The King Of Heroes

Disclaimer :

Naruto : Masashi Kishimoto

Fate/Stay Night : Datto Nishiwaki

High School Dxd : Ichiei Ishibumi

Rate : -?-

Pair : -?-

Genre : Action, Fantasi, Supranatural,?

Warning : Typo, HumanNaru!, OOC, Author Newbie, Isekai, and Etc.

Catatan penting: notif update kemarin ada dikarenakan author sengaja untuk melakukan beberapa perubahan kecil agar nyambung dengan chapter kali ini. Mungkin kalian tidak akan menyadari tapi saya benar-benar melakukan itu. Percaya lah tidak ada niat untuk prank. Btw jangan lupa tinggalkan review agar saya tahu ada yang baca atau tidak fic ini, juga supaya saya semangat dalam menulis dan itu artinya semakin cepat juga up nya.

Start Story

Seorang gadis sepertinya saat ini sedang menjadi pusat perhatian dari orang yang berlalu-lalang di sekitar sana, bukan hanya perawakannya yang cantik tapi sepertinya pakaian yang ia kenakan berupa gaun putih berornamen emas juga membuatnya menjadi tontonan yang unik. Sedari tadi, dia hanya diam mematung di depan gerbang sembari memperhatikan sekolah ini.

"Tidak salah lagi, aku merasakan pancaran Prana milik Master dari sini," ujar Anastasia. Tanpa menunggu lagi, dia langsung masuk ke dalam wilayah sekolah walaupun dirinya sendiri bukanlah pelajar di sini.

Ia sudah berjalan beberapa lama, tapi belum juga menemukan orang yang dia cari si sini, "Viy, aku lelah," ujarnya yang langsung duduk di salah satu bangku di dekatnya, "Kau juga merasakan Master ada di sini, kan? Tapi sepertinya di sini agak sepi," entah ia berbicara pada siapa, tapi tak mungkin, kan, jika dia berbicara dengan boneka dalam gendongannya itu?

"Ah, ada Onee-Chan Caster," sebuah suara gadis kecil membuatnya terkejut sedikit. Ia menolah ke samping, rupanya ada seorang gadis kecil berpakaian seperti anak TK dengan rambut yang sama sepertinya. Anastasia kenal siapa gadis ini, identitas aslinya adalah Jack The Ripper, Servant Assassin yang 30 tahun lalu dipanggil oleh Masternya.

"Jack, apa yang kamu lakukan di sini?"

Jack melebarkan senyumnya dan menjawab, "Aku merasakan Papa ada di sini, jadi kami ingin mencarinya," Anastasia hanya mengangguk. Sepertinya dia tidak salah, Masternya memang ada di sekitar sini.

"Ayo, bagaimana kalau kita mencari bersama?" usul Anastasia sembari menggenggam tangan kecil Jack, dan tentu saja si pembunuh kecil itu langsung menyetujuinya.

Selama berjalan, Anastasia dapat menyadari kalau Jack terus-terusan menatap boneka yang dia gendong, "Kau ingin mencoba memeluknya? Aku akan meminjamkannya untukmu," ujarnya ketika memberikan boneka aneh kepada Jack yang terlihat bersemangat menerimanya.

Selama mereka berdua berjalan bersama, entah para murid ataupun guru yang kebetulan lewat terus saja menatap keduanya dengan tatapan heran dan kagum, mungkin juga karena pakaian Anastasia yang terlalu mewah. Untunglah sekarang ini masih jam pelajaran dan bukan waktu istirahat. Jika tidak, mungkin saja para pelajar akan mengerumuni mereka berdua, khususnya yang laki-laki.

Sementara itu di tempat parkiran sekolah, 3 orang gadis tampak baru saja datang dengan mengendarai sebuah motor Harley Davidson CVO Prostreet Breakout berwarna hitam, yang sepertinya menjadi sangat mencolok di antara kendaraan lain di sana terkecuali sebuah Lamborghini yang terlihat mewah.

Sang pengendara nampaknya tak melihat ada tempat kosong untuk memarkirkan motornya di sana. Alhasil, salah satu orang yang membonceng di motor itu segera turun dan mendekati salah satu motor di sana, dan secara tak bertanggung jawab langsung menendang motor itu hingga beberapa meter.

"Baiklah, sudah ada tempat kosong di sini," ujar si pelaku penendangan barusan. Ia adalah gadis berambut panjang dengan warna hitam kemerahan. Hampir seperti Naruto, warna matanya juga merah darah. Gadis ini mengenakan kemeja hitam beserta jas marun yang ia sandarkan di pundaknya. Untuk bagian bawah, dia mengenakan sebuah celana pendek abu-abu yang dipasangkan dengan stocking Full Leg.

Setelah memarkirkan motornya, si pengendara dan satu lagi penumpang di situ langsung turun, keduanya membuka helm mereka. Salah satunya sangat jelas memiliki tampang seorang Yankee, yang tak lain pengedaran itu adalah salah satu Kesatria meja bundar, Mordred dengan pakaian kasualnya,"hahaha, akhirnya polisi sialan itu tidak mengikuti kita lagi," ucapnya sembari menyeringai.

Sementara itu, gadis ketiga di sana tampak sekali matanya sedang berkunang-kunang dan kapan saja bisa ambruk karena mabuk, "Cukup! Itu terlahir kali aku naik motor bersama kalian!" sesalnya. Sejak awal, dia sudah memiliki perasaan tak enak ketika Mordred memiliki usul untuk berkendara motor melebihi aturan.

"Uahaha, ayolah, Okita. Kau terlalu taat peraturan," ujar si gadis berambut hitam. Tak seperti Okita, dia tampak bersemangat setelah melakukan aksi kejar-kejaran bersama sebuah mobil polisi. Yah, mereka baru saja melakukannya. Awalnya, mungkin polisi akan menilang mereka karena mengendarai sebuah motor dengan 3 orang. Namun, yang tak terima langsung saja tancap gas, sehingga terjadilah pengejaran yang berlangsung lama itu

"Sudahlah, jangan memaksanya. Lagi pula, di eranya dulu ia itu semacam polisi," ujar Mordred tanpa menoleh pada kedua orang itu. Ia masih sibuk mengecek keadaan motor barunya.

"Pengawal Shogun," koreksi Okita, walaupun menyebutnya sebagai seorang polisi juga tak sepenuhnya salah, mengingat salah satu tugas Corps Shinsengumi adalah menjaga ketertiban kota kala itu, tapi mereka lebih bangga disebut sebagai pengawal seorang Shogun.

"Hei lihat itu," ujar Mordred sembari menunjuk sesuatu. Mereka menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Kesatria, dan melihat rupanya itu adalah sebuah mobil mewah yang terasa agak familier, "Bukankah itu milik Master?" ujarnya

"Ya, dan itu berarti ini adalah sekolahnya," jawab Okita setelah melihat di plat nomor itu ada tertulis nama 'Gil'. Tak perlu menjadi jenius untuk mengetahui kalau itu adalah inisial untuk nama Gilgamesh, yang merupakan identitas asli dari tuannya.

"Bagaimana kalau kita temui dia?" usul si rambut hitam, sehingga membuat Okita memandangnya seolah dia sudah gila. Tak heran, mengingat gadis itu dulu sering disebut sebagai si bodoh dari Owari

"Sebaiknya jangan lakukan itu, Nobu," Okita mengingatkan. Ia tahu ini pasti ide yang buruk untuk datang pada tuan mereka yang sedang belajar di sini. Namun, sudah terlambat karena Nobunaga telah pergi ke dalam area sekolah tanpa mendengar nasehatnya.

"Aku sih terserah kalian saja," ujar Mordred yang mengikuti Nobunaga masuk ke dalam. Okita menghela nafas. Seharusnya sejak awal dia tak keluar rumah bersama 2 orang pengacau ini. Sekarang, hanya bisa berharap ini tidak membuat tuannya marah, dan menciptakan masalah bagi diri mereka sendiri.

"Pokoknya jangan salahkan aku jika kalian dimarahi!" ujarnya, tapi tetap menyusul kedua temannya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam.


Classroom

Naruto kepalanya dengan satu tangan karena bosan dengan penjelasan guru didepannya. Rasanya semua itu tak ada guna bagi dirinya yang notabenenya berhubungan dengan penjelasan si guru. Yah, secara kebetulan materinya saat ini tentang sejarah Mesopotamia kuno, walaupun legendanya tak ada di sini. Walaupun seperti itu, satu tangannya tetap telaten untuk mencatat, karena dirinya ingin kehidupan sekolahnya normal-normal saja.

Sungguh ironis jika diingat-ingat lagi, kehidupannya sebagai seorang raja dan Shinobi sangatlah berbeda. Walaupun jiwa yang sama, tapi Uzumaki Naruto dan Gilgamesh adalah dua individu yang berbeda dari segala aspek, termasuk kecerdasan. Ia masih menyimpan kenangan dari Elemental Nation, tapi sifatnya sekarang telah sangat jauh jika dibandingkan dengan kala itu.

Brak!

Tiba-tiba pintu kelas dibuka dengan sangat kasar sehingga membuat hampir seisi ruangan terkejut. Semua segera menoleh ke sana, rupanya ada seorang gadis pirang berpenampilan agak terbuka yang menyeringai ke arah mereka. Bahkan, dia tersenyum tanpa dosa setelah dengan tidak sopannya masuk ke sini. Semua orang bertanya-tanya, siapa gadis ini? Tampaknya dia mengenal salah satu d antara mereka.

"Yo, Master! Kami datang menyapa," ujar Mordred sembari melambaikan tangan, pelaku dari pendobrakan barusan. Dia tak sendiri, Naruto bisa melihat dia bersama dengan Nobunaga di sampingnya.

Naruto menghela nafasnya, masuk sekolah ini saja sudah membuat moodnya buruk pagi ini dan sekarang, dua servant nya malah seenaknya datang ke sini. Setelah ini mungkin dia akan berurusan dengan pihak OSIS atau guru lainnya, dan ditanya oleh berbagai macam pertanyaan. Lihat saja, semua orang di sini malah menggosipkan dua pendatang baru itu.

Sesaat kemudian, Okita muncul dari belakang keduanya dan menundukkan badan pada Naruto, "Maafkan saya, Tuanku. Saya sudah berusaha menghentikan mereka tapi tidak didengarkan," wajah Okita tampak khawatir kalau tuannya akan marah.

"Sudahlah, ini bukan salahmu," jawab Naruto.

"Tunggu dulu, kalian semua!" ujar guru itu tiba-tiba. Beberapa urat muncul di kepalanya dan alis matanya juga berkedut, ya tak heran jika ia kesal seperti ini. Pertama, dia mendapatkan murid baru yang angkuh dan sulit diatur dalam kelasnya. Sekarang, tiba-tiba saja 3 orang gadis yang bukan siswi di sini datang dan membuat keributan, "Gil-Kun, tolong jelaskan, dan siapa mereka?"

Naruto hanya memutar matanya dengan bosan menanggapi ucapan si guru, "Yah, mereka sebenarnya adalah siswa baru yang akan mulai masuk besok, tapi hari ini datang untuk melihat-lihat," karangnya. Walaupun tak sepenuhnya bohong, karena memang dari awal dia berniat memasukkan beberapa Servant ke sini cepat atau lambat, tapi dia tak berharap 3 orang ini akan langsung datang ke sini.

Naruto merogoh isi tasnya sebelum melemparkan sesuatu ke arah Mordred yang dapat menangkapnya dengan mudah, "Bawa itu ke kepala sekolah. Katakan itu dariku dan jangan lupa untuk meminjam seragam agar bisa berkeliling di sini," ujarnya. Para siswa dan guru yang ada di sana melotot tak percaya tatkala melihat apa yang Naruto lemparkan barusan. Yah, siapa yang tak kaget ketika seseorang dengan entengnya melemparkan emas batangan ukuran 500g seolah itu bukan apa-apa? Tapi, bagi Naruto itu hanyalah debu di penyimpanan harta miliknya. Dia sengaja menyimpan beberapa dalam tas, karena tak bisa menggunakan Gate of Babylon di depan umum.

"Baiklah, kami pergi dulu, Master," ujar Mordred yang langsung pergi dari sana dengan seringai yang terpampang jelas.

"Jaa~ Jangan lupa janjimu saat pulang nanti, ya," timpal Nobunaga sebelum menyusul Mordred ke kantor kepala sekolah. Sedangkan Okita? Dia hanya memberikan busur hormat sebelum mengikuti kedua temannya itu.

Semua orang di kelas terus melongo melihat Naruto karena kejadian barusan, dan bertanya-tanya seberapa tajir orang ini? Bukan karena apa, bahkan tadi pagi saja dia datang menggunakan sebuah mobil Sport mewah, sekarang dia dengan entengnya melemparkan emas batangan pada gadis tadi seolah itu hanya sebuah koin receh. Siapa sebenarnya orang ini? Apakah dia anak mafia atau semacamnya?

Naruto kembali mengeluarkan emasnya lagi. Namun, kali ini hanya koin dengan ukuran diameter 2cm, dengan jumlah lebih banyak dan meletakkannya di atas meja sebelah, "Kalian boleh ambil ini tapi jangan mempermasalahkan kejadian barusan," ujarnya membuat semua orang melongo tak percaya

"DIA MASIH PUNYA LAGI?!" batin mereka semua. Namun walaupun terkejut, mereka tetap berebutan untuk mengambilnya sehingga terjadilah desak-desakan untuk memperebutkan emas itu. Tiba-tiba, Naruto merasa belakangnya ditusuk-tusuk oleh sesuatu. Rupanya itu adalah Gadis yang ia ketahui sebagai suster yang dibuang oleh gereja.

Gadis itu menatapnya seolah sedikit khawatir pada Naruto, "A-ano ... Apakah tidak masalah bagimu untuk menghambur-hamburkan harta seperti itu?" pertanyaan gadis itu membuat Naruto tertawa dan mengusap kepalanya, kali ini pemuda cokelat itu tak protes karena sibuk berebut emas di sana.

"Ya, kurasa tak masalah untuk mendonasikan sedikit uang jajan milikmu," jawabnya. Pikiran gadis tampaknya Blank untuk sesaat setelah mendengar jawaban itu ... Yang seperti itu disebut uang jajan?

Karena semua orang sibuk dan tak memperhatikan, Naruto membuka gerbang Babylon seukuran bola kasti dan mengeluarkan sebuah jepit rambut yang sangat indah dari sana. Itu memiliki bentuk persegi panjang dan berhiaskan Padparadscha sapphire, dan itu diserahkan pada si gadis, "Ambillah."

Si gadis tampak enggan menerima. Menurutnya, dirinya merasa tak pantas untuk menerima barang yang sangat indah dan berharga seperti itu, "M-maaf, aku tak bisa menerima kebaikanmu," balas gadis itu.

Naruto menaikkan senyum kecilnya. Dari Jawaban itu dan informasi dari Sha Naqba Imuru, kalau gadis polos ini hanyalah korban gereja dan iblis yang menyalahkannya karena sesuatu yang tidak ia ketahui. Apa yang terjadi pada gadis ini membuatnya merasa jijik, rasanya seperti mengingat masa-masa kecilnya di Konoha. Senyumnya berganti seringai, ia memiliki rencana licik untuk gadis ini. Keadilan harus diberikan.

"Siapa bilang aku memberikan ini secara cuma-cuma? Ambil ini, dan sebagai gantinya temani aku berkeliling nanti," ujar Naruto dengan wajah sombong yang dibuat-buat.

Gadis itu tampak masih ragu sesaat untuk menerima pemberian Naruto, tapi akhirnya juga dia mengambil jepit itu dari tangan Naruto dan memberikan anggukan sebagai isyarat persetujuan.

"Kalau begitu, terima kasih, Nona Asia," ujar Naruto seraya kembali duduk di kursinya, meninggalkan Asia yang sedikit bingung karena namanya diketahui oleh Naruto, padahal seingatnya dia sedari tadi tidak memperkenalkan diri.


Naruto Residence

Seorang gadis berambut pirang sanggul kini tengah berjalan menuju rumah besar di depannya seraya menenteng sebuah koper berwarna merah. Yah, dia adalah Kaisar Romawi, Nero Claudius yang baru saja pulang dari perjalanan tour keliling dunianya sebagai seorang Idol, "Oh ya ampun, sebulan tidak bertemu Master rasanya sangat menyiksa," ujarnya menghela nafas.

Tiba-tiba saja, entah mengapa dia berhenti berjalan dan raut wajahnya terlihat serius. Bahkan, dia telah menghilang pakaian kasualnya dan berganti dengan sebuah gaun merah yang agak transparan di bagian bawah, di tangannya juga telah muncul sebuah pedang merah yang lumayan besar.

Trank!

Dalam beberapa milisecond, Nero berhasil mengangkat pedangnya untuk memblokir sebuah ayunan pedang yang diarahkan padanya. Namun, walaupun berhasil di tahan tapi tetap saja kawah yang tercipta di bawah kakinya itu membuktikan betapa kuatnya tenaga orang ini.

Nero melihat pelaku penyerangannya. Ia adalah seorang pria berambut hitam pendek dan kulit pucat, dia bisa melihat kalau orang ini menggeram padanya. Hanya dengan mengetahui itu, Nero bisa menyimpulkan siapa orang ini, "Gah! Seorang Servant Berserker!? Tapi bagaimana mungkin?"

Dia kembali dipaksa mundur tatkala sebuah anak panah lewat hanya beberapa inci dari kepalanya. Nero menoleh ke samping, ia melihat seorang gadis berambut hijau yang bertengger di atas pohon sedang membidikkan anak panah padanya, "Siapa kau? Yah siapapun dirimu, sepertinya kau cukup bodoh untuk berniat menyerang ke sini seorang diri. Tapi, kami tak akan segan pada orang yang memiliki niat buruk pada Master," ujar gadis itu dengan dinginnya.

Nero sedikit menegakkan kepalanya ketika mendengar ucapan gadis itu. Sekarang, ia mengerti dengan situasi yang terjadi dan alasan mengapa mereka menyerang dirinya. Sepertinya saat dia melakukan Tour, masternya telah melakukan pemanggilan lagi, lalu para Servant baru ini menganggapnya sebagai ancaman bagi masternya. Yah, itu dapat dipahami mengingat tempat ini sangat terpencil dan sangat jarang orang-orang pernah datang kemari, kecuali memiliki alasan khusus atau mereka adalah musuh.

"Tunggu semua! Ini cuman salah paham," ujar Nero. Namun, sepertinya tidak didengarkan karena Berserker tadi telah melesat ke arahnya sembari mengayunkan pedang, sehingga memaksa Nero menebaskan pedangnya ke pria itu. Namun, sebelum kedua pedang itu berbenturan...

Ctarr!

Sambaran petir lewat di tengah-tengah sehingga menghentikan mereka berdua yang akan benar-benar berkelahi. Keduanya menoleh ke arah datangnya petir itu, dan melihat seorang wanita berambut ungu panjang dengan dada besar sedang berjalan ke mari. Ia tak sendiri. Di belakangnya, seorang pria berambut hitam panjang yang senada dengan warna setelan jas miliknya, dia juga mengenakan sebuah selendang berwarna merah yang menggantung di bahunya, beserta kipas bulu di tangannya.

"Tolong hentikan, kalian," ujarnya sembari memperbaiki posisi kacamatanya dan menunjuk ke arah Nero, "Dia bukanlah penyusup, tapi Servant Master juga seperti kita," lanjutnya membuat dua orang itu terkejut. Keduanya menoleh kepada si wanita untuk meminta konfirmasi.

"Nyonya Raikou, apa itu benar?" tanya gadis di atas pohon.

Wanita yang dipanggil Raikou atau Minamoto no Raikou, itu mengangguk sebagai jawaban, "Ya itu benar, kami berdua belas dipanggil di saat yang sama waktu itu," Raikou tersenyum.

Sontak kedua Servant baru itu menyimpan kembali senjata mereka dan berjalan mendekati Nero yang juga sudah kembali pada mode kasual. Salah satunya memberikan membungkuk badannya pada Nero sebagai permintaan maaf. Itu adalah Berserker yang tadi hampir menebasnya,

"Maafkan saya," ujarnya singkat.

Si gadis berambut hijau juga meminta maaf pada Nero, dia tak menyangka jika orang yang ia serang barusan adalah salah satu Servant yang dipanggil lebih dulu sebelum mereka pada waktu sekitar 30 tahun yang lalu, "Aku hanya menjalankan tugas untuk berjaga di sekitar sini," kata gadis itu.

Nero hanya mengangguk memakluminya, "Umu, aku tak akan marah soal itu," tapi ia juga penasaran, sudah berapa banyak Servant yang masternya panggil? Lagian, bukankah Servant yang dia panggil sudah banyak, lalu untuk apa semua ini?

"Ayo Nero-Chan, kita masuk dulu, aku yakin kau lelah setelah melakukan Tour mu," ujarnya yang dibalas anggukan oleh si kaisar Roma. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada kedua Archer dan Berserker baru itu dan bertanya, "Bagaimana dengan kalian, Atalanta-San, Hijikata-San? Kebetulan aku baru saja memanggang biskuit."

Namun, Berserker yang dipanggil sebagai Hijikata itu menggelengkan kepalanya sebagai bentuk penolakan, "Maaf, tapi aku punya janji dengan Sasaki-Dono dan Miyamoto-Dono," jawabnya sembari pergi dari sana.

Begitu pula dengan Atalanta, "Maafkan aku, tapi aku punya tugas yang harus aku laksanakan," tolaknya sebelum melompat dari pohon ke pohon, dan akhirnya benar-benar hilang dari sana. Sepertinya dia sangat serius menanggapi tugas yang diberikan padanya, walaupun Naruto sendiri hanya mengatakan untuk menjaga rumah.

Raikou hanya menghela nafas, tampaknya para Servant baru ini masih kaku untuk menjalani kehidupan dengan santai, tidak seperti pada Holy Grail War yang penuh dengan persaingan. Mungkin dia harus meminta Naruto untuk memberikan pemahaman pada mereka nanti.

"Ayo, Nero-Chan, kita masuk ke dalam," ujarnya sembari membawakan koper Nero ke dalam Mansion, "Kau juga, Zhuge Liang," lanjutnya menatap pria berambut hitam panjang itu.

"Tentu saja," jawab keduanya seraya mengikuti wanita itu masuk ke dalam.


Market

EMIYA menghela nafasnya tatkala melihat daftar belanjaan yang ada di tangannya. Stok bahan makanan di rumah sudah habis, dan dia menawarkan diri untuk membantu mengisi ulang semua persediaan itu. Namun, dirinya tak menyangka kalau yang harus dia beli itu akan sebanyak ini. Serius, jumlah mulut di Mansion itu cukup banyak tapi seharusnya tidak begini juga.

"Aku tahu, 31 orang itu sangat banyak, tapi bukankah ini terlalu banyak untuk persediaan sebulan?" ujarnya tak habis pikir. Ia bertanya-tanya, apakah ada yang makan kelewat over di sana? "Ngomong-ngomong, terima kasih sudah mau membantu, Lancer," ujar EMIYA pada gadis berambut putih panjang dengan bercak hitam di poninya, dia memiliki mata hijau kekuningan yang terlihat unik. EMIYA belum tahu siapa identitas asli dari gadis, sehingga ia memanggil dengan nama kelasnya.

"Tidak masalah," ujarnya sembari terkekeh, "Oh ngomong-ngomong, aku belum memperkenalkan diri, ya? Kalau begitu, namaku adalah Nagao Kagetora tapi kalian boleh memanggilku Kagetora-Chan," dia terlihat bersemangat saat memperkenalkan dirinya.

EMIYA tampak berpikir sesaat, berusaha mengingat identitas roh pahlawan yang memiliki nama itu. Ya, karena dia sudah tak memiliki ikatan dengan cawan suci yang normalnya akan memberikan ingatan tentang para pahlawan setelah nama mereka diungkapkan, sehingga kali ini ia harus mencari tahu sendiri. Namun, rasanya nama itu tidak terlalu asing baginya.

Namun, beberapa saat kemudian, dia tersentak ketika ketika berhasil mengingat siapa dibalik nama Nagao Kagetora ini, "Tunggu! Kau adalah Uesugi Kenshin, dewa perang dari Echigo?" ujarnya tak percaya. Yah, seharusnya dia tak perlu kaget, mengingat beberapa Servant di rumah juga dikenal sebagai seorang pria dalam sejarah, "Cukup mengejutkan."

Kagetora hanya tertawa canggung seraya menggaruk kepalanya, "Ya, aku juga tak menyangka jika nama itu akan lebih terkenal," jawabnya. Dia juga saat pertama kali mengetahui ini, padahal dia lebih terkenal di medan perang dengan Nama Nagao Kagetora, sedangkan Uesugi Kenshin hanyalah nama yang dia gunakan dalam politik mengingat jabatannya adalah kepala klan Uesugi kala itu.

"Kalau tak salah, di sini seharusnya ada toko ikan milik Chu Chulain, kan?" tanya Kagetora. Selain, membeli persediaan, mereka juga diminta pergi membeli beberapa ikan untuk makan malam hari ini. Namun, ia tidak melihat rekan Lancer berambut biru yang katanya membuka toko di sekitar sini.

"Ya kau benar, tapi lihat itu," jawab EMIYA seraya menunjuk sebuah toko yang dicat menggunakan warna biru, dan di depannya ada tulisan ' 'Setanta fish shop' . Namun, sayangnya tak ada orang di sana dan pintunya juga tertutup, "Sepertinya kita terlambat," lanjutnya.

"Ara, kalian berdua di sini rupanya," ujar Suara seorang wanita di belakang mereka. Sontak, keduanya langsung berbalik dan mendapati seseorang yang berpakaian ala wanita kantoran. Ia memiliki rambut panjang berwarna Cornflower yang senada dengan matanya, telinganya juga agak unik karena sedikit lancip seolah bukan telinga manusia

"Oh, Medea-San. Sedang apa di sini,?" tanya Kagetora berbasa-basi. Ia tak menyangka akan bertemu dengan rekan Servant nya di tempat seperti ini.

"Yah, aku hanya menemani Da Vinci di sana," jawabnya seraya menunjuk ke arah belakang menggunakan jempolnya. EMIYA dan Kagetora dapat melihat di belakang sana, ada seorang wanita dengan wujud dalam lukisan Monalisa sedang bertanding Shogi melawan para orang tua di sana, sepertinya pertandingan itu menarik perhatian orang banyak karena banyak yang menonton, baik orang tua maupun kaula muda, "Ngomong-ngomong, kalian mau ke mana?"

"Kami akan pergi membeli ikan, tapi sepertinya toko Chu Chulain sudah tutup," jawab EMIYA. Ia berencana untuk mencari ke tempat lain, tapi sayangnya dia baru terpanggil pagi ini dan belum tahu daerah sekitar sini.

"Ah, begitu, ya. Tapi sepertinya di ujung jalan sana ada toko ikan juga," tunjuk Medea sebelum berbalik kembali ke tempat Da Vinci yang sedang bermain Shogi, "Semoga beruntung, kalian berdua," ujarnya seraya melambai tanpa menoleh.

"Kalau begitu, Ayo, EMIYA-San," ujar Kagetora yang langsung berlari ke arah yang ditunjuk oleh Medea barusa. Sepertinya ia takut jika mereka akan terlambat dan kehabisan lagi. EMIYA hanya menghela nafasnya, tapi ia juga ikut berlari mengejar gadis itu ke tempat toko ikan berada.


Kuoh Academy

Sekarang ini sudah jam istirahat sehingga kelas telah kosong. Namun, Naruto masih setia berada di sini sambil melihat ke luar. Matanya terus menatap dua orang berjubah putih yang berdiri di depan gerbang, tapi ada yang aneh dengannya semenjak kedua orang misterius itu muncul. Rasanya ... Raut wajahnya kini terlihat sangat marah karena suatu alasan.

"Ho, sepertinya para anjing kampung itu telah menggigit lebih dari apa yang bisa mereka kunyah," giginya gemeretak karena menahan amarah. Mungkin, ini pertama kalinya dia semarah ini sejak datang ke dunia baru ini. Ia bersumpah, jika saja tak ada warga sipil di sini mungkin sekarang ini dia telah membuka Gate of Babylon dan menghujani mereka dengan berbagai macam senjata.

"Master," panggil Mordred yang baru saja muncul di belakangnya bersama Nobunaga dan Okita. Naruto sedikit menoleh kepada mereka bertiga, rupanya Okita dan Nobunaga telah mengganti pakaiannya dengan seragam putri sekolah ini. Sedangkan Mordred, entah mengapa dia lebih suka menggunakan seragam putra. Namun, bukan saatnya membahas hal itu sekarang.

"Orang-orang bodoh itu sepertinya telah berani menodai harta dari ayahanda," ujar Mordred dengan geraman. Untuk beberapa alasan, dia juga terlihat sama marahnya dengan Naruto, bahkan Clarent telah muncul di tangannya dengan dialiri petir merah, "Izinkan aku memenggal kepala mereka, Master!"

Naruto dapat memahami apa yang Mordred rasakan. Walaupun beda dunia, tapi Excalibur tetaplah sebuah harta yang memiliki keagungan yang sangat tinggi melebihi di antara hartanya yang paling ia sayangi. Ia sempat terkejut ketika merasakan aura Excalibur tiba-tiba saja memancarkan di depan sekolah. Namun, keterkejutan itu berubah menjadi amarah tatkala menyadari apa yang terjadi pada Excalibur dunia ini.

Tampaknya, Excalibur itu telah dipecah menjadi tujuh pecahan tapi yang membuatnya marah adalah ketujuh pecahan itu digunakan kembali untuk menciptakan 7 Excalibur palsu dengan mencampurinya dengan logam lain. Ya, bilah Excalibur yang sangat murni telah dicampur dengan berbagai jenis material menggunakan ilmu alkimia, sehingga membuatnya menjadi kotor dan menurunkan kemampuannya. Bahkan, ia dapat mengetahui kalau kekuatan 7 Excalibur palsu itu hanya setara Noble Pantasm Rank-E.

Ia bersumpah, siapa pun yang membuat Excalibur menjadi seperti ini akan ia hancurkan beserta keturunannya karena sudah berani membuat 'hartanya' menjadi seperti ini, "Tenangkanlah dirimu, Sir Mordred. Aku punya rencana sendiri untuk ini," ujar Naruto seraya menurunkan Clarent yang diacungkan dengan tangannya sebagai isyarat supaya Mordred menyimpan kembali pedang miliknya mengingat ini masih area sekolah, takutnya terjadi kepanikan karena ada yang membawa senjata tajam ke sini.

Walaupun terlihat mendecih, namun Mordred tetap menuruti perkataan Masternya dan membuat Clarent menghilang seolah tak pernah ada di sana. Sama seperti Masternya, Mordred juga memiliki keinginan menghukum siapa pun yang melakukan hal seperti ini. Bahkan, dia yakin kalau anggota Knights of the Round Table pasti juga akan bereaksi sama sepertinya jika mendengar hal ini. Namun, ia percaya jika Naruto akan melakukan sesuatu untuk hal ini dan memberikan balasannya.

Tanpa disadarinya, Naruto telah memasang seringai yang terlihat menakutkan di wajahnya. Yang melihat seringai itu hanyalah Nobunaga dan Okita. Jujur, keduanya merasakan sesuatu yang tak enak ketika melihat ekspresi wajah tuan mereka.

"Kalian bertiga, ikut aku!" perintah Naruto seraya melangkah pergi dari ruang kelas itu dengan langkah kaki yang cepat. Tanpa bertanya, ketiga Servant-nya langsung mengikutinya. Mereka bertiga memasang ekspresi yang berbeda. Terutama Nobunaga yang memasang seringai kejam, firasatnya mengatakan akan ada hal menarik yang bisa dia lihat nanti.

Bahkan dengan Sha Naqba Imuru pun, ia tak menyangka jika kehidupan sekolah yang niatnya akan dia buat normal akan hancur di hari pertama masuk, tapi dia tak peduli. Excalibur yang dinodai membuatnya benar-benar marah sehingga lupa akan hal itu. Bahkan, dia tak peduli dengan para siswa yang tampaknya sedang sibuk mengerumuni sesuatu atau mungkin seseorang, dan sibuk memotret apa yang mereka kerumuni itu.

Sebenarnya, itu adalah Anastasia dan Jack yang telah menjadi pusat perhatian terutama karena paras wajah dan pakaian yang dikenakan oleh Grand Duchess itu begitu mencolok, "Tunggu! Jack, aku melihat Master baru saja lewat," ujarnya pada Jack yang entah sejak kapan sudah berada di gendongannya.

"Kalau begitu ayo kita ikuti," seru Jack. Namun, kerumunan orang itu membuat mereka sama sekali tak bisa beranjak dari sana. Sontak, hal ini membuat Anastasia memasang senyum menawannya sehingga para murid itu baik yang perempuan ataupun yang laki-laki langsung terpana.

"Maaf semuanya, bolehkah kami lewat?" ujar Anastasia dengan lemah lembut. Pengaruh dari senyuman itu sepertinya efektif. Buktinya, para pelajar itu langsung berbaris memanjang seraya berlutut ala kesatria. Cukup aneh melihat itu, tapi setidaknya sekarang keduanya sudah bisa lewat. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, Anastasia langsung berlari mengejar Masternya sembari membawa Jack dalam gendongan.

Continued.

Aku kembali Minna-San. Karena kemarin ada yang meminta agar saya memberikan list Servant yang dipanggil, maka saya membuat chapter ini dulu sebagai perkenalan Servant baru yang belum muncul. Yah, di sini hanya ada pembukaan untuk konflik selanjutnya karena fokus untuk saat ini hanyalah perkenalan dulu.

Saya sendiri sadar up kali ini agak lama, itu dikarenakan saya sibuk meningkatkan Servant SSR dan SR pertama saya. Saya baru memainkannya untuk memahami para Servant yang ada dan kemungkinan bakal ada di sini. Terlepas dari rumor buruk tentang game FGO soal drop rate, saya rasa DW cuku baik. Baru Orleans saja saya sudah mendapatkan Nobunaga Avenger yang membuat saya ingin mengganti kelasnya di sini, serta Nero bride dan Parvati menggunakan Saint Quartz gratis dan tiket bonus event kemarin.

Back to topic, mungkin di sini Naruto bakal Netral atau nggak bakal memihak fraksi manapun. Kalau mereka mengganggu, ya mungkin bakal dia tampar pake EA. Bahkan jika itu surga sekalipun yang pernah memanggilnya.

4 chapter original terlalu banyak untuk diubah, jadi saya memutuskan untuk membiarkannya, tapi untuk lanjutan saya akan berusaha sebisa mungkin untuk membuat sifatnya berubah drastis dari 4 chapter awal.

Dan ini dia List Servant nya

Yang terpanggil 30 tahun lalu:

· 1. Arthoria Pendragon (Lancer)

· 2. Jack the Ripper (Assassin)

· 3. Minamoto no Raikou (Berserker)

· 4. Merlin (Caster)

· 5. Shcatach (Lancer)

· 6. Semiramis (Assassin)

· 7. Chu Chulain (Lancer)

· 8. Medusa (Rider)

· 9. Astolfo (Rider)

· 10. Iskandar (Rider)

· 11. Nero Claudius (Saber)

· 12 Lancelot Du Lac (Saber)

Yang terpanggil sekarang:

1. Bedivere (Saber)

2. Tristan (Archer)

3. Mordred (Saber)

4. Gawain (Saber

5. Oda Nobunaga (Avenger)

6. Okita Shouji (Saber)

7. Leonardo Da Vinci (Caster)

8. Atalanta (Archer)

9. Hijikata Toshizo (Berserker)

10. EMIYA (Archer (

11. Anastasya (Caster)

12. Jeanne D'arc (Ruler)

6 yang ikut terpanggil:

1. Miyamoto Musashi (Saber)

2. Zhuge Liang (Caster)

3. Sasaki Kojiro (Assassin)

4. Medea (Caster)

5. Nagao Kagetora (Lancer)

6. Achilles (Rider)