Sebelumnya Viz mau ngucapin

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1436H ^o^

MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN^^

MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN^^

OK, Viz datang dengan fict baru,

my first BL fict^^. Hope u enjoy it ^^

THE NANNY ; KAACHAN?

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

PAIRING : SASUNARU

GENRE : FAMILY/ ROMANCE

RATE : T

WARNING : BOY X BOY, my first BL fict,lil bit straight, Ide pasaran, TYPO(S), GAJE-ness, OOC-ness, DLL

.

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

HAPPY READING

.

.

Tubuhnya bergerak gelisah, tangannya yang sejak tadi terkepal sudah dibasahi oleh keringat. Sofa empuk yang diyakini berharga mahal itu pun tidak mampu memberinya kenyamanan. Gugup. Perasaan itulah yang kini sedang dialami olehnya.

Bahkan iris sapphire seindah langit siang di musim panas itu pun bergerak gelisah enggan membalas tatapan onyx yang sedang menatap intens kearahnya. Siapapun orangnya jika ditatap oleh sepasang onyx yang penuh daya intimidasi seperti itu pasti akan menciut nyalinya. Termasuk dirinya yang memang hanya seorang pemuda yang baru saja melepas masa remajanya.

Uzumaki Naruto, pemuda berusia 18 tahun itu baru saja lulus dari bangku SMA. Memiliki ciri-ciri berambut pirang jabrik, iris sapphire secerah langit dimusim panas dan kulit tan eksotis dengan sebuah tanda lahir dikedua pipinya berupa tiga garis halus yang menyerupai kumis kucing yang menambah kesan manis pada pemuda itu. Tingginya hanya sekitar 167 cm menjadikannya pria bertubuh mungil dibandingkan pria kebanyakan lainnya.

Pemuda yang saat ini mengenakan kemeja putih dan celana jeans hitam itu masih terlihat gugup karena harus duduk berhadapan dengan seorang pria dewasa dihadapannya.

Pria itu adalah Uchiha Sasuke, seorang Presdir di Uchiha corp. sebuah perusahaan besar yang bergerak dibidang teknologi dan memiliki pengaruh besar di Konoha. Pria yang baru beberapa bulan menggantikan posisi ayahnya Uchiha Fugaku namun sudah mampu mengembangkan perusahaannya dengan pesat dalam waktu singkat. Sungguh pria yang memiliki bakat didunia Bisnis.

Uchiha Sasuke, 25 tahun. Seorang duda dengan seorang puteri berusia 5 tahun bernama Uchiha Sarada. Hanya itu informasi yang diketahui Uzumaki Naruto tentang sosok raven dihadapannya. Sementara ciri fisik yang berupa rambut raven dengan gaya yang menurutnya unik itu¬ karena kalau boleh jujur Naruto lebih suka menyebutnya dengan pantat ayam¬ juga kulit putih seperti porselen, garis rahang yang tegas dan jangan lupakan sepasang kelereng onyx tajam yang sejak tadi terus menatapnya itu. Seolah mempertegas ketampanan maskulin yang dimiliki oleh seorang Uchiha. Belum lagi tubuhnya yang kekar, Naruto sangat yakin jika ia melihat lekukan otot pada kemeja hitam yang sangat pas ditubuh pria itu. Jangan lupakan tinggi badan pria itu yang mungkin mencapai 187 cm. Naruto bisa menebaknya karena setiap kali menatap pria itu ia harus selalu mendongakkan kepalanya dan berhubung memang dirinya yang juga pemuda bertubuh mungil.

Hanya dengan sekali lihat, Naruto yakin jika kesempurnaan fisik yang dimiliki pria itu adalah impian setiap para pria didunia ini. Dan tentu saja termasuk dirinya yang sedikit iri dengan ketampanan dan kesempurnaan fisik yang dimiliki pria bermarga Uchiha itu. Terlebih lagi dengan tinggi badan pria itu yang bisa dikatakan menjulang. Tidak bisakah pria itu membaginya 10cm saja agar dirinya bisa tinggi seperti kebanyakan pria lainnya? Pikirnya kesal saat mengetahui betapa tingginya pria yang mungkin akan menjadi bos-nya itu.

Bos? Ya. Dengan berbekal sebuah informasi dari koran yang didapatnya pagi tadi, ia membaca sebuah kolom lowongan pekerjaan. Di kolom itu tertulis dibutuhkan seorang baby sitter berpengalaman dengan gaji yang cukup menggiurkan karena besarnya gaji sama dengan gaji pokok para pegawai kantoran dari perusahaan besar. Naruto sadar jika dirinya memang bukanlah baby sitter berpengalaman. Terlebih lagi ia hanya seorang pemuda yang baru saja lulus dari SMA. Tapi ia sering membantu tetangganya¬ yang sudah ia anggap sebagai pamannya sendiri¬ Iruka yang merupakan seorang pengasuh ditempat penitipan anak untuk menemani anak-anak itu bermain. Dan ia harus menjaga anak-anak dalam jumlah yang cukup banyak itu. Jadi, sedikit banyaknya ia cukup tahu tentang anak-anak selain itu ia juga menyukai anak-anak. Dan anak-anak kecil yang berada ditempat penitipan anak juga menyukainya karena sifat pemuda itu yang ramah dan periang.

Dengan berbekal keberanian dan pengalamannya dengan anak-anak kecil dari tempat penitipan itu, ia pun datang ke apartemen mewah ini. Bertemu dengan pria yang duduk dihadapannya ini dan berharap ia mendapatkan kesempatan untuk bekerja itu.

" Nama?" suara baritone bernada tegas dan dingin itu keluar dari bibir si raven yang duduk dihadapannya.

" Uzumaki Naruto." Berusaha menghilangkan kegugupannya dari tatapan tajam pria dihadapannya, Naruto pun berhasil menjawab pertanyaan singkat itu dengan lancar. Meskipun ia masih sedikit gugup dengan tatapan yang terus dilayangkan kepadanya itu. Di tambah saat ini pria dihadapannya itu sedang menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Apakah ada yang salah dengan dirinya? Pikiran seperti itu lah yang yang hinggap dikepala pemuda 18 tahun itu saat ini.

" Jadi nona. Kau datang kesini untuk melamar pekerjaan yang ku pasang di koran itu?" Naruto tersentak dari lamunannya saat mendengar suara bariton yang menyapa telinganya. Mendongak menatap pria yang duduk dihadapannya dengan kernyitan didahinya. Sedikit menganggu telinganya saat mendengar panggilan dari pria itu kepadanya.

" Maaf Uchiha-san, jika boleh tau tadi Uchiha-san memanggil ku apa?" Naruto hanya ingin meyakini pendengarannya saja. Berusaha menahan untuk tidak mengeluarkan suara dengan nada yang menuntut.

" Dobe." Hanya satu kata itu saja yang keluar dari mulut Sasuke. Dan hal itu berhasil menghasilkan sebuah kedutan di dahi si blonde.

' Sabar Naruto,, kau harus mendapatkan pekerjaan itu.' Rapal pemuda itu dalam hatinya. Berusaha menahan amarahnya yang ingin meledak saat mendengar panggilan Sasuke untuknya. Sebuah senyum profesional pun ditampilkannya untuk meyakinkan duda beranak satu itu. Walau pada akhirnya yang ada hanya sebuah senyum canggung.

" Maaf Uchiha -san?" Masih dengan senyuman canggung itu Naruto kembali bertanya.

" Nona, Dobe."

' sabar Naruto.. Sabar.. Kalau saja aku tidak membutuhkan pekerjaan ini. Sudah ku jadikan ayam botak kau TEME!' Jerit Naruto dalam hatinya. Berusaha kembali meredam emosinya yang kembali tersulut saat mendengar dua panggilan itu.

" Ano.. Uchiha -san." Tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Naruto meminta perhatian Sasuke untuk mendengarkannya. Sasuke pun balas menatap Naruto dengan sebelah alisnya yang terangkat. Menunggu si blonde dihadapannya melanjutkan perkataannya.

" Etto.. Sebenarnya..." Tangan yang tadinya menggaruk tengkuknya beralih menggaruk pipinya yang dihiasi tiga garis halus seperti kumis kucing yang menambah kesan manis pada si blonde. Sapphire-nya bahkan sudah bergerak gelisah sedikit bingung untuk menjelaskan.

" Apa?" Uchiha Sasuke yang memang tidak memiliki kantong kesabaran yang tebal itupun mengeluarkan kembali suaranya dengan nada yang menuntut.

" Sebenarnya, aku ini laki-laki Uchiha -san." Jawab Naruto sambil menundukkan kepalanya saat mengucapkan kalimat terakhir. Onyx Sasuke dapat melihat semburat merah tipis dikedua pipi Naruto. Pemandangan yang cukup menyenangkan bagi si duda yang telah berhasil membuat pemuda manis dihadapannya tersipu.

" Kau laki-laki?" Tanya Sasuke yang dijawab sebuah anggukan pelan dari Naruto.

Onyx Sasuke menatap lekat Naruto. Mengobservasi si blonde dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rambut pirang jabrik, awalnya Sasuke kira ia gadis tomboy. Sepasang kelereng sapphire yang mengingatkannya pada langit cerah dimusim panas, sangat mempesona. Hidung kecil yang mancung. Jangan lupa bibir tipis berwarna merah, Sasuke yakin jika warna merah pada bibirnya itu alami dan bukan polesan lipstik ataupun lipbalm. Bagaimana rasanya bibir itu jika dikulum olehnya? Pikiran nista mulai menggelayuti Sasuke. Menggelengkan kepalanya samar saat pemikiran nista itu mencemari pikirannya. Bagaimana mungkin ia bisa bepikir untuk mencium bibir seorang pemuda manis yang ada dihadapannya? Dia pasti sudah gila pikirnya.

Onyx Sasuke kembali mengobservasi pemuda dihadapannya. Wajah manis dan lebih cenderung cantik. Sasuke tidak menyangka jika pemuda itu bisa lebih cantik dari setiap wanita yang pernah ditemuinya. Sepertinya ada yang salah dengan gender pemuda dihadapannya ini. Mana mungkin pemuda dihadapannya itu memilik wajah cantik seperti wanita? Sasuke benar-benar tidak habis pikir. Pandangan Sasuke pun turun menatap leher jenjang Naruto dan sekarang ia dapat melihat jakun pemuda manis itu yang naik turun karena harus menelan ludahnya sendiri. Sasuke tahu betul jika pemuda dihadapannya itu sedang gugup karena terus dipandanginya. Pandangan Sasuke terus turun menatap dada datar hingga kebawah perut pemuda itu. Dimana terdapat gundukkan kecil dibalik celana jeans hitam yang benar-benar memastikan makhluk manis dihadapannya itu adalah seorang pria.

" A-apa yang sedang anda lihat Uchiha-san?" reflex pemuda manis itu merapatkan pahanya berusaha menghalau pandangan Sasuke dari daerah pribadinya dengan wajah yang memerah karena ditatap intens oleh sepasang onyx tepat dibagian pribadinya.

" Hanya memastikan jika kau benar-benar seorang lelaki." Jawab Sasuke dengan wajah dan intonasi yang sama datarnya.

" Aku memang seorang laki-laki sejati Uchiha-san." Ujar Naruto menegakkan tubuhnya sambil membusungkan dadanya. Upaya Naruto untuk menunjukkan jati dirinya jika ia memanglah seorang pria jantan.

Mendegus pelan, sepasang onyx Sasuke kembali menatap sepasang sapphire dihadapannya dengan tatapan serius.

" Kau yakin, tidak salah melamar pekerjaan sebagai baby sitter?" sebuah pertanyaan yang lebih menyerupai pernyataan itu hanya dijawab oleh sebuah gelengan kepala dari pihak yang ditanya.

" Apa kau sudah berpengalaman? Karena setahu ku, aku mencari babysitter yang berpengalaman."

" Saya sudah sering membantu paman saya di tempat penitipan anak Uchiha-san." berusaha jujur dengan pengalamannya saat membantu sang tetangga yang ia anggap paman itu ditempat penitipan anak. Dan Naruto pikir itu sudah cukup bagi dirinya untuk memahami setiap karakter anak dan itu ia anggap sebagai pengalamannya mengasuh anak. Ingin meragukan penuturan pemuda manis dihadapannya namun ia urungkan saat menatap sepasang sapphire yang berkilat penuh keyakinan itu.

" Tapi, kau juga tahu kan? Jika aku tidak menerima pekerja paruh waktu."

" Maksud anda Uchiha-san?" Tanya Naruto yang tidak mengerti dengan pertanyaan dari pria dihadapannya itu.

" Aku tidak bisa menerima seorang siswa karena pekerjaan ini membutuhkan jam penuh." Jelas Sasuke menatap pemuda manis dihadapannya yang dikira masih berstatus siswa itu.

" Anda tidak perlu mengkhawatirkan hal itu Uchiha-san. Karena saya sudah lulus dari tempat saya besekolah dan saya bisa bekerja dengan jam penuh." Senyuman menghiasi wajah pemuda itu saat meluruskan kesalah pahaman Sasuke yang mengira dirinya masih berstatus seorang siswa. Untuk sejenak Sasuke sempat tertegun mendengar jawaban dari pemuda blonde dihadapannya. Menatap kembali wajah manis pemuda itu. Benarkah pemuda itu sudah lulus? Sepertinya Sasuke sudah tertipu dengan penampilan pemuda itu. Ia pikir pemuda manis dihadapannya ini masih bersekolah karena pemuda itu terlihat masih sangat muda.

Menelisik kembali wajah pemuda itu mencoba mencari setitik kebohongan, namun tatapan sepasang sapphire itu penuh dengan keyakinan dan kejujuran. Membuat Sasuke kembali menelan semua pemikiran negative tentang pemuda manis itu

" Apa Lulusan mu?"

" SMA, Uchiha –san."

" Kenapa kau tidak melanjutkan kuliahmu?" sesi Tanya jawab itu pun terus berlanjut.

" Karena itulah saya melamar pekerjaan ini. Selain karena gaji yang cukup besar untuk seorang babysitter saya juga membutuhkan pekerjaan ini agar bisa melanjutkan kuliah saya tahun depan." Hening menyergap setelah Naruto menjelaskan alasannya yang lebih memilih melamar pekerjaan dibandingkan melanjutkan kuliahnya. Dua pria itupun terlarut dalam pikirannya masing-masing.

Naruto masih terdiam sambil menundukkan kepalanya. Menatap kosong lantai marmer dibawahnya. Sementara Sasuke masih menatap pemuda dihadapannya dalam diam. Menelisik setiap perubahan ekspresi pada wajah manis pemuda dihadapannya .

" TOUCHAN!" sebuah teriakkan khas anak kecil membuyarkan pikiran kedua pria itu. Kedua pria itu pun reflex menoleh kearah suara dari seorang anak perempuan yang sedang berlari kearah mereka. Anak perempuan berusia sekitar 5 tahunan dengan ciri-ciri fisik berambut raven panjang sebahu dengan sepasang onyx yang bersembunyi dibalik sebuah kacamata berframe merah. Kulit putih porselen seperti Sasuke. Naruto yakin jika gadis kecil itu adalah putri dari Sasuke melalui panggilan gadis kecil itu terhadap Sasuke dan ciri fisik yang menyerupai pria berusia 25 tahun itu. Naruto juga bisa melihat sendiri bagaimana gadis kecil itu langsung menghamburkan pelukan kearah Sasuke.

Naruto hanya mampu tulus saat melihat interaksi ayah dan anak itu yang menurutnya sangat harmonis dan hangat. Bahkan pria yang sejak tadi memasang wajah datar tanpa ekspresi itupun kini tengah tersenyum kearah gadis kecil dengan senyuman khas seorang ayah. Naruto sempat berpikir jika ia sedang melihat pria yang berbeda dari sebelumnya. Benarkah pria dihadapannya ini adalah pria yang sejak tadi memasang wajah datar dihadapannya? Pria tanpa ekspresi yang terus mengintimidasi dirinya melalui tatapan? Seperti itulah pertanyaan yang terus berkelebat di kepala si blonde saat ini.

" Sara-chan,, berapa kali Baachan bilang untuk tidak berlari didalam rumah sayang." Sebuah suara lembut mencuri perhatian dari ketiga orang yang sibuk dengan kegiatannya masing. Sasuke dan gadis kecilnya yang sedang bercengkerama dan Naruto yang hanya diam sebagai penonton.

Ketiga orang itupun menoleh kearah sumber suara. Iris sapphire Naruto dapat menangkap sesosok wanita paruh baya yang tengah berjalan kearah mereka bertiga dari arah belakang Naruto. Seorang wanita yang ia yakini sebagai ibu dari Uchiha Sasuke dilihat dari ciri-cirinya saja sudah membuktikannya. Surai raven, kulit putih dan iris onyx adalah ciri khas para Uchiha diruangan ini yang Naruto tahu.

Sapphire Naruto dan onyx wanita paruh baya itu sempat bertemu sejenak. Naruto juga sempat melihat wanita paruh baya itu terkejut sejenak sebelum memasang senyum lembutnya untuk Naruto dan kembali menatap Sasuke sambil terus berjalan kearah putranya.

" Gomen Sasuke-kun, Kaasan tidak tahu jika kau sedang menerima tamu." Ujar ibu Sasuke setelah mendudukkan dirinya disamping putranya. Kemudian menatap Naruto dengan senyuman lembut diwajah cantiknya meskipun wanita itu sudah berusia separuh abad.

" Hn." Hanya sebuah gumaman yang didapatkan wanita paruh baya itu dari putra bungsunya. Menghela napas pelan, wanita paruh baya yang bernama Uchiha Mikoto itu sudah terbiasa mendapatkan jawaban seperti itu dari suami ataupun anak-anaknya. Para Pria Uchiha dikeluarganya memang seperti itu minim ekspresi dan irit bicara.

Sementara Naruto yang sejak tadi menjadi pengamat keharmonisan keluarga itu. Hanya menggelengkan kepalanya samar saat mendengar jawaban dari si bungsu Uchiha kepada ibunya itu. Sungguh anak yang tidak sopan, pikirnya.

" Kau tidak ingin mengenalkan tamu secantik dirinya pada Kaasan Suke? Apakah dia kekasihmu?" Tanya sang nyonya Uchiha itu dengan nada yang terdengar antusias. Sepasang kelereng onyx-nya menatap intens Naruto dengan tatapan berbinar. Sebentar lagi ia akan memiliki menantu pikirnya.

Sementara Naruto yang ditatap seperti itu hanya mampu memasang senyum canggung dengan wajah yang memerah. Hampir saja ia tersedak ludahnya sendiri saat mendengar pertanyaan sang nyonya Uchiha itu. Apa katanya?! Kekasih? Yang benar saja, apakah nyonya Uchiha itu ingin puteranya menjadi seorang gay? Tidak kah ia tahu kalau Naruto itu laki-laki?

Ditambah lagi ia harus mendengar kata cantik yang ditujukan kepadanya itu. Entah ia harus bangga atau tidak karena dikatakan cantik dari orang yang baru saja ditemuinya. Bagaimanapun Naruto itu seorang pria dan kau pikir ada pria yang bangga jika dikatakan cantik. Sebagai pria ia tentu lebih suka di katakan tampan dibandingkan cantik. Tapi ia bisa berbuat apa? Mau marah pun tidak bisa karena jika ia melakukannya ia akan kehilangan kesempatan untuk bekerja dengan gaji besar. Tak apalah ia membiarkan kedua Uchiha itu mengira dirinya seorang wanita. Karena mereka memang belum mengenal dirinya dan baru bertemu kali ini. Siapapun yang baru bertemu dengan dirinya pasti akan mengira dirinya perempuan. Selain karena wajah manisnya¬ yang dengan sangat terpaksa ia akui itu¬ juga karena tubuhnya yang terbilang mungil untuk ukuran kebanyakan pria lainnya. Membuatnya semakin terlihat seperti wanita.

Sapphire Naruto sempat bertubrukan dengan onyx Sasuke yang sejak tadi terus menatapnya. Naruto yakin jika ia melihat sebuah seringai diwajah tampan pria yang berstatus ayah seorang puteri itu. Dan entah kenapa, bagi Naruto seringai pria tampan itu terlihat sangat menyebalkan dimatanya.

" Kau lihat Dobe, sepertinya bukan hanya diriku saja yang mengira jika kau perempuan." Masih dengan seringai diwajahnya, Sasuke berujar dan berhasil membuat wajah pemuda manis dihadapannya semakin memerah entah karena malu atau marah.

Sementara Mikoto yang duduk disampingnya langsung menoleh kearah putera bungsunya. Menatap si bungsu Uchiha itu dengan tatapan menuntut jawaban. Sasuke yang mengerti arti tatapan ibunya itu pun mulai kembali mengeluarkan suaranya.

" Dia itu pria Kaasan, dan dia bukan kekasihku. Dia hanya seseorang yang sedang melamar pekerjaan untuk menjadi pengasuh..."

" Touchan.." Belum sempat Sasuke melanjutkan kalimatnya. Sang puteri yang sejak tadi duduk dipangkuannya bersuara memanggil dirinya.

Menundukkan kepalanya untuk menatap puteri semata wayangnya. Namun yang ditangkap oleh onyx sang ayah, puterinya yang tak membalas tatapannya dan masih menatap lurus kedepan. Dimana seorang pemuda manis duduk dan membalas tatapan intens puterinya dengan canggung.

" Ada apa Sara-chan?" Tanya Sasuke dengan nada lembut khas seorang ayah. Nada yang hanya diperuntukkan bagi keluarganya saja. Sang puteri yang dipanggil pun mendongak menatap sang ayah dengan onyx yang serupa dengan ayahnya yang bersembunyi dibalik kacamata berframe merah. Entah hanya perasaannya saja atau Sasuke memang melihat onyx sang puteri yang berbinar senang. Sasuke juga melihat sebuah senyuman diwajah cantik gadis kecilnya itu dan mampu membuat dirinya mengernyit bingung.

" Apakah Kakak yang cantik itu kaachan untuk Sara?"

" EHH?"

.

.

.

TBC or END

.

.

.

HOLLA Minna-san ^^

Apa kabar kalian selama sebulan ini?

Viz datang dengan fict baru dan ini beneran fict BL pertama Viz,

Selama ini Viz Cuma reader fict BL dan ga punya nyali buat bikin fict BL,, tapi setelah ngumpulin keberanian, akhirnya Viz coba buat bikin fict BL.. dan…

Voila,, jadilah fict Gaje ini,

Gimana menurut readers sekalian?

Kalau masih banyak kekurangan tolong jangan sungkan buat kasih tau Viz di kolom review ataupun PM,. Karena saran dan kritik dari kalian sangat berharga buat VIz^^

Dan buat readers yg nunggu kelanjutan fict BE BRAVE harap bersabar karena masih dalam proses pembuatan dan baru selesai sekitar 90%. Mungkin beberapa hari ke depan baru bisa di update (~.^)

Oh ya,, Viz kasih spoilernya juga lho buat next chapter! Dan akan di lanjut jika mendapat respon positif dari readers tercintahh.. :-*

Semoga kalian suka ^o^

#spoiler

" Tolong awasi anak itu selama aku pergi."

" Anda sudah pulang? Aku sudah menyiapkan makan malam untuk anda dan Sara-chan."

" Kaachan mau kemana?"

" Maaf Sara-chan tapi Naru-nii juga punya rumah yang harus Naru-nii urus."

" POKOKNYA KAACHAN TIDAK BOLEH PERGI!"

" Tinggalah disini!"

See you next chap (~.^)

#WeDoCareAboutSN

MIND TO REVIEW ;)