Bunyi ponsel pemuda berambut pirang cerah mulai terdengar, sipirang yang sedang bermalas-malasan terpaksa harus menggerakan tangannya untuk meraih ponsel miliknya yang berada diatas meja nakas yang berada disisi tempat tidurnya.

''Moshi-moshi, Kiba?" sapa Naruto pada si penelpon yang ternyata adalah Kiba, sahabatnya.

['Naru, ak-akku inngin minta maaf jika aku tidak bisa datang saat ini kerumah Gaara, mungkin lain kali saja ya.'] ujar suara di sebrang sana, Naruto menekuk kedua alisnya, ia sempat mendengar nada suara sahabatnya itu tersendat seperti habis menangis atau memang sedang menangis.

''Kiba, kau baik-baik saja?" tanya Naruto dengan nada ragu-ragu.

['Ya, aku baik-baik saja Naru, sudah dulu ya Naru, aku mau melayani pembeli dulu.'] dan tanpa menunggu balasan dari Naruto, Kiba memutuskan sambungan telponnya dan sukses membuat Naruto memandang layar ponselnya dengan kening mengerut.

A Cute Bodyguard

Disclameir : andai Naruto itu punya author, udah author nikahin deh ama si chiken #dichidori.

Pairing : SasuNaru, NejiGaa.

Warning : BL, Typo (mungkin), ga jelas, ff ngawur bikinan orang amatir yang ga pernah lepas dari ke OOC-an chara-nya, buat yang anti cerita buatan saya mohon jangan di paksakan membaca silahkan klik back aja... warning berlaku jadi No Bash.

Ketiga!

-,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Tok tok tok

Tampak sosok pria misterius mengetuk sebuah kaca jendela kamar salah satu penghuni apartement sederhana disudut kota konoha, pria misterius itu terus melakukan kegiatannya sampai sosok pemilik kamar tersebut membuka kaca jendelanya.

Sosok bersurai coklat jabrik dengan tato merah berbentuk segitiga terbalik itu tampak begitu terkejut melihat sosok sipengetuk kaca jendela kamarnya itu.

''Shi-Shino apa yang kau lakukan, baka?'' tegurnya saat tahu siapa sosok itu, ya dia adalah Aburame Shino calon suaminya, entah bagaimana caranya pria itu bisa memanjat kejendela kamarnya yang memang memiliki balkon lumayan lebar dan bisa digunakan untuk menaruh pot bunga.

''Hanya ingin berkunjung saja, memangnya tidak boleh.'' Kata sang pemuda yang tak pernah lepas dari kacamata hitam bulatnya itu.

''Aku tahu kau ingin berkunjung kerumahku, tapi kau tak perlu datang lewat jendela kan, bagaimana jika ada yang melihat lalu mengira jika kau adalah pencuri.'' Kiba memasang wajah aneh yang menurut Shino sangat lucu dan menggemaskan.

''Itu tak masalah, lagipula besok adalah hari penikahan kita, dan aku ingin mengajakmu kesuatu tempat.'' Kiba terdiam, biasanya dia sangat antusias jika Shino akan mengajaknya kemanapun tapi kali ini berbeda, ia seperti merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.

''Tapi…''

''Tak ada kalimat tapi, cepat kau harus segera bersiap-siap.'' Dengan perasaan masih ragu Kiba akhirnya menurut juga.

Kiba meringkuk dengan selimut yang hampir menutupi seluruh tubuhnya an hanya menyisakan separuh wajahnya, airmatanya mengalir sangat deras denga tubuh yang mengigil hebat, ia sungguh ketakutan sejak bertemu dengan pria itu beberapa saat yang lalu.

Ia menatap sosok anjing prliharaannya yang kini menatap khawatir padanya, ''A-Aka..maru.'' lirihnya disela isakannya, tangannya terulur seolah meminta tolong pada anjing kesayangannya.

Akamaru menghampirinya lalu mengusakan kepalanya ketangan Kiba yang terulur, ''Kenapa dia harus kembali, apa dia tidak merasa puas.''

''Woof woof.''

"Dia pembunuh Akamaru, dia….seorang pembunuh.''

Flashback

"Shi-Shika..maru.'' pria tinggi bernama Shikamaru itu tersenyum miring lalu perlahan menghampiri Kiba.

Kiba tersentak kaget lalu refleks memundurkan kursi rodanya, ''Jangan mendekat, pergi!" teriaknya, Shikamaru menghentikan langkahnya.

''Kenapa Kiba? Aku bersusah payah mencarimu selama ini.'' Ujarnya lalu kembali melangkah perlahan.

''Kubilang jangan mendekat! Apa maumu brengsek, kau sudah menghancurkan kebahagiaanku, sekarang sebaiknya kau pergi!" kiba kembali berteriak.

''Tidak!'' Shikamaru meninggikan suaranya, kini jaraknya sudah dekat bahkan sangat dekat dengan Kiba, pria berambut hitam yang diikat tinggi mirip buah nanas itu kemudian berjongkok tangannya terulur bermaksud meraih tubuh Kiba.

''Woof woof!'' suara gongongan anjing menghentikan aksi Shikamaru, ia menoleh kearah seekor anjing berbulu putih berukuran lebih besar dari kebanyakan anjing lainnya menghampirinya.

''Akamaru, kau sudah besar rupanya.'' Ucap Shikamaru, tangan yang tadinya terulur kearah Kiba kini beralir pada anjing putih itu.

Akamaru langsung membenturkan kepalanya pada tangan Shikamaru bermaksud membuat pria itu menjauhi majikannya.

''Kau juga sangat membenciku rupanya.'' Gumamnya pada anjing itu yang kini sedang mengeram layaknya predator.

''Woof woof!" kembali Akamaru menggonggong dengan nyaring.

''Baiklah, baiklah aku sebentar lagi akan pergi, kau ini sama galaknya dengan Kiba, padahal aku pemilikmu sebenarnya.'' Ucap Shikamaru.

Pria itu kembali memandang kearah Kiba yang kini mengalihkan wajahnya kesamping, Shikamaru berdiri lalu berjalan kearah belakang kursi roda yang diduduki Kiba, ia memeluk leher Kiba lalu mendekatkan bibirnya pada telinga Kiba.

''Dengar Kiba, sampai kapanpun perasaanku takan pernah berubah dan aku tak sedikitpun menyesal pernah menyingkirkan laki-laki itu dan membuatmu lumpuh karena dengan begitu kau tak bisa lari kemanapun.'' Bisiknya.

''Kau memang brengsek.'' Shikamaru menegapkan tubuhnya lalu tertawa dengan keras, ia pun berjalan menjauhi Kiba.

''Aku akan datang lagi kemari.'' Ucapnya sebelum benar-benar pergi.

Flashback off

"Akamaru, apa yang harus kulakukan?" tanyanya pada anjing putih yang sudah tertidur lelap disampingnya.

.

.

Naruto memandang langit sore yang mulai berwarna kejinggaan di luar sana dengan perasaan bosan diatas kasurnya yang berukuran sedang, terlihat Kitsune sang rubah peliharaan tertidur pulas dengan tubuh menggelung bulat tak jauh darinya, pikiran pemuda itu sedikit menerawang jauh tertuju pada sahabatnya, Kiba.

''Apa mungkin ia sedang terlibat masalah, padahal aku sangat ingin tahu dimana makam Shino.'' Gumamnya pada dirinya sediri.

Banyak hal yang ingin ditanyakannya pada Kiba saat itu namun sang sahabat seolah menutupi apa hal yang sebenarnya darinya, Kiba seolah menyimpan sebuah rahasia yang mungkin hanya dirinya sendiri yang tahu, 5 tahun lalu saat hari pernikahan Kiba dan Shino akan dilangsungkan tiba-tiba saja sahabatnya itu menghilang tanpa kabar, Naruto mencoba bertanya pada keluarganya namun keluarganyapun mengatakan jika mereka tidak tahu karena Kiba menghubungi keluarganya sehari setelah Kiba menghilang dan ia hanya mengatakan jika ia dan Shino tak jadi menikah dan Kiba pun berkata jika ia ingin hidup seorang diri entah dimana.

"Aku begitu cemas saat itu, kau pergi begitu saja dan saat bertemu kau dalam keadaan seperti itu, ada apa sebenarnya Kiba?"

Kepala pemuda pirang itu serasa penuh dengan berbagai pikiran akhir-akhir ini, bukan hanya keinginannya untuk bertemu dengan ayah dan kakaknya saja tapi tentang sahabatnya dan juga err bagaimana ya mengatakannya, pokoknya hal yang sangat-sangat menyebalkan adalah kenapa dia harus berhadapan dengan musuh bebuyutannya semasa sd itu.

''Arrrrrgggh kenapa dari sekian banyak orang, aku harus ketemu teme menyebalkan yang ngaku-ngaku mantan pacar itu sih.'' Amuknya tak jelas sambil mengacak-ngacak surai pirangnya yang berantakan.

''Berhenti berteriak-teriak seperti orang gila.'' Suara berat namun rendah milik Gaara menghentikan kegiatan brutal Naruto yang sedari tadi sibuk mengacak-acak rambutnya layaknya orang frustasi.

Naruto menghentikan aksi anehnya itu, ia menoleh kearah Gaara yang bersandar pada tiang yang berada di tiap ujung ranjang Naruto dengan sebuah tuxedo hitam ditangannya.

Bruk

Gaara melempar tuxedo ditangannya kearah samping ranjang Naruto.

''Pakai itu lalu ikut denganku, aku tunggu dibawah.'' Ucap Gaara sedikit tak jelas dan malah langsung berlalu begitu saja dari kamar Naruto.

''Dasar aneh.'' Gerutu sipirang dan dengan gerakan kasar ia mengambil tuxedo itu lalu segera bergegas.

Lima menit kemudian.

"Sebenarnya kita mau kemana, Gaara?" tanya Naruto setelah ia selesai berganti baju ia pun langsung menghampiri Gaara yang sedang duduk dengan santai disofa ruang tamu menunggunya.

''Aku diundang keacara pesta peresmian hotel Yamanaka sekaligus pertunangan putri tunggal mereka dengan anak dari pengusaha Shimura.'' Papar Gaara, Naruto sedikit mengerutkan kening saat mendengar sebuah marga yang sepertinya tak asing ditelinganya namun ia lupa kapan pernah mendengar marga itu disebut.

''Lalu kau diundang?"

''Tentu saja tidak, aku hanya menggantikan Kankuro-nii datang saja keacara itu.'' Tukasnya.

''Tapi aku kan tidak diundang kesana.''

''Untuk urusan itu sudah diatur, ayo kita berangkat sebelum malam.'' Ajaknya, Naruto hanya bisa menurut saja toh itu memang sudah menjadi tugasnya mengikuti majikannya kemanapun ia pergi.

.

Suasana pesta di sebuah gedung hotel tampak meriah dengan berbagai tamu dari kalangan pebisnis di kota Suna bahkan kota lain seperti Oto dan juga Kiri ikut berdatangan memberikan ucapan selamat atas berdirinya hotel Yamanaka dan juga selamat atas pertunangan putri tunggal dari sang pemilik hotel.

Disudut lain Naruto dan Gaara hanya berdiam diri mereka hanya menghampiri sang pemilik hotel sebentar lalu memilih sudut yang tak terlalu banyak orang untuk sekedar menikmati pemandangan sekitar hotel yang terdiri dari 20 lantai itu, pesta sendiri diadakan dilantai dasar walau begitu pemandangan indah ditaman sekitar hotel tetap bisa dinikmati dengan nyaman.

Gaara yang bosan melihat pemandangan luar lalu beralih mengamati para tamu yang sepertinya masih banyak yang berdatangan dari luar, dan pandangannya terpaku pada sosok bertuxedo abu-abu dengan aksen mawar hitam dibagian dada kiri tuxedonya.

Pria berambut coklat panjang yang diikat sedikit ujungnya itu pun menoleh tepat kearahnya hingga kedua iris berbeda warna itu bertemu, Gaara sedikit kaget melihat warna mata itu, mata yang mengingatkannya akan seseorang yang dulu pernah dekat dengannya.

''Hi..nata.'' bisiknya menyebutkan sebuah nama, pria itu membuang wajahnya cept lalu kembali meneruskan langkahnya, Gaara tanpa sadar menggerakkan tubuhnya lalu mengikuti pria yang ternyata adalah Hyuuga Neji musuh keluarganya.

"Ne, ne Gaara coba lihat itu, kolam air mancur itu terbuat dari kristal.'' Pekik Naruto denan iris mata yang berubah menjadi bintang, tak ada sahutan dari arah sampingnya ia pun memutuskan untuk menoleh dan benar saja majikannya itu kini sudah menghilang entah kemana, diedarkan pandangannya keseluruh ruangan untuk mencari keberadaannya dan hasilnya sosok majikannya sudah tak terlihat.

Sipirang pun mulai panik ia beranjak dari tempatnya lalu mencari sosok majikannya bisa gawatkan jika majikannya itu nanti ditemukan dalam keadaan yang mengenaskan seperti dulu ketika ia pertama kali menemukannya.

''Gaara, oi Gaara! Kau dimana?" teriaknya mencari sosok majikannya diantara kerumunan para tamu.

"Gaa..eh?" Naruto tiba-tiba saja mematung ditempatnya begitu dilihatnya sosok yang sangat tak asing baginya, ia terus terdiam hingga tak terasa airmatanya mengalir dikedua pipinya.

Sosok tak asing yang juga berambut pirang dengan mata biru yang ia yakin adalah sosok ayahnya berada diantara para tamu undangan, walau posisinya sangat jauh namun Naruto tak mungkin bisa melupakan sosok yang selama sepuluh tahun ini selalu dicarinya, ya sosok itu adalah Namikaze Minato ayahnya, Naruto sangat yakin itu.

Pikirannya untuk mencari majikannya kini teralihkan menjadi mengejar sosok ayahnya yang tiba-tiba saja sudah bergerak cepat keluar dari gedung hotel, secepat yang ia bisa Naruto pun mengejarnya, ia harus bisa mencegah ayahnya pergi, ia tak mau kehilangan sosok itu lagi.

''Papa!" teriaknya memanggil sosok Minato yang semakin cepat berlalu.

"Papa, tunggu!" teriaknya lagi namun sosok itu seperti tak menghiraukannya atau memang tak mendengar teriakan sang anak.

Sosok itu mengarah kearah belakang hotel, Naruto yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menemukan sang ayah pun mempercepat langkahnya, tinggal sedikit lagi sosok itu bisa terjangaku olehnya.

''Pa.."

Brugh

''Ittai… oi kalau jalan lihat-li.. TEME SEDANG APA KAU DISINI?!" sembur Naruto saat merasakan tubuhnya terhempas lalu jatuh terduduk ditambah saat tahu siapa sipenabraknya itu.

''Hn, aku yang harusnya bertanya, Dobe." Ucap orang itu kalem, Naruto tak menggubris ia mengedaran pandangannya kearah dimana tadi ia melihat sosok Minato berjalan.

''Kau lihat apa yang kau lakukan, aku jadi kehilangan jejak Papa gara-gara kau Teme!" serunya kesal, sia-sia usahanya mengejar sang Papa sampai-sampai ia melupakan tugasnya sebagai bodyguard.

''Kau pikir apa yang kau lakukan padaku tak sama eh, kau juga membuatku kehilangan jejak Tou-sanku.''

''Eh Tou-sanmu?" beo Naruto.

''Hn, sebenarnya aku kemari untuk memburu targetku, tapi karena aku seperti melihat sosok Tou-san ku, aku pun berusaha mengejarnya tapi dia menghilang sejak kau menabrakku.'' Jelasnya dengan nada datar.

''Tapi bukannya keluargamu itu sudah…''

''Aku tak bilang jika kedua orangtuaku meninggal, aku hanya mengatakan anggota keluarga saja dobe, mansion Uchiha tak hanya dihuni keluargaku saja.''

Naruto terdiam jika memikirkan tentang keluarga selalu sedih, dan lagi usahanya untuk bertemu sang Papa gagal sudah, "Hei teme, apa menurutmu ini aneh atau memang kebetulan.'' Ucap Naruto tiba-tiba.

''Maksudmu?"

''Tou-sanmu dan Papa, kau bilang kau tadi melihat Tou-sanmu dan aku melihat Papa lalu kita berakhir mengejarnya sampai kemari walau harus kehilangan jejak mereka apa menurutmu itu tidak aneh?"

''Hn sepertinya kau benar.''

''Apa jangan-jangan mer…"

Krosak-krosak

''Siapa itu?" kedua pemuda itu refleks menoleh kearah semak-semak yang tumbuh disekitar taman belakang hotel tak lama muncul sosok rubah orange berekor sembilan milik Naruto disana.

''Kitsune, sedang apa kau disini?" Naruto menghampiri rubah peliharaannya yang seingatnya ia tinggalkan dikamarnya lalu maraih rubah mungil itu.

''Itu hewan milikmu?"

''Ya, dia adalah Kitsune yang aku dapatkan dari Kiba, kau masih ingat dia kan?"

''Hn.'' Gumam Sasuke dan entah ini juga merupakan kebetulan atau tidak ia melihat sosok burung hitam terbang menghampirinya, Sasuke mengulurkan tangannya lalu bertenggerlah seekor burung gagak dilengannya.

''Karasu apa yang sedang kau lakukan disini?" 'bagaimana dia bisa lepas dari sangkarnya?' batin Sasuke bingung.

''Kau memelihara gagak teme?"

"Hn,''

''Se-sejak kapan kau menyukai gagak, kau bukan penyihirkan?" tanya Naruto dengan nada ngeri keran takut jika sosok Sasuke adalah penyihir, ck ck.

''Tentu saja bukan bodoh, burung gagak ini tiba-tiba saja masuk kedalam kamarku dalam keadaan terluka dan aku pun langsung mengobati lukanya saat akan kulepas dia tak mau pergi makanya kupelihara saja.''

''Ku pikir kau tak akan peduli.'' Cibir Naruto mengingat sosok musuhnya itu sekarang adalah sosok berdarah dingin, dan ngomong-ngomong tentang itu apa jangan-jangan kedatangan Sasuke kemari untuk memburu majikannya.

''Teme, apa target yang kau maksud itu…''

Sasuke mendengus saat dirasa moment romantis yang sempat tercipta kini lenyap, ''Ck, kau pasti sudah tahukan siapa yang kumaksud?"

''Khe, jangan harap kau bisa menyentuhnya." Naruto memasang mode siaga, walau ia masih dalam keadaan bersedih ia tetap tak boleh melalaikan tugasnya sebagai bodyguard dan ia pun sempat merasa bodoh karena sudah mengobrol layaknya teman dengan musuhnya sendiri.

''Kali ini aku tidak akan membiarkan misiku gagal lagi dobe.'' Sasuke pergi berlari meninggalkan Naruto, sipirang pun tak tinggal diam ia pun berlari mengejar Sasuke yang sepertinya sedang menuju tempat dimana Gaara berada.

''Teme tunggu jangan lari.''

.

.

Neji mengeram kesal seraya mengerutu didepan layar ponselnya, ia sudah menghubungi Sasuke berkali-kali namun panggilannya tak dijawab sama sekali oleh yang berangkutan.

''Sial, kemana Uchiha brengsek itu, targetnya sudah ada didekatku tapi dia belum datang juga.'' Umpatnya kesal.

''Ehem, boleh aku bertanya?" Neji sontak menoleh keasal suara yang menyapanya.

''Apa kau sedang bertanya padaku?"

''A..apa kau Hi…? Ah maksudku kau mirip seseorang yang kukenal?"

"Aku Neji.'' Ujarnya memperkenalkan diri.

Gaara menunduk ternyata ia salah orang, yah mana mungkin sosok didepannya adalah Hinata karena secara fisik mereka jelas berbeda, dia pria sedangkan Hinata adalah wanita, ukh betapa bodohnya Gaara, namun Gaara memang tak menungkiri jika wajahnya hampir mirip dengan gadis itu ditambah bola mata berwarna putih yang tak berpupil itu yang hanya dimilik oleh keturunan Hyuuga.

'Tunggu, Hyuuga apa pria ini juga…'

"Gaara!" teriakan Naruto membuat Gaara terpaksa menoleh kearah asal suara bodyguardnya.

''Na..Naruto.''

Naruto terengah-engah saat sudah berada didepan majikannya, beruntung berkat bantuan Kitsune ia bisa menyusul Sasuke, ya Naruto melemparkan Kitsune kearah si Uchiha bungsu itu hingga yang sukses mengenainya dan sedikit menghambat gerakan Uchiha bungsu itu.

''Ayo kita pergi Gaara disini sudah tak aman.'' Naruto langsung menyeret majikannya menjauh dari tempatnya berdiri.

"O..Oi…" Gaara yang tak mengerti hanya pasrah saja diseret oleh bodyguardnya namun arah pandangnya kembali terpaku pada sosok Neji.

Tbc…

Mohon maaf jika part ini makin gaje ye..

Thanks buat semuanya.. kalo ada kesalahan tolong diberitahukan ama kimi biar segera diperbaiki…

spesial thank's buat semua reader yang udah baca plus review di part kemarin,, maaf kimi belum bisa bales reviewnya di part ini...

sampai jumpa part selanjutnya..