Pair : SasuNaru, ShikaKiba, dll
Genre : romance/ humor (maybe).
Warning : BL, typo (mungkin), OOC (nyempil), dll.
a/n : Sebagai peringatan ya fanfic ini Cuma di khususkan untuk para fujoshi yang memang suka ff dengan pair sasunaru, saya udah kasih warning di summary tapi masih saja ada yang nyasar dan pura-pura ga tau ada ff dengan konten yaoi, sekali lagi buat para reader yang sekira-kiranya anti sama ff bertema homo sebaiknya jangan memaksakan diri untuk membaca.
Part 4
Tiga hari telah berlalu dan selama itu pula Naruto berusaha untuk menghindar dari sosok yang selalu berusaha untuk dekat dengannya itu, Naruto bukan tak ingin terbuka pada sosok senpai garang bernama Sasuke itu hanya saja ia tak ingin kejadian kelam yang di alaminya terulang kembali dia tak ingin membuat orang-orang yang berada di dekatnya harus bersedih karenanya.
Dan disinilah ia berada sekarang di sebuah klub yang memang jarang di minati para murid, sebenarnya tempat itu bukanlah sebuah klub tempat itu memang jarang diisi oleh klub manapun sehingga di biarkan kosong, tempat itu lalu diisi oleh seorang Guru yang memang hobi melukis bernama Sabaku Gaara seorang Guru bahasa inggris disekolahnya, Guru yang terbilang berwajah angker dan jarang tersenyum memiliki tato 'ai' didahinya dan juga ia memiliki luka bakar di area leher hingga rahangnya.
Gaara sensei memang pendiam dan cenderung terbilang judes dikalangan para Guru walau begitu bagi Naruto Gaara sensei adalah sosok yang dikaguminya, karena sosok Gaara adalah sosok yang mudah diajak berbagi cerita Gaara selalu terbuka padanya begitupula sebaliknya, tak semua murid tahu akan hal itu karena keduanya memang bukan sosok yang mudah bersosialisasi dengan oranglain.
''Jika dilihat dari raut wajahmu sepertinya kau sedang 'galau', Naru?" tanya Gaara saat ia selesai merapikan peralatan melukisnya.
"Begitulah sensei, ada seseorang yang selalu mengikutiku kemanapun aku berjalan di sekolah ini.'' Keluh Naruto dengan wajah lesu –yang sebenarnya hanya dibuat-buat-.
''Memangnya siapa dia? Apa dia pengagum rahasiamu itu?" Gaara membalikan posisinya yang semula membelakangi Naruto kini menjadi menghadap kearahnya.
''Bukan sensei, tapi seorang teme pantat ayam yang menyebalkan.'' Ujarnya dengan nada ketus.
Gaara menopang dagu dengan sebelah tangannya di atas meja tempat peralatan lukisnya disimpan, ''Lalu apa yang membuatnya terus mengikutimu?"
''Dia hanya ingin menjadi temanku sensei, tapi aku tak ingin terlibat lebih jauh dengannya sensei, Sasuke senpai itu dia…" Naruto tak melanjutkan kata-katanya.
''Oh jadi yang kau maksud adalah si Uchiha itu, bukankah dia sangat populer.'' Cetus Gaara yang melihat gelagat aneh dari murid yang di sayanginya.
''Kh, apanya yang populer, dia itu sangat teme dan sangat menyebalkan.''
Gaara tersenyum kecil melihat tingkah kekanakan muridnya, jika sudah menceritaka seseorang muridnya itu pasti akan bertingkah seperti itu dan Gaara akan dengan senang hati menjadi tong sampah curhatan muridnya.
''Mungkin dia memang benar-benar ingin berteman denganmu Naru, atau bisa jadi dia itu sedang melakukan pendekatan apa salahnya kau sedikit terbuka padanya.'' Saran Gaara.
''Tapi sensei aku hanya tak ingin masalaluku kembali terulang, aku bahkan kehilangan sebagian memoriku tentang seseorang.''
''Aku tahu itu Naru, namun akan lebih baik jika kau melupakan masalalumu dan mulailah untuk mencoba terbuka padanya, yang lalu biarlah berlalu kau harus mulai memikirkan apa yang ada didepanmu.''
''Sensei jangan hanya berkata seperti itu kepadaku, buktinya sensei sendiri selalu menolak Neji sensei padahal Neji sensei itu sangat cocok sekali denganmu loh.'' Gaara tersenyum kecut, ia baru ingat jika ia juga mengalami nasib serupa dengan muridnya ah tidak bahkan Neji itu termasuk orang yang sedikit nekad.
Hyuuga Neji adalah Guru fisika di sekolah itu, ia juga merupakan teman sekelas Gaara saat masih sekolah dulu, Gaara adalah ketua kedisplinan dan Neji merupakan murid nakal yang selalu melanggar tata tertib di sekolah sampai-sampai Gaara sudah merasa bosan mencatat prihal kenakalan yang dilakukan oleh Neji dan kini pria berambut panjang berwarna coklat itu malah ikut-ikutan menjadi Guru di sekolah tempatnya mengajar hanya untuk bisa dekat kembali dengannya karena konon Neji sudah cinta mati pada Gaara sejak masih sekolah dulu.
''Aku dan Neji berbeda denganmu kasusmu dan Uchiha itu Naru, jadi jangan disamakan oke.'' Katanya dengan nada sendu.
''Bhuu sensei curang.'' Naruto mempoutkan bibirnya, Gaara yang merasa gemas langsung mencubit kedua pipi bergaris itu dengan kedua tangannya yang langsung disertai ringisan khas sang Namikaze.
''Kupikir ada ribut-ribut apa ternyata ada calon pacar Sasuke disini.'' Ucap sebuah suara dari arah pintu, seorang siswa berambut raven berwajah mirip dengan Sasuke masuk kedalam ruang lukis milik Gaara, dia adalah Sai salah satu anak basket dan juga salah satu sahabat Sasuke.
''Siapa yang senpai sebut calon pacar teme menyebalkan itu, dan lagi kenapa senpai datang kesini apa senpai di suruh pantat ayam itu?" tanya Naruto bertubi-tubi dengan seluruh kekesalan yang ada.
''Aku memang selalu datang ketempat ini untuk melukis bersama Gaara sensei Naru, jadi kau tak perlu merasa cemas aku akan menyeretmu ketempat Sasuke.'' Ujarnya disertai senyum palsu andalannya.
Naruto membuang wajahnya kesamping sama sekali tak percaya ucapan senpainya, ia yakin jika Sai datang keruang lukis itu dengan maksud lain.
''Jika kau masih tak percaya silahkan tanyakan pada Gaara sensei.'' Katanya lagi masih dengan ekspresi yang sama.
Naruto menoleh pada Gaara dengan tatapan meminta penjelasan dan Gaara yang paham arti tatapan itu akhirnya membuka suaranya, ''Memang benar Naru, Sai selalu datang kemari jika tak sedang berlatih basket, ia sangat suka melukis makanya aku tak keberatan jika ia menyalurkan hobinya juga disini, lagipula tempat ini bukan klub.'' Jelasnya.
Naruto menghela nafas lelah, "Terserah padamu, aku sebaiknya kembali kekelas, jaa Gaara sensei, Sai senpai.'' Ucapnya di sertai wajah yang cemberut, Gaara yang menggelengkan kepalanya sedangkan Sai tiba-tiba ekpresinya berubah menjadi datar.
.
.
Shikamaru tak mengerti dengan perasaanya saat ini, sejak pertemuannya dengan pemuda berambut coklat jabrik tempo hari dirinya dirundung rasa gelisah, hatinya selalu mengukir nama sang pemuda pencinta anjing itu.
Padahal itu adalah pertemuan pertama mereka namun Shikamaru seperti sudah mengenalnya sangat lama, ah mungkin ia terlalu terbawa perasaanya saat ini.
''Cinta pada pandangan pertama eh,?" gumamnya namun sepertinya tak luput dari pendengaran tajam sang Uchiha yang berada tak jauh dari tempatnya sekarang.
''Siapa yang kau maksud? Apa itu aku dan si dobe? Ck kau salah aku hanya sedikit tertarik saja.'' Tukasnya.
''Mendokusei, kau pikir aku tak memiliki urusan lain selain mengurusi urusan pribadimu dengan si kuning berkacamata itu.'' Sangkal Shikamaru seraya menatap malas pada sang kapten basket.
''Lalu yang kau maksud dengan cinta pada pandangan pertama itu di tujukan untuk siapa heum?"
''Seseorang yang tak perlu kau kenal.'' Ketusnya lalu pergi meninggalkan Sasuke seorang diri di taman belakang sekolah.
"Penyakit jatuh cinta memang bisa membuat orang berubah ya, termasuk kau dan Shikamaru.'' Celetuk Sasori yang ternyata diam-diam ikut mendengarkan pasalnya siswa yang satu ini memang selalu terlihat sibuk dengan kayu-kayu yang akan di buatnya menjadi boneka.
''Sudah kubilang aku hanya sedikit tertarik saja padanya, bukan sedang jatuh cinta padanya.'' Sasuke mengelak tanpa disadarinya seseorang telah berjalan kearahnya.
''Lalu kenapa teme senpai ingin tahu segalanya tentangku, jika senpai hanya merasa tertarik saja?" kedua iris berwarna onyx itu membola, ia hapal suara itu walau disertai nada dingin dan mungkin kecewa.
''Mungkin sepertinya perlu kupertegas padamu, aku tak memiliki sesuatu yang menarik dalam hidupku untuk bisa kau ketahui senpai, dan lagi sebaiknya kau tak perlu repot-repot mengikutiku setiap hari. Kuharap kau mengerti dan tidak berusaha untuk mengusik kehidupanku lagi.'' Lanjutnya, Naruto pun berbalik pergi.
Grep
Sasuke menangkap pergelangan tangan Naruto, ''Ikut aku.'' Ucapnya lalu membawa paksa Naruto kearah gudang belakang sekolah yang sudah lama tak terpakai, di dorongnya tubuh mungil itu hingga menambrak dinding dibelakangnya.
''Apa maksud ucapanmu itu Naruto.'' Sasuke menarik kerah seragam Naruto hingga membuat sang kohai agak berjinjit karena perbedaan tinggi badan mereka.
''Bukankah sudah jelas jika aku ingin senpai tidak mengurusi hidupku lagi.'' Amarah Sasuke mulai meluap di tariknya kerah itu hingga terdengar bunyi robekan kain yang di yakini ada seragam Naruto.
''Kau pikir itu mudah, apa kau bisa merasakan perasaanku yang hampir gila karena terus kau hindari dalam tiga hari ini, Naruto!" bentaknya, Naruto bukannya merasa takut ia justru malah menampilkan tatapan menantang pada senpainya.
''Lalu apa untungnya jika kau mengetahui segalanya tentang aku, apa kau akan mencampakanku begitu tahu aku yang sebenarnya, kau pasti akan sama dengan mereka yang ingin dekat denganku lalu setelah itu kau pun akan mencampakanku.''
''Jangan menilaiku seperti itu.'' Sasuke mulai mencengkram kedua lengan atas Naruto dan membuat sipirang semakin tersudut.
''Kau yang membuatku harus menilai jelek dirimu.''
''Jangan sok tahu.''
''Apa aku peduli.'' Sasuke memajukan wajahnya bermaksud mencium bibir Naruto, ''Hei apa yang mau kau lakukan?"
''Diam!"
''Lepaskan aku!"
''Kubilang diam!"
Sasuke mencium paksa bibir ranum itu, ia menulikan apa yang Naruto ucapkan barusan. Naruto meronta sekuat tenaganya namun Sasuke seperti dirasuki iblis dengan tenaganya yang luar biasa, sudah berkali-kali ia mendorong dada Sasuke namun pemuda itu malah semakin brutal dan Naruto tak memiliki pilihan lain selain menampar wajah putih halus itu.
Plak
Bunyi tamparan yang cukup keras dan mampu menyadarkan Sasuke dari perbuatannya pada sipirang, onyxnya membola saat sadar jika ia sudah berbuat kesalahan.
''Kau sungguh keterlaluan senpai.'' Lirih Naruto dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
''Aku tahu aku memang tak seharusnya menjadi pengecut hanya untuk mengakui perasaaku [adamu tapi aku..aku mencintaimu Naru.''
''Maaf senpai aku tidak bisa, aku belum siap menerimamu karena kau takan pernah bisa menggantikan posisinya.'' Naruto berlari sekuat tenaga meninggalkan Sasuke yang kini dilanda perasaan bersalah padanya.
Sasuke tertunduk dalam, ia menyesal karena sudah bertindak diluar logikanya, namun perasaannya pada pemuda pirang itu memanglah tak bohong, ia memang sudak jatuh hati pada sipirang sejak ia melihat sesuatu yang berbeda dari pemuda itu.
''Jika kau hanya berdiam seperti itu maka selamanya kau memang akan menjadi pengecut, Sasuke senpai.'' Ucap sebuah suara yang Sasuke yakin jika yang berbicara padanya adalah seorang siswi.
Sasuke menoleh dan dilihatnya sosok sisiwi berambut merah berkacamata yang ternyata adalah sahabat si pirang tengah bersandar di sebuah pohon dengan tangan yang melipat didada.
''Kau bukannya..''
''Aku Karin, aku adalah sahabat dari Naruto sejak kami masih SD.'' Jelasnya.
"Jika kau adalah sahabatnya tentu kau tahu siapa orang yang dimaksud olehnya kan.''
''Ya tentu saja, tapi itu adalah masalalunya dan aku tak ingin mengungkit masalah itu, jika memang senpai serius menyukainya maka buatlah ia berpaling pada senpai bukan berdasarkan keterpaksaan.''
''Kenapa kau katakan hal ini padaku?"
Karin membenarkan letak kacamatanya, ''Karena aku percaya senpai mampu mengembalikan keceriaan Naruto yang dulu.''
Sasuke mengangkat sebelah alisnya, "Kau percaya pada orang sepertiku?"
''Jika aku tak percaya padamu aku pasti sudah menghajarmu saat kau melakukan hal itu tadi padanya, aku harus segera menyusulnya, sebaiknya senpai mencari cara untuk melakukan pendekatan secara perlahan padanya." Saran Karin sebelum pergi menyusul Naruto.
Sasuke yang masih bergeming ditempatnya pelahan menampakan sebuah senyum, 'Mendekatinya secara perlahan eh,? Hmm aku tak yakin.' Ucapnya dalam hati.
.
Sepulang sekolah Naruto yang awalnya berniat untuk pulang lebih cepat tampaknya harus mengurungkan keinginannya itu saat ia di cegat oleh Sasuke, pemuda raven itu yang tanpa basa-basi kembali mencekal tangan Naruto lalu membawanya menuju mobil miliknya lalu menyuruhnya untuk masuk kedalamnya.
Semula Naruto menolak dengan keras namun begitu melihat kilatan tajam yang tak biasa di kedua onyx miliknya nyali si pirang langsung menciut dan memilih untuk menuruti saja kemauan si raven.
''Kau mau mengajakku kemana senpai?" tanya Naruto, kepala pirangnya tertunduk karena masih enggan menatap si raven.
"Sebaiknya kau jangan banyak bertanya dobe, karena aku akan mengebut sekarang.'' Ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari arah depan.
Naruto tahu jika jalan yang di laluinya bukanlah jalan menuju rumah apartement senpainya atau jalan menuju rumahnya, awalnya memang jalan di sekitarnya banyak terdapat kendaraan dan juga beberapa toko di pinggir jalan, namun semakin jauh semakin jarang pula rumah-rumah yang di lewati mobil senpainya itu dan Naruto mulai merasa gelisah, ia takut jika Sasuke akan membalas perbuatannya tadi siang.
"Senpai kita sebenarnya mau pergi kemana?" tanya Naruto sekali lagi, hatinya mulai merasa risau ia bahkan belum sempat menghubungi sang ayah.
''Tenanglah dobe, sebentar lagi kita sampai.''
Mobil Sasuke menaiki kawasan bukit dimana disana terdapat satu pohon besar yang berdiri dengan kokohnya, Sasuke menghentikan laju mobilnya disaat ia merasa sudah berada di puncak bukit lalu ia pun meminta Naruto untuk turun dan mengikutinya.
''Kau tahu, dulu tempat ini adalah tempat favoriteku, tapi sejak aku kehilangan dirinya aku tak pernah datang ketempat ini lagi.''
Kedua mata Naruto membulat seketika, bukan dia bukan terkejut saat mendengar ucapan Sasuke namun ia bisa melihat sekelebat ingatan dimasalalunya.
''Setiap perayaan tahun baru aku pasti selalu menyempatkan diri untuk membawanya kemari dan kami akan melihat kembang api bersama-sama.'' Lanjut Sasuke.
Naruto mulai merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya, kepalanya terus terasa berputar, seluruh pandangannya menggelap hingga ia tak sadar jika dirinya sudah ambruk ketanah berumput.
''Naruto!"
Tbc
Hallo semuanya apa kabar kalian, senang rasanya bisa melanjutkan ff ini moga masih pada inget ye.. kalo nih ff melenceng plus makin aneh mohon di maafkan.. selamat tahun baru juga yaaaa #udhkelewatwoy.
