Lentera Hati.

Disclameir : Naruto by Masashi Kishimoto

Pairing : SasuNaru, NejiNaru, SaiNaruko.

Genre : Romance, family.

Warning : BL, ga jelas, ff ngawur bikinan orang amatir yang ga pernah lepas dari ke OOC-an chara-nya,m-preg, buat yang anti cerita homo atau cerita buatan saya ada baiknya jangan masuk kesini hargailah usaha seorang author yang membuat karyanya walau pun tak berkenan di mata kalian.

Tidak suka jangan di paksakan membaca, silahkan klik back.

Chapter 3.

Pria berambut raven itu berjalan menghampiri sosok bocah berambut raven yang sedang duduk diatas sebuah ayunan yang terdapat ditaman bermain yang tak jauh dari lapangan sepak bola.

Menma hanya sendirian karena Lee teman yang biasa bermain bola dengannya belum juga datang sehingga ia pasti akan menunggu bocah berambut bob itu datang sambil bermain ayunan.

Menma merasakan ada dorongan pelan dipunggungnya yang menambah intensitas gerakan ayunannya, ia menoleh lalu mendapati pria berambut raven yang kemarin bertemu dengannya ditaman ini juga yang membuat mamanya naik darah ketika pria itu bertamu kerumahnya entah untuk alasan apa.

''Hai." Sapa Sasuke, Menma tak merespon ia hanya menatap manik arang sang pria, jujur ia seperti merasa rindu namun ketika ia teringat ucapan dari mamanya ditepisnya segala jenis perasaan aneh dalam dirinya walau perasaan itu begitu kuat dan menggebu-gebu sehingga membuatnya ingin menangis sambil memeluk pria itu.

''Paman bertopeng aneh.'' Balas Menma lirih dan hampir tak terdengar oleh Sasuke jika saja pria itu tak memiliki pendengaran yang tajam.

''Sendirian saja?"

"Hn.'' Sahut bocah itu yang tanpa ia sadari membuat raut wajah Sasuke terkejut, itu adalah kalimat yang sering Sasuke ucapkan ketika ia malas menyahut.

''Bisa kita bicara berdua?"

''Kita sudah berdua sejak tadi paman, jadi kalau mau bicara silahkan saja.'' Sasuke tersenyum tipis bocah itu seperti cerminannya saat dulu, dingin, ketus, acuh tak acuh dengan sekitarnya.

''Baiklah, jika itu maumu, kita bicara disini, nah perkenalkan namaku Uchiha Sasuke, kau?"

''Namikaze Menma.''

''Boleh aku bertanya?"

''Silahkan saja.''

''Apa hubunganmu dengan Naruto?" Sasuke memulai pertanyaan pertamanya.

''Bukankah paman sudah tahu jawabannya jika aku adalah putranya atau lebih jelasnya dia adalah mamaku.''

''Tapi bukankah dia adalah pria sama sepertiku.''

''Ya, tapi kenyataannya memang seperti itu, paman.''

''Lalu siapa papamu?"

Menma memasang wajah murung, inilah yang tak Menma suka jika ada orang yang bertanya tentang papanya ia bingung harus seperti apa menjawabnya, jika ia menjawab tak memiliki papa ia pasti akan mendapat cemoohan dari teman-temannya hingga pasti satu-satunya jawaban yang tepat adalah mengaku jika Neji adalah papanya.

''Hyuuga Neji.''

.

.

"Jadi kau berencana membuka café dikota ini, Neji?" tanya Naruto, pria berambut pirang itu menarik kursi meja makan lalu duduk berhadapan dengan pria berambut coklat panjang yang sepertinya masih betah bertamu dirumahnya.

''Ya begitulah, aku tak cocok menjadi direktur perusahaan besar, perusahaan itu biarlah Hanabi yang mengurusnya karena sepertinya café adalah tempat yang cocok sebagai usahaku.'' Ujarnya sambil menyesap secangkir kopi late kesukaannya.

''Cafe adalah sejarah pertemuan kita ya.'' Kekeh Naruto matanya sedikit menerawang jauh, ia ingat dulu ketika bertemu dengan Neji disebuah café milik sepupu ibunya yang bernama Sara.

Naruto yang memang selalu membantu wanita itu jika sedang libur sekolah memutuskan bekerja sambilan disana hitung-hitung menambah uang saku sekolahnya, saat ramai pengunjung berdatangan saat itulah sosok Neji datang bersama gerombolan teman sekolahnya, Naruto yang bertugas sebagai pengantar pesanan pun mulai mengantarkan pesanannya ke meja dimana Neji dan teman-temannya berada saat tiba dimeja tersebut entah disengaja atau tidak salah satu kaki teman Neji diselojorkan hingga membuat Naruto tersandung dan hidangan yang dibawanya terlempar kedepan tepat kearah Neji sehingga baju pemuda itu kotor.

Neji tentu saja marah saat itu ia hampir saja menuntut Naruto karena kecerobohan yang sebenarnya tak disengaja olehnya namun Sara dengan tegas membela Naruto, Sara percaya jika Naruto tak mungkin ceroboh karena selama ia bekerja Sara tak pernah melihat Naruto lalai dalam melakukan tugasnya, Neji dengan perasaan kesalnya pun memutuskan untuk pergi dan pemuda itu jarang terlihat datang kecafe milik Sara, Naruto menduga pemuda itu marah dan tak mau lagi berkunjung kesana namun dugaannya salah karena seminggu kemudia pemuda itu datang sendirian kecafe lalu meminta maaf padanya karena yang bersalah memanglah salah satu teman Neji yang saat itu baru mengakui kesalahannya setelah dua hari pasca insiden kecerobohan Naruto dan saat itulah keduanya mulai dekat.

"Kau tahu sampai sekarang aku masih menyesal jika saat itu aku hampir saja akan menuntutmu dan jika saja temanku itu tak mengakui jika ia yang bersalah maka aku sepertinya takan bisa seperti ini bersamamu sekarang.'' Paparnya, Naruto tersenyum tipis melihat raut wajah Neji yang terlihat bersalah.

''Sudahlah lupakan masalah itu, itu sudah berlalu oke.''

''Tapi tetap saja aku merasa malu jika mengingatnya." Neji menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

''Ya tapi jika tidak ada kejadian itu kau dan aku tak mungkin akan saling mengenal lalu kita menjadi teman dekat kan.'' Neji terdiam ia menurunkan kedua tangannya lalu menatap Naruto dalam.

'Apa selamanya aku hanya akan menjadi temanmu Naruto.' Batin Neji lirih.

''Neji kapan café itu akan dibuka?"

''Minggu depan, kuharap kau datang kepesta pembukaannya ya.''

Naruto terkejut, ''Eh? Minggu depan? Memangnya kau sudah memiliki tempatnya?" tanya Naruto bertubi-tubi.

''Ya tentu saja, teman lamaku menjual sebuah tempat kepadaku lalu aku memutuskan untuk menjadikannya sebuah café dan sebagai kejutan untukmu café itu sudah resmi dibuka minggu depan.''

Naruto menganga tak percaya namun sedetik kemudian ia kembali memasang ekspresi hangatnya, ''Hmm sepertinya aku kembali tertarik berkerja jika itu di café, apalagi jika café milikmu.'' Katanya seraya mengeluarkan cengiran khasnya.

''Tempatku selalu terbuka untukmu Naru, dan sepertinya sebagai pembukaan café itu aku akan bernyanyi.''

''Eh? Memangnya kau bisa bernyanyi?"

''Tentu saja, jangan meremehkan seorang Hyuuga tampan ini.'' Ucap Neji dengan pedenya dan hampir saja membuat Naruto melayangkan sebuah nampan jika tak ingat pria itu akan menjadi bosnya sebentar lagi.

.

.

Tok tok tok

Terdengar bunyi ketukan pintu, Naruto yang saat itu sedang memasak hidangan untuk makan malam terpaksa mematikan kompornya lalu mulai berjalan meninggalkan dapur.

Cklek

Pintu dibuka dan Naruto langsung dibuat jantungan oleh sosok dibalik pintu yang baru saja dibukanya, didepannya kini Uchiha Sasuke berdiri dengan angkuhnya sambil menggendong putranya, Menma.

''Uchiha, kau…''

"Dia kelelahan dan langsung tertidur saat diperjalanan tadi, bisakah kau tunjukan kamarnya aku ingin menidurkannya.'' Ucap pria itu tanpa basa-basi.

Naruto gelapan dan pikirannya mulai kacau, ia ingin memaki pria didepannya itu namun ia takut akan membangunkan Menma, maka dengan gerakan kaku ia menunjuk kamar putranya berada.

"Di..disana.''

Sasuke tanpa sungkan masuk kedalam rumah mungil itu lalu berjalan kearah pintu yang katanya adalah kamar Menma, diputarnya knop pintu lalu iapun masuk kedalamnya di hampirinya ranjang berukuran kecil lalu direbahkannya tubuh mungil Menma disana.

''Apa tujuanmu sebenarnya Uchiha?" tanya Naruto dengan tubuh menyender diambang pintu kamar Menma serta tangan yang ia lipat didada.

"Aku hanya mengantarnya pulang.''

''Niatmu terlalu mulia untuk ukuran pria brengsek Uchiha, dan sebaiknya jangan pernah berani untuk menyentuh putraku lagi.'' Ketusnya, Sasuke menarik segaris senyum tipis disudut bibirnya.

''Kenapa kau begitu ketakutan jika aku dekat dengannya?"

''Bukankah sudah kukatakan jika…"

"Itu bukan alasan, Namikaze Naruto.'' Sasuke beranjak lalu mendekati Naruto yang perlahan mundur, Sasuke menutup pintu kamar Menma lalu ia mencengkram tangan Naruto didorongnya pria berambut pirang itu hingga tersudut di dinding dengan kedua tangan kekar Sasuke yang mengungkungnya.

''Katakan padaku kenapa kau begitu cemas? Aku bisa melihatnya lewat matamu Naruto.''

''Jangan sok tahu Uchiha, aku begini karena aku tahu siapa dirimu.''

''Sebuah alasan klise yang selalu diucapkan beberapa orang jika berhadapan dengan orang yang menurutnya brengsek, benarkan.''

Naruto memalingkan wajahnya enggan menatap Sasuke hal itu tentu saja tak disia-siakan oleh siraven, pria itu mendekatkan bibirnya kearah telingat Naruto lalu dijilatnya telinga pria berambut pirang itu, Naruto tersentak jilatan itu begitu seduktif sehingga tanpa sadar ia mengerang ditambah kini bibir Sasuke perlahan turun kearah leher jenjangnya ia merasa seperti ada kupu-kupu yang menari diperutnya dan juga perasaan tak asing yang dulu pernah dirasakannya untuk pria itu, Sasuke menghisap lehernya lalu menjilatnya rasanya perih namun ia akui jika ia menikmati setiap sentuhan pria itu dan ia merasa yakin jika besok Menma akan bertanya soal tanda merah dilehernya.

'Uchiha sialan, brengsek, teme, sadis…' dan beberapa umpatan lainnya yang hanya bisa ia ucapan dalam hatinya untuk pria yang kini berhasil mencium bibirnya.

.

.

"Katakan padaku yang sebenarnya siapa ayah Menma?" tanya Sasuke yang masih dalam posisi yang sama seperti sebelumnya, Naruto yang masih terengah usai ciuman panasnya dengan Sasuke beberapa detik yang lalu harus kembali dibuat menahan nafas karena pertanya dari pria itu.

''Dia anak pria bernama Hyuuga Neji.'' Bohongnya, Sasuke melepaskan kungkungannya ia berbalik memunggungi Naruto.

''Lalu apa status kalian saat ini?"

''A..aa…"

"Tidak bisa menjawab? Aku sudah menyelidiki semua tentangmu, dan kau sama sekali tak terikat hubungan dengan siapapun yang berarti seharusnya kau masih lajang.''

''Kau...darimana kau mendapat informasi aneh seperti itu?"

"Kau lupa siapa aku, Naruto. Bahkan aku sudah melihat data Menma dan dia hanya memiliki satu nama ayah yaitu kau, namun saat aku bertanya pada Menma dia berkata jika kau adalah ibunya dan ayahnya adalah Neji, tapi jika memang pria itu adalah ayahnya lalu kenapa namanya tak tercantum sebagai ayah dibiodatanya.''

"Itu karena aku dan dia memang tidak pernah menikah, itu hanya sebuah kecelakaan hingga aku memiliki Menma kau puas.''

Sasuke mengepalkan tangannya ia baru sadar jika Naruto adalah pria yang keras kepala, "Terserah kau saja.'' Ucap pria itu dengan seringai aneh menghiasi wajahnya, pria itu pun mulai melangkah hendak pergi dari rumah Naruto.

''Tunggu Uchiha, jangan pergi dulu.'' Sasuke menghentikan langkahnya entah apa maksud Naruto menghentikannya, Sasuke bisa mendengar suara pintu kamar yang mungkin adalah kamar Naruto terbuka lalu tak lama kemudia ia mendengar pintu itu kembali ditutup.

"Berbalik.''

Sasuke berbalik dan hal yang tak disangkanya adalah ia mendapat sebuah lemparan benda berwarna coklat disusul bogeman yang telak mengenai pipinya.

''Kau dasar dobe beraninya kau…''

''Itu balasan untukmu brengsek, dan kukembalikan uang yang dulu kau berikan padaku aku tak sudi menerimanya, sekarang silahkan pergi dari rumahku dan jangan pernah datang lagi kemari.'' Ucapnya ia pun masuk kedalam kamar Menma lalu menguncinya dari dalam.

Sasuke menyeka sudut bibirnya yang berdarah, pukulan Naruto memang kuat karena bagaimanapun dia adalah seorang pria, Sasuke meletakan amplop coklat berisi uang itu keatas meja nakas yang berada disudut ruangan lalu ia pun bergegas pergi dari rumah Naruto tak lupa ia menutup pintu rumah itu.

Saat akan menuju mobil miliknya Sasuke sempat berpapasan dengan pria yang kemarin malam dilihatnya, pria itu pun balas menatapnya penuh selidik, Sasuke tak menghiraukan tatapan pria itu ia pun melewatinya dengan gaya angkuhnya.

''Kau Uchiha Sasuke?"

''Dan kau Hyuuga Neji?"

Kedua pria itu menghentikan langkahnya namun masih saling membelakangi, baru saling menebak nama namun aura permusuhan mulai berkobar ditubuh masing-masing.

''Kuperingatkan padamu jangan pernah kau berani menemui Naruto setelah apa yang kau lakukan padanya dulu.''

''Tak ada larangan untuk siapaun menemuinya selama ia masih berstatus single.''

''Kau..''

''Aku tak ada waktu meladenimu berbicara Hyuuga, kau hanya cukup tahu saja jika suatu hari nanti kau melihat Naruto menjadi mempelaiku.''

Pria bermarga Uchiha itupun kembali berjalan meninggalkan Neji dalam keterpakuannya.

.

.

Neji masuk kedalam rumah Naruto, terlihat raut cemas diwajahnya saat ia akan melangkah menuju kamar sipirang ia melihat sebuah amplop coklat diatas meja.

''Apa ini? Uang?" gumamnya, ia terkejut begitu melihat isi amplop tersebut seketika ia teringat pertemuannya dengan pria bermarga Uchiha itu 'Apa mungkin...' ''Naru, Naru." panggilnya.

''Ya, ah Neji kau sudah datang?" tanya Naruto saat ia keluar dari kamar Menma, iris birunya kembali membulat saat melihat amplop coklat ditangan Neji.

Neji yang melihat gelagat aneh Naruto lantas berkata...''Jika kau bertanya darimana aku mendapat amplop berisi uang ini maka aku akan menjawab jika aku menemukannya diatas meja, jadi bisa sedikit dijelaskan?"

''Itu adalah uang dari Sasuke.'' Jawabnya.

''Dia memberimu uang?"

Naruto menghela nafas, entah kenapa pertanyaan Neji bagaikan sebuah introgasi dari polisi untuknya, ''Ya tapi itu uang pemberiannya 8 tahun yang lalu saat dia pergi meninggalkanku dan Menma.''

''Lalu kenapa bisa berada diatas meja?" tanya Neji masih kurang puas dengan jawaban Naruto, api cemburu sedikit membutakannya saat ini.

''Dia datang kemari mengantarkan Menma, aku sudah mengembalikan uang itu padanya tapi sepertinya dia alah sengaja menaruhnya disana.''

Hening seketika melanda dan sepertinya memang tak ada yang menyadari jika apa yang diobrolkan dua pria dewasa itu sedari tadi didengarkan oleh bocah berusia 7 tahun yang diam-diam menguping dibalik pintu kamarnya, Menma sudah terbangun saat Neji memanggil nama ibunya, ia awalnya ingin menemui Neji namun mendengar topik pembicaraan yang sedikit aneh dari dua pria dewasa itu ia malah jadi tertarik untuk mendengarkannya.

''Jadi benar paman bertopeng aneh itu dia adalah papa." Lirihnya, entah ia harus senang atau malah sebaliknya saat mengetahui kebenaran itu namun saat ia mendengar jika papanya meninggalkannya ketika ia berada diperut ibunya perasaan senang itu seketika lenyap begitu saja, Menma bukan anak yang bisa dibilang bodoh masih segar diingatannya ketika sang mama bercerita serupa padanya tempo hari yang lalu, hatinya yang masihlah polos dan rapuh pastilah akan merasa sedih fakta jika kau ditinggalkan begitu saja itu sangat menyakitkan bukan.

''Papa Sasuke mungkin adalah papa kandungku, tapi papa Neji adalah papa terbaikku." Gumamnya, Menma menjauh dari pintu kamarnya ia pun merebahkan kembali tubuhnya untuk kembali kealam mimpi namun sebelum benar-benar terlelap bocah itu tengah menyusun sebuah rencana untuk papa Sasukenya.

.

.

"Naru." panggil Neji kembali bersuara.

''…" Naruto tak menjawab hanya balas menatap Neji sebagai responnya.

''Bolehkah aku bertanya padamu?"

''Apa itu?"

''Apakah tak sedikitpun dihatimu ada perasaan untukku, apakah kau hanya akan mengganggapku temanmu saja?"

"Aku... maaf Neji.''

''Aku mengerti Naru, tapi untuk kali ini aku serius mengatakan ini padamu Naru, bersediakah kau memakai marga Hyuuga suatu hari nanti?"

Tbc

Akhirnya up juga nih ff sebelum kimi benar2 menghilang sejenak selama puasa hehehe

Maaf jika pendek dan makin membosankan, kimi sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat chapter ini..

Kimi punya kuis nih, silahkan ditebak lagu apa yang bakal neji nyanyiin di pembukaan café barunya nanti.

A kau anggap apa by Ungu

B sebatas mimpi by Nano

C buka hatimu by Armada band

Sengaja kimi pilih lagu indo cos biar pas juga ama ceritanya kayak yang sebelumnya kimi pake lagu mas sammy saat masih digrup bandnya kerispatih :D

buat 10 reader yang jawab benar kimi bakal update secepatnya, tapi kalo banyak yang jawab salah berarti kimi updatenya taun depan ye #kenatavokreader.

Bye2 semuanya maaf juga kimi g balas review kalian…

selamat menjalankan ibadah puasa buat yang menjalankan mohon maaf lahir dan batin ya...