Harry Potter milik J.K Rowling

Lord Lestrange by rossiex


Itu pagi yang sempurna untuk memulai hari. Cuaca sedang bagus dan orang-orang mulai hanyut menikmati aktivitas keseharian mereka masing-masing. 'Begitupun aku,' pikir Hermione.

Kakinya membawanya melewati arus kerumunan. Wajahnya tersenyum, sesekali mengangguk dan menjawab sapaan dari orang-orang, menuju toko kecil kesayangannya.

Dari sudut matanya, dia sudah bisa melihat bangunan kecil dari tokonya di sudut jalan Diagon Alley. Sekilas dari kaca jendela bangunan itu, dia bisa melihat beberapa pelanggan, dan pegawainya, Marie, yang sibuk di meja kasir.

Dentingan lonceng dipintu menandakan kedatangannya, yang disambut dengan senyum oleh Marie. "Pagi Boss!" Sapa Marie.

"Pagi, Marie. Kopi untukmu," jawab Hermione sambil mengulurkan secangkir kopi instan yang dia dapatkan di tengah perjalanannya kemari.

"Terima kasih, kau baik sekali." Kata Marie.

"Sama-sama. Jadi, bagaimana perkembangan untuk hari ini?"

"Berjalan seperti biasa. Kita kedatangan stock baru dari Glane, segar dari prancis. Beberapa pengembalian dan pesanan masuk. Ah, dan kita masih menunggu kiriman dari Jamie, seharusnya sudah tiba hari ini," jelas Marie.

Hermione mengangguk, berjalan ke belakang meja dan menggantung mantelnya. "Bagus. Pastikan semua rapi dan sempurna seperti biasa."

"Siap Boss!" Marie membuat gerakan dengan tangannya, yang membuat Hermione tertawa. "Jadi.. hari ini?" Tanya Marie.

Hermione mengangkat alis padanya. "Makan malam mingguan yang terkenal. Golden Trio akan berkumpul dan merayakan masa kejayaan," Marie menaik turunkan alisnya, menggoda.

"Yah, begitulah. Tapi lupakan kata itu, Marie. Golden Trio dan semua kejayaannya, kau tahu. Semua sudah berakhir. Sudah lima tahun," tuntut Hermione. Dia selalu tidak nyaman saat penyebutan gelar yang terlalu berlebihan itu. Itu membuatnya terdengar sombong.

"Oh! Tapi aku suka itu." Kekeh Marie.

Hermione menggelengkan kepalannya, "Aku tidak mengerti. Ini sudah lima tahun berlalu dan kalian masih mengingatnya."

"Kau pasti bercanda. Mustahil untuk melupakan pahlawan yang mengalahkan penyihir jahat, Hermione. Kau tidak bisa menyalahkan orang-orang atas hal itu."

"Kau benar," katanya sambil menghela nafas. Tiba-tiba, Hermione menoleh ke Marie, "Apa kau mau ikut?"

Marie sepertinya agak terkejut dengan undangannya, dia tampak mengerjap beberapa kali sebelum menjawab, "Aku?" dia menunjuk pada dirinya sendiri, "Kurasa.. tidak," tolaknya.

"Tapi kenapa?" Tanya Hermione.

Dia hanya tersenyum kecil, "Tidak ingin mengganggu, tentu saja. Kalian bertiga jelas-jelas sangat sibuk dan hanya punya waktu seminggu sekali untuk bertemu. Aku tentunya tidak akan masuk dan menjadi pengganggu, nikmati saja waktumu bersama mereka Hermione."

"Marie," Hermione tampak agak terkesan dengan wanita itu, "Tapi sungguh, datanglah jika kau mau. Kami biasanya membawa beberapa teman juga. Seperti halnya Harry malam ini, dia bilang dia akan mengajak Ginny."

"Tidak, terima kasih," Marie masih bersikeras, "Ngomong-ngomong, benarkah itu bahwa Harry Potter akhirnya berakhir bersama Ginny Weasley? Disini dikatakan seperti itu," celoteh Marie sambil membuka lipatan koran yang ada di meja. Matanya tampak berbinar saat membaca kolom gossip terbaru.

Hermione tertawa, "Oh, tidak! Aku tidak akan menggosipkan temanku sendiri, Marie."

"Kau tidak seru!" Protes Marie.

.o0o.

Three Broomsticks ramai pengunjung seperti biasa. Hari telah menunjukkan pukul 7.30 saat orang-orang mulai memesan menu makan malam mereka di Pub (Public House) itu. Dan beberapa meja jauhnya dari pintu masuk, Golden Trio sedang berkumpul.

"Kau tahu, kadang kau sangat bisa diandalkan Ron," Harry memulai, menceritakan pengalaman mereka saat bekerja di Departement Auror. Tangannya sibuk membersihkan kacamatanya.

"Hah! Aku memang selalu bisa diandalkan. Kalian hanya selalu melewatkan bagian itu," kata Ron, mulutnya telah penuh dengan spageti yang baru dipesan.

Hermione hanya meringis melihat pemandangan itu, setidaknya ada banyak hal yang tidak berubah. "Bisakah kau telan dulu makananmu?"

"Dia hanya akan terus mengulangi kebiasaan buruknya, Hermione. Sebaiknya abaikan dia dan simpan tenagamu," sahut Ginny. Tangannya penuh dengan gelas-gelas Anggur, "Bagaimana kabar tokomu?"

"Sangat bagus. Semua terorganisir dengan sempurna, dan stock buku yang lumayan," Hermione dengan senang menceritakan harinya, "Meskipun, jasa pengiriman barang sekarang sedang mahal-mahalnya," keluhnya di akhir kalimat.

"Semua akan lebih mudah jika barang yang kau angkut adalah bulu, bukan kertas." Ginny tertawa.

Harry dan Ron hanya menggelengkan kepala.

"Kau akan selalu memiliki tatanan dalam hidupmu, bukan? Merlin Hermione, tidakkah kau terlalu rajin." Kata Ron.

"Aku tidak melihat ada salahnya dengan hidup lebih terorganisir, Ron," Hermione memberinya tatapan tajam, "Aku agak tersinggung kau tahu."

Ron hanya mengangkat tangannya, menyerah, dan menggumamkan kata seperti membosankan yang agak kabur.

"Aku tidak bisa membayangkan saat hidupmu kacau Hermione, kacau sepertinya tidak ada dalam kamusmu." Canda Harry.

Hermione hanya mendengus dan mulai menyesap Anggurnya.

"Bicara tentang semua kekacauan ini, ayo kita pesan lebih banyak minuman lagi!" Seru Ginny mengangkat gelasnya yang telah kosong, "Oh! Dan aku akan memastikan kau kacau malam ini Miss Granger, sangat kacau sampai kau tersandung ke pelukan penyihir tampan."

Semua orang hanya mengerang mendengar ucapan Ginny. Gadis itu mulai mabuk.

.o0o.

Dua jam kemudian, menemukan mereka berempat saling terkait di pinggul saat berjalan menuju perapian. Sesekali tersandung dan meracau tidak jelas, khas orang yang mabuk. Berat.

"Apa kau lihat itu? Itu disana! Aku pasti sedang bermimpi, aku baru saja melihat pigmypuff dengan enam kaki," racau Ron menunjuk-nunjuk tidak jelas.

"Ron, ketololanmu tidak mengenal batas," cercah Ginny. Tangannya meraih sedikit rambut Ron.

"Aww! Perhatikan tanganmu, sister."

"Aku benci dilahirkan setelahmu, kau bukan contoh kakak terbaik yang pernah ada."

"Aku tidak meminta itu, asal kau tahu saja..."

"Harry bisakah mereka diam? Kepalaku sakit." Hermione merintih memengangi kepalanya.

"Hmmhmm.." gumam Harry.

Hermione akan mengambil ramuan mabuknya saat tangannya meraba-raba tasnya, dan hanya menemukan bahwa barangnya telah ketinggalan. Sambil mengumpat pelan, dia menyuruh teman-temannya untuk floo terlebih dulu karena dia akan kembali ke meja untuk mengambil tasnya. "Kalian duluan saja, aku harus mengambil tasku. Itu ketinggalan di meja."

"Oh! Kami akan menunggumu Hermione. Kita akan pergi bersama-sama," kata Ginny sambil bergoyang-goyang.

"Tidak perlu. Nikmati waktu kalian." Hermione melambaikan tangannya.

"Kau yakin tidak ingin ditemani, Mione?" Harry mengerjap-ngerjapkan matannya seperti melawan kantuk. Hermione akan siap tertawa jika saja kepalanya tidak sepusing ini.

"Tidak, tidak. Sampai jumpa, kalian semua!" Katanya dan melenggang pergi, kembali ke meja.

Dengan itu mereka berpisah dan Hermione mengambil tasnya. Saat dia menggali ke dalam tasnya, ternyata ramuan itu memang tidak ada, jadi dia terpaksa melupakannya dan segera membuat jalan pulang.

Penglihatannya agak buram saat itu, mungkin efek dari mabuk dan sakit kepala. Kakinya juga terasa seperti jelly, siap meluncur kapan saja. Menguatkan langkahnya, Hermione memilih untuk berjalan ke pintu daripada ke perapian. Dia akan ber-Apparate untuk pulang.

Sambil memejamkan matanya, Hermione berkonsentrasi dan memikirkan rumah, dengan sofa empuk, perapian hangat, dan kucing kesayangannya. Dan dia pun mulai ber-Apparate.

Hembusan angin dingin mengiringi sihirnya yang berputar, dan dalam sekejap dia telah sampai ke tempat tujuan. Sayangnya kakinya yang menjadi jelly mulai mendorongnya jatuh ke tanah, dan kepalanya terbentur pintu, yang cukup keras, untuk menciptakan kegaduhan.

Dia mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya, merasakan sedikit benjolan saat tangannya meraba-raba permukaan kulit kepala.

Pandangannya jadi lebih buruk sekarang. Sungguh perpaduan yang sangat bagus dari mabuk, pusing, dan benjolan di kepala.

Matanya perlahan-lahan mulai menutup, menyerah pada kegelapan.

'Sial' pikirnya, sebelum benar-benar jatuh pingsan.


Catatan penulis:

Aku akan sedikit berimprov dengan merubah usia kakak beradik Lestrange, agak tidak terpaut terlalu jauh dari Hermione.

Hermione: 24thn.

Rabastan: 28thn.

Rodolphus: 30thn.