Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Warning : OOC, Typo, perusakan karakter, shinigami life, tulisan berantakan *seperti biasa, author ga pernah meriksa ulang*, etc.

.

Hari terlalu masih terlalu pagi ketika Rukia bangun dari tidurnya. Matanya beberapa kali mengerjap, kantuknya belum begitu menghilang pengaruh dari jam tidur yang belum terlalu lama. Melewati waktu melelahkan seperti habis berlatih kidou. Tubuhnya mencoba mengistirahatkan diri dengan bersandar pada sandaran tempat tidur, tanpa sadar matanya melirik pada sosok tubuhnya yang hanya terbungkus selembar selimut lewat pantulan cermin yang terpajang besar di dinding. Merasa asing pada sosoknya sendiri. Oh—iya benar, dia sudah menjadi seorang pengantin sekarang.

Jam 3 pagi.

Helaan nafas berat menyusul ketika matanya melirik pada suaminya yang tengah terlelap tidur di samping. Pemuda itu begitu nyaman tidur dengan terlilit selimut, bahkan tampaknya beruang yang sedang hibernasi juga akan iri melihat tidur sang kapten divisi 5 tersebut. Tampilan Kurosaki Ichigo yang masih bisa nyaman dalam tidurnya malah yang membuat Rukia merasa semakin tertekan.

Lima hari sebelumnya...

"Keputusannya sudah bulat. Kau dan Kurosaki akan dinikahkan."

Rukia menggelengkan kepala kuat, setelah lebih dari dua minggu sang kakak ipar bungkam mengenai masalah dirinya terhadap para tetua. Hari ini, dengan sangat dingin tanpa ada peringatan sang kakak ipar langsung mendeklarasikan berita buruk.

"Para tetua salah paham, Nii-sama. Aku dan Ichigo tidak melakukan apapun."

Byakuya tetap tenang sedingin es. Wajahnya tak memperlihatkan perubahan ekspresi yang signifikan meski istrinya—Hisana—juga berada di ruang yang sama, mempertanyakan keputusan para tetua pada adiknya.

"Nii-sama, tolong bantu aku menjelaskannya pada para tetua, aku dan—"

"Kenapa kau tidak diam dan mengikuti keputusan mereka, Rukia."

"Tapi Ichigo dan aku tidak melakukan apapun, dia hanya mencoba—"

"Menyelamatkanmu dari Izuru Kira?" cemooh Byakuya, cukup jengah dengan kekeras kepalaan sang adik ipar.

Rukia cukup terperangah. Benar. Kakak iparnya adalah seorang Kuchiki, mustahil baginya untuk memperoleh sedikit informasi. Tapi—kalau Byakuya tahu fakta sebenarnya, kenapa...

"Pria mabuk itu bahkan tidak ingat apapun tentang kejadian malam itu."

Rukia meremas ujung hakama dengan kuat, tebasan hollow bahkan tidak dapat menyamai perasaan sesaknya saat ini. "Dia mencoba memperkosaku, Nii-sama..."

"Bagaimana kau bisa dengan mudah mengatakan hal itu di saat salah satu pihak di antara kalian menyangkalnya!" Byakuya mulai murka. Demi apapun, bisakah adik iparnya ini menurut tanpa perlawan sekali saja.

Di sisi lain, baru kali ini Rukia melihat tampilan air muka anggota keluarga Kuchiki tersebut begitu terusik. Begitu besar kah masalah yang ia timbulkan sehingga Kuchiki Byakuya yang kaku bisa menjadi es pembunuh.

"Jangan menjadi orang bodoh, Rukia. Para tetua tidak mau mendengar hal yang belum jelas kebenarannya. Anggap mereka percaya pada ceritamu, tetap saja mereka akan meragukan kesucianmu. Kau hanya akan memberikan kesempatan mereka untuk menendangmu keluar."

"Tapi—bagaimana dengan Kurosaki-taichou? Apa masalah ini tidak mempersulitnya?" Hisana mulai angkat bicara, mencoba menengahi amarah antara dua orang yang sangat disayanginya. Ia tahu Byakuya tidak akan menelantarkan adiknya, karena itulah janji Byakuya sebelum memperistrinya dulu. Dan Kuchiki Byakuya lebih memilih mati dari pada tidak bisa memegang kata-kata.

"Taichou muda itu ternyata tidak bodoh seperti dugaanku selama ini. Dia tahu posisi Rukia akan semakin sulit kalau dia berbicara yang sebenarnya. Dia memilih untuk menjadi kambing hitam dan mempertanggung jawabkan semua kesalahan Rukia. Pernikahan sudah menjadi tanggung jawab nyata yang terhormat di hadapan tetua darinya. Seharusnya kau berterima kasih padanya, Rukia. Berhentilah menentang, kau hanya akan mempermalukan pengorbanannya"

...

Rukia menggelengkan kepala kuat. Bersikap seolah semua baik-baik saja bukanlah karakternya. Semakin ia coba melupakan yang sudah terjadi, semakin kuat pula memori-memori tersebut menyeruak masuk. Telapak tangannya menyapukan pada permukaan pipi Ichigo, cukup merasa percaya diri bahwa tidur pemuda berambut orange itu tidak akan terusik karena terlampau lelap dalam dunia tidur. "Maafkan aku, kuharap ini yang terakhir aku melibatkanmu dalam permasalah keluargaku."

Senyum lembut terukir di sudut bibir Rukia. Inilah ketulusan yang paling mendalam yang ia tunjukkan. Selama ini, hidupnya adalah untuk membahagian kakak perempuannya. Mulai sekarang, mungkin ia juga harus belajar menjadi istri yang pantas dari seorang kapten shinigami yang cukup disegani.

"Aku bisa menjadi kapten dengan cepat karena instingku yang tajam dan gerak refleksku yang cepat."

Rukia terkerjap kaget.

Kurosaki Ichigo. Makluk berambut mencolok itu ternyata terlihat jauh lebih siaga dari perkiraan. Bahkan jejak mengantuk pun tak terlihat dari sosoknya yang—sepengetahun Rukia—baru terjaga. Dengan sekali tarik, tubuh mungil Rukia telah berada dalam kurungan tubuh kokoh milik Ichigo. Mengunci dengan kedua siku berada di kedua sisi.

Respon Rukia pertama kali adalah bersiap mengeluarkan kidou penyerang. Namun urung karena ia lekas tersadar bahwa lelaki yang berada di atasnya ini adalah suaminya sendiri. Meski reaksinya bisa dibilang cukup alami untuk seorang perempuan mengeluarkan refleks perlindungan, sayang tindakannya kali ini seperti tidak berada di tempat dan waktu yang pantas. Hanya hal sederhana tentang malam pengantin suami-istri.

Memerah.

Tatapan mata Ichigo yang begitu intens membuat Rukia tidak berkutik. Mereka hanya baru beberapa jam menjadi sepasang suami-istri, meski sudah mencicipi apa yang dikatakan orang sebagai malam pengantin, tapi perasaan berdua beradu lewat kontak langsung kulit ke kulit dan hanya tertutup selimut. Hanya mereka dan Kami-sama yang tahu

Tubuh Ichigo yang berada di atas Rukia kian mendekat, menghapus jarak. Meski berdebar kencang, Rukia tetap mempersiapkan mental pada apa yang akan terjadi. Mereka adalah suami-stri.

"Rukia..."

Berdebar... suara hati Rukia berdebat dalam kepala. Bingung tindakan apa yang seharusnya ia lakukan saat ini. Ichigo bukan sedang ingin berbicara, tatapan pemuda itu jelas mengisyaratkan hal lain selain berbicara saat ini.

"Aku ini laki-laki dewasa..." nafas hangat menyapu sisi kanan telinga Rukia. "Kau tahu, di pagi buta seperti ini..."

Mata Rukia terpejam erat, meraskan sensasi kulit Ichigo kiat merapat. Tangan pemuda itu juga ikut berpartisipasi meremas lembut pundaknya. Akhirnya gadis bertubuh mungil tersebut mengambil tindakan menyerah. Bersikap dingin pada suaminya bukan hal yang baik juga. Tangannya berinisiatif mengusap belakang leher Ichigo ketika pria berambut orange itu membenamkan wajah di samping leher Rukia. Kian terasa, nafas Ichigo berubah semakin berat. Laki-laki memang mudah di tebak.

"Jangan mencoba merayuku."

E—eh? Memangnya siapa yang mencoba merayu siapa disini?

"Bukannya tadi kau ingin—"

"Aku masih butuh istirahat untuk pelatihan anggota baru besok. Aku hanya menghentikanmu agar berhenti meraba-rabaku saat tidur. Tidurku tidak akan nyenyak."

Heh?

"Oiya, Rukia. Ternyata tubuhmu sama sekali tidak bertumbuh sejak dulu."

Rukia mengarahkan wajahnya menatap Ichigo yang kini telah menatap dengan geli. Laki-laki ini... ternyata masih saja suka mengejeknya.

"Mati saja kau, idiot!"

Rukia ingin membalas, menendang Ichigo sekuat mungkin seperti beberapa tahun yang lalu, cara yang sama saat Ichigo sering membuatnya kesal ketika mereka masih berteman dekat. Sayang geraknya tidak kalah cepat dengan gerakan mulut Ichigo yang melontarkan kidou pengunci.

Yah—Rukia terkunci kaku dalam jerat kidou milik Ichigo.

"Nah, mari kita tidur."

Dasar laki-laki idiot.

.

"Bagaimana malam pengantinmu?"

Momo menjerit kecil ketika semburan air hampir mengenai wajahnya. Tangannya langsung terulur memberikan handuk untuk Rukia menyeka sisi bibirnya yang belepotan oleh air.

"Sepertinya cukup hebat."

"Ran-chan," tegur Momo kian prihatin karena kali ini Rukia malah jadi tersedak air. Rangiku memang tidak pernah tanggung-tanggung kalau ingin menyelediki hal memalukan begini.

"Bi,biasa saja kok."

"Bohong... kau pasti betah dirumah bersama Kurosaki-taichou."

"Aku tidak bohong! Ichigo melarangku masuk kerja kemarin karena dia bilang aku kelihatan lelah."

"Lelah?"

Gawat. Rukia sudah terjebak oleh pembelaannya sendiri.

Rangiku tertawa keras. Ternyata teman kecilnya sudah dewasa. "Ternyata Kurosaki-taichou benar-benar hebat sampai membuatmu kelelahan selama dua hari."

"Bodoh," gerutu Rukia memerah.

"Sudahlah, Rangiku. Jangan membahas rumah tangga Rukia terus. Kurosaki-taichou memang orang yang perhatian, makanya Rukia tidak masuk kemarin."

"Kau beruntung, Rukia," Rangiku menepuk-nepuk pundak Rukia, tidak begitu sadar bahwa tenaganya cukup kuat untuk tubuh sekecil Rukia. "O—yah! Sebagai istri yang juga perhatian, seharusnya kau membawakan bekal untuk suami mu di jam istirahat begini."

"Kalau itu aku setuju," timpal Momo. "Jadwal makan Kurosaki-taichou tidak pernah teratur kalau sedang asyik bekerja. Kurasa dia akan senang bila melihatmu membawa makan siang untuknya."

"Hmm... bekal ya?" tangan Rukia mengusap dagu pelan, merasa saran Rangiku kali ini ada benarnya. "Baik! Aku akan membuatnya siang ini."

.

Tubuh mungil Rukia mencoba menyembunyikan diri di belakang pohon rindang di dalam hutan tempat divisi 5 sedang berlatih. Mata violetnya sesekali mengintip sang taichou yang tengah asyik berbicara dengan teman-temannya.

Ternyata bukan hanya berubah menduduki posisi kapten dengan cepat, semenjak Ichigo tidak berteman dengannya lagi, pemuda itu kini malah jauh memiliki teman yang lebih setia dari dirinya dulu. Seperti biasa, Ichigo selalu dikelilingi oleh teman-temannya yang hebat—meski masing-masing sudah berbeda divisi.

Sebenarnya tubuh mungil tersebut telah berdiri sekitar sepuluh menit bersembunyi, namun tak berani mendekat ketika melihat si cantik Orihime menjinjing bungkusan bekal. Isi kepala Rukia cepat menyimpulkan bahwa bekal makan tersebut sudah berlabel 'untuk Kurosaki-taichou'.

Rukia kembali mengamati bekal yang ia bawa. Kotak bekal kecil yang cuma berisi beberapa nasi onigiri dan dua buah jeruk manis, hanya itu yang bisa terpikirkan olehnya ketika tiba dirumah. Benar-benar sangat sederhana serta semakin terlihat konyol dengan kain pembungkus bermotif kelinci. Jauh sekali perbedaannya dengan milik Orihime yang sepertinya kotak bekalnya memiliki susunan hingga dua tingkat. Bisa dibayangkan makanan mewah seperti apa yang gadis itu siapkan.

"Kuberikan atau tidak ya?"

.

"Aku benci pada Mayuri-taichoiu, dia terobsesi sekali ingin menjadikanku objek penelitiannya," Ishida sesekali membetulkan posisi kaca mata ditengah ceritanya yang begitu menggebu.

Baik Ichigo, Sado, dan Orihime langsung tertawa. Meski tema Ishida sebagai kelinci percobaan sudah menjadi topik biasa tiap hari, namun ceritanya tetap memprihatinkan sekaligus menggelitik bersamaan. Ishida Uryuu merupakan yang terbaik di divisi 12, bisa-bisanya pemuda tersebut mengatakan benci pada kaptennya sendiri disaat dia adalah bagian dari tim divisi 12.

"Bukannya sejak di akademi dulu kau sudah tahu dia terobsesi padamu, kenapa kau tetap saja bergabung di divisi 12?" tanya Sado bingung.

"Aku di paksa ayahku. Kalian tahu kan seberapa keras dan menyebalkannya ayahku itu?"

"Kau ini banyak alasan," cibir Ichigo. "Bilang saja kau mengincar Kurotsuchi Nemu."

"Kurosaki!"

Berkat sindiran Ichigo, Ishida sukses semakin menjadi bahan tertawaan yang lain. Menambah kekesalannya pada makhluk orange tersebut.

"Hai, semuaaaa..." Rangiku menghampiri dengan berseri-seri bersama Momo.

"Kau terlalu cepat datang, Hinamori. Waktu istirahatmu masih lama," Ichigo mengingatkan.

Momo tersenyum kikuk, matanya sesekali melempar pandang pada Rangiku. "Ano—aku tahu kok, Taichou. Aku hanya dipaksa Rangiku."

"Kakak, kenapa memaksa Hinamori?" Orihime memandang cemas pada Rangiku yang tatapanya sedang berkeliaran kemana-mana. "Jangan bilang kakak mencariku?"

"Ah—aku tidak mencarimu, kok. Kau tenang saja."

"Lalu, kenapa kakak kesini?"

"Argh! Momo!" mendadak Rangiku sudah meledak-ledak. "dia benar-benar pengecut."

Orihime mengeluarkan senyum kikuk. Sepertinya tingkah aneh kakak perempuannya sudah mulai kumat. Kakaknya kadang terlalu ekspresif dan tanpaa sadar sudah bertindak sedikit memalukan.

"Apakah kakakmu baik-baik saja?" Ishida setengah berbisik di telinga Orihime, membuat senyum gadis cantik itu semakin merasa bersalah. Dia juga masih bingung mengapa kakaknya begitu.

"Maaf, permisi," salah seorang shinigami dengan sopan menghampiri Ichigo.

"Ada apa?"

Wajah shinigami muda tersebut terlihat kikuk ketika semua mata refleks menatapnya. "E-eh, apakah taichou sudah makan siang ?"

"Ya, aku akan makan siang dengan teman-temanku. Ada apa?"

"Mmm... ano—" shinigami tersebut semakin terlihat kikuk, "—mmm, tidak ada apa-apa. Selamat makan siang, Taichou."

"Hei, tungu!" tanpa alasan yang jelas, Rangiku tiba-tiba mencengkram shihakushou bawahan Ichigo.

"Matsumoto, kalau kau punya masalah dengan bawahanku, sebaiknya kau selesaikan dengan baik-baik."

Bukannya mendengarkan nasehat Ichigo, Rangiku malah merebut bungkusan milik shinigam tak berdosa tersebut. Persis seperti seorang senior tengah menindas junior.

"Lihat, Momo. Dia benar-benar pengecut!" Rangiku mengacungkan bungkusan yang direbutnya didepan mata Momo.

"Kakak bicara apa sih?" Orihime semakin terlihat bingung. "Tidak enak dilihat Kurosaki-kun."

"Sebenarnya apa mau kalian kesini? Siapa yang kalian sebut pengecut itu? Kalian tahu, kalian mengganggu ketenangan disini," sinis Ishida.

"Kalian tanya saja pada shinigama ini!" kesal Rangiku masih setia menarik-narik kerah shihakushou si shinigami malang. Menjadikannya tertuduh atas permasalahan yang belum jelas untuk diributkan.

"A—ku?"

"Iya, kau!"

Momo menarik-narik lengan Ranggiku, mencoba mengendurkan cengkraman gadis berambut pirang tersebut yang terlampau ketat di kerah shihakusou sang shinigami. "Kau terlalu galak, Ran-chan. Dia ketakutan tuh."

"Hei, kau! Cepat katakan dari mana kau mendapatkan bekal ini!" todong Rangiku kini malah meacung-acungkan kantong bekal ke muka shinigami dihadapannya.

"I,itu punyaku."

"Katakan dengan jujur!"

"Me,memang punnyaku."

"Hmm!" mata Rangiku semakin melotot. Penyerangannya tidak akan berhenti sampai tujuannya terpenuhi.

Shinigami yang Rangiku tawan terlihat cukup tertekan, keringat dingin semakin mengalir deras di pelipisnya. "Baiklah, aku mengaku! Itu milik istri Kurosaki-taichou!" teriaknya pasrah.

Ichigo mengerutkan alis. "Rukia?"

"Iya," aku shinigami tersebut. "Beberapa menit yang lalu istri Kurosaki-taichou datang. Dia memberikan bungkusan bekal itu padaku."

"Kenapa diberikan padamu? Rukia tadi jelas-jelas bilang ingin membuatkan bekal untuk Kurosaki-taichou," sela Momo.

"Istri Kurosaki-taichou hanya meminta tolong padaku untuk menanyakan apakah taichou sudah makan atau belum. Kalau belum, dia memintaku untuk memberikannya. Tapi karena tadi taichou bilang sudah, makanya aku akan melaksanakan permintaan kedua untuk membuang bekal tersebut."

"Rukia benar-benar pengecut. Awas kalau ketemu nanti, akan ku cubit pipinya," geram Rangiku mencontohkan gerakan mencubit kuat pada tawanannya. Malangnya jadi shinigami lemah.

"Biar aku yang melakukannya," senyum Ichigo mengambil bungkusan dari tangan Rangiku, "dia pasti belum jauh dari sini."

Ichigo mengucapkan salam perpisahan singkat lalu menghilang dengan sekejap berkat shunponya. Taichou divisi 5 itu sedang bersemangat menemukan istrinya, Rukia. Baginya perhatian Rukia kali ini benar-benar perkembangan tidak terduga. Terakhir kali Ichigo mengenal Rukia, gadis itu adalah sosok dingin yang hampir menyerupai Kuchiki Byakuya. Bahkan karena peristiwa pernikahan mereka yang tak terduga, Ichigo masih menduga istrinya itu masih menyimpan rasa kekesalan padanya.

Shunpo Ichigo berhenti tepat di dahan sebuah pohon. Jarak pandangnya meluas, matanya semakin cermat mengamati tiap sisi hutan.

Dapat.

Ichigo menemukannya. Istri mungilnya tengah berjalan santai mengambil arah menuju divisi 13. Cengiran lebar khas Kurosaki Ichigo tidak bisa dicegah kemunculannya.

"Mau makan siang denganku?"

Rukia yang berjalan setengah melamun, dan Ichigo yang terlalu mendadak bershunpo dibelakang Rukia. Akhirnya berdampak pada refleks Rukia yang langsung mengayunkan Sode no Shirayuki untuk menebas orang di belakangnya. Untung Ichigo juga memiliki refleks cepat, menggunakan Zangetsu sebagai penangkis serangan Rukia.

"I—Ichi!" suara Rukia tercekat setengah menjerit. Kebiasaan buruk Ichigo adalah tidak selalu bisa mengontrol reiatsu besarnya dengan stbil. Meski sudah menjadi seorang kapten, tak jarang reiatsunya tanpa sengaja melemparkan orang seperti saat ini.

"Tancapkan zanpakutoumu ke tanah!" teriak Ichigo.

Ichigo bershupo ke tempat Rukia. Wanita mungil itu tengah berlutut di tanah setelah bersusah payah menancapkan zanpaku ke tanah untuk mencegah tubuh kecilnya terlempar jauh.

"Kau tidak apa, Rukia?"

Nafas Rukia masih terdengar terputus-putus, masih terlihat cukup shock.

"Hei, hei... Rukia?" Ichigo melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Rukia, takut istrinya terkena serangan jantung.

"Idiot! Reiatsu-mu terlalu besar, kau mau membunuhku, hn!"

"Kau sendiri hampir menebas kepalaku."

"Itu karena kau muncul tiba-tiba di belakang punggungku."

Ichigo terdiam memandangi sosok istrinya, tetap mempesona meski sedang marah. Bukannya meminta maaf, ia malah tertawa pelan.

Rukia merengut, "Kau memang ingin aku cepat mati supaya bisa mencari istri baru ya?"

Ichigo berjongkok didepan Rukia, menekankan kedua lutut ke tanah di antara kedua sisi tubuh mungil sang istri. Otomatis posisi ini membuat kepala Rukia berada lebih tinggi. Ichigo juga mengambil posisi amat dekat agar dapat memeluk tubuh mungil Rukia, membuat gadis mungil tersebut juga tanpa sadar melingkarkan kedua tangan ke leher Ichigo.

"Ada apa?" Rukia terpaksa menunduk, membalas tatapan Ichigo yang tengah mendongak ke arahnya.

"Istriku seumur hidup cukup satu. Kurosaki Rukia."

"Lalu kenapa kau menertawakanku tadi?"

"Aku hanya kagum melihat kemampuan pedangmu yang berkembang pesat. Aku heran, seharusnya kau sudah menduduki posisi penjabat bangku dengan kemampuanmu itu."

Rukia menghela nafas sebelum akhirnya tersenyum, pertanyaan Ichigo bukanlah hal jarang dilontarkan shinigami terhadapnya. Dia punya bakat, tentu banyak shinigami yang mempertanyakan posisinya yang lambat sekali berubah. "Untuk waktu yang lama, aku mungkin terus bertahan menjadi shinigami biasa. Nii-sama yang mengaturnya begitu."

"Untuk yang satu ini, aku setuju dengan kakakmu," Ichigo mengangguk maklum, tanpa mempertanyakan lebih banyak alasan seperti shinigami lain. "Aku tidak mau kau menempati posisi yang membuatmu terlibat dalam urusan sulit dan rumit."

"Tapi aku tidak mau terus-terusan menjadi bawahan. Aku juga ingin menjadi taichou."

"Tidak boleh. Kalau kau ingin jabatan tinggi, jadi fuku-taichouku saja. Dengan begitu aku bisa terus mengawasimu."

"Hh! Temanku Momo mau kau kemanakan? Lagi pula aku akan mati kebosanan kalau harus bertemu denganmu juga di tempat kerja."

Ichigo mencubit hidung Rukia dengan gemas. "Kau ini—bukan cuma jadi istri yang pemalu, tapi juga bisa menjadi istri yang kejam."

"Aduh, duh, duh... hidungku sakit!" kesal Rukia meraba-raba ujung hidungnya ynag sudah memerah. "Aku memang bisa bersikap kejam padamu, tapi kapan aku menjadi pemalu? Kau benar-benar tidak bisa membaca sifat istrimu."

"Oh ya? Lalu ini apa?" tangan Ichigo mengayun-ayunkan bungkusan bermotif kelinci ke muka Ruka.

Muka Rukia berubah panik. Bungkusan itu taklah asing baginya. Baru beberapa menit yang lalu ia menjinjingnya menuju pelatihan divisi 5.

"Da,darimana kau mendapatkannya?"

"Entahlah. Aku menemukannya di tong sampah. Mungkin di buang oleh pemiliknya karena rasanya tidak enak."

"Idiot! Aku tahu kau pasti mengetahui siapa pemiliknya. Jangan sembarangan mengolok-olok masakan buatanku begitu."

Ichigo kembali tertawa pelan, di kecupnya sedikit sudut bibir Rukia. "Aku bercanda. Lain kali cobalah untuk mengantarnya sendiri. Bagaimanapun bentuknya, aku yakin pasti enak. Karena itu buatan seorang istri untuk suaminya."

Rona merah menghiasi pipi Rukia. Siapa yang menduga Kurosaki Ichigo yang dulunya kaku, bisa bersikap romantis padanya. Ia dibuat tidak berkutik, sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangan Ichigo. Menunduk saja dia malah bertemu dengan wajah Ichigo.

Cukup lama mereka terdiam. Saling menatap dari kedalaman mata masing-masing, menyamakan nafas yang seirama dengan hembusan angin lembut yang membuai.

"Mau—berciuman, Rukia?"

"Wha, apa?" Rukia tampak terkejut. Suaminya memang selalu berkata to-the-point.

Oke.

Mereka berdua memang sudah menghabiskan malam pengantin bersama, namun bukan bearti mereka sudah melakukan ciuman pertama. Beberapa menit yang lalu Ichigo memang memberinya sebuah kecupan, tapi perlu di garis bawahi, itu adalah kecupan, bukan ciuman. Dan kalau di perjelas lagi, posisinya juga bukan tepat di bibir, melainkan di sudut.

Belum pernah berciuman. Itu bukan hal yang tanpa sengaja tidak mereka lakukan. Ichigo hanya mencoba menghindarinya. Ia tahu betul Rukia paling anti di cium di bibir. Dulu saat mereka masih bersekolah di akademi, kepala orange Ichigo hampir terancam kebotakan layakna Ikkaku karena dijambak habis-habisan oleh Rukia. Penyebabnya adalah hal sederhana, Ichigo tertimpa badan Rukia yang jatuh dari pohon, dan bibir mereka nyaris bersentuhan. Alih-alih berterima kasih karena terhindar dari luka yang berat, Rukia malah menjambaknya, setelah puas barulah memberi penjelasan bahwa ciuman pertama gadis itu hanya untuk suaminya. Sejak saat itu Ichigo mulai mengambil jarak aman apabila terjadi kontak fisik diantara mereka. Terancam botak adalah hal yang paling mengerikan dari Menos Grande.

Itu adalah kejadian yang telah lewat. Situasi telah jauh berbeda sekarang. Rukia bukan lagi temanya. Rukia istrinya. Apa salahnya Ichigo ingin mengetahui perasaan sesungguhnya di antara mereka lewat ciuman?

"Bagaimana? Mau berciuman sekarang?" ulang Ichigo cukup jelas.

Rukia menarik nafas kuat-kuat, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang semakin tidak karuan iramanya. "Ayo—kita coba."

Ichigo menyeringai kecil, bersinggut meringkuh Rukia lebih dekat. Bunyi jantung yang tak berirama lagi tidak mampu menyembunyikan kegugupan mereka.

5 centi...

Nafas mereka mulai terasa menerpa wajah masing-masing.

3 centi...

Rukia memejamkan mata lebih dulu, cengkramannya pada kerah shihakusou Ichigo mengetat.

1 centi...

Nafas Rukia semakin tertahan, sementara mata Ichigo bergerak menutup. Mulai terasa gemparan jantung mereka. Sedikit lagi... sesuatu yang membuat sepasang shinigami ini merasakan sensasi berbeda.

Deg...

Deg...

Deg...

Srakkk... krakkk... krekkkk...

Bunyi dahan berderak patah menghentikan aktifitas mereka sebelum bibir mereka berhasil bersentuhan. Kedua mata mereka membuka. Saling melempar pandang penuh tanya.

"Apakah kau mendengar sesuatu, Ichigo?"

"Ya. Aku juga merasakan sedikit reiatsu lain di sekitar sini."

Krakkkk!

"Kyaaa—"

Bunyi sebuah dahan patah di susul banyak suara teriakan membuat mata Ichigo dan Rukia terfokus pada satu arah, kesebuah pohon besar yang tumbuh besar tidak jauh dari tempat mereka sekarang.

Yah—itu adalah teman-teman mereka yang baru saja berhasil menggagalkan adegan romantis mereka berdua. Bisa ditebak sudah cukup lama mereka bersembunyi disana. Mengingat dahan pohon yang mereka pijak adalah jenis pohon yang kokoh, durasi pijakan yang lama lah yang membuatnya patah.

Dahi Ichigo berkerut kesal, reiatsunya memancar dengan horror. "Apa mau kalian?"

"Ah—sepertinya aku harus membantu Mayuri-taichou," Ishida berbicara membetulkan letak kaca matanya, seoalah-olah ia hanya sendirian di sana lalu bergegas kabur dengan shunpo-nya.

"Cuaca yang cerah," ujar Sado cepat bershunpo pula.

"E,eh... aku tidak lihat apa-apa," seperti biasa, Orihime bukan pembohong yang baik. "Sampai nanti, Kurosaki-kun," lanjutnya melarikan diri juga.

"Lalu apa yang kalian lakukan disana?" todong Rukai pada Momo dan Rangiku.

"Ano... eto... aku ingin memberi tahu Kurosaki-taichou kalau waktu istirahat sudah habis. Benar begitu kan, Ran-chan." Momo juga bukan pembohong yang baik, makanya dia meminta dukungan dari Rangiku.

"Ck, ck, ck..." Rangiku geleng-geleng kepala. "Taichou, kalau ingin bermain jangan di alam terbuka."

"Ran-chan!" Momo menjerit histeris. Bisakah temannya sekali saja bersikap tidak terlalu blak blakan. "Kami permisi, Taichou." Momo membungkukkan badanya sebelum pamit menarik Rangiku pergi.

Ichigo menghela nafas berat, gagal sudah. "Jam istirahat sudah habis. Aku tidak ingin anggotaku terlalu lama menungguku. Lain kali saja kita mencobanya lagi."

Rukia tersenyum tipis. Memberi Ichigo pelukan sehangat mungkin. Mungkin inilah yang mereka butuhkan. Tidak perlu terburu-buru membangun perasaan, mereka cukup membiarkan waktu membuat semua mengalir seperti alurnya.

.

.

Disini pure shinigami-life, ga da quincy, bount, vizard... dll... fokusnya hanya ke kehidupan pernikahan Rukia-Ichigo sebagia sosok shinigami yang terlahir dari keluarga shinigami juga...

Kalau boleh jujur, Mey ga da waktu lagi mengikuti perkembangan cerita Bleach yang sekarang, jadi pengetajuan Mey hanya sebatas sebelum winter war—itupun samar. Segala kesalahan tolong di bantu koreksi dan mohon petunjuknya ya...

Makasih untuk readers dan pereview, sebisa mungkin Mey akan mejawab reviewnya lewat PM, maaf tidak bisa membalas account yang ga log in..

Arigatou, minnaa.. let's share anything in your mind about my fic again...

Thanks.. ^^