Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Warning : OOC, Typo, perusakan karakter, shinigami life, tulisan berantakan *seperti biasa, author ga pernah meriksa ulang*, etc.
.
.
Karena kehidupan memiliki kesan, oleh karenanya setiap roda waktu yang berputar akan disimpan dalam deretan memori. Begitu apik layaknya album foto yang memiliki kumpulan gambaran sepanjang rentetan waktu. Lalu—bagaimana dengan seseorang yang tiba-tiba kehilangan ingatan? Apakah albumnya harus disusun ulang kembali? Ataukah—
"Eh, kau mau kemana, Ichigo?" tubuh Rukia bersinggut mendekat melihat gelagat suaminya yang mondar-mandir seperti setrika.
Susah payah makhluk yang dipanggil Ichigo tersebut memaksakan senyum di wajah, masih belum terbiasa dengan suasana yang baru—menurutnya. Sudah lima hari berlalu semejak kejadian terbangunnya ia di sebuah tempat yang tidak di kenali sama sekalil. Sejauh ini info yang berhasil dikumpulkannya bahwa perempuan yang hidup bersamanya selama 4 hari terakhir adalah istrinya, dan dirinya adalah Kurosaki Ichigo, seorang Kapten muda dari divisi 5. Dan berita baiknya, setidaknya ia mengenali ibu kandungnya sendiri meskipun di awal ia merasa ragu untuk menyapa ibunya tersebut.
"Aku sedikit bosan dirumah. Maukah kau mengantarku ke divisi 5?"
"Aku tidak keberatan," dahi Rukia berkerut, memandang sosok suaminya dari ujung kaki hingga ke kepala, "tapi—dengan kondisimu sekarang, apakah tidak apa?"
Kali ini Ichigo kembali tersenyum, jauh lebih normal dari tadi. Meski ia belum mengingat tentang istrinya, untuk sekarang ia cukup tahu bahwa istrinya orang yang baik. Sejak awal mereka tinggal bersama, perempuan itu selalu berusaha membantunya. Menceritakan bagaimana Kurosaki Ichigo yang dulu, serta memperkenalkan tiap-tiap bagian aktifitas yang seharusnya ia kenali dalam keadaan normal. "Kalian bilang kalau aku adalah Kapten divisi 5. Kalau itu memang benar, bukankah jauh lebih tidak baik kalau kapten menelantarkan bawahannya terlampau lama?"
"Tapi..."
"Percayalah padaku. Instingku mengatakan semua akan baik-baik saja, dan aku yakin itu pasti benar."
Rukia menghela nafas. Benar. Meski pria dihadapannya sedang mengalami masalah dalam memori, tetap saja dia adalah Kurosaki Ichigo. Seorang pria dengan tingkat kepercayaan diri tinggi yang selalu mengandalkan instingnya daripada logika. Syukurlah, tampaknya tidak ada yang banyak berubah dari pria itu selain memorinya.
.
.
.
"Hoi, Kurosaki!"
Rukia tersentak kaget, terlampau tidak menyadari ada tangan melambai-lambai didepan wajahnya. Ah... dia pasti melamun lagi.
"Kenapa, Kurosaki-taichou lagi?" sosok itu menjatuhkan diri duduk disebelahnya, menatap khawatir bercampur maklum.
Helaan nafas keluar dari rongga pernafasan Rukia. Apakah begitu ketara bahwa ia sedang mengkhawatirkan sesuatu. Sebegitu pentingkah orang itu hingga seorang Rukia yang pandai berwajah tenang tak mampu menutupinya lagi?
"Kau tenang saja, ingatannya pasti akan pulih. Bagaimanapun juga tidak ada yang mau kehilangan memori tentang orang yang ia kasihi. Terkecuali—" kalimatnya menggantung, memandang horor Rukia. "—kau adalah bagian terburuk dalam hidupnya."
"..."
"..."
"..."
"Kaien-dono!" Rukia menjerit histeris, menyebalkan sekali. Disaat ia dilanda duka begini, dan tega-teganya makhluk satu ini memperoloknya. "Tega sekali Anda menggoda saya begitu!"
Kaien tertawa kencang. Seperti yang diharap, akhirnya Rukia yang galak kembali lagi. Yah—jauh lebih baik daripada melihat perempuan itu terus murung bersedih. Setidaknya wajah marah pemilik surai raven tersebut jauh lebih memiliki nuansa hidup. "Tetaplah seperti itu, Kurosaki. Jangan pernah mau kalah oleh rasa risaumu."
"Kaien-dono..." Rukia tertegun, wakil kapten pujaannya memandang lurus kedepan seolah menerawang. Setiap pembicaraan mereka selalu terselip arti yang bermakna. Kata-kata yang dicurahkan begitu berarti hingga keberadaan Kaien seakan mampu menyokongnya yang hampir tergelincir.
"Ingat yang kukatakan padamu tentang apa 'hati'?"
Kebisuan memberikan jeda bagi mereka mengevaluasi kata, memberi kesempatan pada shinigami mungil memutar memori yang lalu.
Ahh—benar. Pembicaraan silam yang terjadi sebelum perginya wakil kapten betugas berbulan-bulan. Dari sana, Rukia belajar tentang seperti apa itu hati. Pembicaraan yang membuatnya jauh lebih tegar dan bertekad memiliki pasangan hidup suatu saat nanti.
"Ketika kau sudah menyerahkan hatimu pada seseorang, pastinya kau sudah mempercayai orang itu, memenuhinya hingga kedasar hatimu. Karena ada satu hal sangat mengkhawatirkan, jangan sampai kau kehilangan kepercayaan itu. Baik kau ataupun dia—" tatapan Kaien memutar haluan tak lagi kedepan, namun begitu serius pada manik violet bawahannya seperti menembus hingga kedasar.
"Karena disini—" telunjuk Kaien menunjuk tepat didadanya. "—tempat itu akan kosong ketika semua yang kau tukar dengan hatimu itu sudah tidak ada artinya lagi. Setiap orang memiliki satu hati, dan ketika kau memberikannya pada orang lain—hatimu itu sudah tidak pada tempatnya lagi. Kau—mengerti maksudku kan, Kurosaki?"
Tangan shinigami mungil tersebut refleks menempelkan telapak tangannya di dada. Ada gelenyar tak menyenangkan disana, layaknya cairan asam yang sedang mempersiapkan diri untuk melelehkan organ tubuh. Semua perkataan Kaien adalah sebuah fakta yang tak bisa terbantahkan. Ya, tentu Rukia mengerti. Semua tindakan, pasti memiliki dampak. Ekspetasi, sering berbanding terbalik dengan realita. Kenapa ia begitu risau beberapa hari ini, dan kenapa seolah semangat hidupnya meredup. Karena hatinya sudah tidak ada pada dirinya. Hatinya telah ia berikan pada orang lain, dan malangnya—orang itu sekan-akan sedang menghilangkan hatinya.
.
.
.
"Kau sudah tampak sehat, Kurosaki-kun."
"Yah, Rukia merawatku dengan baik," terang Ichigo apa adanya. Ia berkata jujur, sudah hampir sebulan tanpa memori lama tidaklah dilalui dengan sulit. Buktinya ia dapat bekerja dengan normal selayaknya seorang kapten. Ia tidak perlu khawatir lagi ketika berpergian sendiri. Ada keluarga, istri, bahkan teman-temannya terus setia membantu. Dan sejauh ini asal istingnya masih berfungsi dengan baik, semua tidak akan jadi masalah.
"Syukurlah, Rukia-san tampaknya melakukan tugasnya dengan baik," gadis berambut karamel tersenyum polos, senang pria disebelahnya tetap menjadi seperti yang ia kenal.
Pertama kali mendengar pemuda itu diserang hollow dan kehilangan ingatan, ia amat ketakutan akan kehilangan sosok yang begitu ia kagumi itu. Ia tidak tahu bagaimana kehidupan berlangsung kalau harus kehilangan pemuda itu lagi. Walau mereka hanya akan terlibat hubungan sebatas pertemanan, memiliki pemuda tersebut dalam jangkauan mata sudah lebih dari cukup. Dia tidak egois tetap menginginkan pria yang sudah dimiliki perempuan lain.
Iris hazel Kurosaki taichou mencuri pandang sosok gadis disebelahnya, shinigami muda berambut coklat karamel. Begitu polos dan cantik, berbanding terbalik dengan istrinya yang anggun dan manis, namun—gadis yang sepengetahuannya memiliki kemampuan medis hebat tersebut sangat mendekati karakter ibunya. Hangat, riang, dan perhatian. Beigtu sesuai dengan tipe kesukaannya, bahkan kecantikannya sempat membuat sang Kapten Kurosaki takjub. Lalu—kenapa ia bisa menikahi istrinya sekarang.
Nah—itulah yang belum terpecahkan oleh Ichigo.
Ichigo lekas menggelengkan kepala, mengusir jauh-jauh pikiran tak pantas yang baru saja terlintas di kepala. "Kau terlihat sedih, Inoue?"
Gadis karamel tersentak pelan, sepertinya sempat melamun karena ekspresinya terlalu terkejut untuk seseorang yang sedang berbincang-bincang. "Ah—tidak, aku cuma kelelahan saja kok."
"Baguslah."
"Sepertinya—kau bahagia setelah menikah, Kurosaki-kun. Aku sangat bersyukur."
Alis Ichigo terangkat, menatap wajah Orihime dengan wajah humor. "Memangnya ada alasan yang bisa membuat seorang pengantin tidak bahagia ketika menikah?"
Inoue menggeleng lemah.
.
.
.
Langkah kaki menggema disepanjang koridor yang sepi. Memang tidak seluas sebuah mansion, namun ukuran rumah dinas seorang kapten tidaklah kecil. Dengan wajah yang menyeramkan seperti biasa, sang kapten berjalan membawa sulutan api yang siap meledak memborbardir siapa saja.
'Karena kau menikah dengan terpaksa, kupikir awalnya kau tidak akan bahagia. Mereka memaksamu menikahi Rukia-san, padahal kau terjebak disituasi rumit mereka ketika hendak menolong Rukia-san.'
Beruntung tiap-tiap pelayan telah paham dengan tekanan reiatsu tak biasa sang majikan, setidaknya mereka lebih cerdas mengambil posisi sedikit menjauh dari pandangan mata.
'Aku merasa mereka tidak adil padamu saat itu. Kau baru menjadi kapten, seharusnya masih bisa melakukan banyak hal tanpa peraturan keluarga bangsawan. Bahkan saat itu aku sempat berfikir buruk bahwa mereka mengkambing hitamkan dirimu untuk memperbaiki gelar mereka agar lebih terhormat karena keluarga angkat mereka menikah dengan seorang kapten.'
Senang rasanya bisa merasakan sang majikan kembali seperti dulu.
Sreeeeg!
"Katakan semua kebenarannya padaku!"
Rukia mengalihkan perhatian dari cermin untuk berpaling pada sosok suami yang berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam, meletakan sisir pada meja rias dengan rapi.
Perempuan mungil itu baru saja mandi ketika merasakan tekanan reiatsu tak stabil mendekat. Dia hafal siapa pemiliknya—meskipun sudah terbilang lama merasakan reiatsu serupa. Sejak perselisihan pemuda nekad itu terhadap keluarga Kuchiki. Itulah untuk terakhir kalinya. Reiatsu marah bercampur emosi, sekarang itu bukalah bagian dari pemuda itu. Tapi—kenapa hari ini bisa muncul kembali?
"Ichigo?"
Si rambut terang menghembuskan nafas lebih kuat, maju kedepan dengan segala kemurkaan, mengeliminasi jarak untuk menghakimi seorang Rukia.
"Aku ingin kebenaran—sekarang!"
Dahi Rukia berkerut, Ichigo seolah marah padanya. Tapi—karena apa? "Apa maksudmu, Ichigo?"
"Semua ini palsu kan?"
"Apa yang palsu?"
"Pernikahan kita!" suara Ichigo meninggi, berteriak sekencang-kencangnya di wajah Rukia, tak peduli teriakannya bisa memekakan telinga. Mengeluarkan emosi yang semakin meluap.
Rukia diam tertegun. Tubuhnya membatu. Baik. Ichigo meminta penejelasan darinya. Penejelasan apa? Kenapa kemarahan suaminya tersebut membuat otaknya buntu untuk mencerna semua.
"O... sekarang kau berpura-pura tidak tahu. Bagus!" nah—suaminya saja tahu si mungil Kuchiki sedang terjebak kebingungan.
"Bisa-bisanya kau menutupinya dariku."
Serius, Ichigo telah memasuki level menyebalkan. Dia sedang marah, Rukia tahu. Tapi pembicaraan yan berbelit-belit, Rukia sama sekali tidak mengerti. Perlu diketahui, meskipun ia berasal dari keluar Kuchiki yang tenang sampai dijuluki putri es, emosinya juga bisa meledak jika berhadapan dengan makhluk orang satu ini.
"Bicara yang jelas—"
"Memang apa lagi yang kurang jelas?"
Ahh... perdebatan ala rumah tangga Kurosaki. Tidak pernah dengan kepala dingin. Kalaupun memungkinkan, tampaknya bisa saja mereka akan berteriak sepanjang hari.
"—dan jangan meneriakiku!"
Dengan geram Kurosaki taichou mencengkram pundak istrinya, menekan kuat-kuat hingga perempuan itu merintih kecil. Mungkin tenaganya sedikit berlebihan, namun ketika sudah dirasuki emosi, apakah ada yang peduli dengan hal sepele macam itu? "Kenapa kau tidak jujur sejak awal bahwa aku adalah kambing hitam keluarga Kuchiki ketika menikahimu?"
Tiap kata penuh tekanan, satu per satu menyengat tiap aliran darah sampai sekujur tubuh Rukia bagai ditusuk ribuan zanpaku. "I,Ichi—"
"Ternyata kau lebih sadis daripada sekumpulan hollow, Rukia."
Rukia menggeleng kuat. Tidak, semua ini tidak benar. Memang pernikahan mereka adalah kamuflase untuk menutupi tindak tak senonoh Izuru Kira padanya, namun hubungan yang mereka bangun selama pernikahan, semua itu nyata.
"Ichigo, tolong... izinkan aku menjelaskan—"
"Aku menolak," kali ini Ichigo menggeleng, tegas dan mantap menyuarakan penolakan. Tidak ada lagi kebohongan untuknya, semua sudah cukup jelas.
"Ichigo... kumohon—"
"Berhenti sampai disini, Kuchiki Rukia!"
"Kau harus tahu..."
"Tidak ada lagi yang perlu ku ketahui."
"Ta,tapi..." cengkraman Ichigo terlepas, perlahan... semakin menjauh... dan tak tergapai. Rasanya seperti simbol dari perasaan Ichigo terhadap Rukia. Benarkah Ichigo akan melepaskannya.
Tidak. Bukan ini yang Rukia inginkan. Tidak masalah suaminya tidak memiliki memori yang dulu, dan tidak maslah pula kemarahan akan terus ditujukan padanya, tapi—melepaskan Rukia begitu saja... Ini bukan tipikal Kurosaki Ichigo yang ia kenal. Kemana suaminya yang dulu? Sosok dewasa pelindung yang tidak akan mau menyakiti orang lain.
"Aku mencitaimu Ichigo!" Rukia berteriak kencang, menegaskan kejujurannya dengan keyakinan. Membuat suaminya tidak berkutik ditempat.
Air mata membendung dipelupuk mata Rukia, menatap merana suami yang belum merespon. Sejak suaminya kembali dari hutan hollow bagian barat, seharusnya kalimat tersebut yang ia rencanakan untuk diutarakan. Mereka sudah berjanji, dan seharusnya—ini adalah kesempatan baginya untuk didengar.
.
.
.
Langkah Rukia terseok-seok memasuki divisi 13, ini sudah jam malam, semoga tidak ada lagi shinigami yang masih berada disana. Ketika di ujung koridor, dengan bodohnya gadis mungil itu terjerembap nyaris mencium lantai, beruntung refleksnya masih cukup bagus hingga tangannya mengyangga lebih dulu.
'Tentu, seharusnya kau memang mencintaiku. Kalau tidak, aku tidak bisa menebak bagaimana pernikahan ini bisa bertahan sampai sekarang.'
Kalian tahu, racun terhebat bukanlah dari sebuah hollow.
'Oh—dan perlu kau ketahui, Kuchiki. Aku—samasekali—tidak—mencintaimu.'
Racun itu adalah—orang yang kita cintai. Ketika Ichigo memuntahkan seluruh racunnya yang berbisa, melelehkan sampai tidak berbekas hati yang telah Rukia percayakan padanya, itulah akhir dari semua. Rukia hancur dalam kekalahan. Jarang sekali perempuan itu bertindak segegabah itu. Mempercayakan hatinya pada Kurosaki Ichigo, padahal pria tersebut sama sekali belum memberikan hatinya untuk Rukia.
Kesombongan telah membutakannya. Menganggap Ichigo yang mengejarnya. Bisa-bisanya Rukia berfikir begitu. Bisa saja selama ini pria itu hanya ingin memperbaiki hubungan dengannya, karena itulah logika pemuda itu langsung kembali ketika ingatannya hilang.
'Aku—samasekali—tidak—mencintaimu.'
Hampir—air mata itu serasa tak mampu dibendung. Kata-kata yang terus berdengung-dengung ditelinga layaknya kumpulan lebah, begitu membekas seakan hendak memecahkan gendang telinganya. Dengan kuat Rukia mencengkram shihakushou didepan dada, merasakan denyut sakit pada hati yang tidak ada lagi, menyisihkan ruang hampa yang gelap. Tidak, dia tidak boleh menangis. Bukan begini seorang Kuchiki. Meski ia bagian dari Kurosaki, ia tetaplah makhluk berhati dingin serta tak berperasaan Kuchiki—seperti yang dikatakan Ichigo.
"Kurosaki?"
Rukia mendongakkan kepala. Menatap mata biru sedalam lautan yang menatap shock dirinya. Ah—benar saja. Ketika semua shinigami berebut untuk pulang, pemuda itu akan akan menjadi yang terakhir menyelesaikan semua tugas yang belum terelesaikan.
"Kaien-dono, tadi aku terjatuh dan—"
Tanpa kata-kata, dalam sekejap Rukia telah berada dalam pelukan Shiba Kaien, didekap dengan erat dan kuat. Terbayang kembali oleh Rukia sosok suaminya yang dulu tak pernah membiarkannya jatuh.
'Bagaimanapun juga tidak ada yang mau kehilangan memori tentang orang yang ia kasihi. Terkecuali—kau adalah bagian terburuk dalam hidupnya.'
"Ka,Kaien-dono..." air mata yang sendari tadi ditahan akhirnya tumpah, membasahi pundak sang wakil kapten.
"Jangan seperti ini terus, Kuchiki," Kaien berbisik lemah, begitu pilu merana. "Kalau kau terus begini, aku jadi tidak tahan untuk membawamu lari."
.
.
.
Ichigo berdiri di depan cermin besar memasang haorinya, memastikan tiap lengan benar-benar terpasang rapi. Kontras sekali dengan wajahnya yang cemberut dan kusut, emosi kekesalan jelas terpahat di wajah berkerut itu.
Sreeeeg...
Pintu kamar terbuka, memperlihatkan sosok istrinya yang sejak tadi malam entah pergi kemana. Sungguh kehadiran istrinya sama sekali tidak memperbaiki suasana.
Desahan pahit meluncur dari rongga pernafasan Rukia, tubuhnya yang ringkih menduduki sisi ranjang dengan diam. Suaminya masih tidak memperdulikannya. "Aku baru dari divisi 13."
Ichigo masih sibuk dengan haorinya.
"Jam sembilan nanti... aku akan berangkat melaksanakan misi bersama Kaien-dono."
Suasana serasa beku. Percakapan singkat tidak lagi bisa mencairkan pagi mereka. Rukia rindu Ichigo yang dulu, Ichigo yang masih ia kenali meski bertahun-tahun tidak berhubungan, Ichigo yang setidaknya masih perduli pada pernikahan mereka.
"Aku tahu kau muak dan benci padaku. Tapi... bisakah?" tangan Rukia meremas ujung seprai yang ia duduki, mengumpulkan segenap keberanian walau semua kata keberanian sudah tidak ada lagi untuknya. "Untuk terakhir kalinya, aku ingin meminta sesuatu padamu."
Ichigo berhenti memeriksa haori, mengangkat alisnya ketika mendengar kata 'terakhir', matanya diam-diam mengawasi Rukia lewat pantulan cermin dihadapannya. Tubuh mungil istrinya begitu terlihat lemah dan terus menunduk.
"Apa maumu?" masih terdengar dingin, tapi setidaknya Ichigo sedikit perduli
Rukia menarik nafas kuat-kuat. "Bisakah... kau menciumku, sekarang?"
Air mata mulai terbentuk di sudut mata Rukia. Rasanya sudah tidak terhitung lagi berapa kali ia menangis karena Ichigo. Ini sudah begitu jauh keluar dari karakternya. Seharusnya ia tetap kuat dan tegar layaknya Kuchiki sejati, meskipun begitu—dadanya semakin sesak mengingat perilaku suaminya yang kian mendingin.
Ia hanya ingin kekuatan untuk hatinya yang rapuh. Seperti Ichigo yang meminta ciuman darinya dulu. Sekarang ia ingin hal serupa. Menginginkan ciuman seolah-olah ia orang yang begitu dicintai. Ciuman seperti Ichigo ingin ia berada disisinya. Ciuman seperti Kurosaki Ichigo tidak bisa bernafas tanpa Kuchiki Rukia. Salahkah bila ia memintanya sekarang?
"Hanya kali ini kan?"
Rukia mendongakkan kepala, melihat sosok Ichigo masih dengan keangkuahannya berdiri dihadapannya. "Ya."
"Kalau begitu, berdiri! Hapus air matamu. Aku tidak suka mencium orang yang menangis."
"Ka,u... mau mengabulkannya, Ichigo?"
"Ck!"
Hanya decakan kesal keluar dari bibir Ichigo. Tanpa menanggapi keterkejutan Rukia, ia langsung menariknya berdiri. Dipeluknya tubuh yang begitu pas dalam pelukan, setelah itu diciumnya bibir merah milik sang istri.
Tanpa bisa dicegah, air mata keluar dari mata Rukia ketika menutup kelopak matanya. Bersyukur setidaknya ia masih bisa merasakan suaminya seperti dulu meski hanya dalam hitungan menit.
Di saat bersamaan, batin Ichigo meronta-ronta ingin di bebasakan. Tiap bagian tubuhnya berteriak memaksa untuk mencegah kepergian Rukia, diantara semua hatinya lah yang paling kuat menjerit. Memang tidak sepatah pun kata Ichigo ucapkan untuk mencegah, akan tetapi bahasa tubuhnya sudah cukup mewakili. Ciuman dan pemelukabegitu erat.
'Ya, terus seperti itu, Ichigo. Jangan lepaskan dia. Terus cium dia sekalipun kau akan mati karena kehabisan nafas,' batin Ichigo bernyanyi kesenangan karna berhasil menguasai gerak tubuh Ichigo.
Secara tak sengaja, tubuh mereka jatuh berguling ke tempat tidur, tidak begitu ingat dengan fakta bahwa mereka dalam situasi dingin, mereka hanya terlampau terhanyut sampai menyingkirkan semua logika. Membagi setiap ciuman dengan menggebu dan menuntut.
Setelah menghabiskan waktu beberapa menit berciuman, bibir mereka berpisah karena kehabisan pasokan udara. Mata mereka mengerjap beberapa kali, saling memandang kebingungan, tangan Ichigo pun masih melingkar di pinggang Rukia.
Tetap tinggal.
Itulah pikiran Rukia sekarang. Namun ia membutuhkan dukungan suaminya untuk memperkuat keinginannya. Rukia perlu mendengar Ichigo meminta—ataupun memerintah sekalipun, agar ia tidak pergi.
"Rukia."
"Ya?"
"Aku ingin—"
"Rukia-sama, Shiba-fukutaichou datang menjemput."
Nyaris.
Sedikit lagi Ichigo hampir mengatakan larangan untuk Rukia. Sayang pelayan mereka hadir tepat waktu memotong perkataan mereka.
"Suruh dia menunggu sebentar," perintah Rukia lalu kembali memandang Ichigo, berharap Ichigo menuntaskan kalimat yang belum terselesaikan.
'Katakan jangan pergi, Ichigo. Katakan!" batin Ichigo menjerit. Bibirnya bergerak, mencoba menyampaikan isi hatinya, tapi kenyataannya— "Hati-hati."
Hilanglah sudah semua. Rukia menarik nafas dalam-dalam. Betapa bodoh dirinya, bisa-bisanya untuk sejenak menaruh harapan bahwan Ichigo akan menahannya. Suaminya yang sekarang jauh dari kata perduli, Ichigo yang sekarang penuh dengan kebencian pada dirinya.
Anggota tubuh Ichigo masih membatu saat Rukia lepas dari pelukannya, ia bahkan tidak melakukan apapun ketika sosok istrinya telah berdiri di ambang pintu.
"Ichigo."
Tersenyum?
Rukia tersenyum manis membalas lirikan dingin iris amber. Dahi suaminya kian berkerut.
"Aku pergi ya."
Sosok Rukia menghilang dari balik pintu, menyisakan keharuman khas milik perempuan tersebut pada ruangan yang tertinggal. Mengembalikan logika sang Kurosaki pada tempatnya. Beberapa menit yang lalu... andai pelayannya tidak datang menyela, andai mereka terus berciuman. Tidak dipungkiri bisa saja mereka dapat berkembang menjadi tindakan lain. Seperti itukah pesona yang dimiliki perempuan yang ia nikahi?
Ichigo menggelengkan kepala, ada perasaan aneh dari kata-kata terakhir Rukia, menjalar tumbuh menjadi rasa was-was. Bagian dari insting lagi, sesuatu yang pastinya tidak akan mengenakan terjadi. Gadis itu pergi, apakah akan lari bersama Shiba Kaien? Ichigo bukannya tidak pernah mendengar istrinya itu pernah memiliki hubungan asmara dengan sang wakil kapten divisi 13. Namun Ichigo tidak begitu ambil pusing. Buat apa ia mencemaskan wanita yang telah menipunya. Yah—pikir Ichigo saat itu.
.
.
.
To be continued...
Oke... berhubung minggu depan sudah aktif kuliah, dan tidak ada hari free dalam seminggu... artinya—Mey ga bisa menjanjikan untuk update rutin... gomen... u _u'a
