Mohon maaf untuk keterlambatan updatenya, saya tau ini sudah lama sekali, saya benar-benar buntu dipart ini dan sempat hampir ingin menghapusnya saja bersama ff saya yang lainnya namun jika membaca ulang review kalian saya pun kembali bersemangat walau sedikit karena saya memang orang yang sedikit sibuk diduta, terima kasih juga jika ada yang masih ingat dan sempat membaca juga mereview ff saya yang masih jauh dari kata sempurna ini dan buat yang udah review mohon maaf juga jika saya belum bisa membalasnya..sekali lagi terima kasih ditunggu reviewnya reader-san..

Pair : SasuNaru, ShikaKiba, dll

Genre : romance/drama.

Warning : BL, typo (mungkin), OOC (nyempil), dll.

a/n : Sebagai peringatan ya fanfic ini Cuma di khususkan untuk para fujoshi yang memang suka ff dengan pair sasunaru, saya udah kasih warning di summary tapi masih saja ada yang nyasar dan pura-pura ga tau ada ff dengan konten yaoi, sekali lagi buat para reader yang sekira-kiranya anti sama ff bertema homo sebaiknya jangan memaksakan diri untuk membaca.

Selamat membaca.

Part 7

Naruto berjalan tak tentu arah sepulang dari sekolahnya, ia hanya mengikuti kemana langkah kakinya akan membawanya saja, cukup jauh ia berjalan hingga akhirnya ia tiba disebuah tempat yang kini sudah tak asing lagi baginya, ya sebenarnya jika ia tak kehilangan ingatannya tempat itu adalah tempat penuh kenangan tentang dirinya dan juga Sa-kun kekasihnya dulu.

Naruto menghampiri sebatang pohon besar ia pun mendudukan dirinya dibawah pohon besar itu lalu memeluk kedua lututnya, 'Sa-kun, jika kau memang masih hidup kenapa tak pernah sekalipun muncul didepanku, jika memang aku masih tak bisa mengenalmu maka buatlah aku kembali mengenalmu lagi.' Batin sipirang.

Butiran bening mulai mengalir dipipi tan bergaris kumis kucing itu, pikirannya kembali menerawang jauh saat ia pertama kali bertemu dengan Sa-kun, kala itu usianya 7 tahun sama seperti usia Sa-kun, ya sebenarnya usia Naruto satu tahun diatas Karin namun karena Naruto harus menjalani perawatan selama satu tahun sehingga mengharuskannya putus sekolah sampai ia dinyatakan 'sehat' saat itu dan boleh bersekolah namun ia tak boleh terlalu banyak berpikir apalagi berusaha untuk mengingat masalalunya.

Flashback

Seorang bocah berambut raven dengan model pantat ayam berusia sekitar tujuh tahun tampak terlihat sedang cemberut dibawah sebuah pohon diatas bukit bernama bukit hokage, bocah itu memegang kue tart kecil dengan lilin berbentuk angka 7.

''Ano, maaf, apa Naru boleh duduk disini?" tanya seorang bocah seusianya, ia bocah perempuan yang cantik, rambutnya sebahu dengan hiasan bando berwarna orange di kepala bersurai pirangnya, bocah itu memakai dres berwarna orange selutut menambah kesan manis dan cantik pada dirinya hingga tanpa sadar membuat sibocah raven terpana namun tetap mempertahankan raut datarnya.

''Hn.''

''A-arigatou.'' Ucap bocah perempuan bernama Naru itu, ia pun berdiri disamping bocah raven itu lalu mendudukan dirinya sedangkan sibocah raven tetap pada posisinya semula berdiri dengan wajah cemberut sambil memegang kue ulangtahunnya.

Bocah perempuan berambut pirang jabrik sebahu itu diam-diam mencuri pandang pada bocah raven yang masih betah pada posisinya itu, ia sebenarnya ingin bertanya tapi ia takut jika bocah raven itu akan marah dan malah mengusirnya nanti makanya ia memutuskan diam saja walau sesekali meliriknya.

''Aku benci mereka dan semuanya.'' Bocah perempuan itu tersentak saat mendengar bocah raven itu berbicara namun tak memungkiri jika hatinya juga senang karena bisa mendengar suara bocah raven itu.

"Benci?" beo bocah perempuan itu, ia memang tak begitu mengerti kalimat seperti itu karena ia merasa tak pernah membenci ataupun dibenci.

''Hn, aku benci tou-san, kaa-san dan juga aniki, mereka semua.''

''Ano, tapi kenapa kau membenci keluargamu? Tidak baik loh membenci kedua orangtuamu dan juga anikimu, mereka pasti sedih, tou-chan bilang pada Naru untuk tidak membenci tou-chan apapun alasannya karena nanti tou-chan Naru akan sedih.''

''Kau tidak akan mengerti, mereka semua tak ada yang mau perhatian padaku." Ujarnya dengan kepala menunduk hingga kedua matanya tertutup poni bagian depannya.

''Tou-san dan kaa-san terlalu sibuk dengan bisnisnya sedangkan aniki jarang ada dirumah, aku hanya ditinggal dirumah saja bahkan dihari ulangtahunku.'' Lanjutnya.

''Jadi kau selalu ditinggal sendirian?"

''Hn tidak juga, ada Shin yang menemaniku.'' Jawab bocah raven itu yang kini menyamakan posisinya dengan bocah perempuan itu yaitu duduk menyender dibawah pohon besar itu.

''Siapa itu Shin? Apa dia adikmu atau..''

''Sepupu jauhku, hanya saja kedua orangtuanya sudah meninggal saat dia masih berumur 3 tahun hingga kedua orangtuaku memutuskan untuk merawatnya.'' Jelas siraven pipi bulat berwarna putihnya tampak semakin bulat akibat digembungkan.

''Apa kau sedang merayakan ulangtahunmu hari ini?"

''Hn, ini ulangtahun ke tujuhku." Jawab siraven dengan wajah menunduk sedih, bocah pirang itu terenyuh ia pun ikut merasa sedih melihat wajah murung teman barunya ya setidaknya itu hanya pemikiran si pirang saja.

"Naru juga sebentar lagi berulangtahun yang ke tujuh, hm bagaimana jika kita merayakan ulangtahunmu disini saja?" usul bocah pirang itu, wajah yang tadinya sempat ketakutan kini berubah menjadi cerah seketika.

''Hn." Sahut siraven sebagai jawaban 'ya'.

Hari mulai beranjak sore, dua bocah berbeda warna rambut itu masih asik bermain diatas bukit hokage setelah mengadakan pesta kecil-kecil untuk ulangtahun siraven dua bocah itu pun memutuskan untuk bermain ayunan yang berada diatas bukit, si pirang duduk diatas ayunan yang mengayun karena dorongan dari siraven walau bocah itu terlihat datar namun pancaran matanya sirat akan kesenangan mungkin ia sudah melupakan kekesalan dihari ulangtahunnya.

''Ano, aku belum tahu namamu, bolehkah aku tahu siapa namamu?" tanya si pirang takut-takut.

Bocah raven itu menghentikan dorongannya membuat ayunan yang dinaiki bocah pirang itu berhenti.

''Namaku Sa.. uhmm hanya itu." Bocah pirang itu memiringkan kepalanya, sedikit heran dengan perubahan sikap bocah yang katanya hanya bernama 'Sa' itu, walau mereka baru bertemu hari ini namun agaknya sipirang diam-diam mengamati prilaku siraven yang terkadang berganti-ganti ekspresi diwajah datarnya itu.

''Namaku Naruko salam kenal Sa-kun, bolehkan Naru manggil kamu begitu?" tanya sipirang bernama Naruko itu takut-takut.

"Hn." Sahutnya sebagai jawaban iya seperti sebelumnya.

"Naru, mau sampai kapan kau akan bermain, Kaa-san memang mengijinkanmu bermain tapi jangan terlalu jauh.'' Tegur seorang wanita cantik berambut merah dengan poni yang dijepit kesamping.

Naruko menoleh lalu menghampiri wanita yang menegurnya itu,''Gomenne kaa-chan, Naru akan segera pulang, jaa ne Sa-kun nanti kita main lagi ya.'' Naruko melambaikan tangannya lalu mengikuti langkah kaki wanita yang dipanggil kaa-san itu.

Wajah Naruko terlihat sedih saat menuruni bukit itu terlihat jelas jika ia ingin menangis, bukan Naruko bukan ingin menangis karena berpisah dengan siraven namun ia merasa sedih karena sudah membohongi bocah raven itu tentang gendernya yang sebenarnya adalah laki-laki juga.

'Gomenne Sa-kun.'

Sementara bocah raven itu kembali memasang ekspresi wajah murung seperti sebelumnya, ''Aku sendirian lagi.'' Gumamnya dengan wajah menunduk dengan aura suram disekelilingnya, namun sesaat kemudian ia kembali menegakan wajahnya seraya tersenyum tipis, ya sangat tipis sekali.

''Tapi tadi dia bilang 'nanti bermain lagi', besok aku akan kemari lagi.'' Lanjutnya, bocah itu pun lalu pergi meninggalkan bukit hokage.

Flashback off

Naruto tersenyum pedih ia terus berandai-andai jika Sa-kun yang selama ini dirindukanya tiba-tiba saja muncul didepannya lalu memeluknya, namun apakah perasaannya masih sama seperti dulu karena sejujurnya ia sudah terlanjur menyukai Sasuke, andai saja Sasuke adalah Sa-kun nya mungkin saja ia…

Deg

Naruto tersentak kala memorinya tertuju pada percakapan dirinya dengan Sasuke ditempat itu saat ia belum mengingat semuanya, cerita mengenai gadis kecil bernama Naruko yang ternyata adalah dirinya dan juga bocah yang mengaku hanya bernama Sa itu apakah sebenarnya Sa adalah Sasuke, namun jika ia berpikir kembali rasanya tidak mungkin karena Sa-kun yang menjadi kekasihnya saat itu berbeda dengan Sasuke dan lagi Sa-kun nya pastilah akan tetap sama seperti dulu walau ia sendiri belum yakin karena sampai detik ini pun pemuda itu belum mau menampakan dirinya.

Naruto memegang kedua sisi kepalanya seraya menggeleng kuat, ia benar-benar dibuat bingung, ''Jika Sa-kun yang sebenarnya adalah Sasuke senpai lalu siapa orang yang menjadi kekasihku saat itu?"

Di tengah pikirannya yang berkecamuk dengan berbagai pertanyaan seputar pemuda bernama Sa itu, Naruto mendengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat kearahnya.

''Disini kau rupanya." Ucap pemuda berambut raven melawan gravitasi itu, ia adalah senpainya disekolah sekaligus mantan pacar sesaatnya Uchiha Sasuke.

''Apa senpai sengaja mencariku?" tanya Naruto tanpa mendongak untuk melihat wajah Sasuke, ia tak sanggup melihat wajah tampan itu karena pasti luka dihatinya akan kembali tersayat.

''Ya aku sengaja mencarimu.''

''Untuk apa senpai mencariku?"

Puk

Sebuah benda berbentuk kertas jatuh tepat dibawah kaki Naruto dapat dilihatnya tulisan yang terpapar disana 'Undangan' begitulah kira-kira bunyi tulisannya.

''Minggu depan aku akan bertungan dengan Sakura, gadis yang kau lihat saat itu.'' Ujar Sasuke yang mau tak mau membuat Naruto mendongak.

''Kuharap kau datang dan pastikan jangan membuat keributan disana.'' Lanjutnya lalu pergi tanpa melihat pada Naruto.

Naruto tak mengerti dengan jalan pikiran Sasuke, apa maunya pemuda itu sampai-sampai ia begitu ingin membuatnya malu, apa pemuda itu memang sengaja ingin semua orang tahu tentang kondisi kejiwaannya, atau memang senpainya itu diam-diam sedang membalas dendam padanya dengan cara halus seperti itu.

''Kau memang aneh senpai, sifatmu cepat sekali berubah-ubah persis seperti Sa-kun saat pertama kali kami berte…ukh apa yang kupikirkan, jelas-jelas Sa-kun dan senpai teme itu berbeda jauh sekali.'' Gumamnya walau dalam hati kecilnya membenarkannya.

.

.

Sasuke memukul stir mobilnya, ia marah pada dirinya sendiri kenapa ia harus berbuat tega pada orang yang jelas-jelas masih dicintainya, namun rasa gensi dan harga dirinya yang membuatnya harus bersikap egois seperti sekarang, bagaimanapun juga ia ingin memberi Naruto sebuah pelajaran karena sudah membuatnya seperti itu, ya sejak ia mengetahui kondisi kejiwaan Naruto saat itulah ia dilanda sebuah dilema, sifatnya yang pada dasarnya memang labil malah membuatnya bimbang antara menerima atau tidaknya keadaan Naruto saat itu.

Dan kedatangan gadis bernama Haruno Sakura dalam hidupnya membuatnya memanfaatkan keadaan, ia harus memastikan perasaannya terlebih dahulu sebelum benar-benar memutuskan semuanya, Sakura bukan hanya teman satu kelasnya namun ia juga merupakan anak dari rekan bisnis ayahnya dan ketika kedua orangtuanya mengutarakan soal perjodohannya dengan Sakura pemuda raven itu langsung menyetujuinya.

.

Naruto masih bergeming ditempatnya semula, tak dipedulikannya dering ponselnya yang sejak tadi terdengar olehnya, pikirannya berkecemuk bahkan ia tak sadar jika ada seseorang yang mengamatinya saat ini.

''Sendirian saja?" tanya sosok itu mulai berani menampakan dirinya, Naruto walau tak begitu dekat dengan kakak kelasnya yang satu ini namun ia tetap mengenalnya hanya lewat suaranya.

''Senpai memang kebetulan datang kemari atau memang sengaja ingin menemuiku?" Naruto tak menjawab pertanyaan Sai melainkan balik bertanya pada kakak kelasnya itu, sedikit mencurigakan memang karena setahunya Sai itu orang yang jarang berbicara jika bukan dengan teman segerombolannya.

''Hanya kebetulan lewat daerah sini dan kulihat ada sesuatu berwarna kuning makanya aku ingin memastikannya.'' Alasan yang tak masuk akal memang namun toh Naruto saat ini tak ingin mencibir atau apapun karena dalam pikirannya hanya satu hal yaitu Sasuke dan pertunangannya untuk itulah ia tak lagi bersuara dan lebih memilih dalam kondisi semulanya yaitu merenungi segala hal dan menganggap seolah Sai tak ada.

''Kau sudah mendengar kabar jika Sasuke-..."

''Aku sudah tahu, tak usah dibahas lagi senpai.''

''Pasti sangat berat bagimu ya, maaf bukan bermaksud ikut campur tapi sebaiknya kau relakan saja dia.''

''Jika hal itu semuda membalikan telapak tangan, aku akan dengan senang hati mengiyakan ucapanmu senpai, dulu aku kehilangan seseorang yang kucintai dan kini ketika aku mulai membuka hatiku untuk yang lain luka itu seolah terbuka lebih lebar, senpai pikir itu mudah.''

''Memang itu tidaklah mudah, tapi bukankah akan lebih menyakitkan jika kau tetap mempertahankan sesuatu yang jelas-jelas sudah akan dimiliki orang lain.'' Naruto mendelik tak suka pada Sai.

''Jika senpai yang berada diposisiku saat ini, bagaimana perasaanmu dan seperti apa senpai akan menyikapinya?"

Sai yang semula tersenyum berubah datar, tangan pucatnya terulur lalu menyambar dagu lancip pemuda pirang itu, membuatnya terpaksa mendongak lalu bertemu pandang dengan manik arang Sai yang jujur saja mengingatkannya akan sosok mantan kekasih seharinya itu.

"Asal kau tahu dulu aku memiliki seseorang yang sangat kucintai tapi karena suatu hal kami berpisah, aku menunggu selama ini agar mampu kembali padanya namun kau tahu dia kini malah berpaling pada orang lain, kau ingin aku bagamana menyikapi semua ini, jawabanku adalah aku akan berusaha merebutnya kembali."

Naruto terpekur, ucapan Sai bagaikan sembilu yang menusuk tepat keulu hatinya, entah hanya perasaannya saja atau ucapan Sai mengingatkannya akan seseorang.

''Senpai kau menyakitiku.''

Sai melepaskan cengkraman didagu Naruto ia sadar jika ia terlalu terbawa suasana akibat ucapan adik kelasnya itu.

''Maaf Naru, bukan maksudku..."

''Aku mengerti tak seharusnya aku memancing kemarahanmu.'' Naruto kembali menunduk.

''Tak masalah terkadang aku memang sering merasa marah tak jelas, oh iya bagaiman jika kau menemaniku dipesta pertunangan Sasuke, anggap saja jika kita adalah partner kencan satu malam, haha.'' Canda Sai diakhir kalimatnya.

''Hm, akan kupikirkan.'' Balas Naruto.

''Baiklah kutunggu keputusanmu besok pagi, berhubung sudah gelap bagaimana jika kuantar kau pulang?" tawar Sai dengan tangan terulur bedanya kini ia ingin menggandeng tangan pemuda pirang itu, Naruto terpaku sesaat namun selanjutnya ia mengangguk, diantar oleh Sai tidak buruk juga.

''Baiklah, ayo.'' Naruto menerima uluran tangan itu lalu ia pun berjalan beriringan dengan senpainya menuruni bukit itu.

Tbc.

untuk segala kesalahan baik typo maupun tulisan dan juga pengejaan saya mohon maaf..