Aku tidak tahu harus memulai darimana kisah hidupku ini tapi bila ada yang masih penasaran denganku baiklah aku akan menceritakannya pada kalian, namaku Neji atau lebih tepatnya Hyuuga Neji anak pertama dari keluarga Hyuuga yang tak pernah merasakan indahnya dunia luar, hidupku hanya terkurung dimansion megah milik keluarga utama Hyuuga dan hanya bisa bergaul dengan para pembantu dirumahku dan juga kedua adikku.
Aku menjalani home schooling selama ini terutama bagaimana caranya berbisnis oleh guru private ku, tak banyak yang tahu tentangku bahkan publikpun tak mengenalku, namun setelah kematian ayahku aku mulai menunjukan eksitensiku walau tak sepenuhnya aku memperlihatkan jati diriku, aku tahu jika keluarga kami memiliki musuh sejak jaman kakekku dahulu, mereka dari keluarga Sabaku
A Cute Bodyguard
Disclameir : andai Naruto itu punya author, udah author nikahin deh ama si chiken #dichidori.
Pairing : SasuNaru, NejiGaa.
Warning : BL, Typo (mungkin), ga jelas, ff ngawur bikinan orang amatir yang ga pernah lepas dari ke OOC-an chara-nya, buat yang anti cerita buatan saya mohon jangan di paksakan membaca silahkan klik back aja... warning berlaku jadi No Bash.
Keempat!
Gadis cantik berambut lavender itu berlari masuk kesebuah taman yang cukup ramai ditengah kota, dres selututnya berkibar seiring irama berlarinya yang lumayan cepat, disebuah bangku taman tampak sosok sebayanya tengah duduk sambil membaca buku bersampul cream seolah tak menyadari kedatangan gadis itu atau mungkin gadis itu tak dikenalnya karena saat gadis itu berada didepannya ia tak merespon kedatangannya sama sekali.
"Uhm, ano…eto..ano.''
''Bicara yang benar nona, aku sedang tak ingin diganggu saat ini jadi jika ada yang ingin kau bicarakan katakanlah sekarang.'' Ucap sirambut merah maroon tanpa mendongak pada gadis cantik itu.
''Gomen, I-ini a-aku me..menemukan ini saat kita tak sengaja bertabrakan.'' Gadis itu memberikan sebuah gantungan kunci berbentuk hewan rakun yang dimana terdapat tulisan Ichibi ditengah perutnya.
''Ah benar itu punyaku, arigatou sudah menemukannya karena ini benda paling berharga yang kupunya.'' Gadis cantik itu terlihat merona.
''Sama-sama, uhm ano kalau boleh tahu siapa namamu?"
''Namaku Gaara.''
''Aku Hyuuga Hinata, salam kenal Gaara-kun.''
.
.
Gaara melamun sepanjang perjalanan sejak pertemuannya dengan pemuda bernama Neji itu ia terus dilanda banyak pertanyaan dalam pikirannya, pria itu mengingatkannya akan sosok sahabatnya yang meninggal setengah tahun yang lalu.
Gadis itu meninggal karena penyakit yang dideritanya kambuh, ya gadis itu menderita penyakit jantung, semasa kecil jantung gadis itu sudah lemah dan jika ia merasa sebuah beban yang berat penyakit itu akan dengan mudah menyerangnya dan telpon terakhir yang diterima oleh Gaara dari gadis itu sungguh membuat hatinya sedih dan kehilangan.
'Gaara-kun, kenapa hidup ini terasa tak adil, aku mencintainya tapi dia membuatku kecewa, dia berjanji akan melamarku namun apa kabar yang baru kudengar darinya, dia bilang jika dia akan bertunangan akhir tahun ini dengan seseorang yang dicintainya sedangkan aku hanyalah mainannya saja, aku..aku..'
Ucapan itu berhenti begitu saja disusul bunyi tubuh yang jatuh tersungkur tak lama Gaara mendengar seseorang berteriak memanggil nama gadis itu lalu ia pun masih bisa mendengar jika salah seorang dari mereka mengatakan jika jantung gadis itu berhenti berdetak.
Saat itulah Gaara menyimpulkan jika gadis itu telah tiada walau pun perasaannya masih tak yakin, ia ingin melihat makam gadis itu lalu meminta maaf padanya karena ia tak bisa membantu disaat gadis itu membutuhkan sebuah dorongan untuk tetap hidup dan ia pun sangat ingin menghajar sosok yang katanya adalah kekasih sahabatnya itu.
"Gaara, kenapa daritadi kau melamun saja? Apa ada yang mengganggumu?" tanya Naruto yang merasa cemas karena majikannya sedari tadi hanya melamun saja, apa majikannya itu sedang memikirkan siiklan shampo, ah tidak-tidak, jika benar Gaara tertarik pada siiklan shampo yang sebenarnya adalah orang yang berniat membunuhnya dengan menyewa jasa Sasuke sudah pasti itu sangatlah berbahaya dan Naruto harus segera mencegahnya agar Gaara jangan sampai salah langkah.
Naruto memang sudah mengetahui jika pria yang bertemu dengan majikannya adalah orang yang memerintahkan Sasuke untuk membunuh majikannya dan yang memberitahukannya tentulah Sasuke sendiri yang keceplosan memanggil nama pria berambut panjang itu.
''Naruto.'' Gaara memanggil nama sipirang tanpa menoleh sedikitpun padanya.
''Ya?"
''Bagaimana perasaanmu jika sahabatmu saat ini sedang mengalami kesulitan dan kau tak tahu bagaimana cara membantunya karena kau sendiri tak tahu dimana ia tinggal, walaupun dia adalah sahabat terdekat kita?''
Naruto mengernyit bingung beberapa kali, pertanyaan Gaara membuatnya gagal paham namun ia sedikitnya mengerti tujuan dari pertanyaan itu.
''Aku tidak tahu apakah jawaban ini cocok atau tidak tapi menurutku walau sesulit apapun itu aku akan tetap mencaritahunya.'' 'seperti halnya aku yang sampai saat ini tak pernah berhenti berharap jika Papa dan aniki suatu hari nanti akan datang menemuiku.' Lanjutnya dalam hati, ah dirinya jadi teringat saat di pesta itu sempat melihat sosok sang ayah –Minato, sayangnya gara-gara insiden tabrakan dengan Sasuke membuatnya harus kehilangan jejak sang ayah, namun ada yang janggal saat itu, Sasuke sang musuh bebuyutan juga mengatakan jika ia melihat sosok ayahnya yang juga menghilang dan lagi kemunculan Kitsune dan gagak aneh bernama Karasu milik Sasuke itu secara bersamaan membuatnya harus memutar otak layaknya detektive.
'Walau agak tidak masuk akal tapi sepertinya ada sesuatu yang terjadi dimasalalu, tentang menghilangnya papa dan aniki dan juga pembantaian keluarga Uchiha, tapi kenapa setelah sekian lama menghilang Papa dan ayahnya Sasuke malah muncul dipesta pertunangan keluarga Yamanaka dan juga Shimura? Ini benar-benar aneh.' Batinnya masih bermonolog dengan tangan memegang dagu.
Sementara Gaara walau tak puas dengan jawaban Naruto ia bertekad akan melakukan apa yang di ucapkan Naruto, ia akan mencaritahu kondisi Hinata dan apa yang terjadi setelah telpon terakhir dengannya itu.
.
.
.
"Kau kenapa begitu lamban, kau lihat targetku berhasil kabur!" teriak Neji tepat didepan wajah Sasuke, ia begitu murka saat melihat sosok Gaara berhasil dibawa lari oleh orang yang baru diketahuinya adalah bodyguardnya.
"Ya marahlah sesukamu, dengan begitu aku tak perlu menjalani misi bodoh ini lagi.'' Sahut Sasuke tenang, ia sudah tak peduli dengan pekerjaannya lagi untuk saat ini karena pikirannya kini terfocus menjadi dua yaitu mencari keberadaan ayahnya dan juga menguak peristiwa yang menimpa keluarganya 10 tahun yang lalu.
''Kenapa tiba-tiba kau ingin berhenti?" dengan mata menyipit tajam Neji bertanya.
''Karena ada hal yang lebih penting daripada misi darimu yang pastinya akan berujung kegagalan.'' Jawabnya lugas.
Neji terdiam sejenak mempertimbangkan jawaban sang Uchiha terakhir, tak lama pria bermarga Hyuuga itu menghela nafas pelan.
''Tapi aku tetap ingin kau menjalani misi ini, Uchiha.''
''Kenapa kau tak mencari pembunuh propesional lainnya, mungkin saja mereka bisa lebih menjamin daripada aku, karena aku memiliki banyak keraguan.''
''Apa maksud dari keraguanmu itu?"
''Cinta.''
''Cinta?"
''Aku mencintai bodyguard Sabaku itu sejak lama, dan butuh waktu sekian tahun untuk kembali bertemu dengannya, kau pikir bagaimana perasaanku saat berhadapan dengan musuh yang ternyata adalah sosok yang paling berharga dalam hidupmu.''
Tak ada yang bersuara lagi saat itu, baik Neji maupun Sasuke sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Neji akhirnya membuat sebuah gerakan kecil, ia berjalan kearah jendela lalu menatap pemandangan kota didepannya.
''Baiklah kau tak perlu repot-repot dengan misi kali ini, karena aku sendiri yang akan turun tangan, tapi aku tetap membutuhkan bantuanmu karena ini adalah taruhan terakhirku apakah aku akan benar-benar membunuhnya atau tidak.'' .
.
.
'Papa, papa mau pergi kemana?' tanya sosok pemuda berambut pirang berantakan yang masih mengenakan seragam sekolahnya.
'Ada tugas yang harus Papa selesaikan Naru-chan.' Jawab sosok pria yang dipanggil papa itu seraya tersenyum hangat pada anak bungsunya.
Si pirang lalu mengalihkan pada sosok satunya lagi, sosok tampan berambut jingga tampak sibuk mengunyah buah apel yang menjadi favoritenya sepanjang masa.
'Apa aniki juga ikut?'
'Ya, karena anikimu juga termasuk dalam jajaran penyelidik sama seperti papa dan tugas ini harus ditangani oleh kami berdua.'
'Naru, Naru juga ingin ikut papa.' Terdengar tawa renyah dari sang papa, pria itu lalu mengusap rambut pirang pemuda itu penuh sayang.
'Itu tidak mungkin kecuali jika Naru-chan sudah lulus sekolah kepolisian, nah kami harus segera pergi, jaga Mama baik-baik ya. Kami berangkat.'
Dan kedua sosok itu pun perlahan mulai menjauh dan semakin menjauh hingga kabut melenyapkan kedua sosoknya, si pirang mengulurkan tangannya berusaha menggapai sosok itu namun tak berhasil, ia ingin berteriak namun suaranya serasa tertahan di tenggorokan.
"Pa..PAPA!"
Teriak Naruto nyaring dan seketika terjaga dari tidurnya, keringat mengalir deras di sekujur tubuhnya, sungguh ia tak pernah membayangkan akan mendapat mimpi itu setelah sekian lamanya, mimpi dimana ia harus kembali bernostalgia dengan masalalunya, masa dimana ia melepas kepergian sang ayah dan juga kakaknya untuk menjalankan tugas entah dari siapa.
Saat itu dirinya masihlah berusia 15 tahun ketika ayahnya pergi, setiap hari dirinya dan sang ibu berdoa yang terbaik untuk ayah dan kakaknya namun naas sebulan setelah tugas itu dilaksanakan oleh ayahnya dirinya mendapatkan kabar jika ayah dan kakaknya menjadi salah satu korban kapal yang karam dilautan saat masih menjalankan misi.
Naruto sangat shok ditambah sang ibu –Kushina langsung pingsan ditempat saat mendengar kabar itu, sejak saat itu sang ibu sering sakit-sakitan karena terus memikirkan suami dan anaknya hingga suatu hari sang ibu meninggal karena penyakit yang dideritanya semakin parah.
Naruto membuka laci disamping tempat tidurnya, ditatapnya selembar poto usang dimana terdapat potret dirinya dan juga keluarganya saat masih lengkap, ia tersenyum miris andai saja mereka masih berada disisinya ia pasti tak perlu menjadi seperti ini dan akan mengikuti jejak sang ayah menjadi polisi.
"Papa benarkah yang kulihat saat itu adalah dirimu?" gumam Naruto diikuti isakan kecil seraya memeluk poto tersebut.
Di sudut tempat tidur Kitsune membuka matanya perlahan memperlihatkan sepasang ruby indah dikedua matanya, hewan itu diam-diam menatap Naruto dengan pandangan sedih.
.
.
Lain Naruto lain pula Sasuke, pemuda raven itu tampak masih terjaga walau waktu sudah menunjukan pukul 1 pagi, pemuda itu tak banyak melakukan aktivitas hanya saja tatapan matanya tak lepas dari mata burung gagak yang kini terkurung dalam sangkarnya.
''Aku sampai saat ini masih heran kenapa kau bisa keluar dari kamarku ah tidak dari dalam sangkar ini khususnya, karena aku sudah sang yakin jika aku tak pernah membuka pintunya dan bagaimana kau bisa keluar dari kamarku sementara aku selalu mengunci jendela dan pintu saat akan pergi, bisa kau menjawabnya?" tanya Sasuke pada burung gagak hitam tersebut.
Agak sinting memang mengingat ia harus berbicara dengan seekor hewan yang pastinya tak akan pernah mau menanggapi pertanyaan konyolnya, namun ia harus mengesampingkan pikirannya tentang itu mengingat saat dipesta ia melihat sosok sang ayah namun ia harus kehilangan sosok itu karena bertabrakan dengan Naruto.
Dan yang membuatnya merasa aneh adalah munculnya hewan didepannya bersamaan dengan hewan milik Naruto bukankah itu terlalu aneh jika disebut sebagai kebetulan, Sasuke memang tak terlalu banyak berharap ketika keluarganya dibantai dan sang kakak yang tiba-tiba menghilang saat menjalankan sebuah tugas itu sudah cukup membuatnya kehilangan segalanya.
"Kenapa kau diam, ayo jawab, aku tahu kau bukan hewan sembarangan.''
Hening melanda, burung itu tetap tak menanggapi hanya menatap pada Sasuke seolah ingin menerkamnya, namun bukan Sasuke namanya jika harus kalah hanya beradu tatap dengan seekor burung, maka ia pun tetap mempertahankan posisinya dan tetap menatap tajam burung gagak itu.
''Baiklah jika kau tak mau bereaksi juga aku bukan hanya akan mengurungmu tapi aku akan menguncinya menggunakan gembok, kita lihat apa kau bisa kabur saat aku pergi atau tidak." Sasuke memutuskan kontak matanya dengan hewan itu, ia pun beranjak lalu berjalan ketempat tidur.
Butuh beberapa detik hingga Sasuke menjelajah kealam mimpi, hingga dengkuran halus Sasuke terdengar, sementar burung gagak itu masih bergeming ditempatnya ia masih menyoroti Sasuke dengan mata hitamnya yang tajam namun tak lama bola mata itu berubah warna menjadi merah menyala.
Paruh lancipnya perlahan terbuka lalu terdengar erangan lirih yang memanggil nama sosok raven yang tertidur itu, 'Sa..su..ke...'
Tbc
Adakah yang masih inget sama nih ff..
Tadinya saya mau pindahin ini ke wattpad tapi berhubung disana beberapa ff belum tamat jadi saya memutuskan untuk tetap update disini dan ff juga ff lainnya yang belum saya repost diwattpad akan tetap saya lanjut disini..
Dan untuk ff crumbs of heart buat yang masih berminat baca chap akhirnya saya akan up disini juga walau disana sudah saya repost hehehe..
Mungkin saya terlihat seperti orang plin-plan namun namanya manusia pasti pikirannya bisa berubah-ubah sewaktu-waktu.
Dan sekalian saya juga mau promosi ff saya yang sudah saya post di wattpad judulnya be a step momma dan namaku naruto, silahkan cek di akun wattpad saya dengan pename yphin2new
Sampai jumpa di chap depan ya...
