Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Warning : OOC, Typo, perusakan karakter, shinigami life, tulisan berantakan *seperti biasa, author ga pernah meriksa ulang*, etc.

.

.

"Kau tidak bergabung dengan yang lain?"

Kuchiki muda menggeleng, menikmati semilir angin begitu sejuk menyapa permukaan kulit. Mungkin karena itulah ia begitu menyukai tempat tinggi, hingga ia merasa sebebas angin. Tanpa ada ikatan yang membelenggunya.

"Kau tidak jera juga terus bermain denganku?"

Si rambut orange mendecih pelan, sedikit mengusap pelipisnya yang ditempeli plester kecil. Masih terasa denyut sakit meski sudah hampir seminggu luka itu ia peroleh. "Aku malah lebih penasaran kapan mereka jera untuk tidak mengurusimu terus?"

"Kalau kau dari keluarga bangsawan, atau mungkin—setelah aku menikah dan menyandang nama keluarga suamiku."

Kurosaki Ichigo mulai menampakan cemberutnya. Hubungan pertemanan mereka itu sederhana. Mereka bertemu, merasa cocok meski banyak argumen, namun salah satu pihak keluarga merasa keberatan. Kenapa harus dipermasalahkan? Mereka kan bukan melakukan tindakan kriminal, dan toh mereka masih hidup di langit yang sama.

Tangan mungil terulur, meraih pipi si rambut orange untuk sekedar memeriksa memar yang belum begitu pudar melukis wajah. "Apakah lukanya masih sakit?"

Bagi Ichigo, luka itu tidak seberapa. Sejak memutuskan berteman dengan seorang gadis yang menyandang status kebangsawanan, hiasan kecil seperti itu tidaklah jarang ia peroleh. Mungkin begitulah resiko ketika shinigami biasa mencoba menyentuh mawar berduri yang teramat indah. Pesona yang menawan, namun terlarang untuk disentuh rumput liar.

"Kalau begitu, menikah saja denganku?" iris hazel itu penuh keyakinan mengucapkannya, menatap dengan mantap manik violet lawan bicaranya. Tidak ada keraguan ketika seoarang Kurosaki mengucapkan sebuah komitmen.

Sentilan kuat mendarat didahi, membuat Kurosaki muda meringis kecil. "Oi, Rukia! Sakit!"

"Jangan bercanda, Kurosaki," tawa mengejek lolos dari Kuchiki Rukia. "Kau tidak sadar juga kenapa Ginrei-jiisama mengutus orang menghajarmu? Kecuali kau dari keluarga bangsawan atau—kau orang berpengaruh di Soul Society, selain itu kita ini tidak dalam derajat yang sama."

"Nanti aku bisa menjadi seorang kapten kalau kita sudah memasuki divisi shinigami."

"Yah—kalau begitu kau ajukan tawaran untuk menolong temanmu ini ketika kau sudah jadi kapten saja," masih, meskipun Rukia merasa cukup tersanjung sahabat baiknya ini menawarkan pertolongan, baginya ajakan tersebut hanyalah hal asa. Cepat atau lambat, mereka tidak akan berteman seakrab ini.

"Hee—nanti kalau kau dilamar duluan bagaimana?"

"Itu salahmu sendiri yang jadi jeruk lamban. Kita kan masih lama memasuki divisi, lagi pula—"

"Jangan bermain dengan kotoran ini." sensasi dingin menyelimuti. Sebuah reiatsu kuat berada disekitar mereka, seolah begitu menekan dan mengintimidasi. Dengan leher kaku Rukia memberanikan diri menoleh kebelakang. Tubuhnya gemetar, tak kuasa menerima reiatsu yang begitu familiar.

"Nii-sama?"

Satu dorongan reiatsu, Ichigo tak mampu bergerak ditempatnya. Melihat tatapan dingin menatapnya dengan sensai membunuh. Kuchiki Byakuya berdiri dengan angkuh, membawa keeleganan seorang Kuchiki yang beigtu tersohor. "Sudah ku katakan kemarin adalah yang terakhir, Rukia. Kau tidak ingin kakakmu dan aku mendapat masalah dari kakek tua Kuchiki itu?"

"Maaf," Rukia menunduk lemah. Sejak awal kakak iparnya sudah memperingatkan bahwa posisi kakak perempuannya sedang dipertaruhkan karena keegoisannya memperoleh teman. Hanya seorang teman—sayang tidak boleh karena tidak sederajat.

"Hoi! Kau tidak pernah muda ya, Byakuya?"

Iris kelabu sang Kuchiki melirik sinis pada makhluk orange disebelahnya. Selalu membangkan dan tidak memiliki sopan santun, khas seorang Kuroski. Bahkan kepala keluarganya—Kurosaki Isshin—rela melepas jabatan shinigaminya demi menikahi shinigami biasa yang sudah diusir oleh klannya.

"Jangan mengujiku, kotoran!"

"Huh! Karena kau seorang wakil kapten divisi 6, kau ingin menyerang murid akademi sepertiku?"

"Kau bukan lagi murid akademi bila mencari masalah denganku, bagiku kau tidak lebih dari seorang makhluk rendahan."

"Kalau begitu, buktikan kalau kau bisa menyingkirkanku!"

Tangan Byakuya mengepal, begitu dingin mengambil ancang-ancang untuk menembakkan hadou ke shinigami yang tak tahu sopan santun tersebut. Begitu pula lawannya, pemuda yang begitu dipenuhi semangat juang itu telah menyiapkan kuda-kuda dengan berbekal pedang kayu sebagai senjata penyerang.

Hadou melawan pedang kayu? Yang benar saja?

Rukia menggeleng kuat. Dimana letak adilnya pertarungan ini? Bagaimana mungkin seorang anggota elite shinigami akan melawan murid akademi biasa? Pertaruangan yang ahkan siapapun akan bisa memprediksi hasil akhirnya.

Begitu panik, Rukia menggigit bibirnya, menggenggam kuat-kuat pedang kayu miliknya. Terus berfikir, pertarungan tidak akan berhenti hanya dari sebuah teriakan darinya. Apa yang harus dilakukan?

"Seranglah dimanapun kau suka, Kurosaki," seringai menghina dari Kuchiki Byakuya, tinggal menunggu waktu memberi tahu Kurosaki muda arti dari sopan santun.

Ichigo balas menyeringai. Semangatnya yang pantang menyerah memang patut di acungi jempol, sayang sekarang sedang tidak pada tempatnya. "Aku juga tidak segan-segan, Byaku—"

Tak!

Tanpa aba-aba, Ichigo telah diserang. Benda keras menghantam tepat di luka lama pelipisnya, mengalirkan darah segar dari goresan yang hampir pulih tempo hari.

"Anggap kita impas, Kurosaki."

Itu Rukia.

Gadis itu baru saja melemparkan pedang kayu ditangannya tepat kearah pemuda yang diakuinya sebagai teman baik. Teman baik? Lucu sekali. Apakah sekarang mereka masih pantas disebut teman baik.

"Ruki—"

"Ayo kita pergi, Nii-sama. Urusanku dengan dia sudah selesai."

Tanpa sepatah kata, Byakuya berbalik diikuti sang adik yang begitu patuh. Permainan selesai. Tiada keraguan untuk tidak menoleh kebelakang. Meninggalkan remaja ceroboh yang masih belum tersadar dari keterkejutannya. "Hoi, Rukia! Bukankah kita tadi berjanji akan menikah!"

Langkah Rukia terhenti, membiarkan kakaknya untuk lebih jauh berjalan. Untung sang kakak tidak cukup perduli untuk menunggunya. Tubuhnya berbalik, memberi tatapan langusung ke Ichigo. Tatapan terakhir, memohon agar kali ini teman terbaiknya mau mengerti dan menyerah. Tidak boleh ada lagi penyesalan, meski seharusnya tidak seperti ini caranya. "Mulai sekarang, bencilah aku sebesar-besarnya. Dan jangan coba sekalipun mendekatiku."

.

.

.

"Kau tidak pulang, Kurosaki?"

Rukia mendongakkan kepalanya, menatap wakil kaptennya terlihat mengkhawatirkannya. Jari-jari mungilnya langsung memijit pelipisnya, apakah barusan ia bermimpi? Sesuatu yang telah lama ia kubur dalam-dalam tampaknya telah muncul kembali lewat mimpi.

"Masih banyak pekerjaan yang belum selesai. Kalau Kaien-dono ingin pulang duluan juga tidak apa."

Helaan nafas keluar dari mulut Kaien, wakil kapten divisi 13 tersebut mengusap muka dengan lelah. "Akan kutemani kau sampai selesai. Cepat kerjakan, aku ambilkan minum dulu untukmu."

"Terimakasih," Rukia tersenyum simpul. Tak ada gunanya menghabiskan tenaga untuk menolak tawaran baik Kaien. Sekeras apapun menolaknya, pemuda itu tetap tidak akan berubah pikiran.

Perempuan itu kembali memijit pelipisnya disaat sosok Kaien telah menghilang. Sebenarnya sejak tadi dia sudah bisa pulang. Tugas yang diberikan Ukitake-taichou tidaklah mewajibkan dirinya untuk tertahan lama hingga larut begini. Alasan satu-satunya yang membuatnya tidak beranjak adalah Kurosaki Ichigo.

Sejak pertengkaran mereka kemarin, tidak ada satupun penyelesaian selain mereka berciuman, lalu—yah, bisa ditebak bagaimana kelanjutannya. Esok paginya disaat Rukia bangun, suaminya sudah tidak ada lagi. Bagaimana mereka bisa bicara baik-baik kalau sudah seperti itu ceritanya. Lagi pula, bicara bukan gaya mereka tampaknya. Ketika mereka mencoba bicara, mereka akan saling berteriak. Ketika semakin memanas, fisik yang akan lebih bermain.

Kami-sama, andai salah satu dari mereka ada yang bisa lebih berfikir jernih menetralkan masalah mereka tanpa harus baku hantam di tempat tidur. Mereka sama sekali tidak cocok disebut-sebut sebagai pasangan normal.

"Kaien-dono?"

Rasanya baru sebentar Shiba Kaien pergi, kenapa bisa begitu cepat pemuda itu duduk menunggu di teras luar. Ah—mungkin wakil kaptennya tidak ingin mengusik waktu kerjanya. Benar-benar khas Shiba Kaien, pengertian dan lembut.

Rukia memutuskan mendekati wakil kaptennya. Tidak enak juga terus-terusan merepotkan orang lain. Lebih baik mereka bergegas pulang sebelum masalah lain muncul lagi.

"Yo, Rukia."

Ini harus seperti apa disebut ya... Berita baik atau berita buruk? Ternyata yang duduk diteras luar bukanlah Kaien, melainkan sosok pemuda berambut orange menyala dengan haori putih bertuliskan kaji 5 dibelakangnya.

Rukia menghela nafas, menyusul duduk disebelah sosok yang menyapa barusan. Tampaknya mereka dalam mood yang sama, sama-sama tidak ingin berdebat malam ini. Baguslah.

Lama mereka terdiam. Waktu berlalu membiarkan semilir angin lewat menjatuhkan kelopak bunga sakura yang berguguran, mengisi keheningan dengan desingan jangkrik yang bersembunyi dikeremangan.

"Terimakasih—telah menepati janjimu dulu," Rukia lebih dulu bicara. Memandang lurus tanpa berani balas menatap pria disampingnya yang tengah mengerutkan alisnya. Si surai orange menoleh sekilas, mengerutkan dahi. Yah—dia pasti belum menangkap sepenuhnya maksud perkataannya barusan. "Dulu—kau pernah berjanji akan menikahiku untuk membuatku bebas dari keluarga Kuchiki."

"Oh..."

"Aku—memang begitu dekat dengan Kaien-dono. Aku juga mengaguminya," suara Rukia berbisik pelan namun tetap jelas, menarik oksigen sebanyak-banyaknya untuk memenuhi rongga pernafasannya. Semua adalah kejujuran, dan pria di sampingnya berhak untuk tahu.

Suasana semakin hening. Perkataan dari Rukia tampaknya masih disimak dengan baik, memberi kesempatan untuk dilanjutkan. "Tapi—aku tidak pernah memberikan hatiku padanya," tangan Rukia meraih tangan pria disampingnya, mengarahkan telapaknya pada dadanya, tepat dimana jantungnya berdetak seirama. "Hati itu masih disini. Masih menunggu seseorang untuk memilikinya. Dan—kalau seandainya aku mempercayakannya padamu, bisakah kau menjaganya untukku, Ichigo?"

Mata mereka berdua saling bertatapan, menyalurkan semua makna yang ingin dicurahkan yang selama ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Berkomunikasi meski bibir membisu. Mereka hanya sedang mencoba untuk saling mengerti satu sama lain.

Tidak ada jawaban dari pemilik hazel dihadapan Rukia. Pemuda itu hanya tersenyum, mendekatkan wajahnya dengan pipi memerah. Rukia yang mengerti maksud dari gerakan tersebut hampir menutup matanya, namun urung ketika si hazel menarik kembalik wajahnya dengan kikuk. "Ayo kita pulang saja."

Aaa... Rukia mengerti. Waktu ternyata telah membuat mantan sahabat baiknya tumbuh dewasa, pemuda itu telah belajar untuk tidak berbuat sekehendak hati untuk menghargai perasaan orang lain. Pasti karena itu dia mengurungkan niatnya untuk mencium Rukia.

Rukia mengambil inisatif, lebih dulu mengecup kilat bibir suaminya. "Kalau sekarang bagaimana?"

Pipi Kurosaki Ichigo memerah. Manisnya... Benar-benar tidak terduga seorang Kapten Divisi 5 yang bertampang seram bisa tersipu malu hanya karena kecupan.

Satu kecupan lagi. Dan yang ingin tahu, itu bukan dari Rukia. Kali ini Ichigo. Keduanya tertawa geli, layaknya remaja kasmaran yang baru jatuh cinta.

Tangan Ichigo spontan menarik tubuh mungil istrinya ke pangkuannya. Lebih berani mendekatkan wajah, melanjutkan ciuman yang sempat ia urungkan tadi. Satu kecupan, dua, dan seterusnya. Bibir mereka saling beradu, berirama, bertautan menikmati koneksi yang tercipta hanya dari reaksi listrik statis yang tercipta.

Nafas Ichigo hangat menerpa wajah Rukia, melepaskan ciuman mereka yang serasa memabukan. Ia tidak tahu sejauh mana bisa bertahan apabila kegitan tersebut terus dilanjutkan. "Ayo kita pulang,"

Rukia tersenyum mengangguk, terbawa nuansa kebahagian yang menyelimuti mereka. Sayang mereka terlalu sibuk dengan dunia mereka sehingga tidak menyadari bahwa ada sosok lain bersembunyi dibalik dinding sejak tadi, mengamati dengan diam interaksi diantara pasangan Kurosaki. Wajahnya tersenyum datar, mencengkram gelas minuman begitu erat.

.

.

.

"Yo!"

Rukia tersentak kaget, nyaris terjatuh dari tempat tidur kalau seandainya suami berambut orangenya tidak cepat membungkusnya dengan selimut dan menariknya kepelukan. Membuat kulit mereka beradu dalam selimut yang hangat.

"Pagi," satu kecupan. "Aku mengejutkanmu ya?" kecupan kedua menyusul.

"Wajahmu tadi terlalu dekat, baka," bukan ejekan kuat layaknya percakapan mereka dulu, hanya berupa bisikan pelan.

"Aku hanya ingin kau melihatku lebih dulu ketika bangun."

"Aku sudah melihatmu sekarang."

"Baguslah," suara Ichigo juga sudah seperti bisikan serak. Laki-laki berambut orange itu tiada hentinya menghujani Rukia dengan ciuman, begitu menikmati sensasi ketika kulit mereka bersentuhan. Memabukkan, serta menghanyutkan. Menghadapi ribuan hollow pun ia rela bila kejadian seperti pagi ini terus berulang menjadi hadiah.

"Kenapa tidak ada pelayan yang membangunkan kita pagi ini?"

"Aku menyuruh mereka untuk tidak mengganggu," kecupan lainnya menghujani wajah Rukia.

"Kau tega sekali membuatku datang terlambat ke divisi 13."

"Aku sudah mengirimkan kupu-kupu neraka ke Ukitake-taichou. Hari ini kau tidak usah pergi kerja."

"Jangan terlalu serakah menahanku dirumah, Ichigo. Aku juga bosan melihat wajahmu terus," canda Rukia menyisirkan jari-jarinya di surai orange suaminya.

"Tenang saja, siang nanti aku juga pergi kok."

Eh, tersinggungkah dengan candaan barusan?

"Yamamoto-taichou memintaku untuk memasuki hutan hollow di wilayah barat, sepertinya misi kali ini cukup serius. Nanti temani aku sampai pintu gerbang ya."

Oh...

"Mungkin akan memakan beberapa hari. Kau tidak keberatan kalau ku tinggal kan?"

Rukia tidak menjawab tangannya hanya terus bergerak menyisiri rambut suaminya. Senyum menghiasi bibirnya. Dadanya terasa penuh, merasa hangat sampai kesudut terdalam hatinya. Mungkin beginilah rasanya bila memiliki sandaran hidup, memiliki sesuatu yang bisa dijadikan tumpuan ketika merasa goyah dan sendiri.

.

.

.

Langkah kaki Rukia seirama dengan sang suami yang berjalan disebelahnya. Kimono putih kebiruan dengan motif kupu-kupu miliknya seakan senada dengan haori putih yang dikenakan suaminya.

Siang ini sesuai permintaan suaminya, ia akan mengantarkannya sampai pintu gerbang bagian barat. Sebenarnya ia ingin mengenakan shihakushou hitam seperti biasa, suaminya juga tidak memintanya untuk berdandan cantik. Egonya lah yang memintanya begitu. Entah kenapa ia merasa perlu membanggakan sisi keanggunan bangsawan miliknya agar terlihat pantas berjalan berdampingan dengan seorang sekelas Kurosaki Taichou.

"Nah—sampai disini saja, Rukia," Ichigo meghentikan langkahnya lebih dulu, melihat semua bawahannya telah tepat waktu berkumpul. "Aku pergi dulu ya."

Rukia tersenyum melepas kepergian suami. Meski sejenak, ia merasa bangga karena beberapa bawahan Ichigo bebisik-bisik memerah sambil memperhatikan wajahnya. Ia bukanlah shinigami yang tidak peka kalau untuk meninggikan kepercayaan dirinya. Seratus persen ia bisa menjamin banyak dari bawahan suaminya sedang terpesona olehanya. Mau bagaimana lagi, pesona seorang Kuchiki memang selalu tidak bisa ditolak.

Perlahan-lahan punggung suaminya menjauh. Sejenak manik violet tersebut terpaku memandangi punggung bertuliskan kanji 5 itu.

Deg!

Ada sensai tidak biasa menusuk-nusuk nadinya. Jantungnya berdebar, perasaan rindu dan ingin bersama pun menelusup entah dari mana datangnya. Perasaan ini...

"Ichigo!" beberapa langkah lagi, kaki laki-laki itu mendekati pintu gerbang. Rukia memberanikan diri meneriakan nama suaminya meski menarik perhatian yang lainnya. Tanpa membuang waktu Rukia berlari menghampiri suaminya yang telah menghentikan langkah.

"Ada apa?"

"Aku..." dia harus jujur. "Aku..." perasaan yang terus meluap, mengebu-gebu bagai kembang api yang siap dilontarkan ke langit. Manik violet itu kian berbinar menatap suaminya. "Aku..." kalimanya sudah di ujung lidah, namun sulit diucapkan. "Ichigo, aku... sepertinya sudah—"

Kalimat yang nyaris terucap, sayang Kapten Kurosaki langsung membungkamnya dengan ciuman kuat. Menelan semua kata-kata sebagai rahasia yang misterius bagi yang menyaksikan. Membungkang semua wajah menganga becampur terkejut dari bawahannya yang shock melihat sesuatu yang baru dari taichou yang terkenal begitu kaku pada perempuan. Sungguh kah ini kapten mereka?

Ciumannya terlepas. Mata hazel itu tetap menatap istrinya, mengabaikan keberadaan bawahannya yang tersipu mendapat tontonan gratis dari sang kapten. "Nanti saja," bisiknya pelan.

"Setelah aku pulang, dan setelah kau memikirkannya dengan lebih matang. Baru setelahnya, aku akan mendengarkan dan percaya tanpa meragukannya sama sekali. Maukah kau bersabar sampai aku pulang?" manik hazel tersebut memancarkan kilat kebahagian, begitu berbinar memandang iris violet sang istri.

Rukia mengangguk patuh. Memang kalimatnya tak terucap, tapi setidaknya ia merasa pesannya telah tersampaikan. Dan setelah suaminya pulang nanti, semua akan berubah menjadi kejujuran yang nyata. "Pergilah selesaikan misimu, dan cepatlah pulang."

"Aku akan cepat pulang, aku janji."

Senyum Rukia semakin mengembang. Itu adalah janji diantara mereka. Janji untuk tidak akan berpisah dalam waktu lama, janji untuk bisa sabar menunggu. Dan janji untuk kembali dan mendengar kebenaran bahwa bukan hanya hati yang telah Ichigo miliki dari seorang Kurosaki Rukia, tetapi juga cintanya. Rukia mencintai Ichigo, dan tampaknya pesan itu telah tersampaikan meski tak terucap.

.

.

.

Angin musim semi berhembus di sore hari, menjatuhkan kelopak bunga krisan yang telah layu dalam pot. Dengan telaten putri bangsawan Kuchiki mengganti dengan rangkaian baru, beberapa kali bibirnya akan menyunggingkan senyum tanpa alasan yang jelas. Ini adalah hari ketiga suaminya tidak ada dirumah. Belumlah lama, namun ia semakin tidak sabar menanti kepulangannya. Andai dia pulang, mereka akan berbicara, dan...

Kali ini Rukia semakin tidak bisa menahan senyum. Beruntung ia sudah menetap di rumah dinas Kurosaki Taichou, kalau tidak ia akan di anggap gila bila masih berada di mansion Kuchiki ketika ada yang memergokinya seperti ini.

"Rukia-sama," seorang pelayan datang dengan wajah panik. Apakah pelayannya akan menganggapnya kurang waras?

Rukia berdehem pelan, mengembalikan sikap kembali ke mode seorang putri dari keluarga bangsawan yang anggun. "Ya?"

"Anda diminta mendatangi kediaman utama Kurosaki segera."

"Apakah ayah mencariku?" yang Rukia maksudkan disini adalah ayah mertuanya, Kurosaki Isshin. Sejak menikah dengan Ichigo, ayah mertuannya itu bersikeras untuk membuat Rukia menganggap seperti keluarga kandung. Kasih sayang yang mereka berikan pun tidak akan ada bedanya dibanding ke anggota keluarga yang lain. Sungguh keluarga yang hangat.

"Umm... ini jauh lebih darurat. Kurosaki-sama—"

Ichigo?

"Terjadi sesuatu pada Kurosaki-sama, dan tim medis divisi 4 membawanya ke kediaman inti."

Vas bunga ditangan Rukia jatuh tergelinding dilantai, menumpahkan rangkaian bunga yang nyaris saja rapi, menggugurkan bunga-bunga yang seharusnya masih bisa mekar dengan segar.

.

.

.

Mata Ichigo memicing pelan. Silau cahaya menyengat pengelihatan, membuat kepalanya kian berdenyut. Ada banyak orang yang mengelilinginya, memandang dengan tatapan penuh khawatir.

"Ichigo?"

Yah—sosok itu yang paling mencolok diantara semuanya, karena ia tepat berada disamping kirinya. Dan rasanya sosok itu tidak begitu asing. Nuansa hangat yang diberikan, wajah yang tetap tersenyum meski matanya sembab. Wanita yang terlihat begitu hangat dan penuh kasih sayang dengan rambut coklat yang sedikit orange.

"Ichigo, apa yang kau rasakan sekarang?"

"Aku—dimana, ibu?" tentu saja, instingnya mengatakan wanita itu adalah ibunya—dan insting Kurosaki Ichigo tidak pernah salah.

"Kau ada dirumah kami. Hollow menyerangmu ketika bertugas, kau sudah tidak sadarkan diri hampir tujuh jam."

"Benarkah?" tubuh kekar itu berusaha bangkit walau dengan tenaga yang lemah. Dengan telaten wanita yang dipanggil ibu tadi membantunya duduk.

"Kenapa kau selalu ceorboh? Tidak bisakah kau sekali saja tidak berbuat nekad?" lagi, ada seorang perempuan berambut raven yang memiliki mata sembab disampingnya.

"Maaf..." Ichigo berbisik lemah, membiarkan perempuan berambut raven itu mencoba menghentikan tangis.

"Sudahlah, Rukia-chan. Yang penting anak bodohku itu sudah sadar." Kali ini ada seorang laki-laki tua berjenggot menepuk-nepuk punggung perempuan raven tadi.

Situasi tersebut membuat Ichigo semakin bingung, ada perasaan tidak enak bercampur aduk. Ia tidak nyaman, namun bingung harus memulai dari mana. "Maaf... sebenarnya... kalian ini siapa?"

.

.

.

To be continued...