Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Warning : OOC, Typo, perusakan karakter, shinigami life, tulisan berantakan, etc.


Wrath

.

.

Hoshikawa Mey

.

.

"Wah—itu Kurosaki-taichou!" pekikan tertahan terdengar ketika Kurosaki Ichigo bersama wakil dan penjabat bangku memasuki sebuah ruangan besar yang dipenuhi banyak murid akademi shinigami. Berderet, berombongan dengan haori yang terkembang. Menyapu koridor dengan iring-iringan layaknya parade seribu malam.

Gagah dan menawan, mereka tidak mampu menyembunyikan rasa kagum. Siapapun di Soul Society pasti ingin menjadi seperti Kapten divisi 5 tersebut. Tidak heran, karena di masa sekarang mustahil tidak ada yang mengetahui tentang kehebatan Kurosaki Ichigo yang menembus Hueco Mundo untuk menangkap penghianat Sousuke Aizen. Cerita yang telah tersebar keseluruh penjuru Soul Society bagai dongeng yang sudah ada sejak berabad-abad.

"Che, kudengar banyak murid akademi yang ingin memasuki divisimu, Kurosaki-taichou."

"Hn?" langkah Ichigo terhenti, Kapten Mayuri Kurotsuji menghampirinya dengan Ishida Uryuu mengekor di belakang. Seringai khas terkembang di wajah kapten berparas unik itu, sedikit nyentrik dan tidak biasa.

"Katakan padaku kalau ada yang ingin kau buang, aku dengan senang hati menambil mereka sebagai bahan penelitian."

Ichigo tersenyum kecil, menolak halus sang kapten yang tidak pernah berubah. Ilmu pengetahuan adalah jiwanya, dan para shinigami tak lebih seperti objek penelitian Kapten Mayuri. Untungnya dulu Ichigo tidak mengikuti jejak temannya, Ishida Uryuu. Sedikit rahasia kecil lewat Ishida, Ichigo jadi tahu bahwa ada sedikit rasa obsesi Kapten Mayuri menjadikan Ichigo objek terbayang betapa antusiasnya Kapten Mayuri pada Ichigo. Sedikit tersenyum miring, kakinya kembali melanjutkan perjalan ke barisan kapten tempatnya berada sekarang.

"Aku belum membuat perhitungan denganmu mengenai Rukia, Kurosaki," nada mengancam dari sang Kapten divisi 6. Begitu halus dan tidak terdengar, namun cukup tajam untuk sebuah ancaman.

Ichigo mendengus masam, kakak iparnya memang terlampau menyayanginya. Memanfaatkan divisi mereka yang bersebelahan, menikmati meneror ketika berbaris—mau tak mau harus berdampingkan sesuai ururtan divisi. Sampai sekarang Ichigo cukup sanksi bahwa kakak iparnya masih menyimpan hukuman untuknya nanti atas tindakan yang telah ia perbuat beberapa hari yang lalu

Ruangan masih terdengar riuh sampai Kapten divisi 1—Yamamoto Genryusai memasuki ruangan. Suasana berubah hening dan barisan secara otomatis bergerak rapi.

Hari ini adalah pembukaan penerimaan anggota baru untuk seluruh divisi. Tidak banyak yang Ichigo dengarkan dari pidato pembukan serta arahan-arahan sang kapten divisi tertinggi. Telinganya kebas, pandangannya menerawang setengah melamun. Dari kejaujan di matanya terlihat seorang shinigami mungil mengantri dalam barisan divisi 5. Shinigami bersurai hitam dengan mata violetnya. Sadarkah dia kelang dua baris shinigami di belakangnya ada shinigami bersurai orange hati-hati mengamatinya. Seperti sengaja bersembunyi agar tidak diketahui kehadirannya.

Sedikit lagi—shinigami mungil memasuki baris terdepan, menunggu giliran uji coba dari tim penyeleksi. Shinigami bersurai orange bahkan rela mendapat tatapan sinis ketika memotong antrian untuk lebih dekat. Punggung shinigami mungil sudah berada dihadapannya. Menimbulkan debaran aneh dan semburat merah di wajah. Tangannya terulur, berniat menyapa shinigami di hadapan, namun urung. Suasana membuat semua menjadi kikuk. Lagi—tangannya terulur, lebih memberanikan diri. Sudah lama sekali mereka tidak berbicara, sudah saatnya jarak di antara mereka mulai dihapus—

"Kuchiki, ikut denganku!"

Shinigami bersurai orange melongo bingung, wajahnya membeo. Hampir ia menuturkan sapaan dan menyentuh pundak shinigami di hadapannya, namun—seseorang membawanya pergi. Tidak begitu jauh, namun tetap terpisah dari barisan, menuntun menghadap wakil kapten divisi 6 Byakuya Kuchiki yang sedang berbincang serius dengan kapten divisi 13—Juushirou Ukitake.

Kuchiki Byakuya berbicang serius, sesekali memberi isyarat tatapan melirik shinigami mungil di sebelahnya. Kapten Ukitake tersenyum singkat dan mengangguk, dan itu bukanlah menjadi pertanda baik ketika bungkukkan hormat dari shinigami mungil menyusul.

Shinigami bersurai orange menggeleng pelan, hampir seluruhnya dapat mencerna situasi. Tampaknya ia telah salah mengantri divisi. Ia harus bergegas, sebelum menjadi gilirannya, ia harus membuat antrian baru di divisi 13. Tidak masalah dimana pun divisinya, asalkan bisa bersama shigami mungil, asal mereka bisa dekat kembali, asal—

"Ah, lihat siapa ini."

Pundak shinigami bersurai orange di cekal, menahan langkah kakinya yang nyaris keluar dari baris antrian ke divisi 5. Dihadapannya seorang shinigami berhaori putih lebar berdiri dengan tubuh gagah penuh kharisma. Mata coklat yang terbingkai kacamata berbinar, ada percikan antusias di iris secoklat kayu miliknya.

"Anda tamapaknya tertarik dengannya, Sousuke-taichou?" shinigami di belakangnya berkomentar pelan, mebolak-balik buku di tangan. "Dia adalah Kurosaki Ichigo. Nilai akademiknya memang di bawah si Kuchiki yang selalu memegang urutan pertama. Tapi ilmu pedangnya adalah yang urutan pertama. Tampaknya dia cukup kuat."

Shinigami bersurai orange cuma melongo, tidak mengerti kenapa shinigami yang di panggil Sousuke-taichou tak berkedip sedikitpun ketika menatapnya. Bibirnya tersunging dalam senyum kepuasan. Seperti menyiratkan bahwa dialah yang dicari.

"Tentu. Dia akan menjadi yang terkuat di divisiku. Nah—Kurosaki, sepertinya kau tak salah mengantri."

Percaya atau tidak, itu adalah awal kesalahan Sousuke-taichou selama masa jabatannya menjadi seorang kapten.

"Taichou?"

"..."

"Kurosaki-taichou?"

"Ah—iya?" Ichigo tersentak pelan menyadari semua barisan para kapten sudah membubarkan diri. Menyisakan barisannya yang masih menatap bingung pada kapten divisi 5 tersebut.

"Sudah saatnya, Taichou," wakilnya mengingatkan, "Semua pasti sudah menunggu kehadiran Anda—"

Ichigo menghela nafas, melirik sekilas pada sudut ruangan yang menjadi objek matanya dalam waktunya terhanyut lamunan. Tempat itu tidak lagi sama seperti dulu, ada beberapa perubahan, tapi tetap kenangan yang berlalu tidak bisa terhapus. Wajahnya tersenyum getir, kembali menaruh perhatian pada wakilnya yang setia menunggu. "Kalau kau sendiri tidak apa kan, Hinamori?"

Hinamori Momo berkerut panik, tangannya terangkat ragu menunjuk diri sndiri. "Saya?"

"Ada yang harus kukerjakan. Aku yakin kau lebih pandai memilih orang-orang yang pantas memasuki divisi kita, matamu jauh lebih jeli dariku."

"Ta,tapi—"

"Nah—aku percayakan semua padamu, Hinamori."

.

.

.

Tubuh lelah Ichigo tidak membuang waktu begitu tiba di rumah dinasnya, merebahkan diri ke tempat tidur tanpa perlu repot-repot melepas haori kapten. Pedang zanpakunya tergeletak di ujung ranjang, tidak sempat di letakan rapi karena terlampau lelah. Tiga hari konstan, tiga hari penuh kegilaan. Tanpa tidur dan istirahat, sibuk mengurusi apa yang di pikirnya perlu. Bukan bearti ia tidak memiliki waktu luang, ia hanya tidak ingin. Ia takut, ia khawatir, terus-menerus tenggelam dalam keputus asaan. Takut ketika ia lengah lagi, sesuatu akan ada yang hilang. Bagaimana kalau ketika istirahat, Rukia tiba-tiba dalam kondisi darurat.

Benar, Rukia. Rukia-nya.

Tiga hari. Dan tidak ada perkembangan dari kondisi istrinya. Setiap orang mungkin berpikir Kurosaki Ichigo adalah orang yang tegar, mampu menjalani hidup dengan normal ketika pusat dunianya sedang diambang kematian. Mereka salah.

Siapa bilang Kurosaki Ichigo kuat? Ia lemah, ia tidak berdaya. Rukia-nya yang selama ini membuatnya kuat. Tapi—kalau Ichigo mengabaikan seluruh alam semesta dan fokus memperhatikan Rukia, apakah istrinya akan setuju?

Jawabannya, tidak.

Perempuan itu akan lebih sedih kalau seandainya Ichigo tidak menjalankan hidupnya dengan normal, lebih fokus memperhatikan perempuan itu dan mengabaikan orang-orang yang membutuhkan Ichigo. Tidak. Rukia akan sedih.

Mata Ichigo bergerak menutup, merasa sensasi kelopak mata yang memberat. Mungkin—sebentar saja, bolehkah ia istirahat?

"Ayah, bangun!"

Guncangan kuat pada lengan Ichigo membuat kantuk yang mulai datang buyar. Proses tidurnya terusik, memaksa iris hazelnya menampakkan diri untuk bertemu dengan iris serupa dirinya.

"Ayah, kenapa ketiduran? Ibu kan sudah menunggu."

Seorang anak kecil. Dengan rambut jabrik berwarna orange menyala serta garis wajah dan iris mata seurupa Ichigo.

Mata Ichigo mengerjap, merasa bingung dengan apa yang ada di hadapannya. Anak ini—anak yang seperti berumur tidak lebih dari tujuh tahun, anak yang wajahnya serupa dirinya, anak ini—memanggilnya ayah?

"Hei, kenapa kau mengganggu ayahmu?"

Kali ini mata Ichigo tidak bisa tidak beralih, menatap sosok perempuan mungil berkimono sederhana namun tetap menawan, menarik tubuh kecil yang sepertinya betah menempelinya tadi. Tubuh mungil itu duduk di sisi ranjang, mengusap kepala anak kecil tadi lalu beralih mengusap kepala Ichigo penuh rasa sayang. Ada kehangatan yang merambat di jari-jemari perempuan itu yang seakan menghipnotisnya untuk jatuh kembali ke alam tidur.

"Tidak apa, aku akan menunggu. Kau tidur saja dulu," suara terasa samar, tapi penuh rasa pengertian. Ah—nyamannya memiliki perempuan itu di sisinya.

"Hn? Aku membangunkanmu, Ichigo?"

Ada perempuan itu. Tanpa dikendalikan, kantuk lagi-lagi sirna. Seakan memiliki pemikiran sendiri, mata Ichigo kembali terbuka dan mendapati seorang perempuan mungil mengusap sayang kepalanya. Dia hanya sendiri. Tidak ada anak kecil, hanya mereka berdua. Apakah yang barusan hanya mimpi?

Perempuan itu tersenyum, menampilkan kelembutan yang hangat, "Tidurlah, kau perlu istirahat. Tidak apa, aku akan menunggu."

Sebernarnya—apa yang sedang terjadi?

Mata Ichigo terbuka lagi, merasa lebih nyata dengan apa yang dilihatnya kali ini. Tubuhnya merubah posisi hingga duduk di tepian ranjang. Matanya masih berkeliling untuk memastikan semua yang telah berlalu dalam waktu yang singkat. Tidak disangka, ia memang jatuh tertidur, dan mengalami mimpi dua kali.

Mimpi di dalam mimpi.

Ichigo tersenyum getir, mengusap wajahnya penuh rasa putus asa. Ia lelah dan begitu merindukan istrinya, karena itu—mimpi mewujudkan keinginan alam bawah sadarnya. Untuk sejenak ia berdiam diri, membiarkan pikirannya lebih tenang dan jernih.

'Tidak apa, aku akan menunggu.'

Seperti tersadar akan sesuatu, Ichigo menyambar zanpaku di ujung kaki. Menyematkan kembali di punggung, lalu bershunpo keluar. Ada sesuatu yang harus di pastikan.

Di depan rumah Ichigo sempat berpapasan dengan Sentaro dan Kiyone dari divisi 13. Tampaknya mereka ada keperluan, tapi tidak sempat menyampaikan karena shunpo Ichigo telah meninggalkan mereka.

"Kenapa Kurosaki-taichou terburu-buru sekali?" Sentaro berkerut bingung, menyikut lengan rekannya.

"Ah! Mungkin dia sudah tahu!" terka Kiyone tanpa dosa, menyimpulkan begitu yakin padahal dugaannya diragukan.

"Bearti tidak perlu dikejar ya."

Keduanya telah jatuh pada kata sepakat, saling berpandangan dan mengangguk menyetujui. Wajah mereka begitu ceria karena merasa terlepas dari tugas.

.

.

.

Bibir merah muda nan seksi milik Matsumoto Rangiku mengerucut sembari memainkan kuku, tetap bersandar nyaman pada dinding meski kapten divisi 5 baru melewati koridor dengan wajah terburu.

"Teganya kau memasukan ilusi dalam mimpi Kurosaki-taichou. Padahal kelihatannya ia sedang bermimpi indah sebelumnya. Apakah kau tidak merasa kejam, Shiba-fukutaichou?"

Dihadapan Rangiku—Shiba Kaien melipat tangan didepan dada, ikut meninuru shinigami bertubuh seksi menyandarkan diri di dinding.

"Pria memang harus begitu. Harus diberi dorongan untuk bisa lebih jujur pada perempuannya. Nah—" shinigami bersurai hitam mengerling nakal pada Rangiku. "—bagaimana kalau kita berdua pergi kencan?"

"Kencan?" Rangiku menegakkan badan, ada sedikit kerlingan nakal ke arah wakil kapten divisi !3 yang terbilang cukup mempesona untuk ukuran seorang duda. "Hmm... sepertinya tidak buruk."

.

.

.

Angin sejuk meniup kelopak-kelopak daun, berguguran jatuh menyentuh permukaan tanah yang basah. Wangi khas udara sehabis hujan tercium memasuki indra. Memberi sensasi segar di tengah langit yang berpelangi.

Seorang perempuan tersenyum, memeluk diri bersembunyi dari dingin. Bukan bearti ia merasa dingin, ia tidak keberatan pula. Ia hanya tidak bisa berhenti menatap pelangi melukis langit begitu indah di luar.

Bunyi pintu bergeser pelan mengalihkan pandangan. Membuat indra pengelihatannya dua kali lebih fokus menatap sosok orang yang di kasihi berdiri di ambang pintu.

"Ternyata benar." Suara berat itu memulai lebih dulu. "Kau sudah sadar, Rukia."

.

.

.

Ichigo termangu di ambang pintu. Sejengkalpun kakinya tidak mampu beranjak, seperti ada paku besar menancap sehingga sejak tadi langkahnya tak lagi memenuhi perintah.

Waktu seperti terhenti sejenak. Memberi jeda untuk hati dan pikiran agar sinkron.

"Yo, Rukia."

Semua mata berbalik ke Ichigo. Seperti skenario yang telah di atur, semua ikut terpaku, menanti lakon berikutnya yang akan ditampilkan. Sama sekali tidak ada sahutan. Cuma kerjapan mata. Seolah semua hanya mimpi di siang hari, logika tak mencerna, menolak bahwa semua bukan fakta di depan mata. Hanya iris bewarna violet yang berkaca-kaca membuat semua terasa nyata.

"I,Ichigo..." diantara hembusan nafas tercekik dan tetesan air mata, perempuan beririskan ungu menggigit sudut bibir. Jemarinya begitu giat meremas ujung yukata, antara bingung dan ragu, terlalu banyak pikiran bercampur aduk memancing kecemasan."Aku..."

Tak dipungkiri masing-masing tatapan memancarkan rasa rindu. Namun ada secarik keraguan membatasi. Membuat hati bertanya mungkinkah mereka masih sama seperti yang ada dalam memori? Apakah belum ada yang berubah meski waktu meminta jatahnya untuk beristirahat?

Hanya mata yang mampu menyampaikan pesan. Memberi isyarat meski bukan lewat lisan, menulis cerita dalam kertas yang kosong.

"Ah—Kurosaki-taichou." Kuchiki Hisana menyapa lebih dulu, mengkesampingkan sikap tidak bersahabat suaminya yang terus menatap tajam adik ipar mereka."Syukurlah, Sentaro dan Kiyone langsung menyampaikan pesan padamu. Rukia sudah sadar tadi pagi."

"Kau datang terlambat, Kurosaki. Kau adalah orang terakhir yang datang berkunjung."

Ichigo menghela nafas, tidak lagi memperdulikan sindiran tajam dari sang kakak ipar—Kuchiki Byakuya. Cukup memaklumi sejak dulu mereka memang tidak sama tipe kepribadiannya. Langkahnya maju menghampiri Rukia.

"Ayo kita pulang kerumah."

.

.

.

Perayaan seperti sebuah simbolis untuk memperingati suatu kejadian, kemalangan atau kesenangan, pesta-pora atau sekedar berkumpul untuk minum-minum sudah menjadi tradisi bagi 13 divisi shinigami. Nyatanya hingga malam telah larut pun rumah dinas kapten divisi 5 masih ramai dipenuhi para shinigami berpesta. Kenapa tidak, pagi tadi istri dari kapten terkuat Soul Society itu sudah sadar dari tidur panjangnya. Sebuah berita yang tidak bisa ditahan lagi untuk diperbincangkan mengingat sang kapten sendiri sudah cukup tenar dengan berita tentang dirinya.

Tanpa ekstra provokasi, rumah kapten Kurosaki sudah diserbu puluhan shinigami di sore hari membawa arak atau sekedar pelengkap perjamuan, memaksa mendirikan sebuah pesta besar tanpa perlu persetujuan yang memiliki rumah.

"Aku senang semuanya sudah berlalu, sekarang semuanya bisa fokus ke tugas-tugas semula." Rukia membungkuk sebagai tanda ucapan terima kasih. Keluarga Kurosaki dan para tetua Kuchiki kini sedang berkumpul di ruang utama bersama. Maksud mereka memang ingin mengucapkan selamat atas membaiknya kondisi putri angkat keluarga Kuchiki, tapi tidak bisa ditutupi ada cibiran halus dari beberapa paras bertopeng manis milik para tetua. Toh Rukia sudah terbiasa dengan kepalsuan mereka, dia sudah tidak perduli lagi. Yang kini lebih ia pikirkan adalah timing yang tepat untuk berbicara berdua dengan suaminya.

Istri muda milik keluarga Kurosaki itu padahal sudah merencanakan akan berbicara dengan suaminya saat tiba di rumah, berdua. Sayang ekspetasi tidak seindah realita, begitu tiba mereka sudah disambut puluhan shinigami untuk perayaan. Situasi memang membuatnya dapat duduk berdampingan dengan sang suami, namun tetap saja tidak ada pembicaraan serius di antara mereka. Bahkan Rukia tidak ingat kata-kata apa yang sudah suaminya katakan selain mengatakan 'Ayo kita pulang ke rumah'.

"Unohana-taichou sudah berbicara padaku, katanya tidak ada masalah yang perlu di khawatirkan pada Rukia." Byakuya menimpali, menutup sedikit celah para tetua memberi kritikan. Rukia tetap tersenyum, mengangkat botol untuk menuangkan sake berikutnya ke cangkir para tetua.

"Letakan itu, Rukia," Ichigo—sang suami berwajah datar, pemuda itu menyeruput cawan sake di tangan tanpa menatap istrinya sama sekali. "Kau tidak perlu berbasa-basi disini. Masuk dan istirahatlah di dalam."

Kata-kata dingin dan singkat. Rukia tidak mungkin menentang. Membantah kata-kata suami di depan para tetua sama artinya menjatuhkan martabat suami. Walau hati kecil tidak menerima dan merasa tersakiti oleh tingkah dingin kapten bersurai orange itu, perempuan bertubuh mungil membungkuk pamit undur diri.

Kaki yang masih sedikit ringkih itu berjalan pelan menelusuri koridor. Langkah kakinya tidak serta merta mematuhi perintah suami untuk segera beristirahat. Rukia lebih memilih berjalan mengelilingi kediaman Kurosaki yang besar untuk menenangkan sedikit pikirannya.

Benaknya terus beratanya apakah yang akan terjadi nantinya. Masalah belum sepenuhnya terselesaikan, akankah semua baik-baik saja? Bisakah kembali seperti semula. Ah—melihat sikap Ichigo yang masih terbilang cukup dingin, Rukia ragu masalah akan berlalu baik-baik saja.

"Kenapa kau tidak ke kamarmu?"

Langkah Rukia terhenti, pundaknya sedikit bergetar. Suasana berubah hening, Rukia terdiam di tempat. Jujur ia tidak berani membalikan punggung. Ia sudah terlampau kenal dengan pemilik suara itu sehingga tidak perlu melihat untuk memastikan. Suara itu—pastilah milik Kurosaki Ichigo, suaminya.

Keheningan membutakan segalanya hingga tidak mampu membedakan bunyi degup jantung ataupun langkah kaki. Rukia merasakannya, reiatsu hangat milik Ichigo yang kian mendekat. Hanya keingintahuan yang membuat terhentinya waktu lebih berarti. Ketika jarak tereleminasi, menyisakan sedikit ruang yang mungkin memiliki tembok pembatas.

"Ichigo, aku—"

Tidak pula membutuhkan jawaban. Dalam sekejap mata si mungil telah direngkuh kedalam pelukan hangat. Melenyapkan segala kekhawatiran dengan ciuman mesra dari pemilik tubuh jangkung—Kurosaki Ichigo. Berupaya menyampaikan kata-kata yang tak bisa diucap, menginginkan segala tembok pembatas sirna.

Titik air mata terbentuk di pelupuk mata Rukia lantaran tidak percaya, perempuan itu masih merasa yang sedang terjadi hanya halusinasi. Walau ciuman mereka terasa nyata, walau telapak tangannya yang menempel di dada Ichigo bisa merasakan detak jantung pemuda itu. Semua terlalu membingungkan untuk dianggap nyata.

"Tidak apa, Rukia," nafas hangat menerpa wajah, menghentikan aliran air mata yang nyaris menggenang. "Aku ada disini. Dan yang lebih terpentig lagi—kau juga ada bersamaku sekarang."

Mata Rukia mengerjap sepersekian detik, memberi kesempatan tetes terakhir air mata menemukan jalurnya. "Kau—sudah mengingat semua, Ichigo?"

"Kau pikir berapa lama aku bisa bertahan untuk tidak mengingatmu. Kau harus tahu, selama ini—jauh sebelum kita menikah, aku—" tarikan nafas pelan. Mengumpulkan seluruh energi untuk lebih serius menatap manik sang violet. "—aku mencintaimu, Rukia. Entah kau sadar atau tidak, sejak awal hatiku adalah milikmu. Karena itulah, sejauah apapun tembok memisahkan, aku akan selalu kembali padamu."

Kalimat yang tidak disangka-sangka tercurah kembali memicu aliran air mata dari manik violet Rukia. Ichigo menggeleng panik, bergegas mengusap air mata dengan kedua ibu jarinya.

"Tidak,kumohon jangan menangis lagi, Rukia. Rukia—kenapa kau semakin menangis. Apa kata-kataku salah?"

"Aku menangis karenamu, bodoh..." tangan Rukia terangkat, memukul-mukul dada Ichigo dengan tenaga yang lemah. Tidak perduli di gedung bagian barat ada persta besar-besaran yang mungkin dapat membuat shinigami-shinigami disana mendengar mereka, Rukia terus menangis sekencang-kencangnya menumpahkan segala emosi.

"Kupiki aku akan kehilanganmu, aku begitu mengkhawatirkan semua sampai-sampai tidak bisa bernafas normal. Aku bahkan merasa kau tidak memperdulikanku lagi—"

"Ssst—jangan berkata apapun lagi. Ayo kita mulai semua dari awal. Bersama anak kita."

"Anak?"

"Ya, kau dan aku. Kita akan menjadi orang tua."

Mata Rukia kembali berkaca-kaca, tidak ada lagi isakan tangis, tinggalah senyum bahagia menghiasi pasangan suami-istri Kurosaki. Tidak ada kata yang dapat menjabarkan kebahagiaan mereka selain dekapan penuh kasih sayang yang diberikan Ichigo untuk istrinya.

Beginilah seharusnya kebahagian. Dapat bersama dan memiliki keluarga dengan orang yang dikasihi. Sungguh para seisi jagad raya akan merasa iri pada kebahagian mereka yang telah lengkap. Dimulai dari membangun kepercayaan untuk hidup bersama, mencoba bertahan di saat ragu, dan tetap bersama ketika semua beban berlalu.

.

.

.

The End


Oke.. next chap epilog..

Semoga terkejar sebelum Agustus berakhir. Karena setelah Agustus berlalu, mau fokus ke skripsi dan mungkin susah update fic lainnya... n.n

Terimakasih yang sudah bersedia mengikuti dan bersabar menunggu Wrath sampai akhir chapter...

Terimakasih semua... n.n