Of Omega, Alpha, and White Wristband
Sigmame present
Antara Omega, Alpha, dan Ikat Tangan Putih
.
Kepingan satu: Aku omegamu
oOo
Summary
Baekhyun tahu betul siapa Alpha-nya dan ia seharusnya menghampiri sang Alpha dan segera mating dengannya untuk menghilangkan sakit yang ia derita saat heat month. Namun ketika tanda itu ada di pergelangan tangan kirinya, omega bermata hitam gelap itu justru menutupinya.
Warning
M-rated. Wolf!AU. ABO world. Smut. Knotting. Rimming. M-Preg.
oOo
Byun Baekhyun
Wolf: Omega. Bulu Putih Gading. Mata Abu-abu terang. Ukuran sangat mungil, setengah kali lebih mungil dari Beta terbesar dan satu kali lebih kecil dari Alpha standar. Human: Golongan darah O. Rambut hitam raven. Mata hitam kelam. Kulit putih undertone percampuran kuning dan merah muda. Tinggi 170 cm.
Park Chanyeol
Wolf: Alpha. Bulu Cokelat gelap dengan bulu sekitar kepala berwarna hitam. Mata hitam kelam. Ukuran lebih besar dari Alpha standar. Human: Golongan darah A. Rambut asli cokelat namun sekarang rambutnya diwarnai menjadi merah. Mata cokelat terang. Kulit putih dengan undertone netral. Tinggi 186 cm.
Kim Jongdae
Wolf: Beta. Bulu abu-abu gelap dengan highlight emas. Mata cokelat kelam. Ukuran Beta standar. Human: Golongan darah B. Rambut Hitam keabu-abuan. Mata cokelat gelap. Kulit putih dengan undertone netral. Tinggi: 175 cm.
Kim Jongin
Wolf: Alpha. Bulu hitam gelap. Mata hitam gelap. Ukuran Alpha Standar. Human: Golongan darah A. Rambut hitam keabu-abuan. Mata cokelat gelap. Kulit tanned dengan undertone kuning. Tinggi 182 cm.
Luhan
Wolf: Alpha. Bulu cokelat gelap dengan highlight emas. Mata merah darah. Ukuran lebih besar pada Alpha umumnya. Human: Golongan darah O. Warna rambut asli cokelat gelap. Mata cokelat madu terang. Kulit putih dengan undertone merah muda. Tinggi: 176 cm.
Oh Sehun
Wolf: Beta. Bulu cokelat muda dengan highlight berwarna emas. Mata biru gelap. Ukuran lebih besar dari pada Beta standar. Human: Golongan darah O. Warna rambut asli hitam pekat. Mata cokelat terang. Kulih putih pucat. Tinggi: 183 cm.
Wu Yifan [A]
Others
oOo
00.00 AM 6 Mei 2016
Baekhyun tersenyum saat membuka matanya dari tidur; ini adalah ulang tahunnya dan ia sekarang berusia 17 tahun – rasanya baru kemarin Baekbom, sang kakak, mengajarinya bagaimana cara berburu yang baik, dan rasanya pula baru kemarin ia belajar cara shifting yang tidak membuat tubuhnya sakit-sakit menghantam pepohonan di hutan belakang rumah. Ya, Baekhyun seorang warewolf dan ia hidup di sebuah kota yang pada umumnya memang semuanya adalah makhluk mistis, beberapa peminum darah bahkan pernah ia temui ketika matahari lenyap saat ia latihan berlari bersama pack-nya. Manusia sudah tidak mempermasalahkan keberadaan mereka dan ada beberapa peraturan hukum yang harus mereka taati bersama demi kenyamanan hidup bermasyarakat dan istiadat kuno mengenai dunia ABO pun sudah lebih modern sekarang.
Seorang warewolf akan mengetahui status mereka apakah seorang Alpha, Beta, atau Omega ketika berumur 12 tahun – namun beberapa warewolf dewasa sudah dapat melihat dari perilaku dan fisik sang anak dan Baekhyun sudah sering mendengar ceramah dari Ibunya yang seorang Omega bahwa ia bukanlah seorang Alpha. Alpha adalah pemimpin, dahulu kala Alpha adalah pemimpin pack yang harus ditaati, namun sekarang status kepemimpinan Alpha hanyalah sebatas status karena mereka telah membaur dengan manusia dan siapapun selain Alpha berhak untuk menjadi pemimpin. Namun ada hal lain tentang Alpha, mereka dapat membuahi pada saat mating – seorang Alpha yang benar-benar kuat adalah mereka yang mampu membuahi pasangannya pada saat mating pertama dan jenis yang demikian adalah kebanggan bagi masing-masing keluarga.
Di keluarga Byun sendiri, ayahnya adalah seorang Alpha yang terkenal sangat kuat dan darah Alpha itu sepenuhnya teralirkan pada si sulung, Baekbom – bahkan Baekbom mampu menghamili istrinya yang merupakan seorang Omega yang tidak terlalu fertile.
Sedangkan untuk tingkat kedua adalah Beta, mereka tidak dapat membuahi dan tidak dapat mengandung juga namun mereka adalah wolf yang sangat bijak sehingga banyak dari mereka yang berprofesi sebagai pejabat negara. Alpha dinilai terlalu agresif dan kasar sehingga terkadang seorang Alpha kerap main tangan saat memutuskan masalah, Beta adalah jalan keluar yang baik – mereka dapat menikah dengan Alpha maupun Omega namun seorang Beta tidak akan bisa mendapat keturunan kandung mereka.
Tingkat ketiga adalah Omega.
Mendapatkan nilai buruk di pelajaran Berburu, saat bertarung, dan juga latihan fisik dari tingkat Sekolah Dasar tantu saja membuat Baekhyun dan keluarganya sadar bahwa ia bukanlah seorang Alpha dan Baekhyun sendiri pun tidak pernah merasa dirinya ingin mendominasi siapapun, ia akan sangat cocok disebut seorang Omega meski Omega berjenis kelamin laki-laki adalah sangat langka namun bukanlah hal yang tabu di dunia mereka. Remaja berparas cantik itu menyukai pelajaran yang berhubungan dengan mengurus rumah tangga, memasak, merajut, bahkan ia mengikuti kelas mengasuh anak dan ia satu-satunya laki-laki saat itu dan usianya belum 12 tahun. Dan ketika malam pertama ia menginjak usia 12 tahun, Baekhyun terjaga di malam hari dengan perut yang termat sakit hingga ia mengeluh pada Ibu dan Ayahnya. Kedua orang tuanya segera sadar bahwa Baekhyun adalah seorang Omega, karena rasa sakit di perut itu adalah pertanda bahwa pertumbuhan rahimnya sudah dimulai dan akan matang dalam waktu lima tahun – si lugu Baekhyun hanya bisa menahan sakit sampai mobil orang tuanya sampai di klinik dan tes darah segera dilakukan.
Positif Omega. Itulah hasil lab dari Byun Baekhyun; Ayahnya senang dan bangga, karena mendapatkan keturunan langsung sepasang alpha dan omega adalah hal yang sangat susah, ia sempat mengira Baekhyun adalah seorang Beta namun setelah hasil lab, Byun senior itu segera mengadakan pesta di rumahnya untuk merayakan bahwa anak bungsu keluarga mereka adalah seorang Omega.
Menjadi seorang Omega menyenangkan, Baekhyun memang selalu suka dipuji dan disanjung – beberapa kerabat selalu mengakatan bahwa ia sangat manis dan sangat telaten dan calon Alpha-nya nanti akan sangat bahagia memiliki Omega sepertinya. Belum lagi hasil dari lab setiap tahunnya selalu mengatakan bahwa perkembangan rahimnya sangat bagus dan dari hasil tes darah berkala, ia termasuk golongan Omega yang begitu fertile. Dari pesta ulang tahun dan juga perayaan ke-omega-annya lah Baekhyun bertemu dengan sepupu-sepupunya yang juga Omega, mereka semua perempuan kecuali Taemin yang juga seorang Omega jantan sepertinya. Kim Taeyeon adalah yang paling tua dan ia menunggu satu tahun lagi sebelum rahimnya matang, Baekhyun tersenyum membayangkan bagaimana rasanya nanti ia mengandung.
Hanyalah seorang Omega yang mampu mengandung dan memberikan keturunan untuk seorang Alpha, jika dahulu ketika pack adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan dan diwajibkan bagi serigala-serigala maka nasib keturunan dari sebuah pack sangat bergantung dari fertile-nya Omega mereka untuk mendapatkan pup-pup yang sehat dan tidak mati dalam janin. Omega kerap berbadan lebih kecil baik dalam ukuran serigala mereka setelah shifting atau tubuh manusia mereka, begitu berbeda dari seorang Alpha yang tinggi tegap. Omega memiliki warna bulu cokelat muda sampai ke putih susu ketika telah berubah menjadi serigala, kontras dengan Aplha dan Beta yang selalu memiliki warna bulu gelap. Dan hanya Omega yang mengalami heat month, sebuah bulan dimana para Omega akan sangat fertile untuk dibuahi dan hasrat mereka akan mating atau bersetubuh agar dibuahi oleh Alpha sangat besar dan itu akan berlaku setelah mereka berusia 17 Tahun, dimana mereka akan mendapatkan tanda di pergelangan tangan kiri mereka. Tanda Alpha mereka.
Baekhyun mendapatkan tandanya hari ini.
Jika Victoria – sepupunya yang dari Cina – segera bersorak bahagia mengetahui bahwa Alphanya adalah sahabatnya sendiri dan gadis cantik itu tidak sabar untuk menerima knotting dari Changmin, Baekhyun justru tertunduk lesu sambil menggigit bibir bawahnya takut begitu menyadari tanda dari Alpahanya.
Alpha Baekhyun adalah Park Chanyeol.
Omega itu terisak.
Untuk pertama kalinya, ia membenci tanggal 6 Mei.
Sepuluh hari yang lalu
"Chanyeol, katakan padaku kalau kau tidak baru saja memutusi Han Jimin…" suara penuh tuntut dari Luhan keluar begitu saja, membuat beberapa pasang bola mata yang ada di sana segera melepaskan pandangan dari makan siang mereka dan melirik dua Alpha yang tengah berinteraksi dalam percakapan menarik itu bergantian. Hanya Baekhyun yang masih tetap asik dengan bekal makan siangnya; ia memang selalu memasak di pagi hari untuk bekal makan di sekolahnya, biasanya para Omega memang membawa bekal masing-masing, tidak seperti Alpha dan Beta yang pada umumnya menyerang makanan yang disediakan di kantin sekolah.
Mendengar namanya disebut, Chanyeol hanya mengendikkan bahu. "Mungkin," jawabnya asal yang segera dihadiahi pelototan dari Luhan. "Ya Tuhan, Luhan. Kenapa memang? Ada masalah denganmu? Kau suka dengan Han Jimin? Atau kau kakaknya?"
Jongdae tertawa, Jongin sudah hampir pipis di celana – melihat Luhan yang selalu mengomel dan Chanyeol yang bersikap acuh adalah hal yang sangat menghibur bagi kelompok murid yang isinya pejantan semua itu. "Jaga bicaramu, Park Chanyeol. Jika memang iya, maka dia resmi gadis kelima yang sudah kau buat patah hati bulan ini—"
"Well, dia tidak gadis lagi…" ujar Chanyeol santai, bibirnya menyeringai usil. Luhan murka. Bahkan sekarang Yifan, yang pasalnya jarang sekali mengeluarkan ekspresi dari wajahnya ikut tersenyum. "Jangan menatapku seperti itu, hyung. Kau itu kadang seperti Omega saja, cerewet sekali dan banyak minta—"
"Eits, jangan main generalisasi begitu saja dong!" Protes Jongdae agak tidak suka. "Baekhyunnie tidak seperti itu, tahu."
Chanyeol lalu segera melirik Baekhyun, lelaki yang dari tadi duduk manis tidak bersuara. "Kau tahu aku tidak menganggapmu demikian kan, Baek?" Lembut Chanyeol bertanya sembari memasang senyum simpul pada satu-satunya Omega di meja itu.
Baekhyun menggeleng.
Tidak. Tentu saja, karena kau tidak pernah menganggapku seorang Omega.
"Di mata Chanyeol, Baek hyung kan Beta." Sehun bicara sambil terus mengunyah daging asap hingga membuat suaranya jadi teredam, Luhan mengomeli Sehun untuk bicara setelah makanan di dalam mulutnya habis dan Jongin menggoda Luhan bahwa ia terlihat seperti Ibu Sehun saja. "Yak, Luhan hyung seperti Ibu Tiri saja!"
"Bicara dengan mulut kosong, Sehun! Lagian Baekhyun kita ini kan Omega, lihatlah betapa manisnya~" Luhan sedikit menatap gemas pada si Omega yang hanya bisa tersenyum balik.
"Dengar ya, di mata Chanyeol hyung omega itu kan hanya yang berdada besar dan memiliki vagi—aish, Luhan hyung! Kenapa melempar sendok padaku!" Sehun menyerngit tidak suka ke arah Luhan. "Lagipula aku bicara jujur, Chanyeol itu hanya suka—"
"Omega berbadan seksi lemah yang dapat dikendalikannya." Sambung Jongin lalu segera ber-high five dengan si serigala berkulit albino itu. Semuanya tertawa, bahkan Luhan sekarang ikut tersenyum karena tingkah konyol dari Jongin dan juga Sehun. Mereka sudah lama berteman dan tentu saja mereka sudah tahu sifat dan watak masing-masing, baik naluri serigala dan juga sifat mereka ketika dalam wujud manusia.
Tentu saja.
Chanyeol menyukai Omega yang lemah dan dapat dikendalikannya, ia sudah berhubungan dengan beberapa Omega baik dari sekolah maupun luar sekolah mereka – itu adalah kebiasaan Alpha yang sudah dimaklumi banyak orang, berhubungan badan dengan Omega yang belum memiliki pasangan mate dalam artian Omega tersebut memang belum bisa dibuahi sama sekali. Tidak ada yang melarang, hal itu sah-sah saja terlebih pada jaman sekarang. Dalam kelompok pertemanan mereka, Chanyeol adalah yang paling parah; ia senang sekali bermain dengan gadis-gadis cantik lalu mengajak mereka ke ranjang dan ia sangat blak-blakan tentang hal itu bahkan si Alpha berbadan tinggi besar itu tidak segan-segan mengolok-olok betapa lemang dan ringkih dan begitu needy-nya Omega-Omega yang pernah bersetubuh dengannya.
Dan Baekhyun tidak sakit hati.
Karena di mata Chanyeol ia bukanlah seorang Omega.
Lagipula ia tidak menaruh hati sama sekali terhadap sahabatnya itu; ia hanya mengagumi kegagahan Chanyeol saat berburu, atau saat jam olahraga dimana otot-otot itu akan terlihat begitu kuat dan siap untuk melindungi Omeganya nanti, atau saat Chanyeol tersenyum padanya sembari mengusap pelan pucuk kepalanya ketika Baekhyun gagal melakukan lompat jauh di kelas lima dulu. Ya, mungkin Baekhyun meang tidak menaruh hati pada Chanyeol karena hatinya memang sudah dari lama sekali sudah dicuri terlebih dahulu oleh Alpha bermata cokelat terang tersebut.
"Tapi kau harus mulai berubah, Yeol. Siapa tahu mate-mu sudah 'matang' dan kau akan menyakiti hatinya jika kau terus-menerus seperti ini kelakuannya," Luhan berpendapat dan membuyarkan pemikiran konyol Baekhyun tentang perasaannya yang selamanya hanya akan bertepuk sebelah tangan pada Chanyeol. Chanyeol hanya mengendikkan bahu. "Atau lebih parahnya lagi, dia sebenarnya sudah tahu kau adalah Alphanya namun karena dia tahu kau bagaimana dia enggan mendekatimu!"
"Sudahlah, hyung. Jangan biara aneh-aneh, siapa juga Omega yang akan enggan bicara denganku." Ucap Chanyeol sebelum menyenggol Baekhyun. "Iya, kan Baek?"
Baekhyun hanya tertawa.
"Heol, pasti akan lucu nantinya jika kau dapat Omega jantan, hyung."
Chanyeol mendelikkan matanya pada Sehun seolah remaja itu baru saja mengucapkan hal teraneh seumur hidupnya.
"Haha, akan lucu sekali!" Jongdae setuju.
Baekhyun tersenyum; sebenarnya lucu juga membayangkan suatu hari Chanyeol memiliki Omega laki-laki seperti dirinya – bukannya Baekhyun berharap, hanya saja itu akan terlihat sangat aneh dan canggung. Ia tahu watak Chanyeol dan ia tahu sekali Chanyeol tidak terlalu berminat dengan Omega jantan; selama ini si Alpha tampan itu selalu berhubungan dengan Omega betina saja.
"Yak, kalian—"
"Coba bayangkan! Haha, Chanyeol memiliki pasangan seorang lelaki!" Jongdae kembali mengoceh. "Lagian tidak ada salahnya dengan Omega jantan, Yeol. Mereka bahkan katanya jauh lebih menyenangkan dan tahan lama di ranjang, kau tidak dengar penjelasan Kim seonsaeng? Bukannya kau suka yang lama-lama, Yeol—"
Chanyeol menggeram; wolf dalam dirinya sedikit keluar dan Jongdae terdiam begitu melihat sahabatnya itu mengepalkan tangan menahan amarah. Jongdae segera memucat, tidak menyangka bahwasanya wolf Chanyeol begitu mudah terpancing gurauan seperti ini – ia perlahan semakin menunduk saat Chanyeol perlahan berdiri dan mendekatinya dengan tatapan kelam. Mata cokelat terang itu perlahan menggelap dan mulai menunjukkan warna asli dari serigalanya, Jongdae segera menunduk patuh – sebuah tanda dari seorang Beta atau Omega yang menurut saat Alpha menantangnya. "Jangan katakan hal itu lagi." Ucapnya sebelum pergi ke kelas meninggalkan makan siangnya yang belum habis.
Semuanya menghela napas.
"Setidaknya dia bawa nampannya ke pantry," omel Luhan.
"Biar aku saja yang bereskan, hyung." Baekhyun menawarkan diri sebelum ia merapikan tempat makan Chanyeol dan membawa nampan itu ke pantry basah yang berada tidak begitu jauh dari meja mereka.
"Ah, Baek hyung sangat telaten sekali ya… Alphanya sungguh beruntung," ucap Jongin tanpa sadar diberi anggukan setuju dari yang lain.
Lima jam sebelum tanggal 6 Mei 2016
Baekhyun tidak pernah mengerti jalan pikiran Chanyeol.
Mau jadi apa sahabatnya itu nanti jika ia terus-terusan mendapat nilai ujian Eksak yang sangat rendah? Baekhyun sadar jika Chanyeol tidak tertarik untuk mempelajari rumus integral lipat tiga fungsi cosinus, atau memahami bagaimana sistem fotosintesis dedauanan hijau yang menghiasi hutam tempat mereka biasa berburu rusa untuk makan malam bersama di malam bulan purnama. Tetapi setidaknya ia harus ingat sesuatu! Bukannya mendapat nilai sedemikian rendah di seluruh mata pelajaran IPA, ia bisa tidak lulus nantinya dan itu akan merusak masa depannya.
Beruntung Baekhyun adalah seorang murid kesayangan dari wali kelasnya sehingga Chanyeol tidak usah berurusan dengan guru lain yang siap mengomelinya, Omega itu dengan baiknya menawarkan diri untuk menjadi tutor Chanyeol agar Alpha itu bisa mendapatkan nilai ulangan yang lebih bagus. Dan sekarang, Baekhyun tengah melangkah menuju rumah Chanyeol – dengan beberapa kertas ulangan penuh angka merah milik Chanyeol dan beberapa buku catatan dia sendiri yang begitu rapi. Mereka sudah sangat sering menginap di rumah Chanyeol, dalam artian romobongan mereka, karena orang tua Chanyeol kerap meninggalkan Chanyeol sendirian di rumah dan pada malam itu Baekhyun dapat melihat rumah keluarga Park sangat sepi – hanya lampu kamar Chanyeol yang nampak hidup.
Tidak repot-repot menekan bel, Baekhyun segera masuk karena ia yakin pintu rumah itu tidak dikunci – kaki mungilnya melangkah menuju arah kamar Chanyeol yang kebetulan berada di lantai bawah sehingga ia tidak perlu naik tangga. Baekhyun itu benci naik tangga karena tubuhnya akhir-akhir ini gampang sekali lemah karena aktivitas-aktivitas kecil.
Namun bukannya mendapatkan sahabatnya itu sedang berbaring santai di kasur, Baekhyun justru membuka mulut dan melebarkan mata kaget dengan keadaan Chanyeol yang tidak memakai sehelai benangpun di tubuhnya. Wajah Omega itu memerah dan telinganya memanas begitu mendengar desahan melengking dari perempuan dengan buah dada besar yang sekarang tengah sibuk dimainkan oleh mulut Alpha bermata cokelat tersebut.
"Channieh! Ahh! Ahhh!" Gadis itu melenguh. Begitu menikmati permainan lidah Chanyeol di atas puting dadanya yang sudah menegang dari awal. Baekhyun membeku; otaknya yang waras menyuruh syarafnya agar segera bergerak untuk meninggalkan tempat itu namun seluruh sendinya kaku – matanya menangkap bagaimana seorang Alpha yang selalu ia kagumi dari bangku sekolah dasar itu membawa tangan besarnya menjelajahi kewanitaan Omega yang sudah mengangkan kaki lebar pasrah akan sentuhan Chanyeol.
Omega jantan itu menahan napas, jemari lentik dan indahnya bergetar memegangi buku-bukunya agar tidak jatuh dan menimbulkan suara apapun.
Benar ia mendengar bagaimana Chanyeol, namun tidak pernah ia melihat secara langsung bagaimana sahabatnya itu memainkan perempuan seperti ini.
Baekhyun merasakan dadanya sesak.
Ia begitu mengagumi Chanyeol, ia bahkan menyukainya – Baekhyun selalu menyukai Chanyeol, tidak pernah mengutarakan perasaannya karena ia mencintai sahabatnya itu dalam diam. Karena ia tahu posisinya di mata Chanyeol, karena ia bukanlah Omega yang diinginkan oleh Alpha itu.
Tetapi melihat Chanyeol dengan gadis lain begitu menyakitkan.
Melihat Chanyeol membubuhi cumbuan di leher orang lain begitu memilukan.
Dan ketika Omega betina itu memekik menikmati sensasi saat vaginanya dimasuki oleh penis pejantan, Baekhyun membalik badan. Langkahnya berat dan terasa begitu menyayat bersentuhan dengan tanah, ia hanya ingin segera pulang, berharap tengah malam datang lebih awal sehingga ia dapat mengetahui mate -nya. Untuk melupakan Chanyeol.
Siapapun itu, Baekhyun akan berterimakasih padanya.
Ia hanya menginginkan Alphanya.
Kumohon cintailah aku sehingga aku dapat mencintaimu berkali-kali lebih banyak untuk membalas kebaikanmu.
01.07 AM 6 Mei 2016
Baekhyun menggigit bibir bawahnya hingga nyaris mengoyak kulit tipisnya; tangannya berada di antara kedua pahanya yang ia jepit begitu erat – matanya tertutup rapat dan badannya rebah lemas di atas kasur putih yang sekarang sudah lembab karena keringat dan juga air mata yang tidak dapat dia tahan keluar. Ia mengalami heat-month; itu sudah sewajarnya ia rasakan ketika ia mendapatkan tanda di pergelangan tangannya namun alih-alih menuju rumah Chanyeol dan menghamburkan diri dalam pelukan Alpha tampan itu, Baekhyun justru mengunci kamar, menutup jendela, dan meminum obat pereda heat yang ia dapatkan dari Apotek beberapa waktu yang lalu. Ia sudah berjaga-jaga untuk menahan keinginan akan sentuhan orang dari jauh hari; ia tidak ingin langsung bercinta dengan pasangan hidupnya begitu saja, ia ingin mengenal terlebih dahulu, sebab itulah ia membeli obat pereda tersebut namun agaknya tablet itu tidak dapat meredakan seluruh rasa ngilu dan nyeri yang ada di seluruh sendinya.
Heat pertamanya begitu menyiksa.
Tubuhnya serasa terbakar dan keringatnya basah layaknya ia tengah diguyur hujan lebat di musim gugur – omega berwajah cantik itu mengeluh tidak suka. Ia tersiksa, ereksi penisnya tidak jua reda dan celananya sudah basah akibat dari cairan alami yang keluar dari lubangnya yang siap untuk dimasuki knot seorang Alpha.
Ketukan pintu terdengar dan Baekhyun dapat menyimak suara lembut dari Ibunya berusaha menanyakan keadaannya; ia juga bisa merasakan ayahnya berada di sana namun Baekhyun tidak dapat melakukan apapun kecuali menekan tubuhnya lebih dalam ke kasur busanya. Orang tuanya pun agaknya sudah mengerti, mereka tidak memaksa Baekhyun untuk membuka pintu – keduanya hanya khawatir karena ketika dilanda heat, seorang Omega akan mengeluarkan bau yang sangat memabukkan bagi Alpha yang tidak memiliki mate. Baekhyun pasti sudah sangat sadar sehingga ia sudah menutup rapat jendela kamarnya.
Sakit sekali.
Isak batin si Omega tidak mampu bersuara, ia sengaja berbicara dengan bahasa telepati yang hanya bisa dimengerti oleh keluarganya. Kelebihan lain yang dimiliki oleh hibrid jenis mereka adalah mereka dapat berbicara tidak secara verbal dan bahkan dalam ruangan yang berbeda; dahulu kala, sebelum modernisasi terbentuk, telepati dapat terlaksana dalam satu pack atau kawanan saja namun seriring berjalan waktu telepati hanya dapat bekerja dalam satu keluarga inti saja. Dan kali ini, Baekhyun berusaha berkomunikasi dengan orang tuanya di luar – berpembatas pintu besi dan tembok beton yang menghalangi mereka.
Baekhyun dapat mendengar Ibunya terisak dan sang Ayah berusaha menenangkannya dengan suara yang begitu tenang; sungguh luar biasa mengingat Byun senior itu sangat posesif dan protektif terhadap anak bungsunya itu. Alpha dewasa tersebut berusaha mengulang-ulang kalimat penenang yang sudah seperti mantra keluar dari mulutnya; dan sesekali sang istri akan memberikan tambahan karena ia sudah berpengalaman saat heat pertamanya dulu. Hanya saja mereka berdua sangat awam dengan heat-month bagi Omega laki-laki; karena keberadaan mereka yang begitu langka, memang mereka mempunyai kenalan yang memiliki anak seorang omega jantan – si taemin itu – namun Taemin adalah Omega beruntung karena pada heat pertamanya ia langsung menemukan mate-nya yang merupakan kekasihnya saat itu. Sungguh sangat kebetulan yang tidak terduga.
Ketika suara erangan Baekhyun terdengar semakin memilukan, sang Ayah lalu mengepalkan tangan dan bertanya padanya siapa Alpha yang dapat dilihat dari tanda di pergelangan tangan sang anak. Setiap Alpha memiliki tanda di pergelangan tangan kanan mereka dan tanda itu sudah ada semenjak mereka mendapatkan status ke-alpha-an, sementara pada Omega akan berusaha menghapal seluruh tanda pada Alpha yang berada di sekitarnya untuk berjaga seandainya mate-nya nanti adalah orang yang berada di lingkungannya. Pada beberapa kasus memang Omega tidak mengenal tanda Alphanya sama sekali, namun beberapa organisasi swasta maupun nasional sudah banyak bergerak dalam bidang pencarian pasangan yang mempertemukan pasangan mate dengan mudah. Dan saat ini, Ayah Baekhyun ingin sekali membantu anaknya yang tengah keasakitan dengan mempertemukannya dengan Alpha yang sudah ditakdirkan dengannya.
Ti—tidak. Akhh. Aku tidak ingin bertemu dengannya.
Tolak Baekhyun berusaha berbicara di antara geraman dan erangannya.
Baekhyun, apa kau mengenalnya.
Baekhyun membuka mata; bola sebening kristal itu berair dan tampak sangat merah. Pupilnya memandang kabur dan ia tidak bisa berdusta pada orang tuanya.
Kau mengenalnya, Baekhyun. Katakan siapa dia, kita bisa menghubunginya dan—
Ayah Baekhyun tidak melanjutkan kalimatnya begitu mendengar suara tangisan Baekhyun, ia juga dapat mendengar anaknya itu terisak pilu dan istrinya juga menatapnya sembari menggelengkan kepala. Mereka berdua tahu Baekhyun tidak menginginkan itu dan mereka berdua tidak bisa melakukan apa-apa kecuali meninggalkan si bungsu di dalam kamarnya menahan siklus alam yang melanda. Istri dari Byun senior itu lalu segera ke dapur, menyiapkan beberapa makanan untuk mengisi perut Baekhyun ketika heat-nya usai nanti, biasanya akan berlangsung beberapa jam dan setelah itu Omega yang tidak dibuahi akan kehilangan tenaga sehingga ia butuh asupan makanan yang cukup.
"Yoona-ya, teleponlah guru sekolah Baekhyun dan katakan pada mereka bahwa anak kita tidak dapat ke sekolah hari ini." Ujar Donghae, Alpha utama keluarga Byun itu, memberi perintah pada istrinya. Yoona segera mengangguk dan berlajan menuju telepon rumah mereka. Lalu terdengar suara lembut sang istri menjelaskan mengenai keadaan Baekhyun pada wali kelasnya, tentu saja mereka sangat mengerti dan bahkan sang guru mendoakan yang terbaik untuk Baekhyun yang segera disambut dengan ucapan terimakasih dari Yoona.
Mereka terdiam beberapa saat, suara erangan dan tangisan Baekhyun menjadi backsound dari kediaman rumah Byun saat itu – beruntung Baekbom sudah mempunyai mate karena seorang Omega akan begitu semerbak mewangi ketika heat, terlebih heat pertamanya. Tidak ada pengecualian sedarah dalam dunia warewolf, toh mereka pada dasarnya adalah binatang dan nurani untuk menyetubuhi adalah sifat alamiah dari seekor serigala ketika masa-masa persetubuhan dan jika sauda kandungnya tengah dilanda heat, seorang Alpha tetap saja akan mencium bau yang menggoda dan menggairahkan hingga hasrat untuk kontting mereka akan keluar. Oleh karena itulah pada jaman dahulu, seorang Omega akan berpisah dengan keluarganya untuk ikut ke dalam satu pack dimana Alphanya berada di sana untuk menghindari hal tersebut, dan karena saat itu kekuatan sebuah pack masih sangat dijunjung.
Donghae sedikit mendehem begitu mendengar pekikan kencang dari kamar Baekhyun, Yoona mendesah khawatir. "Apa kau tidak lupa membelikannya obat yang biasa dipakai Omega untuk meredakan heat?" Ia bertanya dan Yoona menggeleng.
"Aku yakin dia telah minum sebutir sebelum tidur tadi malam," ujar perempuan cantik itu sebelum melanjutkan acara memasak buburnya. Ia juga tidak lupa menyiapkan sarapan untuk sang suami karena Donghae tentu juga mengalami waktu yang sulit karena ia tidak tidur dari tengah malam tadi, semenjak Baekhyun menahan heat-nya, keduanya tidak bisa tidur dan menunggu anak mereka keluar kamar. Namun agaknya, dari tadi malam hingga saat ini sang mentari sudah menyapa bumi Baekhyun belum juga memberi tanda bahwa panas di tubuhnya sudah mereda. "Aku akan memanggil Dokter Choi," ujar Yoona setelah melihat jam dinding; sadar bahwa Baekhyun telah menghabiskan waktu tiga jam lebih di kamarnya.
"Siwon maksudmu?" Donghae melirik istrinya.
"Ya, aku rasa semua teman Omegaku tidak pernah lebih dari dua jam, Hae. Ini sudah terlalu lama aku takut terjadi sesuatu dengan—"
Lalu suara pekikan keras membuat keduanya tersentak; Donghae sigap bangun dari duduknya dan naik tangga menuju kamar Baekhyun sedangkan Yoona segera menelpon kenalan mereka yang sekarang bekerja di rumah sakit kota mereka sebagai seorang Dokter Spesialis Omega.
Sementara itu di Sekolah SM High School saat itu dihebohkan dengan acara ribut pagi oleh dua Alpha yang sudah dikenal oleh siswa-siswa sebagai sahabat dekat. Saat itu memang masih sangat pagi namun sebagian siswa sudah berada di lapangan, menyaksikan Luhan – dengan mata merah menyalanya, tengah menghantam Alpha dengan tubuh yang lebih besar darinya itu. Jongin dan Yifan segera menahan lengan Luhan, Sehun hanya bisa memandang dari jauh karena ia tentu saja tidak bisa menahan seorang Alpha jika tengah dalam kondisi seperti ini. Jongdae hanya bisa tergelak karena menurut dia ini sangat menghibur untuk dilihat, beberapa siswa juga ikut menyeru heboh dan mengelu-elukan agar mereka sekalian shifting dan berkelahi dalam wujud serigala.
"Jongdae hyung! Ini tidak lucu!"
"Oh, ayolah, Sehun. Tidak akan ada yang mati karena ini, kau juga tahu kita sudah biasa bertarung seperti ini – bahkan kau suka memukuli teman sekelasmu karena hal sepele. Chanyeol dan Luhan tidak akan apa-apa."
Sehun mendengus, tidak bisa menyanggah karena nurani mereka memang seperti itu. Terkadang hal kecil dapat membuat baku hantam yang dapat merusak beberapa bangku kelas dan kaca jendela. "Tapi—"
"Tapi apa? Kau takut Luhan akan terluka? Sehun, sudah berapa kali kukatakan padamu... Luhan hyung itu salah satu Alpha terkuat dan berkelahi dengan Chanyeol tidak akan melukainya."
"Itulah masalahnya..." gumam Sehun diam; matanya lurus menatap sosok Luhan yang sekarang sudah hendak shifting, matanya berang dan aura Alphanya begitu kentar – Sehun tersenyum kecut. Status sialan, Alpha-Beta-Omega sialan, ia terkadang ingin menjadi manusia saja dimana status wolf mereka tidak akan menimbulkan banyak masalah seperti ini. Namun ia berhenti berpikiran yang lebih menyendihkan lagi begitu Chanyeol menyerang balik. Alpha berbadan tinggi itu tidak terima tampaknya.
"Apa masalahmu, Luhan?!" Serunya.
"Pikirkan sendiri, bodoh!" Luhan menghardik balik, Chanyeol tampak bingung. "Kau darimana saja semalam, hah?"
"Kau tau Mina mengajakku pulang sekolah kemarin..."
Sehun mendesah – Jongdae menggeleng. Chanyeol benar-benar. Pantas saja Luhan marah seperti ini, seminggu yang lalu mereka sudah berencana untuk menyiapkan kejutan untuk Baekhyun di hari ulang tahunnya yang merupakan hari ini, mereka akan menyiapkan dari malam hari di sekolah dan semuanya kacau karena mood Luhan yang hilang saat melihat satu temannya tidak hadir dan matahari sudah hampir memunculkan diri di tanggal enam bulan Mei itu. Chanyeol dengan tidak bersalahnya menjawab bahwa ia bersama dengan seorang gadis dan sudah jelas mereka menghabiskan waktu bersama di kamar Chanyeol atau apalah ketika temannya yang lain sibuk menunggunya.
"Apa kau ingat ini hari apa, Chanyeol?" Luhan perlahan tenang, warna merah di matanya memudar dan Jongin beserta Yifan sudah melepas pegangan mereka. Sekali lagi, Chanyeol tampak tidak ada clue sama sekali dengan arah pembicaraan Luhan. Ia lelah; semalam penuh ia sibuk menyetubuhi adik kelasnya itu, beberapa insting manusianya akan otomatis hilang ketika ia sudah dikuasi oleh wolf yang ada di tubuhnya. Terlebih lagi ketika bercinta, Chanyeol akan sangat beringas dan lama – ia bahkan nyaris tidak masuk kelas ketika melayani permintaan dua omega untuk threesome beberapa waktu yang lalu. "Ya Tuhan, Chanyeol..." desah Luhan frustasi. "Kau seharusnya berhenti menyebut dirimu sahabat baik Baekhyun." Ujar Alpha cantik itu sebelum berbalik badan dan meninggalkan Chanyeol yang perlahan mengingat keping-keping memori yang sempat ia lupakan.
"Hey, Luhan! Aku—ayolah, kau pasti mengerti bagaimana kita, bukan? Aku mudah lupa setelah—yak! Lu hyung!" Chanyeol mencoba menyusul namun Yifan dan Jongin menahannya. "Hey, apa kalian juga akan kesal padaku? Ayolah, lagipula Baekhyun juga sudah sering kita rayakan ulang tahunnya—"
"Hyung," Jongin menyela. "Apa kau bahkan ingat Baekhyun hyung ulang tahun ke berapa tahun ini?"
"Umm—tentu saja, aku—shit." Chanyeol mengumpat, sadar bahwa ini adalah takun ke tujuh belas Baekhyun yang berarti ini adalah hari spesial untuknya. Meski sering menganggap Baekhyun sama seperti Sehun atau Jongdae, Alpha itu sudah berjanji untuk memberikan surprise terbaik pada hari spesial teman Omeganya itu. Dan ia melupakannya, telak. "Sial, aku bodoh sekali—fuck! Kenapa aku bisa lupa—" makinya sendiri sambil mengacak rambutnya yang sekarang berwarna merah; ia sengaja mewarnainya karena warna rambutnya yang lalu itu adalah warna permintaan mantan kekasihnya dan ia tidak terlalu suka.
"Jika saja kau dapat mengontrol hormon berlebihmu, kau tidak akan lupa." Sindir Yifan sebelum ia ikut berlalu, mengikuti langkah Luhan yang sudah terlebih dahulu meninggalkan halaman. Jongin hanya mengendikkan bahu, sementara Sehun menepuk pundaknya sebelum tiga temannya itu berjalan meninggalkannya.
Chanyeol menatap langit pagi itu sebelum ia memutuskan untuk kembali mengambil tasnya dan keluar gerbang sekolah; ia akan menjemput Baekhyun, mengucapkan selamat ulang tahun padanya, menanyakan keadaannya karena ia tahu malam tadi pasti malam yang berat untuk sang sahabat, dan menggandengnya untuk berangkat sekolah bersama-sama.
Tidak butuh waktu lama bagi Alpha itu meraih rumah kediaman Byun.
Bel terdengar yang diikuti dengan suara berat sapaan dari Chanyeol. Yoona segera ke depan pintu dan menyambut Alpha yang merupakan sahabat baik dari anaknya tersebut, Omega dewasa itu sudah hapal teman-teman Baekhyun mulai dari Luhan, si Alpha cantik yang ia kira awalnya adalah seorang Omega, sampai pada Wu Yifan, si Alpha yang terlihat seperti model majalah saja. Tentu saja ia sudah sangat hapal dengan suara Chanyeol, Alpha yang sering pergi sekolah bersama dengan anaknya ini. "Pagi, Chanyeol-ah..."
"Pagi, omoni..." sapa Chanyeol ramah; seluruh teman Baekhyun dan Baekbom memang memanggil Yoona dengan panggilan ibu seperti itu karena mereka sudah dianggap anaknya sendiri. "Baekhyunnya sudah siap berangkat?"
Yoona tersenyum. "Baekhyun tidak ke sekolah hari ini, Chanyeol." Perempuan dewasa itu dapat melihat mata bulat Chanyeol membesar lucu dan Ibu dari dua anak itu tertawa renyah melihatnya. "Kau sadar apa yang terjadi pada Omega di malam pertaha tahun ke tujuh belasnya, bukan?"
"Ah!" Chanyeol segera sadar. Terkadang ia sungguh merutuki memori kepalanya yang begitu lemah dan payah mengingat sesuatu, alhasil ia hanya terkekeh malu di hadapan Ibu sabahatnya itu. "Ah, ne. Kalau begitu aku—"
"Eomma! Aku ingin mandi air hangat—"
Dua remaja warewolf itu lalu sama-sama terdiam; Yoona segera memalingkan wajah pada anaknya yang sekarang berada di anak tangga tengah tampak begitu terkejut melihat pemandangan di hadapannya. Matanya melebar dan wajahnya memucat. "Baek? Kau tidak apa-apa? Appa baru saja ke rumah Dokter Choi untuk memerika keadaanmu. " Sang Ibu lalu mendekat dan meraba kening penuh keringat Baekhyun, agaknya heat anaknya itu sudah mereda karena ia sudah bisa berjalan wajar dan bahkan bisa keluar dari kamarnya. Namun melihat si bungsu masih saja menatap lurus ke depan, Yoona menjadi khawatir. "Baek, baby? Tidak apa-apa, kan?"
Bukannya menjawab, Omega itu lalu menarik tangan kakannya untuk menutupi tanda yang berada di pergelangan kirinya. Ia pernah mendengar bahwa tanda itu akan mengeluarkan cahaya jika ia berapa dekat dengan Alpha pasangannya, dan Baekhyun tidak ingin membiarkan Chanyeol mendapatinya sekarang. Ia yang tengah dalam keadaan kacau, berkeringat, baru keluar kamar setelah dari jam satu malam tidak tidur setelah mendapat tandanya, merupakan Omega dari seorang Alpha tampan dan tangguh seperti Chanyeol.
Agaknya terkejutan Chanyeol pun hanya beberapa saat karena ia segera tersenyum lebar dan masuk, berjalan mendekat pada arah tangga. "Hey, Baek! Selamat ulang—"
"Aku mau mandi dulu, Yeol! Mungkin agak lama, kau duluan saja! Bye!" Putus Baekhyun lalu kembali naik ke atas dan masuk ke kamarnya tanpa menunggu air hangat yang ia minta pada Yoona. Ibu itu lalu menatap Chanyeol yang hanya bisa tersenyum canggung, mata sipit Yoona yang turun pada Baekhyun itu lalu sedikit melirik pergelangan tangan Chanyeol sebelum ia menatap wajah tampan Alpha remaja itu. "Kau duluan saja, Chanyeol-ah. Baekhyun mungkin butuh waktu lama, dan aku sudah ijin pada wali kelasnya supaya dia tidak usah masuk hari ini."
"Baiklah, omoni. Kalau begitu aku pergi, semoga Baek baik-baik saja."
"Terimakasih, Chanyeol." Yoona menatap Chanyeol sebentar sebelum kembali membuaka suara. "Oh iya, nanti malam akan ada pesta untuk Baekhyun... awalnya kami ingin membatalkan karena kondisi Baekhyun yang lumayan mengkhawatirkan tadi malam, tapi sepertinya dia sudah membaik." Yoona tampak bahagia menceritakan ini berbeda dengan wajah Chanyeol yang sedikit mengerut.
"Mengkhawatirkan?"
"Oh, kau tau bagaimana Omega. Kau punya kakak perempuan Omega, bukan?" Ujar Yoona tidak menjelaskan terlalu rinci. "Bagaimanapun nanti malam ada pesta di sini, kau diundang. Kalian semua diundang, jadi beritahu Luhan dan yang lainnya. Oke?" Ujar Yoona yang segera diberikan anggukan patuh oleh Chanyeol walau Alpha itu agak bingung bagaimana memulai pembicaraan dengan Luhan, pasalnya mereka nyaris saling memukul di lapangan sekolah beberapa belas menit yang lalu. "Sekarang berangkat, Chanyeol. Nanti telat, mungkin Baekhyun tidak akan berangkat karena Donghae sedang menjemput Siwon," pinta Yoona lembut.
Chanyeol tampak ragu, ia seharusnya berbalik badan dan mengucapkan salam pada Yoona tetapi mulutnya malah berkata yang lain. "Aku tinggal di sini saja, omoni. Aku ingin menemani Baekhyun, ingin tahu keadaannya..."
"Dan bolos sekolah?"
"Hehe, tidak apa-apa. Lagipula Baekhyun pasti butuh teman dan yang lainnya sudah di kelas, ke sekolah pun pasti akan telat jadi aku menemani Baekhyun saja..." ujar Chanyeol menjelaskan. Yoona diam beberapa saat, ia kembali menatap remaja yang berpakaian seragam lengkap itu. Rambut Chanyeol agak acakan dan dari penampilannya Yoona dapat menerka Alpha ini baru saja mengalami masalah di sekolah, oleh karena itu dia mengangguk. "Terimakasih, omoni."
Baekhyun meraba dadanya; debaran jantungnya begitu tidak terkontrol – baru saja beberapa menit yang lalu ia mendesah lega karena siklus sialan itu akhirnya telah berhenti untuk malam pertamanya dan ia bisa siap-siap untuk ke sekolah. Ia tidak ingin melewatkan hari ulang tahun ke-17-nya, bukan? Namun agaknya Omega cantik itu tidak akan berani ke sekolah jika hatinya masih bergejolak setiap melihat Chanyeol.
Ya, dia menyukai Alpha itu.
Namun semenjak mengetahui bahwa Chanyeol adalah Alphanya, Baekhyun bisa merasakan darahnya senantiasa berdesir bahkan hanya dengan menyebut nama itu dalam hatinya – bertatap muka dengan pasangan takdirnya akan membuat hatinya semakin bergemuruh. Dan sekuat apapun keinginan Baekhyun untuk memeluk dan berbisik di telinga Chanyeol untuk mengatakan bahwa ia adalah Alphanya, omega itu kembali teringat dengan alasan utamanya untuk bungkam.
Chanyeol tidak akan menyukai Omega sepertinya.
Jiwa submissive dan super sensitif dari wolf yang berada dalam dirinya mendominasi jalan pikiran Omega yang telah matang itu, ia menatap sekali lagi tanda di pergelangan tangannya. Berwarna hitam kelam, sebuah lambang phoenix yang selalu ia lihat di pergelangan tangan Chanyeol – sekarang masih segar tercetak di nadi kirinya. Jari tangan itu lalu bergerak, membelai tanda itu – bibirnya sedikit tersenyum begitu mengingat kenangan pertama kali saat ia melihat tanda di tangan Chanyeol. Baekhyun pada awalnya tidak suka, dia hobi sekali mengejek Chanyeol kecil dan mengatakan bahwa tanda phoneix-nya sangat jelek dan tidak akan ada Omega yang mau menjadi pasangannya. Dan sekarang, tahun-tahun berlalu setalah itu... Baekhyun berada di posisi dimana ialah yang pengecut, begitu menginginkan Chanyeol namun tidak dapat mengatakannya.
Kilau putih lalu keluar dari celah-celah di tandanya; mata omega itu seketika membulat. Suara langkah terdengar dari tangga dan ia segera panik; ia mengambil ikat tangan putih yang berada di meja belajarnya dan segera mengalungkan benda itu di tangan kirinya. Menutupi tanda sang Alpha dengan sempurna; kilau itu pun tertutup dan pada saat yang bersamaan pintu kamarnya terbuka.
"Baek, sayang... eomma akan menyiapkan air hangat. Kau bisa bersama Chanyeol dulu, ne? Dia sengaja bolos untuk menunggumu." Ujar Yoona lalu masuk ke kamar anaknya itu, Baekhyun hanya mengangguk dan membiarkan Ibunya masuk ke kamar mandi pribadinya, menghidupkan keran dan menyiapkan peralatan mandi. Chanyeol masih berdiri kaku di depan pintu, ia terlihat berfikir untuk beberapa saat sebelum dengan senyum andalannya menyapa Baekhyun kembali.
"Hi, Baek. Aku bolos, hehe." Ujarnya konyol.
Baekhyun ikut tersenyum, tidak tahan untuk tidak jika wajah Chanyeol sangat lucu saat sekarang ini. Namun napasnya kembali tercekat begitu Alpha itu mendekat dan tubuh mereka nyaris bersentuhan.
"Umm, happy birthday..." Baekhyun menengadah, memperhatikan manik cokelat terang Chanyeol yang begitu kontras dengan warna rambut barunya yang terlihat begitu mencolok namun ajaibnya masih saja mendukung ketampanan dari rupa Alpha tersebut. Lalu sebuah gelang dengan ukiran wolf dari kayu berwarna cokelat muda memenuhi indera penglihatannya, gelang tipis dan mungil itu tampak begitu kecil di telapak tangan besar Chanyeol. "Untukmu," lanjut warewolf yang memiliki mata bak madu segra dari sari bunga liar hutan di daerah mereka, ia sedikit menggaruk kepalanya dan tersenyum canggung.
Mereka tidak pernah secanggung ini, Baekhyun merenung.
Mungkin karena keadaan Baekhyun yang baru saja menerima heat pertamanya membuat Chanyeol menajdi canggung? Dan ah! Tentu saja Ibunya tadi berkata hal yang aneh-aneh tentangnya, Baekhyun merutuk kesal dalam hati – ia itu sering sekali dibuat malu oleh keluarganya sendiri. Saat teman-temannya berkunjung ke rumah mereka, Yoona kerap sekali bercerita tentang betapa menggemaskan dan lucunya Baekhyun kecil saat ia tidak bisa memakan makanan yang ada cabenya sama sekali. Jongdae menggodanya tentang cabe beberapa minggu setelah itu. Belum lagi sang Ayah, Donghae, yang memang hobi sekali membuat lawakan yang garing – ugh, pasti kali ini Ibunya kelepasan. Terang saja Chanyeol terlihat tidak nyaman.
"Maaf aku hanya bisa memberi itu," ucap Chanyeol mengakui; Baekhyun menggeleng. "Itu—"
"Ini gelangmu, bukan?" Ujar keduanya bersamaan. Baekhyun tersenyum, Chanyeol mungkin lupa dengan ulang tahun-nya, Omega itu sudah menerka karena dati malam ia melihat kenyataan pahit di matanya. Baekhyun segera membuang muka, cuplikan scene tadi malam membuat perutnya mual.
"Aku sedikit memendekkan rantainya." Ujar Chanyeol tidak sadar dengan arah pandai Baekhyun yang sudah tidak menentu. "Kau mau kupakaikan? Aku—hey, Baek."
Sedikit menggepalkan tangannya pada gelang pemberian Chanyeol itu, Baekhyun lalu berbalik badan. "Aku lelah. Keluarlah." Pintanya lemah. Jika ini bukanlah tahun 2016, maka tetua akan menghukum Baekhyun karena berani memerintah seorang Alpha, terlebih lagi Alpha tersebut adalah mate yang tertuliskan untuknya. Dan beruntung saat itu, seorang dominan seperti Chanyeol hanya diam dan menurut saat Baekhyun perlahan menutup pintu kamarnya kembali.
Maafkan aku. Aku adalah omegamu, namun kau sepertinya tidak menginginkanku.
