Senbon Zakura

Fandom : Naruto, Highschool DxD
Reference : Bleach.
Genre : Romance, humor, fiksi pendek.
Pair : [Naruto Uzumaki, Katerea Leviathan, Serafall Leviathan]. [Vali Lucifer/Vali Uzumaki, Kuroka]
Bab
20 : Vali benarkah itu dirimu?

Sementara itu Vali menatap ke arah Katerea yang tatapan matanya bersinar dan terpaku pada sosok Naruto yang menarik tangan mereka berdua dengan semangat, bahkan ia juga melihat semburat merah di pipi Katerea hingga sampai ketelinga, 'Sadari perasaanmu sendiri Leviathan no baka, nanti kalau keduluan Serafall jangan nyesel, lagian aku sudah tahu kalau Naruto lumayan terkenal di kalangan para wanita baik dari ras manusia ataupun Datenshi, kalau terlalu lama, nanti semua kursi permaisuri di duduki orang lain,' batin Vali yang merasa kasihan pada Katerea yang sulit mengucapkan kejujuran atau perasaan hatinya.

Sesampainya di ruang makan, terlihat Vali, Naruto dan Katerea duduk di meja makan VIP, dengan bentuk persegi panjang dan memiliki banyak kursi sehingga seseorang bisa memilih untuk duduk dimanapun, bukan hanya itu tempat itu juga dikelilingi banyak maid yang akan membawakan menu makanan pada mereka, Naruto memilih duduk di bagian paling ujung yang memiliki kursi mewah yang menggambarkan kalau ia adalah raja sang kepala Keluarga, sedangkan Vali duduk di kursi yang tempatnya berada di sebelah kiri dan cukup dekat dengan tempat duduk Naruto, kursi yang Vali duduki terlihat mewah berlapiskan berlian biru sapir, kursi yang cocok untuk pangeran pertama, sedangkan untuk Katerea sendiri ia duduk berhadapan dengan Vali yang artinya ia berada di sisi kanan meja dengan kursi yang cukup dekat dengan Naruto dan memiliki bentuk kursi yang sama dengan Naruto yang menandakan kedudukan Katerea dan Naruto setara ditempat itu, singkatnya itu adalah kursi permaisuri.

Vali sudah cukup terbiasa dengan perlakuan Naruto pada dirinya hanya diam saja dan menikmati kemewahan yang disajikan oleh Naruto, sementara Katerea, ia yang sudah lama tidak merasakan kemewahan semenjak diusirnya ia dan seluruh klan Leviathan dari Meikai langsung tak kuasa untuk menahan air matanya, jujur saja ia benar-benar rindu dengan makanan mewah yang sudah lama tidak bisa ia makan dan sekarang tersaji di hadapannya.

"Rea-chan kau menangis?" tanya Naruto rada khawatir.

"T-tidak, aku tidak menangis, mataku hanya kemasukan debu," balas Katerea sembari menghapus air matanya dan memakan menu sarapan yang ada di mejanya. Naruto hanya menampakan senyum lembutnya ke arah Katerea,

"Vali," panggil Naruto.

"Ada apa ayah?" tanya Vali.

"Maukah kau sepulang sekolah nanti, menemaniku ke kuil?" tanya Naruto sembari memakan roti selai keju miliknya.

"Tidak masalah, lagi pula aku juga tidak punya kerjaan," gumam pelan Vali.

"Katerea, apakah kau sudah punya pekerjaan? Jujur saja meskipun kau punya tempat tinggal, itu tidak akan ada artinya jika kau tidak punya pekerjaan untuk mendapatkan uang. Di dunia manusia kau butuh uang untuk bertahan hidup," tanya dan jelas Naruto pada maksud pertanyaannya.

"Kurasa aku belum memilikinya, jadi setelah selesai sarapan aku akan pergi keluar untuk mencari pekerjaan," jawab Katerea sembari menatap Naruto yang sedang tersenyum ke arahnya.

"Kalau begitu maukah kau bekerja di kantorku sebagai asisten?" tanya Naruto pada Katerea.

"Eh? Asisten ... bukankah jabatan itu terlalu tinggi untuk anak baru sepertiku?" tanya Katerea.

"Apa kau punya keahlian dalam menata keuangan?" tanya Naruto lagi.

Katerea kembali diam mencoba mengingat kemampuan menghitungnya, "Bisa dibilang lumayan, kenapa?" tanya Katerea.

"Kalau begitu, maukah kau menjadi bendahara keuangan? Yah ini hanya penawaran sih, aku juga tidak akan memaksa jika kau tidak mau bekerja di perusahaanku," ucap pelan Naruto.

Katerea kemudian sempat terdiam untuk beberapa saat dan akhirnya, "Tanggung jawabnya terlalu besar, jadi aku rasa aku akan bekerja di tempat lain saja," tanggap Katerea.

"Kalau begitu aku sarankan kau bekerja di sini," ucap Naruto sembari mengeluarkan poster restoran mewah yang sedang mencari pekerja, berupa pelayan wanita, "Pekerjaannya cukup mudah, kau hanya perlu mencatat pesanan orang dan membawanya ke meja makan mereka setelah pesanannya sudah siap soal gaji juga lumayan besar," ucap Naruto memberikan keterangan soal pekerjaan yang harus Katerea kerjakan di restoran itu.

Katerea pun mengambil lembaran iklan yang biasanya ditempel di jalan-jalan itu, "Aku rasa tidak ada salahnya untuk mencobanya," gumam pelan Katerea.

Setelah selesai sarapan, Naruto, Vali dan Katerea langsung keluar dari hotel dan di sambut seorang pria tua yang menjadi pelayan Naruto yang menuntun mereka bertiga ke dalam mobil hitam panjang, atau limosin yang cukup elegan dan bisa dibilang sangat berkelas Vali dan Naruto masuk ke dalam terlebih dahulu dan mereka menatap Katerea, "Ada apa, cepat masuk" ajak Naruto.

"Tidak bukan apa-apa, hanya saja apakah aku pantas menerima kemewahan ini?" tanya Katerea sembari menatap sendu ke arah Naruto.

"Apa yang kau katakan? Siapa yang mengatakan kalau kau tidak pantas untuk menerima ini semua? Semua ini miliku jadi hanya aku yang berhak menentukan siapa yang pantas menaikinya, mencoba dan memakainya, bukan kau atau orang lain yang tidak ada hubungannya, jadi jika aku bilang kau boleh masuk maka artinya kau sudah cukup pantas untuk itu," ucap Naruto sembari menatap datar Katerea.

Katerea yang tidak ingin terkena banyak masalah, akhirnya menuruti keinginan Naruto untuk naik ke mobil mewahnya setelahnya mobil pun jalan menuju sekolahnya Vali dalam perjalanan terlihat, mereka bertiga duduk diam di kursi penumpang sementara si supir hanya tersenyum tipis saja melihat Naruto, Vali dan Katerea melalui kaca spion dalam mobil, 'Akhirnya tuan bisa mendapatkan calon pasangan, aku harap tuan Uzumaki bisa secepatnya menikah, dengan begitu akan ada pesta besar-besar yang akan diadakan untuk itu dan dengan begitu aku bisa menyelidiki rahasia dari Uzumaki yang akan aku jual ke perusahaan lain,' batin si sopir sembari tersenyum lebih tepatnya menyeringai.

"Vali," panggil Naruto pada anaknya itu.

"Iya ayah ada apa?" tanggap Vali sedikit penasaran mengenai kenapa Naruto tiba-tiba memulai pembicaraan, apakah mungkin akan ada topik serius itulah yang Vali pikirkan, meskipun kadang terbesit dipikirannya kalau Naruto hanya sedang bosan dan memulai pembicaraan untuk menghilangkan kebosanan, tapi ia tetap menghormatinya dan menepis pikirannya.

"Sekarang nampaknya kau bisa memanggilku sebagai ayahmu tanpa ragu, aku senang mendengarnya," gumam Naruto sembari mengambil jam saku di kantong jas hitamnya, "Lain kali kita akan melakukan foto keluarga kalau ada waktu, bagaimana menurutmu Vali," tambah Naruto lagi sembari tersenyum tipis.

"Aku rasa itu bukan ide buruk," jawab Vali dengan wajah santainya ia langsung bersandar santai di senderan kursi dan mulai melanjutkan perkataannya, "Dengan kekuatanmu yang sebesar itu, aku sudah yakin dengan mu dan aku tidak akan ragu lagi untuk memanggilmu ayahku. Namun, aku yakin kau tidak hanya ingin membicarakan hal ini saja bukan?"

"Yah, tapi karena sebentar lagi kau akan sampai, aku memutuskan untuk menunda perbincangan sampai ada waktu berikutnya. Ah iya anakku, jangan lupakan pesanku, kalau kekuatan terbesar kita adalah ikatan pertemanan dengan orang lain, potensi makhluk sosial seperti kita akan berada pada puncaknya saat kita bertarung untuk melindungi orang yang kita sayangi," ucap Naruto memberikan pesan pada anaknya.

"Hem akan saya ingat pesan ayah," tanggap Vali.

"Itu bagus, dan satu lagi amati dan pelajarilah apa yang ada di sekitarmu, jangan hanya mengandalkan egomu, jika kau kalah akui kekalahanmu dan belajarlah dari orang yang bisa mengalahkanmu sampai kau melampaui dirinya," ujar Naruto lagi sedikit berpesan pada Vali.

"Jadi maksud ayah, aku harus belajar dari Skiryuute itu untuk membuat patung kertas?" tanya Vali pada Naruto, karena jujur ia baru pertama kali merasa kalah oleh rivalnya hanya saat pelajaran seni yang dimana mereka diminta berkarya dengan bubur kertas.

Katerea langsung swedrop mendengar perkataan Vali barusan, jujur saja ia tidak mengerti kenapa Vali ingin menang dalam hal yang tidak ada hubungannya dengan pertarungan.

"Vali, kau tidak perlu belajar dari Rivalmu, karena ia adalah contoh buruk untukmu, jujur saja selama hidupku aku juga tidak pernah belajar dari rivalku dulu, yang aku pikirkan hanyalah cara mengalahkannya dan melatih diriku sendiri, karena mengalahkan seorang rival harus dikalahkan dengan teknik originalmu, kau tidak boleh meniru rivalmu untuk kasus rival kau harus mengalahkannya dengan karya terbaikmu, bahkan dalam hal seni sekalipun, kau harus cari tahu apa yang membuat karyamu kalah populer dan setelah kau mengetahui masalahnya, maka perbaikilah bagian yang bermasalah. Seperti halnya, saat aku selalu kalah oleh Sasuke dalam adu tanding, aku pun berpikir apa yang membuatku tidak bisa menang dan bagaimana caraku menutupi kelemahanku, lalu dari itu semua, barulah aku tahu kalau kelemahanku adalah gaya bertarungku yang sembarangan dan tidak teratur, karena tidak ada yang mau mengajariku ilmu bela diri maka akan sangat sulit bagiku untuk menang dengan taijutsu biasa. Lalu aku pun mengakalinya dengan mempelajari Kagebunshin dan mulai berlatih dengan mereka untuk menciptakan combo bayangan terbaik yang bisa aku pakai untuk melawan Sasuke,

Vali hanya diam, ia pun mulai mengingat bagian mana saja dari karya seninya yang tidak sebanding dengan buatan Issei dan akhirnya, mata Vali terbuka, "Baiklah akan aku pastikan kalau ada pelajaran seni lagi aku akan membuat sesuatu yang lebih hebat," gumam pelan Vali.

"Vali sebenarnya apa yang membuatmu bersemangat mengalahkan Skiryuute dalam hal kesenian, padahal kau sudah lebih hebat dari apapun dalam pertarungan dan juga setahuku dulu kau tak pernah tertarik dengan hal lain selain baku hantam?" tanya Katerea ikut nimbrung.

"S-soal itu aku tidak bisa menjelaskannya, hanya saja aku tiba-tiba merasa lemah saat apa yang aku lakukan tidak mendapatkan perhatian," jawab Vali, "Tapi meskipun begitu entah kenapa ini hanya berlaku jika yang mengalahkanku dalam hal lain itu adalah Skiryuute, mungkin ini adalah efek persaingan yang sebenarnya, dimana aku merasa tidak akan cukup dengan hanya unggul di satu hal saja, dalam kepalaku secara tiba-tiba terlintas jika ia bisa aku juga harus bisa, minimal mengimbangi jika tidak bisa melebihi dan karena dorongan ini kadang aku sulit tidur karena aku kalah dalam satu hal olehnya," jawab Vali.

"Jadi maksudmu jika Skiryuute bisa menikah kau juga ingin menikah?" tanya Naruto sedikit menggoda Vali.

Wajah Vali seketika memerah dan kaku, karena ia tahu Issei adalah sosok mesum yang beruntung, sudah pasti ia tidak akan percaya diri bisa mendapatkan wanita dalam jumlah yang sama banyaknya dengan Issei, terutama ia punya masalah dalam kepribadiannya saat berhadapan dengan wanita, ia adalah tipe pria yang sulit mendapatkan pasangan.

"Entah kenapa aku tiba-tiba merasa kesal ketika membayangkan kalau ia sudah punya banyak istri ketika aku masih sendiri," ungkap Vali dengan mata birunya yang menyala tajam, rambut jabrik panjangnya yang seperti rambut Minato Namikaze itu langsung terlihat terakat dan melambai-lambai.

"Tak usah kau pikirkan Vali anakku yang tampan, dalam percintaan, kemenangan tidak ditentukan dengan seberapa banyak wanita yang kau jadikan istri, tapi penentunya seberapa harmonis keluargamu ketika kau menikah. Meskipun kau punya sepuluh istri yang sangat cantik dan anak-anak pintar dan kuat, tapi jika tidak harmonis dan penuh pertengkaran skandal perselingkuhan dan lain sebagainya, tidak akan ada artinya, bahkan bisa dibilang sebagai kegagalan!" tegas Naruto pada Vali.

Vali dan Katerea pun terdiam dengan perkataan Naruto, "Lalu apa yang harus aku lakukan ayah? Aku benar-benar payah dalam urusan perasaan dan cinta," ungkap Vali bertanya pada Naruto.

"Kau ini, kenapa sampai segitunya kau tidak mau kalah pada Issei itu, bukankah yang terpenting itu adalah persaingan kalian dalam hal kekuatan, yang lainnya itu hanya nilai tambahan aja," tanggap Naruto dengan tatapan tak percaya.

"Bisa dibilang, aku tidak ingin mengecewakanmu, aku tidak ingin membuat orang yang sudah mendidiku merasa malu karena pepormaku yang tidak sempurna, sebagai orang yang dilatih oleh sosok pertapa enam jalan, minimal aku harus bisa melakukan setengah dari apa yang bisa kau lakukan, ini bukan lagi persaingan antara Skiryuute dan Hakuryuuko, tapi ini adalah egoku sebagai anak dari seorang Uzumaki!" jawab Vali dengan tegas.

"Aku akui semangatmu Vali! Kau semakin mendekati seorang Uzumaki yang penuh semangat dan memiliki ambisi hebat, aku mulai bangga padamu, kau semakin terlihat seperti Boruto dan Kawaki dalam ingatanku," ungkap Naruto sembari mengelus kepala Vali.

"Boruto, Kawaki ... siapa mereka?" gumam pelan Vali.

"Boruto adalah anak pertamaku dari Hinata. Lalu untuk Kawaki , dia sama sepertimu, yah Kawaki adalah anak angkatku," jawab Naruto sembari tersenyum ke arah Vali, "Tapi mereka mati karena aku tidak bisa melindungi mereka, maka dari itu aku minta untuk agar kau tidak terlalu memaksakan dirimu, meskipun aku ingin kau menjadi lebih kuat, aku juga takut kau mati saat latihan," ucap pelan Naruto, "Vali, aku ingin kau bisa menjadi sekuat diriku tidak aku bahkan ingin kau melampauiku agar kau bisa membantuku untuk melindungi keluarga Uzumaki di sini, aku memang kalah satu kali tapi aku tidak mau kalah untuk kedua kalinya," ungkap pelan Naruto sembari memejamkan mata.

"Tidak masalah, aku memang tidak berniat menjadi lemah dan aku akan selalu ingin melampaui siapapun di dunia ini, termasuk ayah," tanggap Vali dengan seringai di wajahnya.

'Mereka terlihat seperti ayah dan anak yang sebenarnya, bukan hanya sekedar hubungan darah, tapi hati keduanya dan keinginan mereka, seperti sudah menyatu,' batin Katerea yang melihat interaksi Naruto dan Vali.

"Tapi aku cukup ragu teman-temanmu akan mengenal dirimu, terutama karena penampilanmu menjadi benar-benar berubah dan kau hampir terlihat seperti ayahku, bahkan auramu juga sudah menjadi seperti diriku" ucap Naruto.

"Biarlah mereka terkejut, aku sudah cukup senang dengan wujud baruku," tanggap Vali sembari melihat pantulan wajahnya dari kaca mobil dan terlihat Vali memiliki dua garis tipis dipipi kiri dan kanannya, seperti halnya Naruto.

Satu menit berlalu.

Akhirnya mereka sampai pintu mobil pun terbuka secara otomatis dan terlihat Vali dengan penampilan barunya keluar dari dalam mobil limosin dan berjalan santai memasukki Kouh gakuen, lalu terlihat ia juga menampakan senyuman gentelnya, yang membuat para gadis berteriak kegirangan ketika Vali memasukki gerbang sekolah.

Mobil Limosin pun kembali pergi meninggalkan Kouh akademi menuju tempat kerja dari Naruto, sementara itu di depan pintu masuk gedung sekolah, terlihat Vali sudah melepaskan sepatunya untuk diganti dengan sepatu khusus di loker miliknya.

"Ehem!" dehem seseorang yang berada di samping Vali, karena merasa penasaran Vali sedikit mendelik dan melihat adik dari Maou Leviathan, gadis berambut hitam pendek berkacamata dengan dada rata itu muncul menyapa Vali.

"Ada apa Kaichou?" tanya Vali penasaran.

"Apa yang kau lakukan di depan loker orang lain Datenshi-san?" tanya Sona pada Vali, yah wajar ia bilang begitu, karena yang berubah bukan hanya tampilan fisik Vali yang merupakan Kombinasi Kawaki, Boruto dan Minato, tapi auranya juga lebih seperti half Datenshi ketimbang Half Akuma, itu sebabnya ia menganggap Vali sebagai murid baru dengan aura Datenshi.

"Loker orang lain? Aku rasa kau keliru Sona-san, ini adalah loker milikku, Uzumaki Vali ... anak dari Uzumaki Naruto," tanggap Vali sembari menatap datar Sona.

"Hah Vali? Kau Uzumaki Vali? Benarkah itu? Aku benar-benar sulit mempercayainya tahu," tanggap Sona sembari mengelilingi tubuh Vali dan ia juga memiliki segudang pertanyaan untuk itu.

"Eh, pria tampan itu adalah Vali-kun! Kyaaa apa yang terjadi kok penampilannya sangat beda?" seru para perempuan yang ada di sekitar Vali.

"Eh anak baru itu adalah Uzumaki Vali, anak angkat dari Uzumaki Naruto yang super tajir itu? Yang benar aja kok bisa berubah banget tampilannya!" seru mereka semua tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, karena baru beberapa hari masuk sekolah, tampilannya langsung berubah.

"Tapi Vali-kun tetap tampan meskipun rambutnya berubah menjadi jabrik dengan warna hitam dan pirang," ucap Murayama.

"Apakah Vali-kun ganti gaya rambut dan mewarnai rambutnya?" tanya Katase sembari memperhatikan wajah Vali yang tidak terlalu banyak berubah, hanya kulitnya yang sedikit agak kekuningan atau tan seperti Naruto dan dibagian pipinya terlihat kumis seperti Naruto.

"Kalau diperhatikan lebih seksama, Vali-kun yang ini lebih ganteng," ungkap para cewe di sana, yah mereka terpesona dengan tampilan Vali yang baru.

'Kalau hanya tampilan saja aku tidak terlalu masalah, tapi auranya benar-benar berubah seratus persen, apa yang sebenarnya terjadi padanya?' batin penuh tanya Sona sembari memperhatikan Vali.

Vali pun hanya diam saja dan mengganti sepatunya lalu menyimpan sepatu sekolahnya kedalam loker dan menatap ke arah Sona, "Jika kau masih ingin bukti sebaiknya kita bertemu di tempatmu," bisik Vali sembari pergi meninggalkan Sona yang mungkin akan menjadi bibinya jika Naruto jadi menikahi Serafall.

"Em, kalau begitu aku tunggu kau di ruang OSIS sepulang sekolah nanti," ucap Sona sembari pergi dari sana.

"Kyaaa Kaichou dan Vali sepertinya punya hubungan khusus," ucap para gadis yang mulai bergosip.

Sona langsung swedrop karena jujur ia tidak pernah menaruh hati pada siapapun dan lagi, Vali itu adalah keponakannya ketika Serafall dan Naruto benar-benar jadian dan mustahil bibi dan keponakan bisa bersama meskipun mereka seumuran.

"Kuso! Kenapa keadilan hanya untuk yang Good loking!" teriak para lelaki kurang beruntung alias enggak tampan.

"Bagaimana bisa wajahnya menjadi lebih tampan sialan!" seru Issei yang khawatir Rias akan jatuh hati pada Vali kalau Rias melihat wujud baru Vali.

Bersambung.

Menjawab Reviews dari para pembaca setia di chapter 19.

aushi : masih kurang 2 ya, tambah gabriel fraksi malaikat yg punya sifat lemah lembut lalu tambah yasaka fraksi yokai perwakilan dari sifat galaknya hinata fufuf.

Author menjawab : Untuk Gabriel tidak bisa, selain aku tidak mau membuat kontrol versi mengenai malaikat yang menikah, aku juga tidak tidak tahu perawakannya, untuk Yasaka pasti saya pikirkan

Ari wb : Cuma kasih saran yh bng Harem nya tambahin Gabriel aja yh.

Author menjawab : Pair diluar jangkauan

Romanalarcon : buat harem nya masi sisa 2 slor lagi kan ? Kalau gitu masukin akeno aja thor rambut ny item juga kan.

Author menjawab : Kesamaan rambut sudah diisi oleh Serafall tidak perlu nambah lagi, dan juga Akeno masih SMA, dan itu akan membuat Naruto terkesan pedo, jadi tidak.

Putras : Serius, tadinya gua mau komen tentang fanficmu ini yang agak... tetapi setelah lihat genre-nya "humor" ya sudahlah, semoga sehat selalu bro...

Author menjawab : terima kasih do'anya

naruto Gremory : hem thor gaya rambut vali jadi berubah ya, bagus bagus. dan yah rea_chan bakal nerima gak ni abang naru_kun nya gk ya. hem gue suka ama pair kayak gini, membuat suatu perubahan, karna saya belum pernah baca pair naruto x katerea, yg bhs indo dan bhs inggris aja sangat jarang. dan untuk harem kan kurang 2 hem gue saran 1 asistennya azazel kalo gk salah nnya penemue kan biar adil Ada dari ras datenshi dan 1 nya lagi roasweisse. cuma ini aja deh gue review hehehe

Author menjawab : Sebenarnya rencana awalnya cuman singgel pair dengan Serafall, tapi karena ada yang bilang Naruto kaya serasi sama Katerea, ya aku buat jadi harem aja hehehe

Mr. Fun10 : Mami katerea tsun-tsun ya Menjadi daya tarik lebih sih apalagi jarang ada yang pake Chara katerea untuk jadi pair Narutod! Ditunggu lanjutannya bruhhhh...

Author menjawab : Hehehe, Harem tapi bukan harem king.

FCI. Master Harem : duuh... pilihannya pasti sulit nih sama Katerea jika harus berbagai cinta sama Serafall sendiri yang merupakan saingannya. tetap semangat bro buatnya

Author menjawab : Mungkin butuh waktu sebulan untuknya agar ia bisa memutuskan untuk menerima Naruto yang ingin punya empat istri.

Polosan271 : mantap cokkkkk next chapter broo brooooo pleaseeeeeee pleaseeeeeeeeeee bro pleaseeeeeeeeeee bro pleaseeeeeeeeeee bro

Author menjawab : Iya-iya Author berusaha

FCI. Kang Nasgor : Tumben wkk

Author menjawab : Tumben apanya?