merah, "Gawain!" desisnya
Pria Gawain itu juga telah menghunus pedang miliknya. Sementara itu, Naruto hanya memandang tertarik pada senjata yang dipegang oleh kedua orang itu. Sebagai pemilik semua harta di dunia, ia dapat mengetahui nama dari dua senjata itu dan orang yang memegangnya, bahkan tanpa bantuan dari Sha Naqba Imuru pun.
"Hentikan!! Di mana etika kalian sebagai seorang Kesatria!?" ujarnya membuat mereka berdua terdiam. Tentu saja, soalnya Naruto juga memancarkan niat membunuhnya saat menyuruh kedua Kesatria itu untuk diam. Bahkan, matanya saat sudah berubah warna seperti batu Ruby.
Servant yang lain hanya memilih untuk menjadikan ini sebagai tontonan. Mereka juga penasaran soal Master mereka ini yang memiliki aura dan kharisma yang tidak wajar, sehingga hampir semuanya memilih diam sampai Master menjelaskan semuanya sendiri.
"Saya juga memohon maaf atas tingkah mereka berdua, Master," ujar seseorang orang lagi, kali ini dia adalah seorang pria berambut putih keabu-abuan dan tangannya nampak seperti logam.
"Oh, kupikir ada apa dengan lonjakan energi yang besar beberapa saat lalu, tapi rupanya kau melakukan ini lagi, Master," seorang wanita berambut hitam panjang dan mengenakan gaun hitam menawan tiba-tiba muncul. Sontak, para Servant yang ada di sana langsung bersiaga karena kedatangan wanita itu. Mereka mungkin berpikir kalau wanita ini adalah musuh.
"Tidak perlu waspada. Seperti katanya, dia adalah Servant ku juga," ujar Naruto sekali lagi membuat para Servant yang dia panggil terkejut. Mereka tak menyangka jika ada seseorang yang dapat memanggil lebih dari 12 Servant seorang diri.
"Ada apa, Semiramis?" tanyanya. Wanita itu melipat tangannya di bawah dada dan membuang muka. Sepertinya dia terlihat kesal.
"Dasar, kau masih bertanya ada apa setelah membuat kami khawatir? Setidaknya, jika ingin melakukan pemanggilan lagi harusnya kau beri tahu kami dulu," Semiramis mengeluh. Andai saja Masternya ini tahu seberapa bisingnya di rumah saat ini. Naruto hanya bisa menepuk wajahnya saja. Ia bisa membayangkan kekacauan apa lagi yang terjadi di rumahnya, terutama seorang Berserker wanita di sana sangat Overprotektif padanya.
Benar saja, dari belakang Semiramis seorang pria berambut ungu muncul sembari berlari keluar dari bayang-bayang malam. Naruto dapat melihat dengan jelas raut khawatir di wajahnya, " My Lord! Anda tidak apa-apa!?" itu adalah Lancelot dalam pakaian full Armor miliknya. Namun, ada yang aneh dengannya, sepertinya ia sangat terkejut dengan keberadaan orang-orang yang baru saja berbicara dengan Naruto.
"Lancelot, kau juga di sini!?" Mordred terkejut dengan kedatangan seseorang yang pernah berselingkuh dengan 'Istri' raja itu. Bukan hanya dia, tapi sepertinya Gawain, Tristan, Bedivere juga terkejut. Sementara itu, Lancelot hanya terdiam menunduk. Walaupun Arthoria sudah memaafkannya, tapi ia masih tak kuasa untuk menatap wajah rekan-rekannya yang pernah ia khianati.
"Sebelum kalian berbicara apa pun, aku akan membiarkan kalian menyelesaikan masalahmu bersama orang yang tepat," ujar Naruto tiba-tiba membuka mereka agak bingung dengan maksudnya, "Kuserahkan mereka padamu , Lancer," ujarnya entah pada siapa.
Bunyi tapak kuda terdengar perlahan, seolah sedang mendekati mereka, "Terima kasih, Master. Aku yakin sekarang saatnya menyelesaikan masalah ini secara menyeluruh," suara wanita ini membuat keempat orang itu tersentak, terutama Mordred. Perasaan bersalah dan penyesalan tiba-tiba saja menyelimutinya, sehingga membuat tubuhnya gemetaran. Ia takut ... iya takut dan malu untuk bertemu dengan pemilik suara ini.
Seorang wanita berzirah muncul dengan menunggang kuda putih yang amat gagah. Ia memberikan senyumnya pada para Kesatria itu, "Senang bisa berjumpa kalian lagi, wahai para Kesatria ku," sontak mereka semua langsung berlutut memberi hormat pada wanita itu. Bahkan, Mordred sekalipun.
" My King!?"
"Ikutlah denganku," Arthoria segera berbalik dan mulai berjalan pergi dari sana. Tanpa banyak bertanya, para kesatria meja bundar itu langsung mengikuti raja mereka itu dari belakang, terkecuali Mordred yang hanya masih diam mematung. Menyadari hal ini, Arthoria menghentikan langkah kaki kudanya dan menoleh ke Mordred, "Ayo kau juga, Sir Mordred," Arthoria tersenyum padanya. Ia ragu sesaat. Namun, akhirnya memutuskan untuk mengikuti raja sekaligus ayahnya itu.
"Baiklah, kalian semua. Di arah sana ada sebuah mansion, sekarang pergilah ke sana. Aku akan menjelaskan semuanya nanti," ujar Naruto. Sontak mereka semua langsung pergi dari sana, ada yang langsung terbang, melompat dari pohon ke pohon, bahkan ada yang hanya berjalan-jalan saja.
Naruto menghela nafasnya. Bisa dikatakan pemanggilan kali ini berjalan mulus-mulus saja, tak seperti saat pertama kali dia melakukannya, di mana ia harus bertarung dengan Iskandar dan Chu Chulain. Kalau sampai itu terjadi lagi, ia tak tahu kekacauan apa yang akan terjadi di tempat ini. Namun, rasa penasaran tetap menggelitik minatnya terhadap salah seorang Servant di sana. Dia adalah seorang pria berkulit gelap dan mengenakan Armor hitam bersama mantel berwarna merah.
"Ayo kita pulang, Master," suara Semiramis membuyarkan dirinya dari lamunan. Ia mengangguk pada wanita itu dan mulai berjalan bersama Semiramis di belakangnya, "Lagi pula, Mulai hari ini anda akan mulai bersekolah," lanjutnya membuat Naruto memutar matanya dengan bosan.
"Jangan ingatkan aku,"
Baru saja Naruto ingin pergi dari sana, tapi tiba-tiba saja lingkaran pemanggilan yang seharusnya menghilang itu kembali bersinar lagi. Hanya saja, tak semua lingkarannya bersinar karena hanya enam saja yang bersinar terang. Sekali lagi ketika cahaya itu memudar, muncul 6 orang berbeda Gender di sana yang sedang berlutut.
"Mastert ... I-ini?!" Semiramis tak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia tak tahu apakah mereka terpanggil dengan sendirinya atau karena ulah masternya juga.
"Ho, menarik," Sementara itu, Naruto hanya merasa ingin tertawa melihat hal ini. Ia paling tertarik dengan hal tak terduga seperti ini.
With Arthoria
Kini, Arthoria telah selesai mendamaikan para Kesatria meja bundar yang dulu pernah berseteru. Ia menenangkan mereka dengan mengatakan apa yang dulu ia sampaikan pada Lancelot, bahwa hancurnya Camelot bukanlah hanya kesalahan seorang saja, bahkan dirinya pun memiliki andil dalam hal itu, sehingga mereka memutuskan untuk saling memaafkan dan melupakan kesalahan masing-masing.
"Sekarang bubarlah," perintah Arthoria. Setelah mengangguk, mereka semua langsung berdiri dan mulai melangkah pergi dari sana, "Mordred, aku ingin berbicara secara pribadi dengan mu," sontak pemilik nama yang disebutkan itu langsung terdiam sembari menunduk. Walaupun ayahnya sudah mengatakan telah memaafkan mereka, tapi menurutnya kesalahannya lah yang paling besar di sini.
Mereka saling memandang sebelum ketiganya memberikan tepukkan di bahu Mordred sebagai simbol dukungan untuknya, sebelum akhirnya keempatnya keluar ruangan. Mordred sendiri merasa tak mengapa jika dia dihukum, malahan dia sudah siap dan merasa pantas mendapatkannya.
Greb
Namun, apa yang dilakukan oleh Arthoria membuatnya terkejut. Bukan hukuman yang dia dapatkan, melainkan sebuah pelukan ... Ya, sebuah pelukan hangat yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Bahkan, pelukan ibunya, Morgan, tak terasa seperti ini, "Maafkan aku," bisik Arthoria.
Mordred sungguh terkejut dengan perlakuan ini. Bukankah seharusnya dia yang meminta maaf? "Tidak, Ayahanda. Akulah yang bersalah di sini," Mordred kembali mengingat kebodohannya karena tak bisa memahami hati kecilnya. Seandainya dia tidak mengikuti perang cawan sebelumnya, mungkin dia tidak akan mengetahuinya keinginannya yang sesungguhnya.
"Tidak ... Itu tidak benar," Arthoria menggelengkan kepalanya dengan pelan. Dari apa yang Merlin pernah ceritakan padanya, sebenarnya Mordred hanyalah anak berusia 8 tahun, terlepas dari penampilannya, "Seharusnya aku menjelaskan maksudku dengan baik padamu, agar tak tercipta salah paham ketika itu. Aku harap kau bisa memaafkanku yang sudah membunuhmu,"
Mordred langsung membalas pelukan Arthoria. Ia tak bisa lagi menahan air matanya dan mulai sedikit menangis, karena merutuki kebodohan, seharusnya ia menyadari bahwa keinginannya bukanlah untuk menjadi raja, melainkan bisa meringankan beban yang harus dipikul oleh Ayahnya.
"Kumohon, biarkan aku meringankan bebanmu untuk selamanya," ujar Mordred pelan sembari menguatkan pelukannya pada Arthoria, sehingga membuat raja Camelot itu tersenyum.
"Tentu saja,"
Untuk beberapa lama, mereka berdua masih berada dalam posisi seperti itu, sepertinya Mordred masih enggan untuk melepaskan pelukan Arthoria dan lebih memilih menikmati kehangatan yang dia dapatkan.
Naruto melirik jam di tangannya. Sepertinya, setengah jam lagi ia akan berangkat menuju sekolah barunya, ia juga telah menjelaskan situasinya pada semua Servant yang panggil saat Subuh tadi. Yah, seperti yang dia harapkan pada awalnya mungkin mereka tak akan percaya, tapi untunglah Servant lain yang lebih dulu terpanggil segera membenarkan penjelasan itu. Sebagai buktinya, ia juga memaparkan identitasnya sebagai Gilgamesh, sang raja pahlawan, sekaligus pahlawan tertua yang pernah berjalan di muka bumi.
"Master,"
Sekarang ini, seorang Servant berambut perak sedang berdiri menghadap padanya. Orang inilah yang membuat dirinya tertarik karena latar belakang yang dia miliki, "Ada apa?" tanya Naruto singkat.
Pria itu meletakkan teko teh yang dibawanya di meja kecil di sebelah Naruto. Harus dia akui, teh buatan orang ini lumayan enak wanginya, "Aku penasaran, untuk apa kau memanggil Servant sebanyak ini?" tanyanya.
Naruto menaikkan sudut bibirnya. Jika ditanya seperti itu, dia pun akan menjawab kalau dirinya sendiri juga tak tahu mengapa, tap tak mungkin dia mengatakan itu, kan? "Untuk apa seorang Guardian sepertimu menanyakan hal itu? Ataukah kau menganggapku sebagai ancaman yang harus dimusnahkan?"
Tapi ia juga penasaran, apakah dirinya bisa memanggil sahabatnya, Enkidu, sebagai roh pahlawan mengingat kisahnya selalu berjalan bersama legenda raja Gilgamesh. Ia tak tahu ini bisa atau tidak, tapi mungkin di masa depan dia akan melakukan lebih banyak lagi pemanggilan. Namun, presentasi keberhasilannya sangat kecil, mungkin hanya sekitar 00,43% saja.
Pria itu menggelengkan kepalanya guna menyangkal ucapan Naruto barusan, tapi ia merasa miris dengan sebutan Naruto barusan. Saat ini mungkin dia lebih layak disebut sebagai mantan Guardian, karena sejak dipanggil oleh Masternya ia sudah tidak lagi merasakan ikatan dirinya dengan Alaya. Dan untuk itu, dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia merasa berterima kasih pada Masternya, karena sudah dibebaskan dari penderitaannya.
"Tidak seperti itu, hanya saja aku penasaran," jawabnya.
"Baiklah, akan kuberi tahu," Naruto berdiri dari kursi mewahnya dan berjalan ke samping pria itu, "Aku seorang raja yang yang memiliki segalanya di dunia, jadi aku melakukan hal yang kuinginkan. Itu saja, Faker," jawab Naruto membuat dia sedikit terkejut. Bukan karena jawaban Masternya yang ambigu ... Bukan, tapi sebutan barusan. Ia penasaran bagaimana Masternya bisa tahu kemampuannya padahal sama sekali belum ia perlihatkan.
Biasanya, Naruto akan menghukum siapa saja yang membuat tiruan dari harta mulianya dan benar-benar mengutuk perbuatan ini. Namun, ada sesuatu yang berbeda dengan yang dimiliki oleh pria ini, juga ia merasa kalau Archer yang satu ini akan berguna baginya di masa depan. Lagian, ia sekarang tak perlu lagi mengotori hartanya begitu cepat jika mereka tak layak. Naruto akan membuat mereka menghadapi pria ini terlebih dahulu untuk melihat apakah mereka layak bertarung melawan hartanya yang memiliki keaslian.
Tapi bagaimana pun juga, ia tetap kurang menyukai hal ini.
"Aku punya tugas pertama untukmu," ujar Naruto. Tiba-tiba, raut wajah Archer berubah serius. Ia ingin tahu tugas seperti apa yang akan dia terima.
"Apa itu, Master?" tanya Archer dengan mantap. Sebenarnya, ia juga penasaran dengan dunia baru ini dan ingin melihatnya sendiri, "Aku, Servant Archer, EMIYA akan melaksanakannya,"
"Cepat buatkan aku sarapan," jawabnya sembari pergi meninggalkan ruangan itu sembari tertawa. Jangan ditanya bagaimana reaksi EMIYA, yang jelas saat ini alis matanya hanya berkedut karena sedikit kesal. Namun, tanpa mengeluh ia langsung beranjak pergi dari sana dan mencari tempat bernama dapur. Yah, tugas pertamanya lumayan berat. Ia harus menyiapkan makanan untuk lebih dari 20 orang di rumah ini dan itu akan terjadi untuk kedepannya.
Kuoh Academy
Sebenarnya, Sekolah ini pada awalnya merupakan sekolah khusus putri. Namun, karena beberapa alasan akhirnya sekolah ini diubah menjadi campuran, sehingga rasio perbandingan pria dan wanita di sini sangat tinggi. Hanya dengan melihat saja, kita akan tahu kalau sekolah ini adalah sekolah kelas elit, terutama karena bangunannya yang bergaya bangsawan Eropa.
"Hmm, selera mereka tidak buruk," ujar Naruto ketika melihat bangunan dari tempat yang akan menjadi sekolahnya dari dalam mobil.
Semua siswa di sana dibuat terdiam dan terkagum-kagum ketika satu unit Lamborghini Veneno Roadster berwarna kuning memasuki gerbang sekolah. Tidak setiap hari kau akan melihat Sports paling mahal di dunia melaju di depanmu.
"Teruslah terkagum seperti itu, Zasshu," ujarnya yang ingin tertawa.
Dia dapat merasakan kalau semua pasang mata terus memperhatikan kendaraannya. Tentu saja, mengingat jenis mobil apa yang dia kendarai saat ini adalah produksi terbatas yang hanya ada 9 di dunia.
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Kaca jendela mobilnya diketuk oleh seseorang. Ia segera membukanya dan melihat Siapa itu, rupanya dia adalah seorang wanita berambut Bob dengan kacamata, dia juga mengenakan semacam emblem di lengannya yang mengindikasikan kalau gadis ini adalah anggota OSIS atau semacamnya. Namun, ia bisa merasakan kalau ada energi gelap yang terpancar dari gadis ini ... Suatu energi yang terasa familier baginya ketika Great War dulu.
"Ho, begitu rupanya. Sepertinya, sekolah ini juga menjadi basis bagi beberapa iblis kecil," batinnya.
"Apa kau murid baru?" tanya gadis itu walaupun ia sudah menduganya, hanya saja dirinya ingin memastikannya.
"Ya. Apa aku melakukan kesalahan, sehingga ditegur oleh anggota OSIS?" tanya balik Naruto. Bohong jika mengatakan kalau dia tak tahu apa kesalahannya. Dengan Sha Naqba Imuru, dia bisa mengetahui apa yang harus dia lakukan atau apa yang harus dia hindari, tapi dari awal dia sudah sengaja melakukan kesalahan ini untuk sedikit pamer.
"Sebenarnya, kendaraan roda empat tidak boleh lewat sini. Tapi karena ini hari pertamamu, aku tidak akan memberikan detensi. Jadi, silahkan putar balik dan masuk lewat pintu parkiran di sebelah," ujarnya sembari menuliskan sesuatu di buku kecilnya.
Naruto hanya mengangguk saja, sebelum akhirnya ia memutar arah mobilnya kembali ke luar gerbang. Sementara itu, si gadis OSIS hanya memperhatikannya dengan seksama. Ia merasa ada yang tak wajar dengan pemuda itu, "Auranya benar-benar tidak normal," batinnya. Mungkin, mulai sekarang dia akan mengawasi orang ini.
Skip Time.
Di dalam ruang kelas saat ini nampaknya telah dipenuhi oleh para siswa. Namun, karena guru yang seharusnya mengajar pagi ini belum datang, mereka semua malah asyik mengobrol dengan teman-temannya. Kali ini, mereka membicarakan tentang murid baru yang akan masuk hari ini.
"Kau melihatnya tadi? Murid baru itu sangat tampan dan tajir."
"Beruntung sekali kau, aku hanya melihat mobil kerennya itu."
"Ya ampun, dia pasti anak orang kaya atau bangsawan,"
Sementara itu, para pria hanya memasang tampang tak suka ketika para gadis terus-menerus membicarakan si murid baru yang bahkan belum menampakkan dirinya di depan mereka. Terutama seorang pemuda berambut cokelat ala Captain Tsubasa yang sedari tadi terus-menerus mengutuk seseorang.
Di saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba saja seorang guru masuk ke dalam kelas, sehingga membuat mereka semua terdiam seketika dan segera duduk dengan rapi. Setiap pasang mata di saja terus memperhatikan sosok pirang yang berjalan di belakang guru mereka. Jelas, kalau dia bukanlah orang Jepang.
"Baiklah, Anak-anak, Hari ini kita punya teman baru. Silahkan perkenalkan dirimu,"
Namun, Naruto hanya dia saja dan malah memasang senyum sombong yang bagi beberapa pria di sana bikin emosi, "Maaf saja, tapi aku memiliki aturan untuk tidak memberikan nama asliku pada orang yang baru kutemui," sontak, para remaja pria di sana langsung naik pitam karena ucapannya itu.
"Huh! Apa-apaan dia itu? Tingkahnya sangat sombong!"
"Benar, belum sehari saja dia sudah bertingkah seperti seorang bangsawan!"
Tak!
Tak!
Si guru itu memukul papan tulis beberapa kali guna meredakan keributan siswanya di sana dan cukup berhasil, sekarang mereka semua langsung diam, "Maaf, tapi peraturannya tidak seperti itu," ujar si guru sembari menghela nafasnya. Lagi-lagi dia mendapat murid yang akan susah diatur.
Naruto hanya acuh tak acuh dengan guru itu, dan malah menyodorkan sebuah surat padanya yang memiliki logo sekolah ini. Si guru sedikit terkejut, tapi tanpa bertanya ia langsung membuka dan membaca isinya, "Tak masalah, lagi pula kepala sekolah telah memberikan izin terkait ini," jawabnya.
Si guru tampak terkejut dengan apa yang tertera dalam surat ini. Ia sama sekali tak menyangka jika kepala sekolah akan memberikan izinnya hanya untuk masalah aneh seperti ini. Namun, diketahui olehnya, sebenarnya sebelum ke sini Naruto telah melakukan tindak penyuapan pada kepala sekolah itu dengan beberapa emas miliknya, yang tentu saja langsung diterima.
Sebenarnya, ia bisa saja mendaftar dengan nama palsu atau semacamnya, hanya saja harga dirinya sebagai raja agung tak akan mengizinkannya untuk melakukan itu. Baginya, seorang yang hidup dengan nama palsu itu bukanlah seorang raja.
"Baiklah, kau boleh duduk," ujar si guru sembari menghela nafasnya. Ia tak akan repot-repot mempertanyakan hal ini pada kepala sekolah ... Tidak, gajinya saja masih kurang dan dia enggan membuang tenaganya untuk hal seperti itu.
"Umm, permisi,"
Sebelum Naruto sempat melangkah ke tempat duduknya, seorang gadis berambut pirang panjang mengangkat jari telunjuknya, sepertinya dia ingin menanyakan sesuatu tapi agak malu-malu, "Kalau kami tak tahu namamu, bagaimana kami harus memanggilmu?" tanya gadis.
Aneh atau apa, tapi tiba-tiba Sha Naqba Imuru memasukkan informasi mengenai gadis ini kedelam kepalanya, dan percayalah dia sangat tidak menyukai informasi seperti apa yang dia dapat, "Gadis malang, sepertinya gereja sekarang ini mulai korup," batinnya. Entah mengapa informasi mengenai gadis lebih menarik dari pada informasi mengenai pemuda yang duduk di depannya
"Kurasa tak masalah jika kalian memanggilku 'Gil'" jawabnya sembari berjalan menuju bangku kosong sebelah gadis itu. Sontak pemuda yang berada di depannya malah menatapnya tajam.
"Hoi, Sialan! Mengapa kau duduk di sebelah Asia-Chan?" Naruto hanya memandang si pemuda seolah dia itu sampah yang menggangu, dan tentu saja hal ini membuat si pemuda berambut coklat ingin menghajarnya. Namun, di tahan karena ada guru di depan saat ini.
"Apa ada peraturan yang melarang aku duduk di samping nona ini?" ujar Naruto semakin membuat pemuda itu emosi.
Dalam hatinya Naruto ingin tertawa sekeras mungkin, melihat raut wajah pemuda ini sangat menyenangkan baginya. Mungkin, dia telah menemukan sesuatu untuk mengusir kebosanannya di sekolah ini. Lagian, menurutnya pemuda mesum seperti orang ini pantas mendapatkannya.
Dan begitulah, kehidupan sekolah dari sang raja agung ini akan dimulai. Entah peristiwa seperti apa yang akan dia alami ke depannya nanti.
Naruto residence
Kembali ke rumah Naruto, saat ini seorang pria berambut panjang sedang duduk di balkon sembari menikmati secangkir teh Darjeeling. Ia adalah 6 Servant terakhir yang terpanggil dengan sendirinya. Dia tak sendiri, di sebelahnya ada seorang gadis berambut putih panjang dengan penampilan bak seorang putri kerajaan sedang menggendong sebuah boneka.
"Aku tak melihat yang lain, rasanya tadi pagi di sini sangat ramai," ujar Gadis dengan suara yang amat lembut.
Pria berambut hitam panjang itu hanya menyesap tehnya sekali dan menjawab, "Anda tahu sendiri, kalau Master sedang pergi ke sekolah, beberapa Servant ada yang bekerja di kota, dan yang lain, sepertinya memilih untuk berjalan-jalan di kota guna menyesuaikan diri."
Si gadis menghela nafasnya, entah mengapa dia merasakan bosan di sini ketika Masternya tidak ada, juga tak banyak yang bisa dia lakukan di sini dan mereka yang sedang pergi mungkin sore baru akan kembali.
"Apa ada sesuatu yang mengganggumu, Putri Anastasia?" Tanya balik pria itu.
"Tolong Anastasia saja," ia mengoreksi. Dirinya sama sekali tak ingin dipanggil dengan sebutan formal seperti itu ... Tidak di kehidupan kali ini.
Anastasia langsung berdiri dan mulai melangkah pergi dari sana, sepertinya ia ingin berjalan-jalan seperti yang lain untuk mencari sesuatu yang bisa dia lakukan agar tidak bosan di rumah saja, "Aku permisi dulu," ujarnya sedikit menundukkan kepalanya sebelum benar-benar pergi dari sana.
Another place
Sebuah toko penjualan ikan saat ini sepertinya sedang terlihat ramai. Namun, anehnya kebanyakan pelanggan di sana adalah sekumpulan wanita muda yang akan sangat jarang mengunjungi tempat seperti ini. Pemilik tempat itu, seorang pria berambut biru dengan ekor kuda, terlihat sedang sangat kewalahan membungkus ikan yang dipesan pelanggan, tapi jelas dia sangat senang.
Semua ini terjadi berkat bantuan kecil dari Servant yang baru saja terpanggil pagi ini, "Terima kasih, ya, Rider," ujar Chu Chulain dengan tangan yang masih sibuk.
Rider yang baru ini adalah seorang pria muda berambut hijau runcing berdiri kecuali satu poni yang menggantung di sisi kiri wajahnya, matanya yang terlihat seperti raptor mungkin menjadi daya tarik tersendiri bagi para wanita muda itu, sehingga berbondong-bondong datang membeli ikan di sini padahal biasanya lumayan sepi.
Rider tak bisa membalas ucapan Chu karena saat ini mulutnya sedang sibuk mempromosikan ikan-ikannya pada para wanita itu yang sedari tadi terus-menerus sengaja bertanya padanya agar bisa mengobrol dengan pria ini.
Beberapa saat kemudian, toko tersebut telah sepi karena stok ikan yang mereka jual telah terjual habis semua. Kini keduanya sedang duduk di depan toko sembari meminum soda kalengan guna menikmati waktu istirahat mereka.
",Ahh, hari ini benar-benar sibuk, aku benar-benar tertolong," ujar Chu Chulain sembari meneguk habis soda miliknya. Sementara itu, Rider hanya menghela nafas saja.
"Lain kali, bilang jika kau ingin menjadikanku umpan untuk menarik pembeli wanita," keluhnya. Sepertinya dia sedikit kesal karena Chu menjadikannya semacam boneka pembawa keberuntungan.
Chu Chulain hanya tertawa terbahak-bahak dan memukul bahu Rider karena mendengar keluhan dari roh pahlawan ada Yunani kuno itu, "Ayolah, itu tugas yang mudah untuk roh pahlawan sekaliber dirimu, Achilles," balas Chu sembari berdiri dan mengambil sebuah tongkat pancing dan menyerahkannya pada Achilles, "Ayo kita pergi memancing," serunya saat menutup tokoh.
Achilles menatap bingung pancingan itu karena suatu hal, "Hanya satu saja? Bagaimana denganmu?"
"Jangan khawatir, aku bisa bisa menggunakan Gae Bolg sebagai joran," oke, mungkin Chu Chulain adalah roh pahlawan paling aneh yang pernah ia temui, karena ia yakin tak akan ada Servant yang menggunakan harta mulia mereka sebagai tongkat pancing.
Pada hari, para Servant baru yang dipanggil Naruto mulai membiasakan diri untuk dunia ini dan kehidupan kedua yang tak jelas akan normal atau tidak, entah dunia akan menentukan nasib seperti apa bagi mereka, ataukah mereka yang menentukan nasib bagi dunia
Tanpa disadari, Kota Kuoh telah menjadi pusat pergerakan beberapa kelompok berbeda dengan tujuan berbeda.
Bersambung
Author's note
Bagaimana? Terasa garing, kan? Kalau begitu saya meminta maaf. Ngomong-ngomong, di atas saya memutuskan untuk memanggil beberapa Servant tambahan lagi yang mungkin akan terlalu banyak.
Saya telah bertanya pada Author aslinya untuk apa Naruto melakukan pemanggilan seperti itu, tapi di fic yg ini saya membuat alasannya adalah untuk mencoba apakah dia bisa memanggil sahabatnya atau tidak, dan presentasinya hanyalah 00,43% (jangan tanya mengapa, itu adalah rate SSR di FGO) hahahahah
Beberapa hal penting yang harus diketahui, adalah Naruto di sini menggunakan wujud Gilgamesh
Karena sudah beda tubuh lagi dengan yang sebelumnya, maka Juubi tak ada di sini
Oh iya, pada awalnya Servant yang dipanggil dalam chapter ini hanya 12 saja. Namun entah mengapa 6 Servant lagi juga ikut terpanggil. Dan untuk masalah Excalibur dunia dxd, tunggu saja seperti apa reaksi Naruto.
Juga kalian telah melihat EMIYA di sini. Saya sengaja membuat setting time line untuk perang cawan Fuyuki sehingga tak sama dengan Cannon, atau sama sekali tak pernah terjadi, tapi tetap dengan EMIYA yg menjadi counter force
Saya juga belum memberi tahukan siapa saja servant yang dipanggil pada kalian, hanya saja saya sudah menentukan siapa saja itu.
Tentunya seperti Anastasia, Achilles, KORT, sudah saya paparkan, beberapa juga saya sudah beri petunjuk dengan ciri-ciri nya seperti Ruler. Oke, sekian dulu.
Cobalah untuk menebak siapa saja yg terpanggil kali ini, mungkin saya akan mengubahnya, wkwkwkw.
