Pair : SasuNaru, ShikaKiba, dll
Genre : romance/ humor (maybe).
Warning : BL, typo (mungkin), OOC (nyempil), dll.
a/n : ini Cuma buat yang suka baca ff terutama Sasunaru sebagai pairingnya, jadi bagi yang anti sama cerita homo dan lain sebagainya jangan di baca ya…
Selamat membaca.
Part 3
Sudah dua hari Naruto tak masuk sekolah dan itu membuat keresahan di hati Karin, apa penyebab Naruto tak masuk sekolah karena kejadian dua hari yang lalu? Pikir gadis berambut merah itu sambil terus menatap bangku tempat duduk Naruto, rasa bersalah di hatinya semakin menjadi mengingat seharusnya ia juga mentraktir sahabatnya itu.
'Apa aku datang kerumahnya saja ya, tapi…ukh ini membuatku bingung.' Batinnya kacau.
Sementara itu sang kapten basket yang kita ketahui bernama Uchiha Sasuke pun tak kalah resah seperti Karin, ia pun sama merasa bersalahnya atas ketidak hadirannya Naruto di sekolah.
'Dobe, apa yang terjadi padamu sebenarnya? Apa kau sakit?' batin Sasuke bertanya-tanya.
Sasori yang melihat gelagat aneh dari Sasuke langsung menegurnya, ''Kau kenapa Sasuke?" tanya pemuda bermarga Akasuna itu.
''Hn, tak ada.'' Jawabnya.
Sasori menghela nafas, tak mudah memang untuk mengajak Sasuke bicara karena memang itu sudah sifatnya yang irit bicara sejak dulu, Sasuke selain terkenal dengan predikat sangar namun ia juga mendapat julukan si irit kata karena saat di ajak bicara ia hanya berkomentar dengan 'hn' andalannya atau kalimat singkat, padat, dan kadang kurang jelas sehingga tak jarang orang yang mengajaknya berbicara lebih cepat naik darah.
"Kudengar si kuning tak masuk sekolah lagi hari ini, apa itu ada hubungannya dengan kegalauanmu Sasuke?'' tanya Shikamaru yang langsung tepat sasaran.
Sasuke berdecih lalu berdiri dari duduknya, ''Siapa juga yang peduli padanya.'' Ucapnya lalu melangkah menjauhi teman-temannya.
''Sasuke aku bisa mengantarmu kerumah si kuning kalau kau mau.'' Seru Shikamaru dengan seringai mengejek di bibirnya.
''Hn.'' Sahut Sasuke tak jelas.
.
.
Lain di mulut lain pula di hati, mulut memang bisa berdusta tapi hati tak bisa di bohongi, Uchiha Sasuke adalah termasuk dalam kategori tersebut, pada kedua sahabatnya ia bisa saja berkata tak peduli akan kondisi si pirang namun faktanya saat ini ia sedang berada di depan rumah si pirang.
"Jadi disini tempatnya tinggal.'' Gumam Sasuke, pemuda raven itu memang diam-diam mencari alamat Naruto untuk sekedar memastikan keadaanya.
Di dalam mobilnya Sasuke terus memperhatikan pintu depan rumah sederhana itu berharap seseorang keluar atau salah satu keluarganya pun tak masalah hanya saja sudah hampir satu jam Sasuke menunggu tetap saja tak ada seorangpun yang keluar dari dalam rumah itu.
Sasuke menguap untuk yang kesekian kalinya, kelopak matanya sudah tak bisa menahan rasa kantuknya yang semakin lama semakin berat yang kini berujung dirinya tertidur di dalam mobil.
Tok tok tok
Seorang pria sekitar 45 tahun mengetuk kaca mobil milik Sasuke, pemuda raven yang terlelap dalam tidurnya pun harus terusik, perlahan ia membuka kelopak matanya yang menampilkan sepasang iris sehitam malam miliknya.
Sasuke menurunkan kaca mobilnya tampaklah dengan jelas olehnya sosok pria berambut pirang yang berwajah mirip dengan Naruto sosok pirang yang membuatnya meradang hari ini.
"Maaf jika mengganggu tapi anda menghalangi jalan yang akan di lewati taksi di belakang anda.'' Ucap Minato.
Sasuke diam sejenak, di liriknya kaca spion di dekat pintu depan mobilnya yang menampilkan sebuah taksi tepat di belakang mobilnya, jalan di sekitar kompleks tempat Naruto tinggal memang hanya muat untuk satu mobil.
''Memangnya taksi itu akan kemana?" tanya Sasuke sedikit penasaran.
''Taksi itu akan masuk ke pekarangan rumah saya anak muda.'' Jawab Minato.
''Apa itu rumah anda?" Tanya Sasuke seraya menunjuk rumah di depannya, Minato mengangguk.
''Ya, itu rumah saya, jadi saya harap anda segera maju karena saya harus segera menurunkan putra saya.''
Putra? Apa yang di maksud pria ini adalah Naruto?
Tanpa pikir panjang Sasuke menyalakan mesin mobilnya lalu melaju beberapa meter kedepan, taksi di belakang mobil Sasuke mulai melaju lalu masuk kedalam rumah milik Minato.
Sasuke lalu turun dari dalam mobilnya, ia pun langsung masuk kepekarangan rumah Minato.
''Aku bisa jalan sendiri tou-san.'' Terdengar seseorang yang Sasuke yakin milik Naruto.
''Tidak, kau harus naik kursi roda ini dulu sampai ketempat tidurmu.'' Tolak Minato, pria itu tetap mendudukan Naruto di sebuah kursi roda yang sudah di siapkannya.
"Ta…"
''Naruto." Si pirang yang merasa namanya di panggil menengok kearah si pemanggil, alangkah terkejutnya ia begitu melihat senpainya berada di depan rumahnya.
''Sasuke senpai?"
''Loh bukankah anda yang ada di mobil tadi?" tanya Minato saat sadar jika pemuda itu adalah pemuda yang baru saja di temuinya.
''Benar paman, dan kedatangan saya kemari hanya ingin melihat keadaan Naruto.'' Jelas Sasuke.
Minato tertegun, baru kali ini ada orang mau menjenguk putranya mengingat putranya tak memiliki teman sama sekali kecuali Karin.
''Terima kasih sudah mau menjenguk Naruto, ah mari silahkan masuk.'' Minato membuka pintu rumahnya lalu mempersilahkan Sasuke untuk masuk kedalamnya.
Awalnya Sasuke berpikir jika rumah yang terlihat kecil baginya ini akan terasa pengap baginya namun ia ternyata salah, saat kakinya masuk kedalam ia merasakan sesuatu yang sangat hangat dan nyaman, berbeda dengan apartement mewah nan luas miliknya yang hanya memberikan hawa dingin dan juga kesunyian setiap saat.
"Silahkan duduk err…"
''Sasuke, panggil saja Sasuke dan paman tidak usah seformal itu padaku.'' Tuturnya, Minato tersenyum seraya menganggukan kepalanya.
''Baiklah, kuulangi silahkan duduk Sasuke-kun.''
''Terima kasih paman.'' Sasuke mendudukan pantatnya di sofa ruang tamu rumah Naruto.
''Uhm ano, darimana senpai tahu rumahku?" tanya Naruto yang ikut duduk di sofa di samping Sasuke, setelah lebih dulu menyimpan Kursi rodanya di kamarnya.
''Tentu saja aku bisa menemukan alamatmu dengan mudah, kau lupa siapa aku, heum.'' Sasuke menyeringai melihat kohainya menjadi salah tingkah dengan wajh bersemu.
''Gomen..'' ucapnya pelan.
''Kenapa meminta maaf, dasar kau ini memang dobe.''
''Siapa yang kau sebut dobe, dasar senpai teme!" teriak Naruto dengan susah payah, Sasuke bukannya merasa takut justru malah melebarkan seringai mengejeknya hal itu tentulah membuat si pirang bertambah murka.
''TE-…."
''Tidak baik berteriak pada tamu Naru, dan lagi kau masih dalam tahap pemulihan.'' Tegur Minato seraya meletakan secangkir teh hijau dan beberapa toples cemilan di meja.
''Tak apa paman, Naruto memang selalu seperti ini jika padaku.'' Ucap Sasuke dengan wajah di buat seperti orang yang menderita, Minato menatap iba pada Sasuke sedangkan Naruto mendengus sebal melihat akting amatiran dari senpainya.
''Maafkan Naruto, ne Sasuke-kun. Dia memang jarang punya teman sejak dulu, Naruto memang selalu menjaga jarak dengan teman-teman sekelasnya untuk itulah jangan heran jika dia bersikap demikian.'' Imbuhnya, Sasuke tertegun mendengarnya, benarkah seperti itu kehidupan Naruto sebenarnya namun ia sedikit merasakan sebuah kejanggalan dari kalimat yang di ucapkan Minato.
''Ah iya, ngomong-ngomong Naruto sakit apa paman?" tanya Sasuke buru-buru mengubah topik pembicaraan tak ingin suasana hangat di rumah kohainya itu menjadi kaku karena perkataan sebelumnya dan lagi Sasuke juga sedikit merasa penasaran dengan kondisi si pirang.
''Ha-hanya anemia Sasuke-kun, sepertinya putraku kelelahan sehingga anemianya kumat.'' Jawab Minato sedikit gugup saat menjawabnya sementara sosok pirang yang menjadi topik pembicaraan hanya diam di tempatnya.
Sasuke menjadi merasa bersalah pasalnya ia tahu penyebab Naruto bisa kelelahan 2 hari yang lalu itu karena dirinya yang membuat kohainya menjadi babu dadakan hanya karena siraman seember air pel.
''Do ehem Naruto, aku minta maaf sepertinya ini semua adalah salahku.'' Ujarnya, hal yang langka sebenarnya jika seorang Uchiha yang berharga diri tinggi meminta maaf pada orang biasa seperti Naruto, namun entah kenapa hal itu dengan mudahnya terucap di bibirnya yang tak pernah melengkungkan senyum itu.
''Tak apa senpai, aku sudah baik-baik saja sekarang. Sebaiknya senpai pulang saja.'' Si pirang akhirnya kembali mengeluarkan suaranya.
''Aku akan menginap disini.'' Dua Namikaze berambut pirang itu secara bersamaan menampilkan raut wajah terkejut.
''Maaf Sasuke-kun, bukan ingin menolak tapi rumah kami ini sangat kecil dan hanya memiliki dua kamar.'' Ucapnya halus, karena Minato tahu jika di lihat dari sudut manapun Sasuke itu adalah orang kaya yang pastinya tak akan betah jika harus berlama-lama di rumah kecil miliknya, ia hanya sedikit merasa ragu dengan ucapan 'akan menginap' dari Uchiha bungsu itu.
''Tak apa, aku bisa tidur sekamar dengan Naruto.''
''EEHH! Tapi kasurku hanya muat satu orang senpai. Jangan ngaco sebaiknya senpai pulang saja.'' Usirnya dengan wajah di buat semengerikan mungkin namun sepertinya tak mempan pada si raven.
''Tapi aku hanya sendirian jika aku pulang kerumah, maksudku kedua orangtuaku terlalu sibuk dengan bisnisnya sehingga untuk pulang pun tak akan sempat, jadi ijinkan aku untuk menginap disini.'' Berbicara panjang lebar memang bukan maunya namun untuk meyakinkan kedua orang di depannya Sasuke terpaksa harus membuang imej Uchiha-nya sementara.
Tapi bicara tentang kedua orangtuanya yang terlalu sibuk memanglah benar, Sasuke terkadang selalu merasa sendiri jika berada di mansion Uchiha, untuk itulah ia meminta untuk tinggal di sebuah apartemen yang kebetulan agak dekat dengan sekolahnya dengan alasan agar tak perlu berangkat terlalu pagi kesekolahnya mengingat jarak mansion Uchiha dengan sekolahnya cukup jauh dan membutuhkan waktu lebih dari 30 menit.
"Baiklah jika itu memang menjadi alasanmu, paman harap kamu betah menginap disini malam ini." Sasuke tersenyum puas mendengarnya, niatnya untuk mengetahui lebih dalam tentang si pirang tampaknya akan segera terlaksana.
"Khe, dasar raja bohong.'' Umpat Naruto pelan namun masih bisa terdengar oleh sang Uchiha bungsu.
Sasuke menyeringai keji dengan sengaja ia mengedipkan sebelah matanya pada si pirang yang kontan saja membuatnya hampir tersedak ludahnya sendiri.
'Apa-apaan dia.' Batinnya.
.
Malam ini adalah malam minggu, malam yang begitu di nantikan para anak muda yang baru beranjak dewasa, malam yang paling di minati muda mudi yang sedang di mabuk cinta, Sasuke Uchiha tentulah salah satu di antara banyaknya remaja yang begitu menantikan malam ini di tambah lagi kini ia sedang bersama dengan si pirang yang entah kenapa setiap berada di dekatnya jantungnya akan bertalu-talu.
"Dobe, mengenai kejadian 2 hari yang lalu, aku ingin minta maaf.'' Ucap Sasuke mengawali pembicaraannya dengan si pirang yang kini sedang duduk di atap rumahnya.
Ya dua remaja berbeda warna rambut dan kulit ini sedang duduk di atas genting rumah sambil melihat bulan dan ribuan bintang di langit malam minggu yang kebetulan cerah ini.
"Tak apa, aku baik-baik saja senpai.'' Jawab Naruto yang kedua mata birunya tak lepas dari pemandangan langit malam ini.
''Kau tahu sejak pertama kali aku melihatmu di lapangan basket, kau terlihat berbeda dari yang lainnya.'' Kalimat yang di ungkapkan oleh Sasuke tentulah mengundang kerutan bingung di kening berwarna tan itu.
''Maksudmu?"
''Mungkin pertemuan pertama kita sangat tidak menyenangkan mengingat aku yang yah seperti yang kau tahu dari mulut orang lain.'' Naruto akhirnya mengerti apa maksud perkataan senpainya.
''Aku tahu, tapi apa maksud senpai dengan mengatakan aku berbeda?"
''Kau tak seperti yang lainnya saat melihatku, kau bahkan adalah orang pertama yang berani melawan padaku. Dan kau adalah orang pertama yang membuat hati ini tak karuan, mungkin aku saat ini belum bisa mengartikannya, tapi Naruto bolehkah aku…" Sasuke menghentikan ucapannya lalu menoleh pada si pirang di sebelahnya, ''Bolehkah aku mengenalmu lebih jauh?"
''Entah apa yang harus ku jawab, tapi sepertinya aku menolak senpai.'' Raut wajah yang semula tampak berseri kini tampak kecewa mendengar jawaban dari si pirang.
Kenapa si pirang tak mau berteman dengannya -setidaknya untuk saat ini-, bukankah seharusnya si pirang itu senang karena memiliki banyak teman ah ia baru ingat jika si pirang memang tak pernah mau memiliki teman kecuali sahabat berambut merahnya yang bernama Karin itu.
''Kenapa dobe?"
''Aku hanya tak ingin senpai suatu saat tak ingin melihatku lagi, aku tak ingin senpai tiba-tiba menjauhiku suatu saat nanti, aku memang berbeda senpai karena aku terlalu buruk untuk menjadi temanmu.'' Naruto menunduk untuk mencegah airmatanya keluar, ia sebenarnya tak ingin mengatakan hal ini tapi nalurinya mengatakan jika ia memang harus mengatakannya sebelum terlambat.
''Memangnya apa yang menjadi alasanmu?"
Naruto tak merespon ia hanya memalingkan wajahnya, tak ingin berhadapan dengan wajah Sasuke. Dengan kesal Sasuke menarik bahu si pirang untuk membuatnya menjadi menghadap kearahnya, namun si pirang tetap memalingkan wajahnya.
''Lihat aku Naruto, coba kau jelaskan sebuah alasan agar aku bisa mengerti.''
''Ini sudah malam sebaiknya kita segera turun karena ini sudah memasuki jam makan malam.'' Si pirang beranjak dari duduknya, ia berjalan dengan perlahan menuju tangga besi yang selalu di gunakannya untuk naik keatas genting.
Sasuke mendengus kesal agaknya ia salah kira ternyata si pirang sangat sulit untuk di dekati.
.
.
Untuk pertama kalinya Sasuke merasakan apa itu namanya kehangatan keluarga, saat ini ia duduk satu meja makan bersama Naruto dan ayahnya, bisa di saksikan olehnya secara langsung bagaimana Minato memperlakukan putranya dengan penuh perhatian dan kasih sayang walau hanya sebagai orangtua tunggal.
Sasuke merasa sedih karena dalam hidupnya hal di depannya sangatlah jarang dan langka untuk terjadi, ia ingat meski masih dalam satu rumah dengan kedua orangtua dan kakak lelakinya, Sasuke tetaplah selalu merasa sendiri, dan pemandangan di depannya benar-benar membuatnya iri.
''Sasuke-kun, makannya di habiskan ya.'' Ucap Minato dengan senyum hangat terpatri di wajahnya yang terlihat masih sangat muda.
''Ah ha'I, paman.'' Jawabnya dan langsung melahap bagiannya.
"Naru, tousan akan segera berangkat. Jaga diri di rumah baik-baik ya.''
''Tentu, tousan juga jangan pulang pagi.'' Ucap Naruto yang langsung di berikan tepukan di pucuk kepala pirangnya.
''Tenang saja, malam ini tousan tak akan terlalu lama kok.'' Katanya, ia membereskan peralatan makannya lalu di taruh di tempat cuci piring.
''Memangnya paman Minato mau pergi kemana malam-malam begini?" tanya Sasuke.
''Tousan bekerja sebagai bartender di klub malam.'' Jawab Naruto.
''Bartender? Kenapa harus bekerja di sana? Kurasa ia memiliki riwayat pendidikan yang cukup tinggi." Naruto menghela nafas.
''Yah, tapi tousan tak ingin bekerja di perusahaan manapun.''
''Jika paman Minato mau, aku bisa meminta bantuan anikiku untuk memasukannya bekerja di perusahaan milik keluarga kami."
"Sayang sekali Sasuke-kun, paman sudah merasa nyaman bekerja disana.'' Ucap Minato yang sepertinya mendengarkan percakapan anaknya dan Sasuke.
.
.
Sasuke menggeliat tak nyaman dari tidurnya, sungguh ia tak pernah terbiasa tidur dengan beralaskan futon. Sasuke walaupun menginap di rumah temannya tentulah ia akan tidur di ranjang yang besar, empuk dan juga nyaman namun untuk kali ini ia baru merasakan yang namanya tidur di kasur lantai yang keras dan juga berukuran pas-pasan.
''Apa senpai tak bisa tidur?" tanya Naruto yang sepertinya belum tertidur juga bedanya ia berada di atas ranjang yang hanya muat untuk satu orang.
''Yah, seperti yang kau tahu.'' Jawabnya, sedikit tak nyaman sebenarnya.
''Bukankah sudah tousan jelaskan, rumah kami tak seperti apartemen mewahmu senpai. Bahkan tempat tidur disini tak senyaman kasurmu.'' Ketus Naruto.
''Aku akan membiasakan diri mulai sekarang.'' Sahut Sasuke tak ingin kalah bicara bagaimanapun ia harus bisa membuat Naruto terbuka padanya.
''Terserah padamu saja.'' Sungut Naruto, tak lama terdengar dengkuran halus yang di yakini milik si pirang.
.
.
Pagi hari yang cerah di hari minggu, pemuda berambut hitam yang diikat tinggi mirip nanas bernama Nara Shikamaru terlihat mengayuh sepeda dengan wajah ogah-ogahan. Pemuda berwatak malas dan hobi tidur itu terpaksa keluar dari rumahnya dengan bersepeda atas permintaan mendadak dari sang ayah, Nara Shikaku untuk membelikannya koran edisi pagi ini.
''Ck, mendokusei, ada apa dengan pengantar koran pagi ini? Apa mereka ikut libur juga.'' Gerutunya sepanjang jalan, dan yang lebih membuatnya kesal adalah kenapa harus dengan sepeda mana motor ninja miliknya atau mobil milik sang ayah, saat di tanya seperti itu maka jawaban dari sang ayah adalah tidak ada dua kendaraan itu di hari minggu ini.
Saat melewati sebuah jembatan yang di bawahnya terdapat aliran sungai Shikamaru mendapati sosok remaja yang sepertinya seusia dengannya sedang berdiri dengan kedua tangan yang di rentangkan tepat disisi jembatan yang menghadap sungai.
Shikamaru membulatkan kedua matanya yang selalu terlihat mengantuk itu, ia sangat yakin jika pemuda itu sedang mencoba bunuh diri dengan cara melompat kedalam sungai beraliran deras di bawah sana, pemuda berambut coklat jambrik dengan kedua tato segitiga merah dengan bentuk terbalik di kedua pipinya itu mulai berjinjit hal itu sontak membuat Shikamaru merasa panik.
Tak peduli kondisinya ada dimana Shikamaru lantas turun dari sepedanya dan membiarkannya terguling, di hampirinya pemuda itu lalu di peluknya dengan erat bagian pinggang pemuda berambut coklat jabrik itu.
''Hentikan, bunuh diri tak akan menyelesaikan masalah!" teriak Shikamaru seraya menarik pemuda itu menjauhi sisi jembatan, pemuda berambut coklat itu kaget dengan kedua mata yang membola, ia berbalik lalu memukuli Shikamaru dengan tenaga penuh.
''Hei apa yang kau lakukan? Aku berusaha menolongmu!" sentaknya, pemuda di depannya semakin murka.
''Baka! Siapa yang mau bunuh diri, aku hanya sedang menikmati udara pagi sehabis olahraga tahu.'' Maki pemuda berambut coklat itu tak mau kalah di tambah gongongan anjing berwarna putih yang Shikamaru sendiri baru tahu keberadaannya seolah ikut membela pemiliknya.
''WOOF WOOF!" Begitulah kira-kira gonggongannya.
''Ck mendokusei, lalu kenapa kau membuat gerakan seolah ingin bunuh diri seperti itu, wajah jika oranglain akan salah paham.''
''Aku sudah terbiasa melakukannya, memangnya tidak boleh.'' Shikamaru tak menyahut, ia lalu pergi menjauhi pemuda berambut coklat jabrik itu untuk mengambil sepedanya.
''Hei mau pergi kemana kau?"
''Pulang.'' Jawab Shikamaru singkat.
''Tunggu jangan pergi dulu, maafkan sikapku tadi.'' Ucapnya, Shikamaru tampak berpikir sejenak lalu dengan malas ia mengangguk.
''Baiklah, aku maafkan." Pemuda itu tersenyum lebar yang memperlihatkan gigi taringnya yang entah bagi Shikamaru itu terlihat keren dan manis, eh manis? Aku sepertinya sudah eror karena bangun pagi' batinnya.
''Kau mau pergi kemana?" tanya pemuda itu.
''Mencari koran karena pagi ini tukang korannya tidak lewat di depan rumahku.'' Jawab Shikamaru dengan nada malasnya.
''Aku tahu tempatnya, ayo ku antar. Oh ya ngomong-ngomong namamu siapa? Aku Inuzuka Kiba dan ini anjing peliharaanku namanya Akamaru.'' Ucap pemuda bernama Kiba itu memperkenalkan dirinya dan juga anjing putihnya.
''Nara Shikamaru.''
Awal pertemuan yang tak begitu menyenangkan namun manis di akhir bagian.
Tbc
Terimakasih buat yang udah baca + review di part kemarin.
