Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Warning : OOC, Typo, perusakan karakter, shinigami life, tulisan berantakan *seperti biasa, author ga pernah meriksa ulang*, etc.

.

Kenangan disaat Hujan

Jika aku adalah hujan.

Yang mengikat antara langit dan bumi...

Yang selamanya tidak akan pernah berbaur...

Mampukah aku menggabungkan dua hati menjadi satu?

.

.

.

Langkah kaki berlomba mengadu kecepatan, menerobos hujan memercikkan genangan air yang terlalui. Sekelebat bayangan hitam terus bergerak gesit, berlari menghindar meski hujan terus mengguyurnya.

"Tidak ada gunanya lari. Kau terlalu lamban..."

Tanpa sengaja langkah kaki tersebut tergelincir, terjerembab ke genangan air hingga melumpuhkan satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri. "Ichigo, lari!"

"Ta,tapi..."

"Lari, Ichigo! Cepat cari ayahmu!" sosok itu merintih kesakitan, tubuhnya tetap tidak bisa bangkit meski memaksakan diri sekalipun. Matanya sesekali melirik panik kebelakang.

"I,ibu..."

"Kau tidak bisa terus disini, dia semakin dekat."

Dan bayangan hitam muncul, bergerak cepat meloncat diantara bayangan pohon. Posturnya besar menyerupai hamster raksasa dengan tangan dan kaki mirip burung dan sungut seperti tentakel yang menggantung dari dahinya, mirip dengan iming-iming dari anglerfish. Iming-iming ini samar-samar seukuran manusia. Bentuknya yang mengerikan serupa dengan monster—tentu, makhluk tersebut bukan bagian dari shinigami.

"Aaaa... sudah kubilang tidak perlu lari, Masaki. Kau dan anakmu sudah akan jadi santapanku malam ini," tentakelnya bergerak memanjang, cairan anyir dari kulit-kulit licinnya bercampur dengan bau hujan. Cakarnya berayun, siap menerjang perempuan yang dipanggil Masaki tadi.

"Tidak, Ichigo!"

Darah segar terciprat kemana-mana, tak tertinggal bercak-bercak kecil mengenai tubuh bocah kecil yang perempuan itu peluk untuk mentamengi serangan sang monster.

"I,ibu..." tangan kecil gemetaran mengguncang-guncang tubuh ibunya. Putus asa dengan situasi, hembusan nafas perempuan itu terdengar putus-putus, namun kian lama melemah.

"Maafkan aku, Ichigo," perempuan itu mendongakan kepala, memandang dengan rasa bersalah tubuh kecil dalam pelukan. Bukan lagi perempuan berambut orange kecoklatan, namun—berambut hitam kelam. Wajahnya yang pucat penuh dengan bercak darah yang terus diguyur hujan.

Rukia?

Ichigo tersentak, terbangun dari mimpi. Memunculkan jejak keringat disepanjang pelipis dalam cuaca malam yang dingin. Tubuhnya langsung bersinggut duduk, mengusap lelah pada mimpi serupa yang datang tiap kali hujan beberapa hari belakangan.

Ah, benar. Hujan...

Kepala bersurai jingga menoleh ke jendela, menatap datar tetesan hujan yang jatuh membasahi permukaan tanah. Pantas ia bermimpi buruk.

Hujan...

Suatu objek yang teramat-sangat Ichigo benci. Ketika hujan turun, wajahnya akan merengut membentuk kerutan didahi. Tampangnya yang pemarah akan semakin sangar karena hatinya tumbuh gelisah. Ia pun maklum karena akhir-akhir ini setiap hujan akan muncul sekelebat mimpi yang melibatkan dirinya dengan seorang wanita yang lari dari kejaran makhluk bertentakel. Mimpi dari kebanyakan orang mengatakan adalah bunga tidur, sayang bunga tidur tersebut cukup mengganggu tidur Ichigo. Apakah melibatkan insting lagi. Entahlah...

Sama seperti malam ini, hujan turun mengguyur Soul Society sejak tadi sore dengan deras. Sosok tangguh Ichigo terus duduk diam bersandar di kepala ranjang, menutupi kegelisahan dengan wajah tenang seakan tak ada sedikitpun pergolakan batin di jiwanya. Tanpa sadar matanya terpaku menatap jam dinding yang terpampang jelas di dinding kamar.

Jam 20.00

Alis Ichigo berkerut dalam kerutan permanen. Seakan sedang mengalami dejavu menyaksikan jarum jam kian bergerak maju. Tubuhnya mungkin mengisyaratkan tidak terjadi apapun, namun matanya berbicara lain. Instingnya bekerja. Menghasut, memberitahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Jam 20.54

Lagi-lagi instinya mendesak agar ia mulai bergerak mencari. Tapi—mencari apa? Faktanya Ichigo sama sekali tidak memiliki petunjuk selain pergerakan jam yang terus berputar.

Bosan mendapat tekanan, merasa instingnya sedang mencoba mempermainkannya, Ichigo melakukan tindakan diluar kebiasaannya—mengabaikan instingnya. Percuma mencari tahu bila tidak memiliki petunjuk. Taichou berambut cerah itu menyerah, membenamkan kepala, lalu jatuh tertidur.

Jam 23.01

"Sial!" Ichigo tersentak dari tidur, tergesa-gesa turun dari tempat tidur untuk mencari mantel dilemari. "Kenapa aku bisa ketiduran! Bisa-bisa dia menerobos hujan karena takut kumarahi."

Ichigo terus menggerutu tanpa sadar hingga sedetik kemudian—tubuhnya menegang. Seakan tersadar akan tindakan diluar kendali barusan, kepalanya menggeleng tak percaya menoleh pada sisi ranjang yang tidak ia tiduri tadi. Seprai putih yang masih rapi. Tentu—karena yang biasa tidur disisi sana sedang tidak dirumah.

Alih-alih mencari tahu lebih atau berubah marah—seperti yang biasa ia perlihatkan bila menyinggung seseorang yang mengganggu pikirannya, Ichigo malah tertawa. Amat keras, merasa dirinya telah menjadi gila.

Oh... Kami-sama...

.

.

.

Tubuh mungil Rukia menggigil kedinginan, membenahi shihakushou yang sudah robek dibeberapa bagian, membiarkan guyuran hujan membersihkan kotoran dari luka lecet dibeberapa permukaan kulit wajahnya. Bibirnya digigt kuat, tak perduli memunculkan aliran darah di warna pucat bibirnya.

"Ku,kurosaki... maaf... ini salahku..." sesal Kaien. Tubuhnya kedinginan pula. Terbaring di tanah dengan tangan yang berusaha menggapai, namun yang diperolehnya hanya potongan-potongan rambut yang bercampur dengan tanah lumpur berair. "Kumohon jangan menangis, maafkan aku..."

"Maafkan aku, Kaien-dono... aku tidak punya apapun lagi yang bisa kuberikan..."

Kaien menggeleng kuat, memaki perbuatan tak bertanggung jawab yang telah ia lakukan pada Rukia. Seharusnya tidak seperti ini caranya. Seburuk apapun kesialan yang menghampiri mereka, tetap saja bukan seperti ini...

.

.

.

"Bagaimana? Sudah mengantuk?" Masaki menyisir dengan jari rambut orange di atas pangkuannya. Penuh rasa kasih sayang, mencurahkan segala cinta sebagai serang ibu.

Hanya desahan berat lolos dari bibir pemuda itu untuk membuat Masaki tahu anak laki-laki satu-satunya masih sulit tidur. Kedatangannya pada jam malam di tengah hujan deras memang terbilang tak biasa, namun ibu dari seorang kapten divisi terkuat di Soul Society ini tetap meluangkan waktu menyambut kedatangan putranya. Ia tahu hanya dialah tempat tujuan terakhir anaknya apabila sedang tertekan.

"Kau memikirkan masalahmu dengan Rukia-chan lagi ya, Ichi?"

Cepat-cepat pemuda itu menutup mata, berharap ibunya mengira sudah tertidur.

Masaki tertawa ringan melihat cara Ichigo menghindari topik tentang rumah tangganya, putranya memang terlalu mudah ditebak.

"Kau tidak tidur, Ichigo. Ibu tahu itu."

Ichigo masih bersikeras seakan ia telah tertidur.

"Cukup bersandiwaranya, kau tidak sepandai Rukia-chan dalam berakting. Alismu tidak berkerut saat tidur."

Akhirnya kedua iris amber keluar dari persembunyian, menampilkan wajah merengut seperti anak kecil. "Aku sudah mengantuk, ibu..."

"Kita bicara sebentar tentang Rukia-chan. Oke?"

"Hhh... baiklah," Ichigo pasrah, meninggalkan pangkuan ibunya untuk memposisikan diri di bantal duduk. "Ibu ingin menanyakan apa soal Rukia?"

"Apakah kau ingin menceraikannya?"

"Umm... darimana ibu tahu?" menutupi semua dari seorang ibu bukan pilihan bijak kan? Dari pada menyimpan sendiri.

"Aku adalah ibu yang telah melahirkanmu, ibu kenal betul dengan watakmu yang mudah emosian itu."

Ichigo menggaruk belakang leher, topik yang begitu sensitif membuatnya tidak nyaman. "Hanya perceraian yang terlintas di kepalaku, Bu. Ibu tahu aku sangat membenci kata perceraian, tapi—kalau tidak begitu, aku dan Rukia akan saling menyakiti. Sampai sekarang saja aku tidak tahu apa alasanku menikahi Rukia."

"Apakah kau tahu tujuanmu menjadi seorang taichou?"

"Apakah ingin—menjadi kuat?"

Masaki menggeleng, menghancurkan jawaban yang sebenarnya cukup logis bagi seorang Ichigo. "Semua karena Rukia, Ichigo."

Rukia?

"Saat kau baru memulai pendidikan di akademi shinigami, kau pernah pulang luka-luka diantar oleh seorang gadis. Semenjak mengatarmu pulang, gadis itu jadi sering kau bawa kemari," Masaki tersenyum kecil memutar memori, matanya bergulir memandang halaman luar yang bisa terlihat dari ruang santai yang mereka tempati sekarang. "Disini kalian akan saling berlatih sampai-sampai menghancurkan halaman belakang rumah. Tidak jarang gadis itu sesekali akan membanggakan dirinya sebagai pelindungmu di akademi apabila terlihat mulai kalah berdebat denganmu."

"Aku merasa ibu seolah menceritakan orang lain yang sepertinya bukan diriku. Dan jangan bilang—kalau gadis itu Rukia. Kami tidak akan serenggang ini kalau sejak kecil hingga dewasa kami terus seakrab itu."

"Kau tahu perbedaan kasta kita dengan keluarga Kuchiki saat itu, Ichigo?" helaan nafas, menyesal harus mengatakan hal yang menyakitkan lagi. "Saat itu kita keluarga menengah, makanya Rukia di jauhkan darimu karena dianggap tidak sederajat dengan mereka."

Rintikan hujan mulai terdengar, memberi tanda bahwa frekuensi hujan diluar telah berkurang. Lagi-lagi Masaki menghela nafas. Sama seperti para ibu diluar sana, apapun yang menyakitkan bagi anaknya jauh ribuan kali menyakitkan pula untuk sang ibu. "Ibu mengkhawatirkanmu saat itu, kau seakan ingin meraih sesuatu yang bukan dalam jangkauanmu. Kau terus berusaha meraih gelar Kapten untuk mengurangi jarak. Jalan yang kau pilih tidak mudah, karena itu... perceraianmu dengan Rukia—"

"Taichou!" samar terdengar suara memanggil dari pintu depan. "Apakah ada Kurosaki-taichou di dalam?"

Seoarang pelayan memasuki ruangan dengan tergesah-gesah. Tampilannya yang masih mengantuk membuat Masaki cukup merasa bersalah membuat jam istirah si pelayan terganggu.

"Masaki-sama, ada serombongan shinigami mencari Kurosaki-taichou diluar?"

"Katakan aku sudah tidur. Aku tidak suka jam istirahatku di ganggu."

"Ta,tapi—" wajah si pelayan langsung tertunduk menghindari tatapan Kurosaki muda, memohon maaf atas kelancangan untuk membantah perintah seorang majikan. "—mereka membawa berita bahwa Rukia-sama sedang dalam keadaan kritis."

Masaki terkesiap.

Belum hilang dari keterkejutan, sosok sahabat baik putranya masuk dengan lancangnya lewat jendela samping. Rambut putihnya yang seterang perak terus mebeteskan air dari celah-celah surainya.

"Karena kau temanku, aku harus menyeretmu ke tempat istrimu kalau kau tidak mau ikut. Dan kujamin kau akan menyesal kalau tidak mendengarkan kata-kataku."

"Hitsugaya-taichou?"

.

.

.

Ichigo diam membatu, menampilkan ekspresi kebekuan melebihi dinginnya malam. Tangannya bersedekap didada, keangkuhan seorang kapten dari divisi terkuat. Terbersit rasa khawatir, sayang gengsinya lebih tinggi. Hingga bibirnya tidak berucap apapun. Ia takut, ketika berbicara ia akan mengakui kekhawatiranya, ia juga takut ketika berbicara akan ada sesuatu yang tidak ingin di dengarnya.

"Dia belum bisa dipastikan kapan akan sadar, Kurosaki-taichou."

"Hn?" alis Ichigo menyerinyit, memberi tatapan tak terbaca pada tubuh yang terbaring pucat dihadapannya.

Ayolah. Siapa yang tidak mengenal Kuchiki Rukia? Putri es dari keluarga bangsawan yang tidak akan tumbang hanya karena serangan hollow. Dia kuat dan dingin, apakah sampai segini saja batas kemampuannya? Pemandangan sekarang jauh lebih dari kata mengecewakan.

"Hollow menyerap serta mematikan aliran reiatsunya. Kami—"

Pantas tekanan reiatsunya melemah.

"Kulihat tubuhnya baik-baik saja."

"Tapi—"

"Kurasa sebentar lagi dia akan sadar. Kau tidak perlu membesar-besarkan, Unohana-taichou. Lagipula—"

"Kurosaki!" shinigami berambut perak membentak dengan geram. Bukan keinginannya untuk membawa kapten berambut orange ke barak penyembuhan. Meski Kurosaki Ichigo adalah temannya, ia cukup tahu diri untuk tidak terlalu sering mencampuri rumah tangga temannya. Kekasihnya—Hinamori Momo yang memaksanya terlibat, ia juga punya hati, siapa pun tidak akan tega melihat orang yang dicintainya datang menangis-nangis memaksanya membawa Kurosaki Ichigo. Dan kegeramnya semakin bertambah melihat respon sahabatnya yang semakin membuat kekasihnya menangis.

Hinamori Momo semakin terisak, memeluk Hitsugaya taichou kecang. Tidak perduli kapten yang suka gengsi itu akan luar biasa malu, ia hanya tidak bisa berkata-kata lagi ketika kapten divisi 5 sudah tidak seperti yang ia kenali dulu. Benarkah itu orang yang begitu ia agung-agungkan, benarkan dia mencintai sahabatnya—Rukia?

"Ini untukmu, Kurosaki..."

Ichigo menaikan alis, bingung seseorang menyerahkan segumpalan rambut ketangannya. Kepalanya mendongak penuh tanda tanya pada shinigami yang sepengetahuannya adalah wakil kapten divisi 13.

"Untuk menyelamatkan diri, dia bahkan memotong rambutnya."

Ichigo mengalihkan padangan pada tubuh yang terbaring. Ah, benar. Rambut yang begitu hitam itu tidak lagi memiliki potongan teratur.

"Dia ingin selamat, ingin hidup, untuk menepati janjinya kembali pulang."

Ada perasaan berdenyut sakit pada rongga dada Ichigo, perasaan yang membuatnya begitu tak nyaman, ia tahu, tapi mengabaikannya. "Aku memintamu mengeluarkan kemampuan terbaikmu untuk menyembuhkan istriku, Unohana-taichou. Kuserahkan semua padamu," tubuh Ichigo berbalik, ia perlu menjauh.

Perasaan tidak enak begitu mengaduk perutnya. Ia tidak tahu mana yang benar antara logika dan insting. Berbaur dengan orang-orang yang terus mendesaknnya membuat kepalanya tidak berpikir. Ini yang terbaik, jangan sampai kegegabahan membuat ia mengambil keputusan yang tidak wajar.

"Kau ingin tahu siapa yang menyerang kami?" Kaien tidak terima kapten divisi 5 itu masih berpura-pura tenang. Kalau ia bisa, ingin rasanya ia mencabut zanpaku untuk mewakilinya berbicara. "Oh—mungkin kau tidak akan ingat meskipun kukatakan hollow yang menyerang kami adalah hollow yang sama menyerang ibumu saat kau kecil."

Langkah kaki Ichigo terhenti, ekor matanya melirik kecil pada Shiba Kaien.

Grand Fisher?

Siapa yang tidak kenal monster mengerikan itu. Grand Fisher adalah hollow yang telah lolos dari Shinigami selama 54 tahun dan bertanggung jawab atas insiden penyerangan ibu Ichigo Kurosaki, Masaki Kurosaki. Kenapa ia bisa memimpikan makluk mengerikan itu akhir-akhir ini, mungkin ini adalah jawabannya. Jelas takdir menuntun mereka untuk sebuah reuni kecil.

Kebencian pada makluk itu bertambah, membuat panas hingga ke kepala. Tidak ada lagi logika, mual di perutnya makin menjadi. Saatnya bertindak ala Kurosaki Ichigo. "Dimana dia? Dia pasti masih hidup kan?"

.

.

.

"Hahaha... lihat siapa yang datang? Anak Masaki ternyata sudah besar..."

Ichigo berdiri diam, dari jarak tidak begitu jauh mengamati jijik makluk dihadapannya. Surai orange miliknya basah menutupi iris mata yang penuh akan kebencian dan emosi tidak terbaca. Tangannya gatal ingin mencabut zanpaku, merobek tawa hollow yang membahana.

"Aku senang kau datang sendiri untuk menjadi santapanku malam ini?"

"Hentikan tawa memuakanmu itu, aku ingin membuat perhitungan padamu."

"Ohhh... aku takut sekali..." bulu-bulu Grand Fisher bergoyang, ia tengah tertawa, mengejek sang kapten muda denga tawa ketakutan palsu. "Untuk siapa?"

Sungut seperti tentakel yang menggantung di dahinya bergerak kehadapan Ichigo, seperti hendak menerjang namun perlahan berubah menjadi sosok Masaki dalam sekejap. "Apa demi ibumu?"

Ichigo masih diam ditempat, mencengkram zanpaku kuat menatap visual ibunya menari-nari di depan mata—begitu tampak asli. "Ichi, cepat lari cari ayahmu."

Persis, seperti itu ekspresi menyakitkan yang tidak ingin ia lihat dari ibunya.

"Ahhh... aku lupa satu orang," lagi-lagi Grand Fisher tergelak. "Atau—demi shinigami wanita yang baru kuserap reiatsunya itu?"

"Ichigo..." visual Masaki berubah menjadi wajah lain, itu Rukia, bukan lagi Masaki. Suara perempuan itu berbisik lemah, mengiba pada sesuatu yang mebuat dada Ichigo berdenyut sakit.

Itu tidak nyata. Berkali-kali Ichigo meyakinkan dalam hatinya, semua yang ia lihat adalah tipuan. Tapi—wajah itu. Mengapa ia ingin menghapus kesedihan di wajah perempuan yang telah ia kenal hampir sebulan ini. Kenapa wajahnya menderita? Apakah seperti ini seharusnya ekspresi wajahnya ketika Ichigo menyakitinya tempo hari. Kenapa ia tidak pernah melihat ekspresi serupa? Terlalu, perempuan itu ternyata tak hanya menutupi fakta tentang pernikahan mereka, ternyata dia bersandiwara dalam kesedihannya.

"Kena kau, Ichigo..." hanya berupa gumaman pelan, beruntung kesadaran Ichigo masih ada sehingga ia dapat menerka Grand Fisher tengah mengayunkan cakarnya untuk menyerang. Dengan gesit kapten divisi 5 itu mengeluarkan zanpaku menahan serangan.

"Lihatlah bagaiman kita begitu berjodoh. Perempuan-perempuan yang begitu mencitaimu selalu mendatangiku." Cakar kedua melayang, membuat Ichigo menambah tempo kecepatan ayunan pedang. "Kau tahu—aku sengaja tidak langsung membunuh mereka untukmu, aku ingin berbaik hati membiarkan mereka bertemu denganmu untuk meregang nyawa."

Ichigo mendengus, pantas hollow ini bisa kabur lebih dari 50 kali dari kejaran shinigami, dia cukup kuat. Dalam sekali ayunan, zapaku yang bernamakan Zangetsu dapat melukai sebuah Menos Grande, namun kali ini tampaknya ayunan si tangguh zangetsu tak berdampak apapun pada Grand Fisher selain memotong helaian bulu hijau hollow. Jalan terbaik adalah menaikan level reiatsunya, menyerang lebih dulu dari pada menangkis.

Ichigo bergerak maju, melakukan shunpo beberapa kali, mengkonsentrasikan reiatsu pada ujung zanpaku. Sedikit lagi, dalam perhitungannya minimal luka parah di dapat Grand Fisher bila ditebas jarak ini.

"Kenapa kau tidak percaya aku mencintaimu, Ichigo?"

Lagi-lagi Grand Fisher memunculkan wujud Rukia pada iming-iming menggantung di ujung tentakelnya, membuat tebasan pedang yang terhenti.

Ichigo menggelengkan kepala kuat, kecewa pada diri sendiri yang terlampau mudah hilang konsentrasi saat siluet istrinya ditampilkan. Wajahnya meringis masam. Tidak baik kalau ia terus seperti ini. Semakin sering ia mendapat visual istrinya, semakin besar rasa bersalah yang muncul, dan celah untuk menyerangnya terbuka.

"Ayo... marahlah, mengamuklah Ichigo... mana reiatsumu yang menggebu itu?"

Ini tipuan, tidak boleh terpengaruh...

"Ahh—pantas kau seperti orang linglung. Karena aku sedang senang, kubantu kau mengingatnya lagi, anggap ini sebagai hadiah reuni kita."

Tangan Grand Fisher menjangkau sang kapten, menjerat dalam cengkraman kuat. Ini pertanda buruk, reiatsunya akan diserap cepat atau lambat.

"Ugh..." aliran menyengat disepajang peredaran reiatsu dalam tubuh Ichigo, hollow menjijikan tersebut mau mengambil seluaruh tenaganya. Tangannya mencengkram kuat, berusaha mengumpulkan lagi energi untuk bisa lepas.

"Begini caraku menyedot reiatsu ibumu dan perempuan shinigami yang ingin membekukanku itu. Bagaimana, rasanya mengagumkan kan?"

"Diam, kau."

"Ah, ingin kutambah ya tenaga penyerapannya?"

"Argh!"

Hollow ini sepertinya bukan lagi ingin mencuri reiatsu, motifnya tampaknya telah berubah ingin membunuh. Tubuh Ichigo seperti kena sengatan kuat, menarik semua reiatsunya, membuat sekujur tubuh seperti terkena aliran listrik, mematikan kerja seluruh indra dengan perlahan. Kepalanya mendadak berdengung, padangannya mengabur.

'Ichigo...'

Ah, apa ini? Apakah ia mulai berhalusinasi?

'Aku—memang begitu dekat dengan Kaien-dono. Aku juga mengaguminya. Tapi—aku tidak pernah memberikan hatiku padanya. Hati itu masih disini. Masih menunggu seseorang untuk memilikinya. Dan—kalau seandainya aku mempercayakannya padamu, bisakah kau menjaganya untukku, Ichigo?'

Mata Ichigo mengerjap, semakin lama kepalanya kian berat dengan tawa Grand Fisher yang menggema-gema.

'Ichigo, aku... sepertinya sudah—'

'Nanti saja. Setelah aku pulang, dan setelah kau memikirkannya dengan lebih matang. Baru setelahnya, aku akan mendengarkan dan percaya tanpa meragukannya sama sekali. Maukah kau bersabar sampai aku pulang?'

Tidak, ini bukan halusinasi. Semua seperti nyata, seperti episode-episode yang memiliki dirinya berperan didalam. Bila ini bukan halusinasi, lalu—apa?

'Hoi, Rukia! Bukankah kita tadi berjanji akan menikah!'

Dalam pandangan mata Ichigo, seorang shinigami muda berseragam akademi shinigami berdiri mematung memandangi punggung sesama murid akademi yang kian lama menjauhinya. Tidak bisa terjangkau, yang begitu ingin ia lindungi. Kenapa punggung itu menjauhi, padahal dia menangis. Kenapa mereka saling menolak padahal begitu membutuhkan satu sama lain.

"Hentikan tawa memuakanmu itu."

"Hhu?" gelak tawa terhenti. "Kau masih sadar?"

Seketika tekanan reiatsu Ichigo meningkat, membuat tubuhnya langsung dilepas karena bagi Grand Fisher seperti sedang mencengkram besi panas. Tak peduli seberapa dingin hujan membekukan tulang. Tekanannya terus meningkat level demi level.

"Sudah kubilang, aku ingin membuat perhitungan padamu. Akan ku robek perutmu yang telah menelan reiatsu istriku."

.

.

.

Darah menetes dari celah shihakushou Ichigo, memberi jejak tetesan setiap kakinya yang melangkah melewati koridor barak divisi 4. Semua tatapan memandang bingung dan khawatir, tapi tidak ada satupun yang berani mendekat dengan tekanan reiatsu yang tidak biasa itu.

Pelan namun pasti, langkahnya memasuki ruang medis. Kembali memunculkan wajah tanya pada penghuni didalamnya.

"Kurosaki-kun!" Orihime berhambur bersiap mengeluarkan kidou penyembuh, namun semerta-merta diacuhkan. Tubuh lunglai itu berlalu saja, terus lurus menuju tempat tidur. Tempat dimana shinigami mungil terbaring kaku, begitu putih bak porselin, sayang sangat pucat seperti tidak memiliki kehidupan.

Seperti tak memiliki energi yang tersisa, tubuh tinggi menjulang itu jatuh bersimpuh. Beruntung tanganya masih kuat menyangga hingga tidak menimpa sosok mungil yang terbaring di atas futon tidur. Rambutnya basah, menetes dari celah-celah surainya ke permukaan wajah putri es yang sedang rapat menutup mata. Apakah itu air hujan atau—air mata?

"Ru—kia..." suara Ichigo amat serak, seakan sudah sekian abad tak menyebut nama istrinya.

'Ternyata kau lebih sadis daripada sekumpulan hollow, Rukia.'

Tangan Ichigo mencengkram kuat, mengabaikan rasa sakit buku-buku jari yang bergesekan langsung dengan tatami serta lengan yang tak berhenti megeluarkan darah.

'Ichigo, tolong... izinkan aku menjelaskan—'

'Aku menolak,'

"Lihat, aku kembali."

Tubuh itu tetap diam, tidak merespon apapun. Sebesar apapun Ichigo ingin mendapat tanggapan, hanya kebisuan yang ia peroleh.

'Aku mencitaimu Ichigo!'

'Tentu, seharusnya kau memang mencintaiku. Kalau tidak, aku tidak bisa menebak bagaimana pernikahan ini bisa bertahan sampai sekarang.'

"Rukia... sadarlah." Beginikah rasanya tidak bisa bernafas? Ketika udara yang biasa kita hirup perlahan berkurang seperti akan lenyap, dadanya tumbuh sesak. Seperti inikah juga perasaan Rukia yang telah ia sakiti?

Ia layak untuk semua ini. Kami-sama ingin menghukumnya, memberi pelajaran pada dirinya yang tidak bersyukur ketika permohonan telah terkabul. Di seluruh lapisan kehidupan, hanyalah dia orangnya. Orang bodoh yang menginjak-injak sesuatu yang dulu begitu ia inginkan

'Oh—dan perlu kau ketahui, Kuchiki. Aku—samasekali—tidak—mencintaimu.'

Tidak.

Itu bukan yang sesungguhnya, itu bukanlah yang pantas Rukia dengar. Itu tidak benar. Rukia belum mendengar yang sebenarnya. Dia tidak boleh begini. Demi Kami-sama, dia tidak boleh pergi sebelum memiliki hati Ichigo.

"Rukia... aku mencintaimu," suara Ichigo berbisik lemah. "Apakah kau mendengarnya?"

Bukankah itu yang dulu ingin sekali istrinya dengar? Ia tulus, tidak mengada-ada. Karena itu... bisakah ia egois untuk kali ini? Sekali lagi, berharap Kami-sama memberikan kesempatan untuknya membangun hidup bersama istrinya.

"Kurosaki-taichou." Sentuhan pelan menyapu pundak Ichigo, Unohana Retsu memandang iba pada sang kapten divisi sebelahnya. "Lukamu harus dipulihkan—"

Ichigo menggeleng lemah. "Unohana-taichou, Rukia—"

"Taichou, gawat!" Hanatarou Yamada—shinigami medis divisi 4 masuk tersandung dengan langkah ceroboh khas dirinya. "Ini tidak baik. Dalam tubuh Rukia-sama ternyata ada kehidupan lain!"

Kehidupan lain?

Ichigo cepat menatap Unohan Retsu, menuntut jawaban secara langsung dari kapten divisi 4 yang begitu tersohor ilmu pengobatannya.

Helaan nafas berat, tidak ada yang bisa dilakukan, terlampau terlambat untuk menutupi, Unohana benar-benar angkat tangan kali ini. "Aku sebenarnya tidak ingin mengatakannya sebelum kau tenang, Kurosaki-taichou. Tapi sekarang apa boleh buat, tidak ada gunanya lagi menutupi."

Lagi, helaan nafas. Mata sejuk Unohana mentap tubuh terbaring Rukia, lalu kembali pada Ichigo. Seandainya ada sesuatu yang bisa ia lakukan selain mengabarkan berita yang sama sekali tidak ingin disebutnya nyata itu. "Rukia-san sedang mengandung. Aku tidak tahu itu berita baik atau buruk. Faktanya, kalau dalam seminggu Rukia-san tidak sadarkan diri, kita akan kehilangan keduanya."

Sesak. Semua berubah mencekik. Satu per satu, rasanya persis sama dengan ketika Grand Fisher menarik paksa reiatsumu. Tidak bisa bernafas, tidak bisa berfikir, dan mematikan semua indra. Menyengat di sepanjang denyut aliran darah.

Rukia... istri dari Kapten Kurosaki Ichigo yang tersohor—tengah mengandung.

Tidak tahu harus bagaimana, beginikah cara Kami-sama menghukumnya?

"Ru,Rukia..." tubuh Ichigo bergetar, meraih tubuh istrinya kedalam pelukan. Seandainya nyawanya bisa memperpanjang kehidupan Rukia, seandainya... "Rukia... maafkan aku..."

Tubuh itu masih dingin, tidak bergerak, semakin memucat. "Maafkan aku... Rukia... Arghhhh!"

Untuk pertama, Ichigo mencintai seorang gadis dari keluarga bangsawan yang mustahil untuknya. Namun ia tetap ingin memilikinya, berkat gadis itu—hujan di hatinya telah berhenti.

Untuk pertama, Ichigo menjadi seorang kapten. Bukan demi ambisi, bukan pula demi sebuah pembuktian. Akan tetapi untuk memperpendek jarak dengan gadis pujaan.

Untuk pertama, menikah dengan perempuan itu. Belajar saling memahami, memberi waktu agar cinta tidak lagi menjadi bertepuk sebelah tangan. Hati perempuan itu—miliknya.

Untuk pertama, ia akan menjadi seorang ayah. Sebuah hadiah yang datangnya seperti dari surga. Sayang—untuk yang pertama pula, bisa saja ia akan kehilangan semua hal terpenting karena kecerobohannya

.

.

The End

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bercanda dings... :D :D

To be continued...

Oke... dari sini anggap mereka impas... tinggal lihat gimana peruntungan mereka nanti...

Arigatou sudah mengikuti cerita sampai sejauh ini... review-review yang masuk membuat Mey lebih bersemangat pengen publish cepet, rasanya tangan gatal mau ngetik meskipun badan udah kecapekan, dan tentunya semua review juga membuat Mey belajar mencintai lagi couple tercinta kita ini.

Terimaksih buat semua reviewers... semoga Mey punya peruntugan bagus dapat waktu senggang buat ngetik setelah minggu ini... see ya next chap...