Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

.

.

.

Wrath (Epilog)

.

Hoshikawa Mey

.

.

.

Langkah tidak bersemangat mengawali pagi seorang Izuru Kira, anggota shinigami berambut blonde itu berjalan dengan langkah setengah hati. Diibaratkan seekor kuda membawa pelana berat, kemanapun memijak beban tidak akan berkurang. Sudah berbulan-bulan berlalu, dan ini sungguh berita tidak baik. Waktu yang dilewati membuatnya hidup tidak nyaman. Jangankan untuk beraktivitas, untuk diam saja di tempat tetap membuat hati gundah gulana.

Semua adalah kesalahannya. Kalau saja dia lebih bisa mengendalikan diri, tentu perbuatan cerobohnya tidak akan mencelakai orang lain. Oh—andai saja dengan menghunuskan diri dengan pedang zanpaku bisa membuat semua selesai, pria yang memegang jawabatan penting itu pasti bersedia dihujani ribuan hunusan. Masalahnya nasi sudah menjadi bubur, di perbaiki pun tidak akan merubah apapun lagi.

"Ah—aku benar-benar membenci diriku," frustasi Kira mengacak-acak rambut, mengabaikan tatapan aneh dari pejalan kaki yang berpapasan dengannya. Yah—Izuru Kira tidak sedang memperdulikan mereka. Penyesalan beruntun sudah lebih menyiksa. Semua karena dirinya yang mau saja mengikuti tantangan Kapten Kurotsuchi Mayuri untuk menegak sake bercampur ramuan eksperimen hasil dari kapten super jenius itu di malam acara perayaan untuk Kapten Kurosaki Ichigo. Isi hati selalu mengutuk diri kalau saja malam itu ia tidak terlalu sembrono tanpa perhitungan.

Satu jam setelah meneguk, ia tidak merasakan apa-apa selain sedikit mabuk. Namun tidak berjalan mulus di dua jam kemudian. Ia mulai tidak terkendali, lebih buruk lagi—ia tidak ingat apa saja yang sudah diperbuat malam itu. Karenanya di pagi hari ketika Ketua Kuchiki mendatanginya dengan wajah serius mengajak bicara empat mata, ia tidak mendapat petunjuk apapun selain kebingungan dengan maksud pertanyaan sang kapten bertampang es.

Tidak lama setelah kedatangan Kapten Kuchiki, Izuru Kira lantas langsung dikejutkan dengan acara pernikahan adik angkat Kapten Kuchiki—Kuchiki Rukia—dengan Kapten Kurosaki. Ada kabar tidak sedap beredar disetiap divisi bahwa Kapten Kurosaki mencoba merayu sang adik ipar keluarga Kuchiki di malam pesta perayaan di rumah dinas Kapten Kurosaki. Meskipun sebelum mabuk total Kira masih bisa mengingat lirikan mata Kapten Kurosaki yang terus mencuri pandang pada Kuchiki Rukia, tetap saja—Kira merasa ada kejanggalan. Kurosaki Ichigo adalah laki-laki bermatabat, kapten dari divisi yang kuat, dan idola seantero negeri. Kalau ia ingin Kuchiki Rukia, ia bisa saja datang melamar menghadap para tetua. Sungguh tidak masuk akal laki-laki pemilik citra sebaik itu mencemarkan nama baiknya dengan tindakan gegabah. Betul-betul tampak seperti ada yang terlewatkan bagai potongan puzzel yang belum tersusun.

Dan alam bawah sadarnya menampakan kebenaran di saat rumor akan ada perceraian di rumah tangga Kapten Kurosaki ketika sang kapten pulang dari sebuah misi menembus hutan hollow. Di sanalah kesalah Kira yang tidak bisa di perbaiki. Akhirnya ia mengingatnya. Apa yang sudah terlewatkan di malam perayaan di rumah dinas Kapten Kurosaki, apa yang sebenarnya terjadi, dan alasan kenapa Kapten Kuchiki mendatanginya di pagi hari. Semua itu karena ia hampir menodai adik ipar sang Kapten Kuchiki ketika dirinya di bawah pengaruh ramuan. Dan berita terburuknya, Kapten Kurosaki menjadi tertuduh ketika hendak menyelamatkan si adik ipar Kapten Kuchiki. Ahh—tidak bisa dibayangkan seburuk apa yang akan terjadi kalau ia mengaku.

Yah—mungkin Kuchiki Byakuya akan mencincangnya dengan seribu bunga sakura yang tajam, Kurosaki Ichigo pun tidak akan jauh beda. Masyarakat Soul Society tentunya akan bersiap-siap memulai menyebarkan isu baru, rumah tangga mereka pun bisa berantakan. Seandainya hal itu terjadi, Kuchiki Rukia mungkin akan semakin membencinya. Merusak hidup gadis yang tidak berdosa, lalu menggoncang rumah tangga gadis itu, semua kejujuran tidak berguna lagi. Apakah ada lagi yang lebih buruk?

Kira membenci situasi yang membuat semua serba salah. Haruskah ia jujur? Ataukah keboongan ini harus disimpan sampai mati?

"Lho, Izuru." Sapaan lembut dengan suara khas menghentikan aksi mengacak-acak rambut si blonde, wajahnya terangakat kaku menerima kenyataan yang menjadi perdebatan hati berada di hadapannya saat ini. Kuchiki Rukia.

"Apakah kau baik-baik saja, wajahmu kelihatan depresi."

Keringat dingin mengalir di pelipis Kira, telapak tangannya mengeluarkan keringat melebihi frekuensi biasanya. Haruskah ia melakukan pengakuan sekarang? "Ah—ini, ini... karena aku sedang terburu-buru. Aku duluan ya, Kurosaki."

Terkutuklah Izuru Kira, hati pemuda itu terus memaki. Ia sama sekali tidak memiliki nyali untuk jujur. Lari selalu menjadi kebiasaannya.

"Tunggu, Izuru!"

Langkah Kira terhenti, jantungnya seperti melompat dari tempat ketika nyonya yang sudah memasuki masa kehamilan tujuh bulan itu menahan usahanya untuk lari.

"Ya, Kurosaki?" wajah dengan senyum kikuk berbalik menghadapi Rukia.

"Ada sesuatu yang ingin sekali kukatakan."

'Ya, seharusnya aku yang berkata seperti itu.' isi hati pemuda itu menyetujui.

Perempuan berkimono cantik itu membuka mulut ragu-ragu, namun detik berikutnya kepalanya menggeleng kuat seakan mengenyahhkan pemikiran lain yang berdebat di dalam kepala, matanya kembali berubah penuh keyakinan menatap Kira. "Aku ingin kau tahu, aku merasa bersyukur karena sudah menghadiri perayaan di rumah Ichigo dulu." senyum merekah dari sang nyonya muda ketika menyebutkan nama suaminya, tersirat kebahagian dari iris violet yang berbinar. "Kalau seandainya semua tidak terjadi, mungkin aku tidak akan memiliki keluarga ku yang sekarang. Dan kau tahu? Aku—saat ini merasa sangat bahagia. Terima kasih."

Terima kasih?

Untuk sepersekian detik Kira terdiam tanpa ekspresi, mencerna satu per satu perkataan yang baru didengar. Yah—malam itu yang melihat wajahnya adalah Kurosaki Ichigo dan Rukia, kedua orang itu tahu persis siapa yang patut diminta pertanggung jawaban. Tapi mereka diam, bersikap seakan permasalahan tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Dan sekarang—perempuan itu mengatakan terima kasih?

Kembali teringat Kira akan kenangan saat masih di akademi shinigami, masa dimana mereka berbaur bersama. Meskipun Rukia dan suaminya berada di divisi berbedaa sekarang, dulu mereka pernah menjadi satu kesatuan yang sama. Ah—tentu saja, ia mengerti sekarang.

"Tidak, Kurosaki," Kira menggeleng lemah, wajahnya telah berubah santai dengan senyum yang lebih tulus. "Akulah yang seharusnya berterima kasih. Ku doakan kau selalu bahagia bersama Kapten Kurosaki."

Perempuan bersurai hitam itu balas tersenyum. Setelah mengucapkan salam perpisahan singkat, Kira berbalik untuk melanjutkan perjalanan. Tidak ada lagi beban memberati langkahnya. Semua kesalahan telah termaafkan, dan semua kemungkinan terburuk bertransformasi menjadi sesuatu yang baik. Rukia bahagia, begitu pula dengan Kapten Kurosaki. Dirinya pun tidak perlu kalang kabut merangkai kata penyesalan, dan lebih membahagiakan lagi—Kapten Kuchiki tidak akan mencincangnya selagi mereka bertiga sepakat untuk diam.

Senyum lebar terkembang. Untuk pertama kalinya, inilah hari yang paling membahagiakan bagi Izuru Kira.

Rukia tersenyum memandang punggung Kira kian menjauh. Akhirnya ia bisa menyampaikan perasaannya pada pemuda berambut blonde itu. Meskipun pemuda itu tidak mengatakan apapun, ia tahu Kira menyimpan rasa penyesalan besar untuknya. Karena itu, ia ingin Kira tahu bahwa hidupnyaa sudah lebih bahagia bersama dengan suaminya—Kurosaki Ichigo.

"Hei, Rukia. Kenapa kau senyum-senyum sendiri?"

Tubuh mungil Rukia berbalik girang, disampingnya kini telah tiba sang suami membawa bungkusan setelah menembus keramaian pasar beberapa menit lalu.

"Ah, kau mendapatkannya, Ichigo?" pertanyaan si surai orange terabaikan, istrinya tampak lebih antusias atas jerih payah suaminya menembus lautan ibu-ibu berbelanja.

"Aku tidak menemukan apa yang kau minta, jadi aku menggantinya dengan kue beras."

"Aku hanya ingin kue kacang merah, Ichigo. Aku tidak ingin yang lain, anakmu ini juga menginginkan yang sama denganku." wajah si nyonya muda tidak lagi berbinar, kini malah merengut menyebalkan. Perempuan yang dulunya amat manis kini menjadi rewel bak anak usia lima tahun.

Ah—hormon kehamilan. Ichigo sungguh membencinya.

Menghembuskan nafas gusar, pemuda yang masih memakai lengkap haori kapten menjatuhkan bungkusan di tanah, menggantinya dengan mengangkat tubuh sang istri kedalam gendongan. Istrinya menjerit kecil tanpa perlawanan mengingat usia kandungannya yang sudah semakin membesar. Pipinya memerah melihat beberapa pejalan kaki melirik sambil senyum-senyum berbisik memperhatikan mereka.

"Ichigo, turunkan aku."

"Tidak," pemuda berposisi kapten menolak kuat, wajahnya tampak bebal dengan tatapan dari pejalan kaki. "Aku tidak ingin lagi masuk sendirian ke pasar. Dari pada aku mati dikerumuni ibu-ibu disana, lebih baik kita masuk bersama ke dalam."

Ah benar, Rukia ingat bahwa suaminya jauh lebih terkenal dan menjadi idola seantero negeri. Pastilah sulit baginya pergi ke tempat dimana banyak orang ingin bersalaman langsung dengan sang idola. Tapi karena permintaan Rukia, pemuda itu rela meninggalkan pekerjaan dan memasuki pasar yang jauh lebih mengerikan dari hutan hollow.

"Dasar kau ini," suara Rukia mungkin ditujukan untuk makian, namun tetap saja wajahnya tertunduk malu.

Kurosaki Ichigo tertawa renyah, memantapkan gendongan membawa Rukia memasuki pasar. Tidak ada lagi rasa malu ketika menunjukkan perasaannya pada sang wanita pujaan. Selagi itu Rukia, semua baik-baik saja. Roda kehidupan telah memutar takdir mereka, sesuatu yang dulu tampaknya tidak mungkin malah menjadi begitu nyata. Karena kehidupan tidak selalu sesuai yang kita rencanakan, dan kehidupan juga menjadi misteri kemana akan bergerak di masa yang akan datang.

.

Wrath

...

End

...

Epilog singkat ini sebagai penutup cerita. Ide yang diperoleh di tahun 2011 akhirnya bisa terealisasikan lengkap. Terima kasih untuk yang mau mengikuti cerita dan bersabar menghadapi kekurangan saya di setiap cerita. Meskipun tampak tidak perduli, terkandang saya mengikuti semua perkembangan di FFn, hanya saja waktu untuk berinteraksi tidak banyak... : )

Terima kasih untuk semua, untuk yang memberi dukungan dan dorongan semangat, terima kasih untuk para author dan reviewer yang mau meramaikan fandom tercinta.

Kalian yang terbaik... : )

Hoshikawa Mey