Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Warning : OOC, Typo, perusakan karakter, shinigami life, tulisan berantakan *seperti biasa, author ga pernah meriksa ulang*, etc.

.

"Hari ini divisimu akan latihan gabungan dengan semua divisi?"

Rukia mengangguk pelan, tersenyum simpul memperhatikan sang suami yang tetap saja mengajaknya berbicara meskipun pria berambut terang tersebut tidak pernah usai berkutat dengan tali pengikat hakamanya. Layaknya seekor kucing yang bermain dengan buntalan benang, menggemaskan—eh,eh... sejak kapan Kurosaki Ichigo yang berwajah seram berubah menjadi menggemaskan?

Tubuh kecil terasa begitu kontras tertutupi oleh postur tinggi milik Kurosaki Ichigo saat mendekati suaminya itu. "Sentaro dan Kiyone belum memberi info apa-apa."

Tampilan wajah Ichigo berubah menjadi cemberut kecil saat istrinya campur tangan mengikat kosode. Ia adalah tipe mandiri, bantuan dari orang lain akan membuatnya merasa seakan tidak bisa menangani hal kecil.

"Singkirkan wajah cemberutmu itu, kau tidak pernah melihat bibi Masaki membantu paman Isshin berpakaian ya?" tangan Rukia masih berkutat mengencangkan ikatan tali.

Ichigo mendengus kecil, bibirnya hendak mengeluarkan protes yang langsung disela oleh pelototan sang istri. Memang seperti itulah mereka, hal kecil dapat memunculkan adu argumem yang akan memeriahkan pagi mereka. Mungkin terlihat tidak normal, namun begitu menyenangkan, membuat mereka merasa inilah keluarga yang sesungguhnya.

Rukia mendongak memelototi si Kurosaki hendak melontarkan argumen beberap detik sebelumnya—namun seolah semua terlupakan saat tanpa diduga reaksi si pemilik iris violet tersebut terkesiap kecil, menjauh seakan ada yang membuatnya terganggu.

Tak kalah terkejut, Kurosaki Ichigo malah refleks menahan tubuh istrinya dengan melingkarkan tangan dipinggang seolah-olah tubuh istrinya hendak terjatuh. Keduanya malah terperangkap saling memandang.

Rukia tersipu dan Kurosaki Ichigo—semakin berkerut.

Dalam sekejap si bungsu Kuchiki mengutuki diri sendiri, merasa kalah meski serangan yang sesungguhnya belum ia lontarkan. Hilanglah sudah Rukia si lidah tajam, yang tertinggal hanya perempuan tersipu karena ulahnya tadi pagi kembali menyeruak menari-nari dalam kepala disaat matanya tanpa sengaja memelototi bibir Kurosaki Ichigo. Semua memori yang menjadi rahasia kecil adalah terlarang saat ini.

"Rukia..." Ichigo mendekatkan wajah menyelidik, memicu semakin memerahnya pipi Rukia. Kian mendekat, dan si mungil kian menjauh walau terbatas geraknya.

Kesialan besar ketika seorang Kurosaki Ichigo memberi seringai kecil tanpa mengatakan apapun.

"Kau tahu—"

Rukia terkesiap kecil, tangan kokoh Ichigo kian ketat melingkar dan seringainya semakin lebar.

"—sepertinya... kau lebih cocok membuka talinya daripada mengikatnya."

Wajah Ichigo makin mendekat, tangannya mulai bermain mengusap pipi sang istri.

Blush.

Pipi Rukia memerah total, campuran kekesalan dan rasa malu membuat kulit putih susunya tidak memiliki warna sama. "I,idiot!"

Ichigo tertawa kencang. Sungguh lucu membuat wajah istrinya tersipu malu. Rukia adalah tipe polos, ada kalanya sedikit menggodanya dapat memicu ekspresi menggemaskan dari si putri es.

Pagi yang indah...

.

.

.

Cuaca cukup cerah di hari pelatihan gabungan keseluruhan gotei 13. Tampak beberapa divi bergabung bersama untuk berbicara serta menghabiskan waktu istirahat.

"Wahhh... senangnya semua berkumpul disini," Rangiku menjatuhkan diri disamping Rukia

"Jadi berapa kali kalian sudah berciuman?" cukup frontal, pertanyaan Rangiku sukses membuat Rukia tersedak makanan, beruntung disampingnya ada Ichigo yang lekas memberinya air. Lagi-lagi fuku-taichou berpenampilan seksi itu membahas rumah tangga teman mungilnya. Memang hal biasa bagi seorang teman dekat berbicara sesuatu yang pribadi, namun tidaklah nyaman ketika semua orang ikut mendengar.

"Nee-san tidak sopan," Orihime kurang nyaman mendengar topik yang begitu sensitif merambat ketelinganya. Bukan hanya gadis manis tersebut yang berada disana, bahkan ada Momo, Chad, Ishida, bahkan Ichigo sendiri yang bergabung dalam pembicaraan mereka.

"Hime sayang, kakakmu ini cuma ingin tahu perkembangan teman kecilnya."

"Tapi kan tidak enak didengar oleh Kurosaki-kun dan istrinya."

"Kurosaki-taichou tampanya tidak keberatan tuh."

Ekor mata Orihime melirik Ichigo, pemuda itu tampak santai mendengar, layaknya Kurosaki Ichigo yang cuek, selama bukan masalah 10 menos grande atau kumpulan hollow yang hendak menyerang, masalah keluarga sepertinya bukanlah topik sensitif baginya. Yang lebih nampak terganggu malah si istri yang kian memerah.

"Percuma menasehati kakakmu itu, Inoue. Dia memang terlahir sebagai orang yang frontal," timpal Ishida.

"Aku tidak ingin terlibat dalam pembicaraan bodoh ini. Aku pergi!" Rukia mulai berdiri.

"Tunggu dulu!" Rangiku menarik pergelangan tangan gadis bertubuh mungil tersebut hingga terduduk kembali, "Jawab saja pertanyaanku, setelah itu kau boleh pergi."

"Tidak mau!"

Rangiku cemberut kecil, "Ja—jangan-jangan..." telunjuk fuku-taichou divisi langsung mengarah ke Rukia dengan menghakimi, "kalian belum pernah berciuman!"

Itu bukan kalimat tanya, itu dakwaan yang menurut siapapun yang menyaksikan akan setuju bahwa semua tuduhan membuktikan sang terdakwa bersalah.

Ishida membetulkan posisi kacamatanya, menyaksikan Rangiku melancarkan serangaan. Tampaknya permainan si shinigami bertubuh sexy mulai menarik, namun tampaknya perlu sedikit percikan untuk membuatnya semakin menarik.

"Kurasa tidak heran kalau mereka belum berciuman. Kurosaki kan tipe orang yang lebih menyukai membantai hollow ketimbang mencium wanita. Aku malah ragu dia masih tertarik pada wanita atau tidak," satu suapan, Ishida menebar umpan. "Kasihan sekali istrinya."

Ichigo mendengus masam, "Aku bukan lagi shinigami biasa yang mudah kau pancing, Ishida," komentar Ishida telah merusak waktu menyenangkan untuk mengamati raut muka Rukia. Ia tahu istri mungilnya tampak tak nyaman di bully yang lain, namun raut wajahnya yang menggemaskan seakan sangat sayang untuk dilewatkan. Dan ternyata situasi diamnya telah memancing Ishida Uryuu membelit suasana. Walau status mereka berteman, tidak jarang Ishida ingin mempermalukannya hidup-hidup di depan shinigami lain. Menurut Ichigo, itu menyebalkan. Dan menurut Ishida sendiri—mengganggu Ichigo adalah sebagian kecil dari hobinya.

"Sudah, sebaiknya kita ganti saja topik pembicaraannya," lerai Momo.

Ishida menggeleng jengah, merasa permainan sebenarnya belum lah dimulai. "Kenapa tidak kau buktikan saja semua sangkalanmu itu!"

Akhirnya... demi tanah suci Seireitei mata Rangiku tumbuh berbinar, ternyata ada juga yang mendukung naluri ingin tahunya. Kalau Ishida Uryuu semungil Hitsugaya-taichou, pasti sudah ia peluk. "Iya! Bukti!" seru Rangiku penuh semangat. "Bagaimana kalau Kurosaki-taichou mencium Rukia-chan dideapan kami semua sebagai bukti."

Ishida tersenyum dalam hati. Perhitungannya tidak pernah meleset, Rangiku sangat membantu. Sekarang tinggal menunggu untuk melihat Ichigo pergi dalam keadaan kesal.

"Baik kalau kalian ingin bukti," Ichigo menarik Rukia seketika kedalam pangkuannya.

"Heee?" hampir seluruhnya menampilkan wajah terkejut bercampur ngeri. Sejak kapan Kurosaki Ichigo bercanda ke tingkat seekstrim ini? Bahkan Ishida saja sudah menganga lebar.

"Setan mesum apa yang merasukimu hha?" Rukia menggeliat berusaha kabur dari pangkuan suaminya. "Jangan harap aku mau dicium olehmu didepan mereka."

"Jadi kapan?" seringai kecil bermain disudut bibir Ichigo. "Apa.. kau mau kucium saat tidur?"

Blush...

Terkutuklah Kurosaki Ichigo. Laki-laki itu tau. Yah—benar.. suami sah dari Kuchiki Rukia itu tipe peka reiatsu. Seharusnya Rukia sadar hal itu. Kecurangan Rukia padanya, saat itu Ichigo sama sekali tidak tidur.

"Berhenti bermain-main! Kalau mau kabur bilang saja," protes Ishida. Dia kalah, tapi ini tidak bisa diterima.

"Sabarlah, Ishida. Aku hanya ingin istriku lebih nyaman meskipun ditonton kalian."

"Aku tidak mau lihat." Momo menutup kedua matanya dengan tangan. Pipi fuku-taichou divisi lima telah bersemu merah.

Sama halnya dengan Momo, Orihime serta Sado dan Ishida mulai ikut memerah. Tidaklah nyaman melihat sepasang suami-istri berciuman. Namun apa boleh buat, Ichigo akan menertawakan mereka kalau mereka pergi. Begitu kontras dengan Rangiku yang tak sabar menantikan pembuktian tindakan berani Ichigo.

'Cepat pergi, cepat pergi, cepat pergi...' isi hati Rukia terus bernyanyi-nyanyi. Matanya terpejam rapat seolah ada sosok hantu yang menunggunya ketika membuka mata.

"Jangan panik," Ichigo berbsik lembut, sebelah tangannya telah merambat kebelakang leher Rukia untuk membimbing agar wajahnya mendekat. "Anggap saja mereka tidak ada."

Kami-sama... kata-kata Ichigo adalah hal terlembut bagi siapapun yang mendengarkannya. Tapi tetap saja saat ini tidak cukup untuk menghilangkan debaran jantung Rukia. Jantungnya berontak seakan-akan hendak melompat keluar.

Nafas bertemu nafas, dan akhirnya...

Deg!

Deg!

Deg!

Rukia terkesiap kecil menjauhkan wajahnya, kedua matanya telah terbuka dan menatap Ichigo sambil mengerjapkan mata, begitu pula sebaliknya.

Benarkah? Benarkah baru saja bibir mereka bersentuhan? Keduanya cukup merasa takjub ketika sensasi listrik statis sedikit menyengat, saling tarik menarik dan mengundang. Begitu menggoda untuk tidak dihentikan.

Ichigo mendekatkan wajah kembali, dan Rukia sama sekali tidak menolak menjauh, ia menyambut secara refleks undangan Ichigo untuk kembali berciuman.

Bibir sang Kurosaki muda melumat pelah. Darah panas dalam dirinya telah memacu instingnya untuk terus menjelajahi bibir sang istri. Tidak percaya kenapa selama ini mereka menunda-nunda hal yang mengagumkan seperti ini. Kalau saja dia melakukan lebih awal, tentu ia akan tahu bahwa begitu memabukkannya berciuman dengan seorang—

"Rukia-dono!"

Panggilan tak terduga mengacaukan segalanya.

Ichigo merengut, wanita dalam pangkuannya lekas melepas ciumannya. Jelas ciuman Ichigo belum terlalu menghanyutkan istrinya. Karena istrinya tidak akan mengalihkan perhatian pada sosok dua fuku-taichou pengganti divisi 13 yang muncul terengah-egah.

"Sentaro? Kiyone?"

"Rukia-dono!" teriak mereka bersamaan.

"Ada apa ini?" kesal Ichigo—memang terganggu—dengan kehadiran mereka.

"Ukitake-taichou!"

"Shiba -fukutaichou!"

Yah—mereka berdua berteriak serentak layaknya paduan suara yang memekakkan telinga. Saking kencanganya, Momo dan Orihime bergerak menutup telinga rapat-rapat.

"Bicara pelan-pelan! Telingaku bisa tuli!" Rangiku balas berteriak.

"Ukitake-taichou atau Shiba-fukutaichou, mana yang benar?" tanya Rukia mencoba pengertian.

"Ukitake -taichou meminta Anda lekas kembali ke barak divisi 13," jelas Sentaro.

"Meminta bawahannyaa kembali disaat jam istirahat belum selesai, pasti ada hal penting," tukas Ishida.

Rukia menggigit bibir bawahnya, alisnya berkerut melirik Ichigo. Perasaan tidak enak menyelimutinya, ia ingin pergi, namun keadaan suaminya sedang kesal saat ini. Jelas mereka baru mulai berciuman ketika Sentaro dan Kiyone datang menyela, tentu Rukia dapat menebak perubahan suasana hati suaminya ketika ciuman mereka dirusak.

"Kita tidak banya waktu, Rukia-dono. Anda dibutuhkan untuk menghibur Shiba-fukutaichou," mohon Kiyone.

Perasaan tidak enak pada Ichigo seolah tersapu habis ketika nama Shiba-fukutaichou disebutkan, raut wajah Rukia berubah serius. "Kaien-dono? Ada apa dengannya? Dia sudah kembali?"

"Ya, Shiba-fukutaichou baru tiba bersama 5 anggota lainnya."

"Kenapa hanya ada lima? Dimana tiga orang lainnya?"

Sentaro dan Kiyone berubah bisu, saling melempar pandang dengan perasaan bercampur aduk. Mereka tidak ingin mengatakan, berharap seolah semua hanya kabar palsu saja. Namun kenyataan tidak akan terungkap kalau mereka terus diam.

"Mereka semua sudah tewas berserta istri Shiba-fukutaichou karena serangan hollow. Karena itu... kami mohon—"

Tidak perlu banyak berfikir, Rukia telah bangkit dari pangkuan Ichigo, mengacuhkan tatapan bingung sang suami. "Ayo kita kesana!"

"Jangan pergi!" tangan Rangiku kuat mencengkram pergelangan tangan Rukia.

Tatapan tajam khas putri es menghampiri Rangiku. Bertahun-tahun sudah si mungil Kuchiki berteman dengan Rangiku, ia pasti tahu alasan yang jelas mengapa sahabatnya mencoba mencegah kepergiannya. Begitu pula Momo. Gadis itu tampak memelas memandang Rukia seolah ia adalah seorang anak kecil yang tidak ingin ditinggal ibunya. Namun—tekad Rukia untuk pergi sudah bulat. Tatapan matanya jauh lebih keras bahkan lebih patut dikasihani ketimbang dua orang sahabatnya.

"Huhhh! Pergilah!" akhirnya Rangiku menyerah, menyentak tangan Rukia hingga terlepas.

Tidak ada kata terimakasih ataupun kata kemarahan dari bibir Rukia. Wanita keras kepala itu tetap berwajah dingin berbalik mengikuti Sentaro dan Kiyone.

"Jangan pergi!"

Sesosok shinigami berambut merah tiba-tiba sudah berdiri menghadang jalan Rukia. Matanya berkilat marah, jauh lebih terlihat tegas dibandingkan ukuran tato disekujur tubuhnya.

Rukia memandang acuh, menghindari tatapan matanya serta berusaha melewati tubuh tegap dihadapannya.

"Kubilang jangan pergi!" teriaknya. "Aku bersumpah akan memotong kakimu dengan Zabimaru kalau kau—" kata-kata si rambut merah terhenti karena sebilah zanpaku nyaris menggores nadi lehernya.

"Aku juga tidak segan-segan memenggal lehermu, Abarai Renji."

.

.

.

"Kenapa kau tidak melarangnya, Rangiku?"

Sosok Rukia telah menghilang jauh, pergi bersama Sentaro dan Kiyone dengan kecepatan kilat shunpo.

"Dia bukan anak kecil lagi, Abarai. Dia sudah jauh lebih pintar sekarang," bela Rangiku.

"Argh! Sial!" pohon terdekat sukses menjadi sasaran kekesalan Abarai Renji menumpahkan kekesalan. Beruntung seluruh reiatsu yang ingin meleldak berhasil ia tahan, hingga tidak menimbulkan kerusakan lebih jauh.

"Drama apa yang sedang kalian mainkan didepanku?"

Oh—benar.

Mereka terlalu sibuk berdebat sampai mengabaikan hal terpenting yang masih membutuhkan penjelasan dari mereka.

"Apakah ada sesuatu yang kalian ketahui sementara aku tidak mengenai Rukia?"

Nah, itu dia. Kurosaki Ichigo.

"Ah, tenang saja. Istrimu baik-baik saja, Kurosaki-taichou," Rangiku berdusta, tentu saja. Karena ekspresi Ichigo terlihat jelas sangat tidak mempercayai perkataan Rukia.

"Pergilah ke barak divisi 13," saran si rambut merah acuh tak acuh.

"Abarai-kun! Jangan menyarankan yang tidak-tidak. Kau tahu Rukia-chan tidak—"

"Aku jauh lebih mengenal Rukia, Hinamori!" bentak Renji. "Biarkan Kurosaki-taichou tahu."

.

.

.

Ichigo berdiri tepat didepan pintu barak divisi 13. Suasana begitu sepi didepan lorong, namun langkahnya begitu berat untuk menerobos lebih jauh memasuki barak. Seolah ada kekkai yang membatasi dan tubuhnya akan hancur berkeping-keping bila tetap bertekad menerobos.

Ini adalah mimpi buruk sesungguhnya. Dihadapan matanya saat ini, dibalik pintu.. Rukia, istrinya... menatap laki-laki selain dirinya dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa diartikan oleh siapapun.

Dan—kenapa rasanya... kenapa begitu sakit hingga menusuk dada?

.

.

.

To be continued...