Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuNaru
Warn: Yaoi, kejadian di cerita tidak berhubungan dengan sejarah
Sub-theme : Theatre in 1950s
Cerita ini hanyalah untuk kesenangan belaka, tidak dibuat untuk kebutuhan materiil
Sasuke berjalan dengan pikiran yang kalut, tindakannya semalam benar-benar diluar kendali. Rasa bersalah terbit di hati Sasuke, dia seharusnya pergi dari dulu dari sisi Naruto sebelum terlambat. Kini apapun yang dia lakukan hasilnya akan tetap melukai Naruto.
Sibuk dengan pikirannya sendiri membuat Sasuke tidak memperhatikan sekitar, beberapa kali dia menabrak pejalan kaki yang sedang tergesa menuju tampat kerja. Langkah Sasuke berhenti saat menabrak seorang pria yang berkemeja khaki biru di depannya. Tanpa melihat Sasuke hanya mengangguk dan mengucap maaf dengan lirih, namun suara yang menyusul kemudian membuat bulu kuduk Sasuke berdiri.
"Sasuke" Sasuke langsung mengangkat kepalanya dan menatap Sai yang balas menatapnya terkejut.
"Sai.."
Tanpa kata Sai berbalik pergi meninggal Sasuke masih tidak bergerak. Melihat Sai yang hampir menghilang, Sasuke melangkahkan kakinya mengejar.
Sesampainya di perempatan, dia sekilas melihat kemeja biru Sai yang dan segera diikutinya. Belum sempat berbelok, Sasuke kembali berhenti, dia sedang melihat Sai yang berbicara dengan seorang pria.
Kaca samping mobil VW hitam itu hanya dibuka sedikit, tapi Sasuke mengenali orang yang berbicara dengan Sai sebagai Orochimaru. Sasuke tidak mungkin salah, dia pernah melihatnya sekali sebelum Sasuke meninggalkan Jepang.
Keberadaan Orochimaru, membuat Sasuke waspada. Dia mengingat pembicaraannya dengan rekannya.
Berbekal insting dan latihan, Sasuke membaur dengan orang yang lalu lalang, mendekat tanpa disadari oleh kedua orang itu. Menyusup adalah keahlian Sasuke, dia telah dilatih sejak berumur 13 tahun hanya agar menjadi mata-mata terbaik.
"..semua sudah siap, seminggu lagi akan dilaksanakan"
Sasuke hanya mendengar sepotong kalimat, itu tidak cukup untuk memberikan Sasuke gambaran dari ini percakapan mereka, tapi dia tahu sesuatu yang buruk akan terjadi. Dia melihat mobil Orochimaru pergi, tanpa Sai.
Naluri Sasuke mengambil alih, dia terus mengikuti Sai. Ia harus tahu apa yang akan terjadi.
Telah enam hari Sasuke tidak kembali. Hal ini membuat Naruto cemas dan takut. Bukan pertama kali Sasuke pergi dan menghilang selama beberapa hari atau bulan, namun dulu Naruto tahu, Sasuke akan selalu kembali padanya. Tapi setelah kejadian itu, Naruto tidak yakin Sasuke akan kembali.
Naruto baru saja pulang dari bekerja dan latihan. Pementasan yang akan berlangsung dua hari lagi, membuat sutradara memeperpanjang masa latihan hingga lewat tengah malam. Ditambah tugas Naruto untuk membersihkan gedung membuatnya lebih larut untuk pulang. Baru menjelang jam dua malam Naruto dapat berjalan kembali ke rumah.
Sepanjang jalan, Naruto beberapa kali masih dapat mendengar suara nyanyian di dalam club ataupun bar, namun suara penyanyinya telah meredup terengkuh dini hari.
Perhatian Naruto tersita oleh sosok yang dia kenali. Dia melihat Sakura yang sedang bersama seorang pria yang menggunakan mentel hingga yang sebagian wajahnya. Sepertinya mereka baru keluar dari sebuah hotel bersama, tidak ingin terlihat dan membuat Sakura malu, Naruto menyembunyikan dirinya di celah gang sempit antara toko bunga yang telah tutup dan sebuah toko roti.
Naruto dapat mendengar suara langkah yang semakin mendekat, dia mencoba membaur dengan kegelapan agar tidak terlihat.
"Sasuke, kau yakin dengan ucapanmu?" sepertinya orang yang Naruto anggap sebagai kekasih Sakura itu bernama Sasuke.
"Hn" jawaban itu menyentak Naruto, dia mengenali suara laki-laki itu.
Saat kedua orang itu melewati Naruto, dengan gemetar dia melihat kearah jalan, berharap dugaannya adalah salah. Namun ketika melihat wajah putih itu dari samping, Naruto yakin yang sedang bersama Sakura itu Zhang. Dan hatinya bagai teremas saat Sakura mencium Zhang sebelum masuk kedalam mobil dan pergi.
Akhirnya dia tahu kemana Zhang pergi, namun hal ini tidak membuatnya merasa lebih baik.
Naruto berjalan tanpa tentu arah dan baru kembali ke kamarnya menjelang fajar. Saat mencapai kamar, dia melihat Zhang disana. Dia sedang duduk diranjang dengan tas besar dikaki, sepertinya Zhang akan pergi meninggalkannya.
"Kau dari mana saja? Kenapa baru pulang?" bangkit berdiri dan berjalan kearah Naruto.
"Bukan urusanmu!" Sasuke dapat mendengar nada marah di suara Naruto, dia berfikir Naruto marah karena dia yang menghilang beberapa hari.
"Itu tidak penting sekarang, bawa tas ini dan keluarlah dari New York hari ini juga. Aku telah memasukkan semua yang kau butuhkan selama beberapa hari. Jangan pernah kembali kesini sebelum aku suruh." Sasuke menyerahkan tas berisi baju kepada Neruto. Naruto bingung dengan tingkah pria di depannya.
"Dan bawa ini, aku rasa ini akan cukup."
Zhang menyodorkan amplop tebal kepada Naruto, dia melihat ke dalam amplop yang ternyata berisi uang pecahan 100 dolar, paling tidak ada 10.000 dolar di dalamnya. Dari mana pria mendapat uang sebanyak ini?.
"Apa ini?"
"Bawalah, kau akan membutuhkannya. Sekarang bergegaslah dan pergi dari kota ini sekarang" hati Naruto remuk, apa dia sedang mengusirnya sekarang?. Apakah Zhang tidak ingin melihat Naruto lagi? Atau dia tidak ingin kekasih barunya tahu bahwa dia telah tidur dan tinggal dengan pria? Tiba-tiba amarah Naruto tersulut.
"Aku tidak butuh kau usir, aku akan pergi sendiri!." Naruto menarik tasnya dari Sasuke. Rasa sakit dan kecewa melanda hati Naruto, susah payah dia menahan air mata yang siap tertumpah.
"Dan bawa ini bersamamu, aku tidak butuh!" Naruto melempar uang itu ke muka Sasuke. Dia sudah tidak tahan lagi dengan penghinaan yang sasuke barikan padanya.
"Jangan bersikap bodoh, kau akan membutuhkannya saat kau tiba di kota baru nanti." Sasuke mulai merasa tidak sabar, dia perlu segera membuat Naruto pergi dari kota ini.
"Siapa bilang aku akan pergi dari sini Zhang. Aku hanya akan pergi dari kamar ini, tapi tidak dari kota ini. Aku harap kita tidak berjumpa lagi Zhang, oh atau harus ku panggil Sasuke?"
Naruto yang hampir mencapai pintu ditarik paksa oleh Sasuke, cengkraman di kedua lengan Narruto terasa menyakitkan.
"Dari mana kau mendengar nama itu? Dari mana? Jawab!" mendengar namanya diucapkan oleh Naruto menyisipkan rasa takut pada Sasuke.
"Apa hanya kekasihmu yang kau perbolehkan memanggilmu seperti itu? Ku kira waktu tiga tahun yang kita lewati memberiku hak yang sama, namun sepertinya tidak. Jadi lepaskan aku!" Naruto melepas paksa dirinya dari kukungan Sasuke. Namun baru saja Naruto membuka pintu rasa menyengat di tengkuknya membuat pandangan Naruto menggelap.
Sebelum Naruto menyentuh lantai Sasuke menangkapnya, dia sedikit merasa bersalah menyakiti Naruto. Namun kekeras-kepalaan Naruto membuat dia terpaksa melakukannya.
Dari lantai atas, sesosok pria turun ke basemant, pria bertubuh besar itu tidak tampak terkejut melihat Naruto tidak sadarkan diri. Jugo, sang pemilik bar hanya menaikkan alisnya melihat Sasuke yang telah membopong Naruto.
"Bawa dia keluar dari sini secepatnya".
Sang pemilik bar itu degan patuh mengambil Naruto dari Sasuke, tidak ada pertanyaan kenapa dia harus menuruti seseorang yang menyewa basemant-nya. Waktu dia akan berbalik meninggalkan Sasuke, Sasuke menghentikannya.
"Jugo, dia.. Naruto.. dia.."
"Aku mengerti, akan kupastikan dia aman".
Mendapat janji Jugo, baru kemudian Sasuke membiarkan Jugo pergi membawa Naruto.
Naruto tersadar karena guncangan di tubuhnya, saat dia membuka mata. Dia menyadari dirinya telah ada di bagian belakang mobil yang sedang melaju. Dengan susah payah ia membuka mata dia, begitu pandanganya dapat menangkap gambar dengan jelas, ia dapat melihat kabel dan tiang penyanga jembatan. Seketika dia tahu dirinya sedang melintasi Jembatan Brooklyn.
Naruto mengalihkan pandangannya pada pengemudi, ternyata yang membawanya adalah induk semangnya, Jugo.
Naruto bangkit dan mengerang saat rasa sakit mendera tengkuknya.
"Jugo? Kemana kita kan pergi?" Naruto bingung kenapa dia ada di mobil bersama Jugo? Kemana Zhang? Atau Sasuke? Entahah nama itu terasa asing bagi Naruto. Kemudian dia Ingat ucapan Sasuke yang menyuruhnya meninggalkan kota.
"Aku akan membawamu menjauh dari New York untuk sementara waktu." Tanpa menoleh Jugo memberikan alasan pada Naruto.
"Kenapa?" Neruto berfikir apa Sasuke begitu menginginkan dia untuk menghilang sampai menyuruh Jugo membawanya pergi dengan paksa.
"Untuk kali ini turutilah permintaan Sasuke, Naruto".
"Kau bahkan memanggilnya Sasuke?" Naruto merasa tidak mengenal orang yang telah tinggal dengannya selama tiga tahun ini.
Tidak mendapat balasan membuat Naruto geram.
"Berengsek!! Apa orang itu begitu tidak inginnya aku disini?! Hentikan mobilnya!" Naruto tidak terima diusir dan dijauhkan dari impiannya. Jika dia akan kehilangan Sasuke, maka dia tidak mau kehilangan impian juga.
Seruan Naruto tidak dihiraukan, memaksa Naruto mencondongkan tubuhnya ke arah pengemudi untuk memaksanya berhenti.
"Hentikan Naruto!" Jugo mencoba melepas tangan Naruto yang kini ikut menggerakkan kemudi.
"Berhenti kataku!".
"Kau harus pergi, Sasuke dia..".
"Aku tidak perduli dengan Sasuke atau siapapun dia, cepat hentikan mobil ini!" mobil itu meliuk-liuk karena pergumulan mereka.
"Sasuke hanya ingin kau aman Naruto, dia tidak mau kehilangan lagi!" perkataan Jugo menghentikan aksi Naruto.
"Apa maksud.." perkataan Naruto tidak selesai begitu dia melihat mobil merah yang mendekat ke arah mobil yang mereka tumpangi.
Benturanpun terjadi. Memaksa ke kedua kendaarannya terpental dan berhenti paksa saat membentur pagar jembatan.
Sasuke mengedarkan pandangan, matanya awas melihat sekeliling. Gedung teater mulai dipenuhi para penonton. Malam ini adalah pertunjukan perdana, dan tiket telah terjual habis.
Penonton datang dari berbagai kalangan, namun fokus utama hari ini adalah sang Jendral yang datang beserta keluarganya. Sekilas benci mengaburkan mata Sasuke, mengingat dari komando orang inilah dia kehilangan keluarganya. Namun bukan orang ini yang dia cari hari ini.
Sasuke melihat sosok yang dia tunggu malam ini melesat menuju belakang panggung. Dari jarak aman Sasuke dapat melihat Sai yang mengenakan jas hitam membaur tanpa di sadari orang lain.
Seminggu ini Sasuke mengikuti Sai, dia tahu jika Sai merencanakan sesuatu dengan Orochimaru, dan itu berhubungan dengan acara pementasan ini. Dia hanya bisa lega karena satu-satunya orang yang dia perdulikan jauh dari bahaya yang mengintai.
Mendengar korban-korban yang ditinggalkan Orochimaru mati dengan darah yang keluar dari hidung, mata dan telinga korban, benar dugaan Sasuke jika yang dibuat oleh Orochimaru adalah senjata biologis.
Dari penelusuran yang dilakukannya, diketahui bahwa jenis virus telah dikembangkan oleh Orochimaru selama tujuh tahun ini. Virus itu memiiki kecepatan penyebarannya sangat mengerikan, dan tingkat kematiannya sebesar 80%. Efek virus akan terasa satu hingga dua jam setelah terpapar, akibatnya korban akan mati bersimbah darah. Satu-satunya kelemahan virus ini yaitu akan mati sendiri tiga hari setelah menyerang inang. Menjadikanya senjata sempurna untuk melenyapkan sebuah kota tanpa harus memusnahkan seluruh manusia di bumi.
Selama ini Sasuke membuntuti Sai untuk menemukan Orochimaru, namun mereka tidak pernah bertemu lagi. Satu-satunya info yang dia dapat adalah Orochimaru akan melaksanakan aksinya malam ini, ditengah ratusan orang dari segala penjuru dan juga sang Jendral.
Sasuke memaksa Jugo membawa Naruto menjauh dari sini karena jika sekali lagi dia gagal, dia ingin Naruto aman.
Sasuke kehilangan jejak Sai, dia mencari kesekeliling tanpa hasil. Seseorang tangan menarik Sasuke kesebuah ruangan yang ternyata gudang kostum.
"Kenapa kau mengikutiku Sasuke?" sebuah belati menempel erat di pembuluh darah leher Sasuke, membuat Sasuke tidak bisa bergerak gegabah jika tidak ingin mati kehabisan darah.
"Dimana Orochimaru?"
"Jangan ikut campur Sasuke". Sai semakin menekan belatinya keleher Sasuke, rasa perih menandakan lehernya telah tergores.
"Banyak nyawa yang akan mati Sai." Sasuke menatap orang yang telah dia anggap keluarga. Berusaha menyadarkannya jika benar dugaan Sasuke, maka rekannya ini akan melakukan pembuhuhan masal.
"Banyak nyawa yang telah mati Sasuke, mereka juga harus merasakan bagaimana rasanya melihat kota yang menjadi kuburan dalam semalam". Kobar kebencian telah menghiasi mata Sai. Kebencian itu begitu dalam hingga dapat menarik serta Sasuke.
"Aku tahu kaupun memiliki keinginan yang sama dengan ku Sasuke. Aku melihat dendam yang kurasakan terpantul dipandanganmu juga." Senyum palsu Sai terkembang. Menyembunyikan perasaan kelam yang telah mengkikis habis jiwa Sai.
"Ya, aku membenci mereka, namun aku lebih benci lagi jika perang yang sama terulang kembali"
Mendengar perkataan Sasuke membuat pertahanan Sai sedikit longgar. Sasuke meanfaatkannya untuk mencengram tangan Sai dan menjaukannya dari leher Sasuke. Sasuke mengantamkan tangan Sai kedinding hingga pisau yang dipegang terlepas.
Mereka telah mengambil posisi siap bertarung saat pintu terbuka dengan suara berdentum keras.
"Apa yang kalian lakukan disini?" salah satu staf pertunjukan mengintrupsi pertemuan mereka.
Memanfaatkan momen itu, Sai menyelinap pergi. Sasuke kesulitan menyusulnya saat seorang yang membuka pintu menghalangi jalannya. Ketika Sasuke berhasil keluar gudang, dia telah kehilangan jejaknya.
Sasuke terus mencari hingga sebuah suara menghentikan langkah Sasuke.
"Maafkan aku Sutradara, tolong biarkan aku tetap bermain".
Suara yang begitu Sasuke kenal ini membuatnya bergetar, dari celah pintu ruang ganti dia melihat rambut pirang milik seorang pria yang seharusnya tidak ada disini malam ini.
"Jika kau sampai mengecewakanku lagi Naruto, aku jamin aku sendiri yang membuatmu menghilang. Dan jangan harap kau bisa menyebut nama teater lagi. Jadi apa lagi yang kau tunggu? Cepat pakai kostummu!" Bentakan itu membuat Naruto bergegas pergi.
"Apa yang kau lakukan, Dobe," lirih Sasuke.
Rasa khawatir membuat amarahnya timbul pada Naruto.
Sasuke masuk ruang ganti yang tengah ricuh sebelum pertunjukan. Dibuntutinya Naruto yang masuk ke sebuah bilik sempit tempat ganti baju.
"Apa yang kau lakukan disini?" suara Sasuke mengejutkan Naruto walau hanya sesaat.
"Melakukan pementasan perdanaku tentu saja." kini Naruto memandang Sasuke dengan yakin, ada sesuatu yang berubah dari sikap Naruto.
"Tapi kau tidak bisa disini, kau.." sentuhan lembut dibibirnya menghentikan kalimat yang akan keluar dari Sasuke.
"Aku tidak tahu kau itu Sasuke atau Zhang, dan aku tidak faham dengan yang kau lakukan kini. Tapi aku melakukan keahlianku dari dulu. Aku akan berda di tempat dimana kau dapat melihat dan meraihku kapan saja kau mau. Jadi pergi dari sini, dan lakukan apa yang perlu kau lakukan. Aku juga harus melakukan pertunjukan perdanaku malam ini," dengan senyum lebar Naruto mendorong tubuh Sasuke dari dalam bilik.
Sekali lagi Sasuke di buat tertegun oleh Naruto. Dari awal mereka bertemu Naruto adalah orang yang keras kepala, yang membicarakan mimpinya dengan keyakinan penuh, membuat Sasuke mau tidak mau ikut mempercayai yang Naruto ucapkan. Namun dia tidak punya waktu lagi, berdebat dengan Naruto hanya akan menyita waktunya.
"Agghh! Berensek!" taruhan Sasuke kini meningkat drastis. Jika dia ingin menyelamatkan seisi kota beserta Naruto, dia harus segera menemukan Orochimaru dan Sai.
Kali ini dia tidak boleh gagal.
Layar telah terbuka, alunan pembuka dari musik suara indah Sakura menggema memenuhi hall. Jantung Naruto berdetak kencang sekarang, bukan karena demam panggung namun karena mengkhawatirkan keadaan Sasuke.
Naruto ingat dua hari lalu, mobil yang dia tumpangi menabrak keras mobil merah dan pembatas jembatam. Beruntung Naruto selamat hanya dengan luka lecet dan lebam, namun tidak dengan Jugo. Dia mengalami luka yang cukup serius. Selama dua hari dia berjaga di rumah sakit, menunggu Jugo siuman.
Dia ingin mendengar penjelasan darinya sebelum memutuskan akan kembali atau pergi. Perkataan Jugo yang mengatakan Sasuke ingin dia aman, membuat Naruto berpikir ulang dengan keputusannya.
Dengan kepala dingin dia mulai menganalisis situasi, dia tahu jika Sasuke ingin pergi darinya dia tidak perlu mengusir Naruto. Sejak awal hubungan mereka memang tanpa status yang jelas. Jika diingat banyak hal ganjil tentang Sasuke, dari nama yang tidak pasti, kemampuan luar biasa Sasuke dalam berkelahi –dulu Naruto pernah menyaksikannya menghajar 7 orang preman tanpa kesulitan, dan kebiasaan Sasuke untuk tidak bercerita apapun. Sejauh yang dia tahu Sasuke dari China, namun kini Naruto meragukan kebenarannya.
Sadar jika Sasuke akan memaksanya untuk pergi kembali jika mereka bertemu, Naruto memutuskan untuk menetap di rumah sakit sampai Jugo sadar.
Tadi pagi saat Jugo sadar, dia bertanya tentang Sasuke. Namun Jugo tidak mau buka mulut, sebanyak apapun dia bertanya Jugo tetap rapat menyimpan rahasia. Dan kemudian naruto mengajukan satu pertanyaan."Apa Sasuke ingin aku pergi dari hidupnya selamanya?" Jugo yang terbaring lemah tanpa bisa bergerak hanya kembali terdiam, namun Naruto melihat gelengan kepala halus yang Jugo lakukan. Hanya dengan itu, Naruto melangkah mantap dengan senyum lebar kembali ke Broadway, tempat impian dan orang yang paling dia kasihi berada.
Selama Sasuke mengingingkannya, Naruto akan ada disana. Dia tidak butuh alasan lain.
Giliran Naruto tampil dimulai, dikesampingkannya rasa khawatir yang ada dihatinya. Naruto memainkan perannya dengan baik, hingga adegan pergumulan tertangkap ujung matanya. Dalam keremangan Naruto tahu itu adalah Sasuke dan seorang pria yang Naruto tidak kenali.
Walau dengan ujung mata yang terus mengawasi Sasuke, Naruto melakukan lakonnya dengan sempurna, hampir tidak ada yang menyadari perkelahian yang ada di dekat pintu samping teater, semua terlalu focus pada pertunjukan.
Setelah adegan melayang dramatis Naruto yang terkena tendangan, dia dan dua orang kawan lakonnya perlahan meninggalkan panggung. Begitu Naruto mencapai samping panggung, Naruto melesat lari, sesaat tadi dia melihat Sasuke menghilang bersama orang itu ke balik pintu samping.
Naruto melesat melewati lorong yang dia hafal benar tempatnya, sesekali hampir menabrak kru dan pemain yang mengumpat pada Naruto. Ia sampai pada lorong yang seharusnya tempat Sasuke berada.
Naruto melihat pintu yang sedikit terbuka di sapingnya dan membukanya. Terkejut melihat Sasuke dengan pria yang berlumuran darah.
"Tutup pintu." Perintah Sasuke langsung dituruti Naruto.
"Sepertinya hanya sampai sini Sasuke, sekarang semua tergantung dirimu. Sekali lagi aku akan percaya padamu. Kejar dia, tinggalkan aku sendiri" Pria yang mirip Sasuke itu melepaskan cengkraman kerah Sasuke, Sasuke langsung melesat pergi meninggalkan Naruto yang masih membeku dan pria yang baru saja roboh dengan baju berlumur darah.
"Jadi kau orangnya ya? akhirnya pria itu menemukannya juga." Naruto kaget diaajak berbicara orang yang sepertinya sudah tidak sanggup berbicara.
"Hai kau tidak apa-apa?" Naruto ragu akan dia bagaimanakan orang ini.
"Susul Sasuke, dia akan membutuhkanmu sekarang" Pria itu tersenyum dengan senyum yang membuat Naruto merinding, itu bukanlah senyum kebahagiaan, itu senyum orang yang telah melihat neraka.
"Lalu kau?"
"Butuh lebih dari satu peluru untuk menewaskan seorang Sai" pria itu kembali tersenyum dan mengusir Naruto.
"Ah tunggu... tolong jaga anak itu, dia menanggung terlalu banyak rasa bersalah bagi seorang yang juga kehilangan seluruh miliknya." Walau tidak mengerti, Naruto mengangguk mantap. Dia tidak akan meninggal Sasuke. Sebelum menyusul Sasuke, ia telah memberikan janjinya di depan pria yang baru ditemuinya.
Himura Sai, melihat pemuda pirang itu menghilang di balik pintu. Kesadarannya semakin menipis, peluru yang bersarang didadanya membuatnya kesulitan bernafas, dia tahu paru-parunya sebentar lagi akan dipenuhi oleh darah.
Dikeluarkannya secarik foto usang berisi anak dan istrinya. Dua orang yang merupakan alasan Sai untuk pulang.
"Sepertinya aku akan meyusul kalian sebentar la --uhuk!" Sai tersedak darahnya sendiri. Dia mencoba mengatur napasnya.
"Aku harap kau tidak marah karena ku tinggal lama Ino. Soal Sasuke, kau tenang saja, adik angkatmu itu telah menemukan orang yang akan menjaganya –
Air mata mengalir menetesi foto kedua orang tercintanya. Dia ujung usianya, tiba-tiba saja Sai menjadi cengeng. Sai mengusap dengan lembut darah yang tidak sengaja mengotori foto keluarganya.
"Inojin—
Sai mengusap sosok bayi mungil dalam gendongan istrinya. Dia belum sempat mendengar anaknya memanggilnya tousan.
--kau menjaga Kasanmu dengan baik kan? Maaf kau bahkan belum sempat mengenal Taousan. Aku harap kau tidak takut jika kita bertemu nanti." Senyum terkembang dari bibir Sai, kini bukan lagi senyum palsu yang selalu membuat orang merinding, namun senyum tulus yang di penuhi rasa damai.
Paru-paru sai semakin sulit untuk memompa udara, dia masih ingin mengucapkan permintaan maaf pada keluarganya, namun hanya batuk yang lolos setiap ia membuka mulut. Mungkin tidak apa-apa, sebentar lagi dia akan bisa mengatakan langsung pada mereka. Pandangan Sai mulai mengabur, tapi dia berusaha tidak menutup mata. Dia ingin melihat keluarganya hingga nafas terakhinya.
Akhirnya dalam tidur panjangnya dia akan pulang ke rumah, ke tampat anak dan istrinya berada.
Naruto mencari Sasuke. Hingga di dengarnya suara perkelahian dari arah tangga yang menuju atap, dia lansung berhambur menaikinya.
Sampainya diatap, dia melihat Sasuke bergulat dengan seorang pria berusia pertengahan yang berwajah mirip ular. Dia mendengar Sasuke terkesiap saat sebuah tabung dari kaca di lempar oleh pria itu kearah trotoar yang di penuhi pejalan kaki.
Tanpa di komando Naruto melesat melayang menangakap tabung berisi cairan biru muda di dalamnya. Dia tidak tahu apa ini, tapi jika Sasuke sepertinya membutuhkannya, maka Naruto akan menangkapnya. Tabung itu hampir terlepas dari jari-jari Naruto sebelum ia genggam dengan erat. Terlalu sibuk dengan tabungnya, Naruto tidak memperhatikan suara patah di belakangnya.
"Sasuke, aku mendapatkannya!" Naruto mengacungkan tabung itu ke angkasa, bangga dengan tangkapannya.
"HATI-HATI DENGAN TABUNG ITU DOBE!" kaget dengan teriakan pertama yang Naruto dengar dari Sasuke, hampir saja tabung itu tergelincir dari tangannya lagi.
"Diam, jangan bergerak! Berikan tabung itu dengan hati-hati." Sasuke merasa tabung itu lebih berbahaya di tangan Naruto dari pada di tangan Orocimaru.
Naruto memberikan tabung itu dengan hati-hati.
"Jadi, semua sudah selesai?"
"Hn, sepertinya begitu."
Naruto mengintip sosok pria yang tergeletak tidak bergerak di belakang Sasuke.
"Kau pandai sekali membuat orang pingsan. Cih"
Sasuke hanya menggiring Naruto pergi tanpa memberi komentar atas pernyataan Naruto. Biarlah Naruto menduga orang itu pingsan.
Omake 1
Sasuke kembali menunggu seseorang di bangku taman dimana dia diberitahu tentang Orochimaru pertama kalinya. Tidak menunggu lama, seseorang yang Sasuke tunggu datang.
"Aku sudah menguburkan Sai dan Orochimaru." Orang itu mengambil tempat di samping Sasuke.
"Dimana virusnya?"
"Sudah kumusnahkan." Sasuke memberikan tabung kosong ketangan mantan rekannya.
"Sudah kuduga kau akan melakukan itu. Sayang sekali, pemerintah kira ingin sekali memiliki karya Orocimaru ini." Seseorang di sebelah Sasuke mendesah kecewa.
"Tidak ada yang berhak atas senjata mematikan seperti ini. Manusia cenderung angkuh jika dia memiliki benda yang dapat membuatnya diatas angin. Bukankah begitu Haruno Sakura?" Sasuke menatap mata Hijau dari satu-satunya anggota perempuan Akatsuki.
"Kau benar, aku akan membuat laporan jika virus ini ternyata produk gagal" Sakura beranjak berdiri dari tempat duduknya.
"Terima kasih Sasuke".
Sebelum Sakura pergi, terlintas pertanyaan dalam benak Sasuke.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang Sakura?"
"Aku akan tetap menjadi aktris, ini cara termudah untuk mendekati para petinggi pemerintahan tanpa dicurigai, dan berusaha mereda percikan yang mungkin akan menimbulkan api perang lagi. Kalau kau Sasuke?"
"Entahlah, aku belum memikirkannya"
Tanpa diduga Sakura mendekat dan memberikan kecupan ringan di pipi Sasuke.
"Sepertinya lucky kiss yang kuberikan tempo hari manjur, ku berikan lagi untuk mendoakan dirimu dan Naruto. sampaikan salamku pada Jugo dan Naruto. Kutunggu bermain peran dengan kekasihmu, sepertinya John tertarik padanya."
"Bagaimana kau—
"Bagaimana aku tahu antara kau dan Naruto? Ayolah Sasuke, baru kali ini kau perduli pada seseorang. Itu terlihat sangat jelas. Satu hal lagi Sasuke, jangan lepaskan kebahagiaanmu lagi. Jangan menjadi bodoh." Sakura mengedipkan matanya sebelum melangkah pergi meninggalkan Sasuke sendiri disana.
Omake 2
Begitu memasuki kamar, Naruto telah menunggunya dengan tangan bersendekap di dada.
"Ada yang ingin kau tanyakan?" Sasuke menghampiri Naruto dengan dan berdiri tepat di depannya.
"Ribuan, tapi mari dengan pertanyaan pertama. Aku harus memanggilmu Zhang atau Sasuke?", Sasuke memikirkan jawaban apa yang ingin dia berikan, apa dia ingin tetap dengan topeng Zhang, atau menghadapi Naruto sebagai dirinya.
"Sasuke. Uchiha Sasuke."
"Lalu, apa arti Dobe? Kau memanggilku begitu kemarin malam." Sasuke manaikkan alisnya, tidak menduga dari semua hal yang terjadi, pertanyaan Naruto malah tentang ini.
"Pintar, itu artinya pintar." Sasuke mengatakan itu sebagai sindiran, namun sepertinya Naruto memakannya mentah-mentah.
"Aku memang Dobe." Naruto tersenyum lebar menduga Sasuke memujinya. Sasuke hanya mendengus mendengar perkataan Naruto.
"Lalu pertanyaan ketiga, kenapa kau mencium Sakura. Apa hubunganmu dengannya?"
Akhirnya pertanyaan yang membuat Sasuke repot keluar juga. Tanpa menjawab Sasuke menarik tubuh Naruto dan menciumnya. Membawa tubuh mereka ke arah ranjang keras yang menjadi favorit keduanya.
"Mari lanjutkan pertanyaan itu lain waktu." Sasuke mendorong tubuh Naruto keranjang dan mindihnya.
Tidak ada pernyataan cinta ataupun kata-kata manis dari keduanya. Namun mereka sadar, hubungan mereka telah berubah. Pengertian jika mereka akan terus bersama telah disepakati.
Naruto tidak tahu semua hal tentang Sasuke, tapi dia merasa memiliki seluruh waktu untuk menunggu Sasuke sendiri yang akan mengatakannya padanya. Dia hanya meyakini jika meraka akan bersama sampai nanti. Naruto tahu, masalah akan selalu menghampiri di masa yang akan datang. Namun dia tahu, dia tidak akan meninggalkan Sasuke.
Sasuke masih belum berdamai dengan rasa bersalahnya, mungkin juga selamanya hal itu akan terus menghantuinya. Dia tahu mimpi-mimpi buruknya akan terus datang setiap malam, namun kini dia telah sedikit tenang, dia telah menerima jika masalalu tidak akan pernah berubah apapun yang dia lakukan. Untuk pertama kalinya Sasuke merasa dia tidak akan tersesat lagi, dia telah memiliki tujuan untuk kembali, rumahnya, Narutonya.
The End
Mungkin bakal ada chap tambahan untuk adegan-adegan yang hilang, dan penjelasan lebih detail dari segi Sasuke.
