Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Warning : OOC, Typo, perusakan karakter, shinigami life, tulisan berantakan *seperti biasa, author ga pernah meriksa ulang*, etc.
.
Dahi Ichigo kian berkerut, titik keringat kecil mengalir di pelipis. Cahaya terang kekuningan shun shun rika memantul dari keringatnya. Jantungnya yang terus berdetak seakan tidak mau berkompromi mengambil sikap tenang—tidak bisa. Kurosaki Ichigo bisa saja tetap angkuh menghadapi ribuan hollow di hutan Menos Grande, bahkan menembus badai pasir di negeri Hueco Mundo. Namun untuk sekarang—
"Kurosaki-kun," Orihime bergumam lirih, memangdang penuh campur aduk sosok laki-laki yang begitu berharga baginya. Sayang, laki-laki itu tidak berpaling, sebesar apapun bukti perhatian yang ia berikan, laki-laki itu tetap teguh memandang sumber kekhawatirannya. Menggenggam erat seakan begitu takut hal buruk akan terjadi bila laki-laki itu melepasnya.
"Rukia..." laki-laki berambut orange tersebut berbisik sembari mengecup pelan kening sang istri.
.
.
30 menit sebelumnya...
"Tim medis!" Momo menjerit panik, lengannya serasa keram karena terus-terusan mengayunkan zanpakutou.
Seharusnya hari ini menjadi hari rutin mereka berlatih, hari ketika para anggota baru bergabung dan diberi petunjuk dasar sistem dalam divisi mereka. Yah—sayang semua rencana benar-benar tidak berjalan dengan mulus. Para hollow yang mencari mangsa tanpa sebab yang jelas keluar dari daerah tutorial mereka, megincar dengan primitif tiap-tiap jiwa yang dijumpai. Bisa dibayangkan dengan logika, anggota shinigami yang tidak berpengalaman dan hollow lapar berjiwa primitif, hasilnya—terimakasih karena sudah menjadi salah satu shinigami terkuat, Kurosaki-taichou.
"Hinamori, lindungi shinigami di bagian barat!" ah—itu sang kapten, sebisa mungkin tetap memberi instruksi di tengah-tengah pertarungannya. Dia cepat, dia kuat, namun dia hanya sendiri. Sulit membagi perhatian keseluruh anggota yang jumlahnya puluhan. Kabar buruknya, mereka semua baru—terkecuali dirinya dan sang wakil Hinamori Momo.
Segesit mungkin Momo mengikuti perintah dari sang kapten. Melangkah kemana kaki harus dipijakan, mengayun zanpaku sesuai instruksi sang kapten. Disilah bagian penyesalan Momo. Gadis mungil tersebut masih tidak bisa mengerti mengapa Kurosaki Ichigo masih bisa mempertahankannya di bangku wakil ketua. Dulu saat ia dipilih oleh Sousuke Aizen, Momo paham hal tersebut hanyalah niat tersembunyi sang mantan ketua untuk memperalatnya sebagai bidak catur, dan Momo sungguh menyesalinya saat itu. Kini setelah ia sadar akan semua, ia tahu bahwa kualitasnya sebagai seorang wakil tidaklah terlalu memadai. Untuk seukuran Kurosaki Ichigo, sang kapten mebutuhkan wakil yang hebat. Bahkan divisi 11 tidak hanya memiliki wakil hebat meski di umur yang masih muda, mereka juga memiliki penjabat-penjabat bangku yang kuat pula.
"Hinamori, jangan melamun diteng—"
"Kurosaki-taichou!"
Jeritan semakin terdengar keras. Pandangan mata Ichigo berputar, kepalanya serasa habis dihantam benda keras.
"Sial!" umpatnya pelan, hollow memukul kepalanya dengan telak, memciptakan aliran darah yang mengalir di pelipisnya. Yang paling di ingatnya sosok Rukia yang sebentar lagi mengantarkan bekal makan siang sebelum semuanya berubah menjadi gelap.
.
.
Langkah kaki kecil Rukia berlari menghampiri tubuh yang telah berbaring tak sadarkan diri, kakinya gemetar tak mampu menahan berat tubuh. Menjatuhkan diri disamping tubuh sang suami. Bahkan dia sendiri tidak sadar telah mendorong Hanatarou—tim medis divisi 4—mengambil alih tugasnya dalam mengobati Ichigo.
"Ru,Rukia-sama," kikuk Hanataro bersinggut mendekati Rukia yang telah mengeluarkan kidou pengobatan di daerah kepala sang kapten divisi 5. "Biar saya saja yang mengobati Kurosaki-taichou. Anda tidak perlu cemas, Inoue fuku-taichou sudah dalam perjalanan kemari."
Dingin.
Hanataraou seperti angin lalu, bahkan bongkahan es yang telah membekukan beberapa hollow di sekitar mereka ikut memeriahkan situasi dingin dari si pemilik Sode no Shirayuki. Shinigami mungil tersebut tetap terfokus pada tubuh cidera suaminya, hingga tanpa sadar iris violetnya meneteskan air mata.
Rukia datang mengantar makan siang. Namun bukanlah pemandangan suaminya yang tengah bercengkrama dengan anggotanya, melainkan kumpulan hollow menggila serta tubuh tergeletak tak berdaya suaminya.
"Rukia-sama, kumohon berhentilah. Tenaga kidou anda semakin menipis."
Sudah hampir sepuluh menit, luka cakaran di dada dan pelipis Ichigo memang bergerak menutup, namun kesadaran sang kapten belum kembali. Dan Rukia—masih bersikap keras kepala dengan memaksakan energi kidou miliknya dikerahkan seluruhnya.
Iris mata Rukia berkabut. Banyak pikiran yang berkecamuk di kepala, namun entah mengapa yang ia rasakan hanyalah kosong. Semua indranya serasa kehilangan fungsi. Tidak ada lagi yang bisa lakukan selain mengikuti isi hati yang kian menjerit memohon agar Kurosaki Ichigo tersadar. Meskipun ia akan kehilangan harga diri sebagai seorang Kuchiki karena mengeluarkan kata permohonan—tidak masalah. Asal suaminya bisa lekas sadar, rasanya seluruh dunia akan ia berikan.
Beginikah perasaan perduli pada orang lain?
Perlahan hati nurani telah menyadarkan Rukia bahwa kehadiran Kurosaki Ichigo di hidupnya sudah mulai bearti. Lambat namun pasti, perasaan itu... ia tidak ingin kehilangan Ichigo lagi.
"Rukia-sama, kubilang hentikan!" Hanatarou mengambil sikap, memilih bertindak lebih berani dengan menarik tangan Rukia menjauh dari luka—yang telah menjadi bekas luka—Ichigo.
"Anda harus istirahat. Percayakan semua pada saya. Kalau cuma menghilangkan bekas luka, saya bisa Rukia-sama percayai"
Iris violet Rukia mengerjap, seakan baru tersadar dari sesuatu. Dihapusnya sisa air mata yang membekas di pipi, mengembalikan sikapnya kembali layaknya bangsawan Kuchiki selama ini. "Ya, kau benar. Kuserahkan semua padamu."
Hanatarou bernafas lega. Rukia yang keras kepala akhirnya bisa menurut dan pergi menjauh membiarkan Hanatarou kembali menjalankan tugasnya. Setelah sosok Rukia tak terlihat lagi, Hanatarou mengeluarkan kidou untuk menyelesaikan pengobatan yang belum selesai.
"Kurosaki-kun!" Orihime tiba bersama beberapa rombongan shinigami medis. Tanpa membuang waktu fuku-taichou divisi 4 tersebut berhambur mengobati Ichigo.
Mata Ichigo bergerak membuka seiring dengan pulihnya luka, kesadarannya perlahan kembali
"Inoue?" ya, karena Orihime sosok pertama yang Ichigo lihat.
"Kurosaki-kun!" Orihime menjerit senang, membantu pemuda berambut orange tersebut duduk bersandar pada pohon. "Kurosaki-kun baik-baik saja?"
"Ya. Berkat dirimu, lukaku menutup. Terimakasih."
Orihime tersenyum tipis, melirik Hanatarou yang masih disebelahnya. "Kali ini Kurosaki-kun harus berterimakasih pada Hanatarou, dia yang menyembuhkan luka Kurosaki-kun. Aku hanya melanjutkan sisanya."
"Hebat kau, Hanatarou," puji Ichigo. "Terima kasih ya."
"Oh, soal itu ya—," Hanatarou tertawa kikuk menggaruk belakang leher, "—itu bukan perbuatan saya. Kemampuan saya masih belum cukup untuk menutup luka dalam waktu sekian menit. Itu perbuatan Rukia-sama."
"Rukia?"
Hanatarou merespon dengan anggukkan. "Tadi Rukia-sama datang membantu Hinamori-fukutaichou. Baru saja dia berpamitan."
Ichigo tidak mampu mencegah munculnya senyum tipis di wajah, menampilkan ekspresi tak biasa dari seorang kapten yang telah terkenal dengan kerutan di dahi.
"Ah, benar juga," Ichigo bergumam pada diri sendiri sambil meraba lengannya, "Ini memang terasa seperti kidou Rukia."
"Hanatarou... dimana Rukia?" Momo berhambur tidak memperdulikan ada anggota divisi 4 mengekor hendak mengobati cidera sang wakil.
"Ah, Rukia-sama baru saja pulang—"
"Pulang?!" Momo menjerit ngeri, tak hanya memekakkan telinga Hanatarou.
"Iya, baru saja—CELAKAAA!" Hanatarou mungkin tidak bermaksud mengikuti jejak Momo, ia sendiri sudah cukup prihatin dengan fakta orang-orang disekelilingnya harus menutup telinga rapat-rapat untuk kedua kalinya, masalahnya ada yang lebih darurat dari sekedar memekakkan telinga.
"Maafkan saya Hinamor-fukutaichou, saya lupa mengobati lengan Rukia-sama yang tercakar hollow tadi."
"Aaa, kupikir ada apa tadi," Orihime sedikit menghela nafas lega. "Tenang saja, Hanatarou. Melihat dari penyembuhan Kurosaki-kun, aku yakin istri Kurosaki-kun bisa menyembuhkan lukanya dengan kidou miliknya."
Komentar Orihime sama sekali tidak meredakan kepanikan Hanatarou yang terlampai kikuk membereskan barang-barangnya. "Saya sadar hal itu, masalahnya tenaga kidou Rukia-sama sudah menipis karena dikerahkan semua untuk menyembuhkan luka Kurosaki-taichou, untuk beberapa jam kedepan kidounya tidak akan keluar walau dipaksa sekalipun. Saya takut terjadi sesuatu pada Ruikia-sama karena luka cakarannya cukup beracun."
"Orihime," Kurosaki Ichigo telah berdiri mantap menyarungkan zanpakunya, tubuh tegapnya diselimut aura ketegangan, "Ayo ikut aku."
.
.
Rukia meringis menarik lengan kosodenya hingga lepas, memperlihatkan jejak cakar memanjang disepanjang lengannnya. Bentuk cakarnya memang kecil, tapi luka yang ditinggalkan cukup dalam dan begitu nyeri.
"Hhh... hhh.. sial," wanita mungil tersebut baru saja mencoba kidou penyembuhan pada lukanya. Yah—hasilnya sesuai perkiraan, kidounya sama sekali tidak keluar.
Ia harus segera menemui Unohana-taichou.
Dengan sedikit sempoyongkan, Rukia berjalan mendekati lemari. Setidaknya ia harus memperoleh kosode baru, mengganti kosode robek yang ia kenakan sebelumnya. Tidaklah nyaman memasang kosode yang telah berlumur darah bercampur keringat.
Sejenak Rukia merasa sekelilingnya berputar, padangannya mulai kabur disertai keringat digin mengucur di pelipis.
"I-Ichi..." nafas semakin mencekik tenggorokan.
Semua berubah gelap, tubuh Rukia merosot ke lantai dengan tumpukan pakaian yang tertarik keluar lemari oleh tangannya.
.
.
"Dia akan baik-baik saja, Kurosaki-kun," hibur Orihime sama sekali tidak mampu menghilangkan kerutan kekhawatiran dari wajah Ichigo.
Baru beberpa menit yang lalu mereka berdua tiba, begitu masuk mereka langsung mendapati sosok Rukia terbaring tak sadarkan diri dibawah tumpukan pakaian di lantai. Amat cemas Ichigo menyambar tubuh Rukia ke dalam pelukan, hingga sekarang pemuda itu tampak betah dalam posisinya meski pengobatan ala Orihime telah berlangsung sejak beberapa menit yang lalu.
Orihime memandang iri pada Rukia. Gadis berparas cantik tersebut telah mengetahui bahwa Ichigo menaruh hati pada istrinya. Ia sendiri tidak mengerti dari mana datangnya persepsi seperti itu, namun selalu ada yang berbeda dari seorang Kurosaki Ichigo apabila telah menyangkut Kuchiki Rukia.
Tatapan mata hazel itu selalu berbeda bila menatap sang Kuchiki, sikap serta reiatsu Ichigo juga akan berbeda bila ada Kuchiki Rukia. Apa yang telah terjadi sebenarnya? Apa yang sudah Orihime lewatkan sehingga ia tidak mampu sepenuhnya membaca isi pikiran Kurosaki Ichigo?
Apakah Rukia berarti untuk Ichigo? Dan apakah Rukia juga demikian?
"Ngh... I-Ichigo?" gumaman halus menyadarkan Orihime dari lamunan.
"Rukia?"
"Jangan sering-sering bertindak ceroboh, baka," suara itu memang masih lemah, namun senyum tipis ditengah gurauannya membuat Orihime mengerti bahwa istri Kurosaki-taichou tidak ingin suaminya terus menerus khawatir.
Hanya sebentar, lalu iris violet tersebut kembali menutup. Ekspresi Ichigo kembali tegang, menoleh kearah Orihime meminta penjelasan.
"Tenang saja, Kurosaki-kun. Istrimu cuma tertidur."
.
.
Rukia tersenyum memandang wajah tidur Ichigo. Suaminya yang bertampang cmberut rupanya sangat manis bila tertidur. Tidak ada garis kerutan di dahi, yang tertinggal hanya wajah polos seperti bayi. Tidurnya benar-benar tenang.
Bicara soal tenang—Ichigo mana biasa tenang lagi kalau tahu istrinya yang baru pulih tidak melanjutkan istirahat di jam tengah malam begini.
"Coba saja setiap hari dia bertampang manis seperti ini," gumam Rukia mulai tertawa cekikikan sembari menelusuri wajah Ichigo dengan ujung jari.
Tawanya mulai memelan ketika Ichigo bergerak dalam tidur saat ujung jarinya menyentuh permukaan bibir Ichigo. Bukannya cepat-cepat menarik tangannya, pikirannya kembali melayang ke pembicaraannya dengan Rangiku tempo hari.
"Apa lagi yang kau tunggu, laki-laki itu punya batas kesabaran. Mereka butuh kepastian."
'Aku hanya menunggu waktu yang tepat,' batin Rukia membantah perkataan Rangiku.
"Kalau kau belum siap, mengapa tidak kau cium saja saat dia tidur."
'Cium dia saat tidur,' lagi-lagi batin Rukia yang memberi pernyataan.
Perlahan, Rukia mendekatkan wajahnya. Bunyi jantungnya terus terpacu, namun perkataan Rangiku yang berputar-putar dalam kepala seperti sebuah sugesti yang tak bisa ditolak. Semakin dekat, hingga aroma khas Kurosaki Ichigo menyeruak masuk menusuk indra penciuman.
Rukia tersentak pelan, badannya refleks menjauh.
Logikanya kembali, dan berdampak buruk dengan permukaan pipinya yang sudah semerah tomat. Tangan kecilnya menepuk-nepuk pipi dengan kesal berlari masuk ke kamar mandi tak kuat menahan debaran jantung, "Uuu.. Rangiku bodoh!"
Tidak lama setelah Rukia menghilang di balik kamar mandi, perlahan Ichigo membuka mata. Taichou berambut terang tersebut nampak memerah pula, namun tersenyum-senyum sendiri layaknya remaja kasmaran. Pipinya pun sudah semerah tomat. Ada satu fakta yang tidak diketahui shinigami seantero divisi dan bahkan istrinya sendiri, Ichigo tipe shinigami yang mudah peka reiatsu lain, oleh karena itu ia akan tahu—bahkan bangun dari tertidur apabila ada yang mencoba mendekat ataupun menyentuhnya. Bukankah ia sudah menunjukkannya pada Rukia di malam pengantin mereka? Tapi baguslah kalau istrinya tidak sadar.
Apa-apaan ini? Debaran jantungnya semakin tidak mau diatur. Sensasi yang terasa baru, namun... cukup menyenangkan.
Apakah ini tanda bahwa mereka akan ada kemajuan? Pernikahan mereka akan baik-baik saja kan?
.
.
To be continued
