Kau hanya ingin perhatianku, bukan? Tapi, bukankah ini sudah sedikit berlebihan?

Aku akan memperhatikan mu. Jadi, berhentilah bermain-main!

=Attention=

Eunwoo mendengus kesal saat manik kelamnya menangkap sosok yang sudah tak asing lagi bagi hidupnya.

Moon Bin. Satu nama yang selalu Eunwoo ucapkan ketika perasaannya tengah terbakar. Tidak. Maksudku, bukan terbakar dalam artian perasaan yang indah. Namun, terbakar karena amarah yang membuncah.

Nama yang sering kali ia hubungi hanya untuk memastikan jika dia tidak melakukan hal bodoh yang membuat nama Cha Eunwoo tercoreng.

Nama yang sering sekali ia ucapkan dengan geraman kecil dan gemelutuk serta hawa panas yang keluar dari tubuh Eunwoo.

"Apa Myungjun juga temannya? Atau jangan-jangan ia kemari untuk mengikutimu lagi" -Daniel.

"Kurasa temanmu itu juga teman mantan kekasihmu yang aneh itu" -Donghyuk.

"Aku tidak mengerti kenapa sekarang aku melihat jika mantan kekasihmu seperti mengikutimu, hyung?" -Rocky.

"Kurasa ini sudah pesta ke-empat kita bertemu dengannya setelah kalian putus" -Sanha.

"Kurasa dia masih menyimpan rasa padamu" -Jinwoo.

Deg.

Eunwoo hampir saja menjatuhkan gelas berisikan anggur merah itu. Ia menatap Jinwoo kaget. Kenapa bisa disaat temannya yang lain mencibir mantan kekasihnya. Tapi, Jinwoo dengan santai mengatakan hal seperti itu.

"Bukankah dia yang memutuskan untuk berpisah?"

Sanha dengan cepat membalas omongan Jinwoo dengan nada kesal. Bahkan, raut wajah cerah yang biasa terpasang cantik di wajahnya pun terlihat menahan amarah.

"Bahkan, dia juga membicarakan hal buruk tentang Eunwoo hyung kepada setiap gadis yang menyukai Eunwoo hyung"

Eunwoo terbatuk kecil mendengar ucapan Rocky. Demi apa?! Bin mengatakan hal tidak-tidak seperti apa? Nama baiknya pasti benar-benar tercoret sekarang. Ucapan Bin ditelpon benar-benar tidak bisa dipercaya.

Bin selalu mengatakan jika ia tidak menyebarkan rumor aneh tentang Eunwoo. Pantas saja, akhir-akhir ini Eunwoo merasa sulit sekali menjalin hubungan relasi dengan perempuan.

"Benar sekali. Bahkan, Irene dan Eunha yang paling menyukai Eunwoo pun tiba-tiba merasa risih dekat dengan Eunwoo"

Eunwoo ingin sekali melempar gelas yang ada di tangannya ke arah Bin yang tengah tertawa gembira bersama beberapa gadis cantik.

Omongan Donghyuk benar-benar menjadi beban pikiran bagi Eunwoo. Maksudnya, Eunwoo tidak masalah jika pandangan gadis lain buruk terhadapnya. Tapi, Irene sang princess yang dipuja saat prom nite masa menengah atasnya yang sangat menggilai Eunwoo dengan sikap dinginnya. Gadis yang sangat menonjol diantara yang lain. Demi apa?! Pengaruh Irene mampu membuat Eunwoo benar-benar diinjak teman masa SMA-nya.

Ditambah dengan Eunha yang tak kalah menonjol diantara siswi lainnya. Yang bahkan, mampu mengatur satu sekolah dengan jabatannya sebagai seksi keamanan pada jaman kepemimpinan Eunwoo. Bahkan, Eunwoo pada saat itu merasa dirinya menjadi anjing yang penurut untuk Eunha.

"Ha~ah"

Nasib Eunwoo sekarang buruk.

"Tapi, apakah kalian tidak penasaran dengan alasan kenapa sang pangeran Cha Eunwoo dan bocah iblis Moon Bin putus? Maksudku, kita tahu jika semasa menengah mereka benar-benar sweet couple. Iya kan?"

Eunwoo langsung memasang wajah datarnya. Ia malas sekali mendengar pertanyaan seputar 'kenapa Eunwoo diputuskan secara sepihak oleh Bin'. Eunwoo benar-benar ingin menebas kepala Daniel saat ini.

"Kau bahkan sempat jadi anaknya. Seharusnya, kau tahu apa masalah mereka"

Sanha melongo bodoh saat ucapan itu dilempar oleh Donghyuk. Ia menatap Eunwoo sekilas sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya perlahan memberikan jawaban pada Donghyuk.

"Appa tidak pernah menceritakannya. Dan lagi, aku juga tidak tahu siapa yang mengasuhku saat ini, hahaha"

Sanha tertawa renyah membuat Daniel yang berada di samping Sanha langsung memukul kepala Sanha.

Daniel kadang bertanya-tanya bagaimana bisa Sanha lulus dan bekerja dengan baik jika nyatanya Sanha masih kekanakan seperti jaman Sanha melatih vokalnya bersama Daniel semasa SMA.

"Appa, kau tahu tidak, apa yang dibicarakan Bin ke semua gadis di sekolah kita dulu?"

"Apa?"

Sanha menoleh pada ke-empat pria yang langsung meresponnya cepat. Berkedip beberapa kali saat tahu jika sang 'appa'nya nyatanya terlihat tidak tertarik. Benar-benar berbanding terbalik dengan ke-empat mahluk kepo yang ikut andil dalam pembicaraan mereka.

"Ku dengar dari Umji. Ia menyebarkan rumor jika kau gay"

"Semua orang tahu itu" Daniel menyeletuk cepat.

"Aniya, umma juga mengatakan jika kau pria gay yang tidak mampu memuaskan pasanganmu di atas ranjang. Mengerikan"

Hening.

Hening.

What the...

"Ahhh kau benar-benar payah. Aku kecewa padamu" -Daniel.

"Selama sepuluh tahun pacaran kau tidak mampu melakukannya?" -Jinwoo

"Umur kita sudah 27 tahun jika perlu kuingatkan, Cha Eunwoo" -Donghyuk.

"Pantas saja kau putus dengannya" -Rocky.

Eunwoo menggigit bibir bawahnya ditambah dengan tatapan matanya yang menyipit tajam. Jangan lupa sebelah tangan Eunwoo yang mengepal kuat seolah ingin melayangkan tinju pada semua orang yang ada diacara promosi film yang disutradarai oleh Myungjun.

"Apa yang akan kau lakukan saat tahu kekasih oops maksudku, mantanmu menyebarkan rumor menjijikkan seperti itu?"

"Urus saja Ong tercintamu itu!"

Daniel yang niatnya ingin bercanda untuk mengembalikan suasana obrolan mereka pun langsung tutup mulut. Sepuluh tahun kenal dengan Eunwoo mampu membuat Daniel paham jika sang pangeran semasa SMA nya itu sedang dalam kondisi yang buruk.

Bahkan, Donghyuk dan Sanha yang terkenal jenaka pun lebih memilih untuk tutup mulut daripada membuat Eunwoo menyebarkan aura hitam di acara yang seharusnya mewah ini.

"Aku penasaran dengan film yang kau dan istrimu buat itu, hyung"

"Aku hanya sebagai pendonor dana saja. Keseluruhannya Myungjun yang mengurusnya"

"Ahhh, terkadang aku bosan menjadi editor. Aku juga ingin masuk televisi bersama dengan baby Ong"

Crakk.

Donghyuk dan Sanha menyeringai kecil melihat gelas yang ada di genggaman Eunwoo pecah berkeping-keping. Kedua mahluk itu benar-benar peka jika beberapa menit kemudian Eunwoo akan membuat sesuatu yang heboh dan membuat banyak kamera menatap sang pemilik agensi yang mendanai dan bertanggung jawab atas film yang diputar nanti.

"Kau mau tahu sesuatu tidak? Umma datang ke sini karena ia yang mendesain pakaian yang digunakan dalam film ini. Tapi, Myungjun-hyung menyembunyikannya karena takut pada appa. Kalian tahu sendiri jika appa sangat bodoh soal fashion. Jadi, appa tidak begitu mempedulikannya selama di berkasnya tidak ada nama umma. Ia tidak masalah. Dan, pada daftar itu Myungjun-hyung menuliskan nama Hwang Eunbi sebagai kamuflase"

Donghyuk menatap Sanha dengan senyum penuh arti tidak lupa dengan acungan ibu jarinya yang mengatakan 'kerja bagus'.

"Kurasa kau benar-benar anak mereka"

"Bisakah kita fokus pada apa yang dilakukan oleh Eunwoo? Aku yakin dia akan melakukan sesuatu yang tidak-"

Heol.

What the...

Seluruh pasang mata yang ada dalam gedung itu membelalak kaget. Begitupula dengan kelima pria tampan yang sedang bergosip ria itu. Bahkan, kamera pun merekam aksi dadakan yang dilakukan Eunwoo. Berbanding terbalik dengan paparazzi yang malah terdiam kikuk tidak memainkan kameranya.

"Kenapa kau tiba-tiba menciumku?"

Eunwoo diam tidak menjawab. Sebelah tangan Eunwoo merengkuh pinggang Bin membuat jarak keduanya kian dekat. Tangan Eunwoo yang bebas bermain di pipi mulus Bin sebelum berhenti di bibir bawah Bin yang mungil.

Eunwoo menarik bibir Bin ke bawah dengan pelan membuat Bin tanpa sadar membuka mulutnya. Dengan polosnya Bin hanya diam tidak melawan saat lagi-lagi Eunwoo menyatukan bibir mereka.

Tidak. Bukan sekedar kecupan singkat seperti awal tadi. Tapi, Eunwoo berani melumat bibir Bin lembut. Tidak ada nafsu yang membara ataupun terburu-buru.

Benar-benar perlahan namun pasti. Ciri khas seorang Cha Eunwoo.

Kelopak mata Bin yang semula terbuka lebar karena kaget pun mulai menutup menikmati permainan Eunwoo.

Ini pertama kalinya setelah 7 bulan mereka tidak berhubungan. Dan, semuanya masih terasa sama. Bagi Bin, Eunwoo benar-benar orang yang lembut kepada pasangannya. Dan, itu tidak berubah hingga saat ini.

"Nghh"

Hisapan dan gigitan kecil Eunwoo pada bibir Bin membuat sang pemiliknya meremas kerah jas hitam Eunwoo. Bin benar-benar merindukan sensasi yang diberikan bibir Eunwoo.

Bagaimana saat lidah Eunwoo menyapa rongga mulutnya. Dan bagaimana lidah Eunwoo mengajak lidah Bin bermain. Semua itu memiliki sensasi tersendiri di tubuh Bin.

"Arghhh"

Bin meringis sakit saat tiba-tiba Eunwoo menggigit bibir bawahnya hingga menimbulkan luka. Antara kaget dan nikmat ketika Eunwoo menjilati bibir bawahnya.

Sebenarnya, kenapa dengan Eunwoo? Dalam ingatan Bin, Eunwoo tidak akan membiarkan bibir Bin terluka sama sekali. Tapi, kenapa hari ini...

Lidah Eunwoo lagi-lagi menjelajahi rongga mulut Bin. Membelit lidah Bin dan menekan lidah Bin seolah Eunwoo ingin Bin tunduk padanya. Namun, memang Bin bukan tipikal orang yang mau kalah. Bin malah membuat pertarungan sengit di dalam mulutnya membuat bunyi kecipak terdengar memenuhi keheningan yang ada.

Sebelah tangan Eunwoo pun tidak tinggal diam. Yang semula mengelus pipi Bin. Langsung turun mengelus pantat Bin.

Sekali lagi Eunwoo mampu membuat Bin mendesah tertahan karena ulahnya dan lagi. Demi apa?! Tubuh Bin menginginkan lebih dari ini.

Cha Eunwoo sialan.

"Ahh~"

Tunggu. Kenapa Bin malah menikmati permainan Eunwoo?! Seharusnya Bin menghajar Eunwoo dan menendang Eunwoo. Bukannya menikmati dan malah meminta lebih.

Bin itu bodoh atau apa?!

Beberapa kecupan mendarat di bibir Bin untuk mengakhiri sesi berciuman mereka. Namun, sampai berakhir pun Bin masih tetap menutup matanya. Walaupun tangannya memang menyingkirkan tangan Eunwoo yang berada di pinggang dan juga pantatnya.

Lagi. Bin merasakan jika bibir Eunwoo tengah mengecup keningnya yang tertutup poni. Setelah itu, Bin merasakan bibir Eunwoo mendarat di hidung dan juga kedua pipinya secara bergantian.

Terakhir. Eunwoo lagi-lagi mengulum bibir Bin seperti permen.

Eunwoo tidak berniat untuk lanjut dua ronde kan? Bin sudah merah menahan malu karena kebodohannya yang membalas ciuman Eunwoo. Bahkan, Bin juga memberikan respon baik atas perilaku sialan Eunwoo.

Eunwoo mengecup sudut bibir Bin untuk terakhir kalinya. Sebelah tangannya mengelus permukaan pipi Bin lembut.

"Kau yakin jika aku tidak bisa memuaskanmu di atas ranjang?"

Hee?

Klik klik klik

Bunyi suara kamera pun menggema menyadarkan Eunwoo atas perilaku bodohnya di depan publik. Tapi, dalam hati Eunwoo merasa senang karena membuat Bin tunduk padanya.

"Aku masih ingin mendengar alasanmu"

Deg.

Jantung Bin berhenti sejenak saat suara berat Eunwoo menyapa gendang telinganya. Tidak lupa Eunwoo mengulum daun telinga Bin dan mengecup bibir Bin untuk perpisahan.

"Tunggu"

=3=

Setelah insiden malam itu. Banyak sekali rumor yang beredar jika "Sweet Couple kembali dengan ciuman panas yang menghiasi musim panas"

Terkadang Eunwoo ingin membunuh orang yang membuat artikel yang tidak-tidak. Apalagi jika judulnya yang nyeleneh. Benar-benar ingin rasanya Eunwoo bakar hidup-hidup orang yang menulisnya.

"Artikel mengatakan jika kalian balikan"

"Kami tidak balikan sama sekali"

Lagi. Setiap minggu gerombolan pria tampan nan kaya duduk di satu meja di salah satu restaurant ternama. Dengan banyak hidangan mewah yang disajikan. Mereka bersenang-senang.

Ya, enam pria tampan yang namanya sudah tidak asing lagi muncul di layar kaca dan juga layar lebar.

Cha Eunwoo sang pemilik agensi besar ternama di Seoul yang menghasilkan banyak aktor, artis, penyanyi bahkan boy grup yang mendunia.

Park Jinwoo sang produser yang mendonorkan banyak dolar ke banyak film dengan rating tinggi yang selalu sukses.

Kim Donghyuk sang penulis buku yang sudah tak terhitung jumlahnya dan sudah berapa banyak yang masuk layar lebar dengan jumlah penonton enam ratus ribu lebih di Minggu pertama.

Kim Daniel sang editor yang berhasil membuat film bertema action dan fantasi menjadi lebih nyata dan epic.

Dan terakhir Sanha dan Rocky sang artis dibawah asuhan Eunwoo. Yang membuat pemasukan pada agensi Eunwoo terus membludak. Bahkan, tiket konser mereka berdua pun habis di menit pertama. Jadwal mereka pun padat, sepadat jalanan di kota Seoul.

Dan terakhir. Hal yang paling menyebalkan yang pernah ada. Mereka berenam sering sekali bersatu menghasilkan beberapa film yang epic. Ditambah dengan sutradara Myungjun yang mengatur jalannya pembuatan film.

Benar-benar pertemanan yang menguntungkan satu sama lain.

"Jadi, kau tahu alasannya memutuskanmu?"

Eunwoo menggelengkan kepalanya lesu. Sejujurnya, Eunwoo masih mengharapkan Bin. Saat Bin mengatakan 'tunggu'. Eunwoo benar-benar menunggu Bin di parkiran gedung. Tapi, sialnya Eunwoo tidak pernah belajar dari pengalaman.

Bin selalu mengatakan tunggu. Tapi, Bin tidak pernah sama sekali menghampiri Eunwoo. Bahkan, untuk sekedar melambaikan tangannya saja tidak.

"Mungkin karena kau jelek" -Rocky.

"Pardon?"

"Atau karena kau miskin?" -Jinwoo.

"Sorry?"

"Jangan-jangan rumor tentang kau tidak memuaskan itu benar ya?"-Donghyuk

"Apa maksudmu, sialan?!"

"Mungkin karena appa sudah tua"-Sanha.

"Kau bercanda?"

Kelima pasang mata yang berada di lingkaran meja restaurant pun menatap Daniel yang diam tidak memberikan respon.

Hei, Daniel orang yang sangat cepat memberikan respon pada omongan orang lain. Bagaimana bisa Daniel malah diam. Itu suatu keanehan tingkat tinggi.

"Sekarang aku tahu. Terimakasih, Sanha-ya. Kau menyadarkan ku"

"Apa maksudmu, Kim Daniel?!"

Daniel memasang senyum malaikatnya yang membuat kelima pasang mata itu memutar bola mata mereka secara bersamaan.

"Kita sudah 27 tahun"

"Aku dan Sanha masih 26 tahun. Dan, kalian sudah 28 tahun. Yang masih 27 tahun itu hanya Seungwoo sunbaenim, dan Bin hyung. Di meja ini tidak ada yang berumur 27 tahun jika perlu kuingatkan sekali lagi, hyung. Berhenti mengaku jika kau berumur 27 tahun!"

Hening.

"Serious, dude. Kalian tidak ada yang sadar? Jinwoo sudah menikah, aku sudah menikah. Donghyuk bahkan selalu dijodohkan oleh orang tuanya"

Daniel mengabaikan omongan Rocky dan masih sibuk berasumsi yang langsung diterima dengan baik oleh kepala Eunwoo.

"Tidak mungkin karena hal itu"

Sanha dan Rocky hanya melongo bingung. Dalam kasus, mereka berdua yang berumur paling muda diantara yang lain pun hanya menyimak sambil menikmati makanan penutup.

"Karena apa? Apa masalahnya dengan aku yang selalu dijodohkan?"

"Eunwoo dan Bin sudah sepuluh tahun menjalin hubungan. Tapi, kau belum berniat untuk melamarnya. Bukan begitu daepyonim?"

Hee?

"Sudah kukatakan tidak mungkin karena hal itu"

"Apa kau berencana melamarnya tahun ini?"

"Hentikan omong kosongmu, Kim Daniel"

"Taruhan Bugatti Divo yang akan dipamerkan di California minggu depan. Deal?"

"Sejak kapan aku bertaruh untuk hal tidak berguna seperti itu?!"

"See? Aku tahu kau paham akan pemikiran sederhanaku Cha Eunwoo"

"Tidak, aku tidak mengerti maksudmu"

"Cepat atau lambat Moon Bin akan memikirkan hal itu. Hadapi kenyataan jika kau tidak mengikatnya sekarang kau akan mendapatkan undangan yang lebih spesial ketimbang undangan lelang Divo yang cantik itu"

Eunwoo menggertakkan giginya mendengar celotehan Daniel. Tidak ada satu orang pun yang ikut campur akan omongan Eunwoo dan Daniel seolah Daniel memang sengaja memblokir omongan orang lain termasuk omongan Eunwoo yang selalu dibungkam oleh Daniel.

"Aku tidak akan memintamu memberikan undangan Divo untukku. Tapi, aku memintamu untuk memberikan undangan pernikahanmu dengan Moon Bin secepatnya. Tolong kabulkan permintaanku yang satu itu"

"Aku pergi"

Daniel menghela napas saat salah satu teman baiknya pergi meninggalkan meja. Ia mengacak rambutnya kesal menghadapi tingkah Eunwoo yang pengecut.

Ayolah, sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Bahkan, seharusnya Eunwoo sudah bisa merasakan tinggal berdua dengan Bin dan melakukan kegiatan kecil bersama. Bukankah itu indah?

Daniel menatap Donghyuk penuh arti. Setelah kepergian Eunwoo. Meja nomor 13 itu pun menjadi gelap dan suram. Tidak ada satu orang pun yang berani bertanya tentang keadaan Eunwoo. Hanya saling tatap yang menyiratkan banyak hal.

Melihat suasana meja makan mereka yang dikelilingi kabut hitam. Mereka tahu jika Eunwoo sedang dalam kondisi yang sangat buruk. Dan sialnya, kondisi buruk Eunwoo selalu meninggalkan bekas bagi orang di sekitarnya.

"Aku tahu, dia tahu apa yang diinginkan Moon Bin. Aku juga tahu ia takut untuk melakukannya. Tapi, setelah insiden malam itu. Kurasa Eunwoo mampu untuk menjadikan Moon Bin menjadi miliknya"

=3=

Eunwoo menendang kaleng kosong yang tak sengaja ia temukan di jalan. Eunwoo tidak berniat untuk memasukkan kaleng itu pada tempat sampah. Eunwoo malah tertarik untuk menendangnya.

"Kira-kira mahluk yang bernama SinB itu datang jam berapa?"

Tuk.

Eunwoo menghentikan langkahnya dan menatap dompet berwarna hitam gelap berukuran sedang itu. Eunwoo diam sejenak sebelum ia menoleh. Eunwoo menampilkan senyum cerahnya.

"Hei"

Gotcha.

Orang yang menjatuhkan dompet tidak lain adalah Moon Bin. Orang yang menghantui setiap kegiatannya.

"Hei tayo hei tayo" Eunwoo memungut dompet Bin masih disertai dengan senyum memikatnya. "Dompetmu jatuh"

Bin menghampiri Eunwoo dan mengambil dompetnya. Dengan wajah datar yang masih terpasang, Bin membungkuk dan berbalik meninggalkan Eunwoo.

"Apa benar yang dikatakan Daniel? Tapi, aku masih takut untuk bertemu dengan orang tuamu"

Eunwoo menghela napas pelan dan melanjutkan perjalanannya dengan kaleng yang menemaninya.

=3=

"Konsep yang aku mau memang bertema musim panas. Tapi, tidakkah ini terlalu terbuka? Maksudku pakaian wanitanya"

SinB. Gadis yang ingin ditemui Eunwoo hanya untuk membahas konsep music video girl grupnya yang akan debut musim panas ini.

"Bagaimana jika gaun mini yang cantik namun sederhana? Kurasa akan cocok"

Eunwoo mengetuk-ngetuk dagunya berpikir sejenak sebelum mengiyakan omongan SinB. Melihat desain gaun mini sederhana yang digambar secara abstrak membuat Eunwoo yakin.

"Kenapa tidak rok tennis yang dipadukan dengan style sekolah anak-anak mu? Kurasa tema yang kau ambil tentang musim panas di sekolah. Iya kan?"

"Jika pada bagian dance-nya juga seperti itu bukankah terlihat monoton, sayang"

Hening.

Bin yang semula menaruh dagunya di bahu Eunwoo pun langsung berkedip polos dan duduk di kursi tepat sebelah Eunwoo.

Ada apa dengan panggilan sayang yang dilempar Eunwoo untuk Bin?

"Kalian benar-benar balikan?"

"Apanya yang balikan?" Merasa canggung, Eunwoo pun berniat meninggalkan meja beberapa saat namun, lagi-lagi Bin menghalanginya dengan cepat. "Kau baru datang kan? Duduklah, akan aku pesankan makanan kesukaanmu"

"Tidak perlu. Kau yang duduk saja. Aku bisa sendiri"

Melihat kedua pria tampan itu dalam kondisi yang ingin membunuh satu sama lain itu membuat SinB bangkit dari duduknya dan menengahi mereka.

"Aku akan pesankan makanan untuk kalian. Lebih baik kalian yang duduk. Oke, jja"

Tanpa mau mendengarkan omongan Eunwoo yang memprotes. Gadis muda itu langsung meninggalkan meja dan ikut mengantri.

Dan akhirnya, Eunwoo yang ditinggal bersama Bin. Niatnya untuk menghindari Bin pun musnah seketika.

"Kenapa kau di sini? Kurasa tadi kita berlawanan arah"

"Temanku mengajak bertemu di tempat ini. Aku tidak mengganggu acara kencan kalian kan?"

Eunwoo yang merapihkan berkas-berkas dan laptopnya pun seketika berhenti untuk sekedar menatap wajah datar Bin.

Bin sedang cemburu atau apa sih? Tapi, mereka berdua kan sudah tidak ada hubungan apapun. Masa iya Bin masih cemburu.

"Kau sangat mengganggu. Niatku setelah mengiyakan desainnya dengan cepat aku ingin pergi menonton dengannya. Dan, kau malah datang mengganggu"

Eunwoo memasukkan buku desain SinB dan peralatan gambarnya ke dalam tas.

"Kau akan pergi?"

"Seperti yang kau lihat. Aku sudah membereskan semuanya"

"Baguslah, kau langsung memberiku tempat kosong. Sekarang pergilah"

=3=

"Sudah ku katakan jika mereka berdua itu masih mengharapkan satu sama lain"

Donghyuk menghela napas mendengarnya omongan Daniel yang membuat kepalanya sakit.

Donghyuk tidak tahu kenapa sweet couple itu berpisah. Tapi, setelah mendengarnya dari Daniel. Sekarang Donghyuk malah memikirkan alasan kenapa Eunwoo takut untuk naik ke jenjang lebih serius.

Ayolah, apa kurangnya seorang Cha Eunwoo?

Tampan? Sudah pasti. Banyak gadis yang tunduk padanya. Tubuh yang proporsional pun dimiliki Eunwoo.

Uang? Ayolah, diantara mereka berenam. Hanya Eunwoo yang dapat undangan lelang Bugatti Divo yang artinya Eunwoo memiliki lebih dari 100milyar dollar amerika.

Dan parahnya. Eunwoo juga bucin dari Moon Bin. Eunwoo akan menuruti semua keinginan Bin. Eunwoo juga selalu bersikap baik pada Bin.

Jadi? Kenapa Eunwoo takut untuk melamar Bin?

"Dia bahkan seperti pangeran dalam negeri dongeng. Bukankah seharusnya ia memiliki kepercayaan diri yang tinggi?"

"Buggati Divo memang indah. Tapi, jika aku membelinya uang tabunganku akan tiris. Aku harus bekerja lebih keras supaya baby Ong tidak kerepotan"

"Ahhh~ aku juga ingin memiliki kekasih"

"Cari di lapak jodoh online"

Tawa renyah Daniel memenuhi ruang tamunya. Bahkan, stik playstation Daniel pun ia buang saat ia berhasil mengalahkan Donghyuk.

"Baby Ong lama sekali pulangnya. Aku bosan berduaan dengan jomblo macam kau!"

"Random topik sekali jika berbicara denganmu!"

=3=

7 bulan lebih 5 hari sudah Eunwoo lalui dengan Bin yang sering sekali muncul saat Eunwoo sedang berduaan dengan siapapun, kapanpun dan dimanapun.

Seolah kemunculan Bin itu menjadi dinding besar yang membatasi hubungan relasi Eunwoo.

Tukk.

Sudah hari ketiga Bin menjatuhkan barangnya di depan Eunwoo. Entah dompet, gantungan ponsel, bahkan ponselnya juga.

Eunwoo tidak mengerti akan maksud Bin. Apa Bin sedang mempermainkannya selama ini?

Kali ini. Eunwoo mengabaikan jaket Bin yang jatuh karena kecerobohan pemiliknya yang menaruh jaket itu di tali tas punggungnya.

Eunwoo mengambil ponselnya dan menelpon Daniel seolah ia tidak lihat jika Bin menjatuhkan jaketnya.

"Aku akan menemuimu"

Eunwoo tertawa kecil karena Daniel masih merengek meminta undangan lelang Buggati Divo itu. Tingkah kekanakan Daniel yang jarang diperlihatkan itu membuat Eunwoo melihatnya sebagai adik kecil yang melebihi Sanha.

"Bukankah kau tidak memintaku untuk memberimu undangan itu eoh?"

Eunwoo tidak peduli akan undangan pelelangan Buggati atau apapun itu. Ia malah mencemaskan undangan pernikahannya dengan Bin.

"Cha saekki pervert Eunwoo!!"

Langkah Eunwoo terhenti saat panggilan sayang yang terdengar konyol itu menyapa gendang telinganya. Ia sangat merindukan panggilan sayang itu.

Tunggu. Eunwoo sudah melakukan acara move on-nya barusan. Tolong jangan ingatkan tentang Moon Bin!

Eunwoo membalikkan tubuhnya dan mematung seketika saat Bin sudah berdiri tepat di depannya. Eunwoo mematikan panggilannya dengan Daniel dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.

"Cha saekki pervert Eunwoo!"

"Ahh. Ternyata aku salah dengar. Namaku itu Cha Eunwoo. Mungkin kau salah orang"

Plakk.

Eunwoo diam memegangi pipinya yang ditampar oleh Bin. Eunwoo berkedip polos saat melihat kedua manik mata Bin mulai mengeluarkan air matanya.

Yang ditampar Eunwoo kenapa malah Bin yang menangis?

"Sebenarnya, kau ini kenapa?"

Plakk.

"Anggap saja itu balasan karena kau seenaknya menciumku malam itu"

What the...

Itu sudah lima hari yang lalu. Walaupun artikelnya masih bersebaran seolah itu adalah scandal yang tidak ada matinya. Tapi, Eunwoo sudah melupakan itu semua.

Ya, Eunwoo melupakan itu semua dan malah mengingat ciuman pertama mereka saat kelulusan waktu itu.

"Aku pergi"

Eunwoo menatap punggung Bin yang meninggalkannya sekali lagi. Eunwoo masih berpikir antara mengejar Bin atau malah ikut berbalik.

Otak dan hati Eunwoo tidak sinkron. Logika mengatakan jika ia sudah dicampakkan oleh Bin. Tapi, hati mengatakan jika ia sudah berjuang sepuluh tahun mempertahankan hubungan mereka, bagaimana bisa kau membiarkannya meninggalkanmu.

/"Tapi, aku memintamu untuk memberikan undangan pernikahanmu dengan Moon Bin secepatnya. Tolong kabulkan permintaanku yang satu itu"/

Sekelebat ingatan akan ucapan Daniel waktu itu membuat Eunwoo tersadar.

Benar. Tidak hanya Daniel yang meminta undangan itu. Kerabat Eunwoo, keluarganya bahkan, banyak media yang memintanya.

Dan lagi, banyak orang yang ingin menjadi sponsor untuk acara pernikahannya dengan Bin.

Semua orang menantikan hal indah itu terjadi.

Bahkan, SinB desainer yang baru bekerja sama dengan Eunwoo pun turut mengatakan hal yang serupa. Ia bahkan membuatkan desain setelan dan gaun yang cantik. Ya, walaupun kemungkinan Bin mau menggunakan gaun itu hampir nol persen.

Grep.

"Mweol bwa?!"

Eunwoo menarik tangan Bin kasar masuk ke dalam gang kecil yang ada di dekat mereka. Tangan Eunwoo mendorong tubuh Bin bertemu dengan dinding gang.

"Lepas!"

Bin menepis tangan Eunwoo. Namun, bukannya terlepas dari genggaman Eunwoo. Bin. Malah makin dihimpit oleh tubuh Eunwoo.

Chuu~

Bin melongo bodoh saat Eunwoo mengecup bibirnya tiba-tiba. Tangan Eunwoo yang mencengkram pergelangan tangannya pun terlepas perlahan beralih mengelus pipi lembut Bin.

Lumatan kecil Eunwoo lancarkan saat tidak ada perlawanan sama sekali dari Bin.

Dan sekali lagi Bin malah menikmati dan membalas ciuman Eunwoo. Bin mengalungkan kedua tangannya di leher Eunwoo.

Seolah tidak merasa ada keanehan sama sekali. Bin juga menikmati tangan Eunwoo yang menelusup ke dalam kaosnya.

Demi apa. Bin benar-benar merindukan sensasi menggelitik yang diberikan Eunwoo saat menyentuh tubuhnya.

"Ahnnn~"

Bin mendesah tertahan saat tangan Eunwoo memelintir tonjolan kecil di dadanya. Respon Bin itu membuat Eunwoo dengan cepat memasukkan lidahnya ke dalam mulut Bin dan mengajak lidah Bin untuk sedikit melakukan pergulatan.

Platzz.

Kilat blitz dari sebuah kamera membuat Bin mendorong Eunwoo kasar. Bin tidak ingin ada artikel yang menulis perihal hubungan mereka dan mengatakan jika mereka masih mencintai satu sama lain.

Karena itu semua bohong!

"Berhentilah"

Bin mengernyitkan dahinya bingung. Ia menjatuhkan tas punggungnya yang berisikan laptop itu. Pundaknya pegal membawa laptop dan Eunwoo malah menahannya. Bukankah itu menyebalkan.

"Berhenti untuk apa? Seharusnya, aku yang mengatakan hal itu. Kau tahu? Hari ini aku sedang membawa laptop dan lembaran hasil desain-ku. Tapi, sialannya kau malah menahanku dan menciumku tanpa alasan!"

Bin menurunkan lengan Eunwoo yang memagari pergerakan Bin.

"Semenjak kita putus secara sepihak waktu itu" Eunwoo memutuskan kalimatnya dan mendekap tubuh Bin erat. "Aku tahu kau tidak bersungguh-sungguh mengatakannya. Aku juga tau kau selalu meminta perhatianku"

Bin diam seribu bahasa. Rasa hangat dekapan Eunwoo membuatnya mati rasa. Terlebih saat Eunwoo mengatakan jika selama ini Eunwoo masih memberikan perhatian kecil tentang kebodohan yang selama ini Bin perbuat.

"Maaf jika aku masih peduli padamu. Maaf jika aku selalu memperhatikanmu selama ini. Maaf karena aku membiarkanmu pergi"

Bin diam mendengarkan semua kalimat Eunwoo. Bin bahkan tidak peduli dengan mata kamera yang sempat beradu tatap dengan matanya.

"Aku sudah tidak punya hak kepemilikan atas dirimu. Jadi, maaf jika aku hanya mampu melihatmu dari kejauhan tanpa bisa memelukmu"

"Kau sedang memelukku saat ini"

Eunwoo tersenyum cerah. Ia melepaskan pelukannya dan menangkup wajah mungil Bin. Bahkan, Eunwoo berani untuk menempelkan dahinya pada dahi Bin.

"Karena aku sudah berani memelukmu. Bukankah itu artinya aku ingin memilikimu kembali?" Eunwoo mengecup bibir Bin cepat. "Ayo kita menikah"

"Ha?"

"Menikahlah denganku"

"Apa yang kau bicarakan?"

"Aku ingin kau menikah denganku"

"Kau gila?"

"Aku setengah gila saat tidak bisa memelukmu"

Bin mendorong kasar tubuh Eunwoo dan mengambil kembali tasnya yang sempat ia taruh di dekat kakinya.

"Aku akan membawakan ini" Eunwoo merampas tas Bin dan merangkul bahu Bin cepat. "Sebagai gantinya kau harus menikah denganku"

"Sangtae [weird] Eunwoo"

Bin tertawa kecil melihat tingkah Eunwoo yang seperti anak kecil sehabis pulang sekolah itu. Setelah Bin menepis tangan Eunwoo dari bahunya. Eunwoo malah melempar-lempar tas Bin seenaknya.

Tunggu. Tas Bin kan isinya laptop?!

"Yakkk. Itu ada laptopku, bodoh!"

"Masa bodoh dengan laptopmu. Yang penting aku menikah denganmu"

What the...

Tau kok Eunwoo tajir melintir. Tapi, Bin kan cuma desainer amatir yang cuma punya satu butik. Dan bagi Bin laptop itu adalah benda berharganya selainnya nyawanya.

Brakkk.

Bin melongo saat tasnya tak berhasil ditangkap Eunwoo. Bin menggeram menatap Eunwoo yang malah tertawa bodoh.

"Cha saekki pervert Eunwoo!"

=3=

"Jadi? Alasanmu meminta putus dengan appa waktu itu karena apa?"

Bin hampir saja mematahkan garpu yang ada di tangannya. Acara makan steak bersama Eunwoo cs langsung hancur ketika pertanyaan sialan itu keluar dari belah bibir Sanha.

Daniel yang sadar akan aura gelap yang mengelilingi Bin pun langsung mencari pengalihan pembicaraan sebelum Bin membunuh orang saat ini juga.

"Undangannya bagus. Apa benar kau yang mendesainnya, Binnie?"

"Begitulah, hyung" Bin mengambil sepucuk surat dari dalam tasnya. Warna coklat lembut dengan penutup khas bunga itu Bin berikan pada Daniel. "Eunwoo memintaku memberikan undangan ini untukmu juga. Dia bilang jangan membukanya di sini"

Daniel menatap Eunwoo yang sibuk memotong steak dengan kepala yang tertunduk. Karena penasaran, Daniel malah iseng membuka amplop berukuran sedang itu.

What the...

"Undangan buggati Divo?!"

Daniel berteriak histeris membuat seisi penghuni yang ada di dalam restaurant memperhatikannya dengan tatapan aneh dan risih menjadi satu.

Daniel dan Donghyuk langsung memeluk Eunwoo erat. Yang membuahkan hasil benjolan di kepala mereka.

"Kenapa kau ikut memelukku, Donghyuk sialan?!" Eunwoo merapihkan bajunya yang sempat ditarik-tarik oleh kedua pria yang mengaku sudah dewasa itu. "Padahal aku sudah bilang jika bukanya jangan sekarang!"

"Jadi? Kenapa kau tiba-tiba minta putus dari Eunwoo-hyung?"

Daniel dan Donghyuk menatap Rocky kaget. Setelah, mereka berdua berhasil membuat Bin menghilangkan aura seramnya. Rocky malah kembali memancingnya.

"Karena"

Jinwoo yang semula diam dan menikmati makanannya pun terbatuk kecil. Ia menatap Bin dengan rasa penasaran yang membuncah. Jinwoo yang berhasil mengabaikan Daniel yang mendapatkan undangan lelang buggati Divo demi makanannya. Sekarang malah rela menjeda acara makannya untuk mendengar alasan Bin yang masih menjadi misteri.

"Menurut kalian kenapa?"

"Abaikan saja mereka" Eunwoo membalas cepat. Tangannya masih sibuk dengan steak. Bahkan, kedua mata Eunwoo tidak menatap Bin.

"Eoh? Kau tidak penasaran?"

"Bukannya tidak penasaran. Aku hanya mengabaikannya"

"Nah kan, terjawab"

Haa?

Keempat pasang mata itu langsung memutar kedua bola matanya mereka secara bersamaan. Kedua maknae dalam meja tersebut menyesal menanyakan hal itu pada Bin. Benar-benar tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

"Maksudmu, aku mengabaikanmu?"

Bin mengangguk kecil mengiyakan. "Kau lebih memilih mengurus keperluan bisnismu daripada mengurusku yang sakit waktu itu. Dan, kau juga melupakan hari jadi kita saat itu. Kurasa otakmu mengingat kejadian itu dengan baik. Bukan begitu, daepyonim"

"Dan perlu kuingatkan jika Eunwoo takut menghadapi ayah angkatmu si Jung Yunho sang konglomerat kedua di Korea Selatan. Bahkan, saat bisnisnya sempat turun tujuh bulan yang lalu. Ia menangis di rumah Daniel dan mengatakan ia tidak pantas mendapatkanmu"-Donghyuk.

Eunwoo menatap Donghyuk tajam seolah dari tatapan matanya mampu mengiris tubuh Donghyuk kecil-kecil.

"Kau juga malah bertingkah miskin sejak SMA. Seharusnya kau pamer kekayaan seperti yang dilakukan Eunha sunbaenim. Bukan malah sok miskin, umma" -Sanha.

"Itu harta appa. Bukan milikku. Aku hanya seorang desainer amatir, tahu"

"Dari seluruh penghuni sekolah hanya Eunwoo hyung yang tahu jika appa-mu itu konglomerat. Pantas saja, sejak SMA dia yang paling berjuang untuk mengambil posisi pertama orang terkaya di Korea Selatan" -Rocky.

"Sejak SMA otaknya memang sudah encer"

"Kami bahkan baru tahu kau anak Jung Yunho saat kelulusan. Iya, saat ayahmu naik ke atas panggung dan memberikan sedikit pidato dengan label 'pemilik sekolah' yang tiba-tiba menyelipkan kata 'anak tercintaku, Moon Bin' di dalam pidatonya" -Jinwoo.

"Aku benar-benar membenci appa saat itu"

Bin menatap Eunwoo yang seolah tidak peduli dengan tanggapan Bin ataupun omongan temannya. Saat mengetahui hal kecil itu Bin langsung memeluk Eunwoo erat.

"Kau sudah berjuang keras. Sekarang, kau pantas mendapatkanku"

"Mendapatkanmu, benar-benar menguras keringat"

"Akan kupastikan keringatmu menetes di atas ranjang setiap malam"

What the...

"Ehm sorry guys ganggu sebentar ya"

Daniel menatap Eunwoo tajam. Sejak tadi ia diam karena memperhatikan kedua undangan yang ia terima. Dan, saat meneliti lebih dalam. Ia benar-benar menyesal memeluk Eunwoo tadi.

"Eunwoo-ya, tanggal pernikahanmu dengan lelang Divo ini hanya berbeda belasan jam saja?"

"Jika kau cepat, pasti kau bisa menghadiri keduanya. Bukan begitu Daniel-ssi?"

"Tidak salah Binnie memanggilmu saekki"

Tunggu, bukankah acara lelang buggati Divo itu minggu depan? Itu artinya kurang dari seminggu Eunwoo menyiapkan acara pernikahannya. Demi apa?!

"Orang kaya mah bebas. Nikah dadakan pun gak masalah" -Daniel.

I'm back with oneshot. Uri oneshot. Uri oneshot.

Yo mamen.

I just want attention

I don't want your heart

Maybe, I just hate the thought of you with someone new

Yeah, I just want attention,

You knew from the start

I just making sure that you never gettin' over me

Uuuu~

Hope you like it arohadeul