Cuap-cuap bentar ye...
Makasih sebelumnya udah baca ff saya dari awal sampai part ini, makasih juga buat yang koreksi typo, buat pertanyaan kemarin kayaknya banyak reader yang salah jawab ye kkk tapi saya tetap berterima kasih buat review dan semangat kalian saya masih tetap lanjutin ff ini, moga ff saya tetap berkenan dimata para reader semuanya...
Lentera Hati.
Disclameir : Naruto by Masashi Kishimoto
Sebatas Mimpi by Nano
Pairing : SasuNaru, NejiNaru, SaiNaruko.
Genre : Romance, family.
Warning : BL, ga jelas, ff ngawur bikinan orang amatir yang ga pernah lepas dari ke OOC-an chara-nya,m-preg, yang anti cerita homo silahkan menjauh.
Tidak suka jangan di paksakan membaca, silahkan klik back.
Chapter 4.
Aku yang lebih dulu mengenalmu daripada dirinya.
Aku yang lebih dulu memiliki perasaan lebih terhadapmu daripada dirinya.
Cinta yang kumiliki untukmu bahkan lebih besar dibandingkan miliknya.
Aku ada disini disisimu dan selalu bersamamu,
tidakkah kau sedikitpun mau membuka hatimu untukku,
bahkan dalam mimpi pun kau selalu menyebut namanya.
Dua orang pria itu masih berdiam diri menatap satu sama lain, hawa dingin malam mulai semakin terasa karena memang waktu sudah melewati pukul 10 malam.
''Neji , aku tahu mungkin ini sedikit menyakitkan untukmu tapi aku tegaskan padamu, jika aku tidak bisa.'' Lirihnya diakhir kalimat, Neji tak merespon hanya saja binar dimatanya sarat akan kekecewaan atas jawaban sosok pirang yang begitu dipujanya, apa salahnya jika sipirang hanya perlu berkata 'iya', kenapa berat sekali,' batin Neji, perlahan ia menghembuskan nafasnya lalu menunduk dalam.
''Baiklah aku tak akan mengatakan hal itu lagi tapi aku ingin kamu menjawab jujur satu pertanyaan dariku ini.''
"Apa itu?"
''Apa jauh dalam hati dan perasaanmu kau masih mengharapkannya?"
Satu pertanyaan namun mampu mengetarkan seluruh tubuh sang Namikaze, Naruto tidak menjawab atau melakukan gerakan tubuh lainnya, namun kebisuannya sudah mampu menjawab pertanyaan pria bermarga Hyuuga itu, Neji tersenyum pahit kesempatan itu sepertinya sudah tidak bisa diraihnya.
.
.
Menma duduk sendirian diatas ayunan yang menjadi tempat favoritnya akhir-akhir ini jika sedang ingin menunggu temannya atau sekedar melepas lelah, namun kali ini tujuannya bukan itu ia memang sedang melaksanakan aksinya, yaitu sebuah rencana yang sudah disusunnya untuk sang papa tercinta, Uchiha Sasuke.
''Sepertinya ada mini Uchiha disini.'' Ucap sebuah suara berat dengan inotasi sedikit rendah, Menma menoleh saat hafal siapa pemilik suara tersebut batinnya langsung kegirangan, target sudah datang~, sorak batinnya menggema.
''Paman bertopeng aneh." Sahutnya, Sasuke tak terlihat marah atau apapun saat Menma lagi-lagi memanggilnya seperti itu, ia bukan sipirang yang mudah naik darah walau hanya dengan hal sepele sekalipun.
''Kau sedang apa?"
''Aku sedang menunggumu." Ungkap Menma polos dan sewajarnya anak seusianya.
''Menungguku?" kening siraven sedikit mengerut walau Menma masih bocah namun nada bicaranya sarat akan sebuah maksud, masih jelas diingatannya jika kemarin Menma selalu menjawab ketus padanya.
''Iya, paman bolehkah aku bertanya?"
''Apa itu?"
''Paman kenal dengan mamaku dimana?"
''Apa kau percaya jika aku dan mamamu itu dulu adalah kekasih?" Menma terlihat pura-pura berpikir lalu ia pun menggeleng padahal aslinya dalam hati ia sangat percaya buktinya ia ada itu karena siapa.
''Aku pertama kali mengenalnya saat dia datang keperusahaanku.'' Dan dimulailah nostalgia sang Uchiha akan masalalunya namun ia tak sampai membicarakan hal intimnya dengan Naruto pada bocah itu Sasuke hanya sedikit mengubah jalan cerita akhirnya saja, Menma mendengarkan setiap kalimat yang diucapkan Sasuke dengan seksama ia tak ingin melewatkan satu hal pun dari cerita sang papa karena itu demi kepentingan rencananya.
''Sebenarnya aku menyesal karena sudah meninggalkannya begitu saja.'' Sasuke mengakhiri ceritanya yang mungkin jika bukan Menma yang mendengarnya pastilah orang itu akan terharu dengan bola mata yang berkaca-kaca.
''Kenapa paman tega meninggalkan mama, apa karena ada ak- ah maksudku apa paman hanya ingin mempermainkan mama?" sungguh jika diperhatikan Menma terlihat seperti seorang reporter yang sedang mewawancarai seorang pengusaha playboy yang hobi mempermainkan perasaan seseorang.
''Hn, kupikir awalnya seperti itu, dia memang sangat menarik sampai saat ini pun.'' Jawabnya santai dengan sebelah tangan yang menopang dagunya, Menma memiringkan kepalanya lalu mengerjapkan mata bulat berwarna biru miliknya saat tanpa sengaja ia melihat seringai aneh dari bibir sang papa walau hanya sekilas.
"Lalu apa yang akan paman lakukan sekarang? Mama sudah punya papa Neji loh.''
Gotcha , Menma sudah menantikan pertanyaan yang dipendamnya sejak tadi, ya tujuan awalnya adalah melihat ekspresi wajah Sasuke saat mendengar nama Neji, dan hal yang mengejutkannya adalah rahang siraven langsung mengeras.
''Menurutmu lebih tampan siapa aku dengan papa Nejimu itu?"
''Tentu saja pam-.'' Oops Menma langsung menutup mulutnya dan Sasuke langsung memasang seringai aneh kembali, duh dasar mulut sialan! Batinnya mengumpat.
''Hn kau pun akhirnya mengakui ketampananku.'' Menma menepuk keningnya, apa benar papanya yang terlihat cool dan so perfecto itu bisa senarsis ini apa jangan-jangan papanya itu punya dua kepribadian dan papanya yang sebenarnya adalah papanya dengan kepriadian satu lagi.
''Kau kenapa mini Uchiha?" Tanya Sasuke kembali ke mode biasa, dingin dan tegas.
''Aku bukan mini Uchiha tapi mini Namikaze.'' Ketusnya dengan kedua pipi bergarisnya yang mengembung.
''Kau yakin menyebut dirimu mini Namikaze, bukan mini Hyuuga.'' Eh? Duh lagi-lagi Menma merasa tersudut dan ia benar-benar menyesal karena sering meniru kebiasaan pamannya yang hobi tersenyum palsu dan berkata terlalu jujur pada oranglain tak peduli jika ucapannya akan menyinggung syukur-syukur jika itu adalah pujian.
''Tapi kan di data keluargaku hanya ada marga mama.'' Walau lidahnya terasa kelu untuk menjawab namun Menma tetap tak mau kalah, harga dirinya yang mengatakan demikian.
"Kau memang…'' Sasuke menggantung kalimatnya hal itu justru membuat Menma penasaran akan lanjutannya.
''…''
''Mini Uchiha.''
Hii, Menma langsung bergidik ngeri melihat aura dingin menguar dari tubuh papanya, jangan takut Menma kau harus bertahan demi rencanamu dan demi kebahagiaan mama, batinnya berdoa.
''Lalu rencana paman bertopeng?"
''Tentu saja aku akan membuat mamamu kembali padaku dan dia mengakui sesuatu.''
''Sesuatu?"
''Hn, sesuatu yang disembunyikannya dariku.''
Menma mengernyit semakin tidak mengerti kata-kata papanya itu sedikit sulit dipahami oleh anak seusianya, cih! Menma benar-benar sebal dibuatnya.
''Paman jika bicara jangan…''
''Aku memang sengaja tak ingin menyebutkannya dulu padamu karena aku belum memiliki bukti yang cukup akurat.''
''Bukti apa?"
''Jika kau ingin ikut denganku maka kau akan kuberitahu, bagaimana?" tawarnya.
Menma merasa seperti ada lampu yang menyala di atas kepalanya buru-buru ia mengangguk sebelum papanya berubah pikiran, hmm aku mencium bau uang dan mainan bagus, batinnya sedikit mengeluarkan sipat bibinya yang sedikit matre dan royal itu.
''Aku ikut tapi jika paman bertopeng berjanji akan membelikanku mainan favoriteku.''
'Oh ternyata dia memang separuh Namikaze.' Pikir siraven seraya mendengus pelan.
''Baiklah, ayo ikut denganku.'' Menma turun dari ayuanannya dengan gerakan sedikit melompat ia pun dengan bersemangat mengikuti langkah kaki Sasuke.
.
.
Naruto menyelesaikan pekerjaan terakhirnya yaitu merapikan meja makan lalu menunggu sang anak pulang sebentar lagi sudah masuk jam makan malam dan anaknya Menma belum juga pulang kerumah.
''Anak itu tidak biasanya ia bermain sampai selarut ini.'' Gumamnya cemas, dan sekelebat ingatannya tentang kejadian kemarin sore kembali melintas, saat dimana Menma pulang dalam gendongan Sasuke.
''Apa jangan-jangan dia...''
''Mama aku pulang!" seruan dari sang anak yang masuk kedalam rumahnya membuat pemikiran awalnya sirna, Naruto menghela nafas lega.
''Menma darimana saja ka..." Naruto tercengang nafasnya kembali tercekat, Menma memang kembali namun yang membuatnya harus menjadi patung dadakan adalah sosok dibelakang anaknya, yap siapa lagi jika bukan Uchiha 'egois' Sasuke, hmm ia bahkan sudah menambahkan nama tengah untuk mantam pacarnya itu.
''Mama, tadi paman bertopeng mengajakku bermain loh.'' Celetuk Menma dengan nada polos dan riang, dan Naruto langsung curiga mendengar nada bicara sang anak yang tidak biasanya itu.
''Kau apakan anakku Uchiha?" tanya Naruto sangsi, ia yang awalnya berdiri kaku kini malah mengeluarkan pose menantang yang sebenarnya sedikit membangun gairah sang Uchiha.
''Hn.'' Jawabnya singkat.
''Teme kau..."
''Kami tadi kebetulan bertemu, benarkan paman.'' Menma mengedipkan matanya yang mau tak mau membuat Sasuke mengangguk tanpa sadar.
''Kebetulan eh? Sungguh ironis.'' Cibir sipirang, entah ia merasakan hawa persekutuan antara anaknya dan juga Uchiha brengsek dibelakang anaknya itu.
''Aku hanya berkata jujur, benarkan paman?"
''Hn.''
'Cih dasar, kalian memang sudah bersekongkol dibelakangku.' Batin Naruto geram.
''Huh ya sudahlah, sekarang kau boleh pulang Uchiha, terima kasih sudah mengantar Menma.'' Ucapnya, ia menghampiri Menma lalu menarik lengannya menjauh dari siraven.
Menma tentu tak tinggal diam, pokoknya Sasuke jangan sampai keluar dari rumahnya, ''Ma tadi paman bertopeng membelikan aku mainan bagus loh, nah karena itu bagaimana jika paman bertopeng ikut makan malam disini, mama pasti sudah memasak kan?"
''Menma...''
''Mama aku sudah lapar, paman bertopeng ayo ikut aku kedapur.'' Menma menarik tangan Sasuke lalu dengan seenaknya melewati Naruto yang diam mematung dengan wajah pucat dan mulut menganga, bukan ia menjadi seperti itu bukan karena sikap anaknya namun tangan sang Uchiha lah yang membuatnya seperti itu, iya Sasuke sempat-sempatnya meremas pantat sipirang yang entah disadari atau tidak oleh Menma.
''Uchiha sialan, mesum, brengsek.''
''Daripada kau mengabsen ketampananku sebaiknya kau siapkan makan malamnya, dobe.'' Tegur Sasuke dengan mimik wajah minta dihajar oleh sipirang, dengan masih menggerutu sebal Naruto pun akhirnya mau juga menuruti ucapan mantan pacarnya itu, sial apa dirinya kembali terkena sihir rayuan gombal si Uchiha brengsek itu.
Malam ini suasana dimeja makan keluarga kecil Naruto terasa hangat, Menma memandang takjub pemandangan didepannya, ya papa dan mamanya duduk satu meja, walau yang satu bertampang masam dan yang satunya lagi bertampang biasa saja alias datar namun hal itu merupakan hal yang diimpikannya selama ini, seburuk apapun situasinya anak mana yang tak ingin makan satu meja dengan kedua orangtua yang lengkap.
Menma memang sudah menginginkannya sejak lama dan baru malam ini keinginannya terkabul dan dalam doanya kali ini pun ia berharap jika papa dan mamanya akan terus makan dalam satu meja kapanpun itu, dan mengenai segenap rencana Menma ia sebenarnya lebih berfocus menyatukan kembali hubungan Sasuke dan Naruto apapun yang terjadi.
'Maafkan aku papa Neji tapi aku rasa papa Sasuke jauh lebih kuiinginkan, tapi tenang saja papa Neji tetaplah papa terbaik bagiku selama ini.' Batinnya dengan raut wajah tak hentinya mengumbar senyum.
''Jangan tersenyum aneh seperti itu Menma, kau membuatku takut.'' Cibir Naruto, ia masih kesal pada sikap anaknya yang seenaknya menyuruh Sasuke duduk disebelahnya, apa meja makan itu terlalu kecil sehingga tidak ada tempat lain, begitulah kira-kira jeritan batin Naruto.
''Paman bertopeng sangat serasi dengan mama makanya aku menyuruhnya duduk dekat mama.'' Jawab Menma asal.
''Jawaban macam apa itu.'' Dengusnya sebal, Naruto mendelik kearah siraven dengan tatapan bengisnya.
''Apa lihat-lihat kau Uchiha teme.''
''Tidak baik mengumpat didepan anak-anak dobe.''
''Paman benar ma, ah iya paman malam ini menginap saja ya dirumah, tenang saja papa Neji tidak akan datang kok malam ini.'' Usul Menma yang diiringi satu kedipan pada Sasuke.
''Hei jangan seenaknya saja memutuskan Menma, dan lagi darimana kau tahu jika Neji tidak akan datang?" Naruto menatap curiga Menma yang saat ini sedang nyengir lima jari.
''Tadi papa Neji sempat menelpon kok ma.''
''Oh ya lalu kenapa tidak bilang jika Neji menelpon heum?"
''Karena mama sibuk."
"Sibuk?"
Menma perlahan turun dari tempat duduknya mendorong pelan kursi yang didudukinya kedepan, ''Iya sibuk menggoda paman bertopeng.'' Dan seketika bocah itu sudah menghilang dari pandangan kedua orangtuanya, Sasuke yang jarang berekspresi pun memasang wajah terpana akan ucapan anaknya sejenak sedangkan Naruto, oh tidak jangan ditanya lagi karena sepertinya gunung api dikepalanya akan segera meletus.
''Namikaze Menma, KEMARI KAU BOCAH!" teriakan maha dahsyat pun kembali menggema beruntung Sasuke langsung menutup kedua telinganya demi mencengah kemungkinan telinganya akan tuli sejenak.
.
.
"Dasar anak itu selalu saja seenaknya.'' Gerutu Naruto seraya menyibukan dirinya dengan mencuci peralatan bekas makannya diwashtaple.
Tap tap
Grep
Deg! Jantung Naruto serasa melompat dari tempatnya saat merasakan seseorang memeluknya dari belakang.
''Kurasa kalimat Menma ada benarnya.''
''Apa maksudmu Uchiha?"
''Jika kau memang sedang sibuk menggodaku sejak tadi.''
''Dengar Uchiha aku sama sekali tidak ada niatan menggodamu jadi sebaiknya cepat jauhkan dirimu dari tubuhku.''
''Kau sungguh wangi, aromamu tak berubah sejak dulu.''
Naruto memutar bola matanya, kenapa sih semua Uchiha itu seenaknya dan sekarang ia baru sadar juga sikap pura-pura tak mendengar Menma itu ternyata juga turunan dari pria yang masih memeluknya itu, oh kapan anak itu mewarisi sifatku, batin Naruto nelangsa.
''Uchiha lepaskan aku.'' Tegasnya sekali lagi.
''Hn.''
''Uchiha kubilang..."
''Panggil aku Sasuke.''
''Uch..haah~ baiklah, Sasuke lepakan aku kau tidak lihat jika aku sedang bekerja.''
Sasuke pun pada akhirnya menurut juga ia melepaskan pelukannya dan membiarkan Naruto menyelesaikan pekerjaannya.
.
.
Malam semakin larut dan Sasuke memang sengaja menginap dirumah Naruto, si pirang tentu saja awalnya menolak keras dan mati-matian mengusir siraven keluar dari rumahnya namun pria itu bahkan tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berbaring, ya siraven saat ini dengan santainya membaringkan diri diatas ranjang Naruto.
''Baiklah aku menyerah kau boleh menginap tapi jangan dikamarku, sana dikamar Menma.''
''Kau ingat anakmu mengunci kamarnya jadi aku tak bisa masuk kedalam.'' Sasuke memang tidaklah bohong soal kamar Menma yang terkunci karena Naruto sendiripun sedari tadi sangat ingin memarahi anaknya, namun apalah daya Menma sejak kabur dari meja makan ia sama sekali tak keluar kamar dan saat Naruto mencoba masuk ternyata pintunya dikunci dan sialnya ia tak memiliki duplikatnya.
Keheningan melanda sejenak hingga Naruto kembali membuka suaranya, "Apa yang sebenarnya kau rencanakan Sasuke?'' tanya Naruto.
''Aku hanya ingin kamu.''
''Kau pikir ini mudah, tidak, takan semudah itu Sasuke, kau bahkan sudah membuatku merasa tak memiliki harga diri saat itu.''
''Aku akui jika memang aku saat itu sudah mempermainkan perasaanmu, tapi kau pikir aku tak menyesal."
''Kau merasa menyesal? Kupikir orang brengsek sepertimu tak memiliki rasa penyesalan sama sekali.'' Cemoohnya, Sasuke tak menggubris sama sekali ucapannya karena bola mata hitamnya sejak tadi terus mengamati Naruto yang kini sibuk mengancingkan kancing piyama tidurnya.
Grep
Bruk
Sasuke tanpa aba-aba langsung menarik tangan Naruto hingga membuat sipirang terhuyung kedepan lalu menabrak tubuh Sasuke.
''Kau ingin aku membuktikan rasa penyesalanku?"
''Apa itu perlu?"
''Hn."
Jantung Naruto lagi-lagi berdebar dengan kencang kala situasi yang sama terjadi antara dirinya dan juga mantan pacarnya itu hingga tanpa disadarinya Sasuke sudah membalikan posisinya menjadi diatas Naruto.
Cklek
''Mama.. aku.. ah tidak jadi."
Pintu kamar Naruto yang pada dasarnya emang belum sempat terkunci –atau memang jarang dikunci- terbuka secara tiba-tiba dan secara langsung menampakan sosok mungil Menma diambang pintu lagi-lagi anak itu datang disaat moment yang kurang tepat.
''Menma..."
''Mama aku mau..."
''Kau mau apa, Menma?" tanya Naruto melihat gelagat aneh Menma, apa anak itu minta dibuatkan susu malam ini dan hal yang belum disadarinya adalah kondisinya yang masih berada dibawah sang Uchiha.
''Aku mau kok punya adik lagi...''
''Haa?" iris biru Naruto membola dan ia memang baru sadar jika kondisinya saat ini memang tak layak dilihat oleh anak-anak.
"..Asalkan papanya paman bertopeng.'' Lanjutnya.
Brak
Pintu ditutup dengan sedikit kasar oleh sang anak lalu terdengar langkah kaki yang secepat kilat menjauh dari kamar Naruto.
''MENMA!" dan lagi-lagi Naruto harus berteriak memanggil nama yang sama dimalam hari.
.
.
Menma bangun pagi-pagi sekali dengan perasaan gembira karena ini pagi pertamanya ketika ia bangun dan mendapati sosok papanya sedang tidur bersama sang mama, ah jika saja mereka benar-benar bersatu Menma pasti akan menjadi anak dengan kebahagiaan yang sempurna.
Menma bergegas turun dari ranjang mini miliknya lalu ia pun berjalan kearah kamar mandi, setelah mencuci muka dan menggosok gigi Menma menatap pantulan dirinya dicermin didepannya.
''Aku benar-benar mini Uchiha seperti ucapan papa." Gumamnya saat ia sadar jika wajahnya memang lebih mirip Sasuke.
''Ah aku lupa jika hari ini aku harus menjalankan rencana selanjutnya.'' Gumamnya lagi ia mengambil secarik kertas lalu mencoret beberapa tulisan disana.
''Hmm rencana berbincang dengan papa hingga menginap disini sudah, selanjutnya membuat papa sedikit cemburu lalu ia akan meminta mama baikan, hmmm hmm.'' Menma mengangguk-anggukan kepalanya, bocah itu merapikan sedikit penampilannya lalu bergegas keluar dari kamar mandi.
.
"Mama bangun, ini sudah pagi loh.''
''Enghh.'' Terdengar erangan dari bibir Naruto pelan lalu tak lama terdengar kembali dengkuran halus dari bibir sang mama, sedangkan sosok yang memeluk pinggangnya dari belakang sepertinya masih tertidur dengan pulas –walau sebenarnya hanya pura-pura tidur saja.
''Mama cepat bangun, aku lapar sekali, apa karena dipeluk paman bertopeng mama jadi tidak mau bangun.'' Menma masih berusaha membangunkan sang mama dengan cara menggoyangkan tubuhnya.
Kedua bola mata Naruto membola, "GYAAAA!" teriakan super dahsyat milik Naruto secara tiba-tiba menggema dipagi hari.
''Kau ini hobi sekali berteriak ya.'' Celetuk Sasuke saat dirasa dengungan ditelinganya sudah menghilang.
''Kau teme sialan, apa yang baru saja kau lakukan cepat menyingkir." Serunya seraya mendorong dada bidang pria didepannya.
Sasuke bergeming, ia malah sengaja memajukan dadanya agar bisa merasakan sentuhan tangan Naruto.
''Hn.''
Menghela nafas pasrah akan kelakuan Sasuke adalah hal yang dilakukan Naruto, percuma semakin ia mengancam Sasuke malah akan semakin tertantang dan itu juga merupakan sebuah ancaman terbesar untuk dirinya, ya Naruto hanya merasa takut jika ia akan kembali jatuh pada jerat mantan pacarnya itu.
"Sebaiknya aku menyiapkan sarapan pagi saja.'' Gumamnya seraya beringsut dari tempat tidurnya.
.
.
Sarapan pagi hari ini memang sedikit berbeda dari pagi sebelumnya, dimana lagi-lagi Naruto harus terjebak duduk bersisian dengan Sasuke dan Menma oh lihat saja wajah anak itu mirip anak yang baru saja menemukan harta karun dinegri antah barantah.
''Mama, apa nanti mama akan datang kepesta pembukaan cafe milik papa Neji?"
"Cafe?"
Itu bukan Naruto tapi Sasuke yang langsung menyipitkan matanya tajam begitu mendengar nama saingannya disebut, yap mulai saat ini Neji sudah resmi menjadi rivalnya.
''Iya paman, papa Neji membuka cafe baru dan dia mengundang aku dan mama kepesta pembukaannya, paman mau ikut juga? Tidak apa-apa kok nanti aku akan bilang pada papa kalau paman akan hadir karena undanganku."
''Aku tak begitu menyukai pesta.'' Ujarnya dingin, Menma menyeringai melihat raut wajah Sasuke mengeras ia yakin jika sebenarnya sang papa sedang perang batin saat ini.
''Mama sudah pasti datang.''
''Apa pria itu bermaksud melamarmu?"
''Tidak, lagipula untuk apa kau bertanya seperti itu.''
''Hanya ingin memastikan saja.'' Jawab Sasuke kalem ia kembali menyantap sarapannya.
Setelah sarapan pagi selesai Menma mengantar kepergian Sasuke sampai didepan pintu, "Apa nanti paman akan datang lagi kemari?"
''Sepertinya untuk tiga hari kedepan aku tidak akan berada di Suna.'' Jawab Sasuke seraya membuka pintu mobilnya lalu duduk dikursi kemudinya.
''Memangnya paman mau pergi kemana?"
''Konoha, ada yang harus kuurus disana, aku akan datang kemari jika urusanku itu selesai.'' Tandasnya, Menma memasang wajah murung baru kemarin ia merasa hidupnya lengkap dan sepertinya akan kembali hampa selama tiga hari, 'yosh Menma kau harus semangat papamu hanya pergi tiga hari, rencana mendekatkan papa dan mamamu tak akan terganggu.' Batin sang bocah menyemangati dirinya sendiri.
''Kalau begitu hati-hati ya.''
''Hn.'' Jawab Sasuke lalu melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Naruto.
.
.
Naruto mematut dirinya dicermin penampilannya bisa dibilang sederhana saja, hari ini adalah hari dimana pesta pembukaan cafe milik Neji dibuka.
''Mama aku sudah siap.'' Menma berseru dengan nada riang, bocah itu terlihat sangat menawan dan entah kenapa Naruto merasa seperti melihat Sasuke –ah anak itukan memang anak pria itu.
"Ayo kita berangkat.''
.
.
Suasana pesta dicafe baru itu sangat meriah banyak diantaranya adalah rekan kerja Neji dan mungkin saja pelanggan yang dulu pernah menjadi langganan dicafe lamanya, Neji berdiri disebuah panggung kecil dicafe itu, ah Naruto jadi ingat jika dulu ia selalu menjadi penyanyi dicafe milik Neji jika ada pelanggan yang memintanya bernyanyi.
Para tamu duduk dimasing-masing bangku yang sudah tersedia dan khusus Naruto dan Menma mereka duduk dideretan paling depan hampir dekat dengan panggung karena memang jarak panggung sengaja tak terlalu dekat dengan meja para tamu.
''Selamat malam semuanya, terima kasih sudah menyempatkan diri datang kepesta sederhana yang saya adakan malam ini, sebagai sambutan awal saya akan bernyanyi dan lagu ini kupersembahkan untuk seseorang.'' Ucapnya.
Neji mendudukan dirinya disebuah bangku kecil yang sudah dipersiapkan olehnya, alunan musikpun mulai terdengar.
Saat pertama kudekati dirimu
menuruti semua, inginmu
dan tiba waktumu tuk memberi jawaban
ternyata kau anggap aku hanya teman.
Bawalah aku kedalam mimpimu
aku takan kecewakan kamu
walaupun itu semua hanyalah
sebatas mimpi.
Jadikan aku kekasih hatimu
aku menginginkan kamu
sungguh-sunguh merasa
Kujatuh cinta.
Naruto memicingkan matanya, ia menatap sosok diatas panggung yang kini juga sedang menatapnya dan kini Naruto sadar jika lagu yang dinyanyikan Neji itu adalah gambaran perasaan pria itu untuknya.
Telah berbagai cara
tuk dapatkan hatimu
tetap saja kau anggap aku hanya teman.
Neji beranjak turun dari atas panggung lalu berjalan perlahan menuju tempat dimana Naruto duduk, Menma menatap Neji dengan penuh rasa bersalah, ia tahu betapa banyak hal yang diberikan oleh Neji untuknya dan juga untuk mamanya ia merasa sedikit menyesal karena ia kini malah memberikan jarak pada pria itu karena focus Menma saat ini adalah bagaimana caranya supaya sang mama mau kembali pada papa kandungnya, papa Neji maafkan aku, batinnya bocah itu lirih.
Bawalah aku kedalam mimpimu
aku takan kecewakan kamu
walaupun itu semua hanyalah
sebatas mimpi.
Jadikan aku kekasih hatimu
aku mengingikan kamu
sungguh-sungguh merasa
kujatuh cinta pada dirimu.
Pada bagian itu Neji sempat berdiri disamping Naruto lalu menyentuh pundak sipirang kemudian ia pun kembali keatas panggung dan mendudukan dirinya dibangku semula.
Bawalah aku kedalam mimpimu
aku takan meninggalkan kamu
walaupun itu semua hanyalah
sebatas mimpi.
Jadikan aku kekasih hatimu
aku menginginkan kamu
sungguh-sungguh merasa
kujatuh cinta pada dirimu.
(song by Nano)
Lagu pun berhenti diiringi tepuk tangan dari para tamu yang hadir, Neji kembali berdiri lalu mohon undur diri dari atas panggung pria itu pun berjalan menghampiri Naruto dan Menma untuk ikut bergabung.
''Papa Neji suaramu bagus.'' Puji Menma sebisa mungkin ia bersikap seperti biasanya.
''Ah benarkah? Tapi suara mamamu jauh lebih indah daripada papa.'' Ujarnya membuat Naruto sedikit tersipu.
''Eh~? Benarkah mama bisa bernyanyi?" tanya Menma tak percaya karena untuk hal yang itu Menma memang baru tahu.
''Tentu saja, dulu mamamu selalu bernyanyi dicafe milik papa yang dulu.''
''Wah, aku mau dengar, mama ayo bernyanyi disana aku mau mendengar suara mama.'' Bujuk Menma yang tentu saja dijawab gelengan dari sang mama.
''Tidak, mama tak akan bernyanyi karena saat ini status mama hanya tamu.''
Menma mengembungkan pipinya, ''Bhuuu.''
''Bilang saja mama hanya mau bernyanyi jika didepan paman ber-hmmm." Mulut Menma buru-buru dibekap Naruto hampir saja bocah itu keceplosan dan Naruto tak mau mengambil resiko.
''Apa maksudnya Menma, paman siapa?"
''Bukan apa-apa Neji, Menma akhir-akhir ini selalu melantur jika bicara. Ah mungkin sebaiknya aku buru-buru memasukannya kesekolah barunya biar dia tak terlalu banyak bermain hingga lupa waktu.''
''Memangnya kau belum mendaftarkannya sekolah?"
''Rencananya mungkin akhir minggu ini karena bertepatan dengan tahun ajaran baru." Jawab Naruto.
''Itu benar papa.'' Neji mengacak surai raven Menma.
''Nanti jika sudah sekolah kamu harus rajin belajar dan jadilah anak yang pintar.''
''Itu pasti papa.''
Jawab Menma mantap bocah itu pun kembali mendapat usapan sayang dikepalanya, Neji mengalihkan pandangannya pada Naruto.
''Dan akupun masih belum berhenti untuk berharap, walau mungkin harapan itu sangat tipis.'' Ucapnya setengah berbisik pada Naruto.
Naruto tak merespon ia hanya diam dan lebih memilih melihat kearah lain, dan saat arah pandangnya tertuju pada sudut lain dicafe itu iris matanya seketika membola sempurna.
'Sasuke.'
Tbc
Chapter depan dimulai konflik yang sebenarnya muehehehehe...
Mohon maaf untuk semuanya jika makin kesini ff saya semakin ngawur, mohon maaf juga jika masih banyak kesalahan dimulai bahasa, pengejaan dan juga typo di ff saya..
Sampai jumpa dichapter depan...
