Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Warning : OOC, Typo, perusakan karakter, shinigami life, tulisan berantakan *seperti biasa, author ga pernah meriksa ulang*, etc.

.

.

Kurosaki Ichigo

Seorang taichou muda dari divisi 5. Seluruh Soul Society mengetahui dengan amat jelas sang kapten adalah sosok pelindung. Tidak perduli seberapa besar kekuatan lawannya, apapun konsekuensinya ia tak akan segan mengadu tanding. Itu semua untuk keluarga, teman-teman, dan siapa saja yang perlu ia lindungi. Ia sempurna dan kuat. Tapi—ada satu hal yang menanggalkan seorang Kurosaki Ichigo dari kesempurnaannya.

Rukia.

Gadis yang belum satu tahun menjadi istrinya, menjadi pusat rotasi keluarga setelah ia membangun keluargga baru. Ia lemah kalau Rukia tidak mendukungnya, ia juga akan menjadi sangat lemah bila sosok mungil itu luput dari perlindungannya. Sama seperti sekarang... ia lemah.

Bukan karena tidak ada dukungan, bukan pula karena gagal melindungi. Itu semua karena—

"Ka,Kaien-dono..."

Terpisahkan pintu yang tak sepenuhnya tertutup. Mata violet sang Kuchiki tampak berkaca-kaca menatap laki-laki dihadapannya. Ichigo paham itu adalah tatapan iba, tak sepantasnya ia menaruh rasa cemburu pada laki-laki yang baru saja kehilangan istri. Tapi tetap saja rasa cemburu jauh lebih kuat dari sekedar rasa simpati maupun iba. Ia juga seorang suami, dan—Rukia, istrinya. Rukia tidak boleh menoleh pada laki-laki lain selain dirinya.

"Lama tidak berjumpa. Kau tampak sehat, Kuchiki." Alih-alih memiliki muka sedih, Kaien malah tersenyum seolah-seolah semua baik-baik saja.

Muka Rukia semakin berkerut sedih. Kaien semakin membuatnya terluka.

"Apa sih? Kenapa pasang tampang begitu?" kesal Kaien. "Hei! Apa kau tidak senang melihat Kaien-fukutaichou yang disuikai semua orang ini masih hidup?"

Ekspresi kekesalan terpampang jelas di wajah Kaien, namun bukan itu yang Rukia perhatikan. Ia tahu semua hanya topeng ketegaran dari seorang Shiba Kaien. Sandiwara yang dengan apik semakin memperjelas betapa hancurnya hati pemuda berhati lembut itu, betapa semua terasa pahit di hidupnya.

"Jangan begitu, dong," lagi, Kaien memasang mimik kesal. "Kalau kau menangis, aku jadi seperti orang jahat."

"Ma... ma—af..."

Hanya itu yang terucap di bibir Rukia. Bibirnya terasa gemetar untuk terus berbicara. Kepalanya tertunduk, membiarkan tetes demi tetes air mata jauh ke lantai karena tak mampu lagi dibendung. Hatinya benar-benar sakit menyaksikan ketegaran Kaien.

Kaien tersenyum masam, ia tahu Rukia adalah satu-satunya shinigami yang tidak bisa dibohongi. Sudah bertahun-tahun mereka berhubungan dalam satu divisi yang sama, Kaien satu-satunya tempat Rukia bergantung, tentunya wanita bertubuh mungil itu telah jauh memahami Kaien ketimbang yang lainnya.

"Sudahlah, Kuchiki. Aku baik-baik saja." Tangan Kaien bergerak menepuk-nepuk kepala Rukia, hanya itu yang bisa ia lakukan. Setidaknya ia punya cara untuk meredakan tangis si Kuchiki, walaupun seluruh bagian tubuhnya menjerit agar ia memeluk sosok mungil itu. Kaien masih punya pikiran untuk mencegah rumor buruk antara mereka berdua tidak bermunculan kembali.

"Sudah satu tahun berpisah, mereka tidak berubah juga. Dasar bodoh."

Ichigo melirik ke samping kirinya, mencari tahu siapa yang telah mencela drama yang sedari tadi ia saksikan dari balik pintu.

"Toushirou? Kau baru pulang dari misi?"

"Panggil aku Hitsugaya-taichou!" ketus si rambut perak.

"A..."

"Kalau aku jadi kau, aku akan melarang istrimu berdekatan dengan Shiba-fukutaichou."

"Aku tidak punya alasan untuk melakukan hal itu."

"Cih! Sejak kapan kau berubah selemah itu? Bagaimana kalau kukatan kalau bertahun-tahun yang lalu istrimu digosipkan menjalin asmara dengan Shiba-fukutaichou yang telah beristri?"

"Darimana kau mendapat cerita itu? Aku mengenal betul Rukia, dia tidak akan melakukannya."

"Apakah perlu aku mengingatkanmu dalam pihak kalian kaulah yang menginginkannya?"

Perkataan Toushirou menohok Ichigo. Mengingatkan pemuda berparas seram itu akan kenyataan yang selama ini ia pendam. "Dia istriku!"

"Tapi dia tidak mencintaimu."

Ya, Toushirou benar.

"Sejak awal sebelum kau memanfaatkan situasi dan mengambil jalan pintas menikahinya, sudah kukatakan menjadikan Kuchiki Rukia istrimu bukanlah sebuah jaminan yang dapat membuktikan dia jatuh cinta padamu. Pernikahan kalian bukanlah pilihan baginya, semua adalah ketentuan. Semenjak dia ditempatkan di divisi 13, Shiba Kaien adalah tempatnya bersandar. Status Shiba Kaien yang sudah beristri bahkan tidak menjadi halangan bagi hubungan mereka. Bahkan—"

"Cukup Toushirou!" dalam hitungan detik jari-jari Ichigo telah mencengkram kerah shihakusho sang kapten divisi 10, mata hazelnya semakin memancarkan kilatan marah.

"Huh! Karena seorang Kuchiki Rukia kau bisa menjadi semarah ini. Aku menceritakan semua karena kau temanku, Kurosaki. Kau harus tahu, disaat kau sibuk mengejar gelar taichou, banyak waktu yang terlewatkan hingga wanita yang kau inginkan telah mencintai orang lain. Kalau kau begitu menginginkannya, pertahankan! Jangan jadi pecundang yang diam saja melihat istrimu bersama orang lain."

Cengkraman di kerah taichou berambut perak menguat, Hitsugaya menduga sahabat baiknya dari divisi 5 itu akan meninjunya, ternyata—cengkramannya terlepas? Tubuh jangkun itu malah berbalik memunggunginya.

"Jadi seorang kapten yang terkuat, membuat seisi Soul Society mengakuiku—" suara Ichigo berbisiknya begitu lemah, terbayang kembali masa kecil saat keluarga Kuchiki Byakuya menendangnya menjauh hanya karena derajatnya dianggap tak pantas.

'Minggirlah, Kotoran. Jangan pernah sekalipun tanganmu menyentuh seorang Kuchiki."

Tangan Ichigo terkepal, bahkan Rukia yang menyaksikannya saat itu hanya diam tak berekspresi—ah, bukan tak berekspresi, tapi tak bernyawa, "—aku melakukannya demi Rukia. Agar aku tidak lagi dianggap tidak layak oleh keluarga Kuchiki ketika aku mendekati Rukia kembali."

"Memangnya istrimu tahu tentang perjuanganmu?"

Ichigo menggeleng lemah, "Tidak."

.

.

.

Hujan mengguyur Soul Society ketika matahari senja hendak terbenam hingga malam hari. Frekuensi hujan yang turun memang tidak terlalu deras, sayang sedikitpun tak mampu menghapus kegelisahan Ichigo.

Jam 20.00

Sejak tadi sore taichou berambut orange itu terus duduk bersandar di kepala ranjang, menggawasi pergerakan jarum jam yang kian bergeser tiap menitnya. Menanti dengan sabar—mungkin lebih tepatnya gelisah sang istri yang tak kunjung pulang.

Jam 20.54

Bagus.

Ichigo berniat menerobos hujan untuk menjemput Rukia—hanya Kami-sama yang tahu dimana ia sekarang—kalau seandainya istri mungilnya tak kunjung pulang saat menunjukkan pukul sembilan. Sayangnya—

"Sial!" Ichigo tersentak terbangun.

Jam 23.01

"Aku ketiduran!" Ichigo terus mengumpat-ngumpat dalam hati, langkahnya sedikit tersandung, bergegas memperbaiki pakaian untuk menyusul sang istri.

"Kau belum tidur, Ichigo?" suara Rukia tiba-tiba muncul dari balik pintu. Shinigami mungil itu terlihat basah kuyup. Ia kehujanan.

Ichigo menghela nafas, antara kesal dan lega, tapi tetap memakaikan handuk disekitar pundak shinigami mungil. "Kenapa bisa pulang sampai selarut ini?"

"Fuku-taichou divisi 13 yang lama baru kembali tadi siang. Banyak perubahan yang harus kami lakukan terhadap susunan penjabat bangku. Terlebih lagi kondisi Ukitake-taichou tidak terlalu baik, terpaksa semua tugas dialihkan pada Kaien-dono. Aku tidak bisa diam saja melihat Kaien-dono kesulitan, jadi aku membantunya hingga larut malam begini."

"Kaien-dono?" alis Ichigo berkerut.

"Ya. Shiba-fukutaichou. Kau pasti kurang mengenal namanya karena disaat kau sudah menjadi taichou, dia dikirim oleh Ukitake-taichou menjalankan misi."

Helaan nafas. Lagi?

Entah kenapa mendengar bagaimana cara Rukia menyebutkan nama sang wakil kapten, terasa ada yang berbeda. Membuat dadanya bergemuruh dan tidak nyaman.

"I,Ichigo, ada apa?" si mungil Rukia berubah gugup ketika tangan suaminya perlahan mebuka ikatan obi shihakushonya.

"Aku menginginkanmu malam ini?" suara begitu berat mengguman dipersimpang leher, membawa si mungil untuk terhayut pada bujukannya.

Malam yang panjang, akankah kebimbangan ini berakhir dengan lama pula? Saling memeluk asa, menggapai hal yang semu dan tak pasti untuk sebuah masa depan.

.

.

.

Rukia mengerang dalam tidurnya. Akhir-akhir ini pagi hari selalu datang terlalu dini baginya. Namun kekesalan seakan sirna begitu melirik sosok suaminya tengah tidur amat damai. Selama beberapa bulan pernikahan mereka, rasanya beberapa hari ini adalah paling manis. Suaminya yang sekarang jauh lebih lembut serta perhatian, istri mana yang tidak bahagia bila diperlakukan demikian.

"Rukia-sama. Apakah anda sudah bangun?"

Suara seorang pelayan dari balik pintu membuat Rukia merubah posisi tidurnya menjadi duduk. Ditariknya selimut lebih tinggi, memastikan ia bersama suami sudah dalam tampilan tertutup.

"Masuklah."

Tepat setelah Rukia memberi izin, seorang pelayan muda masuk ke kamar. Pipi sang pelayan memerah melihat penampilan kedua majikannya diatas ranjang. Sebenarnya ia telah sering kali mendapati tampilan demikian beberapa hari ini, namun tetap ia merasa canggung.

Mengabaikan semburat merah si pelayan, Rukia memasang topeng layaknya tak ada hal aneh apapun saat ini. "Ada apa?"

"Shiba-fukutaichou datang menjemputAnda."

.

.

.

"Maaf Kaien-dono. Anda pasti lama menunggu," wanita bertubuh mungil keluar dari kediaman Kapten divisi 5, langkahnya terburu-buru menghampiri Shiba Kaien. Kerutan jelas terlihat di bagian alis fuku-taichou jenius itu.

"Kau ini bagaimana sih, Kurosaki! Kenapa kau tidak bisa bangun pagi akhir-akhir ini?"

"Umm..." Rukia terbatuk pelan. "Masalahnya Ichigo—"

"Apa?" Kaien semakin menyipitkan mata, mendekati wajah Rukia dengan tatapan menyelidik.

Rukia lantas membalikan badan, menghindari tatapan Kaien yang membuatnya semakin salah tingkah. "Aku... aku dan Ichigo—" pipi Rukia memerah. "—itu... itu..."

"Kau mau mencari cara untuk membohongiku ya, Kurosaki?"

"Bu—bukan begitu!"sangkal Rukia cepat, wajahnya begitu panik dan semakin memerah.

"Habislah kau, Kurosaki!"

Keringat dingin mulai mengalir di dahi Rukia. Fuku-taichou dari divisinya memang terkenal amat menyenangkan, namun jangan pernah mempertanyakan kedisiplibannya. Dia adalah orang yang menjunjung tinggi peraturan, siapapun akan tamat bila sudah melakukan pelanggaran.

"Hahaha... kau terlihat lucu kalau sedang panik."

Hha?

"Kaien-dono?"

Ini sungguhan Shiba Kaien kah?

.

.

.

Ichigo duduk termenung di atas ranjangnya. Lagi-lagi dia bangun tanpa Rukia dalam pelukannya. Rukia meninggalkannya. Lagi. Meniggalkannya sendirian.

Kenapa hal yang sama terus terulang setiap paginya?

"Kurosaki-sama, sudah saatnya Anda bangun."

Ichigo mendelik kesal pada pelayan yang baru memasuki kamarnya. Kenapa pelayannya—untuk kesekian kali—tak pernah bersikap biasa saja ketika melihat tampilan dirinya yang hanya terbungkus selimut diatas ranjang. Mungkin ini adalah resiko karena memilih memperkerjakan pelayan perempuan ketimbang laki-laki, dan—oh... dia juga tidak ingin mengambil resiko tubuh istrinya akan ditatap oleh orang lain selain dirinya apabila mempekerjakan pelayan laki-laki. Sama sekali tidak. Terimakasih.

"Mana Rukia?"

"Rukia-sama sudah dijemput oleh Shiba-fukutaichou pagi-pagi sekali."

Raut kekecewaan tergambar di wajah Ichigo. Shiba-fukutaichou. Lagi-lagi laki-laki itu yang menyebabkan Rukia meninggalkannya di pagi hari. Rasanya tidak ada hari yang terlewatkan tanpa nama Shiba Kaien membayangi rumah tangganya denga Rukia.

"Apakah ada lagi yang anda butuhkan, Kurosaki-sama?"

"..."

"Sepertinya tidak ada," sang pelayan mengambil kesimpulan sendiri dari kebisuan majikannya. "Kalau begitu—"

"Apakah Rukia tersenyum saat bersama Shiba Kaien?"

"Umm... kalau soal itu—"

"Jawab saja," tegas Ichigo.

"Rukia-sama tidak tersenyum. Tapi—kalau tertawa, iya."

Tertawa

Tangan Ichigo mencengkram lembar selimut kuat-kuat.

"Kau boleh pergi."

Mata hazel itu enggan berpaling ketika pelayan meninggalkannya.

Tertawa?

Kapan Rukia pernah tertawa saat bersamannya? Jawabannya, tidak pernah.

Rukia yang ia kenal sejak dulu adalah seorang 'Putri Es', tidak berekspresi serta berhati dingin layaknya Byakuya Kuchiki bila dihadapan orang lain. Kemajuan yang dapat Ichigo buat pada Rukia selama mereka adalah tersenyum, tidak lebih.

.

.

.

"Kurosaki-kun, Ishida-kun, Sado-kun!" begitu riang Inoue Orihime menghampiri teman-temannya, baginya ini adalah momen menyenangkan bisa ikut latihan gabungan dengan semua divisi.

"Ah, rupanya kau juga disini, Hime," sapa Rangiku yang juga baru tiba bersama kapten kesayangannya.

"Wah, semuanya berkumpul. Kenapa hari ini lebih ramai dari biasanya?"

"Hari ini anggota baru juga ikut bergabung, Inoue-fukutaichou," jelas Momo.

Orihime tertawa kikuk. "Ternyata ada Hinamori-fukutaichou juga, maaf tidak menyapa."

"Jelas saja tidak terlihat, Sado menghalanginya sejak tadi," tukas Ishida direspon dengusan oleh Sado, dan Momo hanaya tersenyum maklum.

"Tidak terasa sekarang sudah waktunya menerima anggota baru, padahal rasanya baru kemarin kita seperti mereka," mata Orihime memandanag jauh pada sekumpulan shinigami yang sibuk berlatih, pikirannya rasanya kembali disaat awal-awal mereka sebelum menadapat embl-embel kapten dan wakil kapten. Semua terasa menyenangkan, memasuki divisi, dengan cita-cita yang sama... namun... kini mereka memiliki tempat yang berbeda. Ekor matanya langsung melirik satu-satunya sosok yang memakai haori putih didekatnya. Diantara mereka, si pemilik haori bertuliskan kanji 5 itu yang lebih dulu mendaki puncak. Semakin tinggi, semakin tak terjangkau, dan Orihime merasa semakin tidak bisa menebak ajaln pikiran si haori putih.

"Huh! Aku benci anak baru, mereka selalu bersikap seolah-olah mereka tahu segalanya," sinis Ishida.

"Kita berharap saja tahun ini tidak ada kekacauan yang ditimbulkan oleh mereka," timpal Ichigo, moodnya sedang tidak baik hari ini. Membereskan kekacauan yang ditimbulkan oleh anggota baru akan memperburuk suasana.

Semua mengangguk setuju. Namun dunia tidak pernah adil. Baru beberapa detik Ichigo berharap, tiba-tiba ledakan batu-batu runtuh terdengar.

"Divisi 4, divisi 4! Mana divisi 4!" salah seorang anggota shinigami berteriak-teriak meminta bantuan medis.

"Ya!" sahut Orihime berlari menghampiri shinigami tadi.

Ishida geleng-geleng kepala. Tampaknya cerita anggota baru yang selalu mengacau tidak akan pernah lepas menghiasi cerita sepanjang tahun. "Anak baru memang merepotkan."

"Lho, itu kan Rukia-chan," Rangiku dengan shock menunjuk-nunjuk tempat ledakan tadi berasal.

Mata Ichigo membulat sempurna. Dari tempatnya berdiri sekarang, dengan jelas ia dapat melihat tubuh mungil Rukia berada dalam pelukan Kaien, tidak jauh dari sana ada pula beberapa shinigami yang terlindung kekkai dari tenaga Kidou.

"Rukia-chan!" panggil Momo.

Rukia sedikit tersenyum, melambaikan tangan kearah Momo sembari melepaskan diri dari pelukan Kaien yang tengah sibuk menceramahi shinigami yang menjadi dalang semua kekacauan. Setelah berbicara sedikit dan mendapat respon anggukan dari Kaien, Rukia bergegas berlari menghampiri Momo dan yang lainnya berkumpul.

"Hai!" Rukia begitu ramah menyapa teman-temannya, tidak begitu memperhatikan ekspresi suaminya yang masih kaku.

"Apa yang telah terjadi di divisimu, Kurosaki?" selidik Ishida.

"Anggota baru tidak sengaja menembakkan Hadou 33 ke arah bukit batu di didekatnya. Nyaris saja mereka tertimpa batu."

"Lalu kenapa Shiba-fukutaichou memelukmu?" kali ini pertanyaan datang dari Rangiku, perempuan pirang itu selalu tidak puas kalau belum berhasil menginvestigasi semua kejadian didepan matanya.

Rukia tertawa ringan. "Aku sudah memperhitungkan jarak ketika memasang kekkai pelindung untuk mereka, ternyata ada batu besar terpental kearahku. Untung Kaien-dono cepat menangkisnya, kalau tidak aku sudah remuk."

"Dasar ceroboh," Momo menghela nafas, lega karena temannya terhindar dari bahaya. "Lain kali hati-hati."

Rukia tersenyum kecil, matanya langsung beralih pada suaminya yang berdiri disamping Momo. Wajah seram suaminya kini memiliki banyak kerutan, ia tahu pasti si kepala orange itu tidak suka dengan tindakan cerobohnya barusan.

"Apakah kau terluka, Kurosaki?" Kaien bershunpo ke samping Rukia sebelum si mungil itu sempat melangkahkan kaki mendekati suaminya.

"Rukia baik-baik saja," sahutan tajam menyela Kaien, tentu orang itu tidak ingin Rukia lebih dekat lagi dengan Kaien.

"Oh, hai! Apa kabar Kurosaki-taichou? Aku sudah mendengar tentang dirimu dari istrimu. Selamat atas pernikakahan kalian."

"Terima kasih."

Hawa canggung terasa setelah perkenalan singkat di antara dua orang yang bila diperhatikan ternyata memiliki paras mirip. Yang membedakan warna rambut dan wajah Ichigo yang jauh lebih keras dari Kaien yang memang memiliki sifat lembut. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tampaknya mereka tidak cocok sama sekali.

Rukia menghela nafas, tidak menyukai suasana canggung begitu kental menyelimuti mereka. Ia hendak mencairkan suasana, namun terhenti ketika tiga orang shinigami mendekat dengan wajah takut.

"Shiba-fukutaichou," panggil salah seorang diantara mereka.

"Apa lagi mau kalian?"

"Kami... kami ingin meminta maaf atas tindakan ceroboh kami yang hampir menyebabkan Anda dan istri Anda terluka."

Awalnya Kaien memasang tampang seram, tapi senyum ringan muncul setelahnya. Ajaib, seoalah-olah sosok pemarah sebelumnya tidak pernah ada. Oh—itu adalah keahlian Shiba Kaien. Itulah mengapa banyak orang yang menyukainya. Dia tegas, tapi dia tetaplah orang yang baik dan lembut.

"Sudahlah, jangan dipikirkan. Aku dan is—" Kaien terdiam, berpikir rasanya ada yang salah dalam pengucapannya, begitu pula dengan Rukia.

"ISTRI?!" teriakan Kaien dan Rukia secara bersamaan sukses membuat tiga shinigami anggota baru terlonjak kaget.

"I,iya. Bukankah kalian suami-istri?"

Rukia menggeleng pelan. Baginya ini adalah hal biasa yang dulu sering terjadi dan terulang lagi sekarang. Ia rasa Kaien sadar akan hal itu, buktinya sang wakil kapten divisi 13 itu tertawa kencang. Tidak perduli sudah satu tahun mereka tidak bertemu, shinigami lain pasti selalu saja salah mengartikan hubungan mereka ketika mereka terlihat sedang bersama.

"Kaien-dono, itu tidak lucu!" cemberut Rukia.

Di sisi lain, mata elang Kapten Kurosaki menyala tajam. Darahnya terasa mendidih sampai ke puncak kepala. Ingin rasanya kapten bertekanan reiatsu tinggi itu berteriak ke seluruh penghuni Soul Society agar mereka tahu Rukia adalah istrinya, bukan istri Shiba Kaien.

"Mereka berdua memang suami-istri kok," ah—Kiyone memperburuk suasana, dua orang mantan wakil pengganti divisi 13 datang dalam keadaan mabuk.

"Lihat... betapa serasinya mereka," timpal Sentaro mendorong Rukia, otomatis tubuh mungil itu langsung jatuh kepelukan Kaien.

"Kalian ini! Pasti kalian mabuk lagi kan!" tuduh Kaien.

"Kami hanya meminum sedikit kok..."

"Iya, sedikit."

"Masih menyangkal lagi. Cepat cuci muka kalian!"

"Huwaaaa!"

Teriakan maut Kaien sukses membuat Sentaro dan Kiyone terlonjak kaget. Begitu terkejutnya hingga mereka tergelincir ke sungai kecil di dekat sana. Terpeleset ber—ti—ga, menarik serta Rukia bersama mereka.

Pantat Rukia sukses terduduk di aliran kecil sungai, menenggelamkan tidak sampai seperdua bagian tubuhnya. Malang Sentaro dan Kiyone mengalami pendaratan kepala duluan ke dalam sungai.

Rukia terdiam. Pemandangan yang terlihat sekarang adalah dua orang yang membawanya tergelincir ke sungai tengah berlari menghindari Kaien, Rangiku pun telah bersiap-siap memberi bantuan pada Kaien, Sado dan Ishida terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Hahahaha..."

Tawa dari bibir Rukia membuat seluruh mata tertuju padanya. Sambil menggaruk-garuk belakang lehernya, Kaien berjalan ke tempat Rukia masih terduduk.

"Apakah kepalamu terbentur, Kurosaki?"

"A—ku... hahaha... a... hahaha..." Rukia tidak mampu mengendalikan tawanya, wajahnya sampai memerah karena semakin kencang tertawa.

Kaien mengulurkan tangannya, "Ayo kubantu berdi—"

"Ichigo?"

Kurosaki Ichigo, dengan tinggi menjulang telah lebih dulu menggendong Rukia keluar dari dalam air. Wajahnya cemberut, sama sekali tidak ingin menoleh ke Rukia. "Kita pulang. Kau harus ganti baju."

"Kau tidak perlu repot, Kurosaki-taichou. Seingatku di barak divisi 13 sudah disediakan shihakusho cadangan," jelas Kaien. Membuat bawahannya seperti ini adalah tanggung jawabnya.

"Kaien-dono berkata benar, Ichigo. Aku ganti—" lidah Rukia mendadak kelu, mata Ichigo kini melotot kearahnya.

Mata mengintimidasi.

Mata seperti itulah yang para tetua Kuchiki tunjukan pada rumput liar seperti Rukia selama bertahun-tahun. Mata yang membuat shinigami biasa sepertinya bisa menurut dan benar-benar patuh.

.

.

.

"Ichigo, kau marah padaku?"

Ichigo mendengus tajam. Kenapa wanita dalam gendongannya tidak pernah berhenti memelas? Ia benci mendengar Rukia memelas, membuat dirinya terlihat seolah-olah suami yang buruk.

"Ichigo, kumohon katakan sesuatu. Aku tidak mengerti kenapa kau marah."

Tidak mengerti? Rukia bilang tidak mengerti?

Ichigo tidak habis pikir setelah semua adegan demi adegan istrinya lakoni bersama Shiba Kaien didepan matanya, dan sekarang wanita itu masih tidak bisa membaca situasi? Oh—perlukah seorang Kurosaki Ichigo berteriak didepan istrinya kalaul ia cemburu sekarang?

"Ichigo..."

Silau tajam terpancar dari mata hazel Ichigo. Seketika kepala Rukia tertunduk takut. Jujur Ichigo begitu tidak nyaman menatap istrinya begitu, itu pasti membuat perempuan mugil itu tertekan. Perasaan marah ini yang membimbingnya untuk menatatap Rukia begitu. Ini hanya insting alaminya

"Kurosaki-sama! Apa yang terjadi pada Rukia-sama?"

Sesuai dugaan, beberapa orang pelayan langsung menghampiri begitu mereka memasuki koridor utama. Pemandang yang begitu menjengkelkan

"Apapun yang terjadi, jangan ada yang mengganggu kami di dalam," perintah sang Kurosaki sebelum memasuki kamar.

Terdengar pintu menutup dibelakang ketika kaki Ichigo memasuki kamar, setidaknya pelayan rumah dinas Kurosaki tahu diri untuk menutup mulut dan teelinga mereka saat ini.

Tanpa membuang waktu, lengan kokoh Ichigo menurunkan Rukia dalam posisi duduk di tepian ranjang. Masih dengan raut cemberut mencari shihakusho baru dari dalam lemari. Belum ada satu pun yang berbicara diantar mereka. Rukia sendiri memandangi suaminya dengan cemas, sementara yang di pandangi terus mengacak-acak lemari tak karuan. Rasanya Ichigo tidak benar-benar mencari shihakusho.

Ketemu.

Shihakusho yang dicari sudah ditemukan. Namun sebelum berhasil meraihnya, pikiran Ichigo kembali teringat akan penyebab baju istrinya basah. Satu per satu ingatan pahit masuk meracuni otaknya, memperdalam rasa cemburu yang semakin membakar. Memperpendek menit-menit bom waktu yang siap meledak.

"Sial!" Ichigo mengabaikan lemari yang telah berantakan, dengan shunpo—yang sebenarnya tidak perlu—pemuda itu telah berdiri di hadapan Rukia.

"Ichigo!" Rukia menjerit, cukup merasa tersinggung suaminya ini mencoba menarik paksa obinya.

"Buka!" tanpa sadar Ichigo membentak Rukia, suaranya yang nyaring menggelegar disetiap sudut ruangan. "Kenapa kau masih memakainya? Shihakusho itu basah!"

Oke. Ini sudah mulai menyebalkan.

"Aku bukan anak kecil yang harus kau perintah, aku bisa mengganti pakaianku sendiri."

"Aku suamimu, aku berhak melakukan apa saja padamu!"

"Tapi aku tidak mau. Kenapa sih kau pemaksa sekali."

"Oh!" wajah Ichigo menatap dengan ekspresi sinis. "Jadi kau maunya digantikan pakaian oleh Shiba Kaien? Begitu!"

"Jangan bawa-bawa Kaien-dono dalam maslah kita. Kaien-dono terlalu baik untuk kau cela."

"Cih, orang baik?" Ichigo serasa ingin muntah mendengarnya. "Orang baik yang membawa pergi istri orang lain ketika masih berada dalam pelukan suaminya."

"Ichigo! Berhenti menjelekan Kaien-dono!"

"Berhenti membela orang berengsek itu!"

Rukia ingin sekali menampar mahluk orange dihadapannya ini. Tangannya telah terkepal kuat menahan emosi, untung ia masih memiliki kendali hingga matanya berubah melembut. Mereka berdua sama-sama keras. Saling membentak tidak akan pernah menyelesaikan apapun, dan Ichigo tentu lebih bodoh darinya dalam mengendalikan emosi. Harus Rukia yang mengalah.

Iris violetnya langsung menembus langsung si hazel, mencoba memperlembut pertahanan kapan yang terkenal begitu kuat seantero Soul Socirty.

"Kau kenapa, Ichigo?" sapuan lembut menghampiri pipi Ichigo. "Kesalahan apa yang telah ku perbuat padamu? Apa yang harus kulakukan agar kau tidak marah-marah lagi?"

"Jauhi Shiba Kaien."

Tiga kata. Dan sukses membuat iris violet yang semula melembut berubah melotot. Oke Shiba Kaien cukup sensitif untuk dibawa dalam pertengkaran mereka. Dan sayangnya bagi Ichigo itulah akar pemarsalahan mereka.

"Lagi-lagi Kaien-dono. Kenapa kau tidak berhenti menyalahkannya. Apa salah Kaien-dono padamu?"

"Karena dia adalah orang yang selalu membuatmu jauh dariku."

"Jauh bagaimana? Jangan seperti anak kecil, Ichigo. Aku pergi pagi-pagi bersama Kaien-dono hanya untuk berlatih. Cobalah bersikap pengertian."

"Kaulah yang tidak mengerti aku!" Ichigo berteriak hingga ke paru-paru, pertengkaran ini, Shiba Kaien, semuanya... semua sudah membuatnya lelah. "Berkali-kali, Rukia. Berkali-kali aku meminta padamu agar jangan pergi disaat aku masih tidur, tapi hasilnya apa? Bahkan sedetikpun kau tidak pernah berniat menungguku. Kau tetap pergi karena kau pikir aku cuma main-main kan?"

"Bukan begitu, Ichigo..."

"Sudahlah, aku lelah." Ichigo menggeleng lemah, kepalanya sudah berdenyut. Tak disangka bertengkar dengan Rukia lelahnya melebihi mengahadi ribuan menos grande. "Kalau kau ingin kembali ke divisi 13 untuk mencari Shiba Kaien, pergilah."

Rukia menghela nafas, jujur dia juga lelah dengan pertengkaran ini. "Ichigo... aku tidak akan mencari Kaien-dono."

Mencari orang lain ketika memiliki suami. Tidak! Rukia tidak serendah itu. Pernikahan mereka memang di atur oleh para tetua. Tapi ia juga paham seorang istri harus tahu tempatnya. "Aku ingin kau tahu, aku tulus menyayangimu."

"Buktikan."

"Caranya?"

"Cium aku."

Nafas Rukia tertahan. Matanya mengerjap pelan, cukup terkejut oleh permintaan Ichigo yang terbilang tak terduga. Dan keterkejutan itu telah diartikan sebagai penolakan oleh Ichigo.

"Hhh... sudah ku duga, kau pasti tidak akan pernah siap menciumku," Ichigo tersenyum getir. Ia tidak ingin menyakiti Rukia lebih dari ini. Namun—penolakan Rukia juga membuatnya sakit. Seperti inikah perasaan ketika menikahi seseorang yang belum tetnu mencintai kita? Seharusnya ia mendengarkan Toushirou dulu—mungkin.

"Ciuman pertama kita saja tidak pernah berhasil. Aku rasa ciuman itu kau siapkan untuk Shiba Kaien, bukan untuk—"

Bibir Ichigo kaku, benar-benar tidak bergerak. Bukan karena bisu, atau karena takut. Tapi... karena Rukia. Istrinya. Tanpa ragu-ragu wanita mungil itu mencium Kurosaki Ichigo. Benarkah ini terjadi? Ini sungguhan? Apakah mereka sudah benar-benar bisa berciuman tanpa adanya gangguan layaknya tempo hari.

"Cukup?" nafas hangat menerpa wajah Ichigo, pipi istrinya sudah memerah. Sungguh manis sekali. Tapi ini tidak adil. Bahkan Ichigo merasa belum sempat membalas ciuman istrinya.

"Lagi."

Tanpa rasa malu Ichigo menarik—ah, lebih tepatnya mendorong tubuh mungil istrinya ke atas ranjang. Tanpa ampun menikmati menjelajahi bibir mungil yang terus menerima serta membalas ciumannya. Ini bukan lagi menjadi sebuah ciuman, semua semakin jauh lebih bermakna. Memang mereka tidak bisa mengatakan apapun, namun lewat ciuman ini mereka mulai bisa merasakan perasaan masing-masing yang selama ini begitu apik tersembunyi.

"I,Ichig—hmp!" tangan Rukia mencengkram kuat pundak suaminya. Beberapa kali ia mencoba mendorong tubuh kekar itu untuk memberi jeda, namun tiap itu pula suaminya semakin memburu bibirnya.

Mereka seharusnya berhenti. Nafas mereka yang terputus-putus sudah memberi tanda bahwa pasukan undara telah berkurang. Namun—hal ini terlalu menakjubkan untuk dihentikan. Untuk pertama kali hal begitu intens terjadi. Semakin ingin dihentikan, semkin pula menggoda untuk tidak dilewatkan.

.

.

.

To be continued...

Oke, karena sudah sampai disini... hanya sekedar ingin tahu, kalian ingin bagian cerita seperti apa? n_n

Mohon bantuannya ya, minna... Hanya ingin tahu... bagian akhirnya tetap Mey kantongin tapi n_n

Thankyou all... n_n