Lentera Hati.

Disclameir : Naruto by Masashi Kishimoto

Pairing : SasuNaru, NejiNaru, SaiNaruko.

Genre : Romance, family.

Warning : BL, ga jelas, ff ngawur bikinan orang amatir yang ga pernah lepas dari ke OOC-an chara-nya,m-preg, buat yang anti cerita homo atau cerita buatan saya ada baiknya jangan masuk kesini hargailah usaha seorang author yang membuat karyanya walau pun tak berkenan di mata kalian.

Tidak suka jangan di paksakan membaca, silahkan klik back.

Chapter 2.

Menma dengan perasaan tak karuan yang menyeruak dihatinya berjalan dengan tergesa-gesa menuju rumahnya, sejak pertemuannya dengan pria tampan bertopeng itu sesuatu dalam dadanya tiba-tiba membuncah, ia merasa seperti menemukan sebuah kepingan yang telah lama dicarinya.

Saat tiba dipekarangan rumahnya ia melihat sebuah mobil hitam terparkir apik dihalaman depan rumahnya, ''Mobil siapa ini?" gumamnya, matanya tak berkedip memandang mobil mewah mengkilap itu.

''PERGI!" Menma terlonjak kaget begitu mendengar suara teriakan dari dalam rumahnya yang ia sangat hapal pemilik suaranya.

"Kenapa Mama berteriak?" setengah berlari Menma menghampiri pintu utama rumahnya yang setengah terbuka, didorongnya dengan kasar pintu itu.

''Mama apa yang…eh paman yang waktu ditaman itu?" Menma yang tadinya hendak bertanya tak jadi karena ia keburu terkejut kala melihat sosok yang sempat ditemuinya ditaman.

''Bocah itu siapa, Dobe?" tanya Sasuke tak mengindahkan teriakan Naruto semenit yang lalu.

''Bukan urusanmu Uchiha, cepat pergi dari rumahku.'' Usirnya, tak peduli dengan keberadaan Menma yang melihatnya berteriak-teriak layaknya orang gila asalkan ia bisa membuat pria bermarga Uchiha itu keluar dari rumahnya.

"Tidak, sebelum aku tahu siapa bocah itu.'' Naruto yang memang pada dasarnya mudah marah dan sedikit pada pada orang lain bergerak cepat kearah Sasuke lalu mendorong pria yang lebih besar darinya itu dengan satu hentakan tangannya ia mendorong tubuh Sasuke kebelakang guna membuat pria itu keluar dari rumahnya, tak akan ia biarkan pria yang sudah membuat hidup dan masa depannya hancur itu mengetahui siapa Menma.

''Keluar dari rumahku, sialan.'' Maki sipirang kalap, Menma merasa kasihan pada pria yang baru saja didorong dan dimaki oleh mamanya itu ia pun menghambur lalu memeluk pinggang sang mama.

''Mama jangan memarahi paman itu.''

''Masuk kedalam kamarmu sekarang juga Menma, jangan ikut campur urusan orangtua.'' Menma pun ikut terkena kemarahan Naruto, iris kembar yang sewarna dengan sang mama menatap takut pada sosok pria bersurai pirang itu, Naruto adalah pribadi yang lembut dan penyayang jadi wajar saja jika Menma begitu terkejut begitu mendapati sisi lain sang mama.

''Tapi paman itu…."

''Lakukan perintahku!"

Namun pada dasarnya buah jatuh memang tak akan jauh dari pohonnya begitu pula sifat orangtua yang pastinya akan menurun pada anaknya, Menma bukannya menurut ia malah sengaja menghampiri Sasuke lalu menatap lekat pria itu dengan netra birunya.

''Paman sebaiknya pergi, sepertinya mama sedang dalam keadaan kurang sehat sehingga tekanan darahnya naik.'' Ucap Menma, lama Sasuke menatap bocah berusia 7 tahun itu pria itu pun mengangguk.

Tak banyak ucapan yang terlontar dari bibir pria itu selain kalimat 'sampai jumpa' seraya mengusak surai raven Menma lalu pria itu pun keluar dari rumahnya dengan senyum ganjil yang terukir dibibir pria raven itu.

'Jangan harap kau lepas begitu saja dari gengamanku, Naru-dobe.'

.

.

"Mama, apa mama mengenal paman itu?" tanya Menma seraya mendudukan dirinya disamping Naruto yang kini duduk diatas sofa sambil memeluk lututnya, bocah itu pun bersandar dibelakang punggung Naruto.

''Ya.'' Jawab Naruto singkat.

''Siapa paman itu sebenarnya? Kenapa mama begitu marah padanya?"

''Dia adalah orang terjahat yang pernah kutemui Menma, dan kuharap kau jangan pernah berhubungan dengan pria itu apapun alasannya.'' Menma tak menjawab wajah polosnya berubah muram begitu mendengar nada yang terkesan sadis dan mengancam dari mamanya.

"Kenapa?"

"Bukankah sudah kuakatakan dia adalah pria jahat, jika ia adalah orang baik mana mungkin aku repot-repot harus mengusirnya.''

Menma menunduk dalam, awalnya ia pikir jawaban dari sang mama adalah hal yang diimpikannya selama ini namun agaknya ia harus kembali menelan kekecewaan dari jawaban sang mama, kenyataan jika pria itu bukanlah papa yang selama ini diharapkan kehadirannya membuat harapannya sirna seketika.

'Ternyata bukan ya, tapi…'

"Mama bukankah mama pernah bercerita tentang sosok papa padaku, dan sepertinya paman itu…''

''Menma, Neji akan datang kemari malam ini tidakkah kau ingin menyambutnya dengan membuat sesuatu?" Naruto memotong kalimat sang anak guna mengalihkan pembicaraannya dan Neji adalah senjata paling ampuh karena Menma pastilah akan lebih antusias jika mengenai pria berambut coklat panjang itu.

''Benarkah? Yeay aku akan membuat kejutan yang hebat untuk papa Neji.'' Lihatkan anak itu bahkan sepertinya sudah lupa dengan ucapannya semenit yang lalu.

Bocah bersurai raven itu turun dari sofa lalu dengan langkah cepat masuk kedalam kamarnya, entah apa yang akan direncanakan olehnya untuk menyambut kedatangan Neji.

.

Tepat pukul tujuh malam suara deru kendaran mobil terdengar masuk kehalaman depan rumah Naruto, Menma yang lebih dulu mendengarnya langsung menghampiri pintu lalu membukanya, iris biru bocah itu berbinar begitu melihat sosok Neji yang berdiri disamping mobilnya dengan kedua tangan yang merentang lebar.

''Papa Neji.'' Ia berseru lalu menghambur kepelukan pria bernama Neji itu.

''Bagaimana kabar anak papa? Apa selalu sehat dan selalu menjaga mamanya juga?" tanya pria itu.

''Tentu saja, aku selalu menjaga mama dari pria jahat.'' Ucapnya bangga dengan tangan yang menepuk dadanya dihadapan Neji,

Pria itu tergelak melihat tingkah lucu Menma, tangan putihnya pun terulur lalu mengacak surai raven milik Menma, ''Bagus sekali, itu baru jagoanku.''

"Papa Neji, aku dan mama sudah menyiapkan kejutan yang spesial untuk papa loh."

"Benarkah, papa jadi tidak sabar masuk kedalam, ayo jagoanku antarkan papamu yang tampan ini untuk melihat kejutan kalian.'' Keduanya berjalan beriringan dengan Neji yang menggenggam tangan mungil Menma.

Sementara diujung jalan yang agak jauh dari rumah Naruto tampak mobil hitam yang sebelumnya sempat terparkir dihalaman rumahnya serta sang pemiliknya yang kini menatap geram dua sosok yang baru saja masuk kedalam rumah sederhana itu, sosok yang tak lain adalah Sasuke entah kenapa begitu kesal melihat adegan bak ayah dan anak didepannya atau pria itu memanglah ayahnya, batin siraven dengan kening mengerut bingung dan ia pun segera mengenyahkan pikiran konyol itu karena bagaimanapun juga mana mungkin pria itu adalah ayahnya karena jika pria itu adalah ayah dari anak Naruto lalu apa peran pria berambut pirang cerah itu setidaknya itulah yang sedang dipikirkan oleh Sasuke saat ini.

''Paman sebaiknya pergi, sepertinya mama sedang dalam keadaan kurang sehat sehingga tekanan darahnya naik.''

Sasuke terhenyak begitu mengingat ucapan bocah raven itu sebuah seringai aneh mulai terlihat, "Mama, eh?" gumamnya.

"Juugo."

''Anda memanggil saya Sasuke-sama.'' Jawab Juugo yang bertugas sebagai supir dan juga orang kepercayaannya bahkan pria berambut orange itu bisa diandalkan juga sebagai bodyguardnya.

''Besok kau harus menyelidiki bocah itu, dan aku mau informasi tentangnya secepat mungkin.'' Titahnya pada pria itu walau Sasuke sudah mendapat informasi tentang Menma namun masih belumlah puas karena kebanyakan informasi itu tentang sipirang.

"Baik akan saya laksanakan.''

.

.

Naruto berlari dengan penuh semangat mengejar putranya –Menma- yang mulai menjauh dari pandangannya, suasana tepi pantai saat ini tidaklah secerah biasanya, hawanya pun dingin dan mungkin akan turun hujan.

''Menma!" teriak Naruto memanggil anaknya namun sosok mungil Menma tak ditemukan dimanapun.

''Menma!" panggilnya sekali lagi, ia berlari tak tentu arah pikirannya panik dan ia pun tak sadar jika ia sudah berada disisi jalan raya.

Iris bulat itu melebar kala melihat sosok sang anak tengah berada dalam gendongan pria yang sangat tak ingin ditemuinya, sosok itu terlihat tersenyum mengejek padanya.

''Kembalikan Menma padaku, brengsek!"

Sasuke tak gentar dengan teriakan Naruto pria itu justru melebarkan seringainya, "Kembalikan katamu, dia adalah anakku dan mulai saat ini aku akan mengambilnya darimu."

Dunia Naruto seakan runtuh mendengar ucapan yang terlontar dibibir siraven kedua lututnya terasa lemas hingga tanpa sadar ia jatuh berlutut diatas aspal, butiran bening pun mengalir dikedua pipi bergaris miliknya.

''Ayo kita pergi, Menma." Ucap Sasuke lalu pergi begitu saja meninggalkan Naruto dalam keterpakuannya.

''Jangan ambil, jangan ambil anakku, kembalikan anakku! Uchiha Sasuke!"

.

"Menma!" Naruto tersentak dari tidurnya, iris birunya terbelalak dengan keringat yang membanjiri seluruh tubuhnya, bayangan mimipinya barusan masih terekam jelas dikepalanya, ia begitu ketakutan jika mimpi itu menjadi kenyataan.

Sebuah tangan putih yang semula berada dipinggangnya terlihat bergerak. "Ada apa Naru?" tanya sang pemilik tangan, Hyuuga Neji.

Pria itu memang sengaja menginap atas permintaan dari Menma dan karena rumah itu hanya memiliki dua kamar maka terpaksa Naruto menyuruh Neji tidur dikamarnya karena tak mungkin pria itu tidur dengan Menma karena sudah dipastikan jika Neji akan tertidur diatas lantai karena jika Menma tidur bocah itu tidak akan diam.

''Aku baik-baik saja.'' Jawab Naruto dengan suara serak khas bangun tidurnya.

''Benarkah? Tapi tadi kau seperti memanggil-manggil Menma.''

''Mungkin hanya perasaanmu saja, Neji.''

''Tidak, kau bahkan memanggil nama seseorang, siapa itu Uchiha Sasuke?" tanya Neji dengan sorot mata tajam penuh rasa cemburu.

''Kau pasti bergurau mana mungkin…"

"Kau jelas-jelas memanggil namanya, kau bergerak gelisah dalam tidurmu lalu tiba-tiba kau mengigau dan berteriak-teriak memanggil Menma.'' Jelas Neji, Naruto bungkam ia tahu jika tak selamanya ia harus menyembunyikan kebenaran tentang siapa ayah biologis dari Menma.

Bruk

Naruto menubruk dada bidang Neji lalu menyembunyikan wajahnya kedua tangannya mencengkram pakaian tidur pria berambut coklat panjang itu.

''Dia ada dikota ini Neji, dan kemarin dia datang menemuiku, dia melihat Menma dan aku langsung ketakutan jika ia tahu siapa Menma, lalu aku pun serasa diteror kembali olehnya lewat mimpiku dan dia dengan mudahnya mengambil Menma dariku, apa yang harus kulakukan Neji, katakan padaku?" Naruto memukul-mukul dada Neji disertai isakan lirih dari bibirnya.

''Jangan cemas, karena apapun yang terjadi aku akan menjaga kalian.'' Naruto mendongak menatap wajah Neji yang penuh keseriusan, ia tahu meskipun ia menolak pria itu akan tetap dengan pendiriannya.

"Kenapa kau begitu peduli padaku Neji, aku bahkan tak pernah menerima perasaanmu apalagi sejak pria itu menghilang begitu saja.''

''Aku peduli karena aku ingin, aku peduli karena aku memang mencintaimu sampai kapanpun meskipun kau menolakku aku tak peduli karena cinta itu tak harus memiliki kan. Sama seperti halnya dirimu yang mencintai pria itu walau tak bisa memilikinya.''

''Aku tidak mencintainya, aku sangat membencinya asal kau tahu.'' Sanggah Naruto ia tak terima tentang persepsi Neji tentang perasaannya pada pria raven itu.

''Kau mencintainya Naru, karena jika tidak kau tidak mungkin memiliki Menma hingga saat ini, apa aku salah?" Naruto menunduk dalam, benar apa yang dikatakan Neji jika ia tidak dibutakan oleh kata cinta saat itu pasti Menma tak akan pernah hadir dalam hidupnya, satu sisi ia memang membenci pria itu namun disisi lain ia juga masih memiliki rasa padanya karena bagaimanapun juga pria itu adalah orang pertama yang pernah mengisi hidupnya.

''Maaf, aku…" Neji meraih Naruto kedalam pelukannya diusapnya punggung Naruto lembut bagaikan seorang kakak yang menenangkan adiknya.

''Tak perlu minta maaf padaku, kau hanya perlu percaya jika aku akan selalu ada untukmu Naru.'' ucapnya, Naruto tersenyum mendengar kalimat tulus Neji, andai Neji adalah kakaknya ia pasti merasa senang dan tak akan pernah merasa sungkan.

Tap tap tap

ceklek

"PAPA NEJI! MAMA CEPAT BA…Eh, kalian sedang apa?" tanya Menma yang langsung melongo begitu melihat adegan saling peluk Naruto dan Neji.

Keduanya otomatis kaget dan parahnya Naruto tanpa sadar mendorong keras tubuh Neji hingga pria itu terdorong cukup keras lalu terjatuh dari atas ranjang.

''Err ini tak seperti yang kau lihat Menma, kami hanya…"

"Memang aku melihat apa?"

Gezz

'Anak itu memang selalu menyebalkan, dasar bocah.' Gerutu Naruto sambil menatap sebal kearah Menma yang masih berwajah datar.

''Mama aku belum mau punya adik dulu.'' Ucap Menma polos lalu menutup pintu kamar Naruto dengan gerakan kilat yang super cepat membuat kedua orang dewasa itu cengo seketika.

Naruto mengepalkan tangannya dengan efeck kobaran api serta aura menakutkan lainnya, beginilah akibatnya jika Menma dibiarkan terlalu dekat dengan kakek buyutnya yang mesum bernama Jiraya itu.

''Namikaze Menma kemari kau bocah!" teriakan Naruto sukses membuat seluruh kaca dirumahnya bergetar.

Sedangkan Neji yang sudah kembali duduk diranjang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja.

.

"Ampun Ma, ampun~," rengek Menma memohon ampun ketika sebelah telinganya dijewer sang mama dengan tanpa belas kasihan.

''Tidak ada ampun untuk anak nakal heum.'' Sahut Naruto tak mengindahkan rengekan yang menyayat hati dari sang anak.

Tak ada yang dapat menghentikan tindakan Naruto bahkan Neji hanya mampu jadi penonton jika masih ingin diakui jika datang kerumah itu lagi.

''Pa~," kali ini Menma meminta pertolongan pada Neji dengan raut wajah anak tiri yang teraniaya.

''Err, Naru bisakah kau hentikan, kurasa hukumanmu sudah cukup untuknya.'' Bujuk Neji secara halus, terdengar Naruto menghembuskan nafasnya lalu melepaskan jewerannya.

''Ingat jangan sekali-kali berbuat seperti itu lagi apalagi cara bicaramu itu tidak cocok untuk anak seusiamu.''

''Yes Ma'am."

''Sudah kau boleh main, aku harus masak sekarang.'' Nada keras Naruto kini kembali lembut, pria berambut pirang itu pun memutuskan untuk pergi kedapur memasak sarapan pagi.

"Mama-mu cepat sekali berubah ya.''

''Hn begitulah, akhir-akhir ini mama memang sering marah-marah, apa jangan-jangan mama mau puny.."

''Jangan berbicara yang aneh-aneh kau tidak lihat wajahnya mirip legenda siluman rubah ekor sembilan saat sedang marah jadi diam saja jika kita mau selamat dirumah ini oke.'' Menma yang mulutnya dibekap Neji mengangguk-anggukan kepalanya, satu kalimat memang bisa mengubah segalanya ya, kkk.

.

.

Tok tok tok

Pintu ruang kerja Sasuke diketuk oleh bawahannya yang bernama Juugo, ditangan pria itu terdapat sebuah map coklat yang sepertinya berisi sebuah data yang diminta sang tuan.

"Sasuke-sama, ini saya Juugo." Ucap pria kekar berambut jingga itu dari balik pintu.

"Masuk saja, Juugo." Perintah Sasuke didalam ruang kerjanya.

''Ini yang anda minta Sasuke-sama.'' Juugo menyerahkan sebuah map coklat pada Sasuke yang langsung diterima olehnya dengan cepat ia membuka isi map tersebut.

"Jadi namanya Namikaze Menma dan usianya baru 7 tahun." Gumam Sasuke begitu melihat biodata tentang Menma.

''Benar Sasuke-sama, namun ada kendala saat saya mengorek informasi tentang ibunya atau mungkin istri Naruto-kun.''

''Apa itu?" Sasuke memandang orang kepercayaannya itu dengan antusias, tak ada yang menarik selain mengetahui segalanya tentang Naruto dan bocah itu.

''Tak ada satupun yang tahu siapa nama ibu dari bocah itu." Dan jawaban Juugo sukses memperkuat dugaannya.

'Jika benar dugaanku bahwa ibu dari Menma adalah Naruto, lalu siapa ayah Menma?' batin Sasuke dan ingatannya tentang pria berambut coklat panjang itu kembali terlintas di pikirannya.

BRAK

"TIDAK BOLEH!" Juugo terkejut melihat raut amarah Sasuke, selama ia mengabdi pada pria itu baru kali ini ia melihat sosok tuannya begitu marah.

'Apa yang sebenarnya anda inginkan, Sasuke-sama?' batin Juugo tanpa bisa menyuarakannya.

Tbc

Yuhuu kimi balik lagi ada yang kangen ga sama ff ini (reader : kagak. /kimi : rapopo :'v huks)

balesan review buat yang ga login kimi pake Q & A aja ya dan buat yang login kimi bales lewat pm.

Q : apa sasuke menyesal? napa dia nyari naruto? napa c sasuke pake topeng wajahnya emang kenapa?

A : pertanyaan ini bakal kejawab kok seiring berjalannya cerita. os kalo dibeberin pan gaswat ntar bukan rahasia lagi dong hihihihi.

Q : knp sasuke pake topeng?

A : karena sesuatuhhhh #digeplakyangnanya...

Q : Rencananya akan berapa chap 'lentera hati' ini?

A : se 'the end' nya saja *eh /someone : woy #sambilnavokauthor

Q : apa yg sasuke mau dari naru?

A : Sasu kayknya minta anu-anu deh ama naru #ditoyorteme

sekian dulu mohon maaf bila ada salah2 dan kekurangan dalam ff kimi mohon dikoreksi aja jika kimi banyak melakukan kekeliruan biar kimi bisa perbaiki letak salahnya.. arigatou all reader sampai ketemu di chap berikutnya or ff kimi yang lainnya bayeeee