a/n : Terima kasih buat reader yang udah kasih kimi semangat buat lanjut ff ini kemarin, tadinya kimi g pede buat update part kemarin os kimi takutnya kalian g suka ama alur yang udah dirancang ama kimi sekali lagi makasih banyak.
Pair : SasuNaru, ShikaKiba, dll
Genre : romance/ humor (maybe).
Warning : BL, typo (mungkin), OOC (nyempil), dll.
a/n : Sebagai peringatan ya fanfic ini Cuma di khususkan untuk para fujoshi yang memang suka ff dengan pair sasunaru, saya udah kasih warning di summary tapi masih saja ada yang nyasar dan pura-pura ga tau ada ff dengan konten yaoi, sekali lagi buat para reader yang sekira-kiranya anti sama ff bertema homo sebaiknya jangan memaksakan diri untuk membaca.
Selamat membaca.
Part 6
Karin menatap sedih kondisi sahabatnya, Naruto memang sudah tenang saat ini namun tak memungkinkan jika pemuda pirang itu akan kembali histreis saat terbangun kembali nanti, butuh waktu paling cepat 2 atau 3 hari untuk Naruto bisa kembali normal dan hal yang paling menyakitkan adalah pemuda itu akan bertanya-tanya kenapa dirinya harus diikat saat kewarasannya sudah kembali.
''Apa sebaiknya kita hubungi Dokter Tsunade, paman?" tanya Karin pada Minato yang sedang sibuk melap tubuh Naruto dengan kain putih serta sebaskom air hangat.
''Aku sudah menghubunginya beberapa menit yang lalu, mungkin ia masih dijalan.'' Jawab pria itu tanpa menoleh pada Karin.
''Maafkan aku karena tak bisa menjaganya.'' Ucap Karin terisak dengan wajah menunduk dalam, Minato menghentikan kegiatannya lalu menatap Karin.
''Bukan salahmu Karin, dalam hal ini akulah yang bersalah. Seharusnya aku tak memasukan Naru kesekolah itu sebelum kondisinya benar-benar pulih, aku ayah yang gagal.'' Minato menundukan kepalanya setetes cairan bening mengalir dipipi tirusnya lalu terjatuh kelantai.
Karin menatap sedih Minato ia sadar jika ia pun ikut merasa bersalah karena dialah yang meminta Minato untuk memasukan Naruto kesekolahnya.
.
.
Satu minggu telah berlalu Naruto sudah kembali kekondisi normalnya, dan seperti hari-hari biasanya ia akan bangun pagi lalu mandi, memakai seragam, sarapan pagi bersama ayahnya kemudian berangkat sekolah bersama Karin yang sepertinya sudah menunggunya dihalaman depan rumahnya.
''Ayo berangkat.'' Ajak Karin seraya menggenggam tangan Naruto keduanya menuju halte bis yang tak jauh dari perumahan tempat Naruto tinggal, Karin juga sebenarnya masih satu daerah dengan Naruto namun jaraknya sedikit jauh dari rumah yang ditempati Naruto dan ayahnya.
Bis yang ditumpangi Naruto dan Karin pun berhenti disebuah halte yang jaraknya pun tak jauh dari sekolah, keduanya pun turun lalu berjalan menuju gerbang sekolah.
Saat ia memasuki koridor yang akan membawanya kekelasnya dilihatnya Sasuke yang berjalan bersama seorang siswi berambut pink yang Naruto kenal bernama Sakura Haruno, siswi yang katanya paling populer karena kecantikannya itu.
''Senpai.'' Panggil Naruto pada Sasuke, siraven pun menoleh sekilas padanya, ya hanya sekilas karena setelahnya siraven memalingkan wajahnya lalu menarik tangan Sakura menjauhi dirinya. Naruto tercengang begitu juga dengan Karin yang sepertinya sudah terbakar amarahnya sejak beberapa menit yang lalu.
''Semudah itukah ia bersikap padaku Karin, aku tahu jika akhirnya akan begini tapi kenapa aku dengan begitu bodohnya malah percaya dan mau mencoba berpacaran dengannya.'' Ucap Naruto, pemuda berkulit tan itu hanya bisa menunduk dengan butiran bening yang sudah lolos dikedua pipi bergaris kumis kucingnya.
''Jangan pernah kau pikirkan sipengecut itu Naru, sudah biarkan saja dia kita harus segera kekelas sekarang.'' Karin menyeret Naruto menuju kelasnya, sepanjang perjalanan kekelasnya Naruto tak bersuara ia hanya menatap hampa kedepan, ia tak mengerti kenapa Sasuke bersikap seperti itu padahal mereka sepasang kekasih kan? Dan Naruto pun kembali merasa ragu tentang perasaan Sasuke padanya sekarang.
Bell pertanda waktu istirahat pun tiba Naruto pun langsung berdiri, sepanjang pelajaran Naruto dirundung rasa gelisah dan ia harus segera menghilangkan kegelisahan yang membelenggu pikirannya sejak tadi pagi dengan cara menemui Sasuke untuk membicarakan tentang sikap cueknya tadi pagi.
Sebenarnya Naruto dilarang untuk terlalu banyak berpikir karena itu akan mempengaruhi kinerja otaknya dan hal itu bisa membuat pikiran Naruto kembali down dan berujung ia tak bisa masuk kembali kesekolah.
.
Sesampainya di gedung basket Naruto tanpa pikir panjang lagi langsung masuk kedalam dapat dilihat Sasuke dan teman-teman satu timnya sedang latihan seperti biasanya disana.
''Senpai.'' Naruto memberanikan dirinya untuk memanggil Sasuke, siraven yang merasa dipanggil pun menoleh lalu melihat Naruto berdiri didekat pintu masuk gedung itu ada kesedihan dimanik sapphire sipirang dibalik lensa tebal kacamatanya hingga siapapun yang melihatnya akan ikut terenyuh hatinya.
''Hn.'' Sasuke menyahut seadanya dan hal itu langsung menjadi pertanyaan dibenak Shikamaru, Sasori dan juga Sai selaku teman yang paling dekat dengan siraven.
"Kita perlu bicara senpai.'' Cicit Naruto, ia menunduk lirih dengan butiran yang siap mengalir dikedua pipinya untuk kesekian kalinya karena sikap Sasuke, kenapa ia bisa selemah ini sekarang padahal kemarin-kemarin ia masih bisa memaki dan juga melayangkan tangannya kepipi putih Sasuke namun kini semua itu lenyap apa ini yang dinamakan dengan perasaan yang jungkir balik karena cinta dan sekali lagi Naruto bukan tipe orang seperti itu yang mudah lemah hanya karena perasaan saja, ingat Naruto hanya mencoba menjadi pacar sikapten basket itu saja kan.
''Memangnya apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Sasuke datar.
''Kita bicara ditempat lain.''
''Aku sedang sibuk berlatih karena akan ada pertandingan dengan sekolah Ame lusa, jangan membuang-buang waktuku dobe!" bentak Sasuke, baik teman-teman Sasuke maupun Naruto tersentak dengan sikap Sasuke pada sipirang.
''Kau kenapa senpai? Apa yang terjadi denganmu?"
''Tanyakan itu pada dirimu sendiri, dan lagi kurasa kita memang tak perlu meneruskan hubungan ini bukankah kau sendiri yang mengatakan jika status pacaran kita hanya coba-coba saja.''
Hening, suasana mendadak hening, tak ada satupun yang bersuara disana semua yang berada didalam gedung itu hanya diam melihat pertengkaran kecil sikapten basket dan kohai pirang berkacamata itu bagai melihat sebuah mini drama disekolahnya.
''Aku sudah menduga akhirnya akan seperti ini jika aku mau terbuka padamu senpai…'' Naruto menegakan tubuhnya seraya menatap tajam onix siraven, ''Aku pastikan kita memang tak akan saling mengenal lagi.'' Sambungnya, sipirang pun berbalik lalu menarik knop pintu menuju keluar gedung namun sebelum ia keluar ia sempat menoleh pada Sasuke walau tak sampai melihat wajahnya secara langsung.
''Aku kecewa padamu, senpai.'' Ucapnya lagi lalu ia pun keluar dari gedung basket itu, tak ada ucapan selamat tinggal atau salam perpisahan dari Naruto karena baginya itu percuma saja diucapkannya.
Sasuke melemparkan bola basket ditangannya dengan kasar, ia pun memilih menjeda latihannya lalu mendudukan dirinya dibangku panjang yang sudah tersedia disisi lapangan, hatinya sungguh panas dan juga ia merasakan perasaan sesak didadanya sejak kepergian Naruto, ia mengambil sebotol air mineral lalu meminumnya dengan rakus guna menghilangkan perasaan yang menghimpit dadanya itu namun sia-sia bayangan wajah sipirang yang kalut membuat sesak didadanya semakin menjadi-jadi, ia kesal pada dirinya sendiri yang tak bisa berpikir dengan jernih sejak kejadian seminggu yang lalu.
Sementara itu Sai melihat Sasuke dengan tatapan sulit diartikan kedua rahangnya mengeras serta jemari pucatnya yang mengepal kuat.
.
Naruto kembali kekelasnya dengan wajah yang murung, tak dipedulikannya pertanyaan Karin yang tentang dirinya yang tiba-tiba menghilang saat jam istirahat dan hampir membuatnya panik setengah mati karena bingung mencari keberadaan sahabat pirangnya itu.
''Naru-chan, kau dengar tidak sih tadi aku berkata apa?" tanya Karin dengan wajah dibuat segalak mungkin agar Naruto takut lalu menjelaskan semuanya padanya, namun agaknya usahanya gagal karena Naruto sama sekali tak merespon apapun padanya pemuda itu hanya diam menatap kedepan dengan tatapan kosongnya.
''Naru…''
''Sudahlah Karin aku tahu apa yang kau katakan, dan aku baik-baik saja, oke.'' Potong Naruto karena merasa jengah dengan pertanyaan dari Karin walau ia tahu jika gadis itu begitu khawatir padanya.
''Tapi aku sangat mencemaskanmu Naru-chan, dan ingat jika paman Minato sudah mempercayakanmu sepenuhnya padaku.'' Ucap gadis itu kali ini dengan nada serius.
''Aku mengerti tapi perlu kuingatkan juga padamu Karin jika aku ini laki-laki jadi aku bisa menjaga diriku sendiri.'' Karin bungkam, memang benar apa yang diucapkan sipirang namun jika melihat kondisinya akhir-akhir ini ia tentulah tak bisa hanya diam saja apalagi jika ada sangkut pautnya dengan senpai pengecut itu Karin pasti sebisa mungkin akan membuat Naruto tak lagi berhubungan dengan pemuda raven itu.
''Apa salah jika aku mengkhawatirkanmu?"
Naruto menggeleng kuat, ''Tentu saja tidak, Karin. Aku senang jika ada orang yang mau peduli padaku.''
''Lalu kenapa kau bersikap seperti ini, kenapa kau harus memendam semuanya sendiri. Kau bisa berbagi padaku Naru-chan, aku…"
Grep
Naruto memeluk Karin, tangan tan itu mengusap punggung Karin dengan usapan lembut serta menenangkan, ''Tak apa, aku pasti baik-baik saja.." jeda sejenak, "Imotou.''
Deg
Kedua mata Karin melebar dibalik kacamatanya, ''Naru-nii, kau.'' Naruto melepas pelukannya lalu tersenyum hangat pada Karin seraya mengangguk pelan.
''Aku ingat semuanya sekarang.''
Flashback
Satu minggu yang lalu.
"LEPASKAN AKU!"
"Tidak Naru, Tousan tak akan melepaskanmu, tenanglah Naru ini Tou-sanmu.''
''PERGI! AKU INGIN BERTEMU DENGANNYA!" teriak Naruto dengan kedua tangan yang hampir saja mencakar ayahnya jika saja sang ayah tidak sigap menahannya.
''Kumohon Naru, sadarlah ini Tou-san.''
Naruto seolah tak peduli ia terus berteriak tak karuan dan Minato terlihat hampir kewalahan menghadapi tingkah anaknya.
"AKU INGIN BERTEMU DIA AKU INGIN BERTEMU DENGAN SA…"
Bruk
Tubuh Naruto terkulai lalu pingsan, Minato mengusap keringat dikeningnya ia sedikit meringis saat punggung tangannya mencapai pipinya yang baru ia sadari terdapat dua goresan merah yang cukup panjang mungkin ia tidak sadar saat cakaran Naruto mengenai pipinya karena ia terlalu sibuk menenangkan putranya.
''Karin.'' Panggil Minato pada gadis berambut merah yang berdiri didekat jendela kamar Naruto.
''Ya paman, ada yang bisa kubantu?"
"Tolong ambilkan sebaskom air hangat dan juga kain, paman ingin membersihkan tubuh Naru." ucapnya, Karin mengangguk patuh lalu menuruti permintaan Minato, ia pun bergegas keluar dari kamar Naruto.
Minato mengusap surai pirang Naruto, manik birunya menatap sedih sang anak, ''Apapun yang terjadi kau tetap anakku.'' Lirihnya lalu mencium puncak kepala sang anak.
Naruto pov
Aku membuka kedua mataku, gelap semua yang berada disekitarku sangat gelap bahkan untuk melihat tanganku sendiripun tak bisa, kuperhatikan sekitarku namun aku tak menemukan apapun hingga tak lama setitik cahaya muncul didepanku.
Cahaya itu semakin lama semakin berpendar membuat kedua mataku silau hingga terpaksa aku menutupnya dengan tanganku dan tak lama ruang serba hitam itu kini berubah menjadi serba putih dan saat itu pula aku sadari jika tubuhku ternyata sedang mengambang diudara, akupun sempat berpikir tempat apa ini namun sesuatu berbentuk seperti pintu kembali menarik perhatianku dan tubuhku yang masih melayang pun perlahan turun lalu menapakan kakiku dilantai serba putih itu.
Aku mengikuti naluriku untuk berjalan menuju pintu itu lalu saat aku berhasil berada didepannya aku kembali dibuat terkejut dengan pemandangan yang baru saja kulihat, didepanku terdapat sebuah hamparan hijau rumput dengan beberapa tangkai bunga lili putih dan sepertinya aku pernah melihat tempat itu, ah benar tempat itu adalah bukit yang terpaksa aku datangi atas paksaan Sasuke senpai, tapi kemana Sasuke senpai? Kulihat seseorang berambut indigo berdiri membelakangiku, siapa dia? Apa dia Sasuke senpai? Tapi rasanya tidak mungkin karena model dan warna rambut keduanya berbeda walau tingginya terlihat sama.
Aku hendak memanggilnya, namun suara seseorang membuatku mengurungkan niatku, ''Uhm ano kau…apakah kau Sa-kun?"
Aku tercengang saat aku mengenal suara siapa itu dengan perlahan aku menoleh, kedua mataku melebar melihat sosok didepanku, ya didepanku aku melihat aku yang sepertinya masih bocah SMP, pemuda berambut indigo itu menoleh pada aku, tidak maksudku sosok aku yang lain lalu iapun tersenyum pada sosok aku itu.
''Ya, namaku Sa…"
Bruk
Aku melihat sosok aku berlari lalu menghambur kepelukannya, sosok aku sepertinya sangat merindukan pemuda itu terbukti sosok aku menangis dipelukannya.
''Maafkan Naru Sa-kun, Naru pergi tanpa pamit dulu hiks, Sa-kun pasti marah pada Naru kan hiks.'' Ucap sosokku sambil terisak, pemuda itu mengangkat tangannya lalu mengusap kepala sosok aku dengan lembut.
''Tak apa aku mengerti, jadi bisa kau ceritakan padaku yang sebenarnya terjadi?" tanya pemuda bernama Sa-kun itu, kulihat sosok aku mengangguk lalu mengajak sipemuda duduk dikursi yang tak jauh dari pohon besar diatas bukit hokage itu.
''Lima tahun yang lalu tou-san dan kaa-san bercerai, aku ikut dengan tou-san dan imotou-ku tetap tinggal disini bersama kaa-san, aku lalu dibawa kekota Kiri dan menetap selama tiga tahun disana.'' Jelas sosok aku dengan wajah menunduk, aku tercenung dan sedikitnya aku sepertinya sadar jika aku sedang berada dingatanku dua tahun yang lalu, ah benar aku mulai ingat sekarang dulu sebelum bercerai tou-san dan kaa-san selalu bertengkar hebat setiap malam, tou-san dipecat secara sepihak ditempatnya bekerja hingga membuat kehidupan kami yang memang pas-pasan menjadi semakin melarat, aku dan Karin hanya bisa menangis saat melihat kedua orangtua kami bertengkar dan tepat setelah perayaan tahun baru keduanya memutuskan untuk bercerai.
Tiga tahun aku dan tou-san tinggal di Kiri dan keadaan kami sedikit berubah namun lagi-lagi kesialan datang melanda tou-san dituduh menggelapkan uang perusahaan milik seorang pengusaha bernama Killer Bee, bukan hanya dipecat tou-san bahkan terancam masuk penjara namun Kami-sama masih menyayangi kami hingga seminggu setelah tuntutan dikeluarkan dalang dibalik penggelapan uang perusahaan milik Killer Bee pun tertangkap dan tou-san pun bebas dari tuntutan.
Kami pun akhirnya pindah lagi kekonoha namun tak menetap didaerah yang sama dengan kaa-san, aku pun mulai suasana baru dan akhirnya mendapat teman baru kalau tak salah namanya Kiba kami pun berteman cukup akrab, tou-san akhirnya mendapat pekerjaan disebuah restourant dan setidaknya selama dua tahun kami tinggal disana kehidupan kami sedikit lebih baik.
''Lalu kau kembali kesini karena ingin bertemu dengan kaa-sanmu?" aku tersentak dari lamunanku tentang kepingan ingatanku yang sepertinya mulai bersatu layaknya potongan puzzle, kulihat sosok aku mengangguk walau raut sedih masih terpancar diwajah sosok aku itu.
Ya aku ingat lima tahun tak bertemu dengan kaa-san dan juga Karin tentulah membuatku rindu dan aku meminta pada tou-san untuk mengijinkanku menemui kaa-san dan tou-sanpun akhirnya mengijinkan namun sayang saat kudatangi rumahnya ternyata yang kutemui hanya Karin karena kaa-san katanya lebih memilih tinggal di Uzushio yang merupakan kota kelahiran kaa-san, Karin memang sengaja tak ikut karena sama sepertiku ia sangat merindukan aku dan tou-san dan berharap bisa bertemu dengan kami kala itu.
''Tapi aku sedikit kecewa karena kaa-san ternyata sudah pindah, lalu aku teringat tempat ini dan memutuskan untuk kemari saja berharap bisa bertemu Sa-kun juga lalu minta maaf karena sudah pergi tanpa pamit.'' Kulihat sosok bernama Sa-kun menarik bahu sosok aku lalu merangkulnya.
''Ya, tentu saja Naru.''
''Uhm, tapi aku juga ingin mengatakan sesuatu pada Sa-kun."
''Apa itu?"
''Naru sebenarnya bukan perempuan, Naru laki-laki dan nama Naru juga Naruto bukan Naruko, apa kau akan benci pada Naru?" Pemuda itu tertawa renyah, huh apanya yang lucu dasar.
''Kau ini lucu sekali ya, mana mungkin aku membenci orang semanis kau, hmm bagaimana jika mulai saat ini aku memanggilmu sunshine saja.
Deg
Eh nama itu sepertinya aku pernah dengar ada yang memanggilku dengan nama itu apa jangan-jangan, sesuatu kembali terjadi suasana disekitarku kembali berubah dan ini…
Tidak mungkin tempat ini bukannya…
''Oi Naru kau lama sekali sih, aku dan adikmu yang bawel ini sudah lelah menunggumu, baka." Aku terhenyak dan seketika menoleh, kulihat sosok pemuda berambut jabrik dengan tato segitiga merah dikedua pipinya sedang berdiri di luar kedai takoyaki bersama Karin dan juga anjing putih yang tak pernah absen dibawanya jika ia akan pergi kemana-mana.
''Gomen Kiba, Karin, hehehe habis Sa-kun tadi mengajakku membeli kue untuk hari jadi kami yang pertama." Kulihat lagi sosokku bersama pemuda itu, tanpa kusadari airmataku mengalir kini aku ingat semuanya, saat itu dihari satu tahun kami berpacaran aku dan Sa-kun memutuskan untuk merayakannya ditaman hiburan, aku dan Sa-kun menjadi sepasang kekasih tepat sehari setelah pertemuan kembali aku dengannya dibukit hokage hari pertama aku berkencan dengannya adalah ditaman hiburan ini lalu kami akan naik bianglala itu dan Sa-kun tak pernah absen memberiku setangkai bunga lili diakhir kencan kami, betapa bahagianya aku selama menjadi kekasihnya.
Dan hari itu dimana aku akan merayakan anive kami yang pertama aku sengaja mengajak Karin dan juga Kiba ketaman ini hitung-hitung mentraktir mereka dan keduanya yang memang hobi jalan-jalan itu tentulah tak akan menolak apalagi ada kalimat gratisnya siapa sih yang tidak mau.
''Huu curang kuenya hanya dimakan berdua saja kami tidak disisakan.'' Kulihat Karin cemberut lalu membelakangiku dan sosok aku hanya menertawakan tingkah lucunya saja.
''Gomene Karin-chan, tapi my sunshine bilang hanya ingin makan berdua denganku.'' Karin menyikut perut sosok aku hingga membuat sosok aku meringis.
''Dasar pelit, bhuu. Sudah sana kalian berduaan saja aku mau kerumah hantu saja bersama Kiba.'' Karin lalu membawa Kiba menuju rumah hantu meninggalkan sosok aku dan juga Sa-kun.
''My sunshine apa kita akan berdiri saja disini?"
''Tentu saja tidak, aku ingin naik sesuatu.'' Ucap sosok aku kulihat Sa-kun ikut berpikir.
''Hm bagaimana jika kita naik bianglala saja.''
''Eh, apa tidak bosan naik wahana itu, setiap kita kencan kitakan selalu naik wahana itu.'' Sosok aku terlihat tak setuju karena memang benar saat itu perasaanku tidak enak dan selalu was-was.
''Tak apa ayo.'' Sa-kun menarik sosok aku menuju wahana bianglala saat tiba disana sosok aku tiba-tiba saja menahan tangannya untuk pergi.
''Jangan pergi, aku tidak mau ditinggal sendirian.'' Ucap sosok aku, ah benar saat itu tanpa sadar aku berucap seperti itu seolah dia tidak akan kembali lagi.
''Aku hanya pergi sebentar membeli tiket, my sunshine.''
''Jangan lama-lama.'' Kedua mataku berkaca-kaca saat teringat hal ini, dan sampai saat inipun aku tetap tak percaya jika dia sudah pergi.
''Iya. Aku pergi dulu.''
Sa-kun kenapa kau pergi meninggalkanku, aku benar-benar hampa tanpa dirimu, aku menjadi gila saat tahu kau sudah tak ada.
Duar
Dan tepat saat Sa-kun pergi untuk membeli tiket sebuah ledakan terjadi, ledakan itu sebenarnya berasal dari wahana dibelakang bianglala, aku berdiri mematung ditempatku begitu juga sosok aku yang menatap tak percaya dengan kejadian didepanku, entah apa yang sebenarnya terjadi yang jelas begitu ledakan itu terjadi semua area disekitar bianglala ikut meledak dan juga terbakar termasuk tempat dimana Sa-kun membeli tiket sosok aku menjerit seketika memanggil nama Sa-kun,dan bagian dari memoriku yang ini adalah bagian yang membuatku seakan kembali pada masa itu bagian yang kadang membuatku tak sadar menjerit layaknya orang gila walau saat itu aku tak ingat kenapa aku bisa seperti itu, aku pun ingat ketika aku berlari menerobos orang-orang yang kalang kabut menyelamatkan diri dan hal tak terduga terjadi salah satu dari bagian bianglala terjatuh dan saat itulah semua kesadaranku hilang begitu pula dengan ingatanku, tidak seluruh ingatanku tak hilang karena seperti yang kukatakan sebelumnya memori yang tersisa hanya tragedi ledakan itu dan juga sosok yang tak kukenal yang begitu ingin kutemui dan itu pula yang membuatku terpaksa masuk rumah sakit jika selama satu tahun.
Dan saat aku tersadar atau mungkin kewarasanku telah kembali, aku masih tak ingat apa-apa selain tou-san, bahkan Karin orang yang pertama kali kulihat saat sadar pun tak kukenali, ketika aku bertanya ia malah menjawab jika ia adalah sahabatku sejak lama.
Aku kembali dibuat terkejut saat keadaan disekelilingku kembali menjadi hitam namun tak seperti sebelumnya karena kali ini aku kembali melihat setitik cahaya terang didepanku, aku mengulurkan tanganku dan yang selanjutnya terjadi adalah tubuhku terasa seperti tersedot kedalam cahaya itu.
Naruto pov end
Naruto mengerutkan keningnya saat merasakan sesuatu yang silau menerpa kelopak matanya, perlahan manik sebiru langit musim panas itu terbuka dan saat itulah ia sadar jika ia berada dikamarnya namun tidak seperti biasanya ketika ia sadar ia tak mengingat apa-apa karena kini ia sadar kembali beserta seluruh memorinya, ia sudah sembuh sekarang.
Flasback off
"Naru-nii, hiks…. Naru-nii aku merindukanmu.''
''Begitu juga denganku Karin adikku yang manis.''
''Selamat datang kembali Naru-nii.'' Karin tersenyum bahagia seraya mengusap airmatanya.
''Aku kembali.'' Balas Naruto disertai cengiran lima jarinya, cengiran khas dirinya dulu.
Drrttt drrrttt drrrttt
Ponsel Naruto berdering, ia pun segera mengambilnya, beruntung sensei yang mengajar di jam ini belum hadir sehingga para murid pun banyak yang tidak pada tempatnya. Satu pesan terlihat dilayar ponselnya dan Naruto ingat nomor itu pernah mengiriminya pesan juga dulu.
From : 089xxxxx
Aku masih menunggumu untuk mengingatku kembali, aku cukup bersabar selama ini tapi kenapa kamu malah menerima dirinya, aku melihatnya, semuanya, tentang kamu dan dia.
You'r mine my sunshine, ingat itu.
Deg
Jantung Naruto berdegup kencang bola matanya membulat sempurna, benarkah pengirimnya adalah Sa-kun kekasihnya dulu, tapi bukankah dia itu sudah…
Tapi tunggu dulu dia bilang melihat semuanya apa yang dimaksudnya adalah kejadian saat istirahat di gedung basket, apa itu artinya Sa-kun adalah salah satu diantara mereka yang berada disana, apakah Sasori ataukah Sai atau bisa saja Shikamaru, Naruto tak mungkin akan mengira jika sipengirim adalah Sasuke karena jelas-jelas jika yang dimaksud sipengirim adalah tentang dirinya dan senpainya itu.
'Aku akan mencari tahu tentangmu.' Batin Naruto.
Tbc
Halloooo semuanya…senang rasanya kimi bisa lanjutin ff ini lagi, kebetulan idenya lagi kumpul nih dan jika ada yang masih bingung soal bahasanya yang berbelit-belit atau banyak yang ga ngerti silahkan ditanyain biar kimi nanti jelasin lagi di a/n or pojokan author hehehe
Makasih ya atas dukungan dan semangat kalian kimi bisa semangat buat lanjutin ff ini.
Dan ini balasan review buat yang ga log in :
Yuki otaku : err kalo ngeh pasti ketebak kok hehehe ini udah rada cepet pan…
Fara : kayaknya sih begitu hehehe
Guest1 : ini udah next
Guest2 : ini udah lanjut say..
Im : pertanyaannya udah kejawab nih…
Aoi sora : sama2 say iya tuh sasuke minta di opor ama kimi katanya kkk makasih ya buat semangatnya ke kimi…
Guest3 : sasuke ga jahat kok Cuma masih labil aja.. ini nextnya
Neko-chan : hahaha begitu ya maklumlah sasuke emang labil tuh…
Arashilovesn : pertanyaanya udah kejawab say di part ini hehehe…
Kuro SNL : hehehe jawabannya udah ada tuh di mimpinya naru-chan…
Manamanarul : njirrr galaknya mbak manamana kkkk
Naru : ini udah update moga suka ama part ini ne…
Sampai jumpa lagi di part selanjutnya…
