Pair : SasuNaru, ShikaKiba, dll

Genre : romance/ humor (maybe).

Warning : BL alias boylove, typo (mungkin), OOC (nyempil), dll.

a/n : Sebagai peringatan ya fanfic ini Cuma di khususkan untuk para fujoshi yang memang suka ff dengan pair sasunaru, saya udah kasih warning di summary tapi masih saja ada yang nyasar dan pura-pura ga tau ada ff dengan konten yaoi, sekali lagi buat para reader yang sekira-kiranya anti sama ff bertema homo sebaiknya jangan memaksakan diri untuk membaca, terima kasih.

Part 5

Shikamaru berdiri disisi jembatan dengan kedua tangan yang dimasukan kedalam kantong celana sekolahnya, ia sedang menunggu seseorang saat ini dan keduanya berjanji akan bertemu dijembatan tempat mereka pertama kali bertemu.

Tak lama berselang ia pun menoleh saat mendengar gonggongan anjing dan juga langkah kaki yang mendekat kearahnya dan benar saja sosok itu datang bersama anjing kesayangannya.

''Maaf membuatmu menunggu, Shikamaru.'' Ucap pemuda berambut coklat jabrik bernama Kiba itu diikuti gonggongan anjing putihnya.

''Tak apa, aku juga baru tiba 5 menit yang lalu.'' Sahut Shikamaru, pemuda berambut nanas itupun menarik tangan Kiba lalu menggandengnya layaknya sepasang kekasih.

''Kita akan kemana?" tanya Kiba.

''Ke café disebrang sana.'' Tunjuknya pada sebuah café bernama Sunshine, Kiba langsung berhenti begitu melihat nama itu.

''Kenapa kau berhenti Kiba?" tanya Shikamaru heran.

''Nama café itu mengingatkanku pada sahabat lama." Jawabnya dengan raut wajah sedih.

''Maaf aku tidak tahu.''

''Tak apa, lagipula dia masih ada hanya saja aku tidak tahu dimana dia.'' Katanya.

''Sebaiknya kita ke café yang lain saja.''

''Tidak perlu ayo kita masuk kedalam.'' Kiba menarik tangan Shikamaru lalu membawanya kedalam, sementara Akamaru ia tinggalkan diluar setelah talinya ia ikatkan dulu pada tiang yang berada diluar café.

.

.

Naruto membuka kedua matanya, pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah hamparan kota diatas bukit.

''Kau sudah sadar?" tanya Sasuke dengan raut wajah cemas.

''Ya, apa tadi aku pingsan?"

''Begitulah dan kau baru sadar setelah dua jam berlalu.'' Iris biru Naruto membola selama itukah ia pingsan.

''Gomen senpai, aku…''

''Hn tak apa, lagipula aku yang salah mengajakmu kemari.'' Ucap Sasuke membuat Naruto merasa bersalah.

''Uhm senpai, kenapa senpai mengajakku kemari?" Naruto kembali bertanya, jujur ia jadi penasaran juga dengan senpainya itu apalagi tadi Naruto sempat melihat sesuatu dalam memori ingatannya namun saat sadar ia melupakan ingatan yang sempat melintas dikepalanya itu.

''Karena kau mengingatkanku padanya.'' Jawab Sasuke.

''Siapa?"

''Seseorang dimasalalu, dia seorang gadis cantik berambut pirang sama sepertimu.''

''Benarkah? Apa dia masih hidup atau…"

''Entahlah, aku tidak tahu apa dia masih hidup atau tidak.'' Jawab Sasuke dengan wajah tertunduk sedih sungguh terlihat bukan dirinya yang Naruto kenal selama ini, karena setau Naruto senpai garangnya itu adalah orang terdingin dan cuek pada hal apapun yah walau pun faktanya senpai garang itu sedikit kepo dengan kehidupan Naruto sekarang.

Tujuan Sasuke sebenarnya mengajak Naruto kebukit itu adalah untuk kembali mengenang masalalunya bersama sosok cantik berambut pirang yang sampai saat ini tak terdengar kabarnya dimanapun dan hanya satu nama yang diingatnya 'Naruko' sosok gadis cantik berambut pirang yang pernah mengisi hatinya sejak dulu dan merupakan cinta pertamanya, ironis bukan karena pertemuannya dengan gadis itu dibukit Hokage adalah ketika ia dan Naruko berusia 7 tahun dan ingatannya sedikit samar tentang sosok itu ditambah lagi Sasuke hanya tahu nama kecilnya saja karena Naruko tak pernah menyebutkan marganya.

Sasuke memang selalu mengajak Naruko kebukit itu setelah pertemuan pertama mereka dan setiap malam tahun baru keduanya akan menikmati pemandangan kembang api diatas bukit itu dan sayangnya kebersamaan mereka hanya bertahan tiga tahun saja karena gadis bernama Naruko itu tiba-tiba saja menghilang dari kehidupannya dan tak pernah muncul lagi tepat sehari setelah perayaan tahun baru.

Sasuke pun setiap tahun selalu menyempatkan diri untuk datang kebukit itu dan berharap jika Naruko tiba-tiba saja muncul kembali dibukit itu, namun harapan tinggalah harapan karena sampai saat ini pun sosok gadis itu tak pernah muncul bak hilang ditelan bumi, tapi sejak pertama kali ia melihat sosok Naruto entah kenapa ia merasakan perasaan yang sama saat bersama Naruko kembali muncul membuat rasa penasarannya kian membuncah setiap harinya untuk itulah ia berusaha mendekati Naruto dan menginginkan sang pemuda terbuka padanya agar ia tahu seperti apa masalalu sipirang tapi sayangnya sipirang malah menolak untuk terbuka padanya dan malah semakin tertutup padanya.

''Senpai bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"

''Hn."

''Apa tujuan senpai mendekatiku selama ini karena aku mirip dengan gadis itu?"

Sasuke tertohok dengan pertanyaan dari sipirang, ia tak menyangka jika Naruto akan bertanya seperti itu, ''Yah awalnya memang seperti itu, tapi aku sadar tak semestinya aku menyamakanmu dengannya karena bagaimanapun juga kalian berbeda gender.''

''Lalu tujuan senpai yang ingin mengenalku lebih jauh saat itu?"

''Memangnya tidak boleh jika aku ingin mengenal calon pacarku lebih jauh?"

Wajah Naruto merona apalagi ditatap seperti itu oleh senpainya, "Tapi aku tetap tak bisa menerimamu senpai aku..''

Ucapan Naruto terhenti saat Sasuke menaruh telunjuknya dibibir cerry pemuda pirang itu, sudah cukup Sasuke tak mau mendengar bantahan apapun lagi dari sipirang dan hari ini ia harus bisa membuat hati sipirang luluh dan mau menerimanya.

''Naru-dobe dengarkan aku, aku menyukaimu dan aku ingin menjadi kekasihmu jadi maukah kau menerimaku?"

"A-aku..aku mencobanya dulu senpai, tak apa kan?"

Sasuke menyunggingkan sebuah senyum, senyum yang bahkan jarang diperlihatkannya.

''Mulai saat ini kau adalah pacarku, dobe.'' Ucap Sasuke seraya merengkuh tubuh mungil pacarnya.

.

.

Naruto memasuki pekarangan rumahnya setelah turun dari mobil milik Sasuke, dengan perasaan yang berbunga-bunga pemuda berambut pirang itu pun bersenandung disetiap langkah kakinya menuju rumahnya.

''Ciee yang sedang bahagia, bagi-bagi dong sama sahabat tercintamu ini.'' Goda gadis berkacamata merah a.k.a Karin.

Naruto memutar bola matanya, cih kenapa sih Karin suka sekali menggodanya memangnya tidak boleh ya Naruto bahagia karena sudah punya pacar, dan sepertinya sahabat fujonya itu sudah mengetahuinya entah dengan cara apa.

''Kenapa kau bisa berada didepan rumahku Karin?" tanya Naruto cuek, Karin mengembungkan pipinya yang sumpah bagi Naruto gadis itu malah terlihat aneh.

"Paman Minato tadi menghubungiku, katanya kamu belum pulang juga kerumah makanya aku kemari." Jawabnya, Naruto menghela nafas lelah, ayahnya memang sedikit berlebihan jika Naruto lupa memberi kabar saat pulang sekolah pada sang ayah.

''Aku hanya pergi sebentar Karin.''

''Dengan siapa? Uchiha senpai kah? aku tadi melihat kau turun dari mobilnya loh." Godanya dengan mata mengerling jahil.

Blush

Wajah Naruto merah seketika begitu nama sosok pemuda raven yang suka seenaknya itu disebut oleh sahabatnya.

"Kyaaa, akhirnya Naru-chan punya cowok." Teriak Karin kegirangan, Naruto berusaha menahan rasa malunya jikalau teriakan Karin terdengar sampai rumah tetangganya.

''Jangan berteriak seperti itu Karin kau membuatku malu saja, huh.'' Ketus Naruto lalu masuk kedalam rumahnya tanpa menghiraukan sahabatnya yang masih dalam mode blink-blink ala fujo.

Didalam rumah Karin tak henti-hentinya membrondong Naruto dengan pertanyaan bertubi-tubi seputar hubungannya dengan Sasuke, bagaimana pemuda raven itu mengatakan perasaannya atau kemana pemuda raven itu akan mengajaknya berkencan sabtu esok, ya Sasuke memang berencana mengajak Naruto kencan hari sabtu dan Karin langsung menjerit histeris saat mendengar itu, salahkan bibir Naruto yang kadang suka keceplosan.

"Naru-chan tenang saja soal penampilan serahkan pada princes fashion.'' Katanya dengan tangan yang menepuk dadanya bangga.

''Khe, terserah.'' Ucap Naruto dengan bibir yang maju beberapa senti sambil membuang wajahnya kesamping.

.

.

Hari sabtu pun tiba sepulang dari sekolahnya Naruto terlihat sibuk didepan cermin, ia sibuk berganti-ganti pakaian yang kini terlihat menumpuk diatas kasur, ini adalah kencan pertamanya dengan Sasuke jadi wajar jika ia kebingungan harus berpenampilan seperti apa dan disaat itu ia langsung teringat Karin sang sahabat tercinta yang katanya siap membantu soal penampilannya hari ini namun sepertinya sosok yang katanya bisa diandalkan itu tak muncul juga atau dia memang sengaja pura-pura lupa.

''Cih dasar apanya yang sahabat tercinta, huh awas saja kau Karin.'' Gerutunya seraya melemparkan sebuah kemeja bergaris hitam yang tadi sudah melekat ditubuhnya namun dibuka kembali karena tidak merasa cocok.

Didepan pintu kamarnya berdiri Minato yang menatap heran sang anak dengan kepalanya yang menggelang pelan, "Kau mau pergi kemana memangnya Naru, daritadi tou-san lihat kau bergonta-ganti pakaian seperti itu, coba lihat kearah kasurmu sekarang.''

Naruto menuruti perintah tou-sannya dan betapa terkejutnya dia melihat beberapa lembar pakaiannya berserakan diatas kasurnya, dengan gerakan kaku sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal Naruto kembali menghadap kearah sang ayah dengan senyum lima jarinya yang khas.

''Ehehehe, Naru hanya bingung mau pakai baju yang mana tou-san.'' Cengirnya masih dengan posisi tangannya yang menggaruk tengkuknya.

''Memangnya ada acara apa sore ini? Apa Karin yang mengajakmu pergi?"

''Bukan kok, err itu,,,,"

''Selamat sore paman, apa Naru-chan ada?!" teriakan cempreng khas Karin mulai terdengar dan Naruto langsung menghela nafas lega, jujur ia masih belum bisa menjelaskan tentang hubungannya dengan Sasuke pada Minato.

"Ah Karin, ya Naruto masih sibuk berkutat didepan cermin ajaibnya sekarang." Jawab Minato dengan diselingi candanya.

Karin terkekeh mendengarnya, ''Apa aku datang terlambat Naru-chan?" tanya Karin watados dengan sebelah mata berkedip pada sipirang.

''Sa-ngat.'' Eja Naruto dengan kedua pipi mengembung kesal.

''Kkkk, oke sekarang serahkan semuanya pada princes cantik Karin.'' Ucap gadis itu dan langsung menuju lemari milik Naruto untuk memilihkannya pakaian.

.

.

Sasuke menjemput Naruto didepan pekarangan rumahnya yang langsung disambut ramah oleh Minato yang kebetulan berada diluar, Naruto yang mendengar suara pacarnya itupun langsung menghambur keluar sebelum siraven berbicara yang aneh-aneh pada ayahnya.

''Ah senpai sudah datang, ayo kita akan langsung pergi, kan?" tanya Naruto.

Sasuke mengangguk lalu menarik tangan Naruto menuju mobilnya, Minato memperhatikan keduanya dari halaman rumahnya ia sebenarnya merasa ada yang aneh namun ia biarkan saja dulu mungkin sang anak belum mau bercerita apa-apa dulu kepadanya.

''Hati-hati dijalan ya, Sasuke-kun tolong jaga Naru.'' pesan Minato sebelum mobil itu melaju, Sasuke mengangguk lalu melajukan mobilnya.

Tiba ditempat yang dituju Sasuke langsung turun begitu juga dengan Naruto, ''Senpa kenapa kau mengajakku ketempai ini?" tanya Naruto.

''Memangnya kenapa bukankah kau bilang ingin merasakan pergi ketaman hiburan karena tou-sanmu selalu melarangmu kemari.''

''Ya aku memang ingin kesini tapi…''

''Ini adalah kencan pertama kita dan kuharap kau jangan mengacaukannya oke.'' Tegas Sasuke, Naruto tak lagi berkomentar ia pun menurut saja dengan mengikuti langkah kaki pacarnya.

Taman hiburan masih tampak ramai walau sudah sore hari, Sasuke dan Naruto sudah mencoba beberapa wahana yang menurut keduanya menyenangkan, tiba diwahana bianglala Sasuke bermaksud akan membeli tiket untuk itu namun tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti saat tangan tan milik Naruto menggengamnya kuat.

''Dobe kau kenapa?" tanya Sasuke heran saat melihat Naruto berdiri mematung dengan iris birunya yang menatap horor wahana bianglala didepannya.

''Jangan… jangan pergi…"

''Apa maksudmu dobe, aku hanya akan membeli tiket saja.'' Naruto menggeleng kuat.

''Kubilang jangan pergi kesana, a..a…aku …."

'Jangan pergi, aku tidak mau ditinggal sendirian.'

'Aku hanya pergi sebentar membeli tiket, my sunshine.'

'Jangan lama-lama.'

'Iya. Aku pergi dulu.'

Duar

'TIDAAAK!'

"AAAARGGGHHH!" Naruto tiba-tiba saja berteriak histeris yang kontan membuat Sasuke kaget, tubuh mungil itu merosot ketanah dengan kedua tangan yang berada disisi kepala bersurai pirangnya.

Sasuke panik dan bingung harus berbuat apa, direngkuhnya tubuh Naruto guna menenangkannya namun sipirang malah mendorongnya kuat hingga tak lama berselang Naruto pun tak sadarkan diri.

.

.

Sasuke terus memandang pemandangan didepannya dengan kedua mata yang menatap tak percaya, didepan sana tampak sosok pirang yang sudah membuatnya jatuh hati kini berteriak-teriak ketakutan entah kenapa, disamping itu sosok Minato juga tampak berusaha menenangkan putranya dengan airmata yang tak henti-hentinya bercucuran dari manik sebiru laut miliknya.

'Apa yang sebenarnya terjadi padamu, dobe?' tanya Sasuke dalam hati.

Sejak kejadian pingsannya Naruto di taman hiburan beberapa jam yang lalu ia langsung membawa Naruto pulang kerumah pemuda pirang itu, tak lama sang pemuda kembali siuman dari pingsannya namun Sasuke tak menduga akan jadi seperti ini setelahnya, ya Naruto terbangun dan langsung kembali menjerit histeris layaknya sosok pesakitan atau istilah lainnya mengalami gangguan kejiwaan.

"LEPASKAN AKU!"

"Tidak Naru, Tousan tak akan melepaskanmu, tenanglah Naru ini Tou-sanmu.''

''PERGI! AKU INGIN BERTEMU DENGANNYA!" teriak Naruto dengan kedua tangan yang hampir saja mencakar ayahnya jika saja sang ayah tidak sigap menahannya.

''Kumohon Naru, sadarlah ini Tou-san.''

Naruto seolah tak peduli ia terud berteriak tak karuan dan Minato terlihat hampir kewalahan menghadapi tingkah anaknya.

Sasuke melangkah mundur dengan kepala yang menggeleng pelan, jika benar Naruto mengalami gangguan kejiwaan maka satu-satunya hal yang perlu dilakukannya adalah mundur atau menjauhi sipirang.

''Pengecut.'' Sebuah kalimat tajam sekaligus mencemooh meluncur dari sosok yang baru tiba dipekarangan rumah Minato, dia adalah Karin, gadis itu memang sengaja tak pulang karena ingin tahu perkembangan hubungan sahabatnya dengan senpainya itu.

''Apa maksudmu?"

''Kau memang pengecut Uchiha senpai, setelah selama ini kau mengusik hidupnya dan sangat ingin tahu segalanya tentang dirinya, kini kau akan pergi begitu saja setelah tahu hal yang sebenarnya, bukan.''

Bibir Sasuke bungkam pemuda raven itu menundukan kepalanya, memang benar apa yang diucapkan Karin tentang maksudnya.

''Naruto mengalami depresi berat dan dia dulu sempat masuk kerumah sakit jiwa selama satu tahun.'' Terang gadis berkacamata itu seraya mensejajarkan dirinya dengan Sasuke.

''Lalu apa hubungannya denganku dan lagi aku sudah tak peduli dengannya.'' Karin tercengang, semudah itukah Sasuke berucap.

Plak

Sebuah tamparan melayang dipipi sang Uchiha bungsu, wajahnya pun langsung terhempas kesamping saking kuatnya tamparan itu.

''Kau memang tak memiliki hati Uchiha senpai, jika aku tahu jadinya akan seperti ini tak pernah kuijinkan kau untuk mendekati Naruto sejak dulu, kau memang brengsek sebaiknya kau memang pergi dan jangan pernah mengusik kehidupan Naruto lagi jika kau memang tidak tahu apa-apa tentangnya.'' Setelah puas memaki Sasuke Karin pun masuk kedalam rumah Minato untuk ikut menenangkan sahabatnya.

Sasuke berdiri mematung, kedua tangannya terkepal iapun lalu pergi dan masuk kedalam mobil miliknya, didalam mobil ia termenung memikirkan apa yang baru saja terjadi, Naruto sosok yang selalu membuatnya penasaran dan juga berdebar-debar ternyata memiliki riwayat pesakitan dan pernah masuk rumah sakit jiwa dan Sasuke merasa gamang tentang perasaannya pada sipirang.

'Pengecut.'

Satu kalimat yang pernah diucapkan Karin kembali terngiang ditelinganya membuatnya tersentak dan kedua mata sehitam arangnya membola, apa dirinya memang sepengecut itu saat tahu tentang kondisi sipirang yang sebenarnya, apa ia memang merasa malu jika semua orang tahu jika ia memiliki pacar seorang yang kapan saja bisa kambuh penyakit gilanya.

'Lalu apa untungnya jika kau mengetahui segalanya tentang aku, apa kau akan mencampakanku begitu tahu aku yang sebenarnya, kau pasti akan sama dengan mereka yang ingin dekat denganku lalu setelah itu kau pun akan mencampakanku.'

Lagi ucapan yang sempat diucapkan pemuda pirang itu terngiang ditelinganya, inikah yang dimaksud olehnya? Apakah itu artinya Naruto pernah mengalami hal yang sama sebelumnya? Didekati seseorang lalu dicampakan begitu saja saat tahu jika Naruto seperti itu.

''Ugh sial!" teriaknya seraya memukul stir mobilnya, dengan perasaan yang masih tak karuan Sasuke pun memutuskan untuk pergi meninggalkan pekarangan rumah sipirang.

Tbc

Selamat LTM (lewat tengah malam) semuanya, kimi balik lagi nih dengan ff gaje satu ini moga g pada illfeel ya ama ceritanya T.T…

Balesan review non log-in:

Kyu : ini udah lanjut moga g penasaran lagi ya.

Guest1 : ini udah say walau g pake petir.

Uchiha Liruke : hahaha kayaknya seh …

Guest2 : uhm gimana ya kayaknya masih samar tuh.

Aoi sora : hai juga aoi, yang hope udah dipost tuh sekuelnya kalo yang ex masih diproses tinggal beberapa bagian kok, makasih buat semangatnya.

Aoi itsuka : makasih ya tapi kemampuan saya mengetik Cuma segitu kecuali kalo lagi semangat ngetiknya hehe.

lusy jaeger ackerman : huhuy belum bisa bilang paling dua chapter selanjutnya, ini udah dinext.

Yosh semuanya ditunggu reviewnya ya bye-bye…